Pembaruan Liturgi yang Sejati adalah Syarat Hakiki bagi Pembaruan Gereja

17966256_1100865650018980_722096055581052285_o

Nihil Operi Dei praeponatur – “Hendaklah tidak ada apapun yang diutamakan selain Ibadat Ilahi.” Dengan perkataan ini, St. Benediktus, dalam Regulanya (43,4), menetapkan prioritas mutlak untuk Ibadat Ilahi dalam relasinya dengan tugas lain dalam kehidupan monastik. Hal ini, bahkan dalam hidup monastik, tidak selalu terlihat jelas, karena bagi para rahib pekerjaan agrikultur dan dalam pengetahuan juga merupakan tugas yang hakiki.

Dalam agrikultur, seperti dalam karya kerajinan tangan, dan dalam karya formasi, dapat ada keadaan-keadaan darurat yang tampak lebih penting dari liturgi. Berhadapan dengan semua ini, dan dengan prioritas yang diberikan terhadap liturgi, Benediktus dengan tegas dan melegakan menempatkan prioritas Allah dalam hidup kita. “Pada jam doa Ibadat Brevir, sesegera mungkin setelah isyaratnya didengar, hendaklah mereka meninggalkan apapun yang mereka kerjakan dan bergegas secepat mungkin” (43,1).

Dalam hati nurani manusia masa kini, hal-hal yang terkait dengan Allah, dan bersama dengan ini terdapat liturgi, tampaknya tidak lagi menjadi hal yang mendesak. Ada urgensi bagi setiap hal yang mungkin. Memang, dapat ditegaskan bahwa kehidupan monastik, dalam peristiwa apapun, adalah sesuatu yang berbeda dari kehidupan manusia di dunia ini, dan ini wajar. Kendati demikian, memprioritaskan Allah, yang telah kita lupakan, sebenarnya berlaku bagi semua. Bila Allah menjadi tidak penting, maka kriteria untuk menetapkan apa yang penting diubah. Manusia, dengan menyingkirkan Allah, menaklukkan dirinya kepada batasan yang membuatnya menjadi budak bagi daya-daya material dan karenanya berlawanan dengan martabatnya.

Beberapa tahun setelah Konsili Vatikan II, saya kembali menyadari prioritas Allah dan liturgi ilahi. Kesalahpahaman mengenai pembaruan liturgi yang tersebar luas di Gereja Katolik telah mengarahkan kita untuk kian mengutamakan aspek pengajaran dan aktivitas serta kreativitas manusia. Tindakan manusia hampir mengarah kepada pelupaan kehadiran Allah. Dalam situasi demikian, menjadi kian jelas bahwa keberadaan Gereja bergantung pada perayaan liturgi yang benar, dan bahwa Gereja ada dalam bahaya ketika primasi Allah tidak tampak lagi dalam liturgi, dan juga dalam kehidupan. Penyebab terdalam dari krisis yang telah menumbangkan Gereja terletak pada dihilangkannya prioritas akan Allah dalam liturgi. Semua ini mengarahkan saya untuk membaktikan diri kepada tema liturgi secara luas daripada di masa lalu karena saya tahu bahwa pembaruan liturgi yang sejati adalah syarat hakiki bagi pembaruan Gereja. Studi yang dikumpulkan dalam buku ke-11 dari Opera Omnia saya didasarkan pada keyakinan ini. Tetapi pada akhirnya, dengan segala perbedaannya, hakikat liturgi di Timur dan Barat itu satu dan sama. Dan oleh sebab itu saya berharap agar buku ini dapat membantu umat Kristen Russia untuk memahami karunia agung yang diberikan kepada kita dalam Liturgi Suci dalam cara yang baru dan lebih baik.

Benediktus XVI
Corriere dela Sera, 15 April 2017

Diterjemahkan dari Rorate Caeli.

Iklan

One comment

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: