Norma Liturgi dan Kesalehan Liturgi

Cardinal Arinze

Catatan penerjemah: Berikut ini adalah terjemahan tidak resmi teks Kardinal Arinze yang membahas mengenai norma dan kesalehan liturgi. Bagian mengenai tarian dalam liturgi sengaja tidak diterjemahkan, sehingga pembaca dapat fokus kepada aspek norma dan kesalehan liturgi.

Ekaristi Suci menempati tempat utama dalam ibadat publik Gereja dan dalam kehidupannya. Oleh sebab itu, perayaannya harus memperoleh perhatian terbesar kita semua. Untuk alasan itulah, saya bahagia lantaran mempelajari bahwa Gateway Liturgical Conference membaktikan diri secara khusus pada perayaan Ekaristi Suci yang pantas, selaras dengan ensiklik Bapa Suci Ecclesia de Eucharistia, dan instruksi Kongregasi Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen, Redemptionis Sacramentum. Hal ini juga amat sejalan dengan semangat Tahun Ekaristi ini.

Dalam mengembangkan tema yang diberikan pada saya, yakni “Norma Liturgi dan Kesalehan Liturgi”, saya bermaksud mengawalinya dengan menelisik mengapa perlu ada norma liturgi, dan siapakah otoritas yang dapat mengeluarkan norma untuk liturgi. Lantas saya akan menjelaskan apa yang kita maksud dengan kesalehan liturgi. Kreativitas adalah isu yang kerap muncul sembari mengacu kepada liturgi. Ia harus ditelisik. Keinginan untuk membuat perayaan liturgis menjadi menarik juga pantas kita perhatikan. Beberapa orang ingin memasukkan tarian ke dalam liturgi. Diskusi tentang kecenderungan ini tak terelakkan. Kita akan menyimpulkan dengan bertanya pada diri kita apakah ketaatan terhadap norma liturgis adalah panggilan menuju formalisme atau rubrikisme, ataukah ia adalah panggilan yang menyokong iman dan kesalehan.

1. Alasan Perlunya Norma Liturgi

Liturgi suci adalah pelaksanaan imamat Yesus Kristus. Ia adalah ibadat publik Gereja yang dilakukan oleh Tubuh Mistik Kristus, oleh Kepala dan anggota-Nya (bdk. SC 7).

Perayaan liturgis memiliki beberapa unsur yang tergolong ke dalam institusi ilahi. Contohnya ialah hal-hal hakiki dari tujuh sakramen. Ada pula unsur-unsur yang tergolong ke dalam institusi gerejawi. Dalam memutuskan unsur-unsur ini, Gereja amat berupaya untuk setia kepada Kitab Suci, untuk menghormati tradisi yang diteruskan selama berabad-abad, untuk mewujudkan imannya dan bersukacita di dalamnya, dan untuk menuntun semua umat beriman kepada pemujaan Allah, dengan mengikuti teladan Kristus, dan memperlihatkan kasih serta pelayanan kepada sesama. Di antara kedua hal ini kita dapat berbicara tentang hal ketiga: yaitu unsur-unsur liturgi yang ditemukan di hari-hari permulaan dalam semua atau hampir semua tradisi liturgis besar dan yang setidaknya mesti kembali pada periode yang dekat dengan para rasul, dan mungkin bahkan dengan Tuhan. Kendati kita tidak memiliki pengetahuan pasti terhadap perkara ini, ada alasan kuat untuk menghindari inovasi yang tergesa-gesa atau pengabaian (cf Varietates Legitimae [VL] 26-27, General Instruction of the Roman Missal [GIRM] 397, Liturgiam authenticam [LA] 4-5, Redemptionis Sacramentum [RS] 9)

Perayaan liturgis harus menjadi pengalaman iman tradisional yang diakui, dirayakan, dan disampaikan, pengalaman harapan yang diungkapkan dan ditegaskan, serta pengalaman kasih yang dinyanyikan dan dihidupi.

Karena perayaan liturgis adalah tindakan publik yang dilakukan dalam nama Gereja universal, dengan Yesus Kristus sendiri sebagai Imam Agung, maka selagi waktu bergulir, Gereja selalu mengembangkan norma-norma yang mengungkapkan ibadat publiknya. Norma liturgi melindungi harta karun ini yang adalah ibadat Kristiani. Ia mewujudkan iman Gereja, mendukungnya, merayakannya, dan menyampaikannya. Ia juga mewujudkan hakikat Gereja sebagai keluarga yang terbentuk secara hirarkis, sebuah komunitas ibadat, kasih dan pelayanan, sebuah tubuh yang mendukung persatuan dengan Allah dan kekudusan hidup dan memberikan pendosa harapan akan pertobatan, pengampunan, dan hidup baru dalam Kristus.

Terlebih, norma liturgi membantu melindungi perayaan misteri-misteri suci, khususnya Ekaristi Suci, dari kerusakan lantaran penambahan atau pengurangan yang merusak iman dan yang dapat berisiko membuat perayaan sakramental menjadi tidak valid. Umat Allah, dengan demikian, dijamin untuk memperoleh perayaan-perayaan yang sejalan dengan iman Katolik tradisional, dan perayaan tersebut tidak diserahkan ke dalam gagasan, perasaan, teori, atau keanehan personal seseorang.

Paus Yohanes Paulus II amat mendesak akan pentingnya peran norma mengenai perayaan Ekaristi. “Norma-norma ini adalah ungkapan konkret dari hakikat Ekaristi yang secara otentik bersifat gerejawi, inilah makna terdalamnya. Liturgi tidak pernah menjadi milik pribadi seseorang, entah itu perayaan atau komunitas tempat misteri-misteri dirayakan” (Ecclesia de Eucharistia [EE] 52). Cinta terhadap Gereja mengarahkan seseorang untuk menaati norma-norma ini: “Para imam yang dengan setia merayakan Misa menurut norma liturgi, dan komunitas yang menyelaraskan diri dengan norma tersebut, dengan hening dan elok memperlihatkan cinta mereka kepada Gereja” (ibid). Rasa hormat kita terhadap misteri-misteri Kristus mengarahkan kita untuk menghormati norma-norma ini: “Tak seorangpun diizinkan untuk meremehkan misteri yang dipercayakan ke dalam tangan kita: ia terlampau besar bagi siapa saja yang merasa bebas memperlakukannya dengan remeh dan dengan mengabaikan kesucian dan universalitasnya” (ibid).

2. Lex Orandi, Lex Credendi

Sakramen-sakramen menguduskan umat, membangun Tubuh Kristus, dan memberikan penyembahan kepada Allah. Karena mereka adalah tanda-tanda, maka mereka juga mengajarkan kita. Mereka tidak hanya mengandaikan iman, tetapi melalui perkataan dan objeknya mereka juga memperkaya, menguatkan dan mengungkapkannya. Itulah sebabnya mereka disebut “sakramen-sakramen iman” (cf SC 59).

Iman Gereja telah mengungkapkan dirinya lewat cara Gereja berdoa dan secara khusus dalam caranya merayakan Ekaristi Suci dan sakramen lainnya. Ada kata dan konsep yang telah memperoleh makna mendalam di dalam kehidupan, iman dan doa Gereja sepanjang zaman. Contohnya: pribadi, trinitas, kebesaran ilahi (divine majesty), inkarnasi, sengsara, kebangkitan, keselamatan, jasa (merit), rahmat, intersesi, penebusan, dosa, pertobatan, pengampunan, pemulihan (propitiation), belas kasih, silih (penance), rekonsiliasi, komuni (communion), dan pelayanan. Terdapat pula gestur dan postur yang membantu mengungkapkan apa yang diimani Gereja. Contohnya ialah Tanda Salib, membungkuk, berlutut, berdiri, mendengarkan dan berjalan dalam prosesi.

“Iman Gereja mendahului iman umat beriman yang diundang untuk berpegang padanya. Ketika Gereja merayakan sakramen-sakramen, ia mengakui iman yang diterima dari para rasul” (KGK 1124). Inilah argumen kuat yang mendukung pentingnya memelihara perkataan, gestur dan norma perayaan liturgis.

Relasi antara iman Gereja dan perayaan liturgisnya terkandung dalam perkataan kuno, lex orandi, lex credendi (hukum doa adalah hukum iman) atau legem credendi lex statuat supplicandi (hendaklah hukum doa menentukan norma iman). Pernyataan iman Katolik ini diatributkan kepada Prosper dari Aquitaine di abad kelima. Ia dikutip dalam Indiculus or the Pseudo-Celestine Chapters. Paus Celestine memerintah dari 422 to 432. (cf Ds 246)

Gereja percaya sebagaimana ia berdoa. Liturgi adalah unsur konstitutif dari tradisi Gereja yang suci dan hidup (bdk. DV 8). Itulah sebabnya Gereja tidak mengizinkan pelayan komunitas mengubah atau memanipulasi sakramental apapun atau bahkan ritus liturgis umum. “Bahkan otoritas tertinggi di dalam Gereja tidak dapat mengubah liturgi sewenang-wenang, tetapi hanya dalam ketaatan iman dan dengan rasa hormat religius akan misteri liturgi” (KGK 1125).

Redemptionis Sacramentum amat tegas mengenai hal ini. “Gereja sendiri tidak memiliki kuasa terhadap hal-hal yang ditetapkan Kristus sendiri yang yang membentuk bagian liturgi yang tak berubah. Sungguh, bila ikatan yang dimiliki sakramen-sakramen dipisahkan dari Kristus sendiri yang menginstitusikannya, dan dari peristiwa-peristiwa pendirian Gereja, ia tidak lagi berfaedah bagi umat beriman, melainkan membahayakan mereka. Karena Liturgi Suci terhubung secara intim dengan prinsip-prinsip doktrin, sehingga penggunaan teks-teks dan ritus yang tidak disetujui akan mengarah entah kepada pemudaran atau menghilangnya ikatan yang perlu antara lex orandi dan lex credendi.” (RS 10).

3. Otoritas terhadap Liturgi

Permenungan di atas menuntun kita guna menanyakan siapakah yang memiliki otoritas atas liturgi. Siapakah yang menentukan perihal teks, perayaan, dan norma? Kita tidak bisa samar-samar mengenai hal ini.

Konsili Vatikan II jelas berkata: “Wewenang untuk mengatur Liturgi semata-mata ada pada pimpinan Gereja, yakni Takhta Apostolik, dan menurut kaidah hukum pada uskup. Berdasarkan kuasa yang diberikan hukum, wewenang untuk mengatur perkara-perkara Liturgi dalam batas-batas tertentu juga ada pada pelbagai macam Konferensi Uskup sedaerah yang didirikan secara sah.” Lalu Konsili menambahkan peringatan: “Maka dari itu tidak seorang lainnya pun, meskipun imam, boleh menambahkan, meniadakan atau mengubah sesuatu dalam Liturgi atas prakarsa sendiri” (SC 22)

Aturan-aturan ini bukanlah tanda akan kurangnya rasa hormat setiap bagi bagi orang. Ia berasal dari kenyataan bahwa liturgi adalah perayaan Gereja universal. “Imam, yang selaku wakil Kristus memimpin jemaat, memanjatkan doa-doa kepada Allah, doa-doa itu diucapkan atas nama segenap Umat suci dan semua orang yang hadir. Adapun lambang-lambang lahir, yang digunakan dalam Liturgi suci untuk menandakan hal-hal ilahi yang tidak nampak, dipilih oleh Kristus atau Gereja” (SC 33).

Dari pertimbangan ini, maka sikap lakukan-sendiri (do it yourself) tidak dapat diterima dalam ibadat publik Gereja. Ia merusak ibadat Gereja dan iman umat. Umat Allah memiliki hak agar liturgi dirayakan sebagaimana dikehendaki Gereja (bdk. RS 12). Misteri-misteri Kristus tidak semestinya dirayakan seturut selera pribadi atau mode. “Harta karun ini terlampau penting dan berharga untuk dimiskinkan atau dikompromikan melalui bentuk-bentuk eksperimen atau praktik yang diperkenalkan tanpa peninjauan cermat dari otoritas gerejawi” (EE 51).

4. Kesalehan Liturgi

Ketika kita berkata kesalehan, lazimnya kita berpikir tentang rasa hormat dan khidmat yang diberikan kepada seseorang yang bertanggung jawab atas keberadaan dan kesejahteraan kita. Maka kebajikan kesalehan, pertama-tama, mengacu kepada Allah yang adalah pencipta dan pemberi nafkah kita secara konstan. Tetapi kita juga bisa berbicara tentang kesalehan terhadap orangtua kita, kerabat dekat, negara, suku atau bangsa.

Sebagai kebajikan Kristiani, kesalehan adalah salah satu karunia Roh Kudus. Ia menggerakkan kita untuk menyembah Allah yang adalah Bapa semua orang dan untuk berbuat baik kepada sesama karena rasa hormat kepada Allah. Kesalehan menuntun kita untuk mencintai liturgi suci, untuk menantikan perayaannya dan berpartisipasi di dalamnya dengan kasih, iman, dan devosi. Bersama Pemazmur kita bernyanyi: “Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup” (Mzm 84:1-2). Perayaan liturgis menjadi sungguh memesona bagi orang-orang saleh. Lonceng Gereja yang dibunyikan menjelang Misa adalah suara penyambutan: “Aku bersukacita, ketika mereka berkata kepadaku: “Mari kita pergi ke rumah TUHAN. Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem.”” (Mzm 122:1-2). Jiwa yang saleh sungguh memiliki sukacita ketika berada di dalam Gereja, lebih lagi ketiga bergabung dalam ibadat ilahi: “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik” (Mzm 84:10).

Kesalehan liturgi, sebagai perwujudan elok dari kebajikan agama, secara serentak merupakan perpaduan kasih kepada Allah, iman dalam Dia, adorasi, rasa hormat, khidmat, sukacita dalam pelayanan-Nya, dan keinginan untuk melayani-Nya dengan memberikan yang terbaik sejauh yang kita bisa. Semangat iman dan rasa hormat yang juga terlihat dalam ketaatan terhadap norma liturgi merupakan hal yang amat mendukung kesalehan liturgi.

5. Kreativitas dalam Perayaan-Perayaan Liturgis

Kini seseorang dapat bertanya apakah ada ruang untuk kreativitas di dalam liturgi. Jawabannya ada, tetapi ini harus dipahami dengan sesuai.

Pertama, perlu diingat bahwa ibadat publik Gereja adalah sesuatu yang kita terima dalam iman melalui Gereja. Ini bukan sesuatu yang kita buat-buat. Sungguh hal-hal hakiki dari sakramen-sakramen ditetapkan Kristus sendiri. Dan ritus-ritus terperinci, termasuk perkataan dan perbuatan, telah dikerjakan dengan saksama, dijaga dan diteruskan Gereja sepanjang masa. Jadi, bukan sikap yang pantas bagi seorang individu atau panitia untuk terus berpikir dan merencanakan setiap minggunya bagaimana menciptakan cara baru merayakan Misa.

Terlebih, prioritas dalam Misa dan tindakan liturgis lainnya ialah pemujaan kepada Allah. Liturgi bukanlah tempat untuk pengungkapan-diri, penciptaan bebas dan penampilan selera pribadi. Keanehan cenderung menarik perhatian kepada seseorang ketimbang misteri-misteri Kristus yang sedang dirayakan. Ia juga dapat meresahkan, membingungkan, mengganggu, menyesatkan dan memusingkan jemaat.

Walau demikian, benar pula bahwa norma liturgi mengizinkan suatu fleksibilitas. Dengan acuan kepada tindakan liturgis paling penting dan utama, yaitu Misa, misalnya, kita dapat berbicara tentang tiga tingkat fleksibilitas. Pertama, dalam Missal dan Leksionarium ada alternatif teks, ritus, chants, bacaan dan berkat yang dapat dipilih selebran (cf GIRM 24, RS 39). Lalu ada juga pilihan yang diserahkan kepada kompetensi uskup diosesan atau Konferensi Para Uskup. Contohnya ialah regulasi mengenai konselebrasi, norma mengenai pembagian Komuni dua rupa, konstruksi dan penataan gereja, terjemahan, dan beberapa gestur . (cf SC 38, 40; GIRM 387, 390). Beberapa alternatif tersebut membutuhkan recognitio dari Takhta Suci. Tingkat variabilitas yang paling menuntut berhubungan dengan inkulturasi dalam arti yang paling ketat. Ia mencakup tindakan Konferensi Para Uskup, setelah mengadakan studi antar disiplin mendalam dan recognitio dari Takhta Suci.

Maka Redemptionis Sacramentum mampu berkata bahwa “fleksibilitas memadai diberikan untuk kreativitas yang pantas yang ditujukan guna mengizinkan tiap perayaan untuk diadaptasi sesuai kebutuhan partisipan, sesuai pemahaman mereka, sesuai persiapan batin dan karunia mereka, seturut norma liturgis yang ditetapkan” (RS 39). Frase terakhir ini penting: “seturut norma liturgis yang ditetapkan”. Paragraf Redemptionis Sacramentum menyimpulkan dengan mengingat observasi penting bahwa “harus diingat bahwa kuasa perayaan liturgis tidak terdiri dari seringnya mengubah ritus, tetapi pada usaha menimba lebih dalam sabda Allah dan misteri yang sedang dirayakan”. Apa yang diminta umat setiap Minggu dari pastor mereka bukanlah sebuah kebaruan melainkan perayaan misteri-misteri suci yang memperkaya iman, mewujudkan devosi, membangunkan kesalehan, dan mengarah kepada doa serta mendorong kasih yang aktif dalam kehidupan sehari-hari.

6. Membuat Misa Menarik

Banyak imam memiliki perhatian untuk membuat perayaan Ekaristi menarik. Dan mereka tidak salah. Misa bukanlah pelaksanaan ritual yang menjemukan. Ia adalah perayaan hakiki dari misteri-misteri utama keselamatan kita.

Tiap perayaan harus dipersiapkan dengan baik. Teks-teks yang hendak dibaca, dinyanyikan atau diwartakan mesti dipelajari dalam waktu yang tepat. Busana dan perkakas altar serta perabotannya harus ada dalam kondisi yang baik. Orang-orang yang melaksanakan peran sebagai selebran imam, putra altar, pemimpin lagu, lektor, dst, harus ada dalam kondisi terbaik. Homili harus memberikan umat makanan liturgis, teologis dan rohani yang solid. Bila semua ini dilakukan, Misa tak akan jadi membosankan.

Tapi ketika semua sudah dikatakan dan dilakukan, kita mesti kembali pada kenyataan bahwa Misa tidak untuk menghibur umat. Horizontalisme demikian tidak pada tempatnya. Umat tidak menghadiri Misa untuk mengagumi pewarta, paduan suara atau lektor. Gerakan atau arah prioritas Misa bersifat vertikal, menuju Allah, tidak horizontal, terhadap satu sama lain. Apa yang dibutuhkan umat adalah perayaan yang dipenuhi iman, sebuah pengalaman rohani yang menarik mereka kepada Allah dan karenanya juga kepada sesama mereka. Efek sampingnya, perayaan demikian akan menangkap minat dan perhatian umat.

Berfaedah pula untuk menerankan bahwa pengulangan simbol dan rumusan iman, atau perkataan dan gestur yang familiar, tidak membuat perayaan liturgis menjadi tidak menarik. Pentinglah sejauh mana rumusan-rumusan ini dipahami, dan karenanya katekese menjadi penting. Dalam kehidupan kita sehari-hari, apakah bagi kita tidak penting bila mengulangi nama orang-orang yang kita kasihi? Bukankah kita mencintai lagu kebangsaan kita dan menyanyikannya dengan kesalehan? Betapa hal ini lebih berkaitan dengan identitas Kristiani kita!

Bila ia membantu untuk mengulangi, izinkan saya mengingat bahwa perayaan liturgis mengizinkan fleksibilitas, asalkan ini dilakukan seturut norma yang disetujui. Redemptionis Sacramentum sendiri menganjurkan uskup untuk tidak menghambat pilihan-pilihan alternatif yang disediakan norma liturgi: “Uskup harus memperhatikan untuk tidak mengizinkan pengurangan kebebasan yang dibayangkan norma dari buku liturgis agar perayaan dapat diadaptasi dengan cara yang cerdas sesuai bangunan Gereja, atau sesuai kelompok umat beriman yang hadir atau sesuai situasi pastoral khusus” (RS 21). Untuk alasan inilah baik bila uskup tidak tergoda untuk menambahkan pembatasan yang tidak perlu dalam keuskupannya, seperti mengatur agar hanya satu Doa Syukur Agung digunakan dalam Misa. Otoritas uskup tiada pernah lebih tegas selain ketika ia menggunakannya untuk memastikan bahwa norma-norma umum yang melindungi tradisi ditaati.

Nasihat umum perihal apakah perayaan liturgis menarik atau tidak, ialah merayakannya dengan iman dan devosi dan seturut norma yang telah disetujui, dan menyerahkan sisanya kepada rahmat Allah dan kerja sama umat.

8. Formalisme dan Ritualisme Bukanlah Tujuan

Dari semua yang telah dikatakan, maka anjuran untuk setia terhadap norma liturgi bukanlah undangan menuju formalisme, ritualisme, atau rubrikisme. Umat tidak diundang menuju pelaksanaan tindakan lahiriah yang kering dan tanpa penghayatan. Yesus Penyelamat Kita, dengan mengutip nabi Yesaya, sudah mencela mereka yang tidak menghayati dalam jiwa mereka ritus lahiriah yang mereka laksanakan:

Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku;

Percuma mereka beribadah kepada-Ku,

Sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. (Mat 15:8-9, Yes 29:13)

Perayaan liturgis terutama bukanlah ketaatan terhadap norma melainkan perayaan misteri-misteri Kristus oleh Gereja dan di dalam Gereja, dengan iman dan kasih serta rasa hormat terhadap tradisi. Ketaatan terhadap norma adalah konsekuensi dan buah dari iman dan rasa hormat. Ia bukan tujuan akhir ibadah. Ia adalah kualitas ibadah.

Terlebih, norma liturgi bukanlah hukum sewenang-wenang atau regulasi yang ditempatkan serentak untuk menyenangkan beberapa sejarawan, estetikawan, atau arkeolog. Norma liturgi adalah perwujudan dari apa yang kita imani dan kita terima dari tradisi, dari “norma para Bapa Suci” (cf SC 20, GIRM 6), dari apa yang telah dikatakan, dilakukan, ditaati, dan dirayakan oleh para generasi pendahulu kita dalam iman. Mengetahui bahwa kita melakukan, mengatakan, mendengarkan dan melihat apa yang telah dilakukan jutaan orang Kristen di seluruh dunia selama ratusan tahun, dan yang kini sedang dilakukan, mestinya membantu kita masuk lebih baik ke dalam partisipasi yang berkomitmen dalam suasana doa. Terlebih, dengan menyelaraskan seluruh pribadi kita kepada semua yang dihadirkan liturgi, kita menjalani sebuah transformasi dan menjadi kian dekat kepada Allah.

Doa batin dan kurban adalah prioritas. Jadi, sungguh penting dalam perayaan liturgis agar terdapat persiapan hening, keheningan, refleksi, mendengarkan, dan doa pribadi. “Ketaatan lahiriah semata terhadap norma kentara sekali berlawanan dengan hakikat liturgi suci, yang mana Kristus sendiri ingin menghimpun Gereja-Nya, sehingga bersama dengan-Nya ia akan menjadi ‘satu tubuh dan satu roh’” (RS 5).

Secara serentak, perlu diulangi bahwa semangat penolakan terhadap norma dan regulasi yang mana ia dianggap sebagai pelanggaran otonomi seseorang, perlu dikoreksi. Sungguh salah dan tidak masuk akal untuk memelihara semangat “tak seorangpun berhak memberitahu saya apa yang harus dilakukan”. Ini adalah pemahaman akan kebebasan yang keliru. “Allah tidak memberikan kita dalam Kristus sebuah kebebasan yang menyesatkan yang mana kita boleh melakukan apa yang kita inginkan, melainkan sebuah kebebasan yang mana kita boleh melakukan apa yang layak dan sepantasnya” (RS 7).

Merupakan berkat dan keistimewaan bagi kita untuk menjadi milik Gereja yang dalam liturgi sucinya merayakan misteri-misteri Kristus dan memiliki Kristus sendiri sebagai Imam Agung dalam setiap tindakan liturgis. Mari kita berdoa kepada Perawan Maria, Bunda Penyelamat kita, guna memperoleh bagi kita perkembangan pemahaman akan alasan-alasan bagi norma liturgi, kesediaan untuk menaatinya dan rahmat pertumbuhan sehari-hari dalam kesalehan liturgi, cinta kepada Allah, dan komitmen untuk mengasihi dan melayani sesama kita.

+ Francis Kardinal Arinze, April 8, 2005

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: