Apakah Makna Sebenarnya Dari Natal?

Saya menemukan film kartun Charlie Brown Christmas, yang pertama kali ditayangkan pada tahun 1965. Di video ini Linus mengutip Injil Lukas disaat ia menjelaskan makna sebenarnya dari Natal. Mari kita lihat video dibawah ini:

Ya, makna Natal sebenarnya adalah merayakan kelahiran Yesus Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia [Flp 2:6-7].  Ia datang untuk memberikan damai, damai di hati dan di pikiran kita. Dan terlebih lagi Dia datang untuk menyatakan fakta iman kepada kita yang sangat luarbiasa, bahwa Allah itu pribadi. Yesus menyatakan diri-Nya adalah Allah yang maharahim dan kasih.

Allah yang maharahim karena Yesus yang arti dari namaNya itu sendiri adalah Allah yang menyelamatkan, untuk menyelamatkan kita dari kelemahan kita, kebobrokan moral kita karena dosa. Allah adalah kasih, sebelum kita bisa mengasihi, kita tahu bahwa kita dikasihi oleh Allah.

Tapi bagaimana kita mengasihi? Paus Benediktus XVI menulis di ensikliknya yang pertama, Deus Caritas Est (Allah adalah kasih): “kasih bukan hanya sekedar perasaan. Perasaan datang dan pergi. Percikan pertama sebuah perasaan bisa mengagumkan, tapi bukan kepenuhan dari kasih itu sendiri.”

Lalu apa “kepenuhan” dari kasih? Paus menulis: “Yang terkemuka diantara para kudus adalah Maria, Bunda Tuhan dan cermin dari semua kekudusan. Didalam Injil Lukas kita menemukan ia sedang melakukan pelayanan kasih kepada saudara sepupunya Elizabeth, dimana ia lalu tinggal disana selama tiga bulan [Luk 1:56] untuk membantu dia melahirkan. “Magnificat anima mea Dominum,” itulah perkataannya saat peristiwa kunjungan itu, “Jiwaku memuliakan Tuhan” [Luk 1:46]. Di dalam perkataan ini rencana seluruh hidupnya tidak berpusat pada dirinya sendiri, tapi berpusat kepada Tuhan, yang menjadi titik temu keduanya didalam doa dan didalam melayani sesama. Kebesaran Maria terkandung didalam fakta bahwa ia ingin memuliakan Allah, bukan dirinya sendiri. Ia sangat rendah hati, keinginan dirinya hanyalah untuk menjadi seorang hamba Tuhan [bdk Luk 1:38, 48]. Ia tahu ia akan berperan didalam keselamatan dunia jika ia meletakkan dirinya sendiri sepenuhnya kedalam Allah.

Setiap pribadi atau usaha moral yang kita buat, setiap tindakan kasih didalam hidup kita, kepada orang tua kita, pasangan kita, kepada saudara/i kita, kepada anak-anak kita, kepada teman-teman kita, berhubungan secara mendalam dengan Roh Kristus, Roh yang sama hadir di Ekaristi.

Jadi, jika anda ingin lebih dekat dengan “makna dari hari raya ini”, maka jangan berpikir untuk melakukan perjalanan yang jauh seperti yang para majus lakukan, tapi cukup lihat di sekitarmu, dimanapun kamu berada. Hadiah yang anda berikan saat Natal bukanlah sesuatu yang anda beli, tetapi diri anda sendiri, waktu anda, tenaga anda, kasih anda.

Dan mereka yang menerima hadiah ini akan “bersukacita dan memuji Tuhan” karena kebajikan yang mereka lihat, mengetahui bahwa mereka didalam kehadiran Allah yang peduli terhadap mereka, seperti Allah yang memegang kita didalam tanganNya. Hal seperti ini akan menyerap kedalam hati kita dan membuat Natal menjadi istimewa.

Sumber: the-american-catholic.com;  insidethevatican.com; catholic-ew.org

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: