Mengapa Saya Mengenakan Kerudung Misa

Photo 06-04-14 12.28.22

Saya telah setia dengan kerudung Misa* selama kurang-lebih tiga tahun. Kebanyakan orang tidak berkomentar, tetapi mereka yang didorong oleh rasa keingintahuan yang positif kemudian bertanya: “Mengapa?”

Ya, mengapa saya akhirnya memutuskan untuk mengenakan kerudung Misa? Bukankah itu praktek yang sudah tua, sudah ketinggalan zaman, dan tidak diharuskan lagi setelah disahkannya Hukum Kanonik tahun 1983?

Di sini saya tidak akan membahas kontroversi mengenai harus atau tidaknya mengenakan kerudung Misa pada masa ini. Bagi saya, tidak diwajibkannya kerudung Misa justru memperkuat alasan kita untuk mengenakannya atas dasar kasih kepada Yesus dalam Sakramen Mahakudus. Kasih lahir dari kehendak bebas, dan kini banyak wanita yang dengan bebas memilih untuk berkerudung Misa.

Alasan mengapa saya berkomitmen mengenakan kerudung Misa berkembang seiring bertambahnya pengetahuan teologis saya, dan juga tidak lepas dari awal mula saya berkenalan dengan sepotong kain ini.

Waktu itu tahun 2009, saya mendapat sebuah undangan dari forum dunia maya untuk menghadiri Misa Forma Ekstraordinaria (Misa Latin Tradisional). Undangan tersebut secara eksplisit menghimbau agar para wanita mengenakan kerudung.

Pada saat itu saya masih menganggap kerudung Misa hanya sebagai sebuah “kostum” khusus untuk Misa FE saja. Praktek yang manis, namun sudah tua dan sudah tidak relevan, dan rasanya sudah tidak cocok untuk wanita modern abad ke-21.

Namun, petualangan lebih lanjut di internet membawa saya pada sebuah kesimpulan yang menarik: kerudung Misa rupanya telah kembali, dan banyak wanita muda kini telah mengadopsi kembali praktek kuno ini.

Di dalam hati saya mulai muncul sebersit ketertarikan untuk ikut berkerudung. Tetapi dari awal saya sadar bahwa kerudung Misa tidak main-main; ia adalah sebuah devosi yang serius dan memerlukan komitmen serta iman yang matang. Apalagi, devosi ini melibatkan sebuah tanda eksternal yang jelas terlihat, sama halnya dengan orang yang mengenakan skapular, atau biarawan yang berjubah.

Saya memerlukan waktu discernment selama kurang lebih dua tahun, disertai dengan beberapa peristiwa yang mengawali pertobatan pribadi saya, sebelum akhirnya memutuskan untuk konsisten berkerudung kapanpun saya berada di hadapan Sakramen Mahakudus.

Kerudung Misa, Kerudung Pengantin Kristus

Satu permenungan yang amat menyentuh saya secara spesial adalah bahwa kerudung Misa (terutama mantilla) membuat saya merasa bagaikan seorang pengantin! Saya berpikir seperti ini: “Jika banyak wanita menunggu-nunggu hari besarnya di mana ia akan berkerudung saat menghampiri calon suaminya, mengapa kita enggan berkerudung saat menyambut Kekasih Surgawi kita? Bukankah Kurban Kalvari, yang senantiasa dihadirkan kembali di dalam Misa, adalah tanda perkawinan antara Kristus dengan Gereja-Nya, Kristus dengan saya? Jikalau demikian, tidakkah semestinya kita mengenakan bukan saja pakaian yang terbaik, melainkan juga pakaian yang spesial, yang sedikit berbeda dari hari-hari biasa? Betapa beruntungnya para biarawati yang seumur hidup mengenakan gaun beserta kerudung pengantin mereka!”

Permenungan tersebut kemudian menjadi alasan utama saya memutuskan mengenakan kerudung Misa. Tanpa disadari, kerudung Misa meningkatkan sensitivitas saya terhadap benda-benda kudus dan atmosfer suci di dalam gereja. Saya memperhatikan bahwa setiap gerakan doa dan pujian saya lebih teratur, tenang, dan bertujuan; disposisi batin saya pun lebih terarah kepada Dia yang pantas mendapatkan seluruh perhatian saya.

Selembar kain yang tampak remeh ini rupanya sanggup menjadi semacam bentuk disiplin bagi daging saya yang lemah ini, serta sebuah pengingat bahwa saya adalah kekasih Kristus, pengantin Tuhan, dan dengan demikian saya harus bersikap selayaknya seorang pengantin, bukan pelacur. Betul bahwa hal tersebut membutuhkan pengorbanan dalam bentuk ketundukan (submission); namun apa artinya kasih tanpa pengorbanan?

Tubuh Mempengaruhi Roh, Roh Mempengaruhi Tubuh

Aneh tapi nyata, lambat laun perubahan secara fisik pun juga terjadi, yaitu perubahan isi lemari pakaian saya. Perlu dicatat bahwa sebelumnya saya agak anti dengan rok dan hal-hal yang “cewek banget”. Saya menganggap hal-hal feminin itu lemah dan kurang praktis. Padanan baju saya pun sebagian besar berupa kaus atau kemeja dan celana jins panjang maupun pendek (jangan ditanya seberapa pendek).

Namun setelah beberapa lama berkerudung Misa, saya mulai mengevaluasi kembali pakaian dan penampilan saya. Pertama, dari segi kecocokan, saya merasa bahwa kerudung Misa sesungguhnya memang paling cocok jika disandingkan dengan gaun atau rok yang sopan, jadi saya mulai secara eksklusif mengenakan rok untuk ke gereja. Kedua, bagaimana mungkin seorang wanita yang menudungi kepalanya tidak melindungi tubuhnya juga? Demikianlah kini saya menjadi lebih modest, tidak hanya dalam berbusana, melainkan juga dalam tindak-tanduk, perkataan, dan cara berpikir.

Identitas dan Misteri Perempuan

Bisa dibilang, memang, bahwa praktek berkerudung mengubah pribadi saya menjadi lebih feminin. Di masa modern ini, terutama di kehidupan perkotaan yang banyak terpengaruh budaya barat, menjadi feminin merupakan bahan cemoohan. Diri saya beberapa tahun yang lalu juga pasti akan mencemooh saya yang sekarang.

Tetapi jika dipikirkan, mengapa wanita takut menjadi feminin? “Feminin” berasal dari kata “female”, perempuan, sehingga feminin berarti hal-hal yang berkaitan dengan perempuan. Menjadi feminin sesungguhnya mengukuhkan identitas seorang perempuan, yang sejajar dengan pria namun tetap berbeda, salah satunya berbeda dalam hal kehormatan menjadi bejana sakral pembawa kehidupan baru. Tabernakel dan piala yang berisikan Tubuh dan Darah Tuhan — Sang Kehidupan itu sendiri — juga dikerudungi, mengapa wanita tidak? Padahal, di dalam tubuh wanitalah terjadi misteri cinta yang melahirkan kehidupan! Kerudung Misa menegaskan realita ini dan mengangkatnya ke dalam makna teologis yang tinggi dan mendalam.

Mungkin, itulah mengapa pudarnya praktek berkerudung Misa berbarengan dengan meluasnya gerakan revolusi seksual dan ideologi feminisme radikal pada tahun 1960-an, yang kemudian melahirkan aborsi dan kontrasepsi. Gerakan revolusi seksual berusaha meyakinkan para perempuan bahwa mereka sama dengan laki-laki, harus meniru laki-laki dalam segala hal, dan bahwa hal-hal yang feminin — termasuk peran sebagai istri dan ibu — hanya akan menjadi penghambat kebebasan dan prestasi. Kerudung Misa, beserta segenap nilai-nilai kesederhanaan dan keteraturan tradisional yang diwakilinya, merupakan tamparan keras di wajah sang feminis karena ia mengusung martabat perempuan sebagai makhluk yang unik, yang istimewa dalam feminitasnya, yang setara dengan, namun tidak sama dan tidak akan pernah sama dengan, laki-laki.

Holier-than-thou?

Tentunya, saya tidak menganggap bahwa wanita dengan kerudung Misa itu lebih suci dibanding wanita yang tidak berkerudung. Justru, karena saya belum sucilah, saya membutuhkan devosi ini untuk membantu mendisiplinkan kedagingan saya dan mengarahkan saya kepada Kehadiran Allah.

Saya juga mengakui, perubahan-perubahan yang saya jabarkan di atas berlangsung sedemikian halus (subtle), dan banyak yang lebih berkaitan dengan suasana internal jiwa saya, sehingga sulit rasanya jika harus dijelaskan melalui tulisan. Anda yang membaca ini pun mungkin susah membayangkannya, apalagi mempercayainya. Maka, bisa dipahami apabila anda masih merasa skeptis. Akan tetapi saya berani meyakinkan anda bahwa sungguh inilah yang terjadi: kerudung Misa mendorong pertobatan saya secara fisik dan membuat saya lebih memahami konsep kesederhanaan (modesty), kemurnian (chastity), dan keindahan (beauty) menurut Iman Katolik.

Kerudung Misa mungkin hanya terlihat sebagai sepotong kain yang cantik belaka, tetapi percayalah, sebagai sebuah bentuk devosi, kerudung Misa amat powerful dan dengan rahmat Allah, ia akan membantu anda lebih mudah tunduk kepada Sang Mempelai yang Tersalib.

***

Catatan:

 Dalam artikel ini, saya menggunakan istilah “kerudung Misa” (chapel veil), bukan “mantilla”, karena sesungguhnya mantilla adalah satu jenis khusus dari kerudung Misa, yaitu kerudung dari bahan lace (brokat atau renda). Sebenarnya, lebih akurat lagi jika saya menggunakan istilah “tudung kepala” (headcovering), mengingat praktek “menudungi kepala” bagi wanita Kristen tidak terbatas pada kerudung sungguhan, melainkan juga syal atau skarf, bandana besar, serta topi-topi resmi seperti yang rutin dikenakan oleh wanita-wanita Inggris hingga saat ini.

30 komentar

  1. salamdamai · · Balas

    mohon maaf sebelumnya, tapi saya merasa agak sedikit terusik dengan artikel ini. persoalan pakaian dalam gereja tampaknya banyak ditemui di kota2 besar seperti jakarta. Banyak orang di jakarta yang pergi ke gereja karena merasa “diwajibkan” sebagai sebuah formalitas dan merasa gengsi jika tidak pergi, walaupun sebenarnya jauh dalam lubuk hatinya ia tidak benar-benar rindu pergi ke gereja. ia mungkin saja pergi gereja tapi setelah itu rencana sebenarnya adalah jalan-jalan di mall atau nongkrong di cafe, dsb.

    agak sulit memang dalam mendefinisikan “pergilah ke gereja dengan memakai pakaian terbaikmu”. ini tentu sangat subyektif. manusia sangatlah beragam sudut pandangnya, dan poin terpenting yang ingin saya sampaikan adalah tingkat ke-bagus/pantas busana seseorang tidaklah berbanding lurus dengan tingkat moralitas orang tersebut. bagaimanapun juga harus kita ingat bahwa gereja adalah rumah kristus dan kristus adalah gembala bagi SELURUH MANUSIA, baik ia orang saleh maupun penjahat. kristus telah mengasihi seseorang bahkan ketika ia masih berdosa.

    saya agak tergelitik pada kalimat “Selembar kain yang tampak remeh ini rupanya sanggup menjadi semacam bentuk disiplin bagi daging saya yang lemah ini, serta sebuah pengingat bahwa saya adalah kekasih Kristus, pengantin Tuhan, dan dengan demikian saya harus bersikap selayaknya seorang pengantin, bukan pelacur. ”
    memang ini adalah pendapat pribadi anda dan anda bebas berpendapat, tapi sadarkah anda kalau secara tidak langsung anda menyampaikan bahwa gereja adalah tempat bagi orang-orang saleh saja, dan tidak ada tempat untuk orang-orang “tidak saleh”.

    bagaimana jika ada seorang pelacur (yang seluruh stok bajunya minim/sexy) atau seorang preman yang tubuhnya penuh tato dan bekas luka hasil perkelahiannya yang tiba2 tergerak hatinya untuk mengikuti misa di gereja? jika gereja (baca: para pengurus, umat2 lainnya) sudah mulai “selektif” dalam memilih anggota apalagi dari tampilan luarnya, karya kasih kristus justru akan terbatas. seorang pelacur tidak akan sampai hati masuk gereja dan sebalikanya seorang kaya raya yang mendapatkan uangnya dengan cara tidak halal dan mampu berpakaian necis dan menyumbang jutaan rupiah ke gereja akan diterima dengan tangan terbuka.

    saya pribadi merasa bahwa agama “katolik” yang mempunyai arti (silahkan cari sendiri di google)

    cath·o·lic
    ˈkaTH(ə)lik/Submit
    adjective
    1.
    (especially of a person’s tastes) including a wide variety of things; all-embracing.
    synonyms: universal, diverse, diversified, wide, broad, broad-based, eclectic, liberal, latitudinarian;

    ya, katolik berarti UNIVERSAL, ALL-EMBRACING berarti membuka dirinya untuk siapa saja tanpa memandang bulu. semua manusia sama di mata kristus, tidak ada yang menjadi anak emas. justru orang-orang tersesat (berdosa) itulah yang mendapatkan perhatian lebih dari kristus, bukan orang saleh. saya juga tertatik dengan postingan pak andreas

    Andreas · Agustus 17, 2014 – 00:48 · Balas→
    Gereja tidak pernah melarang wanita untuk memakai kerudung misa (mantila) saat mengikuti Misa. Jadi boleh-boleh saja memakainya, tidak berdosa kalo tidak memakainya, tetapi baik sekali jika memakainya.

    salam,
    Andreas

    kata-kata pak andreas memang sekilas indah, tetapi ketika pak andreas mengatakan “tetapi BAIK SEKALI jika memakainya” itu sama dengan mengatakan memakai kerudung misa lebih baik daripada tidak memakainya. ini adalah sebuah kata-kata yang dipermanis untuk memperhalus hal yang ingin disampaikan. saya agak tergugah jika membayangkan bahwa kristus seolah-olah akan menilai manusia dari cara berpakaiannya. (kata “baik” ini merujuk pada standar kualitas atau merujuk pada moral?)

    saya pikir yang jadi poin utamanya adalah “kenapa kita harus berpakaian sopan ke gereja?” alasannya sama dengan kenapa ketika kita masuk ke dunia kerja kita harus memakai kemeja bukan t-shirt dan celana/rok bahan dan bukan bahan denim/jeans. sepatu pantofel dan bukan sendal jepit. ini adalah masalah decency (behavior that conforms to accepted standards of morality or respectability.) yang berkaitan dengan etiket. sekali lagi, ETIKET, bukan ETIKA (moral).

    tentu silahkan saja jika ada orang yang ingin memaki kerudung misa, tidak akan ada yang melarang, jika dengan memakai kerudung misa anda merasa bisa lebih khusuk dalam beribadah tentu itu hal yang bagus. tapi saya tidak setuju jika kerudung misa ini disangkutpautkan dengan tingkat kesecuian atau tingkat kepantasan seorang manusia di mata kristus,

    1. 1.Orang yang berusaha mengenakan mantilla dan berupaya mengubah penampilannya agar terlihat lebih pantas dan sopan, tentu berangkat dari kesadaran bahwa seseorang adalah pendosa dan ingin berubah menjadi lebih baik, ingin memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Jadi, kesimpulan anda yang mengatakan “Gereja hanya tempat untuk orang-orang saleh” jelas keliru dan bertentangan dengan maksud penulis artikel ini.

      2.Silakan saja seorang pelacur atau preman mengikuti Misa apabila memang mereka tergerak hatinya. Tetapi harus diingat, Gereja itu juga memiliki “aturan” yang harus ditaati. Sama seperti seseorang yang bertamu ke rumah orang lain, tidak bisa ia bersikap seenaknya di rumah orang tersebut. Setiap orang boleh datang, rumah terbuka bagi setiap orang, tetapi ya hargai aturan pemilik rumah. Kalau pelacur tersebut sungguh mengalami pertobatan setelah mengikuti Misa, maka ia pun harus perlahan-lahan meninggalkan kehidupan lamanya.

      3.Saya tidak tahu sejauh mana pengandaian soal pelacur dan preman itu benar-benar mungkin terjadi atau tidak. Tetapi realita jauh lebih penting dari pengandaian, jadi mari hentikan pengandaian yang tidak perlu.

      4.Pemahaman Katolik yang anda sebutkan masih kurang. Benar, Katolik=universal dan mencakup semua orang, tetapi makna satu lagi dari kata Katolik berarti “kepenuhan” atau “keseluruhan” dan ini berhubungan dengan kepenuhan kebenaran

      Gereja disebut Katolik atau universal karena ia telah tersebar di seluruh dunia, dari satu ujung dunia ke ujung lainnya. Ia disebut Katolik karena ia mengajarkan secara penuh dan tanpa gagal semua ajaran yang harus dibawa kepada pengetahuan manusia, entah itu berhubungan dengan perkara yang kelihatan dan tidak kelihatan, dengan realitas-realitas surgawi dan duniawi. Alasan lain untuk nama Katolik ialah karena ia membawa semua kelompok manusia dalam ketaatan religius, penguasa dan warga negara, orang terpelajar dan tuna aksara (St. Sirilus dari Yerusalem, Catechetical 18)

      5.Kesopanan atau kesantunan dalam berbusana, sampai batas tertentu, juga dapat memberikan pengaruh terhadap moralitas. Seorang wanita yang berpakaian sopan saat Misa tentu membantu umat lainnya untuk (terutama pria) agar tidak tergoda dan menjadikan wanita tersebut sebagai objek untuk memuaskan hawa nafsunya. Pria memang perlu melatih kontrol dirinya, namun pria juga membutuhkan bantuan wanita untuk hal ini, dan wanita yang mengenakan pakaian yang sopan dan pantas menunjukkan betapa ia menghargai makna tubuh manusia. Silakan pelajari teologi tubuh dari Yohanes Paulus II untuk memahami hal tersebut.

      6.Kekudusan atau kesucian itu sesuatu yang diperjuangkan. Mereka yang mengenakan mantilla tidak secara otomatis menjadi orang suci. Rasanya wanita yang menggunakan mantilla juga sadar akan hal itu dan tidak akan bertindak “sok suci”. Tapi berupaya mengenakan mantilla itu bisa menjadi langkah awal untuk mengusahakan kesucian, yang diawali dengan menjaga kesantunan dan kehormatan tubuh seorang wanita itu sendiri.

      7.Lagipula, ajakan mengenakan mantilla ini merupakan hal yang baik. Ini adalah undangan agar seseorang berpakaian lebih sopan dan layak di hadapan Tuhan. Tentu tidak diharapkan hal ini hanya berhenti pada penampilan, melainkan yang diharapkan ialah ada perubahan sikap ke arah yang lebih baik dengan mengenakan mantilla, adanya konsistensi antara penampilan yang indah dengan jiwa yang indah. Intinya: mengenakan mantilla itu baik, kalau itu bisa membantu untuk bertumbuh dalam kekudusan. Tidak mengenakan mantilla tidak dosa, dan yang tidak mengenakan mantilla juga bisa bertumbuh dalam kekudusan. Tidak ada paksaan atau kewajiban untuk melakukannya. Namun kalau dilakukan itu baik, karena ini sekaligus menjaga dan memelihara tradisi Gereja.

  2. aih…kiranya info ini sngguh inspiratif n sangat menyentuh .Ada tmn yg wkt awal masuk ke Gereja berlapis slendang yg terkadang buat kerudung sggh enak dinikmati, nmn syg e perlahan ditinggalkan . malu kali y? Berkah Dalem

  3. Elisius nadi · · Balas

    saya senang jika perempuan kristen bisa memkai kerudung saat misa maupun diluaran karena ini akan mmbuat orang akan semkin kusuk dlm mngikuti misa. ibu2 terapklah hal ini kepada anak kalian, Tuhan mmberkati.

    1. Goenawan Situmorang · · Balas

      makasih infonya….. Berkah Dalem

  4. Albertus GS · · Balas

    Saya baru menjadi Katolik pada saat saya SD ( th 1991 ) di Paroki saya tidak ada tradisi menggunakan Mantilla, sempat terbersit dalam hati waktu kecil : kenapa Bunda Maria dan Para Suster berkerudung ya ? tetapi setelah dewasa dan sy mengikuti Misa di Lourdes, baru saya mengagumi bahwa Mantilla adalah salah satu ikon / tanda penghormatan dan kerendahan hati para wanita Kristiani pada Tuhan dan tempat yang DIA KUDUSKAN .
    Meskipun sy seorang pria, saya sangat mendukung dan appreciate bagi para wanita Katolik dan Kristen yg menggunakan kerudung Misa / veil.
    tetapi perlu diingat pula bahwa tanda tersebut tidak ada gunanya bahkan akan menodai nilai dari ikon veil sebagai tanda kekudusan dan kerendahan hati bila tidak dibarengi dengan prilaku yang rendah hati pula seperti :

    ngobrol sendiri selama Misa berlangsung
    menyerobot saat mengantri utk menerima Hosti saat Komuni
    memakai busana minim / busana yg kurang layak untuk dipakai di Gereja
    berperilaku yang tidak layak dan pantas
    tidak menghargai orang lain saat berinteraksi dan berkomunikasi
    tidak merasul… setidaknya merasul dengan senyuman yang sederhana pada sekitar kita
    dll

    jadi menurut saya, memakai kerudung Misa tidak hanya “tampak” kudus, tetapi juga menjadi tanda bahwa karya dan kasih Tuhan dinyatakan melalui pemakainya….

    sekali lagi saya mendukung semangat kekudusan penggunaan Kerudung Misa ini dalam perayaan – perayaan resmi Gereja Katolik….
    selamat mengembangkan iman di Tahun Kerahiman ini…
    semoga Tuhan selalu Memberkati niat kita semua untuk selalu kembali kedalam kekudusan dan KerahimanNYA….

    Berkah Dalem….. Tuhan Memberkati…

    1. Amin…terima kasih atas komentar dan dukungannya!

      Salam,
      Cornelius

  5. Novena Ulita · · Balas

    menginspirasi, saat saya sering mempelajari kitab suci dan terutama selalu pada Korintus membuat saya penasaran makna menudungi kepala ketika berdoa, saya dalam pencarian, dan akhirnya sampai saat ini sudah 3 minggu saya mengenakan tudung dikepala saat berdoa, termasuk saat menjalani doa nabi daniel 3x sehari saya tidak lupa menudungi kepala, Karena saya menghormati Kristus….

    amin…mari kita semakin bertekun sebagai perempuan2 pengikut Kristus

    1. Amin…selamat untuk ibu Novena Ulita, semoga mengenakan mantilla dapat membantu ibu semakin bertumbuh dalam kekudusan.

      Salam,
      Cornelius.

  6. Postingannya luar biasa. Saya baca ini karena saya penasaran dengan arti dari mantila itu apa. Ternyata kerudung misa ya, saat membaca ini saya tergerak hati untuk ikut menggunakan kerudung misa. Saya sendiri adalah katolik dari lahir, saya ingin mengikuti jejak ibu anne. membayangkan saya dengan pakaian wanita sesungguhnya saja, saya sudah terpukau dengan bayangan saya. Saya mohon doa untuk bisa berubah dan iman saya semakin bertumbuh dakam Kristus. Berkah dalem +.

  7. Saya sangat tertarik dengan pemakaian mantila, yang ingin saya tanyakan apakah mantila tsb jg digunakan ketika kita hanya mengikuti ibadat tobat (pada waktu persiapan paskah, Natal) yang dilaksanakan di dalam gereja? Trims, Gbu

    1. Hai, Lina! Tentu boleh dan baik sekali mengenakan mantilla pada saat-saat tersebut, terutama jika memang dilaksanakan di dalam gereja di mana Sakramen Mahakudus bertakhta. Semoga mantilla semakin memperdalam kehidupan doa kita ya :)

      Anne

  8. herman · · Balas

    Bahasa tulisannya bagus, enak dibaca dan smart. Love it.

  9. Tahun lalu, saya memberanikan diri memakai mantila. Awalnya sgt deg2an dan takut kalau dilarang. Berbagai pendapat yg agak ga enak mmg sempat dilontarkan pada hari itu. Teman saya bilang kalau saya orang aneh (krn saya satu2nya org yg memakai mantila), pastor saya juga berkomentar “waaah gaya sekali sekarang pakai kerudung”.
    Ada lagi yg menyebut sbg Katolik Ortodox, orang aneh, sok suci, dsb. Memang kurang nyaman dgn perkataan orang2 itu. Tapi lama2 terbiasa, dan akhirnya skrg sdh ada bbrp teman yg tertarik menemani saya pakai mantila. Romo saya pada akhirnya juga merasa bahwa ini adl hal baik. Ada juga romo yg terang2an mengaku tidak tau ttg apa yg saya pakai, dan meminta penjelasan. Stlh saya jelaskan, beliau sgt mendukung.
    Bagi saya mantila sgt membantu saya utk lbh khusuk saat berdoa dan menjaga saya juga utk bersikap dan berbaju sopan.

  10. Tanda2 zaman…kehausan akan kesucian di belantara yang semakin jauh dari kesucian. Bisa dilihat tidak hanya di kaum kristiani.

  11. Fransisca Valentina · · Balas

    Saya tertarik dengan pemakaian kerudung misa, yang ingin saya tanyakan untuk pemakaian kerudung misa ini adalah sepanjang misa atau pada saat doa syukur agung, atau juga pada penerimaan sakramen tobat dan adorasi sakramen Maha Kudus. Terima kasih atas penjelasannya

    1. Kerudung Misa dikenakan saat hendak menghadiri Misa (sudah dipakai ketika masuk ke Gereja), dan juga digunakan saat adorasi Sakramen Maha Kudus.

  12. Hai kak Ann,

    Terima kasih sudah berbagi tentang kerudung misa. Kebetulan banget nemu tulisan ini, di paroki saya di Semarang barusan mulai dikenalkan lagi tentang kerudung misa sama pastor paroki & (dimulai dari) lektor sudah mulai pakai kerudung misa saat bertugas.

    Ijin share tulisannya yaaa.

    Terima kasih,
    Berkah Dalem

    1. Hai, Elisabeth Yoana!
      Waahh seneng banget dengernya! Selamat ya untuk paroki kamu, sudah mulai memasyarakatkan kembali tradisi Gereja yang indah ini! Semoga kamu dan teman-temanmu makin semangat berbusana santun dan indah bagi Tuhan ya. Cewe kan makhluk Tuhan yang terindah, setuju? Hehe :D
      Btw, boleh tahu kamu dari paroki mana?

      Anne

  13. ijin share , berkah dalem +

  14. walaupun sy merasa tdk layak dan tdk pantas tapi tertarik utk mengenakan kerudung misa, dimana bisa memperolehnya?

    1. silahkan saja beli kain yang mirip seperti gambar orang menggunakan mantila

  15. sherlin · · Balas

    sungguh sya baru tahu bhwa kta sbgai org kristen ada kebiasan memakai kerudung misa. sya sangat ini hl ni trs dkmbangkn agar smua wanita kristen lbh memahami arti dri yg diimani. sukses selalu ya.

    1. Dear sherlin,
      Terima kasih banyak dukungannya ya! Yuk kita sama-sama mengembalikan tradisi indah ini di paroki masing-masing!

      Salam,

  16. christina saragu · · Balas

    Sy penganut Kristen Protestan , tp pengalaman sy hadir dalam misa slh satu Gereja Katolik di Seoul Korsel, mengingatkan bahwa Bait Allah tempat suci dan kudus lebih menyentuh hati saya. Dengan rasa hormat dan tunduk setiap perempuan yg hadir menggunakan kerudung misa.. Saya lebih merasakan hadirat Allah, lebih merasakan bersekutu dengan Allah, pengalaman rohani yang luar biasa. Penghormatan yang luar biasa.. Sy tidak membandingkan dengan yg lain apalagi dengan kondisi kita disini.. Terpujilah mereka Terpujilah Tuhan..

    1. Pengalaman yang indah sekali, terima kasih atas sharingnya :)

  17. Engelbert · · Balas

    Pengelaman iman yang luar biasa. saya pun juga baru tahu kalo Mantilla boleh dipakai oleh katolik Roma karena setahu saya hanya dipakai oleh katolik ritus tmur . Saya heran kenapa tahun 1983 mantilla ditiadakan.. padahal ini adalah bentuk kerendahan diri dihadapan Allah.. ya semoga mantila dipakai kembali dan bukan dipopulerkan untuk menunjukkan indentitas agama tetapi sebagai bentuk kerendahan hati dihadapan Allah

  18. sally harsa · · Balas

    saya sangat mendukung sekali didalam mengenakan kerudung pada saat misa
    Waktu saya masih muda saya selalu melihat seorang ibu yg mengenakan kerudung pada saat misa dan perasaan saya begitu tertarik dan ingin juga mengenakan kerudung misa
    tetapi mengingat blm ada org lagi yg memakai kerudung dan saya bertanya apakah ibu tsb mantan biarawati?
    Apabila peraturan gereja sudah memperbolehkan memakai kerudung misa pada saat kegereja pasti saya akan mengikuti nya

    1. Gereja tidak pernah melarang wanita untuk memakai kerudung misa (mantila) saat mengikuti Misa. Jadi boleh-boleh saja memakainya, tidak berdosa kalo tidak memakainya, tetapi baik sekali jika memakainya.

      salam,
      Andreas

  19. Tulisan yang sunnguh menarik. Tuhan memberkati :)

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: