Mengapa Musik Praise and Worship adalah Pujian (Praise), tapi Bukan Penyembahan (Worship)

ditulis oleh Revd. Fr. Christopher Smith.

Pertama kali aku menghadiri Life Teen Mass (Misa untuk anak muda) adalah ketika aku berusia 16 tahun. Saat itu malam tahun baru dan aku pikir, daripada pergi ke kota dengan teman-teman paganku, aku seharusnya menjadi katolik yang baik dan merayakan tahun baru bersama Yesus. Paroki yang mengadakan Life Teen Mass bukanlah parokiku, namun aku tetap pergi ke sana. Setiap orang mengatakan bahwa ada banyak orang seusiaku, yang serius terhadap iman mereka, dan saat itu adalah waktu dimana Roh Kudus memenuhi mereka. Beberapa temanku juga pergi ke sana, jadi apa yang lebih baik daripada ikut menghadiri Life Teen Mass?

Tapi sesegera Misa dimulai, aku merasa bahwa aku masuk ke dalam tanah tak bertuan yang terletak diantara katolisisme dan suatu bentuk protestanisme yang kabur, yang sebagai seorang convert aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Bukan musiknya yang tampak aneh bagiku. Aku tumbuh dengan musik kontemporer kristen disekitar rumah dan mendengarnya di radio (ketika aku tidak mendengarkan musik klasik atau musik dansa latin). Jadi aku kenal lagunya. Gereja penuh dengan anak SMA dan baby boomers dan mereka semua tampak saling mengenal dan mencintai satu sama lain.

Tapi selagi Misa berjalan, aku tetap memperhatikan hal-hal yang kuketahui dengan baik tidak ada dalam rubrik, suatu arahan tertulis berwarna merah dalam Missal yang memberitahu kita bagaimana merayakan Misa dengan pantas. Koordinator Life Teen telah memutuskan agar mereka memodifikasi Misa untuk dipantaskan bila dirasa perlu untuk membuat anak-anak terlibat. Dan maka ada tarian, saling menggenggam tangan, dan musik yang tidak berhubungan dengan teks Misa yang seharusnya.

Kemudian adalah waktunya untuk Doa Syukur Agung. Selebran mengundang semua anak-anak untuk mengelilingi altar. Karena Gereja cukup penuh, hal ini tidaklah praktis dan tidak berguna. Tapi semua orang berdiri dan membuat jalan seperti mosh pit (aku menunjukkan usiaku sekarang!) untuk mendekat ke altar. Aku berdiri dibelakang kursi. Dan tentu, selebran berpikir aku terlalu malu untuk maju ke depan sehingga ia mendorongku, dari altar, untuk bergabung dengan anak-anak lainnya. Aku sudah cukup disini, dan aku berteriak dari belakang,”Tidak, Romo, Aku seorang katolik, dan aku tidak melakukan hal tersebut”, dan aku mengeluarkan rosario dan berlutut untuk berdoa selagi aku mengamati Doa Syukur Agung menjadi lebih buruk, menjadi sesuatu yang mirip dengan  kultus bergairah yang kami pelajari tentang Sejarah Yunani Kuno.

Tidak hanya aku tidak pernah kembali ke Life Teen Mass, Aku memulai misa Minggu dengan pergi ke gereja ortodox. Disana aku merasa menyembah Allah dan tidak ada orang dewasa yang berusaha dan gagal untuk membuat agama relevan bagiku dengan mengasumsikan bahwa aku terlalu muda atau bodoh untuk mengerti penyembahan yang nyata. Ini terjadi 15 tahun sebelum aku berpartisipasi dalam peristiwa yang serupa. Saat ini, aku adalah seorang imam dan diminta untuk memimpin Jam Suci untuk orang muda. Pelayan muda di paroki ini sangat sensitif terhadap fakta bahwa Praise and Worship bukanlah favoritku, dan ia memperingatkanku lebih awal.

Selagi aku berlutut di depan Sakramen Maha Kudus, aku menyadari sesuatu. Orang yang mengatur musik saat ini adalah orang yang sama 15 tahun yang lalu. Musknya sama, lagu yang sama yang aku mainkan ketika aku berusia anak-anak yang berada di bangku gereja di belakangku. Bagaimana hal ini relevan? Tapi kali ini anak-anak yang berada di sana terlihat bosan. Aku bertanya apa yang mereka pikirkan tentang itu, dan seorang pria muda berkata “Well, tidak masalah. Kapan kami akan mengikuti Misa Latin, Romo?”

Dari semua teman-teman SMA ku yang merupakan anggota Life Teen, tidak seorangpun dari mereka yang tetap beragama katolik. Akankah anak-anak sekarang yang dibesarkan pada diet of Praise and Worship tetap mempraktekkan Iman [katolik] ketika mereka tidak lagi [menjadi bagian dari orang] berusia dewasa menengah di Gereja yang ingin menyediakan semua keperluan? Aku tidak tahu. Tapi pengalamanku telah membuatku merefleksikan mengapa musik Praise and Worship bukanlah musik yang pantas bagi liturgi :

1.Musik Praise and Worship mengasumsikan bahwa pujian adalah penyembahan

Semua orang dipanggil untuk mengangkat hati, pikiran dan suara didalam doa kepadaAllah. Jenis doa tertentu adalah pujian, ketika kita menyadari kebaikan, kekudusan dan kerahiman Allah melalui tindakan pujian kita. Pujian selalu ditemani oleh musik. Pujian selalu menjadi sesuatu yang terjadi pada tingkat individu atau kelompok kecil. Pujian sering kali bersifat spontan dan mengambil bentuk dan simbol kultural yang relevan . Pujian adalah sesuatu yang umum bagi semua orang Kristen dan banyak agama lainnya.

Penyembahan memang termasuk jenis pujian, dan musik adalah bagian integral darinya. Tapi liturgi suci adalah doa publik Gerja,  suatu penyembahan yang disatukan yang melaluinya umat katolik terbaptis masuk ke dalam Misteri yang bukan buatan mereka.[Penyembahan] menjadi suatu tindakan bersama , yang diatur oleh hukum dan tradisi untuk memelihara kesatuannya di seluruh dunia dan kesetiaannya kepada Pesan yang diwahyukan Allah. Penyembahan adalah tindakan umat Kristen yang telah dibaptis yang berkumpul oleh ikatan persekutuan dengan institusi Gereja yang kelihatan.

Musik praise and worship menyamakan penyembahan dengan pujian, dengan memindahkan hakekat pujian yang lebih bebas dan individualistik ke dalam doa komunal penyembahan Gereja .

2.Musik praise and worship mengasumsikan bahwa penyembahan, pada prinsipnya adalah sesuatu yang kita lakukan

Martin Luther mendefinisikan Misa sebagai kurban pujian. Misa adalah sesuatu yang kita serahkan kepada Allah. Konsili Trent dengan meriah mendefinisikan Misa menentang definisi Luther, bahwa Misa sebenarnya adalah kurban yang sejati. Misa adalah penghadiran kembali Kurban Kristus kepada Bapa-Nya di Kalvari dalam Roh Kudus. Misa adalah sesuatu yang Yesus lakukan, Penebusan, buah-buah yang dibagi dengan kita dalam Sakramen Komuni Kudus. Penyembahan bukan pujian, tapi Kurban dan Sakramen. Penyembahan adalah sesuatu yang Yesus Kristus bawa pada kita melalui Persembahan Diri-Nya kepada Bapa

Musik praise and worship mereduksi Misa menjadi kurban pujian yang kita persembahkan kepada Allah. Bahkan ketika pendukung musik praise and worship menyetujui ajaran Gereja tentang Misa, ini merupakan kebenaran iman yang abstrak. Konkretnya, kurban pujian kita dipindahkan ke dalam Kurban Penebusan. Hal ini tidak memperhatikan fakta bahwa Kurban Penebusan adalah Pujian tertinggi kepada Trinitas, dan partisipasi kita di dalamnya bukan melalui apa yang kita lakukan, tapi oleh kita sebagai umat Kristen yang telah dibaptis, di dalam kehidupan rahmat.

3. Musik praise and worship mengambil prinsip pertamanya : relevansi

Praise and worship menyadari bahwa musik itu penting dalam penyembahan Gereja. Tapi ia juga menyatakan bahwa musik harus “mencapai orang-orang dimanapun mereka berada”. Musik harus relevan bagi mereka yang mendengarnya. Relevansi merupakan gagasan yang ambigu. Apa yang relevan bagiku mungkin tidak relevan bagi orang lain, dan karenanya musik praise and worship memasukkan elemen subjektivisme yang didasarkan pada kepentingan manusia ke dalam liturgi.

Seringkali musik praise and worship diarahkan pada upaya missioner yang pura-pura. Gagasannya adalah, bila orang-orang menemukan musik di Misa sebagai sesuatu yang menarik atau relevan, mereka akan dibawa ke dalam hubungan yang lebih dalam dengan Allah. Namun iman adalah hadiah yang datang dari Allah, bukan dari kita. Musik praise and worship berupaya untuk membersihkan jalan bagi tindakan ilahi, seolah-olah relevansi bisa mencapainya.

4.Musik praise and worship mengambil prinsip keduanya : partisipasi aktif kelompok usia tertentu

Musik praise and worship melihat partisipasi aktif sebagai perbuatan yang dilakukan semua orang, bernyayi dan merasakan tentang Allah dalam cara tertentu saat Misa. Musik adalah sarana untuk menghasilkan tujuan akhir. Musik juga melihat ketiadaan orang muda di Gereja, dan berargumen bahwa bila musik di Misa lebih menyerupai [musik] orang muda dalam kehidupan mereka, mereka akan terbuka pada kehidupan yang berlimpah. Karenanya, musik praise and worship dirancang oleh orang-orang berusia dewasa menengah tanpa latar belakang teologis, liturgis atau musikal, untuk membujuk remaja dan anak kuliahan dengan latar belakang yang mirip, ke dalam lingkungan teologis, liturgis dan musikal. Lingkungan tersebut mereduksi liturgi menjadi tindakan pujian buatan manusia yang diatur untuk menghasilkan hasil yang apostolik.

5. Musik praise and worship dengan sadar diri membagi Gereja ke dalam kelompok usia dan selera

Musik praise and worship terutama dirancang atas dasar gagasan yang abstrak tentang apa yang disukai orang muda. Ia sering kali lebih merefleksikan trend masa lalu yang dekat dengan remaja partisipan musik praise and worship, daripada trend remaja aktual yang relevan saat ini.

Musik praise and worship juga cenderung meremehkan tradisi musik Gereja dengan mengklaim bahwa musik Gereja terlalu sulit, elegan, atau tidak relevan bagi remaja. Bagi mereka, musik praise and worship adalah musik yang demokratis, egaliter, relevan bagi anak muda. Sebaliknya, tradisi musik Gereja sering dilukiskan sebagai musik teatrikal, dan aristokrat untuk orang tua di aula konser.

Dengan selektif memilih gagasan abstrak tentang anak muda dan apa yang relevan baginya sebagai kriteria musik liturgis, musik praise and worship dengan efektif membagi Gereja berdasarkan apa dianggap sebagai sesuatu yang sesuai untuk anak muda dan tidak sesuai secara sewenang-wenang. Ia juga berargumen bahwa perbedaan “gaya” adalah baik untuk liturgi. Hal ini memperkenalkan liturgi dengan gagasan gaya yang ambigu dan selera sebagai prinsip dimana liturgi dan musiknya harus diatur.

6. Musik praise and worship menyingkirkan teks liturgis dan biblis selama Misa

Roman Missal mengandung antiphon untuk pembukaan dan Komuni yang secara normal adalah teks biblis. Roman Gradual, yang adalah sumber musik resmi Gereja untuk Misa, berisi antiphon untuk Persembahan juga untuk Nyayian antar bacaan (interlectionary). Semua ini dikenal sebagai Proper Misa. Missal dan Gradual juga berisi teks resmi Ordinari Misa untuk Kyrie (Tuhan kasihanilah), Kemuliaan, Kredo, Kudus-Kudus, dan Anak domba Allah.

Musik praise and worship menghindari opsi pertama dari  perintah hukum liturgi Gereja untuk musik saat Misa, yaitu Proper dan Ordinari Misa seperti yang terdapat pada buku-buku liturgi dan musikal Gereja. Musik praise and worship mengganti himne, yang bukan bagian dari Misa Romawi, atau membahasakan ulang Ordinari. Jika teks biblis digunakan, teks tersebut hampir atau sama sekali tidak berhubungan dengan teks yang ditunjuk oleh Gereja dalam Missal atau Gradual.

Dalam melakukan ini, Musik praise and worship membuat situasi dimana umat tidak menyanyikan msa (yaitu teks pada Missal dan Gradual), tapi mereka menyanyikan lagu saat misa yang dipilih dengan kriteria yang merusak, agar lagu-lagu yang dipilih “sejalan dengan bacan dan tema hari ini”. Musik praise and worship memisahkan musik Misa dari Misa dan menggantikannya dengan teks yang tidak Biblis atau liturgis.

7.Musik praise and worship mengasumsikan bahwa terdapat inti ajaran katolik yang terpisah/independen dari hukum liturgi Gereja dan tradisi

Banyak pendukung musik praise and worship mengasumsikan bahwa, selama mereka tetap percaya pada apa yang Gereja ajarkan dalam Katekismus tentang iman dan moral, bahwa liturgi bisa diadaptasi menjadi sebagaimana yang mereka pikirkan, bahwa sebuah ajaran harus diinkarnasikan ke dalam lagu. Ada beberapa orang yang tidak pernah berpikir untuk menyangkal artikel Kredo atau mendukung tindakan immoral yang dihukum oleh Magisterium. Tapi pendukung yang sama melihat liturgi sebagai area yang lain. Tuntutan apapun pada hukum liturgis atau tradisi ditolak menurut prinsip relevansi dan partisipasi aktif orang muda.

Ortodoksi kemudian dipisahkan dari Ortopraksis, kepercayaan yang benar dipisahkan dari penyembahan yang benar. Kekuatan Gereja untuk berbicara tentang iman dan moral dipertahankan namun kekuatan Gereja untuk menjaga liturgi melalui rubrik, hukum dan tradisi, dilupakan seperti legalisme buatan manusia. Dengan berbuat demikian, musik praise and worship mendukung sikap pasif, atau kadang-kadang mendukung perlawanan yang aktif terhadap kewajiban hirarki untuk menjaga karakter kekudusan dari ritus Gereja. Kesan diciptakan agar ada sesuatu seperti kepercayaan yang benar, tapi gagasan penyembahan yang benar bertentangan dengan Semangat Injil.

Hal ini menciptakan masalah persatuan antara imam dan umatnya, ketika imam berupaya untuk mereformasi liturgi dalam tempat yang diberikan, untuk membawa liturgi sejalan dengan hukum dan tradisi liturgis Gereja.

8. Musik praise and worship memanipulasi emosi untuk menghasilkan katarsis yang dilihat sebagai hal yang perlu bagi pertobatan spiritual.

Pertobatan terutama dilihat sebagai peristiwa dramatis emosional yang diikuti oleh perasaan yang kuat. Menyadari bahwa musik bisa menstimulasi perasaan, musik praise and worship bertujuan untuk menghasilkan peristiwa liturgis yang mengeluarkan perasaan yang selanjutnya bisa membawa katarsis emosional sebagai keharusan dalam pertobatan, Cara liturgi direncanakan dan musik dikembangkan dilakukan dengan tujuan untuk membantu proses pertobatan ini.

Namun ini bukanlah pertobatan yang sebenarnya. Pertobatan adalah pembentukan suara hati dalam rahmat Roh Kudus untuk memberitahu intelek dan menguatkan kehendak untuk menghidupi kehidupan supernatural yang berkeutamaan dalam persatuan dengan Kristus. Walaupun emosi terlibat dalam perziarahan pertobatan seumur hidup, manipulasi bebas, bahkan untuk akhir yang baik, merupakan suatu pelecehan. Manipulasi ini tidak melihat manusia siap untuk menanggapi panggilan ilahi, tapi sebagai sesuatu yang diutamakan demi pengalaman. Kenyataannya, kehidupan rahmat yang dibawa melalui pertobatan bukanlah pengalaman pada tingkat emosi, tapi sebuah pergerakan jiwa yang melampui emosi tersebut.

9. Musik praise and worship mencampurkan antara transendensi dengan perasaan

Manipulasi emosi yang dengan bebas dilakukan sering menghasilkan sentiment/emosi yang berlebihan. Kekuatan perasaan bisa membujuk seseorang untuk berpikir bahwa perbuatan seperti ini adalah karya Allah yang transenden dalam diri mereka. Bentuk-bentuk musikal yang sungguh transenden, di dalamnya mereka membebaskan diri dari emosi dan membawa pribadi melampaui emosi mereka, seperti lagu Gregorian, ditolak karena [lagu Gregorian/Gregorian Chant] tidak menyebabkan peristiwa emosional, yang dilihat sebagai bukti tindakan ilahi.

Tradisi spiritual Gereja telah mengajarkan kita untuk tidak mempercayai perasaan dan menghargai kekudusan Allah yang transenden. Tradisi spiritual Gereja juga mengajarkan bahwa manipulasi manusia terhadap intelek dan kehendak merupakan pelanggaran terhadap kebebasan manusia. Ketika hal ini dilakukan dalam nama Allah, ini juga pelanggaran terhadap kedaulatan Allah terhadap intelek dan kehendak manusia, karena hal ini menggantikan tindakan bebas Allah dalam jiwa dengan tipu muslihat untuk memunculkan tindakan manipulasi yang bisa terjadi secara teoritis.

10. Musik praise and worship menyangkal kekuatan hukum liturgis dan musikal dalam Gereja untuk mendukung interpretasi terhadap penyembahan yang sewenang-wenang dan individualis

Musik praise and worship mengabaikan hukum liturgis dan gereja dalam membuat relevansi dan mereduksi gagasan partisipasi prinsip fundamental demi mengatur peristiwa liturgis/emosional menuju katarsis emosional yang perlu bagi pertobatan. Seringkali pendukung musik praise and worship tidak pernah membaca dokumen Magisterium Gereja tentang liturgi dan musik, atau mereka membacanya dalam hermeneutic of rupture.

Hukum liturgis dan musikal gereja bertujuan untuk menjaga kesatuan, kemurnian dan kejelasan penyembahan Gereja. Musik praise and worship menawarkan kriteria lain bagaimana seharusnya Gereja menyembah. Pertama, ia memasukkan penyembahan liturgis yang sejati ke dalam rubrik pujian. Kedua, mereka yang bertanggung jawab terhadap pujian sering mengatur ritus dan musik berdasarkan prinsip yang asing terhadap [prinsip] yang mengatur hukum liturgis dan musikal Gereja. Ketiga, opini individual, kelompok kecil dan komite, yang sering kali tidak diikuti oleh edukasi teologis, liturgis dan musikal, lebih disukai daripada warisan musikal, teologis dan liturgis Gereja yang ditemukan dalam dokumen Gereja dan Missal serta Gradual.

11.Musik praise and worship mengutamakan kesegeraan pemahaman dan kemudahan artistik daripada makna berlapis dalam liturgi dan keunggulan artistik liturgi

Musik praise and worship lebih menyukai musik sederhana yang siapapun bisa memahami dan berpartisipasi dengan mudah. Ia juga lebih menyukai apa yang bisa dinyayikan atau dimainkan dengan latihan , instruksi, atau bakat yang minim.

Diet musik praise and worship yang konstan sepanjang tahun liturgis [maksudnya upaya untuk tidak mengambil makna liturgis yang berlapis serta keunggulan artistiknya secara konstan] memisahkan orang-orang dari doa aktual liturgis Gereja, seperti yang ditemukan dalam Missal dan Gradual. Ia juga menyangkal akses kepada karya seni yang dihasilkan Gereja sendiri, Lagu Gregorian, dan kepada transendensi. Ia juga memberi kesan bahwa Gereja tidak serius terhadap musik. Gagasan  keunggulan dalam gerak, suara dan pandangan liturgis dan bahwa Gereja adalah pelindung bentuk tertinggi dari ekspresi tersebut, diabaikan dalam mendukung apa yang paling mudah [dipahami].  Dalam melakukan ini, musik praise and worship tidak menginspirasi kaum muda dan orang tua untuk mengungkapkan kekayaan liturgi dan musik Romawi.

Ada banyak hal yang bisa dibahas. Dan aku juga yakin bahwa banyak temanku dari musik praise and worship akan menanggapi isu ini terhadap beberapa hal yang aku tulis. Berikut ini adalah hal penting untuk diingat bagi mereka yang terlibat dalam pelayanan Gereja :

  1. Tradisi liturgis dan musikal Gereja adalah bagian integral dari penyembahan, dan bukan tambahan yang diciptakan.
  2. Pujian adalah bentuk yang tinggi dari doa individu dan kelompok kecil, tapi bukan penyembahan seperti yang dipahami Gereja dalam doa publik liturgi
  3. Penyembahan terutama bukan sesuatu yang kita lakukan : penyembahan adalah persembahan diri Yesus Kristus kepada Bapa dalam Roh Kudus, yang buah-buahnya kita terima dalam Komuni Kudus. Penyembahan adalah Kurban dan Sakramen, bukan Pujian
  4. Relevansi adalah hal yang tidak berhubungan dengan liturgi yang bertujuan membawa manusia keluar dari ruang dan waktu untuk masuk dalam Keabadian
  5. Partisipasi dalam liturgi terutama adalah partisipasi batin, melalui persatuan jiwa dengan Kristus yang merayakan liturgi. Eksternalisasi apapun dari partisipasi batin tidak bermakna kecuali terdapat partisipasi batin disana
  6. Harta karun musik suci Gereja tidak terbatas pata usia, budaya, status sosial ekonomi atau bahkan kelompok religius. Ia adalah warisan umum bagi kemanusiaan dan sejarah
  7. Gereja harus menyanyikan Misa, yaitu teks biblis dan liturgis yang terdapat dalam Missal dan Gradual, bila sebuah nyayian disatukan dalam Penyembahan Gereja dan bukan hanya Pujian yang dirancang oleh sekelompok orang
  8. Ajaran katolik tentang iman dan moral harus selalu disertai oleh rasa hormat terhadap ajaran dan hukum liturgi dan musikal Gereja
  9. Dengan sengaja memanipulasi emosi manusia untuk menghasilkan dampak religius merupakan pelanggaran, ketidak tulusan dan rasa tidak hormat terhadap kuasa Allah untuk membawa pertobatan dalam hati manusia
  10. Sementara musik mempengaruhi emosi, musik suci harus selalu berhati-hati untuk lebih memilih kekudusan transenden Allah daripada kebutuhan emosional manusia yang imanen.
  11. Harta karun musik suci Gereja menginspirasi dan mengharuskan adanya perhatian tertinggi pada keunggulan artistiknya. Ini juga hadiah yang tidak dapat diukur bagi Gereja, dan harus selalu dihadirkan kepada umat beriman agar mereka menikmati kekayaan hadiah tersebut.
Apakah aku berpikir bahwa musik praise and worship memiliki tempat dalam kehidupan Gereja? Tentu. Musik adalah pujian, musik adalah doa, musik membantu umat mengarahkan pikiran dan hati mereka kepada Allah. Tentu ada tempat bagi musik tersebut didalam Gereja. Tapi musik ini bukan Penyembahan dan doa liturgi komunal, yang olehnya Allah menyatukan diri-Nya dengan kita, harus diijinkan untuk menjadi dirinya. Kita tidak boleh menjadi sinis untuk berpikir bahwa umat katolik terlalu muda atau tua, atau terlalu bodoh dan pintar, dan terlalu lemah secara spiritual ataupun acuh, untuk mendoakan liturgi Gereja seperti yang ditunjukkan pada Missal dan Gradual. Musik tradisi Gereja merupakan hadiah Gereja kepada manusia. Mari mendoakan Misa, mari menyanyikan Misa sebagai penyembahan. Maka pujian kita akan menjadi pantas oleh nafas Roh, karena Kristus melalui Tubuh Mistik-Nya akan menyanyikan pujian Bapa didalam kita.

Sumber.

About these ads

Tentang Cornelius

"The day will come, dear boy, when you must decide whether to die within the Church or outside the Church. I have decided to die within the Church." - Malcolm Muggeridge Lihat semua tulisan milik Cornelius

Pengunjung yang berkomentar bertanggung jawab atas tulisannya sendiri, semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengedit semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.389 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: