Kemenangan Dari Salib

oleh Marcellino D’Ambrosio, Ph.D

Pada 14 September, sejak abad ke 7 Gereja Katolik dan Gereja Ortodok Timur merayakan Pesta Keagungan dan kemenangan dari salib Tuhan dan penyelamat kita Yesus Kristus. Refleksi ini membantu kita mengerti kenapa salib, sebuah alat penyiksaan di tangan orang brutal, menjadi pohon kehidupan di tangan penyelamat.

Terorisme bukanlah sesuatu yang baru. Mungkin sama tuanya dengan umat manusia.

Pada faktanya tempat lahir peradaban, sekarang Irak, dulunya adalah rumah dari teroris yang paling keji di jaman purbakala, orang-orang Assyria. Tujuan mereka adalah untuk menaklukkan tetangga mereka dengan cara yang meminimalkan perlawanan dan pemberontakan berikutnya. Untuk melakukan ini, mereka tahu rasa ketakutan akan menjadi senjata mereka yang terbesar. Ancaman yang sederhana dari kematian untuk mereka yang menentang tidaklah cukup, karena banyak lebih memilih mati daripada menjadi budak. Jadi orang-orang Assyria mengembangkan sebuah teknologi untuk memproduksi jumlah yang maksimum dari rasa sakit yang lebih lama jangka waktunya sebelum kematian tiba. Ini disebut penyaliban. Prosedur cerdik ini terbukti menjadi teror yang sangat efektif.

Adalah kebijakan dari Kekaisaran Romawi untuk mengadopsi apa yang berguna dari orang-orang yang mereka taklukkan. Mereka menemukan penyaliban adalah alat yang sangat baik sekali untuk mengintimidasi. Penghinaan karena ditelanjangi hingga mati dalam tontonan umum adalah hal yang menjijikkan bagi orang Yahudi, bagi mereka telanjang di tempat umum merupakan kekejian. Kebetulan, penyaliban dianggap begitu mengerikan sampai hukum Roma melarang untuk di terapkan pada warga Roma, bahkan pada seorang pengkhianat. Itu hanya ditujukan hanya untuk budak dan orang-orang yang telah mereka taklukkan.

Non Kristen sering bertanya sebuah pertanyaan yang baik – kenapa orang Kristen menghiasi gereja mereka, rumah dan leher mereka dengan simbol dari penghinaan, terror, dan penyiksaan?

Pesta dari Keagungan atau Kemenangan dari Salib Suci memberikan jawaban.

St. Anselmus (abad 12) menjelaskan ini. Dosa orang tua pertama kita adalah kesombongan, ketidak taatan dan cinta diri sendiri. Ditipu oleh ular, Adam dan Hawa memakan buah terlarang dalam menantang Allah, karena mereka ingin mengagungkan diri mereka sendiri sama seperti diriNya. Hasilnya adalah bencana besar-kehilangan komunikasi dengan Allah, satu sama lain, dan pencipta alam semesta. Sejarah manusia telah menjadi sebuah cerita dimana kita masing-masing, menjadi lemah oleh dosa yang berdampak pada kodrat kita, telah mengikuti polanya, dengan bangga menolak untuk patuh kepada Allah dan mengasihi sesama kita.

Anselmus menunjukkan bahwa dosa merupakan kejahatan melawan kebaikan dan kehormatan Allah. Manusia yang telah dibuat bebas dan bertanggung jawab, terikat oleh hukum dari keadilan, kita wajib untuk menawarkan perbuatan kasih, kerendah hatian dan ketaan kepada Allah, cukup kuat untuk membatalkan warisan yang panjang dari ketidak taatan, kesombongan, dan ketidak cintaan dan memulihkan persahabatan kita denganNya.

Masalahnya adalah, kita yang terluka tidak bisa memulai untuk melaksanakan tugas seperti itu. Jadi Bapa mengirim FirmanNya untuk menjadi manusia dan menyelesaikan tugas ditempat kita, untuk menggantikan kita. Bagi yang abadi, Allah yang adalah tidak terbatas, mengosongkan diriNya dan menyatukan diriNya sendiri dengan yang terbatas, kodrat manusia yang rapuh, hal ini sudah suatu perbuatan kasih yang tak terbayangkan dan kerendahan hati. Tapi agar penebusan menjadi lengkap, sang pahlawan harus menahan kegeraman besar bahwa neraka dan umat manusia yang jatuh bisa menentang Dia – salib.

Tentu saja, setelah orang banyak yang Ia sembuhkan dan beri makan, meneriakkan “Salibkan dia!” dan rasulNya sendiri lari meninggalkan diriNya, Yesus akan menyadari ini tidaklah sebanding. Tentu saja Ia akan mengutuk orang yang tak berterima kasih dan menggunakan kekuatan ilahiNya untuk membebaskan diriNya sendiri, seperti banyak orang usulkan hal itu dalam ejekan mereka. Tetapi ini tidak. Ia adalah kasih sampai pada akhir jaman, kasih yang penuh (Yoh 13:1). KematianNya sangatlah jelas dan tidak dapat disangkal lagi perwujudan kemenangan ketaatan dari ketidak taatan, kasih diatas keegoisan, kerendah hatian diatas kesombongan.

Jumat Agung adalah harinya umat manusia. Sejak Pentakosta, kekuatan dari Kristus yang taat, rendah hati, tidak bisa berhenti untuk mengasihi, telah dibuat tersedia untuk semua yang mau membagi hal tersebut, memproduksi martir- artir dan santo-santo di setiap generasi, dari Maximilian Kolbe dan Bunda Teresa dari era kita.

Jadi salib bukan hanya kemenangan, tapi juga keuntungan. Ini melahirkan buah keselamatan dalam tindakan kasih Kristus yang tetap melahirkan buah yang baru sepanjang jaman. Itulah kenapa, jika anda pergi ke Gereja dari San Clemente di Roma, anda akan melihat salah satu mosaik yang paling menakjubkan di Kota Abadi. Alat purbakala dari penindasan dan kematian, dibungkus dengan anggur hijau, didukung buah dari segala bentuk dan ukuran, Salib yang jaya menjadi pohon kehidupan.

 

sumber

One comment

  1. Robert Sitanggang · · Balas

    Moga Kasih Yesus Kristus Selalu Menyertai Kita,,,,

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: