[Review] “Seorang Eksorsis Menceritakan Kisahnya” oleh Gabriele Amorth

seri-mci-30-seorang-eksorsis-menceritakan-kisahnya-1Judul: Seorang Eksorsis Menceritakan Kisahnya

Penulis: Gabriele Amorth

Penerjemah: Vega Guinadi

Penerbit: Marian Centre Indonesia

Imprimatur: Mgr. Hieronymus Bumbun, OFMCap (Pontianak, 23 September 2009)

Cetakan: I (2010)

Jumlah halaman: 259 halaman

Reviewer: Anne


Siapa yang gak penasaran dengan topik eksorsisme? Maraknya (dan populernya) film horor bertema kerasukan setan—film terakhir yang cukup dibicarakan adalah The Conjuring—ditambah dengan kenyataan bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam praktek-praktek animisme, perdukunan, dan aliran kepercayaan tradisional, menjadikan topik demonologi sebagai sumber obrolan yang asyik di kala ga ada kerjaan. Yah meskipun, jujur aja, seringkali kita lebih banyak ngomongin pocong, tuyul, kuntilanak, hantu jeruk bali purut, dan nenek gayung alih-alih tentang ajaran Gereja yang sebenarnya.

Sebelum saya mulai dengan review, saya buka dulu dengan memperkenalkan siapa itu Gabriele Amorth.

Romo Gabriele Amorth adalah seorang eksorsis senior dan eksorsis kepala (Chief Exorcist) dari Roma. Namanya terkenal di kalangan eksorsis dan para peminat bidang demonologi dan eksorsisme. Saat menginjak bulan Mei 2013, ia memperkirakan dirinya telah mengeksorsis 160.000 orang, atau mencapai 8 orang dalam sehari. Rm. Amorth juga pernah mengakui bahwa film The Exorcist akurat dalam substansi dan sungguh berdasarkan kisah nyata, walaupun special effect-nya sedikit dilebihkan.

Singkatnya, tulisan dan wawancara dengan Rm. Amorth dapat kita anggap sebagai referensi yang terpercaya untuk urusan pengusiran setan.

Nah, kalau begitu apa isi buku “Seorang Eksorsis Menceritakan Kisahnya” ini?

Singkatnya, buku ini BUKAN:

  1. Kumpulan cerita horor. Kalaupun ada cerita, maka fungsinya adalah sebagai ilustrasi kasus. Jadi jangan mengharapkan detil menyeramkan atau menjijikkan ya. Silahkan ke bioskop terdekat saja (jangan lupa ajak saya);
  2. Gambaran kehidupan sehari-hari seorang eksorsis;
  3. Penjelasan mendetil mengenai topik demonologi atau angelologi;
  4. Buku bercita rasa urban legend yang menebarkan benih-benih ketakutan yang tidak perlu, atau sebaliknya, rasa sombong akan kekuatan manusia atas alam gaib.

Namun buku ini ADALAH:

  1. Buku dengan pendekatan Kristosentris (berpusat pada Kristus) yang sungguh Katolik;
  2. Kumpulan gambaran dan penjelasan yang jujur (tidak dikurangi atau dilebihkan) mengenai Iblis, roh-roh jahat, dan aktivitas mereka;
  3. Sebuah “Eksorsisme 101”

Yang saya maksud dengan “Eksorsisme 101” adalah bahwa buku ini tidak memiliki satu fokus khusus, melainkan menyentuh hampir semua aspek demonologi, mulai dari kodrat Allah, malaikat, dan setan; bentuk dan ciri-ciri aktivitas setani; teori-teori eksorsisme mendasar—apa itu, siapa yang dapat melakukannya, kapan harus dilakukan, dan bagaimana harus dilakukan; sakramentali untuk melawan setan; kesaksian-kesaksian; dan masih banyak lagi.

Jujur ya, saat saya buka beberapa halaman pertama, ada sedikit kekecewaan karena masalah font, typo, dan pilihan terjemahan. Maklum saya agak perfeksionis. Saya tidak tahu nama font yang dipilih, yang jelas jenisnya sans-serif. Ada sebuah norma tak tertulis dalam tipografi, terutama untuk printed text, bahwa bodi teks sebaiknya menggunakan font jenis serif, yaitu font yang ada semacam “ekor”-nya. “Ekor” ini akan memudahkan mata kita untuk bergerak dari kata ke kata sehingga tidak terlalu lelah. Tapi ya pada akhirnya saya mengesampingkan kekecewaan itu dan akhirnya saya berharap bisa menggantungkan diri pada konten bukunya (saya pikir, kalau font-nya kurang cakep, mudah-mudahan kontennya cukup ngganteng jadi bisa menebus kesalahan).

Keluhan yang kedua, typo. Sekali lagi, ini gatelnya si perfeksionis, tapi di halaman 27 sudah muncul typo yaitu “dimana”, yang mestinya “di mana”. Haha gimana yah, sedikit ilfil sih saya jadinya. Ya mungkin ini terdengar arogan, tapi typo itu sedikit mengurangi kualitas bahan bacaan. Apalagi ini baru halaman ke-27 dari 259 halaman! Kyaaaaaaaaaa….. saya langsung deh curiga jangan-jangan makin ke belakang makin hancuuuuurr….

Eh tapi ternyata tidak. Typonya bisa dihitung dengan jari, kalau gak salah gak sampai sepuluh. Alhamdulillah. Untung saya tetap keukeuh (=bersikeras, basa Sunda) untuk lanjut membaca, soalnya saya udah keburu kepincut sama penulisnya yang beken, dan karena saya memang suka dengan topik eksorsisme (iya, saya cewek horor. Terimalah daku apa adanya).

Keluhan yang ketiga, pemilihan kata-kata terjemahan. Nah, yang ini mungkin sedikiiitt mengganggu. Contohnya ada di halaman 22: (garis bawah dari saya)

“Saya ingin memperjelas bahwa saya tidak akan berusaha untuk mendemonstrasikan kebenaran yang telah didiskusikan secara menyeluruh di terbitan-terbitan lainnya, seperti keberadaan para setan, realitas dari kerasukan setan, dan kemampuan untuk mengusir setan yang Kristus berikan kepada mereka yang percaya akan pesan-pesan dari Injil. Ini semua adalah penyingkapan dari kebenaran; hal-hal ini dapat diketemukan di Alkitab dan telah dibahas secara rinci dalam teologi, dan hal-hal ini secara terus-menerus diajarkan oleh Magisterium Gereja.”

Tebakan saya, dalam teks bahasa Inggris (terjemahan Indonesia didasarkan pada teks Inggris, dan teks Inggris dari teks Italia), frase “penyingkapan dari kebenaran” itu adalah “revealed truth” atau mungkin juga “revelation of truth“. Istilah teologis yang tepat semestinya “kebenaran yang diwahyukan” atau “pewahyuan kebenaran”. Kebenaran yang diwahyukan adalah kebenaran-kebenaran ilahi yang hanya dapat kita ketahui karena Allah sendiri yang mewahyukan / mengungkapkan / memberitahukannya kepada kita, yaitu melalui Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium.

Contoh kesalahan terjemahan lain adalah menerjemahkan nama-nama geografis asing ke dalam ejaan berbahasa Indonesia secara fonetik (bunyi). Misalnya, Lyons menjadi “Lions”, dan Florence menjadi “Florens”. Setahu saya ya, nama-nama tempat asing tidak perlu diubah seperti itu, kecuali sudah ada konsensus, seperti España menjadi “Spanyol” dan Britain jadi “Britania”. Namun pengubahan seperti itupun tetap bukan berdasarkan fonetik. Kalau Lyons jadi “Lions” (maksudnya agar dibaca li-yons), nanti malah terbaca sebagai “lions” (la-yens) yang artinya singa-singa. Jadi saran saya buat Mbak (atau Mas) Vega Guinadi sebagai penerjemah, biarkan nama-nama geografis asing sesuai aslinya, kecuali ya itu tadi, sudah ada konsensus. Bukan apa-apa, soalnya beberapa bahasa, seperti bahasa Prancis, fonetiknya jauh berbeda dari penulisannya. Kalau Quebec diubah sesuai fonetik menjadi “Kebek” dan Toulouse jadi “Tuluz” kan lucu, hehehe.

Tapi saya tetap perlu mengacungi jempol buat Mbak/Mas Vega. Istilah-istilah yang berpotensi rancu jika diterjemahkan, tetap diterjemahkan namun dengan menyertakan istilah aslinya di dalam kurung. Misalnya di halaman 43 tertulis “penindasan setan (diabolical oppression)”. Ini adalah cara alih bahasa yang efektif, mengingat bahwa kadang dalam bahasa tujuan—dalam hal ini bahasa Indonesia—tidak memiliki padanan kata atau nuansa bahasa yang sama persis dengan bahasa asalnya. Dengan penggunaan tanda kurung yang tepat, para pembaca yang budiman dan budiwati diharapkan gak bingung.

Tunggu, saya kayaknya dari tadi masih ngomongin hal-hal teknis ya? Sori, soalnya bagi saya penting sih, makanya dibahas duluan daripada lupa. Nah yuk, sekarang beneran ngomongin isi deh.

Isi buku dibagi ke dalam 18 bab, tidak termasuk 3 kata pengantar dan 4 catatan tambahan. Hmm sebenarnya saya juga bingung mau memulai dari mana, soalnya buku ini cukup komprehensif, ada banyak pengetahuan dan informasi wow yang bisa kita dapatkan. Cuma, saran saya, sebaiknya buku ini dibaca dengan kepala dingin dan rasional, rasional dalam arti intelek kita harus dalam mode pendekatan teologis, bukan pendekatan emosional. Kalau emosional, takutnya kita melihat orang “aneh” sedikit, sudah kita takut-takuti dengan rosario :p (iya, rosario adalah salah satu benda devosi yang sangat menyakitkan bagi setan).

Omong-omong, saya pribadi senang sekali karena sebuah buku eksorsisme dibuka dengan teologi Kristosentris yang indah. Bab pertama (“Keterpusatan Kristus”) mau mengingatkan kita akan sebuah poin teologis yang penting, yaitu bahwa “segala sesuatu diciptakan bagi-Nya dan dalam pengharapan akan Dia” (hlm. 28). Ajaran fundamental ini membuat semuanya menjadi jelas: karena kita manusia pun diciptakan bagi Kristus dan dalam pengharapan akan Kristus, maka tidak heran mengapa Si Jahat dan balatentaranya begitu giat menggoda manusia, yaitu supaya ciptaan terpisah dari Pencipta untuk selamanya.

Yang saya suka lagi, Rm. Amorth ini tulisannya kuat tapi tidak heboh, jujur tapi tidak sok menakut-nakuti; dengan kata lain, sangat apa adanya. Dia memperingatkan kita bahwa Iblis sungguh ada dan nyata sebagai makhluk dengan segala kekuatannya; Iblis bukan hanya sebuah ide abstrak bernama “kejahatan”, dan bahwa kita tidak perlu malu atau takut untuk mengakui keberadaannya.

“Suatu Kristologi yang mengabaikan Iblis adalah cacat dan tidak akan pernah memahami kebesaran dari penebusan…” [sebab] “…siapapun yang tidak mengakui adanya Iblis juga tidak mengakui adanya dosa dan tidak lagi memahami tindakan-tindakan Kristus” (hlm. 33, 36).

Saya yakin bahwa gak cuma kita orang awam, kaum religius pun pada masa modern ini banyak yang—kalau boleh saya bilang—meremehkan kekuatan roh jahat, bahkan menganggap mereka tidak ada. Menurut Rm. Amorth, ini sangat-sangat berbahaya: bisa-bisa orang yang dapat disembuhkan dengan eksorsisme, malah harus menanggung obat-obatan dan perawatan yang mahal tapi tidak manjur (PS. salah satu ciri kesakitan fisik yang disebabkan oleh setan adalah tidak kunjung membaik dengan diobati, dioperasi, konseling, atau prosedur medis lainnya).

Selain itu, Iblis selalu berusaha membuat dirinya tidak ketahuan. Maka, kalau kita menganggap Iblis atau neraka itu tidak ada, yah beliau-beliau pasti akan kegirangan sekali. So, please be careful. Selalu imani apa yang diajarkan oleh Gereja.

Melalui buku ini, Rm. Amorth juga mengajarkan bahwa prinsip umum yang kita pahami mengenai Allah dan malaikat, juga dapat kita terapkan untuk setan, karena pada dasarnya setan adalah fallen angels dan unclean spirits. Contohnya, sama seperti pengikut-pengikut Allah diberikan karunia-karunia Roh, pengikut-pengikut setan juga diberikan karunia-karunia setani, seperti meramal, astral projection (roh “keluar” dari tubuh untuk pergi ke tempat lain), dan sebagainya. Jelas, karena Iblis adalah pembohong sejati, maka karunia-karunianya pun dimirip-miripkan dengan karunia ilahi. Kita tahu bahwa para kudus juga ada yang diberikan karunia membaca hati, bernubuat, melayang (levitasi), dan bilokasi. Rm. Amorth mengakui bahwa seringkali sulit membedakan keduanya, meski beberapa karunia setani jelas ditujukan untuk membahayakan orang lain.

Contoh lain, sama seperti kita dapat membuka diri kepada Allah dan berdoa kepada malaikat-malaikat, kita juga bisa membuka diri kepada Iblis dan konco-konconya. Rm. Amorth menyebutkan dosa-dosa berat yang tidak disesali sebagai salah satu ajang “membuka diri” terhadap kekuasaan gelap, di samping praktek-praktek ilmu sihir, perdukunan (termasuk berkonsultasi ke dukun atau cenayang), yoga, dan meditasi ala Timur. Rm. Amorth mengatakan bahwa memeriksakan orang yang dicurigai diganggu setan ke dukun malah akan memperburuk aktivitas setani yang ada.

Satu lagi yang noteworthy dari buku ini adalah, membacanya hampir seperti membaca buku teks kedokteran. Memang topiknya berkenaan dengan dunia roh, namun Rm. Amorth memperlakukan topik ini dengan rasa hormat yang sesuai dan dengan pendekatan teologis. Tidak ada kesan menggampangkan, tidak ada juga kesan depressing. Agan-agan gak akan jadi emo dengan baca buku ini. Rm. Amorth berkali-kali mengingatkan bahwa sarana rahmat dan perlindungan Allah itu sudah banyak sekali, tinggal kita saja memanfaatkan dengan baik. Selain sakramen-sakramen, kita juga punya sakramentali, benda devosi, dan doa-doa pelepasan. Orang yang sedang dikerjai setan, biasanya gelisah, marah, atau terang-terangan membenci semua hal itu.

Terakhir, Rm. Amorth menekankan pentingnya eksorsis selalu bekerja sama dengan dokter, terutama psikiater, dan sebaliknya, psikiater tidak perlu ragu untuk meminta tolong eksorsis. Salah satu tujuan eksorsisme adalah juga untuk mendiagnosis, sebab reaksi-reaksi khas kerasukan setan sering baru muncul saat diciprati air suci atau dibacakan doa-doa eksorsisme berbahasa Latin. Intinya, pasien yang dianggap gangguan jiwa, bila sembuh dengan eksorsisme, maka ia bukan gangguan jiwa, melainkan kerasukan setan. Bila tidak sembuh, maka gangguan jiwa sungguhan.

Yah, enak kalau bisa begitu. Saya bercita-cita jadi psikiater jugak, tapi kelihatannya tidak ada keuskupan di Indonesia yang memiliki eksorsis resmi yang bisa saya ajak kerja sama. Paling banter, saya tempelin rosario aja ke jidat pasien saya satu-satu, hehe. Tapi nanti malah dikira krestenisasi. Repot.

Saya berikan empat rahib unyu untuk buku ini. Mestinya lima, tapi saya kurangi karena tiga masalah teknis yang sudah disebutkan di awal review. Percayalah, bagi orang perfeksionis, yang begitu itu bikin mata gatel.

4rahib

 

One comment

  1. […] meripiu bukunya Romo Gabriele Amorth, kami memutuskan untuk meripiu buku eksorsisme keluaran lokal ini, yang ditulis oleh RP Johanes […]

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: