7 Pesan Fatima: Penjelasan Kardinal Ratzinger

Ratzinger

1. Penampakan Maria di Fatima adalah Wahyu Pribadi

2.Wahyu pribadi adalah pertolongan bagi iman ini, dan menunjukkan kredibilitasnya persis dengan menuntun saya kembali kepada Wahyu publik yang definitif. Berkenaan hal ini, Kardinal Prospero Lambertini, yakni Paus Benediktus XIV, berkata dalam risalah klasiknya yang kemudian menjadi standar untuk beatifikasi dan kanonisasi: “Sebuah persetujuan iman katolik tidak diberikan kepada wahyu-wahyu yang disetujui dalam cara ini; bahkan ini mustahil. Wahyu-wahyu ini mencari persetujuan iman insani dalam menaati persyaratan kearifan, yang menempatkan dirinya di hadapan kita sebagai hal yang mungkin dan kredibel bagi kesalehan.” Teolog Denmark E. Dhanis, cendekiawan unggul dalam bidang ini, berkata dengan ringkas bahwa persetujuan gerejawi atas wahyu pribadi memiliki tiga unsur: pesannya tidak mengandung hal yang bertentangan dengan iman dan moral; sah untuk membuka pesannya kepada publik; dan umat beriman diberi kewenangan untuk menerimanya dengan kearifan (prudence) E. Dhanis, Sguardo su Fatima e bilancio di una discussione, in La Civiltà Cattolica104 [1953], II, 392-406, in particular 397). Pesan yang demikian dapat menjadi bantuan otentik dalam memahami Injil dan menghidupinya dengan lebih baik dalam kurun waktu tertentu; jadi ia tidak boleh diabaikan. Ini adalah pertolongan yang ditawarkan, tetapi tidak wajib digunakan.

2. Neraka itu Nyata

Bagian pertama dan kedua dari “rahasia” Fatima sudah didiskusikan dengan luas dalam literatur terkait sehingga kita tidak perlu menafsirkannya lagi. Saya hanya ingin mengingat pokok terpenting secara singkat. Dalam satu momen mengerikan, anak-anak diberikan penglihatan akan neraka. Mereka memandang kejatuhan “jiwa-jiwa pendosa malang”. Dan kini mereka diberitahu mengapa mereka dipaparkan dengan momen ini: “untuk menyelamatkan jiwa-jiwa” – untuk menunjukkan jalan keselamatan.

3. Pentingnya Pertobatan dan Keselamatan Jiwa

“Untuk menyelamatkan jiwa-jiwa” muncul sebagai kata kunci bagian pertama dan kedua “rahasia” Fatima dan kata kunci untuk bagian ketiga ialah tiga seruan: “Pertobatan, Pertobatan, Pertobatan!”. Permulaan Injil muncul dalam benak kita: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mark 1:15). Untuk memahami tanda-tanda zaman berarti menerima urgensi silih – pertobatan – dan iman. Inilah tanggapan yang tepat terhadap momen sejarah ini, yang ditandai oleh kesulitan besar yang diuraikan dalam gambaran-gambaran selanjutnya. Perkenankan saya menambahkan rekoleksi personal di sini: dalam percakapan dengan saya, Suster Lucia berkata bahwa tampak kian jelas baginya bahwa tujuan dari semua penampakan ini adalah untuk membantu orang-orang kian bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih – segalanya dimaksudkan untuk mengarah ke sini.

4. Devosi kepada Hati Maria Tak Bernoda sebagai Sarana Menyelamatkan Jiwa

Untuk mencapai tujuan ini – jalan yang diperlihatkan – secara mengejutkan bagi orang-orang dari Anglo-Saxon dan dunia budaya Jerman – adalah devosi kepada Hati Maria yang Tak Bernoda. Komentar singkat cukup untuk menjelaskan ini. Dalam bahasa biblis, “hati” menandakan pusat kehidupan manusia, sebuah titik ketika akal budi, kehendak, tempramen dan sensitivitas bertemu, ketika seseorang menemukan kesatuannya dan orientasi batinnya. Menurut Matius 5:8, “hati yang tak bernoda” adalah hati yang, dengan rahmat Allah, telah tiba pada kesatuan batin sempurna dan karenanya “melihat Allah’. “Berdevosi” kepada Hati Maria yang Tak Bernoda artinya menganut sikap hati ini, yang menjadikan fiat – “terjadilah kehendak-Mu” – sebagai pusat yang menentukan seluruh hidup seseorang. Seseorang dapat melontarkan keberatan bahwa kita tidak seharusnya menempatkan manusia di antara diri kita dan Kristus. Tetapi, kita mengingat bahwa Paulus tidak ragu untuk berkata demikian kepada komunitasnya: “turutilah teladanku” (1 Cor 4:16; Phil 3:17; 1 Th 1:6; 2 Th 3:7, 9). Dalam Sang Rasul mereka dapat melihat secara konkret apa artinya mengikuti Kristus. Tetapi, di setiap zaman, dari siapa lagi kita dapat belajar dengan lebih baik selain dari Bunda Tuhan?

5. Gereja yang Menderita

Sampai di sini pribadi manusia muncul: Uskup berjubah putih (“kesan kami dia adalah Bapa Suci”), Uskup-uskup lainnya, para imam, pria dan wanita anggota hidup bakti, dan pria dan wanita dari posisi dan tingkat sosial yang berbeda. Paus tampak mendahului yang lain, gemetaran dan menderita lantaran semua kengerian yang mengelilinginya. Tak hanya rumah-rumah di kota yang menjadi reruntuhan, tetapi ia berjalan di tengah jenazah orang mati. Jalan Gereja, dengan demikian digambarkan sebagai Via Crucis, sebagai perjalanan melintasi waktu kekerasan, kehancuran, dan penganiayaan. Sejarah seluruh abad dapat diwakili dalam citra ini. Sama seperti tempat-tempat di bumi secara sintetis digambarkan dalam dua citra, bukit dan kota, dan diarahkan menuju salib, demikian pula waktu dihadirkan dalam cara yang telah dipadatkan. Dalam penglihatan tersebut kita dapat mengakui abad lalu sebagai abad para martir, abad penderitaan dan penganiayaan Gereja, abad Perang Dunia dan banyak perang lokal yang memenuhi lima puluh tahun terakhir dan mengakibatkan bentuk-bentuk kekejaman yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam “cermin” penglihatan ini kita melihat di hadapan kita para saksi iman yang melintas dari dekade demi dekade. Di sini tampaknya pantas untuk menyebut frase dari surat yang ditulis Suster Lucia kepada Bapa Suci tanggal 12 Mei 1982: “Bagian ketiga dari ‘rahasia’ tersebut mengacu kepada perkatan Bunda Maria: ‘bila tidak, [Rusia] akan menyebarkan kekeliruannya di seluruh dunia, menimbulkan perang dan penganiayaan Gereja. Mereka yang berkehendak baik akan dimartir; Bapa Suci akan menanggung banyak derita; berbagai bangsa akan dilenyapkan’”.

6. “… iman dan doa adalah daya-daya yang dapat mempengaruhi sejarah.”

Dalam Via Crucis seluruh abad, sosok Paus memiliki peran khusus. Dalam pendakian bukit penuh kesukaran, tak diragukan lagi, kita dapat melihat pertemuan Paus-paus yang berbeda. Bermula dari Pius X sampai Paus yang sekarang, mereka semua berbagi penderitaan abad ini dan berupaya melangkah maju melintasi semua derita di jalan yang mengarah menuju Salib. Dalam penglihatan tersebut, Paus juga dibunuh bersama dengan para martir. Setelah upaya pembunuhan 13 Mei 1981, ketika Bapa Suci menerima teks “rahasia” ketiga yang dibawa padanya, bukankah sudah pasti ia akan melihat takdirnya sendiri? Ia sangat dekat dengan ajal, dan ia sendiri menjelaskan kelangsungan hidupnya dalam perkataan berikut: “… tangan seorang ibu lah yang mengarahkan lintasan peluru dan dalam pergolakannya Paus berhenti di ambang kematian” (13 Mei 1994). Bahwa di sini “tangan seorang ibu” telah membelokkan peluru hanya memperlihatkan, sekali lagi, bahwa tidak ada takdir yang kekal, bahwa iman dan doa adalah daya-daya yang dapat mempengaruhi sejarah, dan pada akhirnya doa jauh lebih berkuasa daripada peluru dan iman lebih berkuasa daripada balatentara.

7. “Hatiku yang Tak Bernoda akan Menang.”

Terakhir, saya juga ingin menyebutkan ungkapan kunci lainnya dari “rahasia” Fatima yang menjadi terkenal: “Hatiku yang tak bernoda akan menang”. Apa artinya? Hati yang terbuka kepada Allah, yang dimurnikan kontemplasi akan Allah, jauh lebih kuat daripada bedil dan beragam jenis senjata. Fiat Maria, sabda hatinya, telah mengubah sejarah dunia, lantaran ia membawa Sang Penyelamat ke dunia – karena, berkat Ya Maria, Allah dapat menjadi manusia di dunia kita dan tetap demikian selamanya. Yang Jahat memiliki kuasa di dunia ini, seperti yang kita lihat dan saksikan terus meneru; ia memiliki kuasa karena kebebasan kita terus membiarkan dirinya menjauh dari Allah. Tetapi karena Allah sendiri mengambil hati manusia, dan mengarahkan kebebasannya menuju yang baik, maka kebebasan untuk memilih yang jahat tidak lagi menjadi penentu segalanya. Dari saat itu, inilah perkataan yang jaya: “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia”. Pesan Fatima mengundang kita untuk percaya dalam janji ini.

Iklan

2 komentar

  1. Alvonius Gari · · Balas

    saya mau bertanya…

    Doa Iman dasar katolik dalam bahasa IBrani gimana ya..

    thanx

    Suka

    1. Maaf saya tidak bisa membantu dalam hal ini.

      Suka

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: