Kardinal Sarah tentang Membarui Pembaruan Liturgi dan Rekonsiliasi Liturgi

IMG_4616

Catatan Cornelius: Berikut ini merupakan terjemahan tidak resmi dari teks Kardinal Sarah yang diterbitkan di majalah La Nef. Kardinal Sarah menekankan pentingnya rekonsiliasi liturgi dan mengajukan beberapa contoh konkret dari upaya mutual enrichment atau reform of the reform.

“Liturgi Gereja bagi saya telah menjadi pusat aktivitas hidup saya… ia telah menjadi pusat karya teologis saya”(1), kata Benediktus XVI. Namun ia mengajarkan sedikit tentang itu selama masa kepausannya. Pastinya, homili-homilinya akan tetap menjadi dokumen yang tak dapat diabaikan generasi selanjutnya. Tetapi makna utama dari Motu Proprio Summorum Pontificum harus ditekankan. Jauh dari memusatkan perhatian semata pada persoalan legal atas status Missale Romawi kuno, Motu Proprio mengajukan pertanyaan tentang hakikat liturgi dan tempatnya di dalam Gereja. Ajaran yang terkandung dalam dokumen ini, oleh sebab itu, tidak hanya ditujukan untuk mengatur koeksistensi harmonis dua bentuk dari Misa Romawi. Tidak! Yang dipertaruhkan ialah tempat Allah, pengutamaan Allah. Sebagaimana ditekankan oleh “Paus Liturgis”: “Pembaruan liturgi yang sejati adalah syarat hakiki bagi pembaruan Gereja”(2). Motu Proprio adalah dokumen magisterial yang penting bagi makna mendalam liturgi, dan karenanya bagi seluruh hidup Gereja. Sepuluh tahun sesudah publikasinya, pentinglah untuk mengadakan pemeriksaan: Sudahkah kita menerapkan ajaran ini? Apakah kita memahaminya secara mendalam?

Liturgi telah menjadi medan perang, tempat perseteruan antara pendukung missale pra konsili dan pendukung missale dari pembaruan 1969. Sakramen kasih dan kesatuan, sakramen yang mengizinkan Allah menjadi makanan bagi kita dan hidup kita, guna mengilahikan diri kita dengan berdiam di dalam kita dan kita di dalam-Nya, sakramen tersebut telah menjadi ajang kebencian dan penistaan. Motu Proprio telah secara definitif mengakhiri situasi ini. Sungguh, Benediktus XVI menegaskan dengan otoritas magisterialnya bahwa “tidaklah pantas berbicara tentang dua versi dari Missale Romawi, seakan-akan ia adalah “dua ritus”(3).”

Jadi, ia kembali untuk mendukung semua petarung dalam perang liturgi. Ungkapan paus begitu kuat, dan dengan jelas menyingkapkan maksud untuk mengajar secara definitif: dua missale adalah dua ungkapan dari lex orandi yang sama. “Dua ungkapan lex orandi Gereja tidak bemaksud menciptakan perpercahan apapun dalam lex credendi Gereja; sesungguhnya ia adalah dua penerapan dari ritus Romawi yang unik.(4)”

Dengan teguh saya yakin bahwa implikasi praktis dari ajaran ini belum ditemukan. Saya ingin menarik beberapa kesimpulan di sini.

Pertama, Gereja tidak menentang dirinya sendiri: tidak ada Gereja pra-konsili berhadapan dengan Gereja pasca-konsili. Hanya ada satu Gereja, sakramen dan kehadiran Kristus di bumi yang berkesinambungan. Sudah waktunya orang Kristen untuk merenungkan kehadiran Kristus ini dengan pandangan ini dan karenanya menolak visi yang bersifat duniawi, ideologis, sosiologis, ataupun yang berasal dari media. Gereja itu satu, kudus, katolik, dan apostolik, dalam ruang dan waktu, seturut Syahadat kita. Semua pembaruan di dalam Gereja adalah upaya kembali ke akar, dan bukan kejayaan satu kelompok atas kelompok lain.

Dengan demikian, mereka yang mengklaim bahwa penggunaan bentuk luar biasa dari Ritus Romawi akan mempertanyakan otoritas Konsili Vatikan II, merupakan kekeliruan serius. Sebagaimana ditegaskan Benediktus XVI dengan wewenangnya, “rasa takut ini tidaklah berdasar”(5). Bagaimana kita bisa beranggapan bahwa Konsili akan menentang apa yang telah dilakukan sebelumnya? Penafsiran terputus ini berlawanan dengan semangat Katolik. Konsili tidak bermaksud memutuskan diri dengan bentuk liturgis yang diwarisi dari tradisi, melainkan memperdalamnya. Konstitusi Sacrosanctum Concilium menjelaskan: “Bentuk-bentuk baru harus timbul dari bentuk lama melalui semacam perkembangan organik” (SC 23). Jadi, kelirulah bila menganggap dua bentuk liturgis tergolong ke dalam dua teologi yang berlawanan. Gereja hanya memiliki satu kebenaran untuk diajarkan dan dirayakan: Yesus Kristus dan Yesus tersalib! Inilah yang dikatakan St. Paulus kepada jemaat di Korintus: “Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” (1Kor 2:1-2)

UPAYA SALING MEMPERKAYA

Kebenaran ini memiliki konsekuensi terkait teologi dan praktik liturgi. Karena ada kesatuan dan kesinambungan mendalam antara dua bentuk Ritus Romawi, maka pastilah dua bentuk tersebut harus saling menerangi dan memperkaya. Benediktus XVI menawarkan prinsip yang mendalam dan berbuah: “Tidak ada kontradiksi antara edisi Missale Romanum yang satu dengan yang lain. Sejarah liturgi terdiri dari pertumbuhan dan perkembangan, tak pernah ada perputusan”(6). Ia membuat sketsa konsekuensi-konsekuensinya: “Dua bentuk penggunaan Ritus Romawi dapat saling memperkaya.” Ia melanjutkan: “dalam Missale lama, orang-orang kudus baru”(7) dan beberapa prefasi baru dapat disertakan dan harus disertakan … “dalam perayaan Misa seturut Missale Paulus VI, hendaklah kekudusan ini, yang menarik banyak orang menuju ritus lama, dapat diwujudkan dengan lebih kuat daripada sebelumnya”(8). Inilah prioritas, yang dengan pertolongan Roh Kudus, hendak kita periksa dalam doa dan studi, perihal bagaimana kita dapat kembali kepada sebuah ritus bersama yang diperbarui, selalu dengan maksud rekonsiliasi di dalam Gereja karena saat ini masih ada kekerasaan, kekejian, dan perlawanan menyakitkan yang melenyapkan Gereja dan menjauhkan kita dari kesatuan yang Yesus doakan dan yang mana Ia wafat di salib.

Kita membutuhkan sepuluh tahun, setelah tindakan profetis ini, untuk menerapkan upaya saling memperkaya yang disebut Benediktus “rekonsilitasi internal Gereja”(9). Keberanian pastoral Paus Fransiskus mengundang kita untuk menjadi sangat konkret. Hendaklah hal itu terjadi!

BAGI MEREKA YANG MELAKSANAKAN BENTUK LUAR BIASA

Pertama, saya ingin menyapa mereka semua yang melaksanakan bentuk luar biasa dari Ritus Romawi. Para sahabat terkasih, perayaan sebuah bentuk liturgis tidak semestinya menjadi estetis, postur borjuis, sebuah bentuk budaya arkeologis. Paus Frasiskus, beberapa waktu silam, memperingatkan kita tentang sikap kaku yang defensif. “Liturgi terdiri dari masuknya ke dalam misteri Allah, membiarkan diri kita dibawa kepada misteri dan di dalam misteri”, katanya. Bentuk luar biasa mengizinkan hal tersebut dengan unggul, dan jangan mengubahnya menjadi ajang perpecahan! Penggunaan bentuk luar biasa adalah bagian integral dari warisan Gereja Katolik yang hidup: ia bukan objek museum, sebuah kesaksian akan masa silam yang mulia. Ia ditakdirkan untuk berbuah bagi orang Kristen masa kini! Jadi, baik sekali bila mereka yang menggunakan missale lama menaati kriteria hakiki dari Konstitusi tentang Liturgi Suci. Merupakan hal yang hakiki bahwa perayaan-perayaan ini memadukan pemahaman yang tepat akan partisipasi aktif dari umat beriman yang hadir.

Pewartaan bacaan harus dipahami oleh umat (SC 36). Umat beriman harus mampu menanggapi selebran dan tidak sekedar menjadi penonton bisu dan asing (SC 48). Terakhir, Konsili menyerukan kesederhanaan yang anggun dari seremoni, tanpa pengulangan mubazir (SC 50).

Hal itu tergantung kepada Komisi Pontifikal Ecclesia Dei untuk meneruskan hal ini dengan hati-hati dan dalam cara organik. Dapat diharapkan, di manapun sejauh mungin, bila komunitas-komunitas meminta, untuk menyelaraskan kalendar liturgis. Jalan menuju perpaduan leksionarium harus dipelajari.

Bentuk luar biasa tidak dapat lagi disebut sebagai “ritus pra-konsili”. Kini ia merupakan bentuk liturgi Romawi yang harus diterangi, dihidupi dan dibimbing oleh ajaran Vatikan II. Dengan jenaka seseorang dapat menegaskan bahwa Benediktus XVI menjadikan bentuk luar biasa sebagai liturgi pasca-konsili!

Kemungkinan merayakan seturut Missale Romawi kuno sebagai tanda identitas permanen Gereja harus didorong dengan kuat. Karena apa yang hingga tahun 1969, yakni liturgi Gereja, merupakan hal teramat suci bagi kita semua, sesudah 1969 tidak bisa menjadi hal yang paling tidak berkenenan. Sungguh merupakan hal yang mutlak hakiki untuk mengakui bahwa apa yang hakiki dalam tahun 1969 dan juga dalam tahun 2017 dan selanjutnya, ialah kesakralan yang sama, liturgi yang sama.

LEX ORANDI YANG SAMA

Dua bentuk liturgis yang sama tergolong ke dalam lex orandi yang sama. Apakah hukum fundamental liturgi ini? Izinkan saya mengutip Paus Benediktus lagi: “Penyalahtafsiran pembaruan liturgis yang telah disebarkan secara meluas di dalam Gereja Katolik telah semakin condong menempatkan aspek edukasi di tempat pertama, aspek aktivitas dan kreativitas kita. “Tindakan” manusia hampir menimbulkan musnahnya kehadiran Allah. … Keberadaan Gereja memperoleh hidupnya dari perayaan liturgi yang tepat. Gereja berada dalam bahaya ketika pengutamaan Allah tidak lagi tampak di dalam liturgi, dan karenanya tiada tampak dalam kehidupan. Penyebab terdalam krisis yang telah menggoncang Gereja ialah pengaburan prioritas Allah dalam liturgi”(10). Kardinal Yoseph Ratzinger mengingatkan kita bahwa “misteri paskah”, dengan kata ini, yang adalah inti terdalam dari peristiwa penebusan segenap umat manusia, merupakan inti “karya Yesus”, “misteri paskah” inilah dan bukannya karya manusia, yang merupakan konten liturgi sejati. Di dalam Gereja, melalui iman dan doa Gereja, “karya Yesus” terus menerus menyatukan manusia guna meresapi-Nya dan memulihkan keputraan ilahi-Nya”(11).

Inilah apa yang harus dipelajari oleh bentuk biasa dalam hal prioritas: pengutamaan Allah. Dalam hal ini, ia bisa dan ia harus diterangi oleh bentuk luar biasa. “Liturgi pertama dan terutama adalah ibadah kepada kemahakuasaan ilahi”, inilah yang diajarkan Konsili kepada kita! Ia menempatkan kita dalam kehadiran misteri transendensi ilahi. Ia memiliki nilai pedagogis sejauh ia secara utuh ditujukan bagi pemuliaan Allah dan ibadat ilahi. “Kristus tidak meleyapkan hal sakral, tetapi ia membawanya menuju pemenuhannya dengan mencanangkan sebuah kultus baru, yang pastinya bersifat rohani, tetapi selama kita ada dalam perjalanan dalam waktu, ia masih menggunakan tanda dan ritus”(12). Izinkan saya dengan rendah hati mengungkapkan ketakutan saya bahwa liturgi bentuk biasa berisiko menjauhkan kita dari Allah lantaran kehadiran imam yang begitu masif dan terpusat pada dirinya. Dialah yang terus berada di depan mikrofonnya, dan terus menerus memandang dan mengarahkan perhatiannya kepada umat. Ini seperti layar antara Allah dan manusia. Ketika kita merayakan Misa, senantiasa tempatkanlah salib yang besar di atas altar, salib yang kentara, sebagai titik acuan bagi semua, bagi imam dan umat beriman. Maka kita memiliki Timur kita karena akhirnya Yang Tersalib ialah Sang Timur Kristiani, kata Benediktus XVI.

PERIHAL MAKNA GESTUR

Saya yakin bahwa liturgi dapat diperkaya oleh sikap-sikap suci ini yang menjadi ciri bentuk luar biasa, semua gestur ini menampilkan adorasi kita kepada Ekaristi Suci: ibu jari dan telunjuk yang melekat erat setelah konsekrasi, genufleksi sebelum elevasi, atau sesudah Per ipsum, berlutut ketika menerima komuni, dan menerima komuni di lidah dengan membiarkan diri kita diberi makan sebagai anak, sebagaimana yang diminta Allah sendiri: “Aku Tuhan Allahmu, bukalah mulutmu lebar-lebar, Aku akan membuatnya penuh” (Mzm 81:11)

Tidak ada yang infantil tentang ini, dan ini juga tidak terkait mentalitas tahayul. Umat Allah, dibimbing oleh intuisi iman mereka, tahu bahwa tanpa kerendahan hati radikal yang terbentuk dari gestur adorasi dan ritus suci, persahabatan dengan Allah menjadi mustahil. Umat beriman paling sederhana mengetahui bahwa gestur-gestur suci ini adalah satu dari harta karun mereka yang paling berharga.

Penggunaan bahasa Latin pada bagian-bagian tertentu dari Misa juga dapat membantu memulihkan hakikat liturgi. Realita pada dasarynya bersifat mistik dan kontemplatif, liturgi berada di luar jangkauan tindakan manusia. Kendati demikian, ia mengandaikan sebuah keterbukaan di pihak kita terhadap misteri yang dirayakan. Jadi Konstitusi tentang Liturgi Suci serentak menganjurkan pemahaman penuh ritus-ritus (SC 34) dan mensyaratkan “agar umat beriman dapat mendaraskan atau menyanyi bersama dalam bahasa Latin bagian-bagian ordinarium yang menjadi milik mereka” (SC 36 & 54). Memang, pemahaman akan ritus bukanlah karya akal budi manusia yang dapat memahami dan mencerna semuanya, yang mengendalikan semuanya. Tetapi akankah ada keberanian untuk mengikuti Konsili sampai saat ini? Saya mendesak imam-imam muda untuk berani mengabaikan ideologi para pembuat liturgi dan kembali kepada arahan Sacrosanctum Concilium. Semoga perayaan liturgis kita mengarahkan manusia untuk berjumpa dengan Allah dari muka ke muka dan menyembah Dia, dan agar perjumpaan ini mengubah dan mengilahikan mereka.

“Ketika pandangan kepada Allah tiada menentukan, segala sesuatunya kehilangan orientasinya”(13), kata Benediktus XVI. Hal sebaliknya juga benar: ketika seseorang kehilangan orientasi hati dan tubuh terhadap Allah, seseorang berhenti menentukan dirinya dalam relasi dengan-Nya, seseorang kehilangan kepekaan terhadap liturgi. Berpaling kepada Allah terutama merupakan kenyataan batiniah, sebuah pertobatan jiwa kita kepada Allah yang Esa. Liturgi harus bekerja di dalam diri kita dalam pertobatan kepada Tuhan yang adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Demi alasan inilah ia menggunakan tanda-tanda yang sederhana. Perayaan ad orientem adalah salah satunya. Ia merupakan harta karun umat Kristen yang memampukan kita menjaga semangat liturgi. Perayaan ad orientem tidak semestinya menjadi ungkapan partisan dan sikap polemik. Sebaliknya, ia mesti menjadi ungkapan paling intim dan gerakan hakiki semua liturgi: yakni menghadap Tuhan yang datang.

MAKNA KEHENINGAN

Saya juga berkesempatan untuk menekankan makna keheningan liturgis. Dalam The Spirit of Liturgy, Kardinal Ratzinger menulis: “Siapapun yang telah mengalami sebuah komunitas yang bersatu dalam doa hening Kanon Romawi mengetahui apa makna keheningan yang sejati. Di sana, pada saat bersamaan, keheningan adalah seruan yang menyeruak dan berkuasa, yang diutarakan menuju Allah, dan merupakan sebuah persekutuan doa yang dipenuhi Roh.” Pada masanya ia telah menekankan bahwa pendasaran seluruh Doa Syukur Agung dengan lantang bukanlah satu-satunya cara guna memperoleh partisipasi semua umat. Kita harus bekerja menuju solusi seimbang dan membuka ruang-ruang keheningan di area ini.

Saya memanggil dengan segenap hati untuk menerapkan rekonsiliasi liturgis sebagaimana diajarkan Paus Benediktus dalam semangat pastoral Paus Fransiskus! Tak pernah liturgi menjadi standar sebuah kelompok. Bagi beberapa orang, ungkapan “membarui pembaruan liturgi” telah menjadi sama dengan dominasi satu kelompok terhadap yang lain, maka ungkapan ini menjadi mubazir. Jadi saya cenderung berbicara tentang rekonsiliasi liturgi. Di dalam Gereja, orang Kristen tidak memiliki musuh!

Sebagaimana ditulis Kardinal Ratzinger, “Kita harus menemukan kembali makna kesakralan, keberanian untuk membedakan apa yang Kristiani dan apa yang bukan: tidak untuk menciptakan tembok, tetapi untuk mengubah, menjadi sungguh dinamis”(14). Lebih dari “membarui pembaruan liturgi”, ia merupakan pembaruan hati! Ia adalah rekonsiliasi dua bentuk dari ritus yang sama, upaya saling memperkaya. Liturgi harus selalu diperdamaikan dengan dirinya, dengan keberadaan terdalamnya!

Dengan diterangi oleh pengajaran Motu Proprio Benediktus XVI, diperkuat oleh keberanian Paus Fransiskus, sudah waktunya beranjak menuju tujuan proses rekonsiliasi ini dengan dirinya. Betapa ia menjadi tanda nan agung, bila dalam edisi mendatang Missale Romawi yang diperbarui, ditambahkan doa di kaki altar yang berasal dari bentuk luar biasa, barangkali dalam versi yang telah diadaptasi dan disederhanakan, yang mengandung epiklesis elok yang melengkapi Kanon Romawi. Terakhir, akan terwujudlah dua bentuk liturgis yang saling menerangi satu sama lain, dalam kesinambungan dan tanpa perlawanan! Lantas kita dapat memulihkan kepada umat Allah sebuah kebaikan yang mana Ia melekat kepadanya secara mendalam!

Beberapa hari lalu, Paus Fransiskus menganjurkan kita saat Pentakosta: “Kita harus menghindari dua godaan yang muncul berulang. Pertama ialah mencari keberagaman tanpa kesatuan. Ini terjadi ketika kita ingin tampil menonjol, ketika kita menciptakan koalisi dan kelompok, ketika kita mengeras dalam posisi yang mengecualikan [pihak lain], ketika kita mengurung diri kita dalam partikularisme, menghakimi barangkali kita lebih baik dan kita selalu benar. … Godaan lain yang berlawanan ialah mencari kesatuan tanpa keberagaman. Maka kesatuan menjadi keseragaman, sebuah kewajiban untuk melakukan segalanya bersama-sama, dan semuanya sama, untuk berpikir dalam cara yang sama. Dalam cara ini, kesatuan dibenarkan dan tiada lagi kebebasan. Kini, St. Paulus berkata, di manapun Roh Tuhan hadir, di sana ada kebebasan.”

Kardinal Robert Sarah

Catatan Kaki

(1) Benedict XVI, Preface to the German version of his Complete Works on the Liturgy, June 29, 2008.

(2) Benedict XVI, Preface to the Russian version of his Complete Works on the Liturgy, July 11, 2015.

(3) Letter to the Bishops, accompanying the Motu Proprio of 7 & 8200 July 2007.

(4) Motu Proprio Summorum Pontificum, Art. 1.

(5) Letter to the Bishops, accompanying the Motu Proprio of 7 & 8200 July 2007.

(6) Ibid.

(7) For example, Maximilian Kolbe, Edith Stein (Sister Therese-Benedictine of the Cross), the martyrs of Spain, those of Ukraine, Joséphine Bakhita, Clementine Anuarite, etc.

(8) Ibid.

(9) Ibid.

(10) Benedict XVI, Preface to the Russian version of his Complete Works on the Liturgy, July 11, 2015.

(11) cf. Around the liturgical question with Cardinal Ratzinger, Notre-Dame de Fontgombault Abbey, July 2001, p.

(12) Benedict XVI, Homily for the Feast of Corpus Christi, June 2012.

(13) Benedict XVI, Preface to the German version of his Complete Works on the Liturgy, June 29, 2008.

(14) J. Ratzinger, Servants of Your Joy, Milan, 2002, pp. 127.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: