90 Tahun Ratzinger: Sang Rekan Kerja Kebenaran

FB_IMG_1469020804330

Tahun ini ada dua peringatan yang terkait erat dengan sosok Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI): empat tahun pengunduran dirinya dan ulang tahunnya yang ke-90. Dalam rangka memperingati dua momen historis ini, saya bermaksud menjadikan sosok Ratzinger sebagai teladan, sebagai seorang guru besar dalam hal iman yang dapat diandalkan, yang dapat menjadi rujukan bagi umat beriman yang saat ini mungkin merasa sedih, kecewa, marah, bahkan mungkin putus asa, bila melihat situasi dan krisis yang ditimbulkan dari kepausan yang sekarang.

Tulisan ini tidak bermaksud menjelaskan krisis tersebut secara lengkap atau bermaksud memberikan uraian biografis secara rinci, dan bukan maksud tulisan ini pula untuk menumbuhkan rasa tidak hormat kepada Penerus St. Petrus yang sekarang. Hanya saja, untuk bisa mengambil sedikit hikmah dari pribadi dan karya Ratzinger, maka sketsa akan krisis yang terjadi saat ini – persisnya setelah pengunduran diri Ratzinger – perlu dilakukan. Dan inilah maksud tulisan yang sedang anda baca.

Dengan demikian, tulisan ini ditujukan untuk segelintir pembaca yang memahami krisis yang terjadi di Gereja saat ini, yang mengikuti sepak terjang Paus Fransiskus serta kontroversinya. Tulisan ini juga ditujukan bagi mereka yang memiliki afeksi khusus terhadap Ratzinger.

+++

Salah satu dari sekian kontroversi yang menjadi ciri khas kepausan sekarang ialah mengenai masalah pemberian Komuni kepada mereka yang bercerai – padahal status perkawinan pertama mereka adalah valid – lalu menikah kembali, yang mana pernikahan kedua ini, di mata Gereja, adalah perzinahan. Ini bermula kembali  ketika Kardinal Kasper ditunjuk untuk menjadi pembicara dalam sinode keluarga yang lalu, yang mana melalui pidatonya ia secara terbuka mendukung hal tersebut.

Dalam Anjuran Apostolik Amoris Laetitia (yang adalah Anjuran Apostolik hasil dari sinode keluarga), terdapat bagian-bagian yang ambigu – terutama pada catatan kaki no 351, yang dianggap sebagai catatan kaki paling kontroversial dalam sejarah Gereja – yang menimbulkan kekacauan dan kebingungan di antara umat beriman. Kekacauan ini memuncak sampai pada titik ketika kebijakan terkait masalah Komuni bagi mereka yang cerai-kawin-lagi di satu keuskupan, bahkan satu negara, dapat bertentangan dengan keuskupan dan negara lainnya: Roma VS Florence, Malta dan Jerman VS Polandia. Empat kardinal yakni Kardinal Burke, Kardinal Caffarra, Kardinal Brandmuller dan Kardinal Meisner, mengajukan lima“dubia” (yang berarti “keraguan”), alias lima pertanyaan yang bertujuan untuk menjernihkan ambiguitas yang disebabkan Amoris Laetitia. Sayangnya, Paus menolak menjawab lima pertanyaan tersebut hingga saat ini, dan oleh karena itulah, lima dubia yang sifatnya pribadi lalu dibuka ke hadapan publik. Kardinal Burke bahkan sampai berkata bahwa koreksi “formal” terhadap Paus akan diberikan, dan sampai artikel ini ditulis, koreksi formal belum diberikan. Kardinal Burke telah meminta audiensi pribadi dengan Paus, namun sampai saat ini Paus belum mengabulkannya. Adapun peran Kardinal Muller sebagai Kepala Kongregasi Ajaran Iman dilemahkan, terutama sejak Paus menetapkan Kardinal Schonborn (yang bukan siapa-siapa, kendati ia adalah rekan kerja Ratzinger dalam menyusun Katekismus Gereja Katolik, namun ia termasuk ke dalam pihak Kardinal Kasper) sebagai penafsir resmi Amoris Laetitia, yang mana tanggung jawab ini sebenarnya milik Kardinal Muller.

Dan ini bukan tentang mainstream media yang menyalahartikan, atau menarik keluar dari konteks, pernyataan Paus yang tertuang dalam dokumen Gereja. Melainkan apa yang dikatakan Paus itu sendirilah yang menjadi masalahnya. Sekalipun ada sebagian uskup yang berpendapat bahwa bab 8 Amoris Laetitia dapat ditafsirkan secara ortodoks, namun ini saja tidak cukup. Kenyataanya, ambiguitas tetap dapat menjadi sumber pertikaian di antara para kardinal dan uskup, seperti pada kasus Uskup Agung Charles Chaput (yang memberian panduan pastoral yang sejalan dengan ajaran Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI) VS Kardinal Farrel, kardinal yang belum lama ini diangkat Paus Fransiskus.

Sampai hari ini kontroversi tersebut tetap tidak terselesaikan. Kekhawatiran, dan mungkin rasa takut, merajalela: terutama karena sumber kekacauan ini berasal dari Penerus St. Petrus itu sendiri. Ya, wakil Kristus yang seharusnya menjaga persekutuan dalam hal iman dan moral, kini menjadi sumber kekacauan, kebingungan dan kegelisahan. Bukannya meneguhkan dan mendorong pertobatan di antara mereka yang memiliki masalah dalam keluarga – seturut pengajaran Paus terdahulu – melainkan ia menawarkan belas kasih palsu, yang sekilas mendekatkan seseorang dengan Kristus, namun pada kenyataannya kian menjauhkan mereka dari Allah. Kini keselamatan jiwa-jiwa kian terancam. Inilah yang terjadi pasca pengunduran diri Paus Benediktus XVI.

FB_IMG_1488331291994Pengunduran diri Ratzinger memunculkan berbagai reaksi, salah satunya berasal dari mereka yang menyayangkan pengunduran diri Paus Benediktus. Ada yang merasa sedih, merasa ditinggalkan, merasa bahwa dirinya, yang adalah seorang anak, ditinggalkan oleh bapa mereka. Tidak seharusnya seorang papa meninggalkan anak-anaknya! Ada juga yang mengeluh: kekacauan ini terjadi karena Ratzinger mengundurkan diri, padahal kelihatannya beliau tampak sehat: beliau masih bisa menerima tamu, terkadang masih memberikan tulisan – yang cukup panjang dan mendalam, namun jelas dan tidak ambigu – atau memberikan wawancara seputar ajaran iman. Keluhan ini kemudian berkembang sebagai tindakan penyalahan: ya, Ratzinger bersalah atas semua ini. Pengunduran dirinya mengakibatkan kekacauan, membuat banyak orang menjadi ragu dan imannya melemah. Seandainya dia tetap bertahan, tentu setidaknya sampai saat ini tidak akan terjadi kekacauan dalam hal ajaran iman dan moral. Tidak jarang pula, beberapa orang berkomentar sambil bertanya-tanya: apakah beliau mengetahui situasi yang terjadi saat ini? Apa yang akan dikatakan Ratzinger dalam situasi yang dipenuhi kekacauan dan kebingungan? Ini tidak sulit dijawab. Tentunya Ratzinger akan menghindari serangan terhadap pribadi, melainkan ia akan segera berbicara ke pokok masalahnya: apa sebenarnya peran dan tanggung jawab Uskup Roma yang menduduki takhta St. Petrus? Benediktus XVI menjawab:

Uskup Roma duduk di atas takhta untuk menjadi saksi Kristus. Karena itu, takhta adalah simbol potestas docendi, kuasa untuk mengajar yang merupakan bagian hakiki dari mandat untuk mengikat dan melepas yang Tuhan berikan kepada Petrus, dan setelahnya, kepada Keduabelas Rasul. Di dalam Gereja, Kitab Suci, pemahaman tentangnya bertambah di bawah inspirasi Roh Kudus, dan pelayanan untuk menafsirkan secara otentik yang diberikan kepada Para Rasul, terikat secara tak terpisahkan. Kapan pun Kitab Suci dipisahkan dari suara Gereja yang hidup, ia menjadi mangsa dalam perdebatan di antara para ahli.

Namun ilmu pengetahuan belaka tidak bisa memberikan kita interpretasi yang definitif dan mengikat, ia tidak mampu memberikan kita, dalam penafsirannya, sebuah kepastian yang mana kita dapat hidup dan yang untuknya kita bahkan dapat mati. Mandat yang lebih besar diperlukan untuk hal ini, yang tidak berasal dari kemampuan manusiawi belaka. Suara Gereja yang hidup merupakan hal yang hakiki untuk hal ini, yakni Gereja yang dipercayakan hingga akhir zaman kepada Petrus dan Kolega Para Rasul.

Kuasa yang diberikan Kristus kepada Petrus dan penerusnya, dalam artian absolut, merupakan mandat untuk melayani. Kuasa mengajar di dalam Gereja melibatkan komitmen untuk melayani dalam ketaatan terhadap iman. Paus bukanlah monarki absolut, yang pemikiran dan keinginannya adalah hukum. Sebaliknya, pelayanan Paus adalah jaminan akan ketaatan terhadap Kristus dan Sabda-Nya. Ia seharusnya tidak mewartakan gagasannya, melainkan terus menerus mengikatkan dirinya dan Gereja kepada ketaatan terhadap Sabda Allah, ketika menghadapi setiap upaya untuk mengubahnya atau melemahkannya, dan dalam setiap bentuk oportunisme.

Paus mengetahui bahwa dalam keputusan-keputusannya yang penting, ia terikat dengan komunitas iman yang besar di sepanjang zaman, ia terikat dengan interpretasi yang mengikat yang telah berkembang di sepanjang peziarahan Gereja. Jadi, kuasanya tidak berada di atas, melainkan ada untuk melayani Sabda Allah. Ia berkewajiban untuk memastikan bahwa Sabda ini terus hadir dalam keagungannya dan bergema dalam kemurniannya, sehingga ia tidak koyak berkeping-keping oleh perubahan yang berkelanjutan dalam penggunaannya.

(Pope Benedict XVI, Homili 7 Mei 2005)

Melalui tulisan Benediktus di atas, maka tidak perlulah kita mencela diamnya Ratzinger selama kepausan Paus Fransiskus. Ratzinger tidak perlu terlibat dalam kontrovresi Amoris Laetitia – dan Mgr. Ganswein memberitahu kita bahwa ia telah membaca AL dengan saksama dan memperhatikan berbagai penerapannya – karena sejak kepausan Yohanes Paulus II, dan saat ia menjabat sebagai Paus ia sudah memberikan jawabannya. (silakan baca Familiaris Consortio no. 84 dan Sacramentum Caritatis no. 29). Dan apa yang tertulis dalam Amoris Laetitia tentang masalah ini tidak bisa dianggap sebagai perkembangan doktrin, karena doktrin tidak pernah bisa berkembang sambil menentang ajaran sebelumnya.

+++

Pengunduran diri Ratzinger memang hal yang menggemparkan: ini adalah peristiwa unik yang sudah sangat lama tidak terjadi, mungkin baru terjadi lagi setelah kurang lebih enam ratus tahun yang lalu. Bahkan alam pun seakan turut memberikan pertanda, yaitu ketika petir menyambar Basilika St. Petrus di hari ketika Paus menyatakan untuk mengundurkan diri, 12 Februari 2013:

Lightning Strike

Fenomena alam ini memiliki beberapa arti: bisa saja itu pertanda akan adanya badai yang menerpa Gereja, bisa juga itu pertanda bahwa Allah mungkin kurang berkenan dengan keputusan Ratzinger, atau bisa saja itu adalah kebetulan, sebuah fenomena alam yang biasa terjadi di Vatikan. Kita tidak tahu secara pasti apakah ada makna tersembunyi yang dikehendaki Allah di balik peristiwa tersebut, tapi tanpa hal ini pun kenyataannya jelas: Gereja kembali memasuki masa-masa penuh gejolak dan badai.

Umat Katolik sudah terbiasa memiliki seorang Paus, sampai maut menjemputnya dan para kardinal harus memilih Paus yang baru. Umat Katolik sudah terbiasa memiliki seorang paus handal yang bisa menjadi acuan dalam hal iman dan moral. Kini, apa yang keluar dari Vatikan – terutama dari Uskup Roma – tidak lagi dapat dipercaya begitu saja, bahkan mungkin perlu dipandang dengan kritis, skeptis, bahkan rasa curiga. Dalam situasi yang kita hadapi saat ini, bagaimana tanggapan kita yang semestinya?

Saya berpendapat bahwa perlu diberikan sedikit waktu dan ruang bagi umat beriman untuk mengungkapkan kesedihan, kekecewaan, dan mungkin juga rasa kesal dan marah terhadap situasi saat ini. Meskipun demikian, terlalu larut dalam emosi-emosi negatif itu dapat memiliki dampak yang buruk, tidak hanya secara psikis, tetapi juga secara rohani. Situasi yang terjadi saat ini harus dipandang secara adikodrati, sebagai momen untuk memurnikan diri dan menguatkan iman kita. Sudah saatnya kita tumbuh menjadi orang Katolik yang dewasa, yang tekun menggali harta karun iman kita, mendalami warisan yang telah diberikan St. Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI. Kita melakukan kekeliruan fatal bila kita membatasi ajaran Magisterium hanya sebatas pada apa yang diajarkan Paus saat ini, karena Magisterium Gereja jauh lebih besar daripada seorang Paus yang mengemudikan bahtera Petrus saat ini. Setiap perkataan Paus harus dinilai berdasarkan kontinuitas atau kesinambungannya dengan ajaran para pendahulunya, dengan keselarasan terhadap Kitab Suci dan Tradisi Gereja – yang sampai kepada kita secara konkret melalui Liturgi, Kredo, Konsili (maksudnya hasil konsili), tulisan Santo/a (terutama Bapa Gereja dan Doktor Gereja). Kesinambungan, atau bahkan kesatuan, dengan Tradisi Gereja: persis inilah salah satu cara berpikir seorang Katolik yang diwariskan oleh Benediktus XVI, yang semestinya kita terapkan saat ini:

I simply want to think in communion with the faith of the Church, and that means above all to think in communion with great thinkers of the faith (Salt of the Earth, p. 66).

Apa yang baru saja saya katakan mungkin terdengar “menakutkan” bagi sebagian orang. Tidak semua orang mau dan mampu untuk menggali ajaran Gereja yang begitu kaya. Tidak semua orang bisa mengetahui apakah perkataan Paus selaras dengan ajaran Magisterium atau tidak. Kendati demikian, masing-masing dari kita memiliki peran dan tanggung jawab – seturut kondisi dan kemampuan kita – untuk meneruskan iman Katolik kepada generasi selanjutnya. Kalau anda adalah seorang ayah atau ibu, bilamana anda adalah calon ayah atau ibu, bukankah anda akan bertanggung jawab meneruskan iman kepada anak-anak anda? Kalau anda adalah seorang guru atau katekis, bukankah tugas anda adalah mengajar apa yang Gereja ajarkan, bahkan bila itu menimbulkan penolakan? Dalam situasi seperti apapun, kita masing-masing adalah pelaku tradisi: seluruh pola pikir dan gaya hidup bernafaskan iman Katolik itulah yang harus dirawat, dimulai dari keluarga kita sendiri.

Dengan demikian, maka jelaslah bahwa keluhan, amarah, kesedihan yang terus-menerus dipendam tidak akan menghasilkan apa-apa. Terkadang ada beberapa orang yang menyalahkan Ratzinger atas kekacauan yang ditimbulkan Paus saat ini. Padahal, seandainya kita memiliki Paus Burke atau Sarah, tentu mereka akan memuji Ratzinger dan bahkan berterima kasih padanya! Tidaklah bijaksana untuk menyalahkan Ratzinger atas apa yang terjadi dalam kepausan Bergoglio. Demikian pula, tidaklah tepat bila kita tetap merasa “ditinggalkan” Papa Ratzinger. Cepat atau lambat, Ratzinger toh akan berhenti menjadi Paus dan meninggalkan kita. Pengunduran dirinya hanya mempercepat proses tersebut. Dalam sebuah keluarga, tidak selamanya seorang bapa akan terus melaksanakan fungsi kebapakannya (walau secara biologis ia tetap seorang bapa): ia bekerja untuk memecat dirinya sendiri, yaitu ketika ia telah meninggalkan warisan (bukan warisan dalam arti kekayaan materi) yang memadai yang memampukan anak-anaknya untuk mengemban peran sebagai seorang bapa. Kita tentu mengandalkan Paus sebagai sosok yang menjaga kemurnian iman, namun janganlah kita lupa bahwa barangkali akan tiba saatnya bagi kita untuk menjadi sosok yang diandalkan juga oleh orang lain: entah itu oleh keluarga kita, teman kita, atau umat di paroki kita, tergantung peran yang kita emban.

Namun masih ada keberatan lainnya: bagaimana bila dalam proses pemurnian ini, ada orang-orang yang jatuh berguguran? Saya tetap merasa gelisah dengan situasi saat ini. Menanggapi hal tersebut, saya yakin perkataan Ratzinger ini dapat menghibur dan menenangkan kita:

Saya merasa seperti St. Petrus dan Para Rasul di dalam perahu di Laut Galilea. Tuhan telah memberikan kita banyak hari dengan sinar matahari dan angin sepoi-sepoi. Hari-hari ketika jala ikan berlimpah, dan ada juga saat-saat ketika air bergolak dan angin bertiup kencang, seperti dalam seluruh sejarah Gereja dan tampaknya Tuhan sedang tidur. Tapi saya selalu tahu bahwa Tuhan ada dalam perahu dan saya selalu tahu bahtera Gereja bukanlah milik saya, bukan milik kita, tapi milik-Nya dan Ia tidak membiarkan-Nya tenggelam.

Bukan untuk pertama kalinya bahtera Gereja diterpa gelombang yang ganas dan angin kencang. Tetapi dalam setiap periode yang ditandai oleh kekacauan, selalu ada orang-orang kudus yang dipanggil Tuhan, dan minimal Tuhan mengutus mereka berdua-dua, dan ini tampak menjadi semacam pola kerja Allah. Kita memiliki generasi emas para pembaharu Gereja: St. Dominikus dan Fransiskus, St. Ignatius dari Loyola dan Yohanes dari Avila, St. Yohanes dari Salib dan Teresa dari Avila, St. Carolus Borromeus dan Filipus Neri. Di zaman modern ini, sangat masuk akal kalau pasangan St. Yohanes Paulus II adalah Benediktus XVI.

Melalui kutipan di atas, Ratzinger hendak mengajarkan kerendahan hati pada kita: sejauh yang kita mampu, maka kita mesti membantu Gereja. Kita hanya bisa berbuat sejauh hal tersebut ada dalam kendali kita. Berkaitan dengan hal yang ada di luar kuasa kita, maka cukuplah bila kita menyerahkannya ke dalam tangan Tuhan, karena Gereja adalah milik Tuhan, bukan milik kita. Doa adalah bentuk penyerahan semua hal di luar kuasa kita, mempercayakannya ke tangan Allah yang Mahakuasa, seraya mengakui bahwa kita tidak berdaya untuk memperbaiki segalanya:

Begitu banyak hal yang harus dilakukan, namun saya melihat bahwa saya tidak mampu melakukan semuanya. Saya membayangkan hal ini sungguh benar, bagi para pastor, dan hal ini juga benar bagi Paus, yang harus melakukan begitu banyak hal! Kekuatan saya tidaklah memadai. Dalam cara ini saya belajar melakukan apa yang bisa saya lakukan, dan saya serahkan semuanya kepada Allah dan rekan saya, dengan berkata: “Pada akhirnya, Engkau harus melakukan pekerjaan ini, Tuhan, karena Gereja adalah milik-Mu. Engkau memberikan aku kekuatan sebesar yang aku miliki. Aku kembalikan kepada-Mu, karena ia berasal dari-Mu; segala sesuatu yang lain aku tempatkan ke dalam tangan-Mu.” Saya percaya bahwa kerendahan hati yang mendorong kita berkata “kekuatanku tidak cukup, aku serahkan kepada-Mu, Tuhan, untuk melakukan sisanya” sangatlah penting. Selanjutnya, kepercayaan diperlukan: Ia akan memberikan aku rekan kerja yang kuperlukan, dan mereka akan melakukan apa yang tak bisa kulakukan.

Inilah yang diyakini Ratzinger, dan keyakinan ini juga lah yang dihidupinya hingga saat ini.

Kalimat terakhir dari kutipan di atas penting untuk kita perhatikan: “Ia akan memberikan aku rekan kerja yang kuperlukan”. Frase “rekan kerja” ini mengingatkan kita akan moto Ratzinger sebagai uskup: cooperatores veritatis, yang berarti ­co-workers of the truth. Rekan kerja kebenaran. Pengunduran diri Ratzinger juga bisa dipahami dalam perspektif ini.

Ratzinger menyadari bahwa membangun Gereja tidak bisa dilakukan seorang diri: kita semua, masing-masing dengan caranya sendiri, bertanggung jawab dalam membangun Gereja. Cara Ratzinger ialah dengan mengajarkan iman, dan oleh karena itulah, masa kepausannya sangatlah tematis dan memiliki arah teologis yang jelas: Tahun Iman diadakan guna menguatkan iman umat Katolik dan menemukan sukacita sebagai orang Kristen, Tahun Imam diadakan guna mengingatkan para imam apakah jati diri dan misi seorang imam; audiensi umum Benediktus XVI berpusat pada tokoh-tokoh Gereja: para rasul, Bapa Gereja, Doktor Gereja, pria dan wanita kudus lainnya. Semua ini dipersembahkan kepada kita sebagai teladan dalam memenuhi panggilan kita untuk menjadi kudus. Semua yang dilakukannya ini merupakan perwujudan dari jati dirinya: bukan sekedar sebagai Paus, melainkan terutama sebagai seorang guru yang bertugas mewartakan kebenaran iman, dalam persatuan dengan rekan kerja lainnya. Inilah yang dikatakannya ketika ia menerima jabatan uskup dan memilih motto cooperatores veritatis:

For one, it seemed to be the connection between my previous task as teacher and my new mission. Despite all the differences in modality, what is involved was and remains the same: to follow truth, to be at its service. And because in today’s world the theme of truth has all but disappeared, because truth appears too great for man, and yet everything falls apart if there is no truth. [Milestones, p. 153].

So I accepted, with the intention, as I expressed it in my episcopal motto, of being “co-worker of the truth”. Co-worker was meant in the plural. In other words, in communion with other co-workers I would contribute my charism, if I may call it that, and contribute using my theological experience and competence that had been given to me, so that the Church might be led in this hour and the heritage of the Council rightly appropriated. [Salt of the Earth, p. 81-82]

Sampai di sini saya sudah memberikan sedikit gambaran singkat akan krisis yang terjadi saat ini dan bagaimana kita dapat meneladani Ratzinger dalam menyikapi krisis tersebut. Kendati demikian, sebelum saya memutuskan melakukan ini, ada satu pertanyaan yang mengusik saya: perlukah saya menunjukkan krisis yang terjadi saat ini? Bukankah masih banyak orang Katolik yang kurang memahami imannya, sehingga sangat mungkin iman mereka menjadi goyah? Dan bukankah lebih baik bila perhatian kita tidak terpusat pada masalah dan hal-hal negatif, melainkan pada pewartaan iman Katolik secara positif, tanpa perlu menyebut persoalan yang terjadi?

Setelah saya merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini, saya menyadari satu hal: orang-orang kudus yang sekaligus merupakan seorang pembaharu adalah mereka yang tidak menutup mata atas krisis yang terjadi di zamannya. Hal ini justru malah membangkitkan kegelisahan kudus dalam diri pria dan wanita yang mencintai Gereja untuk mempersembahkan diri kepada Allah, untuk menanggapi panggilan-Nya dan berusaha untuk menyembuhkan luka yang diakibatkan krisis tersebut. Atas dasar keyakinan inilah, saya memberanikan diri – setelah sebelumnya cukup lama berdiam diri tanpa menyinggung kepausan saat ini – untuk mengungkapkan apa yang menjadi keprihatinan saya dan beberapa orang yang sepemikiran dengan saya. Lagipula, Ratzinger mengingatkan kita akan pentingnya memiliki iman yang dewasa:

“Sekarang ini, memiliki iman yang jelas yang didasarkan pada Pengakuan Iman Gereja, sering dicap sebagai fundamentalisme. Sementara relativisme, yang membiarkan seseorang ‘terlempar ke sana kemari, terbawa oleh setiap belitan pengajaran’, tampak seperti satu-satunya sikap yang diterima pada zaman modern. Kita sedang membangun sebuah kediktatoran relativisme yang tidak mengenal apapun sebagai hal yang definitif dan yang tujuan akhirnya semata-mata meliputi ego dan keinginan orang itu sendiri.

Akan tetapi, kita memiliki tujuan yang berbeda: Putra Allah, Manusia yang sejati. Dia adalah tolok ukur humanisme yang sejati. Iman yang ‘dewasa’ bukanlah iman yang mengikuti tren kebiasaan dan hal-hal baru; iman dewasa yang matang berakar secara mendalam pada persahabatan dengan Kristus. Persahabatan inilah yang membuka diri kita kepada segala yang baik dan memberi kita sebuah kriterium untuk membedakan yang benar dari yang salah, dan kebohongan dari kebenaran.”

Kita harus mengembangkan iman dewasa ini: kita harus membimbing kawanan domba Kristus kepada iman ini. Dan iman ini – hanya iman – yang menciptakan kesatuan dan dipenuhi dalam kasih.

(Homily at the Mass for the Election of Supreme Pontiff, 18 April 2005)

Kesadaran ini mengingatkan saya akan tulisan seorang intelektual muda idealis yang selalu merasa resah atas kondisi bangsanya:

Belum lama berselang di hadapan mahasiswa-mahasiswa Fakultas Sastra UI telah diputar sebuah film Cekoslovakia… Kisahnya tentang seorang dokter Yahudi yang dilarang praktik oleh Nazi di kota pendudukan Praha pada waktu Perang Dunia II. Ia disuruh menjadi penjaga barang-barang sitaan. Suatu hari ia disuruh untuk menolong seseorang partisan yang tertembak dan disembunyikan dekat kamarnya. Ia menolak karena ia tahu apa akibatnya jika ia ketahuan oleh pihak polisi rahasia.

“Saya bukan seorang dokter, saya hanyalah seorang penjaga gudang dan oleh karena itu bukanlah kewajiban saya untuk menolongnya,” katanya. Tapi ia tidak dapat membohongi kata hatinya, bahwa ia seorang dokter (walaupun sekarang dilarang praktik) dan harus menolong siapa pun juga. Akhirnya setelah melawan dirinya sendiri, ia memutuskan untuk menolong partisan yang luka itu.

Pada waktu itu seseorang dapat dihukum jika ia tidak melaporkan sesuatu yang mencurigakan. Seorang tetangganya yang curiga dengan tingkah laku sang dokter melaporkan pada polisi. Karena ia takut akibatnya jika ia tidak melaporkan pada polisi. Sang dokter ditangkap. Ia ditanya mengapa ia melakukan hal itu. Jawabnya sangat sederhana: “Seorang manusia adalah seperti yang dipikirkannya, kau tak dapat mengubahnya” (A man is as he thinks, you can’t change it).

Persoalan yang dilontarkan pada kita oleh film ini adalah persoalan kemanusiaan. Dan sebagai manusia kita dihadapkan oleh pemilihan-pemilihan yang meragukan. Sebelum melakukan sesuatu kita harus menanyakan pada diri sendiri: “Siapakah saya?” Dan jawaban kita menentukan pilihan-pilihan kita. Sang dokter tadi juga harus menjawab pertanyaan besar ini. Jika ia menyatakan hanya seorang penjaga gedung (profesi resminya) maka soalnya selesai. Demikian pula halnya dengan tetangganya yang melapor pada polisi. Jika ia memutuskan ia hanyalah warga yang harus patuh pada polisi maka tindakannya adalah benar. Tetapi jika ia menyatakan bahwa dirinya adalah manusia Cekoslovakia yang harus membantu perjuangan bangsanya, soalnya sangat berubah. Kitalah yang menentukan diri kita dalam menentukan pilihan-pilihan…

Kadang-kadang kita harus bertanya kepada diri kita sendiri “Siapakah Saya?” Apakah saya seorang fungsionaris partai yang kebetulan menjadi mahasiswa sehingga harus patuh pada instruksi dari bapak-bapak saya dalam partai? Apakah saya seorang politikus yang harus selalu realistis dan bersedia menerima kompromi-kompromi prinsipial dan tidak boleh punya idealisme yang muluk-muluk? Apakah saya seorang kecil yang harus patuh pada setiap keputusan DPP ormas saya, atau pimpinan-pimpinan fakultas saya, atau pemimpin-pemimpin saya? Ataukah saya seorang manusia yang yang sedang belajar dalam kehidupan ini dan mencoba terus-menerus untuk berkembang dan menilai secara kritis segala situasi. Walaupun pengetahuan dan pengalaman saya terbatas?

Setiap hari pertanyaan tadi datang. Saya katakan pada diri saya sendiri: Saya adalah seorang mahasiswa. Sebagai mahasiswa saya tak boleh mengingkari ujud saya. Sebagai pemuda yang masih belajar dan mempunyai banyak cita-cita, saya harus bertindak sesuai dengan wujud tadi. (Soe Hok-Gie, Sipakah Saya?)

Dalam menyikapi situasi Gereja saat ini, selain perlunya iman yang dewasa, pertanyaan klasik yang dilontarkan Gie juga sangat relevan: siapakah saya? Pertanyaan siapakah saya selalu terkait dengan situasi sejarah yang sedang berlangsung. Ratzinger telah berkata pada dirinya dan Allah: saya adalah rekan kerja kebenaran, dan saya bertindak sesuai dengan wujud ini. Ia telah menunaikan tugasnya, dan semestinya kita pun perlu memilki kesiapan untuk mendaraskan kidung Simeon: Nunc dimittis servum tuum, Domine secundum verbum tuum in pace… (Sekarang, Tuhan, perkenankanlah hamba-Mu berpulang dalam damai sejahtera menurut sabda-Mu).

Mungkin ada baiknya, dalam memperingati ulang tahun Ratzinger yang ke-90 – dan mari kita berdoa untuknya! – sebagai langkah pertama yang penting, kita masuk ke hadirat Allah dan berusaha menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut, sehingga kita dapat melengkapi penegasan berikut: saya adalah seorang …. atau saya ingin menjadi seperti …. dan saya mau melakukan … .

Era Ratzinger telah berakhir. Sekarang waktunya bagi anak-anak dari Generasi Benediktus XVI untuk meneruskan apa yang telah dimulai Ratzinger.

Saya akhiri renungan ini dengan sebuah kutipan dari seorang novelis Katolik kesohor, J. R. R. Tolkien, yang sangat relevan dengan kondisi kita saat ini:

“All we do know, and that to a large extent by direct experience, is that evil labours with vast power and perpetual success – in vain: preparing always only the soil for unexpected good to sprout in” (The Letters of J. R. R. Tolkien).

Iklan

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: