Evangelisasi di Dunia Maya

“Allah menghendaki agar setiap orang diselamatkan dan mencapai pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim 2:3-4). Tujuan ini terpenuhi secara definitif ketika Bapa mengutus Putra-Nya Yesus Kristus untuk melaksanakan kehendak-Nya, yakni menebus dan menyelamatkan manusia. Yesus pun mendirikan Gereja-Nya (Mat 16:18) sebagai sarana keselamatan bagi seluruh manusia, serta mengutus para rasul untuk mewartakan injil. Oleh karena itu, seperti Kristus mengutus para murid, kita pun juga diutus untuk menyebarkan Kerajaan Allah sesuai panggilan dan talenta kita.

MENGAPA MELAKUKAN EVANGELISASI?                                    

Dorongan untuk melakukan evangelisasi berasal dari perkataan Yesus,”Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku, dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Dan ajarkanlah mereka untuk menaati segala sesuatu yang telah kuajarkan kepadamu” (Mat 28:20). Evangelisasi merupakan tanggapan kita terhadap kerinduan yang ada dalam diri setiap orang, kerinduan untuk mencari kebenaran, untuk menemukan Tuhan dan hidup seturut jalan dan kehendak-Nya, agar mereka dapat diselamatkan. Karenanya merupakan kewajiban kita juga untuk semakin mengenalkan Kristus kepada banyak orang dan membawa mereka masuk ke dalam Gereja-Nya yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Begitu pentingnya evangelisasi ini sehingga St. Paulus berkata “Celakalah aku, bila aku tidak mewartakan injil” (1 Kor 9:16).

Secara personal, alasan yang mendorong saya untuk terlibat aktif dalam pewartaan di dunia digital berawal dari adanya sebuah kebutuhan: Di satu sisi, sejak usia 14 tahun saya sudah mulai banyak membaca diskusi dan artikel tentang iman katolik. Seiring berjalannya waktu, saya merasakan adanya keinginan untuk membagi apa yang saya pelajari. Saya ingin umat beriman lainnya mengenal Kristus, seperti yang diajarkan oleh Gereja. Namun di sisi lain, saya juga menyadari betapa “miskin” nya materi-materi seputar iman katolik dalam bahasa Indonesia. Rasa ingin tahu saya tidak dapat dipuaskan hanya dengan mendengar ceramah romo, mengikuti pertemuan lingkungan, atau terlibat aktif dalam kegiatan OMK (Orang Muda Katolik).

KISAH PERTOBATAN DAN AWAL BERDIRINYA LUX VERITATIS 7

Kisah pertobatan saya agak berbeda dari biasanya. Kalau pada umumnya kisah pertobatan itu berarti seseorang yang sebelumnya bukan beragama katolik, atau sempat meninggalkan Gereja, lalu kembali ke dalam Gereja, maka sebenarnya saya tidak pernah secara serius meninggalkan Gereja. Saya juga tidak pernah mempertanyakan atau meragukan apa yang Gereja ajarkan. Bahkan bisa dikatakan bahwa Tuhan memberikan saya banyak jawaban sebelum saya mempertanyakannya.

Saya menerima sakramen penguatan saat SMP kelas 3, saat saya berusia 14 tahun. Saat itu, saya berdoa kepada Tuhan, meminta agar iman saya dikuatkan. Saya pun menyadari bahwa agar iman saya bisa kokoh, maka saya perlu belajar pelajaran agama di sekolah dengan serius. Suatu hari, saat saya sedang berada di warnet bersama ayah saya, saya melihat ia membuka website pondok renungan dan forum ekaristi.org. Karena penasaran, saya pun membuka website tersebut, dan tanpa saya sadari saya sudah merasa tertarik dengan diskusi seputar iman katolik di forum Ekaristi. Sejak saat itu, saya pun semakin tekun untuk membaca dan belajar. Jadi, pertobatan dan pertumbuhan iman saya juga dipengaruhi oleh karya evangelisasi yang dilakukan di dunia digital.

Selanjutnya saya pun berkumpul bersama teman-teman member Ekaristi di facebook, dan ternyata saya bertemu dengan seorang teman satu keuskupan, yaitu Andreas. Ia memiliki semangat dan niat yang sama untuk belajar dan berbagi hasil pembelajaran iman katoliknya. Oleh karena itu, pada awalnya kami memiliki blog secara terpisah. Lalu saya mengajaknya untuk bersama membangun blog sebagai sarana pewartaan iman katolik, yang kemudian kami beri nama Lux Veritatis 7.  Lux artinya cahaya, Veritatis berarti kebenaran. Nama blog ini menjadi visi dan identitas kami, yakni pembawa cahaya kebenaran yang berasal dari Allah, agar Ia semakin besar, dan kami semakin kecil (Yoh 3:30).

TUJUAN DARI EVANGELISASI

Tujuan utama evangelisasi adalah pertobatan, pertama pertobatan diantara umat katolik sendiri, kedua pertobatan orang-orang non katolik. Untuk mencapai tujuan ini, maka evangelisasi harus berbicara tentang Allah, bukan sembarang Allah, melainkan Allah yang telah menyatakan diri-Nya kepada kita, yakni Yesus Kristus. Jadi, evangelisasi, pertama dan utama adalah mengenalkan gambaran akan Allah yang benar. Karena evangelisasi berbicara tentang satu-satunya Allah yang benar, maka ia juga harus mewartakan satu-satunya agama yang benar yang didirikan Allah, yakni Gereja Katolik.

Secara singkat, dapat dikatakan bahwa tujuan utama evangelisasi adalah mengenal dan mencintai Allah. Mengenal, berhubungan dengan aspek pengetahuan (seperti aspek doktrinal, sejarah, dsb), sedangkan mencintai terkait erat dengan aspek relasi(liturgis, doa, dsb)

GEREJA MILITAN DAN PERANNYA DALAM EVANGELISASI

Konsep Gereja Militan merupakan konsep yang terdengar kuno dan bisa jadi sudah sangat jarang diwartakan oleh para imam, dan digantikan dengan konsep Gereja yang Berziarah. Namun sebenarnya kebenaran yang disampaikan oleh konsep Gereja  Militan sangat relevan dengan situasi jaman sekarang, secara khusus situasi di Indonesia dimana masih terdapat pemikiran-pemikiran yang keliru seperti “yang penting hatinya”, “jangan terlalu kaku terhadap aturan”,”dogma atau ajaran gereja itu buatan manusia”, “semua agama itu menyelamatkan”, dst.

Gereja Militan berarti anggota gereja yang ada di dunia, yang berjuang melawan dunia, daging dan iblis. Paus Emeritus Benediktus XVI berkata bahwa yang jahat selalu ingin menguasai dunia, karenanya menjadi penting bagi umat beriman untuk terlibat dalam peperangan rohani. Medan perang kita, selain kehidupan nyata yang kita jalani, termasuk juga dunia maya dimana kemajuan teknologi memudahkan setiap orang untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya, termasuk pemikiran yang bertentangan dengan ajaran Kristus dan Gereja, seperti yang telah dicontohkan di atas.

Kita sebagai Gereja Militan memiliki tugas untuk memberikan “senjata” untuk berperang melawan setiap pemikiran yang dapat menjauhkan seseorang dari Kebenaran yang menyelamatkan. Namun, apa yang perlu kita lakukan sebelum memasuki peperangan ini? Strategi apa yang harus kita susun agar kita dapat memperoleh kemenangan?

Pertama, penting sekali bagi kita untuk berpikir dan bertindak bersama Gereja. Hal ini dapat dicapai dengan mempelajari Katekismus Gereja Katolik. Kita perlu memahami alasan kita untuk percaya pada Kristus, kepada Gereja. Karenanya formasi doktrinal menjadi hal yang perlu mendapat perhatian khusus, agar iman kita semakin dewasa. Paus Benediktus XVI mengungkapkan bahwa “iman “dewasa” bukanlah iman yang mengikuti trend yang berlaku dan hal-hal baru, iman dewasa berakar secara mendalam pada persahabatan dengan Kristus.” Oleh karena itu, pemahaman akan Kitab Suci, Tradisi dan ajaran Magisterium Gereja menjadi penting.

Kedua ialah formasi spiritual. Pemahaman akan ajaran Gereja yang tidak diimbangi dengan kehidupan doa yang baik, dengan partisipasi dalam sakramen, secara khusus sakramen tobat dan Ekaristi, dengan usaha untuk menumbuhkan kerendahan hati untuk mencapai kekudusan, hanya akan membawa seseorang pada kesombongan.

Tujuan utama evangelisasi adalah berbicara tentang Allah, namun kita tidak bisa berbicara tentang Allah bila sebelumnya kita tidak berbicara dengan Allah. Ini berarti, seseorang yang hendak menjadi pewarta di dunia digital harus memiliki kehidupan doa yang teratur. Ia harus tekun berbicara dengan Allah, namun pada saat yang sama Ia juga perlu mendengarkan Allah yang berbicara kepadanya melalui ajaran Gereja, melalui perjumpaan dengan imam dan orang katolik lainnya, melalui buku-buku rohani. Seorang pewarta harus memiliki sikap seperti St. Petrus yang berkata “atas perkataanmu lah aku akan menebarkan jala”

Ketiga, bangunlah persahabatan dengan teman seiman yang memiliki visi dan misi yang sama. Tidak ada seorangpun murid Yesus yang diutus sendirian. Terlebih, karya evangelisasi yang dilakukan oleh kaum awam (secara khusus kaum muda) bisa jadi bukanlah hal yang menjadi prioritas utama dalam kehidupan mereka, dan sangat mungkin menjadi terbengkalai karena kesibukan di dunia nyata. Dengan kehadiran teman atau rekan evangelisasi, maka karya evangelisasi dapat bertahan.

MEMULAI EVANGELISASI DI DUNIA MAYA

Berikut ini adalah beberapa saran yang dapat saya berikan bila anda ingin memulai evangelisasi di dunia maya.

Pertama, tentukan area evangelisasi anda: entah itu melalui facebook pribadi, membuat blog, grup diskusi, terlibat aktif di pages katolik atau grup katolik, atau memanfaatkan media lain seperti youtube, twitter dan pinterest. Media yang anda gunakan harus sesuai dengan talenta anda. Misalnya, bagi yang suka menulis dapat membuat blog, atau bagi mereka yang ahli dalam desain dapat menggunakan pinterest untuk membagikan quote pics yang berisikan kutipan santo/santa.

Kedua, tentukan topik bahasan yang dapat menjadi identitas karya evangelisasi anda. Apakah anda ingin membangun blog yang membahas seputar Tradisi Gereja, Liturgi, atau katekese tentang hal-hal mendasar dari iman katolik? Akan lebih baik, bila konten blog anda berisi hal-hal yang tidak ada di website atau katolik lain, dengan demikian maka anda turut memberikan kontribusi penting bagi pencerdasan iman kaum beriman di Indonesia.

Ketiga, bagi mereka yang ingin membuat blog katolik, pilihlah nama dengan bijak. Nama merupakan identitas yang penting yang dapat menggambarkan visi anda dalam karya evangelisasi.

Keempat, tentukan waktu untuk menerbitkan tulisan, apakah setiap hari, seminggu sekali, atau dua minggu sekali. Hal ini perlu direncanakan agar blog atau website dapat terupdate dengan teratur dan tidak terbengkalai.

Kelima, berusahalah untuk melakukan evangelisasi secara maksimal, baik dalam hal konten, cara penyampaian, desain web atau blog, dsb. Ketiganya penting dan perlu kita usahakan sesuai kemampuan kita.

TANTANGAN EVANGELISASI DI DUNIA MAYA

Berikut ini adalah beberapa tantangan yang saya temui selama saya terlibat evangelisasi melalui grup diskusi, page katolik dan blog.

Kehidupan nyata terabaikan

Aktivitas pewartaan di dunia maya terkadang dapat menyita banyak waktu dan tenaga, apalagi bila kita melakukannya karena senang atau memang merupakan bagian dari passion kita. Karenanya, manajemen waktu menjadi penting agar kehidupan di dunia nyata dan maya seimbang.

Kesombongan

Kebenaran yang diwartakan tanpa kerendahan hati, hanya akan menjadikan seseorang sombong dan suka merasa benar sendiri tanpa mau mendengar koreksi orang lain. Terlebih, anonimitas dalam dunia maya dapat membuat seseorang tergoda untuk berkata-kata dengan bebas tanpa menunjukkan kasih. Oleh karena itu, penting sekali agar kita melakukan moderasi terhadap pikiran kita sebelum mengucapkannya di dunia maya.

Kurangnya komitmen untuk bertekun dalam evangelisasi

Kesibukan di dunia nyata terkadang membuat saya kurang memiliki banyak waktu untuk melakukan evangelisasi di dunia maya. Akibatnya, konten blog menjadi tidak terupdate dan page menjadi tidak terpantau. Merupakan hal yang penting untuk memperbarui komitmen pewartaan kita dihadapan Tuhan secara teratur.

Penolakan dari orang yang kita wartakan

Seringkali suatu artikel dalam blog atau page dapat menjadi ruang terbuka untuk perdebatan. Terkadang penjelasan yang diberikan sulit diterima dari oleh beberapa orang, dan ada juga orang yang mencela dan mengejek kita dengan sebutan seperti “farisi”, “fanatik”, “dubes Vatikan”, “FPK – Front Pembela Katolik” dst. Kita perlu tahu kapan harus berhenti mewartakan, dan kapan harus tetap berbicara.

BEBERAPA PRINSIP UTAMA EVANGELISASI DI DUNIA MAYA

“Jikalau Anda berkata, ‘tunjukkan kepadaku Allahmu’, saya akan menjawabmu,’tunjukkan kepadaku manusia yang ada dalam dirimu’.” —Teofilus dari Antiokia

Terkadang dalam suatu perdebatan, ada yang berkomentar “yang penting perbuatan, tidak ada gunanya berdebat”, “apa yang sudah anda lakukan di dunia nyata?”. Sebagai seorang pewarta, kita perlu menjaga integritas pikiran, perkataan dan perbuatan kita, entah itu dalam aktivitas evangelisasi maupun dalam kehidupan sehari-hari. Evangelisasi bukan sekedar mengajarkan doktrin, melainkan bagaimana kita menampilkan wajah Yesus Kristus dalam kehidupan kita.

Caritas in Veritate

Kasih dan kebenaran harus ditunjukkan dalam setiap tingkah laku kita. Oleh karena itu, kita harus menghindari kata-kata yang dapat menunjukkan kesombongan, karena hal ini dapat menjauhkan orang dari kebenaran yang kita wartakan serta dapat menimbulkan konflik yang tidak perlu.

Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat (1 Pet 3:15).

Di dunia maya tidak jarang dijumpai orang-orang yang menyerang iman katolik. Oleh karena itu, kita harus siap untuk mempertanggungjawabkan iman kita dengan kasih dan rasa hormat terhadap mereka yang menyerang iman kita.

Ia harus semakin besar, sedangkan aku semakin kecil (Yoh 3:30).         

Fokus utama evangelisasi adalah Allah, oleh karena itu kita berusaha menampilkan kebenaran tentang Allah, bukan tentang kita. Kita tidak mencari popularitas atau pengikut, melainkan berusaha mengenalkan Allah kepada setiap orang.                                                  

PENUTUP: IDENTITAS PEWARTA DUNIA MAYA SEBAGAI PENABUR BENIH

Menurut saya, penabur benih merupakan identitas sangat tepat bagi mereka yang terlibat evangelisasi di dunia maya. Seorang penabur benih bekerja untuk keabadian, karena benih-benih kebenaran itu kita tanamkan dalam hati, dalam jiwa manusia yang dengan tulus mencari Allah dan membiarkan dirinya terbuka bagi kebenaran.

Benar bahwa karya evangelisasi kita bertujuan untuk mengenalkan Allah dan Gereja-Nya, lalu membawa orang-orang dalam pertobatan sejati. Namun, kita tidak selalu dapat melihat benih iman bertumbuh dalam karya evangelisasi yang kita lakukan. Bisa saja, suatu ketika kita bertanya, apakah yang saya lakukan ini bermanfaat bagi orang lain, apakah karya evangelisasi ini semakin memperdalam iman dan relasi seseorang dengan Allah. Namun kita dapat merasa yakin bahwa tanah yang baik itu ada, karena Tuhan telah menanam kerinduan akan diri-Nya dalam hati manusia.

Kita harus menyadari bahwa pada dasarnya kita adalah “hamba yang tidak berguna” (Lukas 17:10). Kita perlu memiliki kesadaran bahwa karya evangelisasi dapat kita lakukan, pertama dan terutama karena Allah memampukan dan memberikan kita talenta untuk itu.  Kita adalah instrument yang tidak berguna, oleh karena itu dengan segenap kerendahan hati, kita melakukan apa yang kita bisa. Tugas utama kita adalah menabur benih, bukan untuk mencari popularitas, pengikut atau menunjukkan superioritas kita karena kita lebih tahu dan merasa benar. Selanjutnya, kita percayakan kepada Allah untuk merawat benih itu agar bertumbuh menjadi pohon yang besar dan kokoh. Marilah kita memohon kepada Allah, agar Ia memberikan kita kekuatan untuk menjadi pewarta Kabar Gembira di tengah kehidupan kita!

Saya tutup tulisan ini dengan kutipan dari Paus Benediktus XVI:

“Pewartaan Kristus dalam dunia teknologi baru mengharuskan pemahaman mendalam tentang dunia ini bila teknologi ditujukan untuk melayani misi kita dengan memadai. Pewartaan ini jatuh pada orang-orang muda secara khususnya, yang hampir memiliki hubungan erat yang spontan terhadap sarana-sarana komunikasi baru, agar mereka mengambil tanggung jawab untuk melakukan evangelisasi “benua digital” ini. Kabarkan Injil kepada orang-orang sejamanmu dengan antusias. Kamu mengetahui rasa takut dan pengharapan mereka, aspirasi dan kekecewaan mereka: karunia terbesar yang dapat kamu berikan kepada mereka adalah berbagi bersama mereka “Kabar Baik” tentang Allah yang menjadi manusia, yang menderita, wafat dan bangkit kembali untuk menyelamatkan semua orang. Hati manusia merindukan dunia di mana kasih bertahan, di mana karunia-karunia dibagikan, di mana kesatuan dibangun, di mana kebebasan menemukan maknanya dalam kebenaran, dan dimana identitas ditemukan dalam persekutuan yang saling menghormati. Iman kita dapat menanggapi pengharapan-pengharapan ini : semoga kamu menjadi pelopornya!”

Refleksi ini saya tulis untuk pertemuan Catechism Club dengan tema “Evangelisasi di Dunia Maya”

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: