Memandang Uskup sebagai Bapa

1-219

Homili Yang Mulia Antonio G. Filipazzi

Pada Misa Tahbisan Uskup Sintang, 22 Maret 2017

1. Perayaan yang khidmat ini, ketika yang terkasih P. Samuel Otto Sidin menerima kepenuhan sakramen Imamat dan menjadi Uskup baru di Keuskupan Sintang, kini menjadi kesempatan untuk bersukacita dan berpesta bersama. Namun kebahagiaan ini menjadi semakin nyata dan bermanfaat, jika seluruh perayaan ini diberikan motivasi iman.

Perayaan ini bukanlah tindakan yang bertujuan untuk menata sebuah organisasi, seakan-akan seorang pejabat mulai mengemban tugasnya di sebuah lembaga duniawi. Mengingat bahwa kita sedang merayakannya dalam konteks liturgi Ekaristi, yakni sebuah sakramen, justru kita diyakinkan bahwa apa yang sedang terjadi terutama sekali merupakan karya Allah, dan menjadi bukti campur-tangan Allah demi kebaikan Gereja milik-Nya. Namun kenyataan ini kita sadari hanya jika kita memandang semuanya ini dengan kacamata iman dan dengan melampaui kriteria-kriteria manusiawi belaka.

Paus Fransiskus dalam surat Ensiklik Lumen Fidei telah menegaskan bahwa memiliki iman berarti “memiliki mata Yesus sendiri,… yakni cara pandang-Nya sendiri” (n. 21). Jadi, dengan mata Yesus, kita mesti memandang apa yang sedang berlangsung kepada saudara kita Samuel serta seluruh keuskupan Sintang. Dan Uskup baru ini serta seluruh Keuskupan harus saling memandang dengan pandangan iman seperti ini. Uskup Samuel perlu memandang dengan kacamata iman baik diri sendiri maupun misi yang dipercayakan kepadanya oleh Gereja, serta juga semua orang yang dipercayakan kepadanya oleh Tuhan. Dan demikian juga, seluruh Keuskupan Sintang – yakni imam, biarawan, biarawati dan kaum awam – perlu memandang gembalanya dengan menggunakan “mata Yesus” sendiri.

Sayangnya, di komunitas-komunitas Kristiani, cara pandang seperti ini kurang diterapkan, sehingga yang diutamakan adalah cara pandang manusiawi belaka. Sambil menanggapi pemilihan Uskup-uskup baru, sering diperhatikan asal usulnya dan juga kelompok etnisnya, apakah uskup itu adalah projo atau biarawan, seperti apa latar belakang studinya dan pelayanannya selama ini, kelebihan dan kekurangannya, baik yang benar maupun yang difitnahkan kepadanya… sedangkan seharusnya Uskup itu dipandang dengan mata Yesus, yakni melalui iman, sambil mengaku bahwa orang itu – dengan segala kekurangan pribadi yang dimilikinya – adalah Yesus Sang Gembala baik yang membimbing kita. Dan juga, jika kita memiliki pandangan iman seperti ini, pasti banyak kesulitan dan perpecahan yang dapat teratasi, sehingga kita dapat kian bersatu untuk bekerja demi Kerajaan Allah.

2. Jika kita memandangnya dengan “mata Yesus” sendiri, yakni dengan iman, siapakah seorang Uskup? Jawaban pertanyaan ini agak luas, karena makna Uskup menyangkut beberapa unsur yang berbeda. Bagi saya, khususnya dengan mengingat perayaan yang baru saja berlalu, yakni Hari Raya Santo Yoseph, seorang yang “diberi tugas untuk mengepalai Keluarga Kudus guna menjaga” (Prefasi Hari Raya Santo Yusuf) Putra Allah yang menjadi manusia, saya ingin mengajak Anda sekalian untuk merenungkan sosok Uskup sebagai seorang bapa.

Sejak masa Gereja perdana, Iman Kristiani telah menegaskan unsur kebapakan seorang Uskup; contohnya Santo Ignasius, Uskup Antiokia, yang berkata bahwa seorang Uskup mewakili “Bapa-Nya Yesus Kristus, Uskup seluruh umat manusia” (ad Trall. 3:1). Santo Fransiskus dari Assisi, yang begitu dijunjung tinggi oleh Uskup baru ini, juga menganggap seorang Uskup sebagai “bapa dan tuan bagi jiwa-jiwa kawanan domba yang dipercayakan kepadanya” (Fonti Francescane, 1562).

Oleh karena itu, ketika sebentar lagi saudara kita ini akan ditanyakan “mengenai niat untuk menjaga iman dan mengemban tugas pelayanannya”, dia juga akan diminta untuk berusaha menjadi seorang bapa dengan perkataan berikut: “Apakah saudara rela merawat seluruh umat kudus Allah dengan kasih seorang bapa …?”

Jadi, pandangan penuh iman seorang Uskup mesti membuat dia memandang dirinya sendiri dalam relasi dengan komunitas yang dipercayakan kepadanya, menganggap diri dan bertindak seperti seorang bapa; dan demikian juga komunitasnya mesti memandang Uskupnya, dengan menganggapnya sebagai bapanya sendiri.

Namun, apa artinya bahwa Uskup adalah seorang bapa? Apa konsekwensinya? Bagi komunitas Kristen, apa arti memandang seorang Uskup sebagai bapa?

Jika kita melihat masyarakat di berbagai penjuru dunia dengan saksama, kita dapat menyimpulkan bahwa di zaman sekarang sosok ayah sedang mengalami krisis, terutama di dunia barat, sedangkan di budaya lain fungsi kebapakan itu dilaksanakan dengan sikap yang terlalu otoriter. Oleh sebab itu, guna menemukan kembali wajah otentik seorang bapa, kita perlu memandang Bapa kita di Surga, yang darinya “semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.” (Ef 3:15). Dari Bapa Surgawi inilah kita belajar bahwa fungsi kebapakan bukanlah sikap serba membolehkan atau kendali yang terlalu berlebihan atas anak-anaknya; ia harus memadukan kasih dan kebenaran; kebapakan yang sejati mesti bertindak dengan sabar, dengan memberi semangat dan mengoreksi.

Tentu saja, bagi seorang Uskup tidaklah mudah menghayati kebapakan Allah sendiri dalam segala kesempurnaannya, yakni kebapakan yang menyelaraskan sikap-sikap yang sering dianggap bertentangan satu sama lain. Namun kita juga tidak boleh lupa bahwa bagi seorang Uskup, Sakramen Imamat merupakan sumber terang dan kekuatan yang tiada habisnya, guna menjadi wakil “Bapa-Nya Yesus Kristus” demi umat yang dia gembalakan.

3. Seseorang menjadi ayah ketika memiliki keturunan. Uskup juga menjadi bapa karena Allah dan Gereja mempercayakan sebuah keluarga kepadanya dan juga anak-anak yang mesti dia kenal, dia cintai, dia hidupkan, dia didik dan bimbing, dia lindungi dan koreksi…

Anak-anak ini adalah anggota-anggota Gereja, namun, mengingat bahwa keselamatan telah diperuntukkan bagi seluruh umat manusia, Uskup mesti memiliki rasa tanggung jawab sebagai bapa juga terhadap mereka yang belum menjadi anggota Gereja Katolik, bagi mereka yang belum percaya kepada Kristus sebagai Putra Allah atau mereka yang tidak percaya kepada Allah sekalipun. Laksana kebapakan Allah, sikap kebapakan Uskup ingin merangkul semua orang, membimbing semuanya untuk menjadi anak Allah dalam keluarga yang adalah Gereja. Itulah alasannya kenapa dalam sikap kebapakan uskup terkandung kegelisahan yang kekal untuk melakukan evangelisasi. Dan karena itulah, Uskup sebagai seorang bapa mesti merangkul semuanya, yakni setiap orang dengan cirinya masing-masing, tanpa pandang bulu.

Sekaligus, seorang Uskup sebagai bapa mesti memberi perhatian khusus kepada golongan tertentu dari anak-anaknya.

Di satu sisi, dia terutama sekali mesti menjadi bapa bagi para imamnya, yang merupakan anak-anaknya dan ikut ambil bagian dalam misi kebapakannya. Dan tentu saja, tanpa mereka, tugas seorang Uskup untuk merawat semua anak-anaknya menjadi amat susah! Sebagaimana telah dikatakan Bapa Paus Fransiskus kepada sekelompok Uskup: “Jangan pernah lupa bahwa sesama yang paling dekat dari seorang Uskup adalah para pastornya. Setiap imam hendaknya merasakan perhatian dari Uskupnya” (Pidato 9 September 2016).

Di sisi lain, seorang Uskup mesti menjadi pater pauperum, maksudnya bapa bagi kaum miskin. Sebentar lagi akan ditanyakan kepada Uskup baru: “Apakah Saudara rela menjadi bermurah hati dan berbelaskasih dalam nama Tuhan terhadap kaum miskin dan setiap orang yang membutuhkan peneguhan dan pertolongan?” Sebagaimana telah kita renungkan selama Tahun Kerahiman yang baru berlalu, untuk melaksanakan karya belas kasih, kita tidak boleh mereduksi kebutuhan manusia menjadi kebutuhan materil belaka. Marilah kita terus mengingat bahwa kaum miskin memiliki juga kebutuhan rohani dan bahwa orang yang tidak miskin secara materi seringkali membutuhkan pertolongan spiritual. Dalam arti inilah perlu dipahami istilah bapa bagi kaum miskin.

Kebapakan seorang Uskup terhadap semua dan setiap anaknya bertolak dari pengenalannya akan mereka. Sama seperti Yesus, begitu juga seorang Uskup harus berkata: “Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” (Yoh 10:14). Inilah sebabnya mengapa seorang Uskup mesti memelihara relasi dengan komunitas-komunitasnya dan pribadi-pribadi, terutama sekali para imam. Untuk itu, hendaknya dia tetap berada di Keuskupannya dan paroki, serta menjadi orang yang mudah dihubungi. Dengan demikian dia bisa mengenal anak-anaknya, karakter mereka, segala kelemahan dan kekurangan mereka, serta segala kelebihan dan kebutuhan mereka, guna membantu mereka bertumbuh dalam kekudusan dan semangat kerasulan.

Semuanya ini, tentu saja, menuntut semangat pengorbanan: yaitu kerelaan untuk mengorbankan waktu, tenaga fisik, intelektual dan spiritual, mengorbankan kepentingan lain, termasuk juga hal yang baik juga, namun tidak mengalihkan perhatiannya dari tugas penggembalaan yang utama. Bukankah ini contoh yang diberikan oleh sedemikian banyak bapak dan ibu yang telah rela memberikan segalanya serta melupakan semua demi kesejahteraan anak-anak mereka? Bukankah ini contoh yang kita peroleh juga dari Yesus Sang Gembala yang baik, yang telah mengorbankan Diri-Nya untuk domba-domba-Nya?

4. Ada suatu cara bagi seorang Uskup – dan tidak hanya untuk seorang Uskup! – dalam melaksanakan tugas kebapakannya: yakni berdoa. Uskup mesti menjadi seorang bapa yang berdoa untuk Gerejanya, bagi semua dan setiap anaknya. Dia berdialog dalam doa dengan Allah, yang bertolak dari setiap orang dan situasi yang dia jumpai. Mengingat peristiwa ketika Abraham menjadi perantara untuk membela Sodom dan Gomora, Paus Fransiskus melukiskan doa seorang uskup secara menarik dengan berkata: doa itu “merupakan negosiasi dengan Allah bagi umatnya” (Pidato, 19 Mei 2014).

Dan selain doa Uskup bagi umatnya, perlu juga doa umatnya untuk dia yang merupakan bapa bagi setiap orang. Sebentar lagi kita akan menyanyikan litani para Kudus, yakni permohonan kepada Gereja Surgawi guna menjadi pemohon bagi Gereja yang masih mengembara di dunia ini, terutama sekali bagi Gembalanya yang baru, serta seluruh umat yang dipercayakan kepadanya. Uskup yang baru dan semua Uskup membutuhkan doa seluruh umat, supaya dapat menjadi bapa yang sejati. Dan doa akan membantu setiap anggota Gereja untuk memandang Uskup mereka dengan sikap penuh iman, yakni menganggap mereka sebagai orang yang mewakili “Bapa-Nya Yesus Kristus, Uskup bagi setiap orang.”

Iklan

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: