“Di dalam Terangmu Kami Melihat Terang” – Homili Misa Tahbisan Uskup Manado

IMG-20170708-WA0118

Catatan penerjemah: berikut ini merupakan homili terakhir Yang Mulia Antonio Filipazzi, Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, sebelum beliau berangkat ke Nigeria untuk melaksanakan tugas pelayannya yang baru. Homili tersebut diterjemahkan dari teks Italia. Mari kita doakan agar Tuhan senantiasa memberkati, melindungi, dan menerangi Yang Mulia Filipazzi di tempat penugasannya yang baru.

***

Homili Yang Mulia Antonio G. Filipazzi
Pada Misa Tahbisan Uskup Manado,
Benediktus Estephanus Rolly Untu, M.S.C.
Manado, 8 Juli 2017

1. Hari ini adalah hari yang cerah dalam sejarah dan hidup Keuskupan Manado, karena ia menerima gembalanya yang baru. Ini bukan sekedar festival luar biasa atau momen penting bagi sebuah organisasi dalam kehidupan gerejawi. Kita berkumpul di sini untuk merayakan Misa Kudus, yang mana selama Misa ini Sakramen Imamat dalam tingkat episkopat akan diberikan kepada saudara terkasih kita. Setiap sakramen dipenuhi di dalam Gereja di bumi oleh manusia, tetapi ketika sakramen-sakramen dirayakan, pertama-tama adalah Allah sendiri yang bertindak. Oleh sebab itu, kita harus menghidupkan iman kita dalam momen ini untuk mengakui kehadiran Allah dan karyanya terkait dengan uskup baru, kita semua, dan Gereja-Nya.

Dan Allah telah berbicara pada kita melalui bacaan-bacaan yang baru saja diwartakan. Bacaan tersebut terutama menghadirkan misteri terang. Sesungguhnya, dalam bacaan pertama, Rasul Yohanes menegaskan: “Allah adalah terang, dan di dalam diri-Nya tidak ada kegelapan.” Kita telah mengenal dan menerima terang ini yang adalah Allah sendiri melalui Putra-Nya, yang di dalam Injil berkata tentang diri-Nya: “Akulah terang dunia: barangsiapa mengikuti aku, tidak akan berjalan di dalam kegelapan, melainkan akan memperoleh terang kehidupan.” Sebagaimana kita wartakan dalam iman, Dia adalah “Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar”. Terang adalah simbol dari apakah Allah itu di dalam diri-Nya dan apa yang Ia lakukan bagi manusia melalui Putra Tunggal-Nya, Penyelamat kita.

Sesungguhnya, Allah, yang adalah terang, melalui Kristus Sang Terang dunia yang sejati, mencapai dan menerangi hidup kita yang diawali dengan sakramen Baptis, yang dahulu disebut “pencerahan”. Dan terang ilahi ini terus-menerus diberikan kepada kita, khususnya melalui sakramen-sakramen lainnya, yang melaluinya kita dapat memulihkan terang itu ketika kita kehilangannya karena dosa, kita dapat kian menambahkannya dan kita dapat memberikannya kepada orang lain. Semua hidup Kristiani dapat direnungkan sebagai jalan pemberian yang progresif dari Allah dan penerimaan terang ilahi ini dari manusia hingga kita masuk ke dalam kepenuhan terang keabadian.

2. Hidup dan pelayanan uskup dapat juga dipahami dalam misteri terang ilahi ini. Dengan demikian, motto yang dipilih gembala baru bagi Keuskupan Manado sebagai inspirasi bagi hidup, masa depannya dan tindakannnya, menjadi penting: “Dalam terangmu kami melihat terang.”

Perkataan ini, yang berasal dari Mazmur 35, harus menjadi panggilan pertama bagi setiap uskup baru – dan setiap uskup – akan relasi dengan Allah yang hakiki, yang melaluinya ia diterangi dalam pikiran, hati, perkataan, dan perbuatan, melalui terang yang berasal dari atas, yang dihidupinya sebagai komitmen tiada henti untuk bertumbuh dalam kekudusan. Sebagaimana ditegaskan St. Yohanes Paulus II, “pengudusan objektif, yang melalui karya Kristus hadir dalam sakramen melalui pemberian Roh, harus berhubungan dengan kekudusan subjektif yang di dalamnya sang uskup, dengan pertolongan rahmat, harus kian berkembang melalui pelaksanaan pelayanannya” (Anjuran Apostolik Pastores Gregis, no. 11). Ini bukan tentang semata-mata melaksanakan fungsi memerintah, melainkan terutama ialah menghidupi relasi kasih personal dengan Kristus Sang Gembala Baik dengan lebih baik, kasih yang diminta Yesus yang bangkit kepada Petrus, dan juga kepada semua gembala guna menggembalakan kawanan domba Allah.

Kita akan segera mendengar perkataan yang mendampingi pemberian mitra: “Terimalah mitra dan bersinarlah di atasmu kepenuhan kekudusan.” Perkataan ini membuat kita mengerti bahwa uskup harus membiarkan dirinya diterangi dari atas guna menerangi kawanan domba yang dipercayakan kepadanya. Ia harus menjadi kudus, sempurna dalam kasih kepada Allah dan sesama, guna menuntun saudara-saudaranya dan anak-anaknya menuju kekudusan, menuju kesempurnaan kasih, melalui pengajaran, perayaan sakramen-sakramen, dan kepemimpinan pastoral. Semua tindakan yang diambil uskup harus terarah pada tujuan ini dan tidak bisa direduksi olehnya atau orang lain hanya untuk tujuan manusiawi belaka. Rahmat yang diberikan Sakramen Imamat kepada uskup membuatnya mampu, dan, pada saat yang sama, mendorongnya tiada henti untuk membimbing pertumbuhan rohani semua anggota umat Allah.

Inilah akar dari martabat agung yang dilihat orang-orang Kristen dan dihormati dalam gembala mereka, dan pada saat yang sama, keagungan tanggung jawab pelayanan uskup: diterangi guna menerangi orang lain. Berkaitan dengan ini, saya teringat akan pengajaran St. Thomas Aquinas mengenai pelayanan Para Rasul dan penerus mereka ketika ia berkata bahwa “tidak ada yang lebih pantas dalam jabatan manusia selain menjadi rekan kerja Allah… Orang-orang yang diterangi guna menerangi orang lain, kian mendekat kepada martabat tersebut” “(Super Evangelium S. Matthei, chapter 4, lectio 2). Sesungguhnya, bagi Sang Doktor Malaikat, “menerangi jauh lebih baik daripada sekedar bersinar” (S. Th., II-II, 188, 6).

Francisco_de_Zurbarán_0013. Bila seluruh pelayanan uskup bertujuan mengarahkan umat beriman menuju kesempurnaan, menurut St. Thomas Aquinas, ia mencapai misi tersebut pertama dan terutama melalui ajarannya. Jadi, Doktor Malaikat menegaskan bahwa jabatan mengajar uskup “sangatlah agung” dalam kaitannya dengan fungsi-fungsi lainnya (lih. S. Th, III, 67, 2, to I) (Konsili Vatikan II menyatakan bahwa “Di antara tugas-tugas utama para uskup, pewartaan Injillah yang terpenting” (LG 25)). Secara khusus, St. Thomas menyatakan bahwa para uskup bertanggung jawab “untuk mengedukasi mengenai dalamnya misteri-misteri iman dan kesempurnaan hidup Kristiani” (S. Th. , III, 71, 4, and III).

Bila ini adalah persoalannya di setiap waktu, maka ini tampak mendesak dalam kurun waktu kita. Sungguh, di sisi lain, pengetahuan Kristiani dan praktik iman kristen dalam segala aspeknya tampak sangat lemah. Di sisi lain, perkataan St. Paulus kepada muridnya Timotius sungguh tepat: “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng” (2 Tim 4:3-4). Semua ini membutuhkan komitmen besar dan keberanian dalam mengajarkan kebenaran dari setiap uskup.

Tetapi untuk melaksanakan misi menerangi pikiran dan hidup umat beriman melalui kebenaran, uskup harus menjadi orang pertama yang merenungkan kebenaran. Jadi, untuk melasanakan pelayanannya, perlu baginya untuk membaktikan diri kepada studi Sabda Allah dan iman Gereja tanpa henti. Hanya dengan demikian ia dapat memberikan kepada saudara-saudaranya apa yang pertama-tama ia ketahui dan renungkan secara mendalam. Tanpa kesinambungan dari sumber kebenaran ini, maka pikiran dan hati sang uskup terancam mengering, dan ia berisiko menyampaikan perkataan kosong, yang tidak menyentuh hati dan tidak membangun kehidupan, dalam beberapa kasus perkataan tersebut tidak berasal dari Allah melainkan dari mentalitas dunia.

Di sisi lain, bila uskup mendampingi saudara-saudaranya menuju kesempurnaan terutama melalui pengajaran, maka umat beriman harus memperhatikannya dengan serius. Perkataan seorang uskup yang bersatu dengan Kristus dan Gereja bukanlah sekedar kata, melainkan kata yang berasal dari Allah dan menandakan arah kehidupan Kristiani yang pasti, dan perkataan ini tidak dapat diabaikan, karena sebagaimana dikatakan Tuhan Yesus, “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan aku, barangsiapa menolak kamu, ia menolak aku” (Luk 10:16).

Selama tahbisan suci ini kita berdoa secara khusus bagi uskup baru dan semua uskup agar mereka menjadi guru sejati akan kebenaran iman bagi saudara-saudara mereka, agar mereka menerangi dengan kebenaran yang berasal dari atas, dan kita berdoa agar mereka tidak pernah gagal dalam mendengarkan orang-orang yang dipercayakan kepada mereka.

4. Ketika merenungkan hidup dan pelayanan uskup, khususnya mereka yang menerima jabatan dan martabat ini di dalam Gereja, tidak bisa tidak, kita merasa takut, kita memahami kelemahan dan ketidakmampuan kita dalam menghadapi misi yang demikian menuntut dan mulia. Tetapi apa yang tampak mustahil bagi manusia untuk dilakukan, Allah memberikan kuasa rahmat melalui sakramen kepada mereka yang dipilih sebagai gembala bagi kawanan domba Allah.

Segera setelah uskup baru mengemban kewajiban pelayanannya yang menutut ini, kita akan berdoa kepada Perawan Maria dan semua orang kudus di Surga, memohon kepada mereka bagi kekudusan dan pelayanannya, juga bagi kekudusan seluruh umat Kristen. Doa ini tidak harus berakhir hari ini, tetapi harus tetap berlanjut. Uskup harus merasa bahwa ia selalu didukung oleh doa umatnya, sama seperti umat Allah harus mengetahui bahwa uskupnya berdoa tiada henti bagi umat beriman yang dipercayakan kepadanya, sungguh, sebagaimana dikatakan Paus Fransiskus – yang melihat kembali peristiwa Abraham yang memohon bagi Sodom dan Gomorah – ia “bernegosiasi” dengan Allah bagi umatnya (Pidato, 19 Mei 2014).

Semoga Allah memberikan terang ini kepada saudara terkasih kita, yang terus menerus menerangi dirinya bersama Allah, sehingga ia dapat menyebarkan terang ini guna menerangi semua orang!

Iklan

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: