Rasa Hormat terhadap Ekaristi Suci

©Photo. R.M.N. / R.-G. OjŽda

“The Holy Sacrament [of the Eucharist]”, Limbourg brother, 1416

+++

Catatan penerjemah: berikut ini adalah terjemahan tidak resmi dari teks pidato Kardinal Arinze, berjudul “The Reverence due to the Holy Eucharist”.

Berikut ini adalah pidato Yang Utama Francis Kardinal Arinze, Prefek Kongregasi Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen, yang disampaikan dalam pertemuan “The Church Teaches Forum” Louisville, Kentucky, 18 Juli 2013.

***

Kepada Yesus Kristus, Allah dan Manusia, dalam kurban dan sakramen Ekaristi Suci, diberikan rasa hormat, khidmat, adorasi, syukur, dan kasih yang sepantasnya. Pada pembukaan pertemuan “The Church Teaches Forum” tahun ini, sungguh pantas bila kita memusatkan permenungan kita tentang rasa hormat yang pantas terhadap Ekaristi Suci. Banyak orang dengan menyedihkan menyadari bahwa dalam gereja kita ada kemerosotan menggelisahkan dalam rasa hormat. Perkara ini demikian penting lantaran Pelayanan Ekaristi adalah tempat utama dalam iman dan kehidupan Katolik.

Apa itu rasa hormat? Apa itu tempat kunci iman sebagai fondasi bagi rasa hormat Ekaristis? Karenanya kita akan merenung bagaimana rasa hormat ini terwujud dalam perayaan Ekaristi Suci, dalam penerimaannya dan dalam devosi kepada Ekaristi Suci di luar Misa.

1. Rasa Hormat Religius

Rasa hormat adalah kebajikan yang mencondongkan seseorang untuk memberikan rasa hormat dan respek terutama kepada Allah, dan juga kepada orangtua, otoritas sipil dan pemimpin agama. Di sini kita memerhatikan rasa hormat kepada Allah, dalam pribadi Yesus Kristus dalam kurban dan sakramen Ekaristi Suci.

Allah itu kudus. Ia adalah yang terkudus. “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN Mahkuasa, kemuliaan-Nya memenuhi seluruh bumi’, demikianlah nyanyian malaikat serafim di hadapan takhta Tuhan (Yes 6:3). Ia adalah kekudusan itu sendiri. Ia transenden. Ia berdiam dalam terang yang tak terjangkau (bdk 1 Tim 6:16).

Memberikan rasa hormat kepada Allah, menghormati nama-Nya dan menghargai segala hal yang terkait dengan-Nya: pribadi, tempat ataupun objek merupakan bagian dari kebajikan agama. Kardinal Newman menekankan pentingnya pendirian ini di hadapan Allah: “Apakah perasaan takut dan kagum ini adalah perasaan Kristiani atau bukan? Saya berkata tentang ini, lantas, ketika saya pikir tak seorangpun hendak mendebatkannya dengan rasional. Mereka adalah kelompok perasaan yang mesti kita miliki – ya, harus dimiliki sampai pada derajat yang intens. Bila kita secara harafiah merindukan Allah Mahakuasa; maka mereka adalah kelompok perasaan yang harus kita miliki, bila kita menyadari kehadiran-Nya. Sejauh kita percaya bahwa Ia hadir, kita akan memilikinya; dan tidak memilikinya ialah tidak menyadari atau mempercayai bahwa Ia hadir” (John H. Newman: Parochial and Plain Sermons V, 2; quoted in the Catechism of the Catholic Church, 2 144).

Rasa hormat ini diberikan kepada Allah, Bapa, Putra dan Roh Kudus. Jadi rasa hormat kita diberikan kepada Yesus Kristus di Bethlehem, di Danau Galilea, di Salib dan dalam Ekaristi Suci.

2. Iman Ekaristis, Fondasi bagi Rasa Hormat

Iman Katolik dalam Ekaristi Suci adalah fondasi bagi rasa hormat terhadap kurban dan sakramen ini.

Sebagai kurban, Ekaristi Suci adalah persembahan Tubuh dan Darah Yesus Kristus kepada Bapa yang kekal dalam cara sakramental bagi orang hidup dan mati. Kurban Salib di Kalvari dan Kurban Ekaristi adalah satu kurban tunggal karena “kurbannya adalah ia yang satu dan sama: yang sama dipersembahkan melalaui pelayanan imam, yang lantas mempersembahkan diri-Nya di salib; hanya cara mempersembahkannya yang berbeda” (Council of Trent: Doctrina de ss. Missae sacrificio, c.2: in DS 1743; juga KGK 1367). Waktu Misa, Kristus menghubungkan Gereja dengan diri-Nya dalam mempersembahkan kurban ini. Ia tetaplah Imam Agung dan Kurban.

Sebagai sakramen, Ekaristi Suci adalah Tubuh dan Darah, Keilahian dan Kemanusiaan Kristus, seluruh Kristus, hadir di altar kita ketika kata-kata konsekrasi diucapkan. Konsili Trent jelas mengatakan: “Karena Kristus Penebus kita berkata bahwa sungguh tubuh-Nya yang Ia persembahkan dalam rupa roti, dan ini senantiasa menjadi keyakinan Gereja Allah, dan Konsili suci ini kini menyatakan lagi bahwa melalui konsekrasi roti menjadi substansi Tubuh Kristus Tuhan kita dan seluruh substansi anggur menjadi subtansi darah-Nya. Perubahan ini telah disebut secara layak dan pantas oleh Gereja Katolik yang kudus dengan nama transubstansiasi” (Konsili Trent DS 1642; juga KGK 1376).

Dengan demikian, dalam Sakramen Ekaristi Mahakudus, “Tubuh dan Darah, bersama dengan jiwa dan keilahian, dari Tuhan kita Yesus Kristus, dan karenanya, seluruh Kristus terkandung secara nyata, sejati, dan substansial” (Konsili Trent, DS 1651; juga KGK 1374).

Jadi Konsili Vatikan II merangkum iman kita dalam Ekaristi Suci sebagai berikut: “Pada perjamuan terakhir, pada malam ia diserahkan, Penyelamat kita mengadakan Korban Ekaristi Tubuh dan Darah-Nya. Dengan demikian Ia mengabdikan Korban Salib untuk selamanya, dan mempercayakan kepada Gereja Mempelai-Nya yang terkasih kenangan Wafat dan Kebangkitan-nya: sakramen cintakasih, lambang kesatuan, ikatan cintakasih, perjamuan Paskah. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikurniai jaminan kemuliaan yang akan datang” (SC 47).

Batu karang fondasi yang adalah iman kita menerangkan mengapa Gereja menyembah Yesus Kristus dalam Ekaristi Suci. Inilah adorasi, kultus latria, tindakan ibadat tertinggi yang diberikan kepada Allah saja, “Di dalam liturgi misa, kita menyatakan iman kita bahwa Kristus sungguh hadir dalam rupa roti dan anggur, antara lain dengan berlutut atau menundukkan diri sebagai tanda penyembahan Tuhan” (KGK 1378). Kita mengingat himne agung St. Thomas Aquinas:

Allah yang tersamar, Dikau kusembah, sungguh tersembunyi, roti wujudnya. Seluruh hati hamba tunduk berserah, Ku memandang Dikau, hampa lainnya.

Pandang, raba, rasa, tidaklah benar; Kupercaya hanya yang telah kudengar; Seluruh Sabda dari Putra Allah, sungguh tak bertara kebenarannya.

Gereja berpegang pada iman ini tanpa goyah. Doktor Malaikat yang sama mengajarkan kita dalam Lauda Sion Salvatorem:

Kepada orang Kristen diberikanlah iman ini – Roti menjadi daging oleh sabda dari surga:

Ke dalam darah-Nya anggur diubah; betapa merancukan daya kodrati raba dan penglihatan. Iman kita ini membuktikan lebih dari yang dapat dipahami alam.

Untuk dapat memberikan rasa hormat yang pantas kepada Ekaristi Suci, setiap orang Katolik membutuhkan inisiasi yang sesuai ke dalam iman ini dan terus bertumbuh di dalamnya. Konsili Vatikan II, dengan mengajar tentang wahyu ilahi dan kewajiban kita untuk percaya, mengangkat frase St. Paulus: “Ketaatan iman” (Rm 16:26; bdk. 1:5; 2 Cor 10:5-6) harus diberikan kepada Allah yang menyampaikan wahyu. Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan” (Vat I: Dei Filius, De Fide, DS 3008), dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya (DV 5).

Beberapa orang Katolik kurang memiliki rasa hormat kepada Ekaristi Suci karena iman Ekaristis mereka begitu miskin dan penuh kecacatan serta keraguan. Katekese tidak seharusnya mengasumsikan bahwa setiap orang memiliki seratus persen iman. Melainkan Iman Katolik tentang Ekaristi Suci harus secara sistematis diajarkan. Homili-homili harus berlandaskan Kitab Suci dengan kokoh, teks liturgis, dan dokumen Gereja otoritatif lainnya. Homili perlu mendapat perhatian khusus karena bagi sebagian besar orang Katolik, ini adalah momen tunggal mingguan paling efektif tempat mereka diberi makan oleh ajaran iman guna membantu mereka mengetahuinya, mencintainya, dan menghidupinya dengan otentisitas yang lebih besar. Studi Katekismus Gereja Katolik secara saksama dan mambaca majalah Katolik terpercaya secara teratur juga akan membantu dalam pembangunan iman.

3. Rasa Hormat dalam Perayaan Ekaristi

Iman Katolik yang baru saja diuraikan akan menyingkapkan dirinya dalam rasa hormat terhadap semua perkara terkait perayaan Ekaristi, atau Kurban Suci Misa.

Selama Misa, imam tertahbis bertindak dalam nama Kristus. Ia tidak sekedar memimpin pertemuan doa sebagai ketua yang memimpin rapat. Tidak. Ia berdoa dalam nama Kristus. Ia berkhotbah dengan otoritas Kristus. Ia mengkonsekrasikan roti dan anggur dalam nama dan pribadi Kristus. Ia mempersembahkan Kristus kepada Allah Bapa. Ia memberikan Tubuh dan Darah Kristus kepada umat Allah, memberkati mereka dan mengutus mereka menghidupi apa yang telah mereka rayakan.

Dengan demikian, amatlah penting agar gestur-gestur imam harus menjadi perwujudan asli dari iman dan kasih Ekaristis. Kendati Kristus adalah selebran utama yang menggunakan pelayanan imam tertahbis sebagai instrumen-Nya, perilaku imam mempengaruhi seluruh jemaat.

Penting juga bahwa jemaat memperlihatkan rasa hormat. Hal ini dapat terwujud dengan datang lebih awal sebelum Misa sehingga mereka fokus ketika Misa dimulai, dalam nyanyiannya, berdiri atau duduk bersama sesuai bagiannya dan dalam mempertahankan momen doa hening. Sungguh menyedihkan melihat umat datang terlambat, membaca koran selama Misa, dan mengobrol di dalam gereja segera setelah berkat penutup diberikan, seakan-akan mereka meninggalkan stadion olahraga atau teater.

Banyak umat tidak menaati momen-momen hening, seperti sesudah bacaan, homili atau Komuni suci. Terkadang imamlah yang tergesa-gesa. Pada kesempatan lain, paduan suara hendak memenuhi setiap momen hening dengan nyanyian. Dan dalam beberapa kasus, umat yang duduk di bangku mendapati sulitnya menjalankan momen hening, karena mereka belum belajar untuk terlibat dalam doa hening pribadi.

Bahaya horizontalisme amatlah nyata dalam banyak perayaan Ekaristi. Beberapa imam dan umat bertindak seakan-akan mereka menghadiri Misa terutama untuk berjumpa satu sama lain, untuk saling menegaskan satu sama lain dan terkadang untuk saling menghibur. Horizontalisme demikian tidak pada tempatnya. Kita datang ke Misa terutama untuk menyembah Allah, untuk bersyukur kepada-Nya, untuk memohon ampun atas dosa-dosa kita dan untuk mengungkapkan permohonan atas kebutuhan kita. Bukan kita pusatnya, melainkan Allah.

Karena kita adalah tubuh dan jiwa, rasa hormat kita kepada Yesus dalam Ekaristi Suci harus terlihat dalam gestur-gestur seperti genufleksi ke arah tabernakel di pintu masuk atau keluar, genufleksi di dalam Misa sebagaimana ditetapkan buku Gereja, genufleksi atau membungkuk saat menerima Komuni Suci, perkakas altar yang bersih dan terjaga dengan baik, busana liturgis yang telah disetujui bagi imam dan asisten altarnya dan sikap hormat kepada umat yang datang dan pergi.

Rasa hormat juga mencakup hormat terhadap aturan Gereja terkait altar dan panti imam, bacaan dan nyanyian. Musik haruslah secara pantas disetujui dan harus memperlihatkan keindahan teologis, liturgis, dan estetis serta kedalamannya. Produksi musik yang banal dan kacangan tidaklah kondusif bagi rasa hormat.

Gereja terkadang mengizinkan pelayan Komuni Suci luar biasa (prodiakon) untuk membantu imam dan diakon ketika mereka tidak mampu mengatasi banyaknya umat yang menerima Komuni. Merupakan pelanggaran bagi umat beriman bila menganggap fungsi prodiakon sebagai pertarungan atas kekuasaan yang mana mereka ingin membuktikan apa yang bisa dilakukan imam, juga dapat mereka lakukan. Ini menandakan kurangnya rasa hormat. Ini juga menandakan teologi yang buruk.

Kadang kita melihat umat ingin kembali ke cara mempersembahkan Misa pra-1970. Secara umum, kesalahannya ada pada mereka yang memasukkan pelanggaran-pelanggaran dan keanehan mereka ke dalam Misa, yang bertentangan dengan arahan jelas Konsili Vatikan II (bdk. SC 22). Bila Misa dirayakan dengan iman dan rasa hormat, dan terkadang dinyanyikan juga dalam bahasa Latin, iman Katolik dan kesalehan umat akan secara memadai diperkaya.

4. Rasa Hormat dalam Penerimaan Ekaristi Suci

Orang Katolik yang menerima Yesus dalam sakramen Ekaristi Suci memperlihatkan rasa hormat dalam banyak cara.

Sikap hormat terpenting ialah penerima Komuni berada dalam kondisi berahmat. Tiap orang Katolik yang sayangnya ada dalam kondisi berdosa berat harus pergi mengaku dosa dan menerima Komuni sebelum mendekati meja Ekaristi. Konsili Trent menyatakan bahwa merupakan hal yang perlu “oleh ketetapan ilahi untuk mengakui tiap dan setiap dosa berat” (DS 1680). Dan Kitab Hukum Kanonik 1983 berkata dengan jelas: “Pengakuan dosa individual dan integral serta absolusi adalah satu-satunya cara yang mana umat beriman, menyadari dosa berat, diperdamaikan dengan Allah dan Gereja; hanya kemustahilan fisik dan moral yang membebaskan mereka dari pengakuan dosa demikian, yang mana rekonsiliasi dapat diperoleh dengan cara-cara lainnya” (KHK 960). Paus Yohanes Paulus II, dalam Surat Apostolik tertanggal 7 April 2002, Misericordia Dei, memohon para uskup dan imam untuk melakukan semua yang mungkin guna membuat akses individual terhadap Sakramen Tobat sungguh tersedia bagi umat beriman.

Maka amat disesalkan bahwa pada lebih dari satu paroki, banyak umat secara teratur pergi menerima Komuni Suci namun jarang atau tidak pergi untuk mengaku dosa. Dan beberapa dari mereka berkeliling dengan beban dosa berat dalam hati nurani mereka. Beberapa orang demikian disesatkan oleh pandangan keliru bahwa hanya sedikit orang yang mampu berbuat dosa berat, atau bahwa satu tindakan saja tidak bisa menjadi dosa berat, atau bahwa mereka tidak perlu menghiraukan apa yang dinyatakan otoritas mengajar Gereja sebagai dosa berat (seperti aborsi, kontrasepsi, relasi pra-nikah, atau euthanasia) tetapi baiklah sekadar mengikuti hati nurani mereka. Orang Katolik yang ingin memperlihatkan rasa hormat sejati terhadap Ekaristi Suci akan memastikan dirinya berada dalam kondisi berahmat sebelum mendekati meja Ekaristi.

Kita juga memperlihatkan rasa hormat dengan cara kita menerima Komuni Suci, berlutut, berdiri, di lidah atau di tangan. Bahkan cara kita berpakaian, berjalan, dan ambil bagian dalam tindakan jemaat seperti bernyanyi, berdiri, duduk, mendengarkan dan berlutut dapat memperlihatkan iman kita.

Doa pribadi mempersiapkan kita untuk partisipasi yang pantas dalam Liturgi dan membantu kita mengecap buah-buahnya. Ini berlaku secara khusus bagi penerimaan Komuni Suci. Ingatlah bahwa “Liturgi Suci tidak menguras seluruh aktivitas Gereja” (SC 9), kita menghargai kebutuhan akan renungan dan meditasi pribadi, doa batin, pertobatan hati berkesinambungan kepada Allah dan keinginan yang kian besar akan persatuan dengan Kristus. Inilah hal-hal yang mendukung rasa hormat atas misteri yang demikian agung.

Seturut devosi pribadi, seseorang dapat berlutut atau duduk dalam doa syukur setelah Komuni. Baik imam selebran dan paduan suara harus menyediakan ruang untuk hal ini. Dan Komisi Liturgi Suci Keuskupan tidak semestinya berusaha untuk mengatur gerakan-gerakan pada momen-momen demikian.

Doa syukur setelah Misa secara tradisional amat dihormati di dalam Gereja oleh imam dan umat beriman awam. Missal dan brevir bahkan menganjurkan doa bagi imam sebelum dan sesudah perayaan Ekaristi. Tidak ada alasan untuk percaya bahwa ini tidak lagi dibutuhkan. Sungguh di dalam dunia kita yang bising, momen-momen doa reflektif dan penuh kasih tampak makin diperlukan ketimbang sebelumnya. Merupakan kesaksian indah mendengar umat paroki berkata tentang pastor mereka. “Romo sedang mendaraskan doa syukur sesudah Misa dan akan ada bagi kita sepuluh menit kemudian”. Dan mengapa ini tidak berlaku bagi jemaat kita juga? Rasa hormat itu tidak bersifat otomatis. Ia harus dirawat, dibangun, dan dipertahankan.

5. Rasa Hormat terhadap Ekaristi Suci di Luar Misa

Setelah Misa, Yesus terus hadir dalam misteri Ekaristi. “Kehadiran Ekaristis Kristus”, kata Katekismus Gereja Katolik, “dimulai saat momen konsekrasi dan bertahan selama rupa Ekaristi ada” (KGK 1377). Inilah fondasi bagi rasa hormat terhadap Ekaristi Suci di luar Misa. “Gereja Katolik menyembah Ekaristi kudus tidak hanya selama misa kudus, tetapi juga di luar perayaan misa, kalau ia menyimpan hosti yang telah dikonsekrir dengan perhatian besar, mentakhtakannya untuk disembah oleh umat beriman secara meriah dan membawanya dalam prosesi” (Paulus VI, Mysterium Fidei 56, bdk. Juga KGK 1378).

Hal ini menerangkan mengapa penghormatan terhadap misteri Ekaristi berkembang dalam bentuk-bentuk doa pribadi di hadapan Sakramen Mahakudus, berjam-jam adorasi, periode pentakhtaan Ekaristi (singkat, panjang dan Empat Puluh Jam setiap tahun), berkat Ekaristi, prosesi Ekaristi, dan kongres Ekaristi. Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dikenal di seluruh Gereja Latin lantaran teks liturgisnya yang amat indah dan Prosesi Ekaristi Agung sesudah Misa. Paus Yohanes Paulus II setiap tahun memimpin Prosesi Ekaristi tradisional dari Basilika St. Yohanes Lateran menuju St. Mary Major.

Akan menjadi kesalahan bila membayangkan Gereja setelah Konsili Vatikan II kurang memberikan penekanan pada perwujudan-perwujudan iman ini. Sebaliknyalah yang benar. Mengenai dokumen, sebut saja ensiklik Mysterium Fidei Paus Paulus VI tahun 1965, Instruksi Eucharisticum Mysterium dari Kongregasi Suci untuk Ritus tahun 1967, Ritual Romawi mengenai Komuni Suci dan ibadat Misteri Ekaristi di luar Misa dari Kongregasi yang sama tahun 1973, Surat Paus Yohanes Paulus II Mengenai Misteri dan Ibadat Ekaristi Suci tahun 1980 dan Surat Ensiklik belakangan dari Paus yang sama pada April 2003 berjudul Ecclesia de Eucharistia.

Tabernakel tempat Sakramen Mahakudus disimpan secara tradisional mendapat perhatian khusus Gereja. Paragraf 314-316 dari instruksi pengantar Missale Romawi 2002 memberikannya tempat yang utama. Tabernakel harus ada di bagian Gereja yang sungguh mulia, terbedakan, kentara, dan dihias dengan baik dan sesuai untuk doa. Ia harus ditempatkan entah di panti imam, terpisah dari altar perayaan dalam bentuk dan tempat yang paling sesuai, atau bahkan di kapel yang sesuai untuk adorasi dan doa pribadi umat beriman yang secara integral terhubung dengan gereja dan terlihat mencolok oleh umat beriman. Lampu panti imam, yang menyala karena minyak atau lilin, haruslah menyala di dekat tabernakel untuk menandakan kehadiran Yesus. Bandingkan instruksi-instruksi resmi ini dengan apa yang terkadang merupakan kasus-kasus di beberapa gereja khususnya yang dibangun ulang oleh beberapa pembaru yang kurang informasi. Di beberapa gereja ini, seseorang tidak dapat memberitahu dimanakah tabernakel berada. Lantas dalam kebenaran ia dapat meratap: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan” (Yoh 20:13).

Kongregasi untuk Klerus, dalam instruksinya tertanggal 4 Augustus 2002, menasihatkan para imam: “Sakramen Mahakudus harus disimpan dengan penuh kasih dalam sebuah tabernakel ‘yang adalah jantung rohani setiap komunitas religius dan paroki’. Tanpa kultus Ekaristi, bak jantung yang berdetak, sebuah paroki menjadi gersang. Bila anda menghendaki umat beriman sedia berdoa dengan saleh – sebagaimana Pius XII mengingatkan klerus Roma – berilah contoh kepada mereka dengan berdoa di gereja anda sebelum mereka. Imam yang bertekuk lutut di hadapan tabernakel, dengan disposisi yang pantas dan dalam rekoleksi mendalam, adalah suri teladan bagi pembangunan umat, sebuah pengingat dan undangan menuju peneladanan dalam suasana doa” (The Priest, Pastor and Leader of the Parish Community 21).

Umat ingin menghormati Tuhan Ekaristi kita dengan bertekuk lutut. Guna memfasilitasi hal ini, harus ada tempat berlutut di depan Sakramen Mahakudus. Saya telah melihat kapel adorasi 24 jam yang dibangun secara khusus tempat orang-orang dengan bebas bersujud seturut keinginan mereka, tanpa memperhatikan apa yang orang lain pikirkan tentang mereka. Bila anda sungguh percaya bahwa Yesus ada di sana, Allah dan Manusia, bukankah logis untuk bersujud di hadapan-Nya?

Sungguh praktik yang indah bila orang-orang yang ada di dekat gereja atau kapel ketika Sakramen nan luhur disimpan, mengunjungi Tuhan kita, dalam waktu singkat atau lama. Terdapat pula kebiasaan yang patut dipuji dengan membuat tanda salib atau membungkuk ketika seseorang melewati tempat yang demikian suci.

Kita dapat terus menghitung banyak cara yang mewujudkan iman orang-orang katolik dalam Ekaristi Suci dalam tindakan-tindakan penghormatan.

Mari kita berdoa kepada Perawan Tersuci Maria, Bunda Tuhan Ekaristi kita, guna memperoleh bagi kita iman yang teguh dalam kurban dan sakramen Ekaristi Suci. Iman yang demikian tidak akan gagal menghasilkan bunga-bunga rasa hormat, adorasi dan kasih, dan akan mendukung persatuan kita dengan Kristus, dan akan mempengaruhi seluruh hidup Kristiani kita.

Francis Kardinal Arinze, 18 Juli 2013

Iklan

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: