Panduan Katolik untuk Bertahan Hidup dalam Pandemi Coronavirus COVID-19 (Bagian Kedua)

Panduan Katolik untuk Bertahan Hidup dalam Pandemi COVID-19

Bagian Kedua

Seni Menyambut Ajal dengan Baik (Ars Moriendi)

dan Doa untuk Kematian yang Bahagia (Bona Mors)

oleh Diakon Nick Donnelly

Pandemi coronavirus COVID-19 telah membuat prospek kematian menjadi semakin dekat bagi banyak orang di antara kita. Ilusi bahwa kita akan hidup sampai berusia tua, yang membuat kematian tampak menjadi ancaman yang jauh di sana, telah dihancurkan, dan membuat kita menghadapi kebenaran akan kefanaan kita. Beberapa dari kita menderita penyakit serius karena COVID-19, bahkan komplikasi yang mengancam kehidupan. Protokol karantina yang ketat untuk menghentikan penyebaran virus dan melindungi petugas kesehatan berarti bahwa kemungkinan besar kita tidak dapat menerima pelayanan pastoral dari imam kita di waktu ajal. Inilah prospek yang secara tepat berkaitan dengan banyak orang di antara kita saat ini. Kita merasakan kegelisahan mendalam lantaran ditelantarkan sendiri untuk menanggung pencobaan yaitu meninggal tanpa kehadiran bapa rohani kita.

Dalam situasi seperti ini, familiaritas dan praktik dua devosi tradisional akan membantu kita menghadapi kematian dengan kedamaian hati yang lebih besar, dengan ketenangan dan ketentraman yang memampukan kita meninggal dengan pengharapan Kristiani. Dua devosi tradisional tersebut adalah Ars Moriendi dan Bona Mors – seni menyambut ajal dan doa untuk kematian yang bahagia. Bahkan bila kita muda dan sehat, kita akan memperoleh manfaat dari dua devosi ini yang membantu kita hidup seturut perspektif Kehidupan Kekal.

Kristus yang Bangkit mengubah kematian

Kematian adalah konsekuensi mengerikan dari dosa Orang Tua Pertama kita yang mengungkapkan murka dan amarah Allah (Kej 2:17; cf. Council of Trent’s Decree on Original Sin,1.) Kematian juga merupakan perwujudan yang amat buruk dari penahanan kita oleh iblis yang ‘berkuasa atas maut’ (Ibr 2:14). Sebagaimana dijelaskan St. Agustinus:

“Oleh sebab itu, kita harus berkata bahwa manusia pertama memang diciptakan, sehingga bila mereka tidak berdosa, mereka tidak akan mengalami kematian macam apapun; tetapi karena mereka menjadi pendosa, mereka dihukum dengan kematian, dan apapun yang berasal dari keturunan mereka juga akan dihukum dengan kematian yang sama. Karena tidak ada lagi yang dapat lahir dari mereka selain dari apa yang mereka miliki. Kodrat mereka memburuk selaras dengan besarnya hukuman atas dosa mereka, sehingga apa yang ada sebagai hukuman dalam diri mereka yang berdosa pertama kali, menjadi konsekuensi kodrati dalam anak-anak mereka” (St. Augustine. The City of God, Book XIII, Chap. 1).

Untuk alasan ini saja maka dapat dipahami mengapa individu memiliki ketakutan alami akan kematian, bahkan bila mereka tidak menyadari asal usul adikodrati dari rasa takut ini. Selagi kematian mendekat, kita semua harus berjuang melawan kengerian asali ini, – yang mana – tanpa penguatan iman Kristen dan hidup sakramental – dapat membebani kita.

Kebangkitan Tuhan kita mengubah segalanya. Sebagaimana dijelaskan St. Thomas Aquinas, Kebangkitan adalah ‘awal dan teladan dari semua hal baik’ (ST III q.53 a.1, ad 3) – ‘Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati’ (Yoh 11:25).

Melalui kemanusiaan yang diangkat oleh Putra Allah, Kristus memikul melalui wafat-Nya di Salib hukuman atas murka dan amarah Allah dan membebaskan manusia dari tawanan atas kuasa iblis terhadap kematian:

“Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?”… Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Kor 15:54-55, 57)

Dari penaklukkan Tuhan kita atas maut dan Setan, Seni Menyambut Ajal dengan Baik dan Doa untuk Kematian yang Bahagia memperoleh kuasanya untuk mengubah pengalaman akan kematian. Mereka merampas maut dari sengatnya dengan membawa kita lebih dalam menuju partisipasi baptisan kita dalam wafat dan kebangkitan-Nya (Rm 6:4).

Seni Menyambut Ajal dengan Baik

Dalam meditasinya yang ternama, yang panjangnya seperti sebuah buku, St. Robertus Bellarminus SJ, mengawalinya dengan mengemukakan harapan Kristiani yang hakiki yang menyegarkan devosi ini – walau kematian tidak dapat dianggap sebagai hal baik dalam dirinya karena ia berasal dari dosa, Allah dalam hikmat penyelenggaraan-Nya telah ‘membumbuinya…sehingga dari kematian banyak berkat akan muncul’. Berkat terbesarnya ialah maut dapat menjadi pintu gerbang dari penjara kehidupan duniawi ini menuju Kerajaan Allah. Jadi, titik awal Bellarminus dalam seni menyambut ajal dengan baik adalah bahwa melalui rahmat Kristus, ‘maut bagi orang baik tidak tampak mengerikan, namun manis; tidak menakutkan namun menawan’. Sikap semacam ini terhadap kematian dicontohkan oleh St. Paulus ketika ia menulis, ‘Bagiku hidup adalah Kristus; dan mati adalah keuntungan’ (Fil 1:21).

Prof. Eamon Duffy, dalam bukunya yang penting mengenai Katolisisme pra-Reformasi di Inggris, menetapkan tujuan dan unsur-unsur pedoman abad pertengahan yang menuntun para imam dalam persiapan mereka menghadapi orang sakit parah untuk menyambut kematian. Praktik-praktik pastoral ini membentuk struktur dan isi dari Ars Moriendi. Ia mencakup beberapa unsur berikut ini:

Pertama. Imam memberikan orang sekarat sebuah Salib yang dipegang di hadapan wajah mereka untuk menghibur mereka ‘bahwa dalam gambar tersebut mereka dapat menyembah penebus mereka dan mengingat sengsara-Nya, yang ia derita demi dosa-dosa mereka’ (The Stripping of the Altars, p. 314). Mistikus Inggris Yuliana dari Norwich menggambarkan efek pemberian Salib ini padanya selagi ia berbaring lantaran sakit yang serius. “Seorang klerus menghadapkan salib ke wajah saya dan berkata: Putri, saya telah membawakan anda gambar penyelamatmu. Pandanglah ia dan ambillah penghiburan darinya, sembari menghormati-Nya yang wafat demi kamu dan saya” hal. 128 (Julian of Norwich: Showings.)

Kedua. Ars Moriendi menekankan penghiburan yang diperoleh dengan merenungkan Kristus yang tersalib menggunakan meditasi populer dari St. Bernard. Meditasi ini menggambarkan Yesus di salib dengan tangan-Nya yang terentang, kepala-Nya menunduk, untuk memeluk dan mencium pendosa, luka di lambung-Nya menyingkapkan kasih-Nya yang membara. Asal usulnya adalah penglihatan mistik St. Bernard ketika ia melihat Kristus yang tersalib menunduk dari salib untuk memeluk dan mendukungnya. Bela rasa Kristus yang Tersalib kepada pendosa adalah tema umum dalam tulisan-tulisan St. Bernard:

“Dunia gusar, daging itu berat, dan iblis meletakkan jeratnya, tetapi aku tidak jatuh, karena kakiku tertanam di atas batu karang yang teguh. Saya mungkin berdosa berat. Hati nurani saya tertekan, tetapi ia tidak akan kacau, karena saya akan mengingat luka-luka Tuhan: Ia dilukai karena kesalahan-kesalahan kita. Dosa apa yang begitu mematikan yang tidak dapat diampuni oleh kematian Kristus? Dan, bila saya mengingat obat yang kuat dan efektif ini, saya tidak pernah bisa merasa takut karena keburukan dosa” (Sermo 61, 3-5.)

Ketiga. Dalam konteks inilah, wafat Tuhan kita di salib bagi dosa kita dan bela rasa-Nya bagi para pendosa, para imam bertanya pada orang sekarat untk mendorong dalam semangat pertobatan jujur – yang hanya percaya pada penderitaan Kristus yang menebus. Seperti yang ditulis St. Agustinus: “Betapa tidak berdosanya hidup anda, tidak ada satupun orang Kristen yang mengambil risiko untuk mati dalam kondisi apapun selain kondisi seorang yang bertobat” (dikutip oleh Uskup Richard Challoner in his Garden of the Soul). Eamon Duffy menjelaskan bahwa tujuan pertanyaan ini adalah untuk membawa orang Kristen yang sekarat menuju pengetahuan akan kondisi mereka, bahkan bila ia terganggu dan merasa takut atasnya; karena lebih baik mengganggu orang sekarat dengan rasa takut dan ngeri yang bermanfaat daripada membiarkan mereka jatuh dalam hukuman abadi. Tujuan hal ini adalah membangkitkan dari orang sekarat pernyataan iman dalam Kristus dan pertobatan sejati dari dosa-dosa mereka.

Keempat. Pernyataan iman dan pertobatan demikian bermaksud untuk menguatkan orang sekarat dalam menanggung serangan terakhir iblis:

“Waktu ajal adalah pusat perjuangan heroik bagi jiwa orang Kristen, ketika iblis mengerahkan segenap tenaganya untuk membuat jiwa berpaling dari Kristus dan salib-Nya menuju kejijikan diri dan ketergantungan-diri. Terhadap godaan-godaan ini salib dan para prajurit yang telah ditebus berkumpul untuk membantu orang Kristen yang sekarat. Kamar menjadi medan pertempuran yang ramai yang berpusat pada penderitaan terakhir pria dan wanita yang berbaring di tempat tidur.” (Duffy, p.317.)

Dengan mengikuti prinsip bahwa peringatan berarti persiapan, maka Ars Moriendi mempersiapkan jiwa orang Kristen untuk mengenali dan menanggung lima godaan iblis selagi mereka menyambut ajal:

  1. Godaan terhadap iman. Pada momen terakhir, orang Kristen yang sekarat akan digoda untuk murtad, yang terhadapnya mereka harus berdoa bagi keutamaan iman dan dengan teguh membarui Iman Baptisan mereka.
  2. Godaan keputusasaan. Iblis menggoda orang sekarat untuk merasa putus asa akan pengampunan Allah dengan menyajikan dosa-dosa yang mematikan sebagai dosa yang tak terampuni, yang harus dilawan dengan doa untuk keutamaan harapan akan pengampunan Allah.
  3. Godaan terhadap ketidaksabaran yang dipenuhi amarah. Orang sekarat digoda untuk menolak kehendak permisif Allah atas diri mereka dengan menanggung sakit dan kematian, yang diungkapkan melalui ketidaksabaran dan frustrasi terhadap situasinya dan orang yang merawatnya. Hal ini harus dilawan dengan kesadaran untuk bersabar, mengendalikan diri dan kasih.
  4. Godaan kepada kesombongan. Berhadapan dengan berkurangnya kekuatan dan kendali, orang sekarat digoda iblis untuk mati-matian melekat erat kepada rasa aman yang palsu yang terpusat pada pencapaian masa lalu dan status sosial. Alih-alih tenggelam dalam ilusi ini, orang Kristen harus menerima penilaian yang jujur akan dosa-dosanya dan mengembangkan kerendahan hati yang terungkap dalam ketergantungan total kepada Allah.
  5. Godaan akan kelekatan yang tamak terhadap orang-orang dan harta milik. Selagi seseorang menghadapi kemiskinan ekstrim lantaran akan meninggal, iblis akan menggoda kita untuk melekat pada relasi dan harta milik kita. Untuk melawan ilusi ini, orang sekarat harus berusala lepas bebas, menerima pelepasan daya-daya jiwa dan rasa aman yang familiar, dan menyerahkan diri kepada Allah, “Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku” (Luk 23:46).

Kelima. Ars Moriendi menguatkan dan mendorong orang Kristen yang menghadapi pertempuran melawan iblis dengan meyakinkan mereka akan kehadiran aktif dan bantuan langsung para malaikat dan orang kudus. Ia mengingatkan mereka bahwa mereka ada bersama dengan kawanan para pendosa besar yang bertobat dan menjadi orang kudus yang agung, seperti St. Petrus, St. Maria Magdalena, St. Dismas, pencuri yang baik, dan St. Paulus. Dalam puisi heroiknya, Dream of Gerontius, St. John Henry Newman menggambarkan peran yang dimainkan Malaikat Pelindung kita di waktu ajal, yang membantu jiwa menghadapi Penghakiman Allah dan melindunginya dari serangan terakhir para iblis.

Keenam. Keluarga dan sahabat memainkan peran penting pada saat orang sekarat menghembuskan nafas terakhir dengan mendoakan doa-doa pujian dengan lantang. Seperti yang dinyatakan dalam rubrik mengenai Doa untuk Orang Sekarat yang ditetapkan dalam Missale Romawi tradisional:

“Ketika momen ajal mendekat, maka semua yang berdiri di sebelah tempat tidur harus berdoa dengan kesungguhan hati yang besar, dan dengan berlutut. Bila orang sekarat masih mampu, ia harus berkata: Yesus, Yesus, Yesus. Bila ia tidak bisa, seseorang yang berdiri di dekatnya, atau imam itu sendiri, yang harus melakukannya dengan suara yang jelas.”

Ars Moriendi untuk Pandemi COVID-19

Berhadapan dengan prospek dikarantina di rumah sakit dan tidak menerima bantuan imam kita dan keluarga saat ajal, merupakan hal bijaksana untuk menerapkan seni menyambut ajal dengan baik sebagai devosi yang teratur. Hal berikut ini dapat disesuaikan dengan situasi sekarang, yang berlandaskan praktik tradisional:

Pandanglah Salib, atau bayangkan salib dalam pikiran atau imajinasimu, dan sembahlah penebusmu. Ingatlah sengsara-Nya yang Ia tanggung demi dosa-dosamu.

Renungkanlah bela rasa Penyelamat-Mu kepadamu sebagai pendosa. Bayangkan Yesus di salib dengan tangannya terentang, kepalanya menunduk, memeluk dan mendukungmu, membantumu menghadapi dosa-dosamu.

Lakukanlah pemeriksaan batin secara umum, mintalah Roh Kudus untuk menyingkapkan dosa-dosa hidupmu. Mintalah rahmat pertobatan yang jujur, jangan berdalih atau membenarkan perbuatan dosamu, percayalah hanya kepada penderitaan Kristus yang menebus. Bila kamu sadar akan dosa berat atau serius, mintalah rahmat untuk melakukan sesal sempurna, yang akan mengampuni bahkan dosa-dosa tersebut dalam ketidakhadiran imam (dengan syarat tertentu).

Berharaplah untuk menjalani serangan terakhir iblis selagi kamu akan mati. Berdoalah untuk memperoleh rahmat berikut:

Terhadap murtad – berdoalah untuk keutamaan Iman dan tegaskanlah kembali Iman baptisanmu.

Terhadap keputusasaan atas dosa – berdoalah untuk keutamaan Harapan dalam pengampunan Allah.

Terhadap amarah karena akan mati – berdoalah untuk keutamaan kasih agar dapat bersabar.

Terhadap kelekatan pada kesombongan – berdoalah untuk kerendahan hati dan ketergantungan total kepada Allah.

Terhadap kelekatan pada hidup ini – berdoalah bagi sikap lepas bebas dan penyerahan diri kepada kehendak Allah.

Pada waktu pencobaan, katakanlah selalu, “Ya Yesusku, kasihanilah aku! Maria, tolonglah aku!”

Berdoalah bagi pertolongan malaikat pelindungmu dan persekutuan para kudus, khususnya St. Petrus, St. Maria Magdalena, St. Dismas (pencuri yang baik), dan St. Paulus.

Bila tidak mampu menerima Viatikum karena ketidakhadiran imam, lakukanlah komuni rohani dengan merindukan secara kuat untuk menerima Komuni Suci.

Di waktu ajal berdoalah dengan lantang di dalam hatimu, ‘Yesus, Yesus, Yesus’ atau ‘Yesus, Maria, dan Yoseph, aku memberikan kepadamu hatiku dan jiwaku.’

Doa untuk Kematian yang Bahagia

Dahulu kala, berdoa untuk kematian yang bahagia merupakan praktik devosional populer, khususnya ketika kematian yang mendadak dan tak terduga adalah realita umum dalam kehidupan sehari-hari. Pada abad ke-17, kaum Jesuit, dengan persetujuan Kepausan, mendirikan Konfraternitas Bona Mors untuk “mempersiapkan para anggotanya dengan hidup yang ditata dengan baik untuk meninggal dalam damai dengan Allah.” Richard Challoner, Uskup Inggris yang ternama selama Penal Times, menyertakan dalam buku devosionalnya berjudul Taman Jiwa, Litani untuk Kematian yang Bahagia, yang dikarang oleh ‘seorang Wanita Muda, yang pada usia sepuluh tahun, bertobat kepada iman Katolik, dan wafat di usia delapan belas tahun, yang memancarkan reputasi kekudusan.’

St. Yoseph, Pelindung bagi Kematian yang Bahagia

Unsur yang hakiki dari devosi ini adalah penghormatan kepada St. Yoseph sebagai pelindung untuk kematian yang bahagia. Asosiasi dengan St. Yoseph di waktu ajal dapat ditelusuri kembali ke teks devosional abad kelima, Hidup St. Yoseph Sang Tukang Kayu, yang membayangkan St. Yoseph, dalam rasa takut akan kematian yang akan datang, dihibur oleh Yesus. Yoseph berkata kepada Yesus:

“Salam! Putraku yang terkasih. Sungguh, penderitaan dan ketakutan akan kematian telah menyelimutiku; tetapi begitu aku mendengar suara-Mu, jiwaku tenang. Ya Yesus dari Nazaret! Yesus, Juruselamatku! Yesus, pembebas jiwaku! Yesus, pelindungku! Yesus! Nama terindah di mulutku, dan di mulut semua orang yang menyukainya! Wahai mata yang melihat, dan telinga yang mendengar, dengarkan aku! Aku adalah hamba-Mu; hari ini dengan sangat rendah hati aku menghormati-Mu, dan di hadapan-Mu aku mencurahkan air mataku. Engkau adalah Allahku.”

Sejak abad ke-5, gambaran populer akan wafat St. Yoseph yang memperlihatkan dirinya dipeluk oleh Yesus dan Maria, merupakan gambar yang sempurna akan kematian yang bahagia. St. Alfonsus Ligouri menyajikan kematian St. Yoseph sebagai kematian Kristiani yang ideal:

“Dan dengan bantuan yang diberikan Yesus dan Maria kepadamu di waktu ajal, aku memohon kepada-Mu untuk melindungiku dengan cara khusus di saat ajalku, sehingga dalam kondisi sekarat, dengan dibantu oleh-Mu, dalam pendampingan Yesus dan Maria, aku dapat pergi untuk berterima kasih kepada-Mu di surga, dan dalam pendampingan-Mu aku memuji Allah untuk selama-lamanya. Amin.”

Rm. Francis Filas SJ mengamati bahwa “tiada pemandangan di tempat tidur di waktu ajal yang dihadiri para saksi yang lebih membawa penghiburan.”

Banyak paus telah mendukung penghormatan kepada St. Yoseph sebagai Pelindung untuk Kematian yang Bahagia. Dalam doanya kepada St. Yoseph, Paus Leo XIII menulis, “Lindungilah kami dalam perlindunganmu, agar, dengan mengikuti teladanmu dan dikuatkan oleh pertolonganmu, kami dapat menjalani hidup yang suci, dan wafat dengan kematian yang bahagia, dan mencapai kebahagiaan abadi di Surga. Amin.” Paus Benediktus XV mendukung umat beriman untuk memanggil St. Yoseph pada hari Rabu sebagai pelindung untuk kematian yang bahagia. Ia mendesak uskup-uskup sedunia untuk menyebarkan devosi kepadanya:

“Khususnya karena dia dianggap sebagai pelindung paling efektif untuk orang meninggal, sebagaimana Ia wafat dalam kehadiran Yesus dan Maria, maka tergantung pada para Gembala Suci untuk memperkenalkan dan menyebarkan, dengan segenap martabat dari wewenang mereka, doa-doa saleh yang ditetapkan untuk memanggil St. Yoseph bagi orang yang meninggal, seperti ‘doa untuk mengalami kematian yang bahagia’, ‘doa kematian St. Yoseph untuk penderitaan sehari-hari (Transit of S. Joseph for everyday agonising).’

St. Yoseph, Teror bagi Iblis

Dalam terang serangan terakhir iblis menjelang ajal, amat masuk akal untuk memanggil St. Yoseph, ‘Sang Teror bagi iblis’ sebagaimana ia digambarkan dalam Litaninya. Ia dipercaya oleh Allah dengan keutamaan dan rahmat untuk melindungi Putra Allah dan Perawan Maria, maka dengan tepat ia membuat takut iblis dan kawanannya. Sebagai ayah angkat Yesus, yang kepada otoritasnya Yesus patuh padanya (Luk 2:51), dan sebagai mempelai yang murni dari Bunda Allah, St. Yoseph menempati tempat khusus di Surga. Romo Antony Patrigani menulis tentang tempat khusus St. Yoseph di Surga dalam bukunya berjudul A Manual of Practical Devotion to the Glorious Patriarch St. Joseph (1885):

“Lucifer sadar akan hal ini, dan karenanya dengan takut dan gentar ia mendekati tempat tidur orang yang sedang sekarat, yang selama hidupnya, telah menjadi hamba sejati St. Yoseph. Ia tahu bahwa Penyelamat Ilahi kita, guna menghadiahkan orang kudus besarnya karena telah menyelamatkan-Nya dari pedang Herodes dan dari kematian yang fana, telah memberikannya privilege khusus untuk melindungi orang meninggal yang selama hidupnya memandang dirinya sebagai pelindung mereka dari kuasa iblis dan kematian abadi…[mereka] yakin bahwa di bawah perlindugannya mereka dapat menemukan keamanan terbaik melawan tipudaya Setan pada krisis yang besar itu, ketika amarahnya diangkat ke puncak tertinggi saat mangsanya hendak melarikan diri darinya selamanya.”

Bona Mors dalam Pandemi COVID-19

Selagi masih ada waktu, jadikanlah doa untuk kematian yang bahagia sebagai praktik sehari-hari anda, sehingga, bila anda terinfeksi coronavirus COVID-19 dan mengembangkan komplikasi serius yang mengancam nyawa, doa tersebut sudah menjadi bagian hidup doa sehari-hari anda. Dengan cara ini, anda bisa merasa yakin bahwa melalui perlindungan dan perantaraan St. Yoseph anda akan mengalahkan godaan terakhir iblis dan dikaruniakan rahmat untuk mengalami kematian yang bahagia.

  1. Doa Konsekrasi kepada St. Yoseph

St. Yoseph yang terkasih, saya mengkonsekrasikan diri saya demi kehormatanmu dan memberikan diri saya kepadamu, agar engkau selalu menjadi bapa saya, pelindung saya, dan pembimbing saya di jalan keselamatan. Perolehkan bagi saya kemurnian hati yang lebih besar dan kasih membara bagi hidup batin saya. Dengan mengikuti teladanmu, semoga semua yang saya lakukan dilakukan demi kemuliaan Allah yang lebih besar, dalam persatuan dengan Hati Yesus yang Ilahi dan Hati Maria yang Tak Bernoda. Ya St. Yoseph, doakanlah saya, agar saya dapat ambil bagian dalam damai dan sukacita dari kematianmu yang suci. Amin.

  1. Seringlah mendoakan Doa kepada St. Yoseph untuk Kematian yang Bahagia

St. Yoseph yang mulia, lihatlah aku memilih engkau hari ini sebagai pelindung khususku dalam hidup dan di saat ajalku. Lindungi dan tambahkanlah di dalam diriku semangat doa dan bakti kepada Allah. Hapuskanlah dariku segala jenis dosa; perolehkan bagiku agar kematianku tidak mendatangiku tanpa aku menyadarinya, tetapi agar aku dapat memiliki waktu untuk mengakukan dosa-dosaku dan meratapinya dengan pemahaman yang paling sempurna dan dengan sesal yang paling tulus dan sempurna, agar aku dapat menghembuskan jiwaku ke dalam tangan Yesus dan Maria. Amin.

  1. Doakanlah Doa Universal St. Luigi Guanella bagi Orang Meninggal

St. Yoseph yang Mulia, ayah angkat Putra Allah dan suami sejati Perawan Maria yang suci, doakanlah kami dan saudara-saudara kami yang menderita pada hari ini (atau malam ini).

Sebagai penutup, dalam situasi normal, bijaklah bila kita melakukan seni menyambut ajal dengan baik dan doa untuk kematian yang bahagia sebagai praktik yang teratur karena kita masing-masing akan menghadapi ajal kita. Tapi dalam situasi pandemi COVID-19 yang luar biasa ini, akan lebih perlulah untuk melakukan devosi ini guna menyiapkan kemungkinan bahwa kita akan menghadapi ajal kita tanpa bantuan imam dan keluarga. Bila kita harus menghadapi kematian seperti ini, kita dapat merasa yakin akan perlindungan St. Yoseph dan kehadiran Tuhan Kita dan Perawan Maria yang menghibur kita. Mari kita menjadikan doa Padre Pio ini sebagai milik kita:

“Sekarang [hari] semakin larut dan kematian mendekat, aku takut akan kegelapan, godaan, kekeringan, salib dan kesedihan. Betapa aku membutuhkanmu, Yesusku, di malam pengasingan ini! Tinggalah bersamaku, ya Tuhan, karena di waktu ajalku, aku ingin tetap bersatu dengan-Mu, bila tidak dengan Komuni setidaknya dengan rahmat dan kasih.”

Artikel berikut ditulis oleh Diakon Nick Donnelly dan diterbitkan di blog Rorate Caeli, diterjemahkan oleh Cornelius.

%d blogger menyukai ini: