Primat Penerus Petrus dalam Misteri Gereja

Christ Giving Keys to Peter

Catatan penerjemah: berikut ini adalah terjemahan tidak resmi dari teks Kongregasi Ajaran Iman, yang berjudul “The Primacy of Peter in The Mystery of the Church”. Sengaja teks tersebut diterjemahkan agar para pembaca memiliki pemahaman yang tepat terhadap peran Paus sebagai Penerus Petrus. Diharapkan dengan mempelajari teks ini, para pembaca dapat menyikapi dengan baik hal-hal terkait kepausan saat ini, khususnya bila hal itu menuai kontroversi dan perdebatan di antara media-media Katolik berbahasa Inggris.

+++

Refleksi Kongregasi Ajaran Iman

Kardinal Joseph Ratzinger, Prefek

Tarcisio Bertone, Uskup Agung Emeritus Vercelli, Sekretaris

1. Pada momen ini dalam kehidupan Gereja, pertanyaan tentang primat Petrus dan Penerus-Nya punya makna amat penting dan juga ekumenis. Yohanes Paulus II kerap berbicara tentang ini, khususnya dalam Ensiklik Ut Unum Sint, yang mana ia membentangkan undangan khususnya kepada para pastor dan teolog untuk “menemukan jalan melaksanakan primat, yang mana kendati tidak menanggalkan apa yang hakiki bagi misinya, namun tetap terbuka kepada situasi baru.”[1]

Guna menjawab undangan Bapa Suci, Kongregasi Ajaran Iman memutuskan untuk mempelajari perkara tersebut dengan mengadakan simposium doktrinal mengenai Primat Penerus Petrus, yang diselenggarakan di Vatikan dari tanggal 2 hingga 4 Desember 1996. Prosidingnya belakangan ini telah diterbitkan.[2]

2. Dalam pesannya kepada mereka yang menghadiri simposium, Bapa Suci menulis: “Gereja Katolik sadar akan tugasnya, dalam kesetiaan kepada Tradisi Apostolik dan iman para Bapa, untuk menjaga pelayanan Penerus Petrus”[3]. Dalam sejarah Gereja, ada kesinambungan perkembangan doktrinal mengenai primat. Dalam mempersiapkan teks ini, yang muncul dalam Apendiks Prosiding[4] yang disebutkan, Kongregasi Ajaran Iman telah menggunakan sumbangsih para skolar yang ambil bagian dalam simposium, namun tanpa bermaksud menyajikan sebuah sintesis tentangnya atau masuk ke dalam pertanyaan yang membutuhkan studi lanjut. “Permenungan-permenungan” ini – yang disertakan dalam simposium – bermaksud untuk mengingat pokok-pokok hakiki dari ajaran Katolik mengenai primat, karunia agung Kristus kepada Gereja-Nya karena ini adalah pelayanan yang perlu bagi kesatuan, sebagaimana diperlihatkan sejarah, ia kerap kali membela kebebasan para uskup dan Gereja-gereja partikular dari campur tangan otoritas politik.

I. Asal Mula, Tujuan, dan Hakikat Primat

3. “Pertama Simon, yang disebut Petrus.”[5] Dengan penekanan penting ini terhadap primat St. Petrus, St. Matius menyertakan daftar Keduabelas Rasul ke dalam Injilnya, yang juga dimulai dengan nama Simon dalam dua Injil sinoptik lainnya dan dalam Kisah Para Rasul[6]. Daftar ini, yang memiliki daya pembuktian besar, dan pasase Injil lainnya[7] memperlihatkan dengan jelas dan sederhana bahwa kanon Perjanjian Baru menerima apa yang Kristus katakan kepada Petrus dan perannya dalam kelompok Keduabelas[8]. Jadi, dalam komunitas Kristen awal, dan sesudahnya di seluruh Gereja, citra Petrus tetap kokoh sebagai Rasul yang kendati memiliki kelemahan insani, namun ditugaskan Kristus di tempat pertama di antara Keduabelas dan dipanggil untuk melaksanakan tugas khusus yang berbeda di dalam Gereja. Ia adalah batu karang yang di atasnya Kristus membangun Gereja-Nya[9]; ia adalah seseorang, setelah bertobat, yang imannya tidak gugur dan yang akan menguatkan saudara-saudaranya[10]; terakhir, ia adalah Gembala yang menuntun seluruh komunitas murid Tuhan.[11]

Dalam pribadi, misi dan pelayanan Petrus, dalam kehadiran dan wafatnya di Roma yang disaksikan oleh literatur kuno dan tradisi arkeologis – Gereja melihat realitas mendalam yang secara hakiki terkait dengan misteri persekutuannya dan keselamatan: “Ubi Petrus, ibi ergo Ecclesia[12]. Sedari awal dan dengan kejernihan yang kian bertambah, Gereja telah memahami bahwa, sama seperti terdapat suksesi Para Rasul dalam pelayanan Uskup, demikian pula pelayanan kesatuan yang dipercayakan kepada Petrus tergolong ke dalam struktur permanen Gereja Kristus dan suksesi ini ditetapkan di takhta kemartirannya.

4. Atas dasar kesaksian Perjanjian Baru, Gereja Katolik mengajarkan, sebagai doktrin iman, bahwa Uskup Roma adalah Penerus Petrus dalam pelayanan primatnya di dalam Gereja universal[13]; suksesi ini menjelaskan pra-keunggulan Gereja Roma[14], yang diperkaya juga oleh pewartaan dan kemartiran St. Paulus.

Dalam rencana ilahi, primat sebagai “jabatan yang diberikan secara individual oleh Tuhan kepada Petrus, yang pertama dari antara Para Rasul, dan yang diteruskan kepada penerusnya”[15], kita telah memahami tujuan karisma Petrus, yakni “kesatuan iman dan persekutuan”[16] semua umat beriman. Paus Roma, sebagai Penerus Petrus, adalah “prinsip dan fondasi kesatuan yang kekal dan kasatmata bagi Para Uskup dan segenap umat beriman”[17] dan karenanya ia memiliki rahmat pelayanan khusus guna melayani kesatuan iman dan persekutuan yang perlu bagi Gereja untuk memenuhi misi penyelamatannya.[18]

5. Konstitusi Pastor Aeternus Konsili Vatikan I menunjukkan tujuan Primat dalam Prolognya dan lantas membaktikan isi teks tersebut guna menjelaskan konten atau jangkauan kekuasannya. Konsili Vatikan II, selanjutnya, menegaskan kembali dan melengkapi ajaran Vatikan I[19], berbicara terutama tentang tema tujuannya, dengan perhatian khusus kepada misteri Gereja sebagai Corpus Ecclesiarum[20]. Pertimbangan ini memungkinan eksposisi yang lebih jelas tentang bagaimana jabatan primat Uskup Roma dan jabatan uskup lainnya tidaklah berlawanan melainkan selaras secara fundamental dan hakiki.[21]

Oleh sebab itu, “ketika Gereja Katolik menegaskan bahwa jabatan Uskup Roma berhubungan dengan kehendak Kristus, ia tidak memisahkan jabatan ini dari misi yang dipercayakan kepada seluruh tubuh Para Uskup, yang juga “wakil dan duta Kristus” (Lumen Gentium 27). Uskup Roma adalah anggota “Kolega”, dan Para Uskup adalah saudara-saudara dalam pelayanan.”[22] Harus dikatakan pula, secara timbal balik, bahwa kolegialitas episokopal tidak bertentangan dengan pelaksanaan primat secara personal, dan tidak semestinya ia menisbikannya pula.

6. Semua Uskup tunduk pada sollicitudo omnium Ecclesiarum[23] (pemeliharaan seluruh Gereja) sebagai anggota Kolega Episkopal yang meneruskan Kolega Para Rasul, yang mana St. Paulus yang luar biasa juga termasuk ke dalamnya. Dimensi universal episkope (pengawasan) mereka tidak bisa dipisahkan dari dimensi jabatan yang dipercayakan kepada mereka[24]. Dalam hal Uskup Roma – Wakil Kristus dalam cara yang pantas bagi Petrus sebagai Kepala Kolega Para Uskup[25]sollicitudo omnium Ecclesiarum memperoleh kuasa khusus lantaran dia dipadukan dengan kuasa tertinggi dan penuh di dalam Gereja[26]: kuasa yang sungguh episkopal, tidak hanya tertinggi, penuh dan universal, tetapi juga langsung, terhadap semua pastor dan umat beriman lainnya[27]. Pelayanan Penerus St. Petrus, oleh sebab itu, bukanlah pelayanan yang menjangkau tiap Gereja dari luar, tetapi terukir dalam hati setiap Gereja partikular, yang mana “Gereja Kristus sungguh hadir dan aktif”[28] dan untuk alasan ini ia mencakup keterbukaan bagi pelayanan kesatuan. Interioritas pelayanan Uskup Roma kepada tiap Gereja partikular juga adalah ungkapan interioritas timbal balik antara Gereja universal dan Gereja partikular.[29]

Episkopat dan primat, yang secara timbal balik saling terkait dan tak terpisahkan, berasal dari institusi ilahi. Secara historis muncul bentuk-bentuk organisasi gerejawi yang diinstitusikan Gereja yang mana prinsip primat juga diterapkan. Secara khusus, Gereja Katolik menyadari peran takhta apostolik dalam Gereja perdana, khususnya mereka yang dianggap takhta Petrus – Antiokia dan Alexandria – sebagai titik rujukan Tradisi Apostolik, dan di sekelilingnya berkembanglah sistem patriak; sistem ini adalah satu dari sekian cara Penyelenggaraan Ilahi Allah membimbing Gereja dan sedari awal ia telah mencakup relasi kepada tradisi Petrus.[30]

II. Pelaksanaan Primat dan Bentuk-Bentuknya

7. Pelaksanaan pelayanan Petrus harus dipahami – sehingga ia “tidak kehilangan otentisitasnya dan transparansinya”[31] – atas dasar Injil, yakni, atas dasar tempat hakikinya dalam misteri penyelamatan Kristus dan pembangunan Gereja. Primat berbeda dalam hakikatnya dan dalam pelaksanaannya dari jabatan kepemimpinan yang didapati dalam masyarakat manusia[32]: ia bukanlah jabatan koordinasi manajemen, tidak pula ia bisa direduksi menjadi primat kehormatan, atau dipahami sebagai monarki politik.

Paus Roma – seperti semua umat beriman – tunduk pada Sabda Allah, pada iman Katolik, dan adalah penjaga ketaatan Gereja; dalam pengertian ini ia adalah servus servorum Dei. Ia tidak memutuskan sewenang-wenang, melainkan adalah juru bicara bagi kehendak Tuhan, yang berbicara kepada manusia dalam Kitab Suci yang dihidupi dan ditafsirkan oleh Tradisi; dengan kata lain, episkope dari primat memiliki batasan-batasan yang ditetapkan hukum ilahi dan oleh konstitusi ilahi Gereja yang tak dapat diganggu gugat, yang ditemukan dalam Wahyu[33]. Penerus Petrus adalah batu karang yang menjaga kesetiaan ketat terhadap Sabda Allah dari kesewenang-wenangan dan konformisme: demikianlah hakikat martirologis dari primatnya.

8. Kekhasan dari pelaksanaan primat harus dipahami terutama atas dasar dua premis hakiki: kesatuan episkopat dan hakikat primat yang bersifat episkopal itu sendiri. Karena episkopat itu “satu dan tak terbagi”[34], maka primat Paus mengimplikasikan otoritas yang secara efektif melayani kesatuan semua Uskup dan umat beriman, dan “dilaksanakan pada pelbagai tingkatan, termasuk pengawasan atas penyerahan Sabda, perayaan liturgi dan sakramen-sakramen, misi Gereja, disiplin dan kehidupan Kristiani”[35], pada tingkatan-tingkatan ini, oleh kehendak Kristus, setiap orang di dalam Gereja – Para Uskup dan umat beriman lainnya – wajib menaati Penerus Petrus, yang adalah penjaga keragaman sah ritus-ritus, disiplin, dan struktur gerejawi antara Timur dan Barat.

9. Dengan hakikat episkopalnya, primat Uskup Roma, pertama, diungkapkan dalam penerusan Sabda Allah; kaenanya ia mencakup tanggung jawab khusus dan spesifik bagi misi evangelisasi[36], karena persekutuan gerejawi adalah sesuatu yang secara hakiki dimaksudkan untuk diperluas: “Evangelisasi adalah rahmat dan panggilan yang pantas bagi Gereja, identitas terdalamnya.”[37]

Tanggung jawab episkopal dari Paus Roma untuk meneruskan Sabda Allah juga meluas di dalam seluruh Gereja. Dengan demikian, ia merupakan jabatan magisterial[38] tertinggi dan universal; ia adalah jabatan yang melibatkan karisma: pertolongan khusus Roh Kudus kepada Penerus Petrus, yang juga melibatkan, dalam kasus tertentu, prerogatif infalibilitas[39]. Sama seperti “semua Gereja ada dalam persekutuan penuh dan kasatmata, karena semua Pastor ada dalam persekutuan dengan Petrus dan karenanya disatukan dalam Kristus”[40], dalam cara yang sama Para Uskup adalah saksi kebenaran Katolik dan ilahi ketika mereka mengajar dalam persekutuan dengan Paus Roma[41].

10. Bersama dengan peran magisterial primat, misi Penerus Petrus untuk seluruh Gereja mencakup hak untuk melaksanakan tindakan-tindakan pemerintahan gerejawi yang perlu atau disesuaikan guna mendukung dan membela kesatuan iman dan persekutuan; salah satunya, misalnya, memberikan mandat untuk menahbiskan Uskup baru, mengharuskan mereka membuat pengakuan iman Katolik; membantu setiap orang berjalan terus dalam iman yang diakui. Kentara sekali, ada banyak cara lain yang mungkin, yang sifatnya berubah, dalam melaksanakan pelayanan kesatuan ini: mengeluarkan hukum bagi seluruh Gereja, mendirikan struktur pastoral untuk melayani berbagai Gereja universal, memberikan daya mengikat bagi keputusan-kepusan Konsili Partikular, menyetujui tarekat religius supradiosesan, dst. Karena kuasa primat adalah yang tertinggi, maka tiada otoritas apapun tempat Paus Roma harus secara yuridis mempertanggungjawabkan pelaksanaan karunia yang ia terima: “prima sedes a nemine iudicatur”[42] (“takhta pertama tidak dihakini oleh siapapun”). Namun ini tidak berarti bahwa Paus memiliki kekuasaan absolut. Mendengarkan apa yang Gereja katakan, sejatinya adalah ciri khas dari pelayanan kesatuan, konsekuensi dari kesatuan Tubuh Episkopal dan sensus fidei seluruh umat Allah; dan ikatan ini tampak memiliki kuasa dan kepastian yang lebih besar daripada otoritas yuridis – sebuah hipotesis yang tak dapat diterima, terlebih, lantaran tak berdasar – yang mana Paus Roma harus bertanggung jawab kepadanya. Tanggung jawab Paus yang tertinggi dan absolut paling baik dijaga, di satu sisi, oleh relasinya terhadap Tradisi dan persekutuan fraternal, dan di sisi lain, oleh kepercayaan pada pertolongan Roh Kudus yang memimpin Gereja.

11. Kesatuan Gereja, yang dilayani Penerus Petrus dengan cara yang unik, mencapai ungkapan tertingginya dalam Kurban Ekaristi, yang adalah pusat dan akar persekutuan gerejawi; persekutuan ini juga selalu didasarkan pada kesatuan Episkopat. Jadi, “setiap perayaan Ekaristi dilakukan dalam kesatuan tidak hanya dengan uskup, tetapi juga dengan paus, dengan tatanan episkopal, dengan semua klerus, dan dengan segenap umat. Setiap perayaan Ekaristi yang sah mengungkapkan persekutuan universal ini dengan Petrus dan dengan seluruh Gereja, atau secara objektif mengharuskannya”[43], sebagaimana dalam hal Gereja-Gereja yang tidak berada dalam persekutuan dengan Takhta Apostolik.

12. “Gereja yang berziarah, dalam institusi dan sakramennya, yang tergolong ke zaman ini, memikul tanda dunia ini yang sedang berlalu.”[44] Untuk alasan ini pula, hakikat primat Penerus Petrus yang kekal secara historis telah diungkapkan dalam bentuk-bentuk pelaksanaan yang berbeda sesuai dengan situasi Gereja yang berziarah di dunia yang berubah-ubah ini.

Konten konkret dari pelaksanaannya membedakan pelayanan Petrus sejauh mereka dengan setia mengungkapkan penerapan tujuan tertingginya (kesatuan Gereja) kepada situasi waktu dan tempat. Seberapa kecil atau besar konten konkret ini di setiap zaman bergantung kepada necessitas Ecclesiae. Roh Kudus membantu Gereja mengakui keharusan ini, dan Paus Roma, dengan mendengarkan suara Roh di dalam Gereja-Gereja, mencari jawaban dan menyajikannya ketika dan dalam cara yang ia anggap pantas.

Konsekuensinya, saripati doktrin iman mengenai kompetensi primat tidak bisa ditentukan dengan mencari sedikitnya jumlah fungsi yang dilaksanakan secara historis. Jadi, kenyataan bahwa tugas khusus telah dilaksanakan primat dalam era tertentu tidak berarti oleh dirinya sendiri bahwa tugas ini harus selalu dipertahankan Paus Roma, dan sebaliknya, sekadar fakta bahwa peran khusus sebelumnya tidak dilaksanakan oleh Paus tidak menjamin kesimpulan bahwa peran ini tidak bisa dalam cara tertentu dilaksanakan di masa mendatang sebagai kompetensi primat.

13. Setidak-tidaknya, merupakan hal hakiki untuk menyatakan bahwa pemilahan cara-cara yang mungkin dalam melaksanakan pelayanan Petrus berhubungan dengan hakikatnya, merupakan sebuah pembedaan roh (discernment) yang harus dilakukan di dalam Ecclesia, yaitu dengan pertolongan Roh Kudus dan dalam dialog fraternal antara Paus Roma dan Para Uskup, seturut kebutuhan konkret Gereja. Tapi pada saat bersamaan, jelaslah bahwa hanya Paus (atau Paus dengan Konsili Ekumenis) sebagai Penerus Petrus yang memiliki otoritas dan kompetensi untuk memberikan keputusan akhir mengenai cara-cara melaksanakan pelayanan pastoralnya dalam Gereja universal.

14. Dalam mengingat pokok-pokok hakiki doktrin Katolik mengenai primat Penerus Petrus, Kongregasi Ajaran Iman merasa yakin bahwa penegasan otoritatif dari pencapaian doktrinal ini memberikan kejernihan lebih besar mengenai jalan yang harus ditempuh. Pengingat ini juga berguna untuk menghindari kemungkinan berkelanjutan dari kambuhnya posisi yang bias dan berat-sebelah yang telah ditolak Gereja di masa lalu (Febronianisme, Gallikanisme, Ultramontanisme, Konsiliarisme, dst). Terutama, dengan memahami pelayanan Hamba dari segala hamba Allah sebagai karunia agung belas kasih ilahi kepada Gereja, kita akan menemukan, dengan rahmat Roh Kudus, tenaga guna menghidupi dan menjaga dengan setia persatuan penuh dan nyata dengan Paus Roma dalam kehidupan sehari-hari Gereja, dalam cara yang dikehendaki Kristus.[45]

15. Persekutuan penuh yang dikehendaki Tuhan di antara mereka yang mengakui diri sebagai murid-Nya membutuhkan pengakuan umum akan pelayanan gerejawi universal “yang mana semua Uskup mengakui bahwa mereka disatukan dalam Kristus dan semua umat beriman mendapati konfirmasi bagi iman mereka.”[46] Gereja Katolik mengakui bahwa pelayanan ini adalah pelayanan primat Paus Roma, Penerus Petrus, dan dengan rendah hati dan tegas mempertahankan “bahwa persekutuan Gereja-Gereja partikular dengan Gereja Roma, dan para Uskup mereka dengan Uskup Roma, dalam rencana Allah, merupakan prasyarat hakiki bagi persekutuan penuh dan kasatmata”[47]. Kekeliruan manusia dan bahkan kegagalan serius dapat ditemukan dalam sejarah kepausan. Petrus sendiri mengakui bahwa ia adalah pendosa[48]. Petrus, insan yang rapuh, dipilih sebagai batu karang persisnya agar setiap orang dapat melihat bahwa kejayaan adalah milik Kristus seorang dan bukan hasil usaha manusia. Di sepanjang zaman Tuhan berkehendak untuk menempatkan harta karun ini dalam bejana yang rapuh[49]: kerapuhan manusia dengan demikian menjadi tanda kebenaran janji-janji Allah.

Kapan dan bagaimana tujuan persatuan semua umat Kristen akan dicapai? “Bagaimana memperolehnya? Melalui harapan dalam Roh, yang dapat mengenyahkan kenangan menyakitkan akan perpisahan kita. Roh mampu memberikan kita kejernihan pikiran, kekuatan, dan keberanian, guna mengambil langkah apapun yang perlu, sehingga komitmen kita dapat menjadi kian otentik.”[50] Kita semua diundang untuk percaya pada Roh Kudus, percaya pada Kristus, dengan mempercayai Petrus.

Catatan Kaki

[1] John Paul II, Encyc. Let. Ut unum sint, 25 May 1995, n. 95.

[2] Il Primato del Successore di Pietro, Atti del Simposio teologico, Rome, 2-4 December 1996, Libreria Editrice Vaticana, Vatican City, 1998.

[3] John Paul II, Letter to Cardinal Joseph Ratzinger, in ibid., p. 20.

[4] Il Primato del Successore di Pietro nel mistero della Chiesa,Considerazioni della Congregazione per la Dottrina della Fede, in ibid., Appendix, pp. 493-503. The text was also published as a booklet by the Libreria Editrice Vaticana.

[5] Mt 10:2.

[6] Cf. Mk 3:16; Lk 6:14; Acts 1: 13.

[7] Cf. Mt 14:28-31; 16:16-23 and par.; 19:27-29 and par.; 26:33-35 and par.; Lk 22:32; Jn 1:42; 6:67-70; 13:36-38; 21:15-19.

[8] Evidence for the Petrine ministry is found in all the expressions, however different, of the New Testament tradition, both in the Synoptics – here with different features in Matthew and Luke, as well as in St Mark – and in the Pauline corpus and the Johannine tradition, always with original elements, differing in their narrative aspects but in profound agreement about their essential meaning. This is a sign that the Petrine reality was regarded as a constitutive given of the Church.

[9] Cf. Mt 16:18.

[10] Cf. Lk 22:32.

[11] Cf. Jn 21:15-17. Regarding the New Testament evidence on the primacy, cf. also John Paul II, Encyc. Let. Ut unum sint, nn. 90ff.

[12] St Ambrose of Milan, Enarr. in Ps., 40, 30: PL 14, 1134.

[13] Cf. for example St Siricius I, Let. Directa ad decessorem, 10 February 385: Denz-Hun, n. 181; Second Council of Lyons, Professio fidei of Michael Palaeologus, 6 July 1274: Denz-Hun, n. 861; Clement VI, Let. Super quibusdam, 29 November 1351: Denz-Hun, n. 1053; Council of Florence, Bull Laetentur caeli, 6 July 1439: Denz-Hun, n. 1307; Pius IX, Encyc. Let. Qui pluribus, 9 November 1846: Denz-Hun, n. 2781; First Vatican Council, Dogm. Const. Pastor aeternus, Chap. 2: Denz-Hun, nn. 3056-3058; Second Vatican Council, Dogm. Const. Lumen gentium, Chap. 111, nn. 21-23; Catechism of the Catholic Church, n. 882; etc.

[14] Cf. St Ignatius of Antioch, Epist. ad Romanos, Introd.: SChr 10, 106-107; St Irenaeus of Lyons, Adversus Haereses, III, 3, 2: SChr 211, 32-33.

[15] Second Vatican Council, Dogm. Const. Lumen gentium, n. 20.

[16] First Vatican Council, Dogm. Const. Pastor aeternus, Prologue: Denz-Hun, n. 3051. Cf. St Leo I the Great, Tract. in Natale eiusdem, IV, 2: CCL 138, p. 19.

[17] Second Vatican Council, Dogm. Const. Lumen gentium, n. 23. Cf. First Vatican Council, Dogm. Const. Pastor aeternus, Prologue: Denz-Hun, n. 3051; John Paul II, Encyc. Let. Ut unum sint, n. 88. Cf. Pius IX, Letter of the Holy Office to the Bishops of England, 16 November 1864: Denz-Hun, n. 2888; Leo XIII, Encyc. Let. Satis cognitum, 29 June 1896: Denz-Hun, nn. 3305-3310.

[18] Cf. Jn 17:21-23; Second Vatican Council, Decr. Unitatis redintegratio, n. 1; Paul VI, Apost. Exhort. Evangelii nuntiandi, 8 December 1975, n. 77: AAS 68 (1976) 69; John Paul Il, Encyc. Let. Ut unum sint, n. 98.

[19] Cf. Second Vatican Council, Dogm. Const. Lumen gentium, n 18.

[20] Cf. ibid., n. 23.

[21] Cf. First Vatican Council, Dogm. Const. Pastor aeternus, Chap. 3: Denz-Hun, n. 3061; cf. Joint Declaration of the German Bishops, Jan.-Feb. 1875: Denz-Hun, nn. 3112-3113; Leo XIII, Encyc. Let. Satis cognitum, 29 June 1896: Denz-Hun, n. 3310; Second Vatican Council, Dogm. Const. Lumen gentium, n. 27. As Pius IX explained in his Address after the promulgation of the Constitution Pastor aeternus: “Summa ista Romani Pontificis auctoritas, Venerabiles Fratres, non opprimit sed adiuvat, non destruit sed aedificat, et saepissime confirmat in dignitate, unit in caritate, et Fratrum, scificet Episcoporum, iura firmat atque tuetur” (Mansi 52, 1336 A/B).

[22] John Paul II, Encyc. Let. Ut unum sint, n. 95.

[23] 2 Cor 11:28.

[24] The ontological priority that the universal Church has, in her essential mystery, over every individual particular Church (cf Congr. for the Doctrine of the Faith, Let. Communionis notio, 28 May 1992, n. 9) also emphasizes the importance of the universal dimension of every Bishop’s ministry.

[25] Bull Cf. First Vatican Council, Dogm. Const. Pastor aeternus, Chap. 3: Denz-Hun, n. 3059; Second Vatican Council, Dogm. Const. Lumen gentium, n. 22; cf. Council of Florence, Bull Laetentur caeli, 6 July 1439: Denz-Hun, n. 1307.

[26] Cf. First Vatican Council, Dogm. Const. Pastor aeternus, Chap. 3: Denz-Hun, nn. 3060, 3064.

[27] Cf. ibid.; Second Vatican Council, Dogm. Const. Lumen gentium, n. 22.

[28] Second Vatican Council, Decr. Christus Dominus, n. 1l.

[29] Cf. Congr. for the Doctrine of the Faith, Let. Communionis notio, n. 13.

[30] Cf. Second Vatican Council, Dogm. Const. Lumen gentium, n. 23; Decr. Orientalium Ecclesiarum, nn. 7 and 9.

[31] John Paul II, Encyc. Let. Ut unum sint, n. 93.

[32] Cf. ibid., n. 94.

[33] Cf. Joint Declaration of the German Bishops, Jan.-Feb. 1875: Denz-Hun, n. 3114.

[34] First Vatican Council, Const. Dogm. Pastor aeternus, Prologue: Denz.-Hun, n. 3051.

[35] John Paul II, Encyc. Let. Ut unum sint, n. 94.

[36] Cf. Second Vatican Council, Dogm. Const. Lumen gentium, n. 23; Leo XIII, Encyc. Let. Grande munus, 30 November 1880: ASS 13 (1880) 145; CIC, can. 782, §1.

[37] Paul VI, Apost. Exhort. Evangelii nuntiandi, n. 14. Cf. CIC, can. 781.

[38] Cf. First Vatican Council, Dogm. Const. Pastor aeternus, Chap. 4: Denz-Hun, nn. 3065-3068.

[39] Cf. ibid.: Denz-Hun, 3073-3074; Second Vatican Council, Dogm. Const. Lumen gentium, n. 25; CIC, can. 749, §1; CCEO, can. 597, §1.

[40] John Paul II, Encyc. Let. Ut unum sint, n. 94.

[41] Cf. Second Vatican Council, Dogm. Const. Lumen gentium, n. 25.

[42] CIC, can. 1404; CCEO, can. 1058. Cf. First Vatican Council, Dogm. Const. Pastor aeternus, Chap. 3: Denz-Hun, n. 3063.

[43] Congr. for the Doctrine of the, Faith, Let. Communionis notio, n. 14. Cf. Catechism of the Catholic Church, n. 1369.

[44] Second Vatican Council, Dogm. Const. Lumen gentium, n. 48.

[45] Cf. Second Vatican Council, Dogm. Const., Lumen gentium, n. 15.

[46] John Paul II, Encyc. Let. Ut unum sint, n. 97.

[47] Ibid.

[48] Cf. Lk 5:8.

[49] Cf. 2 Cor 4:7.

[50] John Paul II, Encyc. Let. Ut unum sint, n. 102.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: