Pidato Kardinal Sarah pada Pembukaan Konferensi Internasional Sacra Liturgia

Catatan penerjemah: Berikut ini merupakan terjemahan tidak resmi dari teks pidato Yang Utama Robert Kardinal Sarah, dalam Konferensi “Sacra Liturgia” di London, Inggris, 5 Juli 2016. Terjemahan ini dikerjakan berdasarkan teks resmi berbahasa Inggris, yang dapat diakses di sini. (Translator’s note: Below is the unofficial Indonesian translation of Cardinal Sarah’s address to Sacra Liturgia UK, based on the official english text. The original english text may be accessed here).

Kardinal Sarah

Sumber gambar: Facebook Page Sacra Liturgia

***

PIDATO YANG UTAMA ROBERT KARDINAL SARAH
PREFEK KONGREGASI IBADAT ILAHI DAN DISIPLIN SAKRAMEN
DALAM KONFERENSI “SACRA LITURGIA UK 2016”
LONDON, INGGRIS, 5 JULI 2016

“MENUJU PENERAPAN OTENTIK SACROSANCTUM CONCILIUM”

 

SALAM PEMBUKA

Yang Mulia para Uskup, imam, diakon, pria dan wanita hidup bakti, serta saudara-saudariku dalam Kristus:

Pertama, saya ingin berterima kasih kepada Yang Utama Vincent Kardinal Nichols, atas penyambutannya di Keuskupan Agung Westminster dan atas kata-kata sambutannya yang ramah. Demikian juga saya ingin berterima kasih kepada Yang Mulia Uskup Dominique Rey, Uskup Fréjus-Toulon, atas undangannya sehingga saya bisa hadir bersama Anda di sini, di konferensi internasional “Sacra Liturgia” yang ketiga, untuk memberikan pidato pembuka sore ini. Yang Mulia, saya mengucapkan selamat atas inisiatif internasional ini yang mendukung studi terhadap pentingnya formasi dan perayaan liturgis dalam kehidupan dan misi Gereja.

Saya sangat bahagia dapat berada di sini bersama Anda semua hari ini. Saya berterima kasih atas kehadiran Anda, yang mengungkapkan penghargaan akan pentingnya “persoalan liturgi” sebagaimana dikatakan Kardinal Ratzinger, di awal abad ke-21 ini. Ini adalah tanda pengharapan besar bagi Gereja.

PENDAHULUAN

Dalam pesannya pada tanggal 18 Februari 2014, yang ditujukan kepada simposium yang merayakan 50 tahun dokumen Konsili Vatikan II, yakni Konstitusi tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium, Bapa Suci Paus Fransiskus memperhatikan bahwa penilaian selama 50 tahun sejak promulgasi Konstitusi seharusnya mendorong kita “untuk membangkitkan komitmen dalam menerima dan menerapkan pengajaran [Sacrosanctum Concilium] dalam cara yang semakin penuh.” Bapa Suci melanjutkan:

Perlu sekali untuk menyatukan kerelaan yang diperbarui guna melangkah maju di jalan yang ditunjukkan oleh para Bapa Konsili, karena masih terdapat banyak hal untuk dilakukan guna mencapai asimilasi yang utuh dan benar dari Konstitusi tentang Liturgi Suci, baik itu di pihak umat terbaptis dan komunitas gerejawi. Saya mengacu, secara khusus, kepada komitmen bagi inisiasi dan formasi liturgis yang organik, baik itu formasi umat beriman awam, klerus, dan juga kaum hidup bakti.

Bapa Suci benar. Banyak hal perlu kita lakukan untuk mewujudkan visi para Bapa Konsili Vatikan II bagi kehidupan liturgis Gereja. Hari ini, 50 tahun setelah Konsili ditutup, banyak hal perlu dilakukan, untuk mencapai “asimilasi yang utuh dan benar dari Konstitusi tentang Liturgi Suci.”

Dalam pidato ini saya ingin memberikan beberapa pertimbangan tentang bagaimana Gereja Barat dapat bergerak menuju penerapan yang lebih setia atas dokumen Sacrosanctum Concilium. Untuk melakukan ini, saya mengajukan pertanyaan: “Apa yang menjadi intensi Bapa Konsili Vatikan II dalam pembaruan liturgi?” Selanjutnya saya hendak merenungkan bagaimana intensi mereka diterapkan setelah Konsili. Terakhir, saya ingin memberikan beberapa saran bagi kehidupan liturgis Gereja kita hari ini, sehingga praktik liturgis kita dapat semakin mencerminkan intensi para Bapa Konsili dengan lebih setia.

A. APA ITU LITURGI SUCI?

Pertama, kita harus merenungkan pertanyaan awal, yaitu pertanyaan: “Apa itu Liturgi Suci?” Karena bila kita tidak memahami hakikat liturgi Katolik sebagai hal yang berbeda dari ritus komunitas Kristen lain dan agama lain, kita tidak dapat berharap untuk memahami dokumen Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Liturgi Suci, ataupun menerapkannya dengan lebih setia.

Dalam Motu Proprio Tra le sollecitudini (22 November 1903), Paus Santo Pius X, mengajarkan bahwa “misteri-misteri suci” dan “doa Gereja yang agung dan publik”, yaitu Liturgi Suci, merupakan “sumber yang utama dan sangat diperlukan” untuk memperoleh “semangat Kristen yang sejati”. Oleh sebab itu, St. Pius X menyuarakan perlunya partisipasi yang nyata dan berbuah dari semua orang dalam ritus liturgis Gereja. Sebagaimana kita ketahui, ajaran dan anjuran ini diulangi oleh artikel 14 Sacrosanctum Concilium.

Paus Pius XI mengumandangkan tujuan yang sama, 25 tahun selanjutnya dalam Konstitusi Apostolik Divini Cultus (20 Desember 1928), ia mengajarkan bahwa “liturgi sungguh hal yang suci, karena olehnya kita diangkat menuju Allah dan disatukan dengan-Nya, dan dengan demikian kita mengakui iman kita dan kewajiban kita kepada-Nya untuk keuntungan yang telah kita terima, dan pertolongan yang terus kita butuhkan.”

Paus Pius XII membaktikan surat Ensikliknya, Mediator Dei (20 November 1947), untuk Liturgi Suci, di dalamnya ia mengajarkan bahwa:

Liturgi Suci merupakan… ibadat publik yang dipersembahkan Penebus Kita sebagai Kepala Gereja kepada Bapa, juga ibadat yang diberikan komunitas umat beriman kepada Pendirinya, dan melalui-Nya kepada Bapa. Singkatnya, Liturgi Suci merupakan ibadat yang dilakukan Tubuh Mistik Kristus dalam keseluruhannya sebagai Kepala dan anggota. (no. 20)

Paus mengajarkan bahwa “hakikat dan objek Liturgi Suci” ialah bahwa “ia bertujuan menyatukan jiwa-jiwa kita dengan Kristus dan menguduskannya melalui Penebus Ilahi sehingga Kristus dihormati, dan melalui-Nya serta dalam Dia, Trinitas Kudus pun dihormati.” (no. 171)

Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa melalui liturgi, “terlaksanalah karya penebusan kita” (Sacrosanctum Concilium, no. 2), dan bahwa liturgi

… dipandang bagaikan pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus; di situ pengudusan manusia dilambangkan dengan tanda-tanda lahir serta dilaksanakan dengan cara yang khas bagi masing-masing; disitu pula dilaksanakan ibadat umum yang seutuhnya oleh Tubuh mistik Yesus Kristus, yakni Kepala beserta para anggota-Nya.

Oleh karena itu setiap perayaan liturgis sebagai karya Kristus sang Imam serta Tubuh-Nya yakni Gereja, merupakan kegiatan suci yang sangat istimewa. Tidak ada tindakan Gereja lainnya yang menandingi daya dampaknya dengan dasar yang sama serta dalam tingkatan yang sama. (no. 7)

Berdasarkan hal ini, selanjutnya Konsili mengajarkan bahwa liturgi:

… merupakan puncak yang dituju kegiatan Gereja, dan serta merta sumber segala daya-kekuatannya. Sebab usaha-usaha kerasulan mempunyai tujuan ini: supaya semua orang melalui iman dan baptis menjadi putra-putra Allah, berhimpun menjadi satu, meluhurkan Allah di tengah Gereja, ikut serta dalam Korban dan menyantap perjamuan Tuhan. (no. 10)

Kita dapat melanjutkan pemaparan ajaran magisterium tentang hakikat Liturgi Suci dengan pengajaran para Paus setelah Konsili Vatikan II dan Katekismus Gereja Katolik. Tetapi untuk saat ini, mari kita berhenti sampai pada Konsili. Saya pikir sangatlah jelas, bahwa Gereja mengajarkan demikian: liturgi Katolik merupakan tempat yang istimewa akan karya keselamatan Kristus di dunia kita, melalui sarana partisipasi nyata yang di dalamnya kita menerima rahmat-Nya dan kekuatan yang begitu diperlukan demi ketekunan dan pertumbuhan dalam kehidupan Kristen. Liturgi Katolik merupakan tempat yang diinstitusikan secara ilahi ketika kita datang untuk memenuhi kewajiban kita, yakni mempersembahkan kurban kepada Allah, mempersembahkan Kurban Sejati yang Tunggal. Inilah tempat kita menyadari kebutuhan mendalam untuk menyembah Allah yang Mahakuasa. Liturgi Katolik merupakan hal yang sakral, sesuatu yang kudus dari hakikatnya. Liturgi Katolik bukanlah pertemuan biasa.

Saya ingin menegaskan fakta yang sangat penting: Allah, dan bukan manusia, yang menjadi pusat liturgi Katolik. Kita datang untuk menyembah Dia. Liturgi bukan tentang kamu dan saya; ia bukan tempat kita merayakan identitas kita, atau pencapaian ataupun pemuliaan, liturgi bukan tempat untuk mendukung budaya dan kebiasaan religius lokal kita. Liturgi, pertama dan terutama, adalah tentang Allah dan apa yang telah Dia lakukan bagi kita. Dalam Penyelengaraan Ilahi-Nya, Allah yang Mahakuasa mendirikan Gereja dan menginstitusikan Liturgi Suci, yang melaluinya kita mampu mempersembahkan kepada-Nya ibadat sejati seturut Perjanjian Baru yang ditetapkan Kristus. Dengan melakukan ini, dengan masuk ke dalam tuntutan ritus suci yang berkembang dalam tradisi Gereja, kita diberikan identitas sejati dan makna sebagai putra dan putri Bapa.

Merupakan hal yang hakiki agar kita memahami kekhususan ibadat Katolik, karena dalam beberapa dekade terakhir ini kita telah menyaksikan banyaknya perayaan liturgi ketika orang-orang, kepribadian dan pencapaian manusiawinya begitu menonjol, bahkan hampir mengecualikan Allah. Sebagaimana ditulis Kardinal Ratzinger: “Bila liturgi muncul pertama-tama sebagai ruang kerja aktivitas manusia kita, maka apa yang hakiki dilupakan: yakni Allah. Liturgi bukan tentang kita, tetapi tentang Allah. Melupakan Allah merupakan bahaya yang akan segera terjadi di zaman kita” (Joseph Ratzinger, Theology of the Liturgy, Collected Works vol. 11, Ignatius Press, San Francisco 2014, p. 593).

Kita harus memahami hakikat ibadat Katolik dengan jelas bila kita hendak membaca dokumen Konsili, Konstitusi tentang Liturgi Suci, dengan tepat dan bila kita hendak menerapkannya dengan setia. Para Bapa Konsili dibina dalam pengajaran magisterial para Paus abad ke-20 yang telah saya kutip. St. Yohanes XXIII tidak memanggil Konsili Ekumenis untuk meremehkan ajaran-ajaran ini, ajaran yang ia dukung. Para Bapa Konsili tidak tiba di Roma pada Oktober 1962 dengan niat menghasilkan liturgi yang antroposentris. Melainkan, Paus dan para Bapa Konsili hendak mencari cara supaya umat beriman Kristus dapat menimba kian mendalam dari “sumber yang utama dan sangat diperlukan” untuk memperoleh “semangat Kristen yang sejati” demi keselamatan mereka sendiri dan juga bagi semua pria dan wanita di masa mereka.

B. APAKAH YANG MENJADI INTENSI DARI PARA BAPA KONSILI VATIKAN KEDUA?

Kita harus mengeksplorasi intensi para Bapa Konsili secara rinci, khususnya bila kita ingin lebih setia terhadap intensi-intensi mereka hari ini. Apa yang hendak mereka capai melalui Konstitusi tentang Liturgi Suci?

Mari kita mengawalinya dengan artikel pertama Sacrosanctum Concilium yang menyatakan demikian:

Konsili Suci bermaksud makin meningkatkan kehidupan kristiani di antara Umat beriman; menyesuaikan lebih baik lagi lembaga-lembaga yang dapat berubah dengan kebutuhan zaman kita; memajukan apa saja yang dapat membantu persatuan semua orang yang beriman akan Kristus; dan meneguhkan apa saja yang bermanfaat untuk mengundang semua orang dalam pangkuan Gereja.

Hendaklah kita mengingat, bahwa ketika Konsili dibuka, pembaruan liturgi telah menjadi ciri dekade yang lalu, dan para Bapa Konsili sangatlah familiar dengan pembaruan-pembaruan tersebut. Mereka tidak menganggap pertanyaan-pertanyaan ini secara teoretis, tanpa konteks apapun. Mereka berharap untuk melanjutkan karya yang telah dimulai dan merenungkan “altioria principia,” yakni prinsip-prinsip pembaruan liturgi yang hakiki dan lebih tinggi, yang dibicarakan St. Yohanes XXIII dalam Motu Proprio Rubricarum Instructum tertanggal 25 Juli 1960.

Jadi, artikel pertama dari Konstitusi memberikan empat alasan untuk melaksanakan pembaruan liturgi. Pertama, “meningkatkan kehidupan kristiani di antara Umat beriman” merupakan kepedulian para pastor Gereja di setiap zaman.

Kedua, “menyesuaikan lebih baik lagi lembaga-lembaga yang dapat berubah dengan kebutuhan zaman kita”, ini dapat membuat kita berhenti sejenak dan merenung, secara khusus karena zeitgeist pada tahun 1960. Tetapi kenyataannya, bila Konstitusi dibaca dengan penafsiran kesinambungan yang tentunya dimaksudkan para Bapa Konsili, ini artinya Konsili menghendaki perkembangan liturgi bila itu memungkinkan, guna memudahkan peningkatan kehidupan Kristiani. Para Bapa Konsili tidak ingin mengubah pelbagai hal semata karena perubahan!

Lalu, alasan ketiga, “memajukan apa saja yang dapat membantu persatuan semua orang yang beriman akan Kristus”, pernyataan ini juga membuat kita berhenti sejenak, kalau-kalau kita berpikir bahwa para Bapa Konsili ingin menjadikan Liturgi Suci sebagai instrumen dan alat ekumenis, yaitu menjadikannya sarana untuk mencapai tujuan. Tetapi, benarkah begitu? Tentu, setelah Konsili, beberapa orang telah mencoba melakukannya. Tetapi para Bapa Konsili sendiri tahu bahwa hal itu mustahil. Kesatuan dalam ibadat di hadapan altar kurban adalah tujuan yang dikehendaki dari upaya ekumenis. Liturgi bukanlah sarana untuk mendukung kehendak baik atau kerja sama dalam karya-karya apostolik. Tidak, di sini para Bapa Konsili berkata bahwa mereka percaya pembaruan liturgi dapat menjadi bagian dari momentum yang dapat membantu orang-orang mencapai kesatuan Katolik, yang tanpanya persekutuan penuh dalam ibadat tidaklah mungkin terjadi.

Motivasi yang sama ditemukan dalam alasan keempat untuk pembaruan liturgi: “meneguhkan apa saja yang bermanfaat untuk mengundang semua orang dalam pangkuan Gereja.” Di sini, kita bergerak melampaui saudara-saudari Kristen kita yang terpisah, dan merenungkan “seluruh umat manusia.” Misi Gereja ditujukan bagi setiap pria dan wanita! Para Bapa Konsili mempercayai hal ini dan berharap partisipasi yang kian berbuah dalam liturgi akan memudahkan pembaruan dalam aktivitas misioner Gereja.

Saya berikan satu contoh. Beberapa tahun sebelum Konsili, di negara-negara misionaris dan juga di negara berkembang, telah banyak diskusi tentang kemungkinan menambah penggunaan bahasa vernakular (catatan penerjemah: bahasa vernakular ialah bahasa ibu) dalam liturgi, terutama untuk bacaan Kitab Suci, dan juga untuk beberapa bagian lain dari Misa (yang kini kita sebut “Liturgi Sabda”) serta untuk nyanyian liturgis. Takhta Suci telah memberikan banyak izin untuk menggunakan bahasa vernakular dalam pemberian sakramen-sakramen. Inilah konteksnya ketika para Bapa Konsili berbicara tentang kemungkinan efek positif ekumenis atau efek misioner dari pembaruan liturgi. Benar bahwa bahasa vernakular memiliki tempat positif dalam liturgi. Para Bapa mencari hal ini, dan tidak mengizinkan protestanisasi Liturgi Suci atau menaklukannya kepada inkulturasi palsu.

Saya orang Afrika. Dan saya katakan dengan jelas: liturgi bukanlah tempat untuk mengembangkan budaya saya. Melainkan, liturgi adalah tempat ketika budaya saya dibaptis, ketika budaya saya diangkat menuju yang ilahi. Melalui liturgi Gereja (yang telah dilaksanakan para misionaris di seluruh dunia), Allah berbicara kepada kita, Ia mengubah kita dan memampukan kita ambil bagian dalam kehidupan ilahi-Nya. Ketika seseorang menjadi Kisten, ketika seseorang masuk ke dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, mereka menerima sesuatu yang lebih, yang mengubah mereka. Tentu, budaya-budaya dan orang Kristen lainnya membawa karunia beserta diri mereka ke dalam Gereja—liturgi Ordinariat Anglikan yang sekarang ada dalam persekutuan penuh dengan Gereja, merupakan contoh yang indah akan hal ini. Tetapi mereka membawa karunia-karunia ini dengan kerendahan hati, dan Gereja, dalam hikmat keibuannya, menggunakannya sejauh ia menilainya sebagai hal yang pantas.

Meskipun demikian, tampaknya kita perlu memperjelas apa yang kita maksud dengan istilah inkulturasi. Bila kita sungguh memahami makna istilah tersebut sebagai pemahaman ke dalam misteri Yesus Kristus, maka kita memiliki kunci dalam memahami inkulturasi, yang bukan pencarian ataupun klaim terhadap legitimasi Afrikanisasi, Latin Amerikanisasi, dan Asianiasi, untuk menggantikan Westernisasi Kekristenan. Inkulturasi bukanlah kanonisasi budaya lokal dan bukan juga pengadopsian budaya dengan risiko menjadikannya absolut. Inkulturasi adalah kemunculan dan penampakan Tuhan di tubir keberadaan kita. Dan kemunculan Tuhan dalam kehidupan kita menimbulkan sebuah celah, suatu pelepasan yang membuka jalan seturut orientasi-orientasi baru yang menciptakan unsur-unsur budaya baru, sarana Kabar Gembira bagi manusia dan martabatnya sebagai anak Allah. Ketika Injil masuk ke dalam hidup kita, ia membuka celah, ia mengubahnya. Ia memberikan arahan baru, orientasi etis dan moral baru. Ia mengubah hati manusia menuju Allah dan sesama untuk mengasihi dan melayani mereka secara mutlak dan tanpa rancangan. Ketika Yesus masuk ke dalam sebuah kehidupan, Ia mengubahnya, Ia mengilahikannya dengan terang wajah-Nya yang berkilau, sama seperti ketika St. Paulus berada di jalan menuju Damaskus (lih. Kis 9:5-6).

Melalui Inkarnasi-Nya, Sabda Allah menjadi manusia dalam segala hal, kecuali dalam dosa (Ibr 4:15), demikian pula injil mengambil semua nilai budaya dan manusia, tetapi menolak untuk membentuknya dalam struktur dosa. Ini berarti semakin berlimpahnya dosa individual dan kolektif dalam komunitas manusia atau gerejawi, semakin kecil ruang yang ada untuk inkulturasi. Sebaliknya, semakin komunitas menjadi Kristen dan bersinar dengan kekudusan, serta memancarkan nilai-nilai injil, kian mungkinlah untuk menginkulturasi pesan Kristen. Inkulturasi iman merupakan tantangan kekudusan. Ia menguji tingkat kekudusan, tingkat kedalaman Injil, dan tingkat iman akan Yesus Kristus dalam sebuah komunitas Kristen. Inkulturasi, oleh sebab itu, bukanlah cerita rakyat yang bersifat religius.

Inkulturasi, secara hakikatnya, tidak terwujud dari penggunaan bahasa lokal, instrumen dan musik Amerika Latin, tarian Afrika atau ritual asia dan simbol-simbol dalam liturgi serta sakramen-sakramen. Inkulturasi adalah Allah yang turun ke kehidupan, ke dalam perilaku moral, ke dalam budaya dan kebiasaan manusia untuk membebaskannya dari dosa dan untuk mengenalkan kehidupan Trinitas kepada mereka. Tentu, iman memerlukan budaya agar ia dapat disampaikan. Inilah alasannya mengapa St. Yohanes Paulus II menegaskan bahwa iman yang tidak menjadi budaya adalah iman yang sekarat: “Bila diterapkan dengan tepat, inkulturasi harus dibimbing oleh dua prinsip: “keselarasan dengan injil dan persekutuan dengan Gereja universal”” (Surat Ensiklik, Redemptoris Missio, 7 Desember 1990, no. 54).

Saya telah meluangkan waktu untuk merenungkan artikel pertama Konstitusi karena sangatlah penting untuk membaca Sacrosanctum Concilium dalam konteksnya, sebagai sebuah dokumen yang bermaksud mendukung perkembangan yang sah (misalnya peningkatan penggunaan bahasa vernakular) dalam kesinambungan dengan hakikat, pengajaran, dan misi Gereja di dunia modern. Kita tidak seharusnya membaca hal-hal yang tidak dikatakan Konstitusi. Para Bapa Konsili tidak menginginkan revolusi, melainkan evolusi, sebuah pembaruan yang moderat.

Intensi para Bapa Konsili terlihat jelas dari kutipan kunci lainnya. Artikel 14 merupakan salah satu bagian terpenting dari keseluruhan Konstitusi:

Bunda Gereja sangat menginginkan, supaya semua orang beriman dibimbing kearah keikut-sertaan yang sepenuhnya, sadar dan aktif dalam perayaan-perayaan Liturgi. Keikut-sertaan seperti itu dituntut oleh Liturgi sendiri, dan berdasarkan Baptis merupakan hak serta kewajiban umat kristiani sebagai “bangsa terpilih, imamat rajawai, bangsa yang kudus, Umat kepunyaan Allah sendiri” (1Ptr 2:9; Lih. 2:4-5).

Dalam pembaharuan dan pengembangan Liturgi suci keikut-sertaan segenap Umat secara penuh dan aktif itu perlu beroleh perhatian yang terbesar. Sebab bagi kaum beriman merupakan sumber utama yang tidak tergantikan, untuk menimba semangat kristiani yang sejati. Maka dari itu dalam seluruh kegiatan pastoral mereka para gembala jiwa harus mengusahakannya dengan rajin melalui pendidikan yang seperlunya.

Akan tetapi supaya itu tercapai tiada harapan lain kecuali bahwa lebih dahulu para gembala jiwa sendiri secara mendalam diresapi semangat dan daya Liturgi, serta menjadi mahir untuk memberi pendidikan Liturgi. Oleh karena itu sangat perlulah bahwa pertama-tama pendidikan Liturgi klerus dimantapkan. Maka Konsili suci memutuskan ketetapan-ketetapan berikut.

Kita mendengar suara Paus pra-konsili di sini, yang mencari partisipasi yang nyata dan berbuah dalam liturgi, dan untuk mewujudkan hal itu, desakan tentang pengajaran atau formasi yang saksama dalam liturgi sangatlah diperlukan. Para Bapa Konsili menunjukkan realisme yang kemudian dilupakan. Marilah kita mendengarkan lagi kata-kata Konsili dan merenungkan maknanya: “Akan tetapi supaya itu tercapai tiada harapan lain kecuali bahwa lebih dahulu para gembala jiwa sendiri secara mendalam diresapi semangat dan daya Liturgi, serta menjadi mahir untuk memberi pendidikan Liturgi.”

Di awal artikel 21 kita juga mendengar intensi para Bapa Konsili dengan jelas: “Supaya lebih terjaminlah bahwa Umat kristiani memperoleh rahmat berlimpah dalam Liturgi suci, Bunda Gereja yang penuh kasih ingin mengusahakan dengan saksama restorasi umum Liturgi sendiri.” “Ut populus christianus in sacra Liturgia abundantiam gratiarum securius assequatur…”. Ketika kita mempelajari bahasa Latin, kita belajar bahwa kata “ut” menandakan tujuan yang jelas dalam klausa yang sama. Apa yang dikehendaki para Bapa Konsili? –yaitu bahwa umat Kristen memperoleh rahmat berlimpah dari Liturgi Suci. Bagaimana usulan mereka untuk melakukan hal ini? –yaitu mengusahakan dengan saksama restorasi umum Liturgi itu sendiri (“ipsius Liturgiae generalem instaurationem sedulo curare cupit”). Perhatikan bahwa para Bapa Konsili berbicara tentang “restorasi”, bukan revolusi!

Salah satu ungkapan intensi Bapa Konsili yang paling indah dan jelas, dapat kita temukan di awal bab kedua Konstitusi, yang merenungkan misteri Ekaristi Terkudus. Dalam artikel 48 kita membaca:

Maka dari itu Gereja dengan susah payah berusaha, jangan sampai Umat beriman menghadiri misteri iman itu sebagai orang luar atau penonton yang bisu, melainkan supaya melalui upacara dan doa-doa memahami misteri itu dengan baik, dan ikut-serta penuh khidmat dan secara aktif. Hendaknya mereka rela diajar oleh sabda Allah, disegarkan oleh santapan Tubuh Tuhan, bersyukur kepada Allah. Hendaknya sambil mempersembahkan Hosti yang tak bernoda bukan saja melalui tangan imam melainkan juga bersama dengannya, mereka belajar mempersembahkan diri, dari hari ke hari – berkat perantaraan Kristus – makin penuh dipersatukan dengan Allah dan antar mereka sendiri, sehingga akhirnya Allah menjadi segalanya dalam semua.

Saudara-saudariku, inilah intensi Bapa Konsili. Ya, tentu, mereka berdiskusi dan memutuskan tentang cara-cara spesifik untuk mencapai intensi mereka. Tapi hendaklah hal ini menjadi jelas: pembaruan ritual yang diajukan dalam Konstitusi seperti restorasi doa umat saat Misa (no. 53), perluasan konselebrasi (no. 57) atau beberapa kebijakannya seperti penyederhanaan yang dikehendaki dalam artikel 34 dan 50, semuanya tunduk kepada intensi fundamental Bapa Konsili yang baru saja saya ringkaskan. Mereka semua merupakan sarana untuk mencapai tujuan, dan tujuan itulah yang harus kita capai.

Bila kita bergerak ke arah penerapan otentik Sacrosanctum Concilium, tujuan inilah, pertama dan terutama, yang harus kita ingat. Mungkin saja, bila kita mempelajarinya dengan mata yang jernih dan dengan keuntungan dari pengalaman selama lima dekade terakhir, kita akan melihat beberapa pembaruan ritual spesifik dan kebijakan liturgis tertentu dalam terang yang berbeda. Hari ini, bila kita hendak “makin meningkatkan kehidupan Kristiani di antara umat beriman” dan “meneguhkan apa saja yang bermanfaat untuk mengundang semua orang dalam pangkuan Gereja,” hal-hal ini perlu dipertimbangkan, marilah kita memohon kepada Tuhan untuk memberikan kita kasih dan kerendahan hati serta hikmat untuk melakukannya.

C. APA YANG TERJADI SETELAH PROMULGASI SACROSANCTUM CONCILIUM?

Saya mengangkat kemungkinan untuk melihat kembali kepada Konstitusi dan pembaruan yang mengikuti promulgasinya karena saya berpikir bahwa kita tidak dapat dengan jujur membaca bahkan artikel pertama Sacrosanctum Concilium dan merasa puas bahwa kita telah mencapai tujuannya. Saudara-saudariku, di manakah umat beriman yang dibicarakan Bapa Konsili? Banyak umat beriman kini tidak beriman: mereka sama sekali tidak datang menghadiri liturgi. Dalam perkataan St. Yohanes Paulus II: “Melupakan Allah dapat mengarah pada pengabaian manusia. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa dalam konteks ini, suatu wilayah yang luas telah membuka perkembangan yang tanpa batas akan nihilisme dalam filsafat, relativisme dalam nilai-nilai dan moralitas, pragmatisme—bahkan hedonisme yang sinis—dalam kehidupan sehari-hari. Budaya Eropa memberikan kesan adanya ‘kemurtadan sunyi’ di sisi banyak orang yang memiliki segala yang mereka perlukan, namun mereka hidup seakan-akan Allah tidak ada” (Apostolic Exhortation, Ecclesia in Europa, 28 Juni 2003, 9). Di mana kesatuan yang diharapkan Konsili untuk dicapai? Kita belum mencapainya. Sudahkah kita membuat perkembangan nyata dalam memanggil seluruh umat manusia ke dalam pangkuan Gereja? Saya rasa tidak. Namun kita telah melakukan banyak hal kepada liturgi!

Dalam 47 tahun kehidupan saya sebagai imam, dan lebih dari 36 tahun dalam pelayanan episkopal saya, saya dapat membuktikan bahwa banyak komunitas dan individual Katolik yang menghidupi dan mendoakan liturgi dengan penuh semangat dan sukacita, yakni liturgi yang dibarui setelah Konsili, dan mereka memperoleh banyak, bila bukan semua, hal-hal baik yang dikehendaki Bapa Konsili. Inilah buah Konsili yang besar. Tetapi dari pengalaman saya, saya juga tahu—dan kini melalui pelayanan saya sebagai Prefek Kongregasi Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen—bahwa hari ini, ada banyak distorsi dalam liturgi di seluruh Gereja, dan ada banyak situasi yang dapat diperbaiki sehingga tujuan Konsili dapat dicapai. Sebelum saya merenungkan beberapa kemungkinan untuk memperbaikinya, mari kita merenungkan apa yang terjadi setelah promulgasi Konstitusi tentang Liturgi Suci.

Pada abad ke-16, Paus mempercayakan pembaruan liturgi yang dikehendaki Konsili Trente kepada komisi khusus yang bekerja mempersiapkan edisi revisi buku-buku liturgis yang pada akhirnya dipromulgasikan Paus. Ini merupakan prosedur normal dan digunakan Beato Paulus VI pada tahun 1964 ketika ia mendirikan Consilium ad exsequendam constitutionem de sacra liturgia. Kita tahu banyak tentang komisi ini dari memoar yang diterbitkan sekretaris komisi tersebut, Uskup Agung Annibale Bugnini (The Reform of the Liturgy: 1948-1975, Liturgical Press, Collegeville 1990).

Tugas komisi ini, yaitu menerapkan Konstitusi, tentunya tunduk pada berbagai pengaruh, ideologi, dan proposal baru yang tidak terdapat dalam Sacrosanctum Concilium. Contohnya, benar bahwa Konsili tidak mengajukan penambahan Doa Syukur Agung yang baru, tetapi gagasan tersebut muncul dan diterima, dan bahwa doa-doa baru tersebut dipromulgasikan secara otoritatif oleh Paus. Benar pula bahwa, sebagaimana dijelaskan Uskup Agung Bugnini, beberapa doa dan ritus dibuat atau direvisi seturut semangat zaman, secara khusus menurut kepekaan ekumenis. Apakah terlalu banyak atau sedikit hal yang telah dilakukan, atau apakah yang telah dilakukan sungguh mencapai tujuan-tujuan Konstitusi, atau apakah mereka sesungguhnya malah menghambat tujuan tersebut, merupakan pertanyaan yang perlu kita pelajari. Saya sangat senang karena para cendekiawan sedang menimbang hal ini secara mendalam. Sekalipun demikian, merupakan fakta penting bahwa Beato Paulus VI menilai bahwa pembaruan yang diajukan komisi tersebut sebagai hal yang pantas dan bahwa ia mempromulgasikannya. Dengan otoritas apostoliknya ia menetapkan mereka sebagai hal yang normatif dan memastikan licitas (catatan penerjemah: licitas berarti kelayakan atau sesuai ketetapan gerejawi) dan validitasnya.

Selagi karya resmi pembaruan liturgi sedang terjadi, muncullah beberapa salah penafsiran yang serius, yang berakar di tempat-tempat berbeda di seluruh dunia. Pelanggaran-pelanggaran Liturgi Suci ini tumbuh karena pemahaman yang keliru tentang Konsili, yang mengakibatkan munculnya perayaan liturgis yang subjektif dan lebih terpusat pada keinginan komunitas individual daripada terpusat pada ibadat kurban kepada Allah yang Mahakuasa. Pendahulu saya, Francis Kardinal Arinze, pernah menyebut hal ini sebagai “Misa yang-kamu-lakukan-sendiri.” St. Yohanes Paulus II bahkan merasa perlu menulis hal ini dalam surat Ensikliknya Ecclesia de Eucharistia (17 April 2003):

Komitmen Magisterium Gereja untuk mewartakan misteri Ekaristi telah mendorong pertumbuhan batin komunitas Kristiani. Pastilah pembaharuan liturgi yang didorong oleh Konsili telah memberikan sumbangan besar bagi semakin besarnya kesadaran, partisipasi yang lebih aktif dan berdayaguna dalam Kurban Altar yang Suci ini bagi para umat beriman. Di banyak tempat, sembah sujud (adorasi) Sakramen Mahakudus telah juga menjadi praktik harian yang penting, dan telah menjadi sumber kesucian yang tak kunjung kering. Partisipasi saleh umat beriman dalam prosesi Ekaristi pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus adalah juga rahmat Tuhan yang setiap tahun membawa sukacita bagi mereka yang ambil bagian di dalamnya. Tanda-tanda positif lain terhadap iman Ekaristi dan cinta kasih pantas juga disebut.

Sayangnya, berdampingan dengan terang-terang ini, terdapat juga keredupan. Di beberapa tempat, praktik sembah sujud Ekaristi hampir terlupakan sama sekali. Di banyak bagian dari Gereja, telah terjadi juga pelanggaran, sampai membingungkan iman yang sehat dan ajaran Katolik mengenai sakramen ajaib ini. Terkadang terjadilah pemiskinan yang hebat pada pihak pemahaman misteri Ekaristi. Dilucuti dari makna kurbannya, Ekaristi dirayakan hanya sebagai perjamuan persaudaraan. Apalagi, perlunya pelayanan imamat, yang didasarkan pada kesinambungan apostolik, kadang-kadang menjadi redup, dan hakikat sakramental dari Ekaristi dipersempit hanya dayagunanya sebagai salah satu pewartaan. Ini, di sana-sini, telah mengarah kepada prakarsa ekumenis, kendati maksudnya baik, tetapi telah membiarkan masuknya praktik-praktik yang bertentangan dengan disiplin iman seperti diajarkan oleh Gereja. Bagaimana mungkin kita tidak mengungkapkan duka mendalam atas semua ini? Ekaristi merupakan karunia yang terlalu berharga untuk diserahkan kepada ambiguitas dan pelecehan.

Saya berharap agar surat ensiklik ini dapat memberikan sumbangsihnya bagi penghapusan awam kelam pada ajaran dan praktik yang harus ditolak, sehingga Ekaristi terus bersinar dalam seluruh misterinya yang cemerlang (no. 10).

Selain praktik-praktik yang menyimpang, ada juga reaksi negatif terhadap pembaruan yang dipromulgasikan secara resmi. Beberapa orang menemukan bahwa pembaruan tersebut sudah kelewatan dan terlampau cepat, atau bahkan dicurigai secara doktrinal. Perlu diingat kontroversi yang terjadi pada tahun 1969, yaitu ketika Kardinal Ottaviani dan Bacci mengirimkan surat kepada Paulus VI yang mengungkapkan keprihatinan serius mereka, yang selanjutnya Paus merasa pantas untuk mengklarifikasi doktrin dengan lebih akurat. Pertanyaan-pertanyaan ini juga perlu dipelajari dengan saksama.

Terdapat realitas pastoral juga di sini: entah untuk alasan baik atau tidak, beberapa orang tidak bisa, atau tidak mau berpartisipasi dalam ritus yang diperbarui. Mereka menghindarinya, atau hanya berpartisipasi dalam liturgi yang belum diperbarui ketika mereka dapat menemukannya, bahkan ketika perayaannya tidak diijinkan. Dalam cara ini, liturgi menjadi ungkapan perpecahan di dalam Gereja, dan bukan menjadi kesatuan Katolik. Konsili tidak bermaksud agar liturgi memecah-belah kita satu sama lain! St. Yohanes Paulus II bekerja untuk menyembuhkan perpecahan ini, dibantu oleh Kardinal Ratzinger yang, sebagai Paus Benediktus XVI, berupaya memudahkan rekonsiliasi internal yang perlu di dalam Gereja. Melalui Motu Proprio Summorum Pontificum (7 Juli 2007), Paus Benediktus menetapkan bahwa bentuk Ritus Romawi yang lebih lampau haruslah tersedia tanpa larangan bagi individu dan kelompok yang hendak menimba kekayaannya. Dalam Penyelenggaraan Ilahi Allah, kini mungkinlah merayakan kesatuan Katolik sambil menghormati, bahkan bersukacita di dalam keberagamaan praktik ritual yang sah.

Terakhir, saya ingin menekankan bahwa di tengah karya pembaruan dan terjemahan yang terjadi setelah Konsili (dan kita tahu beberapa karya tersebut dilakukan terlalu cepat, yang artinya kini kita harus merevisi terjemahannya agar lebih setia dengan teks Latin yang asli), barangkali kita kurang memperhatikan apa yang dikatakan para Bapa Konsili, yaitu tentang hal yang hakiki untuk mencapai partisipasi yang berbuah dalam liturgi: bahwa klerus “diresapi dengan semangat dan daya liturgi, dan menjadi mahir untuk memberikan pendidikan liturgi.” Kita tahu bahwa bangunan dengan fondasi yang lemah berisiko mengalami kerusakan atau bahkan keruntuhan.

Kita mungkin telah membangun liturgi modern yang sangat baru dalam bahasa vernakular, tetapi bila kita tidak meletakkan fondasi yang tepat—bila seminaris dan klerus kita tidak “diresapi semangat dan daya liturgi” sebagaimana diharuskan Konsili—maka mereka sendiri tidak dapat membina umat yang dipercayakan pada mereka. Kita perlu menganggap serius perkataan Konsili: akan menjadi “sia-sia” berharap pada pembaruan liturgi tanpa formasi liturgi yang saksama. Tanpa formasi yang hakiki ini, klerus bahkan dapat membahayakan iman umat dalam misteri Ekaristi.

Saya tidak ingin dianggap terlalu pesimis, dan saya katakan lagi: ada banyak orang, umat beriman awam pria dan wanita, banyak klerus dan religius yang bagi mereka, liturgi yang dibarui setelah Konsili merupakan sumber bagi buah spiritual dan apostolik, dan untuk alasan itu saya berterima kasih kepada Allah yang Mahakuasa. Tetapi, bahkan dari analisis singkat ini, saya pikir Anda semua setuju bahwa kita dapat melakukan dengan lebih baik sehingga Liturgi Suci sungguh menjadi sumber dan puncak kehidupan dan misi Gereja kini, sebagaimana yang sangat diinginkan Bapa Konsili.

Meskipun demikian, inilah yang diminta Paus Fransiskus untuk kita lakukan: “Perlu sekali untuk menyatukan kerelaan yang diperbarui guna melangkah maju di jalan yang ditunjukkan oleh para Bapa Konsili, karena masih terdapat banyak hal untuk dilakukan guna mencapai asimilasi yang utuh dan benar dari Konstitusi tentang Liturgi Suci, baik itu di pihak umat terbaptis dan komunitas gerejawi. Saya mengacu, secara khusus, kepada komitmen bagi inisiasi dan formasi liturgis yang organik, baik itu formasi umat beriman awam, klerus, dan juga kaum hidup bakti.”

D. BAGAIMANA SEHARUSNYA KITA MELANGKAH MENUJU PENERAPAN SACROSANCTUM CONCILIUM YANG LEBIH OTENTIK?

Dalam terang keinginan hakiki Bapa Konsili dan situasi-situasi berbeda yang telah kita lihat setelah Konsili, saya ingin memberikan beberapa pertimbangan praktis tentang cara menerapkan Sacrosanctum Concilium dengan lebih setia. Sekalipun saya mengemban jabatan sebagai Prefek Kongregasi Ibadat Ilahi, saya melakukannya dengan segenap kerendahan hati sebagai imam dan uskup dengan harapan bahwa mereka mendukung permenungan yang matang, studi akademis dan praktik liturgis yang baik di seluruh Gereja.

Tidaklah mengejutkan bila saya berkata bahwa, pertama-tama, kita harus memeriksa kualitas dan kedalaman formasi liturgis kita, bagaimana cara kita membantu klerus, religius, dan umat beriman awam dalam meresapi semangat dan daya liturgi. Terlalu sering kita berasumsi bahwa kandidat bagi tahbisan imamat atau diakonat permanen cukup “tahu” tentang liturgi. Tetapi Konsili tidak menuntut tentang pengetahuan, sekalipun, tentu saja Konstitusi menekankan pentingnya studi liturgis (lih. No 15-17). Tidak, formasi liturgis, pertama dan secara hakiki ialah penceburan ke dalam liturgi, ke kedalaman misteri Allah Bapa kita yang penuh kasih. Ini merupakan ihwal menghidupi liturgi dengan segala kekayaannya, sehingga dengan meminum secara mendalam dari sumbernya, kita selalu memiliki rasa dahaga akan kenikmatannya, keteraturannya, dan keindahannya, keheningan dan kontemplasinya, kemampuannya untuk menghubungkan kita secara intim dengan Dia yang bekerja di dalam dan melalui ritus suci Gereja.

Itulah sebabnya mereka yang berada “dalam formasi” untuk pelayanan pastoral harus menghidupi liturgi secara penuh sebisa mungkin, baik itu di seminari atau rumah formasi mereka. Kandidat untuk diakonat permanen harus tenggelam dalam kehidupan liturgis yang intens selama kurun waktu tertentu. Dan, saya hendak menambahkan, bahwa perayaan yang penuh dan kaya dari Ritus Romawi yang lebih kuno, yakni usus antiquor, harus menjadi bagian penting dari formasi liturgis untuk klerus, karena bagaimana mungkin kita dapat mulai memahami atau merayakan ritus yang diperbarui dengan penafsiran yang berkesinambungan, bila kita tidak pernah mengalami keindahan tradisi liturgis yang diketahui oleh Bapa Konsili, dan yang telah menghasilkan begitu banyak orang kudus selama ratusan tahun? Keterbukaan yang bijaksana terhadap misteri Gereja dan kekayaannya, terhadap tradisi berusia ratusan tahun, dan kepatuhan yang rendah hati terhadap apa yang dikatakan Roh Kudus kepada gereja-gereja hari ini merupakan tanda nyata bahwa kita adalah milik Yesus Kristus: Dan Ia berkata kepada mereka: “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya” (Mat 13:52).

Bila kita memperhatikan hal ini, bila imam baru kita dan diakon sungguh merasa haus akan liturgi, mereka sendiri akan mampu membina umat yang dipercayakan pada mereka—bahkan bila situasi liturgis dan kemungkinan misi gerejawi mereka lebih sederhana dibandingkan mereka yang berada di seminari atau di katedral. Saya menyadari banyak imam dalam situasi demikian, yang membina umatnya dengan semangat dan daya liturgi, dan yang parokinya merupakan teladan akan keindahan liturgis yang agung. Kita harus mengingat bahwa kesederhanaan yang agung tidaklah sama dengan minimalisme reduktif ataupun gaya yang vulgar dan sembrono. Sebagaimana dikatakan Bapa Suci, Paus Fransiskus, yang mengajar dalam Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium: “Gereja melakukan evangelisasi, dan dievangelisasi melalui keindahan liturgi, yang merupakan perayaan tugas evangelisasi dan sumber pemberian dirinya yang diperbarui.” (no. 24)

Kedua, saya pikir sangatlah penting agar kita memahami hakikat partisipasi liturgis dengan jelas, tentang participatio actuosa yang disebut Konsili. Ada banyak kekacauan dalam hal ini selama beberapa dekade terakhir. Artikel 48 Konsitusi menyatakan: “Maka dari itu Gereja dengan susah payah berusaha, jangan sampai Umat beriman menghadiri misteri iman itu sebagai orang luar atau penonton yang bisu, melainkan supaya melalui upacara dan doa-doa memahami misteri itu dengan baik, dan ikut-serta penuh khidmat dan secara aktif.” Konsili memandang partisipasi terutama dalam aspek batiniahnya, yang terjadi “melalui upacara dan doa-doa memahami misteri itu dengan baik.” Kehidupan batin, hidup yang diselami dalam Allah dan secara intim didiami oleh Allah merupakan kondisi yang sangat diperlukan bagi tercapainya partisipasi yang berhasil dan berbuah dalam Misteri-Misteri Suci yang kita rayakan di dalam liturgi. Perayaan Ekaristi haruslah secara hakiki dihidupi secara batiniah. Di dalam diri kitalah, Allah ingin berjumpa dengan kita. Bapa Konsili mengharuskan umat beriman untuk bernyanyi, menanggapi imam, mengemban pelayanan liturgis yang memang menjadi hak mereka, tetapi mereka menutut agar semuanya harus “menyadari apa yang mereka lakukan, dengan devosi dan kolaborasi penuh.”

Bila kita memahami prioritas untuk menghayati partisipasi liturgis kita, kita akan menghindari kegaduhan dan aktivisme liturgis yang berbahaya, yang telah terlalu menonjol selama beberapa dekade belakangan ini. Kita tidak pergi menghadiri liturgi untuk melakukan sesuatu, apalagi berbuat sesuatu untuk dilihat orang: kita pergi untuk dihubungkan dengan tindakan Kristus melalui penghayatan ritus liturgis lahiriah, doa, tanda dan simbol. Barangkali kami, para imam, yang panggilannya untuk melayani secara liturgis, perlu mengingat hal ini lebih daripada orang lain! Tetapi kami juga perlu membina orang lain, secara khusus anak-anak dan orang muda kita, dalam makna sejati partisipasi liturgis, dalam cara mendoakan liturgi yang sejati.

Ketiga, saya telah berbicara tentang kenyataan, bahwa beberapa pembaruan yang diperkenalkan setelah Konsili dilakukan seturut semangat zaman, dan bahwa terdapat peningkatan studi yang kritis yang dilakukan oleh putra dan putri Gereja yang setia, yang menanyakan apakah hasil pembaruan liturgi sungguh menerapkan tujuan-tujuan Konstitusi, atau apakah sesungguhnya pembaruan tersebut telah melampauinya. Diskusi ini kadang terjadi dalam topik reform of the reform (membarui pembaruan liturgi), dan saya menyadari bahwa Romo Thomas Kocik memberikan studi yang akademis tentang persoalan ini pada Konferensi Sacra Liturgia di New York setahun yang lalu.

Saya pikir kita tidak dapat mengabaikan kemungkinan atau keinginan akan pembaruan resmi terhadap pembaruan liturgis, karena para pendukungnya membuat beberapa klaim penting dalam upaya mereka untuk setia terhadap desakan Konsili dalam artikel 23 Konstitusi, “Supaya tradisi yang sehat dipertahankan, namun dibuka jalan juga bagi perkembangan yang wajar” dan bahwa “janganlah kiranya diadakan hal-hal baru, kecuali bila sungguh-sungguh dan pasti dituntut oleh kepentingan Gereja; dan dalam hal ini hendaknya diusahakan dengan cermat, agar bentuk-bentuk baru itu bertumbuh secara kurang lebih organis dari bentuk-bentuk yang sudah ada.”

Memang, saya dapat berkata bahwa ketika saya diterima dalam audiensi bersama Bapa Suci April lalu, Paus Fransiskus meminta saya mempelajari persoalan membarui pembaruan liturgi dan bagaimana memperkaya dua bentuk Ritus Romawi. Ini akan menjadi tugas yang sulit dan panjang dan saya memohon kesabaran dan doa Anda. Tetapi bila kita hendak menerapkan Sacrosanctum Concilium dengan lebih setia, bila kita hendak mencapai apa yang Konsili inginkan, ini adalah pertanyaan serius yang harus dipelajari dengan saksama dan dilakukan dengan kejelasan dan kearifan, dalam doa dan ketaatan penuh terhadap Allah.

Kami para imam dan uskup, mengemban tanggung jawab besar. Teladan baik kami membangun praktik liturgis yang baik; namun kecerobohan atau kesalahan kami melukai Gereja dan Liturgi Sucinya!

Kami para imam, pertama dan terutama harus menjadi penyembah. Umat kita dapat melihat perbedaan antara imam yang merayakan dengan iman dan mereka yang merayakan dengan tergesa-gesa, yang sering melihat jam tangannya, seakan hampir berkata bahwa ia ingin kembali menonton televisi secepat mungkin! Para imam, kita tidak dapat melakukan hal yang lebih penting selain merayakan misteri-misteri suci: hendaklah kita waspada akan godaan kemalasan liturgis dan sikap suam-suam kuku, karena ini adalah godaan iblis.

Kita harus mengingat bahwa kita bukan pencipta liturgi, kita adalah pelayannya yang rendah hati, tunduk pada disiplin dan hukumnya. Kita juga bertanggung jawab membina mereka yang membantu kita dalam pelayanan liturgis baik dalam hal semangat dan daya liturgi serta regulasinya. Terkadang saya melihat imam menyingkir untuk mengijinkan prodiakon (pelayan tak lazim) membagikan Komuni Suci: ini salah, ini penyangkalan pelayanan imamat dan juga klerikalisasi umat awam. Ketika ini terjadi, ini adalah tanda bahwa formasinya sangatlah keliru, dan hal ini perlu dikoreksi. (lih Mat. 14:18-21). “Dan, setelah mengambil lima roti… dan memberikannya kepada murid-muridnya supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu… Mereka yang ikut makan itu ada lima ribu orang laki-laki” (Mark 6:30-44; Mat 14:18-21)

Saya juga melihat imam dan uskup, yang mengenakan busana untuk merayakan Misa Kudus, mengeluarkan telepon dan kamera serta menggunakannya dalam Liturgi Suci. Ini adalah dakwaan mengerikan atas apa yang mereka pahami sebagai misi mereka ketika mereka mengenakan busana liturgis, yang mengenakan kita sebagai pengganti Kristus—dan terlebih, sebagai ipse Christus, sebagai Kristus sendiri. Melakukan ini adalah sakrilegi. Uskup, imam atau diakon yang mengenakan busana untuk pelayanan liturgis, atau hadir di panti imam, tidak boleh mengambil foto, bahkan pada Misa konselebrasi berskala besar. Para imam sering melakukan hal ini pada Misa tersebut, atau berbicara satu sama lain dan duduk santai, dan ini merupakan tanda bahwa kita perlu memikirkan kembali kelayakan konselebrasi berskala besar ini, secara khusus bila hal ini menuntun para imam ke dalam perilaku skandal yang begitu tidak pantas dalam misteri yang sedang dirayakan, atau bila besarnya konselebrasi ini mengarah pada resiko profanisasi Ekaristi Suci.

Umat beriman yang mengambil foto selama perayaan Ekaristi suci juga melakukan skandal dan profanisasi. Mereka seharusnya berpartisipasi melalui doa dan tidak menghabiskan waktu mereka dengan memotret!

Saya ingin berseru kepada semua imam. Anda mungkin telah membaca artikel saya di L’Osservatore Romano setahun lalu (12 Juni 2015) atau wawancara saya dengan jurnal Famille Chrétienne bulan Mei tahun ini. Pada dua kesempatan itu saya berkata bahwa saya percaya hal ini sangat penting, yaitu kita kembali secepat mungkin kepada orientasi bersama, imam dan umat menghadap ke arah yang sama secara bersamaan—menghadap timur atau setidaknya ke arah apse—ke arah Tuhan yang datang, dalam bagian-bagian ritus liturgis ketika kita berbicara dengan Allah. Praktik ini diijinkan oleh legislasi liturgis saat ini. Hal ini sah secara sempurna dalam ritus modern. Memang, saya pikir ini adalah langkah yang sangat penting dalam memastikan bahwa Tuhan sungguh menjadi pusat dalam perayaan kita.

Dengan demikian, para imam terkasih, saya meminta Anda menerapkan praktik ini ketika mungkin dilakukan, dengan kearifan dan katekese yang diperlukan, namun juga dengan keyakinan pastor bahwa ini adalah hal yang baik bagi Gereja, sesuatu yang baik bagi umat kita. Penilaian pastoral anda akan menentukan bagaimana dan kapan hal ini mungkin dilakukan, tetapi barangkali hal ini dapat diawali pada pekan pertama Adven tahun ini, ketika kita memperhatikan ‘Tuhan yang akan datang’ dan ‘yang tidak akan menunda’ (lih. Antifon Pembuka Misa Rabu Pekan pertama Adven); ini waktu yang sangat baik untuk melakukannya. Para imam terkasih, kita harus mendengar kembali ratapan Allah yang diwartakan Nabi Yeremia: “mereka membelakangi Aku dan tidak mengarahkan mukanya kepada-Ku” (2:27). Marilah kita kembali kepada Tuhan! Sejak hari pembaptisannya, umat Kristen hanya mengenal satu arah: Timur. “Kamu masuk untuk menghadapi musuhmu. Kamu berniat untuk menolaknya di hadapan wajahnya. Kamu menghadap Timur (ad Orientem), karena ia yang menolak iblis menghadap Kristus dan memusatkan tatapannya secara langsung kepada-Nya” (From the beginning of the Treatise on the Mysteries by Saint Ambrose, Bishop of Milan).

Dengan kerendahan hati dan dalam semangat persaudaraan, saya juga ingin berseru kepada saudaraku para uskup: mohon tuntunlah para imam dan umat menuju Tuhan dalam cara ini, secara khusus pada perayaan besar di keuskupan anda dan di katedral anda. Saya mohon, binalah para seminaris dalam realita bahwa kita tidak dipanggil ke dalam imamat untuk menjadi pusat ibadat liturgis kita sendiri, tetapi untuk menuntun umat beriman Kristus kepada-Nya sebagai sesama penyembah yang disatukan dalam tindakan adorasi yang sama. Saya mohon mudahkanlah pembaruan sederhana namun mendalam di keuskupan anda, katedral anda, paroki-paroki anda, dan seminari-seminari anda.

Kita para uskup mengemban tanggung jawab besar, dan suatu hari nanti kita harus mempertanggungjawabkan pelayanan kita kepada Tuhan. Kita tidak memiliki apa-apa! Sebagaimana diajarkan St. Paulus, kita hanyalah “pelayan-pelayan Kristus dan hamba misteri-misteri Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.” (1Kor. 4:1-2). Kita bertanggung jawab untuk memastikan bahwa realita suci liturgi dihormati di keuskupan kita, dan bahwa imam dan diakon kita tidak hanya menaati hukum liturgis, tetapi mengenal semangat dan daya liturgi yang darinya mereka muncul. Saya sangat terdorong membaca presentasi berjudul “Uskup: Pemimpin, Pendukung, dan Penjaga Kehidupan Liturgis di Keuskupan”, yang diberikan pada Konferensi Sacra Liturgia 2013 di Roma oleh Uskup Agung Alexander Sample dari Portland di Oregon, USA, dan dalam semangat persaudaraan, saya mendorong saudaraku para uskup untuk mempelajari permenungannya dengan saksama.

Semua pelayan liturgis harus melakukan pemeriksaan batin secara berkala. Oleh karena itu, saya menganjurkan bagian II dari Anjuran Apostolik Sacramentum Caritatis Benediktus XVI (22 Februari 2007), “Ekaristi, Misteri untuk Dirayakan.” Hampir sepuluh tahun berlalu sejak Anjuran Apostolik ini diterbitkan sebagai buah kolegial dari Sinode Para Uskup tahun 2005. Berapa banyak perkembangan yang telah kita lakukan dalam waktu itu? Apa lagi yang perlu kita lakukan? Kita harus menanyakan pertanyaan ini pada diri kita di hadapan Tuhan, masing-masing dari kita seturut tanggung jawab kita, dan selanjutnya melakukan apa yang bisa dilakukan dan apa yang seharusnya, untuk mencapai visi yang diuraikan Paus Benediktus.

Sampai titik ini saya mengulangi apa yang telah saya katakan di tempat lain, yaitu bahwa Paus Fransiskus telah meminta saya melanjutkan karya liturgis yang dimulai Paus Benediktus (lih: Message to Sacra Liturgia USA 2015, New York City). Hanya karena kita memiliki Paus yang baru, tidak berarti visi pendahulunya menjadi tidak sah. Sebaliknya, seperti yang kita tahu, Bapa Suci Paus Fransiskus memiliki rasa hormat yang besar bagi visi liturgis dan tolok ukur yang diterapkan Paus Benediktus dalam kesetiaan dengan intensi dan tujuan Bapa Konsili.

Sebelum saya mengakhiri pidato ini, izinkan saya menyebutkan beberapa cara kecil yang dapat berkontribusi bagi penerapan Sacrosanctum Concilium yang lebih setia. Pertama ialah kita harus menyanyikan liturgi, kita harus menyanyikan teks liturgis, menghormati tradisi liturgis Gereja dan bersukacita dalam harta karun musik suci yang merupakan kepunyaan kita, secara khusus musik yang layak bagi Ritus Romawi, yakni lagu Gregorian. Kita harus menyanyikan musik liturgis suci dan bukan sekedar musik religius, atau yang lebih parah, yakni lagu profan.

Kita harus mengupayakan keseimbangan yang benar antara bahasa vernakular dan bahasa Latin dalam liturgi. Konsili tidak pernah bermaksud agar Ritus Romawi secara eksklusif dirayakan dalam bahasa vernakular. Tetapi ia ingin mengizinkan peningkatan bahasa vernakular, secara khusus untuk bacaan. Hari ini seharusnya mungkin, khususnya dengan sarana percetakan modern, untuk memudahkan pemahaman semua orang ketika bahasa Latin digunakan, barangkali untuk liturgi Ekaristi, dan tentu secara khusus hal ini pantas dilakukan dalam pertemuan internasional ketika bahasa vernakular lokal tidak dipahami banyak orang. Dan secara alami, ketika bahasa vernakular digunakan, ia haruslah terjemahan yang setia dengan teks Latin asli, seperti yang baru saja ditegaskan Paus Fransiskus kepada saya.

Kita harus memastikan bahwa adorasi (catatan penerjemah: sembah sujud atau pemujaan) ada di inti perayaan liturgis kita. Inti liturgi kita adalah pemujaan kepada Allah. Terlalu sering kita tidak bergerak dari perayaan menuju adorasi, tetapi bila kita tidak melakukannya, saya khawatir bahwa kita tidak selalu berpartisipasi secara penuh di dalam liturgi, secara batiniah. Dua disposisi jasmani yang sangat diperlukan dapat membantu kita. Pertama ialah keheningan. Bila saya tidak pernah hening, bila liturgi tidak memberikan saya ruang untuk doa hening dan kontemplasi, bagaimana saya bisa menyembah Kristus, bagaimana saya bisa berhubungan dengan-Nya di dalam hati dan jiwa saya? Keheningan itu sangat penting, tidak hanya sebelum dan sesudah liturgi. Keheningan adalah fondasi kehidupan rohani yang mendalam.

Demikian pula berlutut saat konsekrasi (kecuali saya sedang sakit) sangatlah hakiki. Di Barat, ini merupakan tindakan adorasi jasmani yang membuat kita merendah di hadapan Tuhan dan Allah kita. Berlutut itu sendiri adalah tindakan doa. Ketika berlutut dan genufleksi menghilang dalam liturgi, mereka perlu dipulihkan, secara khusus untuk menerima Tuhan kita dalam Komuni Suci. Para imam terkasih, ketika memungkinkan dan dengan kearifan pastoral yang saya bicarakan sebelumnya, binalah umat Anda sekalian dalam tindakan sembah dan kasih yang indah ini. Marilah kita berlutut dalam adorasi dan kasih di hadapan Tuhan Ekaristis sekali lagi! “Manusia tidak sepenuhnya manusiawi kecuali ia berlutut di hadapan Allah untuk menyembah-Nya, untuk mengkontemplasikan kekudusannya yang mempesona dan membiarkan dirinya dibentuk dalam citra dan keserupaan-Nya” (R. Sarah, On the Road to Ninive, Paulines Publications Africa 2012, p.199).

Ketika berbicara tentang penerimaan Komuni Suci sambil berlutut, saya ingin mengingatkan tentang surat Kongregasi Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen tahun 2002, yang mengklarifikasi bahwa “penolakan Komuni Suci kepada anggota umat beriman karena postur tubuhnya yang berlutut saat menerima Komuni, merupakan pelanggaran berat terhadap satu dari hak-hak mendasar umat beriman Kristen” (Letter, 1 July 2002, Notitiae, n. 436, Nov-Dec 2002, p. 583).

Mengenakan busana liturgis yang benar bagi para pelayan liturgis di panti imam, termasuk lektor, juga sangat penting bila pelayanan tersebut hendak dianggap otentik dan bila dilakukan dengan kesopanan karena Liturgi Suci—juga bila para pelayan itu sendiri hendak menunjukkan penghormatan yang benar atas misteri yang mereka layani.

Inilah beberapa saran: saya yakin banyak hal lain yang dapat dibuat. Saya tempatkan mereka semua di hadapan Anda sebagai cara yang mungkin untuk bergerak menuju “cara yang benar merayakan liturgi secara batiniah dan lahiriah”, yang tentunya merupakan keinginan yang diungkapkan Kardinal Ratzinger di awal karya agungnya, The Spirit of Liturgy (Joseph Ratzinger, Theology of the Liturgy, Collected Works vol. 11, Ignatius Press, San Francisco 2014, p. 4). Saya mendorong Anda sekalian melakukan semua yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan ini, yakni tujuan yang konsisten dengan Konstitusi tentang Liturgi Suci dari Konsili Vatikan II.

KESIMPULAN

Saya mengawali pidato ini dengan permenungan tentang ajaran para Paus abad ke-20 mengenai Liturgi Suci. Pertama dari mereka, Pius X, memiliki motto pribadi: instaurare in Christo—memulihkan segala sesuatu dalam Kristus. Saya menyarankan agar perkataan ini kita jadikan tolok ukur selagi kita bekerja untuk menerapkan Sacrosanctum Concilium, karena apabila ketika kita datang ke dalam Liturgi Suci, kita masuk ke dalam mentalitas Kristus, bila kita mengenakan Kristus sebagaimana kita mengenakan jubah baptisan kita atau busana yang pantas untuk pelayanan liturgis kita, kita tidak dapat tersesat.

Sungguh menyedihkan, dan hal ini benar, bahwa dalam beberapa dekade sejak Konsili Vatikan II, “selain terang, terdapat juga keredupan” dalam kehidupan liturgis Gereja, sebagaimana dikatakan St. Yohanes Paulus II dalam Ecclesia de Eucharistia (no. 10). Dan inilah kewajiban kita untuk menangani penyebab hal tersebut. Tetapi, ini juga sumber pengharapan dan sukacita besar bahwa hari ini, selagi abad ke-21 berjalan, banyak umat beriman Katolik merasa yakin akan pentingnya liturgi dalam kehidupan Gereja dan membaktikan hidup mereka ke dalam kerasulan liturgis, yakni apa yang kita sebut sebagai gerakan liturgis baru.

Saudara-saudariku terkasih, saya berterima kasih atas komitmen Anda sekalian terhadap Liturgi Suci. Saya mendorong dan memberkati Anda semua dalam upaya-upaya anda, besar ataupun kecil, untuk mewujudkan “cara yang benar dalam merayakan liturgi secara batiniah dan lahiriah.” Bertekunlah dalam kerasulan ini: Gereja dan dunia membutuhkan Anda sekalian!

Saya mohon doakanlah saya dan pelayanan khusus saya.

Terima kasih. Semoga Allah memberkati Anda sekalian.

 

© Robert Kardinal Sarah

Prefek, Kongregasi Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen

 

Diterjemahkan oleh Cornelius Pulung.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: