Pidato Kardinal Sarah pada Konferensi Sacra Liturgia Milan 2017

Catatan penerjemah: Berikut ini merupakan terjemahan tidak resmi dari teks pidato Yang Utama Robert Kardinal Sarah, dalam Konferensi “Sacra Liturgia” di Milan, Italia, 6 Juni 2017. Teks pidato tersebut diterjemahkan oleh Cornelius Pulung berdasarkan teks resmi berbahasa Inggris, yang dapat diakses di sini. (Translator’s note: Below is an unofficial Indonesian translation of Cardinal Sarah’s address to Sacra Liturgia Milan, based on the official english text. The original english text may be accessed here).

IMG_0983

Gambar diambil dari Sacra Liturgia. © Sacra Liturgia.

+++

PIDATO YANG UTAMA ROBERT KARDINAL SARAH

PREFEK KONGREGASI IBADAT ILAHI DAN DISIPLIN SAKRAMEN

PADA KONFERENSI “SACRA LITURGIA MILAN 2017”

ITALIA, 6 JUNI 2017

 

“LITURGI SUCI – PERJUMPAAN KITA DENGAN ALLAH MAHAKUASA:

SUDUT PANDANG KRISTOLOGI DAN EKKLESIOLOGI”

 

SAMBUTAN

Yang Mulia, Monsinyur, saudara-saudara imam, diakon, biarawan dan biarawati yang terkasih, serta saudara-saudari dalam Kristus:

Merupakan sukacita karunia Tuhan untuk dapat hadir di sini di kota St. Ambrosius dan sungguh berada dekat dengan relikui suci yang di atasnya kita baru saja merayakan ibadat Vesper agung. Saya sangat berterima kasih kepada Penerus St. Ambrosius yang agung, Yang Utama Angelo Kardinal Scola, atas sambutannya di Gereja Milan yang indah, kaya dan historis. Sungguh menyenangkan untuk menyambut Yang Utama secara pribadi pagi ini.

Sekadar menghabiskan beberapa hari di sini, di Milan, dan dengan berkumpul bersama untuk berdoa menurut ritus Ambrosian, kita dibina lebih lanjut dalam kekayaan dan keindahan tradisi liturgis Gereja. Kita sungguh berada di atas tanah suci (bdk. Kel. 3:5): mari kita perhatikan Tuhan dengan saksama untuk mendengar dan memahami apa yang akan dikatakan pada kita di hari-hari istimewa ini.

Sekali lagi, saya sangat berbahagia dan berterima kasih kepada Yang Mulia, Uskup Dominique Rey, Uskup Fréjus-Toulon, Perancis, atas sambutannya dan undangannya untuk hadir bersama Anda lagi di tahun ini pada konferensi internasional “Sacra Liturgia” keempat, dan untuk memberikan pidato pembuka siang ini. Yang Mulia, inisiatif yang terus berlanjut ini yang Anda selenggarakan dengan nama “Sacra Liturgia” adalah satu dari sekian banyak kontribusi berharga bagi gerakan liturgis baru di dalam Gereja abad dua puluh. Saya mendorong Anda melanjutkannya sehingga formasi liturgis yang otentik dan perayaan liturgi akan dipromosikan lebih lanjut dan semakin membangun dan memperkaya hidup dan misi Gereja masa kini dan masa mendatang.

Uskup Rey dengan ramah mengacu kepada perkataan yang disampaikan Paus Emeritus Benediktus XVI dalam kata pengantar Edisi Jerman buku saya, The Power of Silence. Secara mendalam saya direndahkan oleh perkataan Paus Benediktus, dan saya menggunakan kesempatan ini untuk berterima kasih kepada Yang Tersuci atas dorongan yang telah diberikan kepada saya, selagi saya berupaya dengan setia memenuhi pelayanan ini atas panggilan Paus Fransiskus.

Saya berdoa dengan intens bagi mereka semua yang memiliki kesabaran dan yang akan membutuhkan waktu untuk membaca buku ini dengan saksama: semoga Allah memampukan mereka untuk melupakan vulgaritas dan kehinaan yang dibicarakan orang-orang tentang “Kata Pengantar” Paus Emeritus dan penulisnya. Oleh karena siapakah dia dan apa yang diwakilinya di dalam Gereja, Paus Benediktus XVI pantas mendapatkan rasa hormat, banyak pertimbangan dan penghargaan. Di semua peradaban dan budaya, tetapi secara khusus di dalam Liturgi, dianutlah hal tersebut: “Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar” (1Tim. 5:17). Kesombongan, bahasa yang kasar, rasa tidak hormat, kebencian dan cibiran bengis terhadap Benediktus XVI bersifat diabolis dan menyelimuti Gereja dengan selubung kesedihan dan rasa malu. Orang-orang ini menghancurkan Gereja dan kodratnya yang mendalam. Orang Kristen tidak berseteru dengan siapapun. Orang Kristen tidak memiliki musuh untuk ditaklukkan. Kristus meminta Petrus untuk menyarungkan pedangnya (bdk. Mat. 26:52-53). Ini adalah perintah Kristus kepada Petrus, dan ini berkaitan dengan setiap orang yang pantas disebut Kristen.

Saudara-saudari terkasih, saya berterima kasih kepada Anda masing-masing atas kehadiran Anda semua di sini. Mengapa Anda berada di sini? Anda berada di sini karena Anda memahami realita yang ditulis Kardinal Ratzinger dua puluh tahun yang lalu, ketika ia berkata:

Gereja berdiri dan jatuh bersama Liturgi. Ketika adorasi kepada Tritunggal ilahi melemah, ketika iman tidak lagi tampak dalam kepenuhannya di dalam Liturgi Gereja, ketika perkataan, pikiran, dan intensi manusia menyesakkannya, maka iman akan kehilangan tempat ia diungkapkan dan tempat kediamannya. Untuk alasan itu, perayaan Liturgi Suci yang sejati adalah pusat dari pembaruan Gereja dalam hal apapun.[1]

Dengan mengetahui hal ini, saudara-saudari terkasih, dan hadir di sini untuk mengembangkan formasi Anda, untuk berjumpa dengan orang lain yang berbagi semangat Anda, dan terutama untuk bersatu bersama dalam ibadat kepada Allah yang Mahakuasa dalam Liturgi Suci, anda sedang memberikan kontribusi positif bagi pembaruan liturgi yang sungguh kita butuhkan di Gereja saat ini. Gereja berhutang kepada Anda.

Saya harus berangkat ke Roma pada Kamis pagi, dan karena itu tidak akan mampu memberikan ucapan selamat terbaik secara personal di akhir hari-hari istimewa ini. Dan bahkan hari ini, selagi konferensi dimulai, saya mendorong Anda, saya memohon pada Anda, saya menganjurkan Anda, untuk pulang ke rumah dari Sacra Liturgia Milan 2017, menuju berbagai negara, keuskupan, paroki dan komunitas yang berbeda tempat kalian berasal, dan – masing-masing orang seturut kewajiban dan rahmat panggilan pemberian Tuhan – menjalani hidup dan bekerja seturut kebenaran bahwa “perayaan Liturgi Suci yang sejati adalah pusat dari pembaruan Gereja dalam hal apapun.”

PENGANTAR

“Gereja berdiri dan jatuh bersama Liturgi.” Perkataan ini menggugat dengan amat kuat. Di tengah banyak kesibukan Gereja yang penting dan adil di masa kini – dari kewajiban sehari-hari kita untuk menjadi saksi kebenaran Yesus Kristus melalui kepedulian terhadap orang miskin dan upaya meringankan penderitaan dan ketidakadilan di dunia, menuju upaya kita “memanggil segenap umat manusia ke dalam rumah tangga Gereja”[2], melalui banyak inisiatif yang kita sebut “evangelisasi baru”, juga dalam melaksanakan kewajiban kita untuk bekerja demi kesatuan semua kaum terbaptis yang utuh dan tanpa halangan “cum Petro et sub Petro” (bersama Petrus dan di bawah naungan Petrus)” – pernyataan bahwa Liturgi Suci adalah pusat tampak tidak proporsional atau bahkan tidak bermanfaat: Ada begitu banyak aktivitas pemberian Allah yang penting yang harus dikerjakan Gereja. Mengapa liturgi tidak kita tinggalkan sendirian dan memusatkan perhatian kita pada tugas yang lebih mendesak? Bagaimana, hari ini, kita dapat membenarkan klaim bahwa “Gereja berdiri dan jatuh bersama dengan Liturgi” ketika pastinya misi dan karyanya di dunia adalah hal yang penting?

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang amat penting. Karena walaupun kini nilai karya sosial dan kemanusiaan demikian jelas dan dihormati secara meluas, keharusan untuk menjadikan tindakan ibadat sebagai prioritas dapat disalahpahami atau bahkan dicemooh oleh mereka yang berada di luar Gereja, dan bahkan dipertanyakan oleh beberapa dari mereka yang berada di dalam Gereja. Tetapi sebagaimana sering dikatakan Bapa Suci, Paus Fransiskus, Gereja bukanlah Lembaga Swadaya Masyarakat. Gereja adalah sesuatu yang secara hakikatnya berbeda. Sungguh benar bahwa Gereja tidak pernah bersikap acuh terhadap kemalangan dan persoalan-persoalan manusia. Namun, benar pula bahwa Yesus tidak mendirikan Gereja untuk memecahkan semua masalah sosial dan politik mengenai imigrasi, ekologi, atau untuk mengalahkan kemiskinan dan ketidakadilan.

Untuk menjelajahi topik ini dan untuk memahami perbedaan ini dengan jelas, saya mengajukan agar kita merenungkan tiga pertanyaan berikut: 1. Siapakah Yesus Kristus? 2. Bagaimana kita berjumpa dengan Kristus? 3. Apa arti seorang Kristen? Ketika kita menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, saya pikir kita akan memahami dengan jelas mengapa Gereja berdiri atau jatuh bersama dengan liturgi, dan mengapa Liturgi Suci menempati prioritas dalam kehidupan Kristiani. Dalam terang ini, akan menjadi mungkin untuk mengusulkan beberapa implikasi bagi perjumpaan liturgis kita dengan Allah Mahakuasa dalam Liturgi Suci hari ini.

A. SIAPAKAH YESUS KRISTUS?

Pertanyaan pertama jelas bersifat Kristologis: Siapakah Yesus Kristus? Tanggapan pribadi kita terhadap pertanyaan ini mengubah dan menentukan bagaimana kita menjalani hidup, dan apakah kita sungguh hidup atau tidak dalam pengharapan pasti akan kehidupan kekal. Karena bila Yesus hanyalah nabi Yahudi belaka, atau sekadar filsuf abad pertama dengan beberapa wawasan berharga tentang manusia dan tentang menjalani hidup secara harmonis di dunia ini, saya dapat menerima atau menolak wawasan dan pengajarannya menurut penilaian saya atas nilai dan kebijaksanaannya bagi hidup saya. Saya boleh “mengambil-Nya atau meninggalkan-Nya”, seperti kata pepatah, tanpa konsekuensi besar apapun. ‘Jalan’-Nya adalah satu dari sekian jalan lainnya.

Namun, bila Yesus adalah Sang Inkarnasi dan wahyu definitif Allah Mahakuasa dalam sejarah manusia, yang diutus bagi keselamatan setiap umat manusia dari berbagai ras, bangsa dan zaman sejak penciptaan dunia, dan bila Ia adalah satu-satunya yang menunjukkan kita hakikat manusia dan yang mewahyukan pada kita tujuan akhirnya yang mulia dalam hidup yang dibangkitkan, yang bahkan tak dapat ditaklukkan oleh maut, maka klaimnya tidak sekadar bersifat subjektif. Dalam kebebasan pemberian Allah, saya masih dapat “mengambil atau meninggalkan-Nya”, tetapi konsekuensinya sungguh mendalam ketika berhadapan dengan klaim-Nya yang objektif dan eksklusif ini. “Jalan”-Nya adalah satu-satunya Jalan, sebagaimana Ia adalah Sang Kebenaran dan Kehidupan (bdk. Yoh. 14:6).

Kristologi Modern, sebagai akibat dari “pencarian akan Yesus historis”, yang dilakukan para cendekiawan sejak abad kedelapan belas dan kesembilan belas, telah membedakan antara “Yesus sejarah” dan “Kristus iman”. Upaya untuk memisahkan manusia historis ini dari misi ilahinya menghasilkan versi Yesus yang telah mengalami proses demitologisasi; yakni seorang Yesus yang seakan-akan hampir terkejut, lantaran menyadari dirinya sebagai penyelamat umat manusia. Pendekatan ini menekankan kemanusian-Nya yang kontingen, sementara keilahian-Nya disangkal atau dipandang sebagai perkara iman, hampir sebagai “tambahan” dan bukan bagian dari realita historisnya.

Dalam bukunya yang padat, penuh refleksi yang kaya: Abbiamo visto Cristo venire verso di noi (Kami telah melihat Kristus mendatangi kami), Francesco Braschi merangkum dengan jelas dan akurat visi eksegesis aneh ini dalam perkataan berikut:

Hal paling menakutkan bagi saya ialah sebuah pemahaman yang melepaskan dan memisahkan keilahian Kristus dari kemanusiaan-Nya: lenyapnya penekanan terhadap dimensi historis peristiwa Kristiani, sesungguhnya, menyebabkan pencabutan sisi rasionalitas dan kemanusiaannya. Yesus menjadi tokoh masa lalu atau satu dari banyak cara perjalanan religius manusia. Secara praktis, maka, hidup didefinisikan oleh voluntarisme etis, kasih direduksi menjadi kemurahan hati atau “kerja sukarela”, sebuah aksi yang menjadi pelengkap bagi kekuasaan. Semua ini berasal dari iman yang direduksi menjadi spiritualisme, menjadi pergerakan batin (subjektivisme).

Tepatnya dua puluh tahun yang lalu, Paulus VI menolak dimasukkannya pemikiran non-Katolik ke dalam Gereja: “Ada gangguan besar kini di dunia dan Gereja, dan apa yang dipertanyakan ialah iman… Hal yang paling menganggu saya ialah ketika saya berpikir tentang dunia Katolik yang ada di dalam Katolisisme, terkadang terdapat pemikiran non-Katolik yang tampak menonjol, dan dapat terjadi bahwa pemikiran non-Katolik dalam Katolisisme ini menjadi yang terkuat di kemudian hari. Kendati demikian, ia tak akan pernah mewakili pemikiran Gereja. Pasti ada kawanan domba berjumlah kecil, tak peduli betapapun kecilnya.” Ini adalah alarm terhadap awal dari upaya pengosongan dari dalam mengenai kodrat dan metode peristiwa Kristiani. Akibatnya sebagai berikut: Yesus Kristus direduksi menjadi “flatus vocis”, menjadi sebuah kata yang abstrak. Peristiwa historis mengenai Yesus dari Nazareth yang wafat dan bangkit dan kini hadir dalam kemanusiaan-Nya di dalam Gereja, Tubuh-Mistik-Nya, tidak lagi benar. Sebagus-bagusnya, ini adalah kisah yang dipenuhi dengan pengajaran etis.

Kendati demikian, Kebangkitan Kristus adalah fakta. Dan ini bukan karena kebetulan –  tampak bagi saya – bahwa penegasan akan kebenaran historis kebangkitan Kristus telah diajukan ulang – dalam homili hari-hari Paskah 2013 – oleh Paus Fransiskus sebagai syarat bagi iman agar tidak menjadi dangkal! Hari ini, sayangnya, objektivitas dari kehadiran Ekaristi dapat dikaburkan dalam nilai dan pemahamannya, sebagaimana terlihat oleh penyebaran keberadaan subjektivisme dalam perayaan liturgis, yang mana tidak hanya pelayan tertahbis tetapi juga umat beriman kerap ditandai oleh hal ini. Bagi banyak orang, liturgi tidak lagi dipandang sebagai Opus Dei, inisiatif Allah, tetapi sebagai kreativitas dan buatan manusia.”[3]

Jadi, kita harus melenyapkan semua pemikiran “non-Katolik” dari Gereja kita, kita harus melawan setiap sentimentalitas atau subjektivisme, dan menemukan kembali, melalui studi dan doa, kekayaan dari objektivitas Kristus yang wafat dan bangkit, dan mendidik umat Allah dalam iman yang hidup dan kuat, serta membawa mereka kepada ketaatan total dan tanpa cacat cela kepada Yesus Kristus, dengan mengkontemplasikan diri-Nya dalam kemanusiaan-Nya sebagai Ia yang di dalamnya “seluruh kepenuhan keilahian berdiam secara jasmani” (bdk. Kol. 2:9).

Dalam cara berpikir ini, dalam perkara rohani dan liturgis, Yesus dapat dianggap lebih sebagai saudara saya daripada sebagai Tuhan kita. Dan, oleh sebab itu, lantaran diperlakukan dengan keakraban yang demikian, perilaku kita di hadapan-Nya tidak lagi diilhami oleh rasa kagum. Kebesaran-Nya, keagungan keilahian-Nya, dan kecemerlangan kekudusan-Nya tidak membangkitkan getaran, sembah-sujud dan adorasi dalam diri kita. Tentu, Yesus adalah sungguh manusia dalam kodrat manusia-Nya dan tentunya sangatlah benar untuk berkata bahwa Ia adalah saudara saya. Dalam doa pribadi dan devosi, mendekati Yesus dari perspektif persaudaraan dan kemanusiaan terkadang amat membantu. Tapi ini saja tidaklah memadai. Yesus lebih dari sekadar saudara saya. Sebagaimana dikatakan St. Thomas, Ia adalah “Tuhanku dan Allahku” (Yoh. 20:28). Ia adalah Putra Allah ilahi yang berinkarnasi demi keselamatan dunia. Ia adalah pribadi kedua dari Tritunggal Suci: Bapa, Putra, dan Roh Kudus, satu Allah yang tak terpisahkan. Kita mengingat perkataan-Nya: “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” (Yoh. 6:57). Dan Yesus sendiri, melalui persekutuan dengan Tubuh dan Darah-Nya, memberikan kita Roh Kudus.

St. Efraim menulis dengan megah: “Ia menyebut roti tubuh-Nya yang hidup, memenuhinya dengan diri-Nya sendiri dan dengan Roh-Nya… Dan ia yang memakannya dengan iman memakan Api dan Roh… Ambillah, makanlah semua, dan makanlah dengan itu Roh Kudus. Karena sungguh ini adalah tubuhku, dan ia yang memakannya akan hidup selamanya.”[4] Gereja memohon karunia ilahi ini, akar dari setiap karunia, dalam epiklesis Ekaristi St. Yohanes Krisostomous. Dan dalam Missale Romawi, selebran memohon: Kami mohon, agar kami, yang diberi makan Tubuh  dan Darah Putra-Mu dan dipenuhi dengan Roh Kudus-Nya, dapat menjadi satu tubuh, satu Roh dalam Kristus.”[5] Dengan demikian, beserta karunia Tubuh dan Darah-Nya, Kristus meningkatkan karunia Roh-Nya dalam diri kita yang telah dicurahkan dalam pembaptisan dan diberikan sebagai “tanda” dalam Sakramen Penguatan. Dalam Ekaristi, sungguh semua Tritunggal Kudus lah yang kita terima.

Alangkah menakjubkan karunia ini! Betapa tak terhingga kasih Allah bagi kita! Saya memahami dengan baik seruan Pemazmur: “Biarlah segenap bumi takut kepada TUHAN, biarlah semua penduduk dunia gentar terhadap Dia!” (Mzm. 33:8). “Gemetarlah, hai bumi, di hadapan TUHAN, di hadapan Allah Yakub,” (Mzm. 114:7). Sayangnya, ketiadaan Allah dalam hidup kita dan kepedulian kita, sekulerisasi, menggelapnya pikiran kita oleh karena benda-benda duniawi, berkontribusi dalam pemudaran iman sejati dan ajaran Katolik mengenai Sakramen Ekaristi yang agung ini, yang perayaannya dialami sebagai pertemuan persaudaraan dan ramah-tamah sederhana.

Banyak hal lain yang dapat dan telah dikatakan tentang pribadi dan kodrat Yesus Kristus. Saya mengangkat pertanyaan ini karena, bila kita hendak memahami Liturgi Suci, dan bila hendak merayakan ritus-ritus Gereja dengan setia, pantas dan berdaya guna, kita harus memiliki pemahaman yang jelas tentang siapakah pribadi yang berada di inti ritus tersebut. Kita harus memiliki pemahaman yang jelas bahwa Liturgi Suci mirip dengan perjumpaan yang intim, personal, dan nyata dengan Kristus yang bangkit, yang dialami St. Thomas delapan hari setelah kebangkitan: sebuah perjumpaan dengan Kristus yang dibangkitkan, sungguh insani sungguh ilahi. Ini adalah perjumpaan dengan Kristus yang sungguh hidup dan hadir bagi saya, yang adalah saudara saya, pastinya, tetapi juga yang terutama merupakan Tuhanku dan Allahku, penyelamatku, penciptaku dan penebusku.

Dengan kata lain, kendati sah untuk mempelajari pribadi dan kodrat Yesus, dan walau terkadang studi ini bermanfaat dalam doa pribadi dan devosi untuk mengkontemplasikan satu kodrat atau kodrat lainnya, dalam Liturgi Suci Gereja menyembah Kristus seutuhnya. Kita tidak merayakan “Yesus sejarah” atau “Kristus iman”. Dengan rendah hati kita mengakui satu Kristus yang bangkit sebagai Tuhan dan Allah kita. Kita tidak melakukan proses demitologisasi terhadap diri-Nya, dalam arti berupaya melucuti semua yang tergolong ke dalam ranah iman: apapun nilai akademisnya, upaya demikian tidaklah sah dalam ibadat Gereja. Ketika kita merayakan Liturgi Suci, kita menyembah Dia yang menjadi manusia bagi keselamatan kita, Ia yang dahulu dan kini sungguh insani dan sungguh ilahi.

Injil tidak memberitahu kita lebih lanjut tentang tanggapan Thomas yang merasa ragu terhadap perjumpaan-Nya dengan Kristus yang bangkit delapan hari sesudah kebangkitan. Kita hanya bisa mulai berimajinasi dan mengkontemplasikan dampak dari pengalaman tunggal yang khusus ini terhadap dirinya. Tradisi mengajarkan kita bahwa St. Thomas menjadi rasul besar India dan menjalani kematian seorang martir demi Kristus. Kita juga dapat bertanya pada diri sendiri apakah perjumpaan khusus kita dengan Kristus yang bangkit hari ini, dalam Liturgi Suci Gereja, berdaya guna dalam hidup kita dan hidup rekan sezaman kita. Bila jawabannya ialah perjumpaan tersebut tidak menghasilkan buah yang serupa, kita harus bertanya mengapa demikian. Pastinya, Liturgi Gereja menggunakan tanda-tanda sakramental, tetapi dalam dan melalui mereka, perjumpaan kita dengan Kristus yang bangkit tetaplah nyata. Barangkali kesalahannya ada pada diri kita, dengan kurangnya iman kita dalam Yesus Kristus?

Mungkin bagian dari masalah tersebut ialah bahwa kita telah melakukan proses demitologisasi terhadap Kristus dalam pikiran kita, dan mungkin proses yang sama telah kita lakukan terhadap pendekatan kita kepada Liturgi Suci? Jika ketika saya berpartisipasi dalam perayaan liturgis, saya berpikir bahwa saya sekadar sedang berbagi dalam pertemuan persaudaraan atau perjamuan ketika saya mengingat saudara saya, seorang guru besar dan nabi sejak lama, pendekatan dan pemahaman saya akan sangat berbeda dari pendekatan saya lainnya bila saya menyadari bahwa saya sedang berpartisipasi dalam ibadat kurban dan penebus terhadap Allah yang Mahakuasa, dalam ibadat kepada Allah yang menjadi manusia demi keselamatan kita, Yesus Kristus, yang wafat dan bangkit, yang melibatkan kita dan mengenalkan kita ke dalam Misteri Paskah yang membuat kita melangkah bersama-Nya dari kematian menuju kehidupan.

Dalam segenap hidup dan karyanya, sebagaimana dalam Liturgi Sucinya, Gereja tiada henti mewartakan realita yang diungkapkan dalam perkataan yang berasal dari ritus pemberkatan lilin paskah yang indah, yang telah memperkaya malam Paskah Ritus Romawi sejak tahun 1951: Christus heri et hodie. Principium et Finis, Alpha et Omega. Ipsius sunt tempora et saecula. Ipsi gloria et imperium per universa aeternitatis saecula. Amen. (Kristus dahulu dan sekarang, awal dan akhir, alpha dan omega. Milik-Nya lah segala masa dan segala abad, kepada-Nya lah kemuliaan dan kekuasaan untuk selama-lamanya. Amin)[6]. Kristuslah yang kita sembah: Sang Imam Agung Perjanjian Baru (bdk. Ibr 4:14) yang bersama-sama memanggil ecclesia-Nya, Gereja-Nya. Dan Dia lah yang melanjutkan karya keselamatan-Nya di dunia kita dalam setiap perayaan liturgis Gereja hari ini (bdk. Sacrosanctum Concilium, 7).

Allah yang kepada-Nya kita percaya, Dia yang kita sembah dan yang di hadapan-Nya kita berdiri dalam doa hening, adalah Allah yang menjadi manusia: Yesus Kristus. Sungguh, untuk membawa ajaran keselamatan kepada manusia dan untuk memperlihatkan kasih Allah pada mereka, Kristus, Allah sempurna dan manusia sempurna, bertindak dalam cara ilahi dan insani. Allah turun untuk menjadi manusia agar manusia menjadi allah: “Deus homo factus est ut homo fieret Deus,” kata St. Ireneus. Ia mengambil kodrat manusia kita tanpa syarat, kecuali dosa (Ibr. 4:15). Dengan demikian Allah telah menjadikan kita turut ambil bagian dalam kodrat ilahi-Nya (bdk. 2Pet. 1:4). Siapakah yang tidak gemetar karena takjub dan bersujud di hadapan keistimewaan yang tak terdengar ini?

Allah mengasihi saya dengan hati seorang manusia. Ia memandang saya dengan lembut melalui mata manusia:

Kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Saudara-saudaraku yang terkasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi (1Yoh. 4:7-11). Yesus Kristus adalah Allah beserta kita. Ia adalah Tuhan dan Allah kita. Ia adalah kehadiran seluruh Tritunggal. Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan (bdk. Kol. 2:9). Ia membawa hasrat mendalam akan perjumpaan yang intim dan personal dan relasi dengan kita masing-masing di dalam hatinya yang tertikam.

B. BAGAIMANA KITA BERJUMPA DENGAN YESUS KRISTUS?

Setelah menetapkan bahwa Dia yang kita sembah adalah Yesus Kristus yang utuh dan tak terpecah, Tuhan dan Allah kita, mari kita bertanya bagaimana kita, dan bagaimana pria dan wanita di setiap zaman bertemu dengan-Nya? Tentu, sebagai Allah, Tuhan kita Yesus Kristus mampu menyingkapkan diri-Nya dalam cara-cara luar biasa kepada individu-individu, sebagaimana disaksikan dalam riwayat para kudus. Tetapi, dalam cara biasa, bagaimana kita berjumpa dengan Dia yang mempersembahkan diri-Nya dalam kurban cinta demi keselamatan kita?

Pertanyaan ini dapat dijawab dengan sepatah kata: kita berjumpa dengannya secara gerejawi. Kita masuk ke dalam relasi dengan Kristus dalam dan melalui Gereja Katolik yang satu dan sejati, yang Ia dirikan untuk tujuan ini. Sebagaimana dikatakan Paus Benediktus XVI: “Di dalam Gereja kita menemukan Kristus, kita mengenal-Nya sebagai Pribadi yang hidup. Gereja adalah “Tubuh-Nya”” (Audiensi Umum, “Hakikat Gerejawi dari Doa Liturgis”, 3 Oktober 2012).

Jadi, kita tidak berjumpa secara biasa dengan pribadi Kristus sebagai individu. Melainkan kita masuk ke dalam relasi dengan-Nya dalam dan melalui Gereja. Tentunya mungkin bahwa kontak awal kita dengan Kristus terjadi melalui kesaksian dan misi individu orang Kristen, tetapi bahkan pribadi Kristen yang demikian lebih dari dirinya: mereka adalah bagian dari Tubuh Kristus, dan apa yang saya alami melalui mereka lebih dari sekadar perjumpaaan insani satu demi satu: Kristus hadir di sana, memanggil dan mengundang saya untuk menjadi bagian Gereja melalui rahmat baptisan dan rahmat panggilan khusus yang hidup dan bekerja dalam pria dan wanita Kristen, yang mana saya telah berhubungan dengannya.

Kini realita ini sering dilupakan atau bahkan disangkal. Kita mendengar orang-orang berkata bahwa mereka bahagia lantaran memiliki relasi personal dengan Yesus, tetapi mereka tidak ingin memiliki relasi apapun dengan Gereja. Memiliki relasi personal dengan Yesus adalah awal yang baik. Tetapi ini tidak cukup! Sebuah benih yang terbengkalai atau yang mulai bersemi namun tidak tumbuh hingga matang, tidak akan menghasilkan buah. Benih iman membutuhkan tanah dan nutrisi dari hidup Gereja untuk bertumbuh. Mari kita ambil satu contoh: St. Paulus, setelah bertemu dengan Yesus dalam peristiwa yang mengubah hidupnya, segera dipercayakan kepada Gereja Damaskus untuk kelahirannya secara penuh dan pertumbuhannya dalam iman: “Bangunlah dan pergilah ke dalam kota”, kata Tuhan Yesus, “di sana akan dikatakan kepadamu apa yang harus kau perbuat” (Kis. 9:6). Dan Ananias, barangkali kepala Gereja Damaskus, berkata kepadanya,

“Saulus, Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya. Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar. Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!” (Kis. 22:14-16).

Kita tidak bisa menjadi orang Kristen tanpa menjadi bagian dari Tubuh Kristus, Gereja. Tanpa sakramen-sakramen Gereja, kehidupan Kristiani bagaikan benih yang jatuh di tanah berbatu, yang ketika tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air (bdk. Luk. 8:6).

Saya tahu dengan amat baik akan kesalahan dan dosa dari beberapa anggota Gereja, termasuk, dan saya malu mengatakannya, kesalahan dan dosa beberapa imam dan uskup, yang menimbulkan skandal bagi banyak orang dan menjauhkan mereka dari Gereja. Kita seharusnya melakukan silih tanpa henti dan melakukan mati raga bagi diri kita untuk hal ini dan kita tidak boleh gagal dalam memeriksa hati nurani kita, sehingga kita tidak pernah bersalah akan dosa yang demikian berat, atau mentolerirnya dalam diri mereka yang menjadi tanggung jawab kita. Tetapi bahkan pendosa paling buruk atau skandal paling berat sekalipun tidak mengubah fakta bahwa merupakan kehendak Allah, sebagaimana ditetapkan Konsili Vatikan II, agar “semua harus disatukan ke dalam Dia melalui baptisan dan ke dalam Gereja yang adalah tubuh-Nya”, dan bahwa “aktivitas misioner kini selalu mempertahankan kuasa dan keharusannya” (Dekrit Ad Gentes, 7 Desember 1965, 7). Bila kita telah menempatkan tantangan di perjalanan untuk mencapai hal ini, kita harus melenyapkannya.

Bagi perjumpaan awal dengan Yesus Kristus, pandangan sekilas kepada-Nya, atau relasi yang murni bersifat individual dengan-Nya, perlu dirawat dan tiba pada kepenuhan hidup Kristiani dalam hidup dan misi Tubuh Kristus, Gereja. Saya membutuhkan Gereja untuk membawa saya ke dalam kehadiran Kristus yang utuh, tempat saya dapat bertemu dengan tatapan kasih-Nya dari muka ke muka, bukan sebagai seorang individu yang mungkin menyukai sesuatu tentang Yesus atau beberapa pengajarannya, tetapi sebagai seseorang yang menjadi milik-Nya secara total dalam perkumpulan yang menakjubkan dan persekutuan dengan mereka yang menjadi milik-Nya – mereka yang hadir, yang tidak hadir, yang hidup dan yang sudah meninggal dalam Kristus di sepanjang zaman. Sebagaimana dikatakan St. Paulus kepada jemaat di Korintus: “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor. 12:12-13).

Dengan demikian, sebagai anggota dalam persekutuan yang penuh dan tanpa halangan dari Tubuh Kristus, Gereja, kehidupan Kristiani saya dan pelayanan imamat saya mampu bertumbuh dan berkembang. Saya, sebagai pribadi manusia yang diciptakan dalam citra dan keserupaan dengan Allah (bdk. Kej. 1:26), mengambil tempat saya yang diberikan Allah dalam jemaat ilahi-Nya. Saya tidak lagi sendirian. Kerinduan yang diungkapkan dalam doa St. Agustinus: “Engkau telah menciptakan kami bagi diri-Mu, ya Tuhan, dan hati kami resah hingga beristirahat dalam Dikau”, kini telah terwujud. Saya tidak hanya telah berjumpa dengan Kristus, tetapi sebagai anggota ecclesia, saya kini mampu bersukacita dalam relasi bersama Kristus yang terus berjalan dan memberi hidup, yakni kehidupan Kristiani, dan selanjutnya, saya mampu berharap untuk menerima pujian dari Sang Tuan dalam perumpamaan talenta (bdk. Mat. 25:14-30): “Baik sekali perbuatanmu itu, hamba yang baik dan setia”, atas buah yang lahir dari kehidupan Kristiani saya.

C. APA ITU SEORANG KRISTEN?

Maka, orang Kristen adalah seorang pribadi dalam relasi gerejawi dengan Yesus Kristus. Orang-orang dapat menganut gagasan dan filosofi Kristen, mereka dapat menghormati beberapa atau bahkan semua ajaran Kristen dan berusaha menghidupinya. Banyak pria dan wanita berkehendak baik di dunia ini yang melakukannya. Tetapi bila seseorang tidak berada dalam relasi gerejawi yang hidup dengan Yesus Kristus, bila mereka bukan anggota Gereja Katolik yang satu yang Ia dirikan, mereka kekurangan sesuatu yang hakiki bagi hakikat Kekristenan, sesuatu yang hakiki yang berkaitan dengan apa artinya menjadi orang Kristen. Apa yang hilang ialah relasi vital yang hampir bersifat ontologis dengan Tubuh Mistik Kristus, Gereja, dan juga dengan Kristus yang bangkit, yang hidup di dalam Gereja-Nya dan memberikan hidup kepada semua anggotanya melalui sakramen-sakramen.

Apakah “relasi gerejawi” ini? Kita tidak perlu mencari jauh-jauh tentang penjelasan yang sungguh indah dan fasih tentangnya, karena kita menemukannya dalam risalah abad keempat berjudul De mysteriis (Perihal misteri-misteri) dari St. Ambrosius. Di sini Bapa dan Doktor Gereja agung ini, yang di dalam kotanya kita berjumpa, berupaya “menetapkan makna sakramen-sakramen” (I:2)[7], ia menganjurkan neovit (neovit adalah sebutan bagi orang yang baru dibaptis dan menjadi anggota Gereja Katolik – penerjemah) untuk:

“Bukalah telingamu dan hiruplah nafas hidup kekal yang telah dihembuskan atasmu melalui rahmat sakramen-sakramen; apa yang ditandai kepadamu oleh kami, ketika merayakan misteri pembukaan, kami berkata, “Efata”, yang berarti, Terbukalah, sehingga semua orang yang datang kepada rahmat mengetahui apa yang ditanyakan pada mereka dan mengingat apa yang harus mereka jawab.”[8]

“Setelah ini, Yang Kudus di antara yang kudus terbuka kepadamu, kamu memasuki tempat suci bagi kelahiran kembali: ingatlah apa yang ditanyakan kepadamu, dan ingatlah apa yang kamu jawab. Kamu menolak iblis dan karyanya, dunia beserta kemewahan dan kenikmatannya. Perkataanmu disimpan, bukan di dalam kuburan orang mati, tetapi di dalam kitab orang hidup.”[9]

“Di sana kamu melihat diakon, kamu melihat imam, kamu melihat imam agung [uskup]. Jangan renungkan bentuk jasmaninya, tetapi renungkanlah rahmat Misteri-Misteri…”[10]

Kamu masuk, agar kamu dapat memilah musuhmu, yang kamu tolak “seakan-akan di depan wajahnya, lalu kamu menghadap ke timur: karena ia yang menolak iblis, berpaling kepada Kristus, dan memandang Dia dari muka ke muka.”[11]

Apa arti menghadap timur dan memandang Kristus dari muka ke muka? Ini adalah kehidupan yang mana anggota baru Gereja diinisiasi ke dalamnya. Ini adalah ibadat gerejawi Kristus, Tuhan dan Allah kita: Liturgi Suci. Berdiri bersama dengan saudara-saudarinya dalam sikap ibadah dan menggunakan bahasa tubuh bersama yang dalam maknanya (menghadap timur), neovit mengambil tempatnya sebagai orang Kristen, sebagai bagian ecclesia dalam ibadat. Setelah baptisan, orang Kristen diperkenalkan ke dalam relasi yang intim dan personal, dan mengkontemplasikan Yesus dari muka ke muka, bersama dengan komunitas yang berdoa, yang dipimpin uskup, yang dibantu imam dan diakon dalam fungsi liturgisnya. Dan semua beribadah, didukung Roh Kudus, menghadap Timur, menghadap Kristus, yang menang atas kejahatan dan iblis. Menurut St. Ambrosius, ia adalah orang Kristen, yakni ia yang telah menolak Setan dan kerusakan dunia, dan yang telah menghadap Kristus dan memandang-Nya dari muka ke muka. Orang Kristen merenungkan kehidupan Kristus, dan Kristus sendiri meneranginya guna mengilahikan eksistensinya.

Saya telah beberapa kali berbicara tentang pentingnya memulihkan orientasi ini, orientasi menghadap timur dalam perayaan liturgi hari ini, saya mempertahankan apa yang telah saya katakan dalam kesempatan-kesempatan itu. Di sini saya ingin sekadar mencatat bahwa dalam perkataan St. Ambrosius, kita dapat melihat sesuatu yang berkaitan dengan kuasa, keindahan, dan tujuan dari menghadap timur, dan secara hakikatnya menghadap Kristus dalam perayaan liturgi aktual.

St. Ambrosius mengungkapkan makna sejati dari apa yang ia maksudkan dengan menghadap timur: lebih dari sekadar orientasi geografis, menghadap timur menekankan kebutuhan orang Kristen untuk mengarahkan hidupnya kepada Kristus, terus menerus mengkontemplasikan Yesus dari muka ke muka, sehingga Ia mengubah hidup kita. Dan, dengan demikian, dalam liturgi Gereja juga menghadap Tuhannya, ia memandang-Nya dari muka ke muka, mengantisipasi kontemplasi yang secara penuh akan diwujudkan dalam penglihatan kepada Allah yang membahagiakan (beatific vision of God).

Mari kita perjelas, dan kita harus yakin, bahwa neovit diinisiasi ke dalam ibadat liturgis Kristus. Ia secara fisik dan rohani mengambil tempatnya dalam perkumpulan liturgis. St. Ambrosius berbicara tentang diakon, imam, uskup dan melanjutkannya dalam bab-bab sesudahnya dari risalah tersebut untuk menjelaskan realita-realita rohani yang berinkarnasi dalam banyak kata, ritus dan simbol lain yang digunakan dalam liturgi Gereja. Ritus dan perkataan serta “hal” ciptaan lain yang membentuk liturgi diberikan dengan tujuan ilahi: mereka adalah apa yang kita sebut sakramental. Prinsip inilah, prinsip sakramentalitas ibadat Kristen, yang diajarkan St. Ambrosius kepada kawanan dombanya – dan kepada kita hari ini – dalam De mysteriis.

Jadi, orang Kristen adalah ia yang memiliki tempatnya, bahkan secara fisik, dalam perkumpulan liturgis ecclesia dan yang menimba dari sumber ini rahmat dan pengajaran yang perlu bagi kehidupan Kristiani. Orang Kristen adalah ia yang mulai meresapi dan karenanya semakin hidup dari misteri-misteri mendalam yang disampaikan Liturgi Suci. Jadi, partisipasi dalam Liturgi Suci adalah hakikat dari menjadi seorang Kristen. Dengan kata lain, jawaban atas pertanyaan “Apa itu orang Kristen”, dapat kita tanggapi demikian: Orang Kristen adalah ia yang telah dibasuh oleh Gereja dalam baptisan dan yang terus menerus semakin menimba lebih mendalam dari sumber unik dan puncak hidup serta misi Gereja: Liturgi Suci.

Baik sekali bila kita merenungkan realita ini: Saya sungguh dan secara otentik menjalani kehidupan Kristiani sejauh saya menghidupi kehidupan liturgis Gereja. Gereja sendiri telah menetapkan tingkat minimal partisipasi liturgis untuk memastikan bahwa saya melakukan ini: laksana bunda yang bijaksana yang mewajibkan kehadiran kita pada Misa Kudus setiap hari Minggu dan Hari Raya wajib, pengakuan dosa minimal setahun sekali dan penerimaan Komuni Suci secara layak setiap Paskah (bdk. Katekismus Gereja Katolik, 2042). Tetapi ini hanya minimal, untuk memastikan bahwa kehidupan Kristus dalam diri kita tidak mati! Bila kita hendak hidup dalam Kristus, bila kita hendak hidup dari Kristus dan menghasilkan buah yang bertahan (bdk Yoh. 15:16), maka kita harus menghidupi kehidupan liturgis Gereja menurut aturan minimal, tetapi sepenuh mungkin seturut kondisi hidup kita. Karena dalam Liturgi Suci, sebagaimana diajarkan St. Ambrosius dalam De mysteriis bab IX, “Kristus… menggembalakan Gereja-Nya dengan sakramen-sakramen ini, melaluinya substansi jiwa kita dikuatkan.”[12] Sungguh, ia menambahkan, bahwa di dalam sakramen-sakramen yang kita sentuh secara fisik, kita sungguh mendekap Kristus sendiri, demikian kata St. Ambrosius: “Tuhan Yesus, Engkau tidak menyatakan diri-Mu melalui teka-teki seperti di dalam cermin, tetapi dari muka ke muka: dalam sakramen-sakramen-Mu, saya memiliki kesempatan untuk mendekap Engkau.”[13]

Sungguh, Tuhan kita Yesus Kristus menggembalakan Gereja-Nya melalui seluruh kehidupan liturgisnya, karena sebagaimana diajarkan Konsili Vatikan II – dalam kesinambungan sempurna dengan magisterium Gereja yang kekal – Liturgi Suci adalah tempat Kristus berkarya di dalam Gereja-Nya kini. Konstitusi tentang Liturgi Suci mengajarkan:

Dengan kekuatan-Nya Ia hadir dalam Sakramen-sakramen sedemikian rupa, sehingga bila ada orang yang membaptis, Kristus sendirilah yang membaptis. Ia hadir dalam sabda-Nya, sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab suci dibacakan dalam Gereja. Akhirnya Ia hadir, sementara Gereja memohon dan bermazmur karena Ia sendiri berjanji: bila dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, disitulah Aku berada diantara mereka (Mat. 18:28). Memang sungguh, dalam karya seagung itu, saat Allah dimuliakan secara sempurna dan manusia dikuduskan, Kristus selalu menggabungkan Gereja, mempelai-Nya yang amat terkasih, dengan diri-Nya Gereja yang berseru kepada Tuhannya dan melalui Dia berbakti kepada Bapa yang kekal.

Maka memang sewajarnya juga Liturgi dipandang bagaikan pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus; disitu pengudusan manusia dilambangkan dengan tanda-tanda lahir serta dilaksanakan dengan cara yang khas bagi masing-masing; disitu pula dilaksanakan ibadat umum yang seutuhnya oleh Tubuh mistik Yesus Kristus, yakni Kepala beserta para anggota-Nya (Sacrosanctum Concilium, 7).

Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Lumen Gentium, berbicara dengan fasih akan hakikat orang Kristen yang secara intrinstik bersifat gerejawi, sakramental, dan liturgis:

Dengan baptis kaum beriman dimasukkan ke dalam tubuh Gereja; dengan menerima meterai mereka ditugaskan untuk menyelenggarakan ibadat agama kristiani; karena sudah dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah, mereka wajib mengakui dimuka orang-orang iman, yang telah mereka terima dari Allah melalui Gereja. Berkat sakramen penguatan mereka terikat pada Gereja secara lebih sempurna, dan diperkaya dengan daya kekuatan Roh Kudus yang istimewa; dengan demikian mereka semakin diwajibkan untuk menyebarluaskan dan membela iman sebagai saksi Kristus yang sejati, dengan perkataan maupun perbuatan. Dengan ikut serta dalam korban Ekaristi, sumber dan puncak seluruh hidup kristiani, mereka mempersembahkan Anak Domba ilahi dan diri sendiri bersama dengan-Nya kepada Allah; demikianlah semua menjalankan peranannya sendiri dalam perayaan liturgis, baik dalam persembahan maupun dalam komuni suci, bukan dengan campur baur, melainkan masing-masing dengan caranya sendiri. Kemudian, sesudah memperoleh kekuatan dari Tubuh Kristus dalam perjamuan suci, mereka secara konkrit menampilkan kesatuan Umat Allah, yang oleh sakramen mahaluhur itu dilambangkan dengan tepat dan diwujudkan secara mengagumkan. (no. 11)

Maka tidak ada yang namanya orang Kristen yang berdiri sendiri atau orang Kristen non-liturgis. Orang Kristen yang tidak pernah berdoa atau berpartisipasi dalam Liturgi hari Minggu Suci bagaikan mayat yang mengembara. Ia hidup, tetapi seakan-akan mati di dalam jiwanya. Setiap orang Kristen, melalui baptisan mereka, adalah insan liturgis yang dalam ibadat Gereja memandang Kristus Tuhan “dari muka ke muka”, yang meminum kian mendalam dari mata air rahmat yang dibuka Liturgi Suci, dan yang menemukan di dalamnya sarana yang berdaya guna bagi semua permohonan dan ungkapan syukur yang diberikan kehidupan Kristiani.

Saya berharap, kini kita dapat memahami lebih jelas mengapa “Gereja berdiri dan jatuh bersama Liturgi” dan mengapa “perayaan Liturgi Suci yang sejati adalah pusat dari pembaruan Gereja dalam hal apapun.” Dalam terang ini, saya hendak merenungkan beberapa implikasi dan konsekuensi dari permenungan kristologis dan ekklesiologis bagi kehidupan liturgis Gereja hari ini.

D. BEBERAPA IMPLIKASI LITURGIS

Dalam Audiensi Umum tanggal 3 Oktober 2012, Paus Benediktus XVI merenung tentang “Hakikat Gerejawi dari Doa Liturgis”. Renungannya, yang saya rekomendasikan setulus hati untuk studi lebih lanjut, menyatakan:

Dalam hal ini, kita harus sadar dan menerima logika Inkarnasi Allah: Ia telah mendekat, hadir, masuk ke dalam sejarah dan kodrat manusia, menjadi satu dengan kita. Dan kehadiran ini berlanjut di dalam Gereja, tubuh-Nya. Liturgi bukanlah kenangan akan peristiwa masa lampau, tetapi kehadiran Misteri Paskah Kristus yang hidup, yang melampaui dan menyatukan semua waktu dan ruang. Bila sentralitas Kristus tidak muncul dalam perayaan, maka ia bukan liturgi Kristen yang bergantung secara total kepada Tuhan dan ditopang oleh kehadiran kreatif-Nya. Allah bertindak melalui Kristus dan kita hanya bisa bertindak melalui Dia dan dalam Dia. Setiap hari keyakinan tersebut harus bertumbuh dalam diri kita, bahwa liturgi bukan “tindakan” saya dan kita, tetapi karya Allah di dalam dan bersama kita.

Bukanlah individu – imam atau awam – atau kelompok yang merayakan liturgi, tetapi terutama karya Allah melalui Gereja yang memiliki sejarahnya sendiri, tradisi dan kreativitasnya yang kaya. Universalitas dan keterbukaan hakiki ini, yang adalah ciri seluruh liturgi, adalah satu dari sekian alasan mengapa liturgi tidak dapat diciptakan atau diubah oleh komunitas individual atau para ahli, tetapi ia harus setia kepada bentuk Gereja universal.

Ini sungguh hakiki. Ketika liturgi menjadi perayaan manusiawi belaka atau bahkan persaudaraan Kristiani, ia perlu diangkat, ditinggikan menuju Takhta Allah dan disempurnakan guna menjadi ibadat kepada Allah Mahakuasa dalam persekutuan dengan Kristus dan seluruh Gereja kaum terbaptis. Ada terlalu banyak implikasi dari prinsip ini bagi praktik liturgis kita saat ini, yang tidak mampu saya jabarkan secara rinci di sini, tetapi saya memanggil kita semua untuk memeriksa hati nurani kita pada titik ini. Apakah perayaan liturgi kita sungguh setia kepada bentuk yang ditetapkan Gereja universal? Jika tidak, kita harus mengoreksi tiap praktik keliru yang telah muncul. Tuhan kita Yesus Kristus sendiri menuntut hal ini dari kita.

Di antara banyak implikasi yang dapat kita renungkan, saya hendak menawarkan tiga proposal konkret dalam terang permenungan kristologis dan ekklesiologis bagi kehidupan liturgis Gereja hari ini.

Konsekuensi pertama yang harus kita akui ialah keberadaan skandal berat dan yang sedang berlangsung di Gereja dalam kurun waktu kita, sehingga banyak saudara-saudari kita yang telah dibaptis namun tidak hadir dalam Liturgi Suci. Banyak orang Kristen Katolik tidak pergi ke Gereja untuk membantu atau berpartisipasi dalam Misa Kudus. Ini adalah kejahatan berat yang membahayakan kehidupan rohani dan keselamatan kekal mereka. Skandal ketidakhadiran saudara-saudari kita yang telah dipabtis dari jemaat Gereja mendesak kita masing-masing untuk melakukan koreksi fraternal dalam kasih. Sudah sejak tahun 67 AD, pengarang Surat kepada Jemaat di Ibrani dengan penuh semangat menggoncang sejumlah kecil orang Kristen yang telah menjadi suam-suam kuku, dan memanggil mereka untuk tidak mengabaikan praktik religius mereka: “Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita”, ia menulis kepada mereka, “sebab Ia, yang menjanjikannya, setia. Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat” (Ibr. 10:23-25). Anjuran ini juga berlaku bagi kurun waktu kita.

Ketika ada begitu banyak – sungguh, di beberapa negara sebagian terbesar kaum terbaptis ada dalam situasi ini – kita harus sekali lagi mengulangi seruan paternal yang muncul dari dalam hati St. Yohanes Paulus II: “Pulanglah ke rumah”! Seruan ini, yang dinyatakan tiga puluh tahun yang lalu, jauh lebih mendesak hari ini:

Kepada mereka yang telah pergi meninggalkan rumah rohani mereka, saya hendak berkata: Kembalilah! Gereja membuka tangannya bagi anda, Gereja mengasihi anda! Saya telah menulis dalam Surat Ensiklik saya, Dives in Misericordia bahwa “Gereja di masa kita harus secara khusus dan kian mendalam menjadi sadar akan kebutuhan untuk menjadi saksi dalam seluruh misinya bagi belas kasih Allah dalam totalitas misinya, menurut Tradisi atau Perjanjian Lama dan Baru, dan terutama seturut mengikuti Yesus Kristus dan Para Rasul-Nya”. Dalam Sakramen Tobat atau Rekonsiliasi, anda akan mampu mengalami belas kasih Allah yang tiada terhingga dalam Kristus dengan cara yang luar biasa. Oleh sebab itu, saya berkata: Jangan takut! Pulanglah ke rumah! Komunitas iman tempat anda dilahirkan kembali, dan dibesarkan sampai batas tertentu, mendesak anda untuk menerima belas kasih Allah. Ia memohon pada anda untuk mengambil tempat anda sekali lagi di tengah umat Allah, tempat yang bisa dipenuhi hanya oleh Anda sendiri. Undangan ini datang kepada anda melalui Kristus. Berkata ya berarti membuka hati anda kepada kasih-Nya. (Homili, Sydney, Australia, 26 November 1986)

Tentu, bila kita memanggil orang-orang untuk pulang ke rumah, kita harus memastikan bahwa rumah tempat mereka kembali mesti sebagaimana seharusnya, bahwa Liturgi Suci adalah sebagaimana yang dimaksudkan Gereja. Tahun lalu saya berbicara tentang bagaimana kita dapat menerapkan dokumen Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium, dengan lebih setia. Saya tidak perlu mengulangi apa yang sudah saya katakan di sini, tetapi saya berpikir bahwa untuk mencapai tujuan ini, jalannya masih panjang selama kita tetap menjadi dangkal dan sangat horisontal dalam relasi kita dengan Allah.

Kendati demikian, saya hendak menekankan bagaimana Konstitusi, seperti semua pembaruan Konsili, tidak berlawanan dengan apa yang Gereja rayakan sebelum Konsili. Itulah sebabnya dalam beberapa kesempatan saya telah menegaskan tentang apa yang kita pahami melalui ungkapan “membarui pembaruan liturgi” (reform of the reform). Ungkapan ini berarti bahwa bentuk biasa dan luar biasa dari Ritus Romawi yang sama dapat saling memperkaya satu sama lain. Saya yakin akan baik sekali untuk mengadakan studi yang serius tanpa menunda-nunda perihal kemungkinan upaya saling memperkaya dua bentuk tersebut.

Sayangnya, dalam beberapa kalangan, telah menjadi populer untuk berbicara tentang “Liturgi Vatikan II” sebagai sesuatu yang dibuat menurut ekklesiologi baru yang terpisah dan secara sengaja membebadakan diri dari ekklesiologi “lama” dan kehidupan liturgis Gereja yang mendahului Konsili Vatikan II. Liturgi tidak dibuat secara baru setiap kali ada perkembangan dalam ekklesiologi. Gereja sebelum dan sesudah Konsili bukanlah dua entitas yang terpisah dan berbeda. Konsili tidak mencari perputusan, melainkan perkembangan dan penyuburan, sebagaimana tampak jelas ketika kita membaca sejarah Gereja dengan tenang, ketika iman diakui dan dirayakan selalu dalam kesinambungannya dan tidak pernah terputus dengan masa lalu.

Perputusan apapun akan mengarahkan kita pada antitesis dan kontradiksi total dengan pemikiran para Bapa Konsili dan khususnya St. Yohanes XXIII, yang berkata dengan jelas dalam pidatonya yang membuka Konsili Vatikan II:

Hal yang amat penting bagi Konsili Ekumenis ialah bahwa deposit suci doktrin Kristen harus dijaga dan dihadirkan dengan cara yang lebih efektif… Konsili Ekumenis XXI… ingin meneruskan doktrin Katolik, yang telah menjadi warisan bersama umat manusia, dalam integritasnya, tanpa melemahkan atau mengubahnya, kendati terdapat kesulitan dan oposisi. Tentu, warisan ini tidak menarik bagi semua, tetapi ia ditawarkan kepada semua manusia berkehendak baik sebagai harta karun berharga yang menjadi milik mereka…

Apa yang kini diperlukan ialah pelekatan setiap orang, dalam cinta yang diperbarui, dalam damai dan ketentraman, kepada semua doktrin Kristen dalam kepenuhannya, yang diteruskan dengan presisi istilah dan konsep yang memuliakan Konsili Trent dan Konsili Vatikan I. Perlu sekali bahwa, dengan menanggapi keinginan kuat mereka semua yang secara tulus melekat kepada semua yang bersifat Kristen, Katolik dan Apostolik, doktrin ini diupayakan agar semakin dikenal secara meluas, sehingga jiwa-jiwa makin diresapi dengannya, diubah olehnya. DOKTRIN YANG PASTI DAN KEKAL ini, yang harus dihormati dengan setia, harus diperdalam dan dihadirkan dengan cara yang memenuhi tuntuntan zaman kita. Sungguh, deposit iman, yaitu, kebenaran-kebenaran yang terkandung dalam doktrin yang terhormat, adalah satu hal, dan bentuk yang mana kebenaran-kebenaran ini dijelaskan adalah hal lain, namun keduanya mempertahankan makna dan jangkauan yang sama.”[14]

Berpikir secara berbeda dan mengubah doktrin atau menciptakan liturgi yang berbeda berarti mengkhianati Konsili Vatikan II dan menyingkirkan umat beriman dari Kristus, Batu Karang yang kokoh dan sumber air hidup.

Para sahabat terkasih, fakta bahwa banyak murid Yesus, pria dan wanita di seluruh dunia, telah berhenti ambil bagian dalam jemaat gerejawi, dalam inti perayaan Liturgi Suci, mengharuskan adanya pemeriksaan kritis akan bagaimana Gereja mengkontemplasikan misinya di abad kedua puluh satu! Kita harus melalukan apapun yang perlu, secara ad extra (ke luar) dan juga ad intra (ke dalam), untuk memulihkan skandal tersebut.

Bila orang Kristen tidak datang ke Liturgi Ekaristi, karena liturgi tersebut mengalami pendangkalan, sekulerisasi, dan diubah menjadi tontonan serta perayaan manusiawi belaka tanpa kehadiran Allah, bagaimana bisa mereka bertemu dengan Dia yang bangkit? Bila orang Kristen tidak berpartisipasi dalam Liturgi Ekaristi Hari Minggu, bagaimana bisa mereka berjumpa dengan Dia yang bangkit? Bagaimana mereka mampu memberi makan diri mereka dengan Sabda-Nya dan Roti Surgawi serta bertemu dengan Yesus yang hidup di dalam Gereja-Nya? Bila banyak orang Kristen melewatkan perjumpaan hari Minggu dengan Tuhan yang bangkit untuk merayakan misteri wafat dan kebangkitan-Nya bersama saudara-saudari mereka dalam iman, bagaimana bisa Yesus yang bangkit menampilkan diri-Nya di Gereja-Nya dan di dunia? Bila kita mengabaikan jemaat liturgis melalui keacuhan religius atau ateisme praktis, bagaimana Tuhan yang bangkit bisa memberikan kita tubuh dan darah-Nya untuk membarui dan melahirkan kembali keberadaan Kristiani kita?

Hari Minggu, hari kebangkitan Tuhan adalah “hari Paskah mingguan” Gereja, masa ketika komunitas Kristen bertemu dan mengakui Tuhan yang hadir dalam Sabda dan Ekaristi. Ia menguatkan pengharapan dalam kebangkitan dan menyerukan dengan lantang kepada dunia seruan sukacita yang sama dari komunitas apostolik: “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit!” (Luk. 24:34), Saya ingin menunjukkan fakta yang amat penting, menurut saya: penampakan Yesus yang pertama kepada Maria Magdalena ialah pertama-tama untuk mengkonfirmasi apa yang telah diramalkan Yesus dan apa yang hendak diingatkan oleh “dua orang… dalam pakaian yang berkliau-kilauan” kepada para wanita di Paskah pagi: Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga. “Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu” (Luk. 24:8).

Sebaliknya, penampakan Yesus kepada para muridnya kerap terjadi dalam konteks yang memunculkan Liturgi Ekaristi, seakan-akan dari sekarang Yesus tampil dan menampakkan diri ketika Gereja merayakan Liturgi Ekaristi. Bukalah Injil Lukas bab 24: peristiwa di Emmaus. Ketika mengomentari para nabi, Tuhan yang bangkit menjelaskan Sang Mesias kepada mereka. Ini adalah lectio divina terbaik yang pernah ada! Kristus menjelaskan tentang Kristus; Kristus menjabarkan Kristus. Kristus menjelaskan tentang dirinya melalui Kitab Suci! Ketika tempat tujuan dicapai, Ia harus memisahkan diri dari mereka. Namun sesuatu dalam hati mereka menolak perpisahan: Mereka berseru kepadanya, “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam” (Luk. 24:29). Sang Musafir yang tak dikenal itu mematuhinya. Mereka bertiga ada di dalam penginapan, tempat perjamuan terjadi. Sesuatu yang mengejutkan terjadi, lalu St. Lukas menggunakan kosakata Ekaristi: Yesus, “mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka” (Luk. 24:30). Sesungguhnya itu adalah Ekaristi, sakramen Misteri Paskah Kristus; itu adalah malam Paskah. Dan persis sesudahnya mereka mengakui Dia: Dia adalah Yesus, yang terhadapnya mereka berduka, Ia sendiri ada di sana, hidup. Tetapi, perhatikan – dan ini sangat instruktif bagi kita – bahwa pada saat yang sama ketika mereka mengenal Dia, mereka tidak melihat-Nya lagi. Bila ini dikatakan dengan perkataan lain, kita tidak lagi dapat menjangkau Kristus dari sekarang, kita tidak dapat melihat-Nya bangkit dan hidup dengan mata kita, dan kita tidak bisa mengenal Dia kecuali dalam iman akan Ekaristi yang dirayakan di dalam Gereja.

Contoh lainnya: Kristus yang bangkit menampakkan diri kepada para rasul ketiga kalinya di tepi danau. Bahkan di sini, segalanya dimulai dengan mendengarkan Sabda Ilahi: Yesus berkata, “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?” Lalu ia menambahkan: “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Para murid menaatinya dan ketaatan terhadap Sabda Yesus menghasilkan buah. Yesus memberitahu mereka lagi: “Marilah dan makanlah”. Sabda ini mengandung bobot yang besar. Selanjutnya, St. Yohanes menggunakan kosakata Ekaristi: “Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, sembari mengucapkan berkat. Ini ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah Ia bangkit dari mati” (Yoh. 21:1-14). Demikian pula, penampakan kepada para murid, pada malam di hari yang sama, hari pertama pekan itu, dalam ketidakhadiran Thomas, dan pada Minggu selanjutnya dalam kehadiran Thomas, terjadi dalam konteks liturgi Ekaristi.

Sesungguhnya, dalam abad-abad awal Gereja, hari Minggu sama artinya dengan Ekaristi. Minggu adalah harinya jemaat, hari Gereja, hari Ekaristi, Dies Domini. “Inilah sebabnya, pada tingkat pastoral, aspek komunitas dari perayaan hari Minggu harus ditekankan secara khusus. Sebagaimana telah saya tekankan, di antara banyak aktivitas paroki dan demi keuntungan paroki, ‘tiada yang lebih penting atau yang membentuk komunitas selain perayaan Hari Tuhan pada hari Minggu dan perayaan Ekaristi-Nya’”[15]. “Pengaruh kausal dari Ekaristi hadir di permulaan Gereja. Para Penginjil mengkhususkan bahwa Keduabelas Para Rasul berkumpul bersama Yesus pada Perjamuan Terakhir” (bdk. Mat. 26:20; Mrk. 14:17; Luk. 22:14)[16]

Orang Kristen tidak dapat hidup tanpa hari Minggu. Demikianlah kesaksian dari empat puluh sembilan martir Kristen Abitinae, sebuah kota di Provinsi Romawi yang disebut dengan Prokonsularis Afrika (kini disebut Tunisia, di sebelah barat daya dari Memberssa kuno, yang kini disebut Medjez al-Baba). Dengan melawan perintah Kaisar Diocletian, mereka bertemu pada Hari Tuhan untuk merayakan Ekaristi Minggu. Karena ketahuan, mereka dipenjara dan dibawa ke pengadilan untuk diadili. Atas pertanyaan prokonsul kepada Emeritus mengenai jemaat yang berkumpul di rumah ini, yang berlawanan dengan ketetapan Kaisar, sang martir menjawab dengan tegas, sembari menambahkan bahwa ia tidak mencegah mereka karena “kami, orang Kristen, tidak dapat hidup tanpa hari Minggu”. Dalam bahasa Latin, frase tersebut memiliki ungkapan yang kuat: “Sine dominico non possumus”. Apa arti dari “dominicum”? Istilah ini mengacu kepada Dominus, Yesus Kristus, Kyrios yang bangkit. Ia adalah Tuhan atas kehidupan dan sejarah, “Yang Pertama dan Terakhir, Dia yang Hidup” (Kis. 1:17-18). Jawaban Emeritus menekankan ikatan erat antara Kristus Tuhan, wafat dan kebangkitan-Nya, komunitas Kristen, dan Ekaristi yang dirayakan pada Hari-Nya. Kekayaan makna ini mengimplikasikan bahwa hari Minggu, “sakramen Paskah”, adalah hari ketika Tuhan yang bangkit menyingkapkan kemuliaan dan keagungan-Nya, ketika Ia dan para murid-Nya berkumpul bersama di sekeliling meja Sabda dan Ekaristi, membentuk mereka sebagai komunitas Ekaristi dan Misioner, ketika Ia memberikan prarasa (foretaste) sukacita kemuliaan masa depan.

Bahkan jawaban yang diberikan kepada hakim oleh Saturninus, imam komunitas, memiliki kedalaman rohani yang luar biasa. Ia tahu tentang larangan kaisar, tetapi ia juga yakin bahwa tidaklah mungkin “berhenti merayakan Hari Minggu Tuhan; demikianlah perintah hukum kami!” Dengan kata lain, bagi Saturninus, misteri wafat dan kebangkitan Yesus harus dirayakan pada hari Minggu dalam ketataatan kepada perintah Tuhan: “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Aku” (1Kor. 11:25) dan kepada janji-Nya untuk hadir bersama kita setiap hari hingga akhir dunia (bdk Mat. 28:20).

Meskipun demikian, merayakan “Dominicum” berarti mengambil jalan kemartiran, mengambil jalan pemberian diri hingga menumpahkan darah. Kemartiran Saturninus digambarkan sebagai tindakan liturgis. Selagi hukumannya mendekat, sang imam, Saturninus, memohon kepada Tuhan dengan perkataan ini: “Aku mohon, Kristus, dengarkanlah aku. Aku berterima kasih, ya Allah. Biarlah aku dipenggal! Aku mohon, Kristus, berbelas kasihlah. Putra Allah, tolonglah aku!” Seorang pengarang anonim dari kisah tersebut, sembari mengomentari doa sang martir, menulis bahwa “Saturninus sebagai imam juga berkhotbah perihal kesucian hukum [merayakan hari Minggu] di tengah siksaan ketika mereka menanggung hukuman dengan sukacita.”

Para martir dahulu dan kini, dengan demikian, mendesak kita untuk menemukan kembali relasi yang pasti antara Ekaristi dan kemartiran, antara liturgi yang dijalani di masa kini dan liturgi yang dirayakan di Surga. Ekaristi, kehadiran Tuhan yang bangkit, adalah penghadiran kembali Sengsara dan Wafat Tuhan secara sakramental, yang mana orang Kristen diundang untuk ambil bagian di dalamnya, untuk secara penuh mengidentifikasi dirinya dengan Kristus dengan menjadi satu tubuh dengan-Nya di masa kini guna secara penuh menjadi satu dengan-Nya dalam kemuliaan. St. Paulus berkata bahwa masing-masing dari kita harus berupaya “mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati” (Fil. 3:10-11). Relikui para martir ditempatkan di bawah altar untuk menandakan bahwa altar Kristus adalah altar orang Kristen, dan terdapat kesatuan erat antara kurban salib dan Ekaristi, antara persembahan Kristus dan orang Kristen. Kehidupan Kristiani kita juga merupakan persembahan liturgis dan tindakan liturgis. Kita menjadi orang kristen secara penuh dan anak-anak Allah dalam Ekaristi. Hidup kita ada di sana. Di sana Yesus Kristus menampakkan diri dan kita mengenal Dia dan Ia mempersembahkan diri-Nya sebagai makanan, karena tanpa-Nya kita tidak bisa hidup.

Para sahabat terkasih, fakta bahwa begitu banyak pria dan wanita di seluruh dunia gagal mengambil tempat mereka yang sah dalam jemaat gerejawi, yaitu Liturgi Suci, memunculkan perintah misioner kritis bagi Gereja di abad kedua puluh satu! Kita harus melakukan semua yang perlu, ad extra dan ad intra, untuk mengoreksi skandal ini.

Proposal kedua yang hendak saya ajukan ialah agar kita merenungkan lebih mendalam tentang fakta bahwa seluruh Kristus sendirilah yang bertindak dalam Liturgi Suci, bahwa pertama dan terutama, Kristuslah yang kita sembah. Permenungan demikian, saya percaya, akan menyingkapkan bagaimana disposisi rasa hormat dan kagum mutlak perlu di hadapan semua perkara liturgis, di hadapan perjumpaan ilahi istimewa yang difasilitasi oleh ritus liturgis. Ini akan mengingatkan kita bahwa kita harus mempersiapkan diri kita, dalam hening, dalam kontemplasi dan adorasi, bagi perjumpaan ini sehingga ia menjadi kian mendalam, sehingga kita menjadi mampu menimba kian mendalam dari kekayaannya dan sehingga ia akan menghasilkan buah lebih besar dalam hidup Kristiani kita. Doa hening dan kontemplasi, pembacaan Sabda Allah yang diperantarai, berpuasa, pengakuan dosa dan terutama disposisi kerendahan hati mendalam di hadapan misteri-misteri agung yang terkandung dan dirayakan dalam Liturgi Suci, semuanya ini diperlukan.

Dan, bila kita merenungkan lebih mendalam tentang fakta bahwa seluruh Kristus sendirilah yang bertindak dalam Liturgi Suci, kita akan memahami dengan jelas bahwa kita tidak bisa memisahkan Yesus saudara kita dari Kristus Tuhan dan Allah kita. Ibadat liturgis kita tidak seharusnya melakukan hal ini. Kita harus berdiri untuk menyatakan dengan sukacita ajaran Yesus dalam Injil dan berlutut untuk menyembah Kehadiran Ekaristis Tuhan. Seni dan arsitektur liturgis, musik liturgis, pewartaan liturgis dan bentuk-bentuk lain dari ungkapan liturgis tidak seharusnya mengambil bentuk ungkapan yang memusatkan diri secara eksklusif pada persaudaraan insani kita dengan Yesus hingga mengecualikan kodrat ilahi-Nya. Yesus Kristus yang tunggal, sungguh insani dan sungguh ilahi, sungguh hadir dalam cara yang utuh dalam Liturgi Suci, bukan sekadar aspek diri-Nya yang ‘ini’ atau ‘itu’. Semua unsur Liturgi Suci harus mencerminkan kebenaran ini.

Proposal ketiga saya muncul dari pertanyaan yang ada di awal pidato ini: “Siapakah Yesus Kristus?” Bila saya membiarkan pertanyaan ini meresapi keberadaan saya, bila dalam keheningan hati dan jiwa saya, saya merenungkan realita yang diarahkannya, saya pasti bertumbuh dalam kasih, rasa kagum, dan ibadah kepada-Nya, yang diakui dan disembah St. Thomas sebagai “Tuhanku dan Allahku” (Yoh. 20:28). Dan bila kini saya menyadarinya, dalam Liturgi Suci kita menikmati perjumpaan khusus secara setara dengan Kristus yang bangkit sama seperti St. Thomas delapan hari sesudah kebangkitan, bagaimana perayaan liturgis kita dapat menjadi sesuatu yang penuh dengan ritus dan gestur, yang memperlihatkan kasih, rasa kagum, dan ibadah kepada Yesus Kristus, Tuhan dan Allah kita?

Liturgi terdiri dari begitu banyak ritus dan gestur kecil – masing-masing dari mereka mampu mengungkapkan disposisi ini yang dipenuhi dengan kasih dan rasa hormat seorang anak kepada Allah, dan adorasi. Kini saya hendak secara khusus menganjurkan agar kita merenungkan keindahan, kepantasan, dan nilai pastoral dari satu praktik yang berkembang dalam hidup dan tradisi Gereja, yaitu penerimaan Komuni Suci sambil berlutut dan di lidah. Karena, bila sebagaimana diajarkan St. Paulus, “dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi” (Fil. 2:10), betapa kita harus makin bertekuk lutut ketika kita datang untuk menerima Tuhan sendiri dalam tindakan Komuni Suci yang paling mendalam dan intim!

Keagungan dan kemuliaan manusia, dan ungkapan tertinggi akan kasihnya kepada Sang Pencipta, ialah berlutut di hadapan Tuhan. Yesus sendiri berdoa sambil berlutut dalam kehadiran Bapa-Nya:

Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya: “Pater, si vis, transfer calicem istum a me; verumtamen non mea voluntas sed tua fiat: Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Luk. 22:41-42, Mrk. 14:35-36, Mat. 26:38-39).

Liturgi Surgawi bersikukuh dan menganjurkan agar kita merebahkan diri di hadapan Anak Domba yang disembelih:

Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi. Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu. Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus. (Why. 5:6-8)

Bagi permenungan kita, saya menawarkan teladan dua santo besar di zaman kita: St. Yohanes Paulus II dan St. Teresa dari Kalkuta.

Seluruh hidup Karol Wojtyla ditandai oleh rasa hormat mendalam terhadap Ekaristi Suci. Banyak yang dapat dikatakan, dan banyak hal telah ditulis tentang ini. Kini saya sekadar meminta anda mengingat bahwa di akhir pelayanan Petrusnya, ia adalah seorang dengan tubuh yang rapuh lantaran penyakit yang menuntunnya secara bertahap dan pasti menuju penurunan kondisi fisik secara total. Kendati ia kehilangan semua daya fisiknya, secara harafiah dihancurkan oleh penyakit, hampir dipaku di Salib bersama Kristus, Yohanes Paulus II tidak pernah membiarkan dirinya duduk dalam kehadiran Sakramen Mahakudus yang ditahtakan. Siapa yang tidak mengingat gambar-gambar Paus Yohanes Paulus II dengan emosi dan afeksi, yang mana dirinya dihancurkan oleh penyakit, diremukkan, kepayahan, tetapi ia selalu berlutut di hadapan Sakramen Mahakudus selama proses Corpus Christi dari St. Yohanes Lateran menuju Basilika St. Mary Major? Paus yang amat sakit selalu memaksa dirinya berlutut di hadapan Sakramen Mahakudus. Ia tidak mampu berlutut dan bangun sendiri: ia membutuhkan orang lain untuk membantunya berlutut dan bangkit berdiri. Hingga hari-hari terakhirnya, ia ingin memberikan kita kesaksian agung akan rasa hormat terhadap Sakramen Mahakudus.

Mengapa kita begitu angkuh dan tidak peka terhadap tanda-tanda yang Allah sendiri berikan kepada kita demi pertumbuhan rohani kita dan relasi yang intim dengan-Nya? Mengapa kita tidak berlutut untuk menerima Komuni Suci dengan mengikuti teladan orang kudus? Apakah bertekuk lutut dan merendahkan diri di hadapan Tuhan Yesus Kristus adalah perbuatan yang terlalu hina untuk dilakukan? Namun, Ia, “yang walaupun dalam rupa Allah… telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil. 2:6-8).

St. Teresa dari Kalkuta: biarawati yang luar biasa, yang tak seorangpun berani menyebutnya sebagai tradisionalis, fundamentalis, atau seorang ekstrimis, yang imannya, kekudusan dan pemberian hidupnya secara total kepada Allah dan kepada orang miskin terkenal di seluruh dunia, memiliki rasa hormat dan sembah sujud mutlak bagi Tubuh Ilahi Yesus Kristus. Tentu, sebagaimana dikatakan Paus Fransiskus, setiap hari ia menyentuh “daging” Kristus dalam tubuh-tubuh reyot orang paling miskin di antara kaum miskin. Tetapi, lantaran merasa kagum dan memuja penuh hormat, Ibu Teresa menahan diri dari menyentuh Tubuh Kristus yang ditransubstansiasi. Melainkan, ia menyembah-Nya. Ia mengkontemplasikan-Nya secara hening. Ia berlutut dalam waktu lama dan merebahkan diri di hadapan Yesus dalam Ekaristi. Dan ia menerima-Nya, seperti seorang anak kecil yang dengan rendah hati dirawat oleh Allahnya.

Ia merasa sedih dan tersakiti bila melihat orang Kristen menerima Komuni Suci di tangan mereka. Inilah perkataannya: “Ke mana pun saya pergi ke seluruh dunia, hal yang paling membuat saya sedih ialah melihat orang-orang menerima Komuni di tangan.” Perkataan ini berasal dari homili Jumat Agung yang dikhotbahkan tahun 1989 oleh Rm. George Rutler di Gereja St. Agnes, New York. Ketika Rm. Rutler bertanya kepada Ibu Teresa, “Apa yang Anda pikir sebagai masalah terburuk di dunia kini?”[17] tanpa jeda ia memberikan jawaban yang sama. Ia menyatakan bahwa sejauh yang ia tahu, semua susternya menerima Komuni Suci hanya di lidah. Bukankah ini anjuran yang Allah sendiri katakan pada kita: “Akulah Tuhan Allahmu… Bukalah mulutmu lebar-lebar, dan Aku akan membuatnya penuh?” (Mzm. 81:11).

Fatima juga merupakan seruan dari Surga untuk kita dan anjuran eksplisit Allah untuk menerima Komuni Suci sambil berlutut dan di lidah. Tahun ini kita merayakan seratus tahun penampakan Bunda Maria di Fatima. Sebelum penampakan Perawan Maria, pada musim semi 1916, Malaikat Perdamaian menampakkan diri kepada Lusia, Jasinta dan Fransiskus, dan berkata kepada mereka, “Jangan takut, Aku adalah Malaikat Perdamaian. Berdoalah bersamaku.” Malaikat tersebut berlutut dan menyentuh tanah dengan dahinya. Lalu, lantaran terbawa oleh daya adikodrati, anak-anak menirunya dan mengulangi doa ini sesudah Malaikat: “Allahku, aku percaya, aku berharap dan aku mengasihi Engkau! Aku memohon ampun kepada-Mu atas diri mereka yang tidak percaya, tidak menyembah, tidak berharap dan tidak mengasihi Engkau.”

Pada musim semi 1916, pada penampakan Malaikat yang ketiga, anak-anak menyadari bahwa Sang Malaikat, selalu malaikat yang sama, memegang di tangan kirinya sebuah cawan yang di atasnya tergantung sebuah hosti. Beberapa tetes darah jatuh dari hosti ke dalam cawan. Sembari cawan dan hosti melayang di udara, sang malaikat mendatangi anak-anak, membungkuk ke tanah, dan mengulangi doa ini sebanyak tiga kali:

Tritunggal Suci, Bapa, Putra, dan Roh Kudus: Aku sangat mengasihi Engkau dan aku mempersembahkan Engkau Tubuh, Darah, Jiwa dan Keilahian Yesus Kristus yang paling berharga, yang hadir di semua tabernakel di bumi, sebagai silih atas kebiadaban, sakrilegi, dan keacuhan yang melaluinya Engkau dihina. Dan melalui jasa tiada terhingga dari Hati-Nya yang Maha Kudus, dan Hati Perawan Maria yang Tak Bernoda, aku memohon kepada-Mu pertobatan para pendosa malang.

Lalu, Malaikat berdiri, dan Malaikat mengambil cawan dan hosti lagi ke dalam tangannya, memberikan hosti suci kepada Lusia, dan darah dari cawan kepada Jasinta dan Fransiskus, yang tetap berlutut, sembari ia berkata, “Ambillah dan minumlah Tubuh dan Darah Yesus Kristus, yang dihina dengan mengerikan oleh manusia tak bertuhan. Lakukanlah silih atas kejahatan mereka dan hiburlah Allahmu.” Malaikat membungkuk lagi ke tanah dan mengulangi doa yang sama sebanyak tiga kali bersama Lusia, Jasinta, dan Fransiskus.

Malaikat Perdamaian memberitahu kita bagaimana seharusnya kita mengambil komuni dengan Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Mengapa kita bersikukuh untuk mengambil komuni dengan berdiri dan tangan kita? Mengapa sikap yang kurang memiliki kepatuhan kepada tanda-tanda Allah ini ada? Hendaknya tak ada imam yang berlagak memaksakan otoritasnya dalam perkara ini dengan menolak, atau dengan membuat mereka yang ingin menerima komuni di lidah merasa bodoh: mari kita pergi sebagai anak-anak dan dengan rendah hati menerima Tubuh Kristus sambil berlutut dan di lidah. Orang kudus memberikan kita teladan ini. Mereka adalah suri teladan untuk mencontoh apa yang Allah berikan kepada kita!

Saya sadar bahwa praktik Gereja saat ini mencakup indult 1969 yang mengizinkan penerimaan Komuni di tangan sambil berdiri. Sebagaimana kita ketahui, Paus Benediktus XVI, mengingatkan kita melalui teladan pribadinya bahwa penerimaan Komuni Suci sambil berlutut dan di lidah, ialah norma bagi orang-orang Katolik ritus Latin. Malaikat Perdamaian yang diutus Allah ke Fatima meminta hal ini. Sungguh, setiap orang Katolik memiliki hak untuk menerima Komuni Suci dengan cara ini.[18] Paus Benediktus tidak memilih untuk memaksakan praktik ini. Bapa Suci Paus Fransiskus tidak bermaksud memaksakannya, saya pun tidak.

Apa yang ingin saya lakukan, dan apa yang sedang saya lakukan di sini, sebagai saudara Anda dalam iman akan Kristus, sebagai imam dan uskup, dan juga sebagai Kardinal Prefek yang sudah cukup banyak mendengar keluhan mengenai rasa tidak hormat terhadap Ekaristi Suci di seluruh dunia, adalah menyerukan perlunya sebuah permenungan akan keindahan, kepantasan, dan nilai pastoral dari menerima Komuni Suci sambil berlutut dan di lidah. Menurut pendapat dan penilaian saya, ini adalah sesuatu yang sangat penting bagi Gereja untuk dipikirkan. Ini adalah tindakan ibadat dan kasih yang dapat dipersembahkan tiap orang kepada Yesus Kristus! Saya amat tersentuh ketika saya melihat banyak orang muda memilih untuk menerima Tuhan kita dengan penuh rasa hormat dengan cara berlutut dan menerima di lidah. Saya sungguh tersentuh saat Misa pagi ini karena rasa hormat yang diperlihatkan orang-orang ketika mereka mendekati rel altar untuk menerima Tuhan kita yang terberkati. Formasi anak-anak yang tepat dalam mempersiapkan mereka menerima Komuni Suci pertama haruslah menjadi prioritas pastoral bagi Gereja masa kini.

KESIMPULAN

Dalam Audiensi Umum Paus Benediktus yang saya kutip (3 Oktober 2012), beliau mengutip dari Surat Ensiklik Deus Caritas Est, yang mengacu kepada “kisah cinta antara Allah dan manusia”, yang ke dalamnya kita masuk ke dalam Liturgi Suci. Dalam Ensiklik itu, ia mengajarkan:

Dalam Liturgi Gereja, dalam doanya, dalam komunitas umat beriman yang hidup, kita mengalami kasih Allah, kita memahami kehadiran-Nya dan dengan demikian kita belajar mengakui kehadiran itu dalam hidup sehari-hari kita. Ia telah lebih dahulu mengasihi kita dan terus melakukannya; kita juga dapat menanggapi dengan kasih. Allah tidak menuntut dari kita sebuah perasaan yang tidak mampu kita hasilkan. Ia mengasihi kita, Ia membuat kita melihat dan mengalami kasih-Nya, dan karena Ia telah “lebih dahulu mengasihi kita”, kasih juga dapat berkembang sebagai sebuah tanggapan dalam diri kita. (no. 17)

Saudara-saudariku, apakah Liturgi Suci bila itu bukan perwujudan kasih Allah yang Mahakuasa di tengah kita bagi kita masing-masing? Bila kita memahami realita ini, bila kebenarannya meresapi hati dan jiwa kita, kita tidak akan ragu bahwa “Gereja berdiri dan jatuh bersama Liturgi”, dan bahwa “Perayaan Liturgi Suci yang sejati ialah pusat pembaruan Gereja dalam hal apapun.” Hendaklah kita, karena kasih kepada Allah secara mendalam dan kasih kepada saudara-saudari kita dalam iman, tiada henti bekerja demi perayaan yang sejati dan benar dari perwujudan kasih Allah di tengah kita.

Terima kasih atas perhatian Anda. Semoga Allah memberkati Anda masing-masing, secara khusus dalam kerasulan liturgis Anda. Dengan rendah hati, saya memohon Anda untuk mendoakan saya.

© Robert Cardinal Sarah

Prefek Kongregasi Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen

 

Catatan Kaki

[1] Preface to Franz Breid, ed., Die heilige Liturgie, papers from the “Internationale Theologische Sommer akademie 1997” of the Priests’ Circle of Linz, Ennsthaler Verlag, Steyr 1997.

[2] cf. Konsili Vatikan II, Konstitusi Sacrosanctum Concilium, 1.

[3] cf. Francesco Braschi, Abbiamo visto Cristo venire verso di noi, Itaca, Castel Bolognese, La Casa di Matriona, Malono, 2013, pp. 9-11.

[4] Homily IV for Holy Week CSCO 413/Syr 182, 55.

[5] Doa Syukur Agung III (cf. Encyclical Letter Ecclesia de Eucaristia n. 17.)

[6] Ordo Sabbati Sancti Quando Vigilia Paschalis Instaurata Peragitur (Typis Polyglottis Vaticanis, 1951) pp. 8-9.

[7] MIGNE PL 016, col. 389 – 410.

[8] cap. I, 3: Opera Omnia di Sant’Ambrogio, Città Nuova Editrice, Roma 1982, vol. 17, p. 137.

[9] cap. II,5: ibidem p. 138.

[10] cap. II,6: idem.

[11] cap. II, 7: idem

[12] MIGNE PL 016, col. 407, cap. IX, 55: Opera Omnia, op. cit. p. 165.

[13] Te in tuis teneo sacramentis. Cf. Apologia David, 58.

[14] Pidato Yohanes XXIII pada pembukaan Konsili Vatikan II, 11 Oktober 1962.

[15] Dies Domini, n. 35.

[16] Ecclesia de Eucharistia, n. 21.

[17] Sebagaimana dilaporkan Rm. George Rutler dalam homili Jumat Agungnya tahun 1989 di Gereja St. Agnes, New York.

[18]  “Penolakan untuk memberikan Komuni Suci kepada anggota umat beriman atas dasar postur berlutut merupakan pelanggaran berat akan salah satu dari hak-hak paling mendasar umat beriman Kristen.” Congregation of Divine Worship and Discipline of the Sacraments, Letter, 1 July 2002, Notitiae, n. 436, Nov-Dec 2002, p. 583.

Iklan

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: