Bangunan Gereja sebagai sebuah Tempat Sakral: Indah, Transenden, dan Abadi

IMG_6081

***

Oleh Duncan G. Stroik

Profesor Arsitektur Universitas Notre Dame

“Seni murni secara tepat digolongkan diantara kegiatan mulia dari kejeniusan manusia; hal ini benar terutama dalam seni keagamaan dan manifestasi tertingginya, seni sakral. Menurut hakikatnya, seni tersebut diarahkan untuk mengungkapkan dengan berbagai cara keindahan yang tak terbatas dari Allah dalam karya yang dibuat oleh tangan manusia. Dedikasi mereka secara lebih lengkap meningkatkan pujian Allah dan kemuliaan-Nya, secara lebih eksklusif mereka ditujukan untuk mengarahkan pikiran manusia untuk berbakti kepada Allah.”

-Dokumen Konsili Vatikan II, Sacrosanctum Concilium No. 122

Bagaimana kita dapat memulihkan kepekaan akan kesakralan di gereja dan tempat suci kita? Kita tampaknya telah kehilangan kemampuan untuk membuat bangunan baru yang memancarkan rasa “sakral” yang tak terungkapkan, yang dapat secara tepat disebut kehadiran Yang Maha Kuasa. Mengapa dalam beberapa dekade terakhir, sedikit sekali gereja kita yang dibangun secara mendalam yang mengisyaratkan bahwa gedung gereja itu sendiri dan perayaan yang terjadi di dalamnya adalah kudus?

Struktur gereja di kurun waktu belakangan ini kerap tampak “dari dunia ini” ketimbang berasal dari “dunia lain,” “turun ke bumi” daripada “surgawi,” lebih sekuler daripada sakral. Dalam zaman yang semakin sekuler ini, rumah ibadah kita, dengan memadukan arsitektur kontemporer, berada dalam bahaya menjadi teater belaka dan aula pertemuan alih-alih menjadi tempat-tempat sakral dan kenabian.

Namun mengapa kita harus berusaha untuk mempromosikan dan mengembalikan arsitektur yang sakral jika hal tersebut sudah hilang? Kita berusaha untuk mengembalikan praktik arsitektur sakral karena ini merupakan bagian dari warisan Katolik, dengan cara yang sama bahwa gambar Kabar Sukacita, Perjamuan Terakhir, dan Penyaliban juga merupakan bagian Kekatolikan. Mereka adalah katekese dalam rupa cat, mosaik, dan batu. Namun, bahkan untuk membandingkan gereja-gereja yang paling diakui secara kritis merupakan gereja-gereja modern dengan contoh-contoh khas Kristen awal atau Renaissance khas adalah untuk mempertanyakan setiap gagasan kemajuan dalam seni. Bagaimana karya gerejawi kita dihakimi dalam kaitannya dengan nenek moyang kita, yang mampu menciptakan karya seni meskipun dari sumber daya mereka terbatas dan teknologi yang belum sempurna?

Apresiasi besar yang diberikan bagi gereja-gereja klasik dan abad pertengahan baik oleh peziarah dan sejarawan seni, secara kuat menunjukkan bahwa bangunan-bangunan ini terus menjadi relevan dengan budaya kontemporer, dan bahwa manusia modern masih memiliki kepekaan terhadap yang sakral. Selama gereja abad pertengahan dan basilika kuno terus menjadi tempat untuk liturgi dan devosi, arsitektur sakral tidak dapat hilang. Bahkan, hari ini kita menyaksikan semakin banyak pelindung seni yang tercerahkan dan arsitek berbakat yang membawa kebangkitan baru dalam arsitektur sakral, yang mempromosikan kepekaan akan yang sakral dalam rumah-rumah Allah kita.

Sebuah Tempat yang Ditetapkan

Membuat tempat beribadah tiga-dimensi adalah sifat dasar manusia. Arsitektur suci merupakan sarana bagi kita untuk mengartikulasikan makna hidup untuk diri kita sendiri, masyarakat kita, generasi mendatang. . . dan untuk menghormati Tuhan, karena, meskipun Dia tidak membutuhkan penyembahan kita atau tempat keramat dari batu, Dia sangat layak menerimanya. Tanggapan kita terhadap salib adalah untuk mengembalikan kasih-Nya dalam pikiran dan perbuatan kita, dengan memberi makan orang yang lapar dan juga dengan membangun gereja-gereja. Ketika kita datang untuk berkomunikasi dengan Yang Maha Kuasa, kita berdiri di tempat yang suci. Ucapan syukur dan penyembahan menyebabkan kita untuk menyisihkan tempat-tempat ketika Allah telah membuat kehadiran-Nya dikenal oleh kaumnya: gunung suci, kamar perjamuan atas, tenda di padang gurun, dan Bait di Kota Suci. Meski tidak satu pun dari tempat-tempat ini dapat menampung sang Ilahi, mereka menawarkan kesaksian akan kebajikan-Nya dan kehadiran-Nya diantara kita.

Sejak masa-masa awal kekristenan, orang-orang beriman mengatur tempat untuk ibadah bersama dan doa pribadi. Kita melihat contoh pedih ini di Dura-Europos dan dalam dekorasi katakombe. Melalui dekrit dari Milan, para arsitek Konstantinus dihadapkan dengan tantangan untuk menciptakan bangunan suci yang besar di Roma, di Tanah Suci, dan di Byzantium. Solusi mereka adalah menciptakan tempat-tempat suci melalui arsitektur prosesional dari lengkungan bertiang dan tempat-tempat suci dengan apse (arsitektur setengah lingkaran atau poligonal besar di gereja, yang melengkung atau dengan atap kubah, biasanya di ujung timur, dan merupakan bagian altar), dengan sekat pembatas dan baldacchino (kanopi besar seperti yang terdapat pada basilika St Petrus). Semua inovasi yang terkemudian (sampai pertengahan abad ke-20) dapat dilihat berkelanjutan dengan perwujudan pola dasar dari tempat sakral.

Tapi bukankah gedung gereja itu sendiri memiliki definisi “sakral,” terlepas dari arsitektur dan ikonografi? Bukankah dedikasi gereja, batu altar, tempat untuk sakramen, ikon-ikon suci, dan umat beriman yang beribadah di sanalah yang membuat sakral bangunan? Tanpa aspek ini, Katedral Chartres di Perancis dan basilika Santo Petrus hanyalah sekedar karya jenius arsitektur dan bukan tempat-tempat yang suci. Jadi, di satu tingkat, tempat penampungan yang paling kejam dapat menjadi bangunan suci berdasarkan keutamaan liturgi suci dan Ekaristi Kudus yang diadakan di dalamnya. Tetapi di tingkat lain, arsitektur gereja yang indah, entah Sainte-Chapelle di Paris atau St Vincent Ferrer di New York, mewujudkan kepekaan terhadap yang sakral sehingga benar-benar merupakan sesuatu yang mungkin untuk berbicara tentangnya sebagai “arsitektur suci.” Dan juga kita menyaksikan efek yang besar dari Katedral Chartres dan Basilika Santo Petrus pada orang beriman dan tidak beriman secara sama, karena sebagian bubungan ruang mereka, konstruksi tahan lama mereka, ikonografi-ikonografi mereka yang indah, dan representasi mereka sebagai rumah Allah dalam lanskap tersebut.

Gereja Sebagai Bangunan Sakramental

Bagaimana caranya arsitektur gereja dapat memperkuat atau mengungkapkan kesucian yang dibawa ke sana melalui dedikasi, liturgi, sakramen-sakramen, dan umat Allah yang beribadah di sana? Melalui komposisi arsitektural dan motif individu, bangunan gereja harus menyoroti penempatan unsur-unsur liturgi dan sakramen-sakramen. Dengan menempatkan ikon dalam aedicula (semacam bingkai dengan pilar kecil tempat penghormatan obyek tertentu seperti yang biasa terlihat di kiri dan kanan gereja yang terdapat patung Yesus dan Bunda Maria), tester (sejenis kanopi) untuk menudungi Sakramen Mahakudus, dan baldacchino di atas altar, arsitektur dapat memfokuskan perhatian kita pada unsur-unsur sakral. Memanfaatkan material halus, menambah ornamen-ornamen, dan bentuk pola dasar di tempat-tempat liturgis dan sakramental mengundang pengunjung untuk mendekat dan menerima kasih karunia Allah yang ditawarkan dalam sakramen-sakramen. Memberikan penghormatan kepada sakramen melalui penempatan dan desain kolam baptisan, tempat pengakuan, rak tempat menaruh benda-benda liturgis, tabernakel, altar, dan pembatas altar secara lebih lanjut mengartikulasikan sifat gereja sebagai rumah sakramental.

Meskipun bukan sakramen itu sendiri, arsitektur tempat suci mengacu pada sakramen, terutama kepada Sakramen Mahakudus, dan untuk alasan inilah arsitektur suci dapat dianggap sebagai “arsitektur sakramental.” Sama seperti sakramen adalah ekspresi yang terlihat dari Realitas yang Tak Terlihat, maka arsitektur sakramental menggambarkan misteri keselamatan melalui batu bata dan mortir. Maka arsitektur eksterior gereja harus selalu mengingatkan kita akan Komuni Kudus, atau baptisan, atau pernikahan. Tapi bagaimana caranya?

Salah satu caranya adalah melalui acuan kepada unsur-unsur arsitektural yang mengartikulasikan ruang mahakudus, altar, tabernakel, ruang pengakuan, pembatas altar dan tempat suci di dalamnya. Pada gereja Gesù di Roma, façade (bagian depan yang menjadi wajah utama bangunan) terdiri dari pilaster (tiang persegi panjang) yang dipasangkan untuk memperlihatkan desain nave (bagian utama gereja tempat umat berkumpul) dan membingkai kapel samping. Sebuah acuan sakramental pada eksterior juga dapat dicapai dengan menggunakan relief Ekaristi dan sakramen-sakramen lainnya, personifikasi dari Kebajikan-kebajikan Kristiani, atau sebuah baldacchino atau lengkungan simbol kemenangan di atas portal. Selain itu, penambahan patung-patung dari orang-orang kudus, makam, dan para malaikat yang berada di atap seluruhnya menunjukkan realitas suci yang ada pada bagian interior.

Arsitektur sakral menyajikan Kekristenan dalam bentuk tiga dimensi: secara visual, secara rasa, dan secara merdu di dalam waktu. Kesakralan harus datang kepada kita melalui semua indera, mengelilingi kita dengan keintiman yang sama dari apa yang dirasakan Musa di depan semak yang terbakar, Raja Daud di depan tabut, Maria di hadapan malaikat Gabriel, dan murid-murid di kaki Yesus dan di kaki salib-nya. Batu di bawah kaki, kayu dari kursi-kursi kita, bau dupa dan lilin lebah, halusnya marmer, kekuatan cor grillwork (pagar besi) dan sekat, dan cat di atas kanvas seluruhnya membantu untuk menciptakan rasa yang sakral dan mempersiapkan kita untuk rasa Roti dan Anggur yang telah dikonsekrir.

Mendesain Bangunan-Bangunan Suci

Meskipun arsitektur sebagai medium merupakan sesuatu yang abstrak, arsitektur sendiri dapat mengartikulasikan kebenaran iman seperti dalam seni musik, lukisan dan patung. Untuk mencapai hal ini, para arsitek menggunakan bentuk pola dasar seperti serambi bertiang, menara lonceng, tiang-tiang, dan kubah, yang semuanya telah mengembangkan lapisan makna lebih dari ribuan tahun. Bentuk-bentuk tersebut dapat menyelimuti peziarahan umat dan, bila dilakukan dengan indah, memberi efek bawah sadar pada jiwanya. Bentuk-bentuk ini terdiri dari unsur-unsur-seperti pilar-pilar Yunani, proporsi vertikal dan simbol-simbol yang umat Kristen telah gunakan secara universal lebih dari dua ribu tahun untuk menentukan kesakralan. Koherensi dan kesatuan dipastikan ketika bangunan dirancang menggunakan warisan yang kaya dari bahasa arsitektur klasik atau Abad Pertengahan.

Mendesain bangunan suci adalah untuk membantu mengatur pengunjung merenungkan hal-hal yang di atas, untuk menyadari hal-hal suci, dan untuk merangkul keabadian dalam kefanaan. Orang-orang harus melihat dan merasakan bahwa mereka memasuki tempat yang luar biasa, tempat ketika kekhawatiran hidup dapat dilihat dalam kaitannya dengan keabadian. Harus ada misteri tertentu, atau bahkan hal asing melampaui pikiran yang dinyatakan oleh arsitektur. Sebuah tempat suci tidak harus mudah untuk dimasuki seperti department store, nyaman seperti café, atau dapat diprediksi seperti ruang kuliah. Sebaliknya, sebagai tempat yang alasan keberadaannya adalah untuk mendorong pertemuan dengan Tuhan, maka tempat itu harus dirancang dengan cara yang membantu kita fokus pada Keilahian.

Sebuah Bangunan Suci untuk Masa Kini

Jika kita terbuka kepada yang Sakral, itu akan menjadi pegangan kita ketika kita mendekati gereja, atau bahkan ketika kita melihat kubah atau menara dari jauh. Setelah memasukinya, arsitektur akan membawa mata kita dan kemudian hati kita kepada Allah, kepada surga. Perwujudan material akan kesucian menarik kita keluar dari diri kita sendiri dengan menjadi indah, harmonis, dan transenden. Dalam bagian tengah gereja akan ada area luas dan mengangkat hati, seperti di persimpangan atau di atas altar. Yang tak terbatas akan disampaikan oleh ruang yang jauh seperti paduan suara, triforium (suatu spasi galeri di atas lengkungan gedung utama atau nave yang menjadi bagian ornamen), atau Kapel Bunda Maria di luar ruang mahakudus.

Juga akan ada area yang secara lebih intim yang menyatakan mysterium tremendum (rasa hormat akan misteri): kapel samping untuk doa dan liturgi harian, ruang pengakuan yang berukir, bahan mahal dan penuh warna, dan sudut tempat ibadah dengan lilin bernyala di hadapan ikon bertutupkan emas. Akan ada banyak tingkat ikonografi dan makna, banyak tempat perhentian di sepanjang jalan, dan banyak tempat untuk mata kita untuk beristirahat. Dan itu akan dilakukan dengan urutan yang baik dan hirarki yang jelas dari semua bagian. Bagian paling penting dari ini adalah ruang mahakudus, tempat dari Sanctus, di mana para malaikat bernyanyi, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah segala kuasa!”

Representasi dari liturgi surgawi di dalam ruang mahakudus selaras dengan perannya sebagai fokus dari gedung gereja. Ruang Mahakudus diisi dengan cahaya langit, yang berbeda dalam kualitas dari cahaya bagian tengah (entah itu misterius dan tenang, atau emas dan cerah). Tangga marmer, lengkungan yang menggambarkan kemenangan surgawi di pilar-pilar, dan sekat altar meningkatkan kesadaran kita tentang misteri suci. Mereka juga membantu mengatur bagian dari Ruang Mahakudus ini, tempat imam tertahbis dan altar pengorbanan. Dengan rasa yang lebih besar dari detail, bahan, dan ikonografi, arsitektur Ruang Mahakudus akan menjadi puncak dari gereja. Sebuah altar marmer dan Tabernakel perunggu adalah perwujudan akhir dari yang suci, kehadiran Kristus yang tinggal di tengah umat-Nya, dan disorot oleh pilar-pilar, patung, lampu perunggu, dan bagian-bagian altar yang sakral.

Dalam suratnya kepada para seniman, Paus Yohanes Paulus II menulis, “Dalam rangka untuk mengkomunikasikan pesan yang diserahkan kepada Gereja oleh Kristus, Gereja membutuhkan seni. Seni harus membuat jelas, dan sejauh mungkin membuat dunia roh, dunia yang tak terlihat, dunia Allah, menjadi attraktif. Oleh karena itu, apa yang tak terungkapkan dengan kata-kata harus diterjemahkan ke dalam istilah yang bermakna” (Paus Yohanes Paulus II, Surat Kepada Para Artist (4 April 1999), 12:1-3.). Di masa ini, kita melihat banyak arsitek dan pelindung seni yang menjawab panggilan Bapa Suci. Dengan cara ini, arsitektur sakral tersebut harus dikembalikan ke tempatnya yang menonjol di milenium ketiga, dan menawarkan sekali lagi rumah doa bagi umat manusia dan Bait yang layak Allah dan liturgi suci-Nya.

Artikel berikut diterjemahkan oleh Gregorius Aditya, dari artikel aslinya yang berjudul The Church Building as a Sacred Place: Beauty, Transcendence, and the Eternal.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: