Kebenaran, Fanatisme, Kasih, dan Kerendahan Hati.

“Hanya dalam kebenaran-lah kasih bersinar terang, hanya dalam kebenaran kasih dapat dihidupi secara otentik. Kebenaran adalah terang yang memberi makna dan nilai kepada kasih.“ – Paus Benediktus XVI, Ensiklik Caritas in Veritate

Kebenaran itu perlu disampaikan, bukan disimpan untuk diri sendiri. Dan Manusia dapat menilai apakah agama itu benar atau tidak dengan melihat dan membandingkan ajarannya. Masalahnya, apa ada orang yang mau repot-repot belajar untuk mencari kebenaran?

Cukup banyak orang yang tidak sungguh mencari kebenaran, namun mengkritik orang-orang yang sungguh tulus mencari kebenaran dengan sebutan “fanatik” (Ingat bahwa meskipun fanatik, kita tidak membenci bahkan menganiaya orang lain, fanatik yang dimaksud adalah meyakini agama katolik yang paling benar) ketika orang tersebut membagikan apa yang sudah ia ketahui.

Mereka tidak suka bila ada orang yang meyakini agama katolik sebagai yang paling benar. Mempercayai apa yang kita yakini sebagai yang paling benar itu perlu dan bukan kesombongan. Pada orang-orang seperti ini yang “menghakimi” dan merasa bahwa semua agama itu sama saja dalam membawa orang pada Tuhan, ataupun merasa bahwa semua agama itu sama benarnya, luangkan waktu anda untuk sungguh belajar dan mendalami apa yang anda imani, khususnya bila anda katolik. Karena jika tidak, argument yang anda keluarkan hanyalah murni pendapat yang tidak memiliki dasar yang kokoh.

“Semua agama itu sama benarnya” atau “Tidak ada kebenaran yang absolut, masing-masing punya kebenarannya sendiri-sendiri”  adalah pernyataan relativisme, dimana kebenaran itu adalah hal yang relatif. Relativisme sendiri adalah kontradiktif, karena ia menjadikan paham relativisme itu sendiri sebagai sesuatu yang absolut, padahal mengatakan bahwa tidak ada yang absolut.

Kebenaran itu tidak bisa relatif apalagi tergantung pada selera masing-masing.

Ketika Yesus bertanya pada para murid ketika banyak orang meninggalkan ia saat mengajarkan tentang ekaristi : “Apakah kamu juga akan pergi (Will you also go away?)”, Petrus mewakili 11 rasul lain menjawab menjawab : “Tuhan, kemana lagi kami harus pergi? Kata-kataMu adalah kebenaran. Kami telah percaya dan mengetahuinya.” (Yoh 6:66-69). Disini Yesus tidak mengubah ajaran-Nya supaya orang-orang yang pergi itu kembali, karena ajaran Yesus adalah kebenaran dan tidak bisa diubah. Kebenaran tidak akan menyenangkan semua pihak, bahkan MENYAKITKAN. Tapi dalam kitab suci juga dikatakan bahwa kebenaran akan membebaskan kita (Yoh 8 : 32).

Yesuslah sang kebenaran sejati, dan Ia mendirikan Gereja Katolik (Mat 16 : 18), agar umat manusia dapat mengenal kebenaran yang sejati. Kebenaran yang absolut hanya dapat ditemukan dalam Gereja Katolik. Untuk penjelasan lebih lanjut, silakan baca artikel Semua Keselamatan datang Melalui Kristus, Audiensi  Umum Paus Yohanes Paulus II dan Apa Artinya Tidak ada Keselamatan diluar Gereja.

Mewartakan Kebenaran : Lakukan dengan Kasih

Kita harus selalu mengingat bahwa dalam pewartaan Injil Kristus, kasih harus selalu diutamakan dalam penyampaian. Kerendahan hati juga diperlukan agar kata-kata yang kita pilih tidak mencerimakan kesombongan. Ingat, kita ingin agar orang bisa memahami dan menerima apa yang kita sampaikan. Jadi kita perlu belajar untuk menyesuaikan diri dengan lawan bicara kita dalam penyampaian, dan jangan lupa : Hormati lawan diskusi kita karena ia adalah seorang pribadi, tidak peduli apakah ia menghina ataupun hanya melakukan ad hominem terhadap pribadi kita.

Terakhir, bila kita sudah berhasil menyampaikan kebenaran dengan mengutamakan kasih, yang terlihat dalam penggunaan kata-kata yang pantas dan sudah bisa menghargai orang lain, hal yang tidak kalah penting adalah untuk berdoa dan menyerahkan semua hasilnya kepada Roh Kudus. Kita bisa memenangkan argumen, tapi yang utama adalah memenangkan jiwa-jiwa. Berdoalah agar Roh Kudus menggerakkan hati dan akal budi mereka, sehingga mereka bisa tiba pada kebenaran yang Sejati, Yesus Kristus.

One comment

  1. fen7bernadette · · Balas

    Kasih Yesus tiada duanya, kita dapat menceritakan kepada teman2 yang belum pernah mendengar namanya, berdasarkan pengalaman2 yang pernah kita alami.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: