Cinta dan Penderitaan: Paradoks dari Cinta

the-salutation-of-beatrice-1859

“The Salutation of Beatrice”, Dante Gabriel Rossetti, 1859.

 

Catatan Lux Veritatis 7: Artikel berikut ini diterjemahkan oleh teman kami, Gregorius Aditya, dari artikel asli yang berjudul Love and Suffering: Paradox of Love. 

Oleh Alice von Hildebrand

Didedikasikan untuk Lee dan Margaret Matherne

Ada satu hal yang kita semua rindukan: mencintai dan dicintai. Ada satu hal yang sangat kita takuti: penderitaan. Judul artikel ini semestinya membingungkan mereka yang membacanya. Nampaknya judul tersebut menyiratkan semacam kontradiksi. Tujuan saya adalah untuk menunjukkan bahwa hal ini merupakan salah satu dari banyaknya paradoks Kekristenan yang mencerahkan: di atas bumi ini, keduanya saling terkait dan tak terelakkan.

Sampai pada saat mulai mencintai, hati manusia berhibernasi. Respon afektif ini (yang dikukuhkan oleh kehendak manusia) adalah respon terhadap keindahan orang lain yang telah mengguncang hati kita dari tidurnya. Ini adalah “panggilan untuk bangun” yang sangat kuat sehingga tiba-tiba “semua hal menjadi baru.” Seseorang yang tidak pernah mencintai tidak pernah benar-benar hidup.

Kesenangan luar biasa yang terkait dengan kebangkitan ini memiliki dua efek paradoks. Salah satunya adalah bahwa seorang kekasih yang baru lahir mendapatkan kepastian bahwa manusia diciptakan untuk keabadian (Keb 2:23). Tidak dapat dibayangkan bahwa apa yang dialami seorang pecinta dalam kesungguhan mencintai harus cepat berlalu dengan drastis; Laksana bunga yang mekar, yang memancing kita dengan keindahannya … lalu segera memudar dan mati. Kita hidup di dunia yang fana ketika segala sesuatu dilahirkan dan mati. Matahari terbit diikuti oleh matahari terbenam; Kegembiraan kelahiran baru diikuti oleh kesedihan kematian. Inilah sebabnya mengapa sungguh luar biasa untuk mendapatkan kepastian mutlak dan tak tergoyahkan bahwa apa yang dialami dalam mencintai menaklukkan kematian dengan penuh kemenangan. Hal ini telah diungkapkan dengan indah dalam salah satu drama Gabriel Marcel, “Le Mort de Demain,” di mana karakter utama tersebut berseru: “Toi, tu ne mourras pas.” (“Engkau, janganlah engkau mati!”)

Pengalaman yang luar biasa ini secara misterius terkait dengan hal lain: saat kita mencintai, kita menemukan sebuah segi penderitaan yang sama sekali tidak kita ketahui sampai saat itu. Karena jatuh cinta mengungkapkan kepada kita dalam sekejap kerapuhan situasi metafisik manusia. Kita telah diberi rahmat untuk merasakan keindahan salah satu makhluk Tuhan, – masing-masing merupakan cerminan pucat dari keindahan-Nya yang tak terbatas – dan tiba-tiba kita menyadari bahwa, sekuat apapun kita mencoba, kita yang adalah “makhluk satu hari” (Plato, Hukum-Hukum, XI, 923) tidak dapat melindungi orang yang dicintai. Kehidupan manusia sangat rapuh sehingga – mengutip Pascal – “Une vapeur, une goutte d’eau suffit pour le tuer” (Sekepul uap, setetes air cukup untuk membunuhnya). Kita mendapatkan kesadaran yang menyedihkan bahwa makhluk berharga seperti kita begitu lemah tiada tara. Hal ini secara tak terelakkan menjadi sumber penderitaan yang mendalam. Sang kekasih tercinta yang keindahannya telah melukai hati kita adalah kelemahan itu sendiri, dan kita menyadari bahwa, sekalipun dengan penuh hasrat seperti yang kita inginkan, kita sendiri terlalu lemah dan tak berdaya untuk melindunginya di dunia yang mengancam dan berbahaya ini ketika bahaya terus-menerus mengintai.

Puisi terkenal John Keats, “Bila aku memiliki ketakutan aku harusnya berhenti menjadi ada” dapat diformulasikan kembali: “Bila aku memiliki ketakutan engkau harusnya berhenti menjadi ada.” Hal ini secara pasti membawa pada pemikiran lain yang mengancam ke dalam pikiran kita: jika orang yang tercinta meninggal, akankah aku berharap untuk hidup lebih lama? Mengapa aku harus tetap tinggal di dunia yang telah mengubur jenazahnya ini? Sekali lagi, Gabriel Marcel – yang memiliki karunia istimewa berupa “kepekaan intelektual” miliknya (yang melindunginya dari bahaya abstraksionisme tak berperasaan) mengungkapkan pemikiran ini dalam kata-kata yang sangat kuat berikut; “Kematianmu adalah kematianku.” Saya mengenal orang-orang yang secara tragis percaya bahwa dengan melakukan bunuh diri, mereka akan kembali bersatu dengan orang yang mereka cintai, sehingga mereka memotong diri mereka dari harapan untuk dipertemukan kembali dengannya dalam keabadian ketika semua air mata akan diusap.

Tak pelak lagi, kesadaran ini adalah sumber penderitaan yang dalam. Kita semua mengetahui para ibu yang hidup dalam keadaan panik. Kepanikan ini sebenarnya dapat menyakiti orang yang ingin dia lindungi.

Dunia sekuler di mana kita hidup menawarkan solusi “ideal” yang disebut “asuransi jiwa”. Yang perlu kita lakukan hanyalah menandatangani kontrak yang meminta pembayaran biaya bulanan untuk mendapatkan jaminan bahwa bila kita atau orang yang dicintai meninggal, akan ada beberapa kompensasi finansial. Ini akan memberi kita rasa “aman”. Ini adalah kebohongan yang besar dan menarik. Asuransi jiwa tidak dapat dan tidak mampu menjamin “kehidupan.” Ia hanya menawarkan kompensasi finansial yang menyedihkan (jika berguna) – sungguh penggantian yang menyedihkan memang.

Masalah penderitaan atas cinta tersebut sangat serius sehingga telah menarik perhatian beberapa pemikir hebat. Enam abad sebelum Kristus, perhatian besar dari Buddha adalah untuk menghilangkan penderitaan dari kehidupan manusia, karena hal tersebut membuat baik ancaman dan tak tertahankan. “Dia yang memiliki seratus cinta memiliki seratus penderitaan” … sampai ke “dia yang memiliki satu cinta, memiliki satu penderitaan” dengan konsekuensi yang tak terelakkan bahwa dia yang tidak mencintai lolos dari penderitaan. Membiarkan diri untuk melekat pada apapun akan dihukum dengan rasa sakit dan kesedihan. Begitu kita dibebaskan dari beban emosi yang mengganggu, kita “bebas” dan dalam perjalanan menuju penerangan. Jiwa kemudian menikmati “ketenangan” sempurna. Dapat disebutkan bahwa “ketenangan” tersebut sangat berbeda dari apa yang orang Kristen sebut dengan “damai”. Hal yang disebutkan pertama berarti kita “perhatian” secara bebas. Ini negatif. Perdamaian – seperti yang disaksikan dalam kehidupan orang-orang kudus – merupakan tanggapan atas kepastian yang luar biasa bahwa Tuhan adalah Allah Sang Cinta. Iman ini memberi orang percaya kedamaian yang menyenangkan – sebuah respon terhadap kebaikan Tuhan – yang terkait dengan keinginan kuat untuk hidup di hadapan tatapan-Nya yang penuh kasih, dipeluk oleh kasih-Nya.

St. Therese dari Lisieux, saat menjalani percobaan yang menyiksa, menulis dalam otobiografinya bahwa, bagaimanapun, di dalam jiwanya, dia merasakan kedamaian mendalam. Badai itu hanya di permukaan jiwanya.

Cara lain untuk melarikan diri adalah Stoisisme. Dengan bangga, Stoik menolak untuk mengakui bahwa segala hal, apapun kodratnya, dapat membuatnya kesal: dia berada di atas emosi yang khas dari orang-orang yang rapuh dan tidak percaya diri. Dia yang adalah orang kuat, yang tak terkalahkan. Harga yang harus dibayarnya, bagaimanapun, adalah memilih hati sekeras batu sambil meremehkan hati selunak daging. Seperti Dewa dari Aristoteles, tidak ada yang dapat mengguncangnya atau mempengaruhinya. Tetapi apakah baik para penganut Buddha berpengalaman atau penganut Stoik yang efisien pernah hidup sepenuhnya? Dante mungkin juga memilikinya saat menulis tentang keadaan batin orang-orang “che mai non fur vivi” (“celaka yang tidak pernah hidup,” Inferno, III, 64).

Sesungguhnya, mereka yang tidak pernah mencintai tidak akan pernah terbangun dari tidur yang mematikan.

Kedua “filsafat” ini berada dalam posisi antipoda (bertentangan) atas solusi orang-orang Kristiani yang diberkati, di mana penderitaan diberi makna yang dalam. Seharusnya mengejutkan kita untuk menyadari bahwa inilah satu-satunya agama di mana kasih Allah begitu besar sehingga Dia mengutus Anak-Nya yang terkasih untuk menyelamatkan makhluk-makhluk pengkhianat-Nya dari hukuman kekal. Berdasarkan benteng iman, seorang Kristen yakin bahwa Allah dan Bunda Maria kita yang termanis, lebih mencintai kekasih kita dan lebih baik dari yang dapat kita lakukan. Dalam kekekalan, kita akan melihat bahwa setiap cinta manusia yang sejati, sebenarnya adalah sebuah keadaan ambil bagian dari Cinta Ilahi bagi orang yang kita kasihi. Oleh karenanya, menjalani hidup dalam keadaan panik lantaran ketidakberdayaan kita untuk melindungi orang-orang yang kita kasihi, adalah sebuah pertanda serius akan kurangnya iman. Keyakinan orang percaya akan cinta Allah bagi yang dikasihi semestinya merupakan “lapisan” bagi jiwanya. Berapa banyak dari kita yang tergoda untuk melupakan bahwa setiap manusia, sejak saat pembuahannya, dipercayakan kepada seorang malaikat pelindung, yang melihat dengan penuh kasih sayang kepadanya? Hal inilah, yang saya percayai, merupakan satu-satunya cara untuk membaptis penderitaan yang terkait dengan ketakutan yang terkait dengan cinta manusia: menghubungkan cinta kita kepada Dia yang adalah Sang Cinta.

Kematian merupakan hal yang tak terelakkan kendati kita tidak mengenal hari maupun waktunya, dengan perbedaan yang menarik bahwa “ruang” di mana jiwa kita akan meninggalkan tubuh kita sudah ada di sana, tengah menunggu kita untuk datang pada saat tertentu ketika Allah akan memotong hari-hari kita. Kematian adalah saat ketika “ruang” dan “waktu” bertemu. Dalam beberapa detik, kita akan meninggalkan dunia ini dan masuk ke dalam misteri keabadian.

Betapa penuh arti bahwa Kristus berulang kali mengatakan: “Berjaga-jaga dan berdoalah!”

Bagaimanapun, hubungan antara cinta dan penderitaan masih lebih dalam. Momen ketika kita jatuh cinta, kita juga menjadi sadar bahwa penderitaan orang yang dicintai – apapun sifatnya – menjadi milik kita sendiri. Tidak terbayangkan bahwa ketika orang yang dikasihi menderita, kita malahan “melindungi” diri kita dari penderitaan ini, mengenakan penutup mata sehingga rasa sakitnya tidak mengganggu ketenangan batin kita. Seperti disebutkan di atas, penderitaan memang merupakan ketakutan manusia yang terbesar.

Bila orang yang terkasih menderita, seorang kekasih ingin turut menderita bersamanya. Penderitaannya adalah penderitaan kita; Rasa sakitnya adalah rasa sakit kita; Kematiannya adalah kematian kita sendiri. Hal ini, sekali lagi, dengan tajam diungkapkan oleh Gabriel Marcel.

Sebagaimana dosa membawa penghukumannya, salah satu kutukan yang mengerikan dari tertutupnya hati seseorang dari rasa takut untuk “terluka”, dan menemukan betapa lemah dan rentannya kita, adalah memilih hati yang membatu dan bukan hati yang terbuat daging. Sekali lagi, pendekatan semacam ini adalah antitesis penuh dari Kekristenan.

Paradoks misterius ini adalah rajutan dasar dari sebuah agama yang didasarkan atas cinta Allah terhadap ciptaannya. Seorang kekasih bukan hanya ingin menderita bersama dengan orang yang dicintai; Terlebih, dia akan membenci jika orang yang terkasih menyembunyikan penderitaannya – apapun jenisnya – untuk “melindungi”nya dari penderitaan. Dapat dimengerti sebagaimana adanya, bahwa sang kekasih mesti menyadari bahwa orang yang dikasihi ingin meminum cawan bersama dengan orang yang telah menaklukkan hatinya.

Kata-kata ini sangat kuat diungkapkan oleh seorang penyair Prancis yang relatif kurang dikenal: Jean de Rotrou: “L’ami qui souffre seul fait un injure a l’autre” (“Dia yang memilih untuk menderita sendiri, menyinggung temannya.” Venceslas). Ini adalah sebuah pemikiran yang berharga. Namun bagaimanapun, ada satu pengecualian. Marilah kita berasumsi bahwa orang yang dikasihi adalah dirinya sendiri yang sangat sakit, dan bahwa kabar bahwa orang yang dicintai juga menghadapi pencobaan yang mengerikan bagaimanapun sifatnya, tidak akan memberinya “persetujuan untuk berkudeta.” Maka penundaan akan menjadi hal yang sah. Yang penting adalah mengetahui bahwa orang yang kita cintai ingin berbagi cobaan kita – bahwa ia secara rohani berada “di sana.”

Kitab Injil membuatnya sangat jelas: kepergian dari sebelas rasul ketika Kristus ditangkap merupakan bukti menyedihkan tentang betapa tidak sempurnanya cinta mereka. Adalah penghormatan bagi para wanita suci, yang tidak, sama sekali tidak dapat mencegah mereka untuk mengikut Kristus kepada Golgota. Dapatkah mereka membantu-Nya? Tidak.

Cinta mereka dibuktikan dengan kenyataan bahwa mereka berada di sana. Kita diberitahu bahwa Maria, ibunya, tengah berdiri di kaki Salib. Bahwa dia yang adalah bunda termurni, sepenuhnya kudus, harus berbagi dengan penderitaannya yang menyakitkan, yang pastilah bagi Juruselamat sendiri lebih menyiksa lewat paku di tangan dan kaki-Nya. Maria mencintai-Nya di atas semua makhluk, sejak saat pengandungan-Nya dan keagungan ikatan yang menyatukan mereka sedemikian rupa sehingga kita perlu mengembangkan organ baru untuk dapat sepenuhnya menghargai kualitas ilahinya.

Saya ulangi: untuk melihat Maria menderita bersama-Nya pastilah yang paling tersempurnakan dari semua penderitaan yang dapat ditanggung. Dia ingin membebaskannya, namun inilah harga yang harus Maria bayar untuk “fiat”nya – penerimaannya untuk menjadi ibu-Nya yang secara misterius terkait dengan penerimaan sepenuhnya penyalibannya bahwa dalam perjalanan waktu, Maria akan bertahan bersama-Nya.

Hal ini semestinya, sekali lagi, membuat sangat jelas bahwa di atas bumi ini, cinta dan penderitaan terikat erat.

Tetapi klimaks kedalaman ikatan ini terungkap sepenuhnya dalam perkataan Kristus pada perjamuan terakhir. “Tidak ada cinta kasih yang lebih besar daripada kasih yang memberikan nyawa seseorang bagi sahabatnya.”

Pada usia lima tahun, saya memiliki firasat pertama akan kebenaran ini. Saya sangat sakit dengan pneumonia ganda di masa ketika antibiotik belum dikenal. Seorang anak kecil seperti saya sadar bahwa saya hampir meninggal. Saya masih mengingatnya sejelas hari kemarin, ibu saya yang cemas membungkuk di atas tempat tidur kayu putih kecil saya, dan bergumam; “Sayang, betapa aku berharap bisa menanggung derita untukmu.” Saya sangat lemah sehingga saya bahkan tidak membuka mata; Saya tidak mengatakan “terima kasih” tetapi, sekali lagi, saya ingat dengan sangat jelas bahwa saya berkata kepada diri sendiri: “Jangan pernah melupakan ini. Ini adalah cinta sejati. “

Saya tidak melupakannya.

Pengalaman ini terulang kembali ketika lebih dari sekali para rekan datang kepada saya dalam keadaan hancur oleh kesedihan, karena baru mengetahui bahwa salah satu dari anak-anak mereka memiliki penyakit kronis yang saat ini tidak dapat disembuhkan. Mereka berkata kepada saya sambil terisak-isak: “Betapa saya berharap dapat mengambil penyakitnya darinya.” Ini menyiratkan sebuah kesadaran akan apa yang merupakan karunia yang tak terduga bahwa hidup itu ada.

Sebuah masyarakat, seperti kita, yang telah memilih bahwa kematian merupakan hal yang ditakdirkan telah menutup kematiannya sendiri. Dalam otobiografinya, G. K. Chesterton menulis kata-kata berikut: “Jadi, di antara ayat-ayat masa remaja yang mulai saya tulis tentang masa ini adalah yang disebut ‘The Babe Unborn’ yang membayangkan makhluk yang tidak diciptakan menangis demi sebuah keberadaan dan menjanjikan setiap kebajikan jika dia boleh memiliki pengalaman hidup. “(Hal 91) Chesterton juga mengatakan bahwa dia sangat bersyukur karena ia ada, tanpa mengetahui kepada siapa ucapan syukurnya. Saat itu, dia adalah seorang “muda” yang tidak percaya.

Pembunuhan itu telah disahkan dalam masyarakat kita (yaitu, untuk memberi tempat pada “pembunuhan orang lain”) yang berarti bahwa ia telah menggali kuburannya sendiri.

Setiap dogma Gereja Katolik adalah permata cinta ilahi, namun kebangkitan tubuh tidak kekurangan banyak. Bahwa segenggam debu dimana ada tubuh kita akan segera berkurang setelah kematian, suatu hari nanti akan bangkit dan dipersatukan kembali dengan jiwa yang darinya mungkin telah dipisahkan selama ribuan tahun, yang merupakan bukti luasnya daya cipta dari cinta Allah. Penyembahan saja dapat merespon secara memadai cinta sang Pencipta yang tak terbatas. Dalam agama Katolik, kita menemukan seluruh kepercayaan yang dibutuhkan oleh agama yang benar: hal ini memberi makna pada penderitaan, mengalahkan kematian, dan menyatukan kebenaran, kesucian, keindahan dan kehidupan.

Berbahagialah orang yang merasakan pesan dan menanggapi dengan pemberian diri yang penuh sukacita. Hal ini telah dilakukan selama berabad-abad oleh para orang kudus.

Iklan

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: