Asal Usul Hari Raya Tubuh dan Darah Tuhan (Corpus Christi)

procession france

Kardinal Ratzinger pernah menulis sebuah meditasi berjudul “Apa Makna Corpus Christi Bagi Saya”, di dalamnya ia mengenang kembali perayaan Corpus Christi yang dirasakannya saat masih kecil:

What does Corpus Christi means to me? Well, first of all, it bring back memories of special feast days when we took quite literally what Thomas Aquinas put so well in one of his Corpus Christi hymns: Quantum potes, tantum aude – dare to do as much as you can, giving Him due praise…

I can still smell those carpet of flowers and the freshness of the birches trees; I can see all the house decorated, the banners, the singing; I can still hear the the village band which indeed sometimes dared more, on this occassion, than it was able. I remember the joie de vivre of the local lads, firing their gun salutes—which was their way of welcoming Christ as a head of state, as the Head of State, the Lord of the world, present on their streets and in the village. On this day people celebrated the perpetual presence of Christ as if it were a state visit in which not even the smallest village was neglected. (Ratzinger, Feast of Faith, hal. 127)

Kenangan masa kecilnya tentang Corpus Christi menunjukkan betapa dalam kaitan antara perayaan iman dengan kehidupan sehari-hari: aroma bunga yang semerbak, rumah-rumah yang dihiasi berbagai ornamen, kelompok orkes dengan musiknya yang memeriahkan suasana; semuanya ini dilakukan untuk menyambut Kristus yang datang sebagai Tuhan dan Raja: inilah kemeriahan dan keagungan prosesi Hari Raya Tubuh dan Darah Tuhan (yang selanjutnya kita sebut dengan Corpus Christi), ketika Sakramen Mahakudus diarak di jalan-jalan menuju gereja. Semuanya ini adalah ungkapan dari lirik himne Lauda Sion Salvatorem yang disusun Thomas Aquinas untuk perayaan Corpus Christi: Quantum potes tantum aude—beranilah berbuat sebanyak yang kamu bisa untuk memuji Dia..

Gambar di atas menunjukan betapa mendalam penghormatan seseorang terhadap Tubuh Kristus: setiap kali Tubuh Kristus dibawa, orang-orang, baik itu pria dan wanita, orang tua dan muda serta anak-anak, semua berlutut untuk menunjukkan sikap sembah dan hormat kepada Allah yang hadir secara nyata dalam Ekaristi.

Dalam homili Misa Hari Raya Corpus Christi tahun 2007, Paus Benediktus XVI menjelaskan:

Corpus Christi, oleh karena itu, merupakan pesta yang unik dan merupakan perjumpaan penting antara iman dan pujian bagi setiap komunitas Kristen. Pesta ini berasal dari konteks budaya dan historis yang spesifik: ia lahir untuk menegaskan iman Umat Allah dalam Yesus Kristus, yang sungguh hidup dan hadir dalam Sakramen Mahakudus Ekaristi. Ini adalah pesta yang ditetapkan untuk secara publik menyembah, memuji, dan bersyukur kepada Tuhan, yang terus “mengasihi kita “hingga pada kesudahannya”, bahkan sampai mempersembahkan tubuh dan darah-Nya”. (Sacramentum Caritatis, no. 1)

Kebenaran perkataan Paus Benediktus dapat kita buktikan bila kita melihat sejarah.

Asal usul hari raya tersebut dapat ditelusuri hingga ke abad pertengahan. St. Yuliana dari Liege merupakan tokoh penting yang berperan dalam penetapan hari yang dikhususkan untuk menyembah Allah yang hadir dalam Ekaristi. Ia lahir di Liege, Belgia, pada tahun 1191 atau 1192, dan di kota tersebut terdapat sekelompok wanita yang membaktikan diri bagi ibadah Ekaristi. Pada usia 5 tahun, St. Yuliana menjadi anak yatim piatu, lalu ia pun diserahkan ke biara Agustinian, dan di sinilah ia mengembangkan devosi dan penghormatan khusus kepada Sakramen Mahakudus.

Ia selalu merindukan adanya pesta khusus di luar Masa Prapaskah untuk menghormati Ekaristi. Melalui riwayat hidupnya, kita mengetahui bahwa kerinduan ini ditopang oleh adanya penglihatan tentang Gereja yang ia alami. Ia melihat Gereja sebagai bulan purnama, namun terdapat satu titik hitam pada bulan tersebut, yang menandakan tidak adanya hari raya khusus bagi penghormatan Ekaristi. Pada tahun 1208, ia juga mendapat penglihatan yang mana Kristus memintanya untuk menetapkan hari raya Corpus Christi. Penglihatan tersebut diulangi selama 20 tahun kemudian dan ia tetap merahasiakannya, hingga pada akhirnya ia menceritakan hal tersebut kepada bapa pengakuannya, lalu bapa pengakuannya menyampaikan kepada uskup.

Agar cerita historis ini tidak terlalu panjang, cukuplah disebutkan bahwa terdapat dua orang lainnya yang berperan dalam penetapan Hari Raya Corpus Christi: pertama seorang Dominikan yang terpelajar, Hugh of St. Cher, yang kedua adalah Uskup Liege Robert de Thorete, yang pertama kali menetapkan hari raya tersebut di keuskupannya pada hari Kamis setelah hari Minggu Trinitas. Selanjutnya pada tahun 1264, Paus Urbanus IV menetapkan hari raya tersebut bagi seluruh Gereja ritus latin. Patut pula kita perhatikan bahwa St. Thomas Aquinas, salah satu teolog terbesar Gereja, juga menyusun himne Ekaristis (silakan baca artikel 5 Madah Ekaristi Aquinas) dan liturgi untuk Hari Raya Corpus Christi. Paus Benediktus XVI menjelaskan dengan indah mengapa Thomas Aquinas yang mendapat kehormatan menyusun himne Ekaristis:

“Paus Urbanus IV, yang sangat menghormati [Aquinas], memintanya menulis teks himne liturgis untuk Hari Raya Tubuh dan Darah Tuhan, yang akan kita rayakan besok, sebuah perayaan yang ditetapkan setelah terjadinya mukjizat Ekaristi di Bologna. Thomas memiliki jiwa Ekaristis yang begitu elok. Himne-himne paling indah yang dinyanyikan dalam Liturgi Suci Gereja ketika merayakan misteri Kehadiran Nyata Tubuh dan Darah Tuhan di dalam Ekaristi berhubungan dengan iman dan kearifan teologisnya.”

Abad Pertengahan merupakan masa ketika penghormatan terhadap Ekaristi semakin berkembang (silakan baca artikel 5 Hal Menarik tentang Komuni pada Abad Pertengahan).Kardinal Ratzinger, mengutip Konsili Trent, menjelaskan bahwa:

Dikatakan bahwa tujuan Corpus Christi adalah untuk membangkitkan rasa syukur di dalam hati manusia dan mengingatkan mereka akan Tuhan milik bersama. Di sini… kita memiliki tiga tujuan: Corpus Christi ada untuk melawan pelupaan manusia, untuk membangkitkan rasa syukurnya, dan ia berkenaan juga dengan persaudaraan, dengan kuasa yang menyatukan yang bekerja ketika orang-orang memandang satu Tuhan.

Namun di zaman modern ini, kita menyaksikan adanya krisis besar dalam menghormati Ekaristi. Tampaknya kita pun menyaksikan adanya semacam “pelupaan” akan kebenaran iman Kristen: yaitu bahwa Allah Putra sungguh hadir dalam Ekaristi bagi kita, dan karenanya karunia yang agung ini menuntut cinta dan hormat kita kepada-Nya. Artikel selanjutnya akan membahas tentang bagaimana krisis tersebut terwujud dalam kehidupan kita.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: