[Review] “Love and Responsibility” oleh Karol Wojtyla

loveresponsibilityJudul: Love and Responsibility

Penulis: Karol Wojtyla

Penerbit: Ignatius Press

Jumlah halaman: 319 halaman

Reviewer: Cornelius


Apa sih sebenarnya arti cinta itu? Apakah cinta hanya perasaan semata yang datang dan pergi? Atau, ada sesuatu yang lebih dalam, lebih bermakna dari cinta itu sendiri? Bagaimana sebaiknya orang Katolik belajar tentang arti cinta? Buku ini menjawabnya!

Berikut ini adalah tulisan saya yang menceritakan isi buku tersebut, silakan dinikmati:

 

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan… (1 Kor 13 : 4-8)

14 Februari adalah hari Valentine atau hari kasih sayang dimana manusia saling mengekspresikan cintanya melalui berbagai bentuk, entah itu coklat, puisi, mawar serta berbagai ungkapan cinta lainnya. Namun sayangnya hari kasih sayang ini tidak diikuti dengan pemahaman yang tepat akan cinta, khususnya cinta yang sejati. Bukan tidak mungkin bahwa hari Valentine dijadikan sebagai ajang untuk mengumbar nafsu seksual di berbagai belahan dunia lain. Oleh karena itulah, maka saya akan sedikit membagi insight yang saya dapatkan dari buku yang berjudul Love and Reponsibility by Karol Wojtyla. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi anda!

Loving VS Using

Lawan dari cinta bukanlah benci, melainkan memanfaatkan. Ketika individu memanfaatkan kekasihnya sebagai objek untuk suatu tujuan yang bersifat seksual dan emosional, maka sebenarnya apa yang ia cari hanyalah kenikmatan yang diperoleh dari sebuah cinta yang semu. Inilah bahaya dari hedonisme dan utilitarianisme, dimana kenikmatan dijadikan sebagai suatu prinsip utama dalam kehidupan yang harus dicari dan dikejar. Sebuah ideologi yang bila diperiksa lebih lanjut, mengajarkan suatu perilaku untuk mencari apa yang terlihat baik, benar dan indah, bukan mencari apa yang sungguh baik, benar dan indah. Suatu ideologi yang merendahkan martabat seorang manusia.

Berbicara tentang cinta selalu identik dengan perasaan. Apa yang kita rasakan awalnya berasal dari indra serta persepsi kita terhadap diri seseorang, yang kemudian diproses secara kognitif dan melibatkan emosi. Tapi cinta sejati bukan sekedar perasan. Perasaan, seberapa besar atau kuatnya, sama sekali bukanlah ukuran dari cinta yang sejati. Jadi apa itu cinta sejati? Mari kita mengeksplorasi lebih lanjut tentang ini.

Friendship and Attraction

Cinta berkembang dari persahabatan, dimana fondasi persahabatan yang kokoh menurut Aristoteles adalah suatu tujuan bersama yang baik, yang terpusat bukan pada diri kita, melainkan pada kebaikan yang kita inginkan bagi sahabat kita.

Berawal dari persahabatan, lalu berkembang melalui attraction. Seseorang bisa mengalami attraction juga karena adanya dorongan seksual dalam diri manusia, suatu dorongan untuk mencari pribadi yang berbeda jenis kelamin. Dorongan seksual ini adalah sesuatu yang bisa dikendalikan manusia, karena manusia memiliki kehendak bebas dan akal budi untuk membedakan yang baik dan benar, yang buruk dan salah.

Manusia kemudian akan tertarik pada ciri-ciri yang terdapat pada suatu individu, baik itu secara fisik dan juga psikologis (kepribadian, perilaku, sikap, dst). Sebut saja ketertarikan untuk hal yang bersifat fisik/sensual sebagai ketertarikan sensual , dan ketertarikan untuk hal yang bersifat psikologis atau emosional sebagai ketertarikan emosional. Perlu ditekankan bahwa kedua hal ini bukanlah cinta, melainkan suatu bahan mentah yang harus diolah untuk membentuk cinta sejati.

Self-Giving Love : Understanding The Two Sides of Love 

Berdasarkan kedua hal tersebut, maka cinta bisa kita katakan sebagai suatu proses mental yang dialami manusia. Perasaan atau “chemistry” yang dirasakan merupakan suatu “situasi psikologis”. Tapi cinta tidak berhenti hanya pada aspek subjektif saja. Terdapat pula aspek objektif dalam cinta, yaitu ketika seorang individu berusaha untuk mencari kebenaran tentang orang yang ia cintai. Ia tidak terbuai pada ciri fisik serta karakteristik psikologis saja, melainkan berusaha untuk mengenal siapa sesungguhnya pribadi yang ia cintai itu. Hal ini penting agar orang yang kita cintai itu adalah pribadi yang nyata, bukan pribadi dimana kita memproyeksikan kriteria-kriteria yang kita harapkan dari orang yang ingin kita cintai, dan menjadi sebuah pribadi yang semu, palsu.

Selain itu, aspek objektif cinta juga melibatkan suatu pemberian diri yang bersifat timbal balik. Pemberian diri ini kemudian menjadi suatu karunia atau hadiah. Melalui self-giving love, anda tidak hanya memikirkan tentang diri anda sendiri. Melainkan anda akan menyerahkan kebebasan anda, dan mengupayakan yang terbaik bagi pasangan anda. Pilihan dan keputusan yang anda ambil dan lakukan merupakan suatu hal yang didasarkan pada apa yang sungguh baik bagi orang yang anda cintai. Pilihan ada karena ada kebebasan. Dan kebebasan ada demi cinta.

God, Responsibility and Chastity

Satu hal paling mendasar, adalah bahwa cinta juga melibatkan Allah. Allah tidak boleh dilupakan dalam kehidupan, termasuk kehidupan cinta, bagi orang beriman terlebih orang katolik. Karena Allah adalah cinta (“God is love, and he who abides in love abides in God, and God abides in him”, 1 Yoh 4: 16). Seseorang bisa mencintai karena cinta berasal dari Allah. Cinta kepada Allah haruslah diutamakan daripada cinta terhadap manusia, dan cinta kepada Allah ditunjukkan melalui cinta kepada manusia. Anda tidak bisa mencintai yang tidak kelihatan, bila anda tidak mencintai apa yang bisa anda lihat. Perintah untuk mencintai Allah dan manusia dikatakan oleh Yesus sendiri : “Thou shalt love the Lord thy God with thy whole heart, and with thy whole soul, and with thy whole mind…Thou shalt love thy neighbor as thyself.” (Mat 22 : 37, 39, Douay Rheims Bible)

Sekarang kita akan masuk ke dalam aspek tanggung jawab.Pemberian diri yang bersifat timbal balik ini mengharuskan adanya tanggung jawab bagi pribadi yang dicintai. Karena pemberian diri melibatkan komitmen, rasa percaya, serta tanggung jawab untuk selalu mengupayakan apa yang sungguh baik, benar dan indah bukan hanya bagi diri kita, melainkan untuk pribadi yang kita cintai.

Kepercayaan dan komitmen kepada pribadi yang kita cintai, akan muncul dan menjadi berarti bila hal tersebut diikuti dengan tanggung jawab. Ukuran cinta yang sejati adalah tanggung jawab, bukan perasaan, bukan pula seberapa lama waktu yang sudah berjalan dalam suatu hubungan, seperti yang dikatakan oleh Wojtyla:

”Semakin besar rasa tanggung jawab bagi pribadi lain semakin besar adanya cinta yang sejati” (hal. 131)

Kapan kekuatan cinta muncul? Berikut adalah jawaban yang diberikan oleh Karol Wojtyla:

“Kekuatan cinta muncul paling jelas ketika kekasih kita tersandung, ketika kelemahan dan dosanya menjadi terbuka. Seseorang yang sungguh mencintai tidak menarik cintanya, tapi semakin mencintainya, mencintai dalam kesadaran penuh akan kekurangan dan kesalahan yang lain, dan tanpa menyetujui kesalahan tersebut. Karena seorang pribadi tiak pernah kehilangan nilai esensialnya. Emosi yang melekatkan dirinya pada nilai pribadi tetap setiap kepada manusia” (hal. 135)

Kutipan diatas juga menggambarkan tentang ungkapan “mencintai dengan apa adanya”. Cinta terhadap pribadi bukanlah cinta terhadap kecantikan fisik atau pun karakteristik psikologis yang dimiliki saja, melainkan seorang pribadi lah yang ia cintai, dimana karakteristik fisik dan psikologis harus ditundukan terhadap nilai seorang pribadi.

Salah satu hal penting lainnya dalam cinta adalah kemurnian (chastity). Kemurnian yang saya maksudkan adalah semacam suatu sikap, untuk menjaga keutuhan dan kesucian tubuh manusia. Bagaimana hal tersebut dilakukan? Caranya adalah dengan menghindari pornografi, pikiran kotor, seks bebas, dan berbagai perilaku lainnya yang merendahkan martabat manusia, dan hanya menjadikan manusia sebagai suatu objek dimana individu memperoleh kenikmatan darinya.Ingat apa yang dikatakan Yesus : “Every one who looks at a woman lustfully has already committed adultery with her in his heart” (Mat 5 : 28)

Seseorang yang ingin memiliki cinta sejati haruslah menjadikan kemurnian sebagai suatu gaya hidup, sebagai prinsip yang harus diutamakan ketika anda mencintai seseorang. Kemurnian juga melibatkan adanya kontrol dan pengendalian diri terhadap dorongan seks yang ada dalam diri manusia, dimana hal ini harus diutamakan bukan untuk memperoleh kenikmatan semata. Kemurnian menjadi penting karena :

“Hanya pria dan wanita yang murni yang sanggup memiliki cinta yang sejati. Kemurnian membebaskan hubungan mereka… dari kecenderungan untuk saling memanfaatkan”

Conclusion : What is the true love?

Lalu seperti apa cinta sejati itu dan bagaimana manusia mencapainya? Cinta sejati adalah suatu integrasi dari apa yang saya tebalkan dalam tulisan ini. Cinta sejati haruslah dilihat sebagai suatu proses, bukan sebagai suatu yang sudah ada dan siap diterapkan dalam kehidupan:

“Cinta tidak pernah menjadi sesuatu yang siap dibuat, sesuatu yang semata-mata diberikan pada pria dan wanita, cinta pada saat yang sama, selalu merupakan sebuah tugas yang harus mereka kerjakan. Cinta harus dilihat sebagai sesuatu yang tidak pernah “ada”, tapi selalu hanya [sebagai proses] “menjadi”, dan menjadi seperti apa cinta itu bergantung pada kontribusi kedua pribadi dan kedalam komitmen mereka”

Nah, sejauh ini saya sudah menulis panjang lebar tentang cinta. Rumit? Tentu saja. Tulisan ini mungkin terasa sangat abstrak dan filosofis, tapi sebuah filosofi sebenarnya bisa dijadikan sebagai suatu dasar dalam berprilaku. Inilah keindahan dan keunggulan filosofi, dimana filosofi selalu berusaha untuk mencari kebenaran, bukan yang terlihat benar. Mencari yang sungguh baik dan indah, bukan yang tampaknya baik dan indah.

Menulis tentu lebih mudah dari melakukan. Tapi memperjuangkan cinta yang sejati adalah suatu tugas dan kewajiban yang mulia, walaupun sulit dan berat. Tapi bukan berarti hal tersebut tidak bisa dilakukan.

Satu-satunya kekurangan dari tulisan ini adalah, tulisan ini tidak bisa menggambarkan secara penuh kekayaan yang terdapat dalam buku yang ditulis Karol Wojtyla, Love and Responsibility. Tapi setidaknya saya berusaha untuk menyajikan suatu intisari yang penting, meskipun tidak bisa dibillang lengkap dan komprehensif.

Saya tutup tulisan ini dengan kutipan dari Karol Wojtyla (Beato Yohanes Paulus II) :

“Manusia tidak dapat hidup tanpa cinta. Ia tetaplah makhluk yang tidak dapat dimengerti oleh dirinya sendiri, kehidupannya tidak bermakna bila cinta tidak ditunjukkan padanya, bila ia tidak menemukan cinta, bila ia tidak mengalami cinta dan menjadikan cinta miliknya, dan bila ia tidak berpartisipasi secara intim didalamnya. Inilah alasannya mengapa Kristus Sang Penebus menyatakan diri-Nya secara penuh kepada manusia”


Nah, sudah cukup panjang review (yang mungkin sebenarnya bukan review lagi). Oleh karena itu, singkat saja komentar saya: Buat saya, buku ini merupakan pengantar bila seseorang ingin belajar Teologi Tubuh (walaupun ada juga buku pengantar lainnya, tapi toh ini tulisan St. Yohanes Paulus II sendiri sebelum beliau menjadi paus), yaitu ajaran St. Yohanes Paulus II tentang seksualitas manusia. Karena buku ini sangat terasa nuansa filosofisnya, bisa jadi bagi sebagian orang buku ini terasa sulit dan cukup berat untuk dipahami. Namun saya kira pantaslah bila kita bersusah payah sedikit, karena saya yakin buku ini dapat memberikan perspektif yang baru tentang cara anda memahami arti cinta, secara khusus bagi mereka yang belum begitu mengenal Teologi Tubuh. Saya berikan 5 rahib unyu untuk buku ini.

5rahib

 

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: