Paus Pius IX dan Jepang. Sejarah Mukjizat dari Timur

ChristianMartyrsOfNagasaki

Catatan penerjemah: berikut ini merupakan terjemahan tidak resmi dari teks berjudul Pope Pius IX and Japan. The History of an Oriental Miracle. Teks tersebut menceritakan kita tentang mengapa Umat Katolik Jepang yang bersembunyi dapat bertahan selama 250 tahun. Bagi pembaca yang telah menonton atau membaca novel Silence karya Shusaku Endo, tentu teks tersebut relevan sekali guna memahami sejarah Kekatolikan di Jepang.

+++

Oleh Shinzo Kawamura SJ 

Universitas Sophia, Tokyo

Prakata

Pada 8 Januari 1867, Bapa Suci Paus Pius IX mengirimkan pesan khusus kepada Rm. Bernard Petitjean dari Paris Foreign Mission Society, yang pada waktu itu terlibat dalam karya misioner di kota Nagasaki. Tujuan Bapa Suci ialah untuk memberkati sebuah peristiwa secara personal, yang ia gambarkan sebagai “Mukjizat dari Timur”.

Apa yang ia maksud sebagai “Mukjizat dari Timur” ialah fakta bahwa tiga tahun sebelum pesan tersebut dikirimkan, yakni pada 17 Maret 1865, sebuah insiden terjadi di dalam salah satu gereja tertua Jepang, yaitu “Oura Tenshudo of Nagasaki,” yang juga dikenal sebagai Basilika Dua Puluh Enam Martir Suci Jepang. Ini adalah penemuan orang-orang Kristen tersembunyi, dan bagi orang Katolik di seluruh dunia, insiden ini sungguh mukjizat.

Ini berarti sebuah komunitas Kristen yang leluhurnya dapat dilacak hingga ke abad ketujuhbelas, dan yang mengalami persekusi berlebihan dikarenakan pengusiran terhadap Kekristenan yang dipaksakan di Jepang, namun mereka berhasil bertahan selama periode 250 tahun lebih, sekalipun mereka tidak memiliki imam yang dapat melayani mereka.

Umat Kristen Tersembunyi ini tidak hanya terdiri dari mereka yang telah ditemukan. Kami telah memverifikasi fakta bahwa orang-orang Kristen yang dijumpai Rm. Petitjean memiliki iman yang sama seperti orang Kristen yang dulu telah mendiami bangsa Jepang selama empat ratus tahun lebih awal. Ternyata, setelah ditemukan, mereka adalah umat yang kembali ke Gereja Katolik Roma.

Dengan kata lain, insiden ini merupakan dua mukjizat, yaitu mukjizat penemuan dan mukjizat kebangkitan.

Di paruh kedua abad kesembilanbelas, Jepang mulai mengambil jalan yang telah ditempuh bangsa Barat yang lebih maju, dan ia berupaya membangun dirinya kembali sebagai negara modern. Pemerintahan Tokugawa di kota Edo, yang pada waktu itu adalah otoritas pusat, telah mereduksi semua kontak dengan kekuasaan asing hanya sebatas minimum selama kurun waktu hampir 250 tahun.

Namun pada 1854, atas dasar Konvensi Kanagawa yang telah dirumuskan antara USA dan pemerintahan Tokugawa, Jepang pada akhirnya menyadari adanya kebutuhan untuk menghentikan kebijakan eksklusif macam ini, dan karenanya negara tersebut sekali lagi menyatakan untuk membuka diri bagi orang asing.

Kendati adanya orientasi baru di sisi mereka, pemerintahan Tokugawa memutuskan untuk melanjutkan larangan terhadap orang biasa sebagaimana yang mereka paksakan pada Kekristenan.

Di sisi lain, selagi pemukiman barat mulai tampil dalam suksesi stabil di kota-kota pelabuhan utama Jepang, seperti Yokohama dan Nagasaki, masyarakat juga mulai menuntut kebebasan beribadah, dan konsekuensinya, gereja Katolik juga mulai dibangun di perkotaan dan pemukiman bangsa tersebut.

Walau terdapat batasan-batasan tersebut, namun kebangkitan tampak terjadi dalam Gereja Katolik di Jepang, dan selanjutnya hal ini menimbulkan harapan dalam hati Bapa Suci Paus Pius IX. Jadi, ia memutuskan untuk mengkanonisasi dua puluh enam martir Nagasaki. Keduapuluhenam individu ini telah menanggung kemartiran kira-kira empat ratus tahun silam, dan sesudahnya mereka dibeatifikasi di awal abad ketujuhbelas.

Karenanya Jepang segera berubah menjadi sorotan dunia, dan orang di seluruh dunia mulai memperlihatkan minat dalam Gereja Katolik baru milik bangsa Jepang, Gereja yang sejarahnya baru saja dimulai.

Dalam suasana ketentraman dan ketenangan inilah renaissance Gereja Katolik dimulai di Jepang, tetapi tahun 1865 renaissance ini menerima dorongan tambahan, dikarenakan penemuan mendadak orang-orang Kristen tersembunyi. Penemuan ini adalah peristiwa yang memikat hati orang Kristen di seluruh dunia, dan inilah yang saya maksud ketika saya mengacu kepada “Mukjizat dari Timur.”

Umat Kristen Tersembunyi ini merupakan sebuah kelompok berjumlah kira-kira lima belas orang, dan kebetulan mereka adalah keturunan Umat Kristen Tersembunyi di Nagasaki Urakami. Mereka mengunjungi Oura Tenshudo yang baru saja dibangun, dan terlibat dialog dengan Rm. Petitjean.

Mereka berkata kepada Rm. Petitjean: “Kami memiliki iman yang sama seperti Anda. Di mana kami dapat menemukan gambar Santa Maria?”

Rm. Petitjean amat tersentuh, dan hatinya dipenuhi sukacita lantaran mendengar perkataan mereka.

Segera setelah Umat Kristen Tersembunyi memastikan fakta bahwa para imam Katolik telah memasuki Jepang, makin banyak dari mereka keluar dari tempat persembunyian seperti di Nagasika dan di sekelilingnya, dan juga di wilayah-wilayah seperti Goto, dan jumlah mereka waktu itu melampaui sepuluh ribu.

Setelah sepatutnya mengkonfirmasi fakta bahwa iman dari para imam ini adalah iman yang sama sebagaimana yang dianut leluhur mereka empat ratus tahun silam, Umat Kristen Tersembunyi ini kembali ke Gereja Katolik.

Beberapa Isu Mendasar dan Tiga Kata Kunci

Melalui simposium ini saya hendak berbicara tentang Mukjizat dari Timur ini. Saya bermaksud menyajikan isu-isu mendasar tertentu mengenai topik ini, dan saya akan berupaya menjawabnya.

Pertama, Umat Kristen Tersembunyi ini telah menanggung penganiayaan selama 250 tahun, dikarenakan larangan yang dipaksakan atas mereka oleh pemerintahan Tokugawa. Kendati demikian, mereka dengan setia terus bertekun dalam iman mereka, dan ketika mereka akhirnya merasa bahwa waktunya sesuai untuk berbuat demikian, mereka bersatu kembali dengan Gereja Katolik. Ini memang mukjizat, tetapi pertanyaan saya adalah, apakah yang membuat mukjizat ini mungkin terjadi?

Hal apakah yang memungkinkan umat Kristen ini menjalani kehidupan “tersembunyi”, selama ratusan tahun lamanya?

Mengapa mereka tidak pernah menolak iman Katolik mereka?

Secara konkret, apa yang memampukan mereka melindungi dan melestarikan iman mereka?

Kini saya hendak menyuguhkan tiga kata kunci yang saya anggap paling penting, berkenaan dengan kemungkinan Mukjizat Oriental ini.

Kata kunci pertama adalah ‘konfraternitas’ atau ‘konfraria’ (persaudaraan). Inilah yang memampukan mereka menemukan sebuah sarana sistematis dalam memelihara iman mereka selama kurun waktu yang panjang.

Kata kunci kedua merupakan ungkapan “Nubuat Katekis Bastian.”

Bastian adalah nama seorang katekis yang menanggung kemartiran selama periode penganiayaan sekitar dua ratus tahun yang lalu, dan kita memiliki karyanya berjudul “Nubuat Kebangkitan Masa Depan Gereja Kristus.” Karya ini berperan sebagai sumber pengharapan bagi Umat Kristen Tersembunyi, dan dengan demikian ia diterima dan diteruskan oleh mereka kepada generasi sesudahnya.

Bagi Umat Kristen Tersembunyi, ini adalah pesan bagi masa depan.

Kata kunci ketiga mengacu kepada booklet berjudul “Buku Perihal Sesal dan Doa”.

Booklet tersebut juga berperan guna membuktikan pengetahuan mereka, mengenai Sakramen-Sakramen yang digunakan selama periode Kekristenan.

Oleh karena itu, saya hendak menawarkan penjelasan sederhana terkait kata kunci tersebut, dan melalui cara ini saya berharap memeroleh secuplik asal-usul drama ini, sebuah drama berkenaan dengan mukjizat penemuan dan kebangkitan.

Struktur Iman Mereka yang Kokoh: Pola Pikir yang Terkuak dalam ‘Konfraria’, yang memampukan Para Anggota Menjalani Kehidupan Kristiani Tanpa Kehadiran Imam

Isu pertama yang harus kita hadapi ialah mengenai Konfraria atau Komunitas Awam.

Walaupun mereka tidak memiliki imam atau misionaris, namun komunitas Umat Kristen Tersembunyi mampu bertahan selama lebih dari 250 tahun. Selama kurun waktu ini, komunitas mereka dikelola hanya oleh kaum awam.

Inilah poin yang krusial.

Hal ini dikarenakan fakta bahwa sejak masa St. Fransiskus Xaverius, komunitas-komunitas yang dipimpin dan diawasi oleh kaum awam saja hidup sebagai organisasi teritorial, di wilayah-wilayah berbeda dari bangsa tersebut.

Komunitas-komunitas Umat Kristen Tersembunyi ini bukanlah kelompok yang terbentuk dengan tergesa-gesa. Mereka tidak dibentuk lantaran reaksi negatif dadakan, seperti perasaan panik yang tiba-tiba dapat muncul di antara orang Kristen, karena larangan dan persekusi yang dimulai pemerintahan Tokugawa.

Melainkan, kita perlu mengingat fakta bahwa komunitas-komunitas ini telah ada lebih dahulu, dan bahwa mereka telah ada setengah abad sebelum permulaan persekusi.

Mereka dibentuk dengan meniru sistem Konfraria di Eropa, di setiap wilayah tempat komunitas-komunitas tersebut berada, yang terdiri dari orang awam saja. Mereka adalah organisasi otonom, maka ketika penganiayaan dimulai serta misionaris mulai lenyap, mereka mampu berjalan sendiri, lantaran hubungan yang ada antara pemimpin awam dan anggota komunitas.

Pada 1550, yakni sesudah aktivitas misionaris St. Fransiskus Xaverius, ada banyak wilayah yang dilayani hanya oleh empat misionaris.

Setengah abad sesudahnya Episkopat atau Keuskupan muncul di Jepang, dan selama periode itu, hanya Jesuitlah yang misinya mencakup gereja-gereja atau paroki-paroki.

Di sini, Jesuit bahkan mulai mengelola rumah sakit, dan mereka melakukan ini atas dasar konsep ilmu pengetahuan kedokteran barat.

Komunitas-komunitas Kristen yang membantu dalam administrasi rumah sakit, digolongkan di antara komunitas gerejawi Jepang paling awal.

Komunitas gerejawi Jepang paling awal terdiri dari orang awam Kristen, yang mengadopsi Confraria da Misericordia dari Portugal sebagai model mereka.

Konfraria ini dimulai pada abad ke-13 di Italia, dan di abad 16, yakni sebuah periode ketika sejumlah besar kelompok Katolik awam meliputi seksi-seksi beragam dari Eropa, Confraria da Misericordia, yang condong berpusat secara eksklusif pada karya-karya amal, sebagian besar berkembang di Portugal. Ketika Eropa mulai menyebar selama periode navigasi besar, konfraria ini juga menjangkau ke beragam bagian dunia, dan seiring berjalannya waktu, ia bahkan memasuki Jepang, yang mana di antara berbagai aktivitasnya, yang terutama ialah menjalankan rumah sakit.

Merupakan fakta yang dikenal luas bahwa konfraria ini digerakkan hanya oleh kaum awam.

Pada prinsipnya, para imam dan individu yang terkait dengan klerus tidaklah secara langsung berurusan dengan manajemen.

Bahkan pada periode sesudahnya ketika komunitas-komunitas regional terbentuk di wilayah-wilayah berbeda, mereka meniru sistem organisasi yang sama.

Di setiap area, terlepas dari kunjungan periodik yang dilakukan misionaris, pemeliharaan dan pemerintahan komunitas dilaksanakan pemimpim awam dan anggota-anggota kelompok.

Para pemimpin tersebut dipilih, dan mereka memiliki masa jabatan tetap, dan kita punya alasan untuk percaya pula bahwa komunitas tersebut memiliki aturan dan regulasi yang harus dipatuhi.

Menurut statistik 1550, jumlah umat Kristen sebesar 220.000, dan para imamnya terdiri dari empat puluh misionaris Jesuit.

Bahka pada saat ketika dua ratus dan komunitas-komunitas Kristen yang tersebar di penjuru bangsa tidak memiliki imam, mereka memiliki organisasi administratif yang hanya terdiri dari orang awam, yang mampu menjalankan tugas pemerintahan dan pengawasan.

Alasan untuk hal ini adalah fakta bahwa pada hakikatnya, komunitas-komunitas ini berbasis konsep konfraria.

Pada 1587, Hideyoshi menerbitkan ‘Bateren tsuihō-rei,’, yang merupakan ketetapan untuk mengusir para misionaris. Hal ini mengawali persekusi pertama.

Ini merupakan langkah yang bermaksud mengusir semua misionaris Jesuit dari Jepang.

Kentara sekali bahwa orang Kristen Jepang juga amat terganggu oleh situasi ini.

Namun, sejauh berkenaan struktur masyarakat mereka, di setiap wilayah, sudah lazim bahwa bila tidak ada imam, para pemimpin awam dapat menjalankan peran mereka sendiri dan melakukan tugas pengawasan dan pemerintahan. Jadi, dampak dari ketetapan pengusiran tersebut atas komunitas mereka tidaklah demikian parah.

Alasan bagi pelemahan dampak ketetapan itu ialah fakta bahwa di tiap wilayah, para pemimpin komunitas ini dengan jitu memenuhi tanggung jawab mereka kepada umatnya, dengan mengerjakan tugas yang diberikan pada mereka.

Hasil dari ketetapan pengusiran ini ialah fakta bahwa komunitas-komunitas awam ini, yang hingga kini terikat bersama melalui keterlibatan mereka dalam aktivitas awal di beragam daerah, kini memulai persiapan aktif guna menghadapi penyiksaan ini, dan konsekuensinya struktur mereka mengalami perubahan. Mereka kini berubah menjadi komunitas yang saling mendukung dan membantu satu sama lain.

Pada waktunya hal ini memunculkan konfraria yang unik sifatnya bagi bangsa Jepang.

Dengan kata lain, mereka dilahirkan kembali sebagai Komunitas Umat Kristen Tersembunyi, yang siap menghadapi penganiayaan berkelanjutan.

Bermula dari Nagasaki, di banyak area di Jepang, benih-benih komunitas konfraria mulai terbentuk, dan mereka terus bertahan.

Demikian pula para pemimpin awam ini menjalani hidup mereka yang tersembunyi, sembari melaksanakan tuga-tugas yang diberikan pada mereka. Mereka mengadakan perayaan baptisan dan menyampaikan ajaran-ajaran Kristus kepada para anggota komunitas mereka, dengan menggunakan air, booklet, dst.

Ini berarti bahwa komunitas-komunitas Umat Kristen Tersembunyi ini, yang tidak memiliki imam, merupakan sebuah rahasia yang tak terkuak oleh para pemangku otoritas, sebuah rahasia yang bertahan selama 250 tahun. Alasan utamanya ialah lantaran di sepanjang periode Kristiani, komunitas-komunitas ini, yang strukturnya mencontoh konfraria, adalah kelompok-kelompok yang berakar secara mendalam di tanah Jepang.

Sebuah Transmisi Harapan: Nubuat Katekis Bastian

Faktor kedua terkait daya tahan komunitas-komunitas Kristen ini ialah fakta bahwa umat Katolik awam yang terhubung dengan mereka, mampu memperoleh semangat ketekunan dan harapan yang mereka perlukan demi kelangsungan hidup mereka.

Terdapat tradisi lisan berjudul “Nubuat Katekis Bastian” dan tradisi ini memberikan harapan bagi komunitas-komunitas Kristen ini, perihal kebangkitan masa depan.

Dalam area-area tertentu, Umat Kristen Tersembunyi ini menerima dan meneruskan tradisi ini selama 250 tahun.

Sosok yang disebut sebagai Bastian adalah seorang katekis. Ia menanggung kemartiran di Omura di sekitar Nagasaki sekitar pertengahan abad ketujuhbelas, selama hari-hari penutupan persekusi.

Dikatakan bahwa ia telah melayani sebagai murid seorang Joāo. Pada 1657, ia ditangkap oleh agen-agen Petugas Magistrat Nagasaki, dan dipenggal setelah tiga tahun tiga bulan menjalani masa penahanan.

Pada kesempatan itu, ia diyakini telah meninggalkan sebuah nubuat, yang berperan sebagai sumber semangat bagi para anggota komunitas Kristen.

Komponen terpenting nubuat itu ialah sebagai berikut: “Setelah tujuh generasi berlalu, sebuah bahtera hitam akan tiba, yang di dalamnya akan terdapat beberapa bapa pengakuan. Lantas umat akan mampu mengakukan dosa mereka, bahkan secara mingguan.”

Dengan kata lain, bila umat mampu menunggu dengan sabar selama tujuh generasi, larangan religius yang berlaku pasti akan dicabut, dan penganiayaan akan berhenti. Lantas muncullah era perdamaian. Melalui nubuat ini Bastian berupaya menghibur para anggota komunitas Kristen, yang mendapati diri mereka terjun ke dalam kondisi keputusasaan total.

Akhirnya nubuat ini tergenapi setelah 250 tahun.

Ketika menelisik Kitab Suci dengan cermat, kami menyadari bahwa merupakan hal lazim untuk menganggap lamanya satu generasi adalah 30 tahun.

Jadi, tujuh generasi berarti 210 tahun. Dengan kata lain, apa yang hendak disingkapkan nubuat tersebut adalah fakta, bahwa 210 tahun sesudah wafatnya Bastian yang dimartir pada 1657, maka penganiayaan akan berakhir.

Ketika kami menghitungnya secara matematis, kita mendapati tahun 1865, yang secara kebetulan, jatuh pada tahun ketika Umat Kristen Tersembunyi ditemukan pertama kali.

Di Nagasaki dan di desa tetangganya di sepanjang laut terbuka, juga di Goto, ditemukan nubuat Bastian sebagai transmisi lisan. Ini adalah kebenaran yang dibuktikan Sejarawan Periode Meiji, ketika mereka melaksanakan riset lapangan di wilayah itu.

Fakta bahwa Bastian menubuatkan kembalinya para bapa pengakuan juga merupakan isu yang penting.

Ketika menyelidiki perkataan transmisi lisan, kami menemukan bahwa ia tidak sekedar berkata bahwa para misionaris akan kembali, atau para imam akan kembali. Melainkan, dikatakan bahwa “para bapa pengakuan” akan kembali.

Secara pribadi saya memandang hal ini sebagai hal terpenting dalam Mukjizat dari Timur ini.

Umat Kristen Tersembunyi ini bukan sekadar klerus Kristiani atau para pekerja gereja. Namun, mereka adalah umat yang terobsesi dengan gagasan akan seseorang yang berwenang mengampuni dosa.

Di sini kita mengetahui bahwa hikmat Bastian terkuak dan tersembunyi.

Dengan kata lain, bagi para Umat Kristen Tersembunyi itu, secara mutlak penting agar mereka yang kembali ke Jepang di masa depan, haruslah klerus Katolik atau pekerja Gereja.

Guna memastikan apakah para bapa pengakuan yang kembali adalah imam, Bastian memberitahu para anggota komunitas Kristen untuk menanyakan mereka tiga pertanyaan, dan untuk melihat apakah mereka dapat menjawabnya. Pertanyaannya sebagai berikut:

Pertanyaan pertama: “Apakah anda lajang?”

Pertanyaan kedua: “Siapa nama pemimpin anda di Roma?”

Pertanyaan ketiga: “Apakah anda menghormati Perawan Suci Maria?”

Itulah pertanyaan yang dianjurkan Bastian untuk mereka tanyakan.

Ketika Umat Kristen Tersembunyi pertama kali ditemukan, pertanyaan yang mereka ajukan pada Rm. Petitjean ialah “Di manakah patung Santa Maria?” Pertanyaan ini, yang ditujukan pada Rm. Petitjean di dalam Oura Tenshudo, kini secara virtual telah menjadi legenda berkat transmisi lisan, dan inilah pertama kalinya dalam sejarah Kekristenan Jepang, kita mampu memahami maknanya.

Awalnya Umat Kristen Tersembunyi di Urakami memasuki gereja Protestan di Nagasaki.

Dengan berbuat demikian, ketika istri sang Pastor menerima mereka dan menyuguhkan mereka teh Inggris, mereka segera menarik diri dari tempat tersebut.

Mereka telah diajari untuk memastikan dengan jelas apakah iman orang itu sama dengan iman mereka, karena ini adalah isu yang tercakup dalam nubuat Bastian.

Mengapa Umat Kristen Tersembunyi menantikan kedatangan para bapa pengakuan?

Misteri macam apa yang terkandung di balik semua ini?

Telah diduga bahwa kunci untuk memecahkan teka-teki ini diterbitkan tahun 1608. Namun, apa yang tersisa dari publikasi itu kini hanyalah manuskrip-manuskrip tertentu, yaitu sebuah pamflet berjudul ‘Konchirisanoriyaku’, dan sebuah rangkuman dari karya yang sama berjudul ‘Orasho’. Kunci bagi misteri ini barangkali dapat ditemukan di keduanya.

Kenangan akan Tanda-Tanda Cinta: Peran ‘Konchirisanoriyaku’, yang meneruskan Kenangan akan Sakramen-Sakramen

Ketika berbicara dengan kelompok Umat Kristen Tersembunyi, saya menemukan bahwa pertanyaan utama yang mendominasi pikiran saya ialah: Selama 250 tahun sejarah mereka, bagaimana mereka berhadapan dengan isu seperti perayaan Misa Kudus dan pemberian Sakramen-Sakramen, ketika mereka tidak memiliki imam?

Pertanyaan yang sama ini barangkali juga dapat diajukan sebagai berikut: Misa Kudus dan Tobat adalah dua sakramen yang perlu diberikan oleh imam tertahbis. Terlepas dari isu ini, bagaimana Umat Kristen Tersembunyi ini dapat terus menyampaikan iman Katolik mereka selama 250 tahun?

Anggaplah kenangan akan Sakramen-Sakramen telah musnah seluruhnya dari pikiran Umat Kristen Tersembunyi, lantas, 250 tahun selanjutnya, bahkan bila mereka sekali lagi berjumpa dengan misionaris yang kembali ke Jepang, orang Kristen itu tidak pernah mampu membuktikan apakah para misionaris itu dan mereka sendiri berakar dalam iman Katolik yang sama. Tentu ini sebuah kemungkinan.

Namun, faktanya ialah riset historis menyingkapkan hal yang sebaliknya. Umat Kristen Tersembunyi itu jelas mampu membuktikan fakta bahwa pada suatu waktu di masa lampau, mereka dan para misionaris, tak pelak lagi, berakar dalam iman Katolik yang sama.

Hal ini menunjuk pada kebenaran historis yang telah menutup hubungan dengan ‘Konchirisanoriyaku.’

Pada 1590, tahun ketika penganiayaan iman Katolik dimulai di Jepang, para imam Katolik entah diusir dari Jepang atau ditolak masuk ke dalam Jepang, dan komunitas umat beriman, yang waktu itu berjumlah 300.000, mendapati diri mereka mendadak berhadapan dengan krisis yang masif.

Apa yang terbukti bermasalah secara khusus ialah fakta bahwa jumlah imam yang dapat memberikan Sakramen-Sakramen kepada umat beriman berkurang drastis.

Secara khusus, mereka yang terbaring di tempat tidur dan berada di ambang maut, merasa takut bila meninggal tanpa menerima pengampunan atas dosa-dosa mereka.

Guna menanggapi krisis yang dihadapi umat beriman Kristen, para misionaris Jesuit waktu itu mulai merenungkan langkah yang hendak diambil untuk meringankan duka mereka.

Dalam kasus-kasus ketiadaan imam, mereka mengizinkan prosedur pengecualian berikut bagi komunitas Kristen: bila pendosa mengalami sesal sejati, yaitu, bila ia benar-benar menyesali dosa mereka, maka pengakuan dosa aktual dapat ditunda sampai batas waktu ketika ada imam yang tersedia.

Inilah sesuatu yang telah ditekankan kelompok seperti para ‘contritionist’ sejak abad pertangahan, dan selain itu, ini juga tafsiran luas dari perkataan berikut yang ditemukan dalam dekrit yang dipromulgasikan selama Konsili Trente, yakni, “rekonsiliasi antara individu dan Allah dapat dicapai melalui sesal sejati.”

Dengan kata lain, artinya bila seseorang di akhir hidupnya mengalami sesal sejati dalam hatinya, sesal itu dapat berperan sebagai pengganti atas Sakramen Tobat atau Pengakuan Dosa. Kendati demikian, ini adalah langkah pengecualian yang digunakan lantaran persekusi yang telah dimulai.

Para misionaris Jesuit barangkali menyadari fakta bahwa “sesal sejati dalam hati” ini dan ‘penundaan pengakuan dosa’ adalah sarana yang tidak akan diterima secara luas oleh Gereja Katolik Roma. Jadi, mereka digunakan semata sebagai tindakan pengecualian.

Oleh sebab itu, mereka bahkan mengalami sedikit kegelisahan terhadap penerapannya.

Pada akhirnya, pada 1593, dalam pertemuan Perwakilan Jesuit di Roma, kepada misionaris Jesuit yang diutus ke Roma sebagai perwakilan Jepang diberikan sebuah daftar pengecualian dari aturan umum, sembari menimbang situasi tidak biasa yang melanda Jepang.

Ketika misionaris Jesuit ini yang berperan sebagai perwakilan Jepang mencapai Eropa, ia juga menanyakan sejumlah hal kepada Gabriel Vasquez, yang pada waktu itu adalah ahli yang amat dihormati dan kompeten di bidang Teologi Etis. Pertanyaannya berkaitan dengan isu-isu yang sama ini, yakni penundaan pengakuan dosa, dan kebutuhan penting guna mengadopsi langkah-langkah khusus perihal kasus Jepang. Setelah mendengarkannya, Vazquez menjawab secara afirmatif bahwa bila sesal di pihak peniten itu memadai, maka pengakuan dosanya dapat ditunda untuk sementara.

Ketika menerima informasi ini, Konchirisanoriyaku diterbitkan dan dicetak sebagai booklet di Jepang. Kata ‘Konchirisan’ sama seperti kata Portugis contrição, ketika diucapkan dalam bahasa Jepang.

Konchirisanoriyaku menggambarkan makna penting dari ‘sesal sejati’. Ia juga menyatakan bahwa ketika menempuh perjalanan panjang, atau ketika kita mendapati diri kita dalam situasi perang, konflik, dst, bila kebetulan tidak ada imam yang tersedia, maka kita dapat mendamaikan diri kita kepada fakta bahwa kita akan membuat pengakuan dosa kita di masa mendatang.

Untuk penggunaan dalam kesempatan-kesempatan tersebut, para anggota komunitas Kristen menyusun doa yang dikenal sebagai Orasho, dan persiapan juga dilakukan bagi umat beriman Kristen untuk mendaraskan doa ini setiap hari.

Doa yang dikenal sebagai Orasho ini amat berperan dalam menghibur para anggota komunitas Krsiten, yang karena penganiayaan tidak mampu berhubungan dengan para imam Katolik.

Misalnya, ketika para pejabat pemerintahan Tokugawa memaksa orang Kristen menginjak Fumie, ada beberapa umat beriman yang menginjaknya tanpa ragu. Namun, umat beriman yang sama ini, setelah kembali ke tempat kediaman mereka, mendaraskan Orasho berkali-kali, dan melalui sarana ini mereka berusaha menebus perbuatan yang telah mereka lakukan. Mereka melakukan ini dengan kesadaran bahwa pada suatu waktu di masa depan akan datanglah seorang imam, yang kepadanya mereka dapat mengakukan dosa mereka.

Dikatakan bahwa Orasho ini mungkin didaraskan orang Kristen sebanyak ratusan bahkah ribuan kali.

Aturan ini, yang memampukan Umat Kristen Tersembunyi membuat pengakuan dosa mereka pada suatu waktu di masa depan ketika terdapat imam, juga berperan untuk menanamkan dalam hati mereka keyakinan teguh, bahwa Gereja, pada suatu waktu di masa mendatang, dapat bangkit kembali. Ini adalah harapan yang timbul dalam hati mereka, berkat kenangan mengenai Sakramen-Sakramen yang mereka rawat dengan cermat.

Pernyataan Bastian yang saya sebutkan di awal, yaitu nubuatnya mengenai kembalinya para bapa pengakuan setelah tujuh generasi, adalah hal yang tidak dapat kita pahami tanpa transmisi Konchirisanoriyaku ini.

Saya berpendapat bahwa alasan mengapa iman orang Kristen abad 16 dan 17 dengan teliti diteruskan selama bertahun-tahun, ialah karena kenangan akan Sakramen-Sakramen yang dilestarikan dengan saksama dalam hati mereka. Untuk alasan yang sama inilah, iman mereka juga segera bangkit sesudah 250 tahun, dan sekalinya bangkit, mereka segera bergabung kembali ke dalam Gereja Katolik.

Sakramen-Sakramen adalah tanda kasatmata akan karya keselamatan Yesus Kristus. Mereka adalah tanda yang telah dibakar di inti hati mereka, dan oleh sebab itu, Umat Kristen Tersembunyi itu merindukan hari ketika Gereja Katolik, agen yang memberikan Sakramen-Sakramen kepada umat beriman, dapat bangkit kembali.

Dengan kata lain, mungkin kita dapat menyatakan bahwa sebagian besar berkat kenangan akan Sakramen-Sakramen yang mereka rawat, maka mereka mampu bertahan demikian alam sebagai sebuah komunitas Iman.

Atau, kita juga mungkin dapat berkata, bahwa ‘mukjizat’ Umat Kristen Tersembunyi ini berbuah, lantaran kenangan-kenangan mengenai Sakramen-Sakramen Gereja Katolik yang mereka jaga dengan waspada.

Seseorang harus mengakui bahwa seluruh episode ini sangatlah ‘Katolik’, karena bila gereja-gereja Protestan telah ada di Jepang selama periode Kristiani 400 tahun silam, seseorang bertanya-tanya apakah mukjizat tersebut sungguh dapat terjadi.

Kesimpulan

Nubuat Bastian dan Orasho dari Konchirisanoriyaku, diteruskan di sekitar wilayah Nagasaki, di tempat-tempat yang menghadap laut terbuka, dan di wilayah Goto.

Mereka berperan sebagai sarana untuk membangkitkan kesadaran dalam diri ktia mengenai hubungan yang kita miliki dengan iman Katolik dari Umat Kristen Tersembunyi.

Jadi, dikatakan bahwa pasca Restorasi Meiji, fakta bahwa Gereja Katolik pada bagian negara itu bangkit kembali tanpa perlawanan apapun, hal ini disebabkan karena dua transmisi yang disebarluaskan di area-area itu, yaitu Nubuat Bastian dan Orasho dari Konchirisanoriyaku.

Poin lain yang harus diperhatikan ialah di Hirado dan Ikitsuki, keduanya dikenal karena keberadaan Umat Kristen Tersembunyi, transmisi ini tidaklah bertahan. Dengan demikian, sekalipun orang-orang di wilayah itu berjumpa dengan imam dari Paris Foreign Mission Society, mereka tidak memiliki alasan untuk kembali ke Gereja Katolik.

Ini disebabkan oleh fakta bahwa walaupun iman mereka telah berakar dalam Katolisisme 400 tahun silam, namun selama masa Edo ia secara bertahap didominasi dan pada akhirnya diubah menjadi agama rakyat.

Dengan demikian, ‘Mukjizat dari Timur’ terwujud, dan perwujudan ini dibawa melalui transmisi dari iman, harapan, dan kasih secara teratur dari Umat Kristen Tersembunyi

Lebih dari apapun, apa yang mewujudkan mukjizat ini adalah benda-benda tertentu yang sangat penting bagi Gereja Katolik, yaitu kenangan akan Umat Kristen Tersembunyi. Mereka adalah kenangan yang berkaitan dengan Sakramen Gereja, yang telah diawetkan dengan cermat oleh Umat Kristen Tersembunyi, dan dengan pembenaran ini, saya hendak menutup ceramah saya hari ini.

Iklan

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: