Paus Benediktus XVI tentang Keuntungan Berlutut dihadapan Ekaristi

2000 tahun sejarah Gereja dipenuhi oleh para kudus pria dan wanita yang kehidupannya adalah tanda yang fasih dari persekutuan dengan Tuhan, dari Ekaristi, anggapan tanggung jawab yang baru dan bersemangat lahir pada level kehidupan komunitas; lahir karena hal tersebut adalah perkembangan sosial yang positif, yang memiliki pribadi di pusatnya, khususnya orang miskin, sakit dan orang yang dikurung. Diberi makan oleh Kristus bukan jalan untuk tetap asing dan acuh kepada nasib saudara-saudara kita, tapi untuk masuk ke dalam logika kasih dan hadiah kurban Salib; ia yang sanggup berlutut dihadapan Ekaristi, yang menerima tubuh Tuhan tidak bisa gagal untuk menjadi penuh perhatian, dalam seluruh hidup sehari-hari, kepada situasi ketidakpantasan manusia, dan sanggup untuk membungkuk secara pribadi untuk menghadiri kebutuhan, sanggup untuk membagi rotinya dengan yang lapar, membagikan air dengan yang haus, memakaikan baju kepada orang yang telanjang, mengunjungi orang sakit dan dipenjara (cf. Mat 25:34-36). Ia akan sanggup melihat dalam pribadi Tuhan yang tidak ragu memberikan seluruh diri-Nya untuk kita dan demi keselamatan kita. Karenanya, Ekaristi secara spiritual adalah penyembuhan nyata bagi individualisme dan egoisme yang sering merupakan ciri kehidupan sehari-hari, dan menuntun pada penemuan kembali sesuatu yang gratis, keterpusatan hubungan, awal dengan keluarga, dengan kepedulian khusus untuk membalut luka orang yang terluka. Ekaristi secara spiritual adalah jiwa komunitas gerejawi yang mengatasi perpecahan dan perlawanan dan menghargai perbedaan karisma dan pelayanan yang menempatkan mereka pada pelayanan kesatuan Gereja, dari daya hidupnya dan dari misinya. Ekaristi secara spiritual adalah cara untuk mengembalikan martabat manusia sekarang, dan, karenanya, dalam pencarian rekonsiliasi dengan waktu perayaan dan keluarga dalam komitmen untuk mengatasi ketidakpastian dari keadaan bahaya dan masalah pengangguran. Ekaristi secara spiritual juga membantu kita mendekati bentuk kerapuhan manusia yang berbeda, [yang] sadar bahwa mereka[bentuk kerapuhan tersebut] bukan kekeliruan [dari] nilai sebuah pribadi, tapi mensyaratkan kedekatan, penerimaan dan pertolongan. Ditarik dari Roti Kehidupan [seseorang] akan menjadi kekuatan dari kapasitas edukasional yang diperbarui, menjadi perhatian dalam memberi kesaksian [terhadap] nilai-nilai kehidupan yang fundamental, dari pembelajaran, dari warisan spiritual dan kultural; daya hidupnya akan membuat kita menghuni kota manusia dengan kerelaan untuk menghabiskan diri kita dalam horizon kebaikan umum untuk membangun masyarakat yang adil dan bersaudara.

Sumber.

3 komentar

  1. wong mpikun dari munggut · · Balas

    wah mbok hal-hal beginian disebarluaskan ke gereja-geraja ! Yah … agar semua menjadi paham betul.

  2. Yanuanri Pratama · · Balas

    Shalom,

    Bagaimanakah sesungguhnya sikap tubuh dalam menerima komuni yang benar-benar merupakan ajaran Gereja Katolik sejati?

    Terima kasih,
    Yanuanri

    1. Shalom Yanuanri Pratama,

      Terdapat tiga cara dalam menerima Komuni Kudus :

      1. Berdiri dengan menerima di tangan
      2. Berdiri dengan menerima di lidah
      3. Berlutut dengan menerima di lidah

      Dasarnya adalah dokumen dari Redemptionis Sacramentum :

      90. “Ketika menyambut Komuni, umat hendaknya berlutut atau berdiri, sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Konferensi Uskup”, yang keputusannya diberi recognitio oleh Takhta Apolistik. “Tetapi jika Komuni disambut sambil berdiri, maka hendaklah umat memberi suatu tanda hormat sebelum menyambut Sakramen, seturut penetapan yang sama.

      91. Perlu diingat bahwa, bila membagi Komuni, “para petugas suci tidak boleh menolak sakramen-sakramen kepada semua orang yang ingin menerimanya dengan suatu cara yang wajar, yang sungguh siap untuk itu dan tidak terhalang oleh hukum untuk menerimanya”. Oleh sebab itu, setiap warga Katolik yang tidak terhalang oleh hukum, harus diperbolehkan menyambut Komuni Suci. Maka tidak dapat dibenarkan jika Komuni Suci ditolak kepada siapa pun di antara umat beriman hanya berdasarkan fakta – misalnya – bahwa orang yang bersangkutan mau menyambut Komuni sambil berlutut atau sambil berdiri.

      92. Walaupun tiap orang tetap selalu berhak menyambut Komuni pada lidah jika ia menginginkan demikian, namun kalau ada orang yang ingin menyambut Komuni di tangan, di wilayah-wilayah di mana Konferensi Uskup setempat – dengan recognitio oleh Takhta Apostolik – telah mengizinkannya, maka hosti kudus harus harus diberikan kepadanya. Akan tetapi harus diperhatikan baik-baik agar hosti dimakan oleh si penerima itu pada saat masih berada di hadapan petugas Komuni; sebab orang tidak boleh menjauhkandiri sambil membawa Roti Ekaristi di tangan. Jika ada bahaya profanasi, maka hendaknya Komuni Suci tidak diberikan di tangan.

      Cara yang lazim atau biasa adalah menerima di lidah dengan berlutut, untuk bisa memberikan Komuni di tangan, maka harus ada recognitio terlebih dahulu yang diberikan oleh Tahta Suci (bdk RS. 90 yang dikutip diatas). Masalahnya, belum diketahui apakah di Indonesia sudah memperoleh recognitio atau belum. Jika ternyata belum, maka seharusnya umat menerima komuni di lidah karena bila menerima di tangan, ini akan menjadi abuse.

      Meskipun demikian, cukup banyak juga orang-orang yang menerima komuni di lidah dengan berlutut, karena cara tersebut menunjukkan penghormatan yang lebih pantas dan mendalam terhadap Tubuh Kristus (Saya dan Andreas sudah mulai melakukannya beberapa bulan terakhir). Dan Paus Benediktus XVI sendiri mengharuskan umat yang menerima komuni darinya untuk berlutut dan menerima di lidah.

      Namun, terkadang ada juga imam yang menolak memberi Komuni bagi mereka yang ingin menerima Tubuh Tuhan di lidah dengan berlutut, padahal jelas tertulis di RS 91 bahwa imam tidak boleh menolaknya (perhatikan yang dibold). Akibatnya, bisa saja ada umat yang merasa malu ataupun takut bila ingin menerima komuni di lidah.

      Jadi, bila anda ingin menerima di lidah dengan berlutut, menurut saya, 2 hal yang perlu diingat :

      1. Kita melakukannya karena ingin menunjukkan penghormatan yang pantas, bukan untuk mencari pujian.

      2. Kita juga harus siap secara mental bila tiba-tiba ada imam yang menolak untuk memberikan Komuni.

      Sekian jawaban dari saya, semoga membantu.

      Salam,
      Cornelius.

      PS
      Untuk informasi lebih lanjut, bisa membaca penjelasan dari Uskup Athanasius Schneider : https://luxveritatis7.wordpress.com/2011/09/07/uskup-athanasius-schneider-tentang-komuni-di-tangan-2/

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: