Kehidupan Liturgi dan Imamat

IMG_4651

Berikut ini merupakan terjemahan tidak resmi dari teks Kardinal Sarah berjudul “Liturgical Life and the Priesthood”.

Yang Utama, Yang Mulia, dan saudara-saudara terkasih dalam imamat Yesus Kristus,

Pertama, saya ingin berterima kasih kepada saudara saya, Yang Utama Malcolm Kardinal Ranjith, atas undangannya untuk mengunjungi negara Anda dan atas sambutan hangatnya di Kolombo. Saya amat bersukacita karena saya mampu tinggal beberapa hari di sini di negara Anda – sebuah negara yang diberkati dengan melimpah oleh Allah Mahakuasa dalam keindahan alamnya dan keramahan yang murah hati, yang atas hal inilah orang-orang Anda dikenal dengan baik.

Ini adalah sukacita khusus dan istimewa, karena saya berjumpa dengan Anda hari ini, saudara-saudara terkasih dalam imamat. Karena sekalipun saya telah dipanggil ke dalam pelayanan episkopal dan juga melayani sebagai kardinal, dalam seluruh hidup saya, saya terus berkilas balik ke tanggal 20 Juli 1969: hari tahbisan imamat saya 47 tahun yang lalu. Setiap hari sejak hari itu, bahkan dalam momen-momen bahaya atau penderitaan, merupakan rahmat dan keistimewaan khusus untuk menjadi imam Yesus Kristus. Para imam terkasih, para saudara dalam imamat Yesus Kristus, betapa besar kebaikan yang diperlihatkan Allah Mahakuasa kepada kita! Betapa besar rahmat yang telah Dia berikan! Jangan pernah sekalipun melupakan hari tahbisan imamat Anda, tak peduli apapun pencobaan yang muncul, tak peduli betapa mustahilnya tantangan yang mungkin Anda hadapi, tak peduli penyakit apapun atau usia tua yang menimpa anda. Tentu, rahmat tahbisan imamat tidak akan menjadi mungkin bila hari Baptisan Suci saya tak pernah terjadi – dan bagi saya, di Guinea Utara, ini bukanlah sesuatu yang diterima begitu saja: saya lahir dalam keluarga yang memganut animisme, yang pertama kali mendengar Injil dari misionaris Perancis, dari Kongregasi Roh kudus, saya sangat bersyukur kepada mereka. Karena semangat misionaris dan imamat mereka, keluarga saya menjadi Kristen. Saudara-saudaraku, jangan pernah lupakan bahwa sebelum kita ditahbiskan, kita dibaptis. Ini mungkin sedikit terdengar aneh, tetapi terkadang mudah bagi kita para imam untuk berpikir dan bertindak seakan-akan kita adalah kasta yang berada di atas, lebih tinggi dari mereka yang tidak ditahbiskan. Ini salah. Pertama dan terutama, kita adalah orang Kristen yang telah dibaptis, yang mana semua kewajiban kehidupan Kristen berlaku bagi kita semua. Mari kita mengingat perintah Paus St. Leo Agung (400-461), yang dikutip dalam Katekismus Gereja Katolik (no. 1691):

“Hai orang Kristen, kenalilah martabatmu! Engkau sudah ikut mengambil bagian dalam kodrat ilahi, jangan kembali kepada kemalanganmu yang lama, dan janganlah hidup di bawah martabatmu. Ingatlah akan Kepala dan Tubuh, yang engkau menjadi anggotanya. Ingatlah bahwa engkau sudah diluputkan dari kuasa kegelapan dan telah diterima dalam terang dan Kerajaan Allah” (Leo Agung, serm. 21, 2-3).

St. Agustinus (354-430), dalam Khotbahnya yang memperingati tahbisannya, mengingatkan kita akan kebenaran penting ini:

Beban saya ini, yang akan saya katakan, apakah itu kalau bukan kalian semua? Mohonkan kekuatan bagi saya dalam doa, sama seperti saya berdoa agar Anda tidak menjadi beban yang terlampau berat. Maksudnya, Tuhan Yesus tak akan menyebut beban-Nya ringan, bila Ia tidak memikulnya bersama dengan kuli angkutnya. Tetapi anda semua harus mendukung saya, sehingga, seturut ajaran Sang Rasul, kita dapat memikul beban satu sama lain, dan dengan cara ini memenuhi hukum Kristus (Gal 6:2). Bila Kristus tidak memikulnya bersama kita, kita terjatuh; bila Ia tidak memikul kita, kita terjungkir dan mati. Apa yang menakutkan saya ialah apakah arti saya bagi Anda, saya terhibur atas kenyataan siapakah saya bersama Anda. Saya merupakan seorang uskup bagi Anda, bersama Anda saya adalah seorang Kristen. Yang pertama adalah jabatan yang diemban, yang kedua ialah nama rahmat; yang pertama berarti bahaya, yang kedua ialah keselamatan. Dalam yang pertama, saya terombang-ambing oleh badai, seakan-akan berada di lautan terbuka, tetapi dalam yang kedua, saya memasuki pelabuhan yang aman oleh rekoleksi tentram akan Ia yang oleh darah-Nya saya telah ditebus; dan kendati sekarang saya bekerja melalui jabatan saya, saya beristirahat dalam keuntungan menakjubkan yang diberikan kepada kita semua bersama-sama. Bila, oleh karena itu, saya menemukan kegembiraan lebih besar karena ditebus bersama Anda daripada ditempatkan untuk mengemban tanggung jawab, maka, sebagaimana telah diperintahkan Tuhan, saya akan kian penuh menjadi pelayan Anda, bersyukur atas harga yang membuat saya pantas untuk menjadi sesama pelayan Anda (Khotbah 340).

Kita tidak bisa setia kepada panggilan imamat kita bila pertama-tama kita tidak setia kepada panggilan baptisan kita! Dan, sebagaimana diingatkan St. Agustinus, panggilan imamat kita ialah untuk melayani mereka yang telah dibaptis, melayani saudara-saudari kita sebagai alter Christus, dan sungguh sebagai ipse Christus, sebagai Kristus sendiri, “yang datang tidak untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan hidup-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28). Hari ini saya ingin berbagi beberapa renungan bersama Anda tentang pelayanan khusus ini, yang merupakan keistimewaan dan kewajiban kita sebagai imam Tuhan kita Yesus Kristus.

APAKAH GEREJA ITU? APAKAH IMAM ITU?

Bapa Suci kita Paus Fransiskus sering berkata bahwa Gereja bukan Lembaga Swadaya Masyarakat. Beranjak dari hal ini, ini berarti kita para imam bukanlah pejabat eksekutif atau pekerja sosial atau sukarelawan yang berusaha melakukan hal baik bagi masyarakat. Lalu apakah Gereja itu? Apakah imam itu?

Konstitusi Dogmatik mengenai Gereja dari Konsili Vatikan II, Lumen Gentium, mengajarkan bahwa Allah yang Mahakuasa “menetapkan utnuk menghimpun dalam Gereja Kudus semua yang percaya dalam Kristis” (no. 2) dan bahwa:

Maka datanglah Putera. Ia diutus oleh Bapa, yang sebelum dunia terjadi telah memilih kita dalam Dia, dan menentukan, bahwa kita akan diangkat-Nya menjadi putera-putera-Nya. Sebab Bapa berkenan membaharui segala sesuatu dalam Kristus (lih Ef 1:4-5 dan 10). Demikianlah untuk memenuhi kehendak Bapa Kristus memulai Kerajaan sorga didunia, dan mewahyukan rahasia-Nya kepada kita, serta dengan ketaatan-Nya Ia melaksanakan penebusan kita. Gereja, atau kerajaan Kristus yang sudah hadir dalam misteri, atas kekuatan Allah berkembang secara nampak didunia. Permulaan dan pertumbuhan itulah yang ditandakan dengan darah dan air, yang mengalir dari lambung Yesus yang terluka dikayu salib (lih Yoh 19:34). Itulah pula yang diwartakan sebelumnya ketika Tuhan bersabda tentang wafat-Nya disalib: “Dan apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang kepada-Ku” (Yoh 12:32 yun). Setiap kali dialtar dirayakan korban salib, tempat “Anak Domba Paska kita, yakni Kristus, telah dikorbankan” (1Kor 5:7), dilaksanakanlah karya penebusan kita. Dengan sakramen roti Ekaristi itu sekaligus dilambangkan dan dilaksanakan kesatuan umat beriman, yang merupakan satu tubuh dalam Kristus (lih 1Kor 10:17). Semua orang dipanggil kearah persatuan dengan Kristus itu. Dialah terang dunia. Kita berasal daripada-Nya, hidup karena-Nya, menuju kepada-Nya.

Lalu apakah Gereja itu? Gereja adalah himpunan – ecclesia ­– dari semua yang percaya dalam Kristus, yang kepadanya semua manusia dipanggil oleh Allah yang Mahakuasa. Dan inti dari ecclesia ini adalah “kurban salib yang mana Kristus Anak Domba Paska kita dikurbankan… dirayakan di atas altar” yang keduanya mengungkapkan dan memunculkan kesatuan Gereja. Perhatikan bahwa “kesatuan” ini bukanlah konsensus yang dibentuk dari antara mereka yang hadir seakan hadir dalam pertemuan insani. Tidak, kesatuan Gereja ialah “persatuan dengan Kristus, yang adalah terang dunia, kita berasal daripada-Nya, hidup karena-Nya, menuju kepada-Nya.”

Jadi Bapa Suci sangat benar dengan bersikukuh bahwa Gereja bukanlah Lembaga Swadaya Masyarakat. Melainkan, Gereja adalah Keluarga Allah (Ef 2:19-21) dan Umat Allah yang dipanggil bersama oleh-Nya guna diperkaya oleh kurban Ekaristinya sehingga ia dapat menjadi terang sejati bagi bangsa-bangsa dan mewujudkan misinya “untuk memanggil seluruh umat manusia ke dalam rumah tangga Gereja” (Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium, no. 1).

Saudara-saudaraku, kita tidak bisa meremehkan makna ajaran ini. Perkataan pertama dari surat Ensiklik St. Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia (17 April 2013), menjelaskan dengan ringkas: “Gereja menimba kehidupannya dari Ekaristi. Kebenaran ini tidak sekedar mengungkapkan pengalaman iman sehari-hari, tetapi ia mengikhtisarkan inti misteri Gereja” (no. 1).

Dengan kata lain, secara hakiki Gereja bersifat Ekaristis, yang berarti bahwa Gereja pada hakikatnya bersifat liturgis. Ekaristi Kudus dan Liturgi Suci bukanlah ‘tambahan’ yang disertakan dalam Kekristenan: keduanya adalah bagian dari strukturnya, keduanya adalah bagian dari hakikatnya. Seseorang tidak bisa sungguh menjadi Kristen tanpa partisipasi dalam kehidupan ibadat liturgis Gereja, yang pada intinya ialah Kurban Ekaristi. Kita mengingat kesaksian luar biasa dan menyentuh dari 42 martir Afrika yang mati pada masa Kaisar Diocletian karena melanggar hukum yang melarang perayaan Misa Suci. Dengan jelas mereka memberikan kesaksian: non poteram, quoniam sine Dominico non possumus (Tidak bisa, tanpa hari Minggu kami tidak bisa hidup).

Selanjutnya, hal ini mengklarifikasi pertanyaan kedua: apakah imam itu? Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam, Presbyterorum Ordinis (7 Desember 1965), menyatakan bahwa para imam adalah para pria yang “berkat pengurapan Roh Kudus, ditandai dengan meterai istimewa, dan dengan demikian dijadikan serupa dengan Kristus Sang Imam, sehingga mereka mampu bertindak dalam pribadi Kristus Kepala” (no. 2). Dekrit tersebut melanjutkan:

[Para imam] dengan menunaikan tugas Injil yang suci, supaya persembahan para bangsa, yang disucikan dalam Roh Kudus, berkenan kepada Allah. Sebab melalui Warta Rasuli tentang Injil Umat Allah dipanggil dan dihimpun, sehingga semua orang yang termasuk umat itu karena dikuduskan dalam Roh, mempersembahkan diri sebagai “persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah” (Rom 12:1). Melalui pelayanan para imam korban rohani kaum beriman mencapai kepenuhannya dalam persatuan dengan korban Kristus Pengantara tunggal, yang melalui tangan para imam, atas nama seluruh Gereja, dipersembahkan secara tak berdarah dan sakramental dalam Ekaristi, sampai kedatangan Tuhan sendiri. Itulah arah-tujuan pelayanan para imam; disitulah pelayanan itu mencapai kepenuhannya. Sebab pelayanan mereka, yang berawalmula dari  Warta Injil, menerima daya-kekuatannya dari Korban Kristus, dan tujuannya ialah, supaya “seluruh kota yang telah ditebus, yakni persekutuan dan himpunan para kudus, dipersembahkan sebagai korban universal kepada Allah melalui Sang Imam Agung, yang dalam Kesengsaraan-Nya telah mempersembahkan Diri-Nya juga bagi kita, supaya kita menjadi Tubuh Kepala yang seagung itu” (Roman Pontifical [1962] on the ordination of priests).

Dengan demikian, bila Gereja secara hakiki bersifat Ekaristis, dan karenanya bersifat liturgis secara hakiki, demikian pula menjadi jelas bahwa imam, terutama adalah pelayan Ekaristi Suci, seorang pria yang dikhususkan bagi pelayanan liturgis. Oleh sebab itu, imam, pertama dan terutama, adalah homo liturgicus – seorang insan liturgis. Kendati ini juga benar bagi semua orang yang telah dibaptis – menjadi Kristen berarti menjadi insan liturgis – saya pikir bahwa ini terlihat jelas dari apa yang telah kita baca dari Konsili Vatikan II, bahwa ini benar secara khusus dan spesifik perihal mereka yang dari antara kita, yang oleh karena rahmat bebas (unmerited) Allah, telah dipanggil oleh Gereja ke dalam tahbisan imamat dan yang telah dikhususkan sebagai pelayan Sabda Kristus dan Sakramen guna melayani keuntungan semua umat beriman Kristus.

Hendaklah kita meluangkan waktu sejenak untuk merenungkan kehidupan liturgi imam.

KITA HARUS DIBINA DALAM LITURGI SUCI GUNA MEMBINA UMAT KITA

Bila kita sungguh ingin melayani umat beriman Kristus sebagai pelayan Sabda Kristus dan Sakramen, baik sekali bila kita merenungkan pepatah ini: nemo dat quod non habet – tak seorang pun memberi dari apa yang tidak ia miliki. Karena bila kita sendiri bukan abdi liturgi, bila kita tidak “diresapi oleh semangat dan daya liturgi” (bdk. Sacrosanctum Concilium n. 14), kita tidak bisa menghidupi panggilan baptisan atau imamat kita secara penuh, tidak bisa pula kita menggembalakan umat kita sebagaimana seharusnya. Presbyterorum Ordinis menuntun kita:

Hendaknya para imam berusaha mengembangkan dengan tepat pengetahuan dan kesenian Liturgi, supaya berkat pelayanan liturgis mereka, oleh jemaat-jemaat kristiani yang dipercayakan kepada mereka, dipersembahkan pujian yang semakin sempurna kepada Allah, Bapa dan Putera dan Roh Kudus.

Tentunya ini berarti, secara khusus selama formasi untuk imamat, bahwa kita harus mempelajari liturgi dalam aspek historis, teologis dan ritualnya dan memiliki pemahaman yang jelas akan implikasi pastoral dari realita yang dinyatakan Konstitusi tentang Liturgi Suci dari Konsili Vatikan II, bahwa “liturgi adalah puncak tempat aktivitas Gereja terarah kepadanya; sekaligus ia adalah sumber yang darinya mengalir semua daya-dayanya” (Sacrosanctum Concilium, n. 10).

Jadi, dengan menghormati unsur utama dan hakiki dari kehidupan imamat kita, kita tidak seharusnya lalai dalam melanjutkan studi kita tentang liturgi, dalam bacaan kita dan dengan berpartisipasi, ketika hal ini memungkinkan, dalam peristiwa-peristiwa yang mempelajari dan menjelajahi pentingnya dan nilainya. Saya yakin bahwa Kardinal Uskup Agung anda yakin akan pentingnya hal ini; oleh sebab itulah ia meminta saya untuk berbicara hari ini, dan saya yakin bahwa di dalam bimbingan kebapakannya Anda tidak akan kekurangan kesempatan untuk berjumpa bersama dan merenungkan pertanyaan-pertanyaan liturgis.

Bacaan dan studi serta peristiwa kita yang berkelanjutan seperti ini sangatlah penting, pastinya. Tetapi mereka adalah sarana guna mencapai tujuan. Yang lebih penting, para saudara terkasih, ialah masing-masing dari kita harus menghidupi liturgi setiap hari dan di setiap momen imamat kita. Apa yang kita lakukan dalam Liturgi Suci di altar, di tempat baptisan, di ruang pengakuan, dst, harus meresapi hidup pribadi kita dan memenuhi setiap unsur pelayanan pastoral kita, karena pertama dan terutama kita adalah insan liturgis; kepada masing-masing dari kita telah diberikan keistimewaan dan kewajiban untuk menjadi liturgist Kristus di dalam Gereja-Nya hari ini. Konsekuensinya, maka, ketika kita sendiri diresapi dengan semangat dan daya liturgi, ketika kita hidup dan menghembuskan kehidupan ibadat dan doa Gereja yang mana kita adalah pelayan istimewanya, bukan hanya panggilan baptisan dan imamat kita yang akan berkembang, tetapi kita juga akan sungguh memiliki sesuatu yang berharga untuk diberikan kepada umat kita.

Saya telah menjadi imam selama 47 tahun dan uskup selama 36 tahun. Dengan sangat baik saya tahu bahwa cita-cita kehidupan imamat ini terkadang, barangkali terlalu sering tidak diwujudkan, dan bahwa kewajiban liturgis para imam dapat menjadi rutinitas, atau bahkan dipandang sebagai beban. Ini adalah situasi yang sangat berbahaya bagi setiap imam, karena ketika seorang imam menjadi fungsionaris semata, ketika hati dan jiwanya tidak lagi bergetar lantaran terpesona pada misteri agung yang harus dilayaninya, panggilannya dapat menyimpang secara serius. Ketika homo liturgicus tidak hidup dari sumber dan puncak kehidupan dan misi Gereja, umatnya tidak akan diperkaya dari sumber itu, yang adalah hak baptisan mereka.

Izinkan saya, saudara-saudara terkasih, untuk merenung bersama Anda tentang beberapa cara, besar dan kecil, yang mana kita dapat berjaga dari bahaya tersebut, dan yang di dalamnya kita dapat membarui hidup kita sebagai pelayan-pelayan Kristus yang bertindak di dunia kita ini dalam cara yang tunggal dan istimewa dalam dan melalui Liturgi Suci, yang diajarkan Konsili Vatikan II sebagai “karya Kristus sang Imam serta Tubuh-Nya yakni Gereja, merupakan kegiatan suci yang sangat istimewa. Tidak ada tindakan Gereja lainnya yang menandingi daya dampaknya dengan dasar yang sama serta dalam tingkatan yang sama.” (Sacrosanctum Concilium, no. 7)

IMAM: ‘HOMO LITURGICUS’

Dalam memoarnya seorang imam menulis tentang penemuannya akan Liturgi Suci ketika ia seorang anak laki-laki:

Setiap langkah baru ke dalam liturgi adalah peristiwa agung bagi saya. Tiap buku baru [missal] yang diberikan pada saya adalah hal yang berharga bagi saya, dan saya tak dapat memimpikan hal lain yang lebih indah dari ini. Merupakan petualangan yang mempesona untuk berjalan secara bertahap ke dalam dunia liturgi yang misterius yang ditetapkan di hadapan kita dan bagi kita di altar. Menjadi kian jelas bagi saya bahwa di sini saya berjumpa dengan realita yang tidak dipikirkan siapapun, sebuah realita yang tidak diciptakan otoritas resmi ataupun tokoh besar. Jejaring teks dan aksi misterius ini bertumbuh dari iman Gereja selama ratusan tahun. Ia memikul seluruh beban sejarah di dalam dirinya, ia lebih dari sekedar produk sejarah manusia. Tiap abad meninggalkan tanda padanya … Segala sesuatunya tidak bersifat logis. Pelbagai hal terkadang menjadi rumit dan tidak selalu mudah menemukan jalannya. Tapi persisnya inilah yang membuat seluruh bangunan itu luar biasa, seperti rumah kita. Secara alami, ketika saya masih seorang anak, saya tidak memahami setiap aspek hal ini, tetapi saya menapaki jalan Liturgi, dan ini menjadi proses pertumbuhan yang terus berlanjut ke dalam realita agung yang melampaui individu dan generasi tertentu, sebuah realita yang bagi saya menjadi momen penemuan dan kekaguman yang selalu baru. Realita yang tiada habisnya dari liturgi Katolik telah mendampingi saya dalam seluruh fase hidup saya, dan saya akan terus berbicara tentangnya berulang-kali (Joseph Ratzinger, Milestones: Memoirs 1927-1977, San Francisco: Ignatius Press 1997, pp. 19-20).

Imam ini ialah Paus Emeritus Benediktus XVI, seorang homo liturgicus sejati. Bahkan kini kita hampir dapat melihat di matanya “kekaguman dan penemuan yang selalu baru”, yang pertama kali ia alami sebagai anak laki-laki dan sebagai pria muda. Dan dengan melihat ini kita dapat memahami mengapa sebagai kardinal dan Paus ia berbicata tentang “realita Katolik liturgi yang tiada habisnya” “berulang-kali”.

Saya sungguh berharap, saudara-saudaraku, agar kita masing-masing, di masa muda kita, dapat mengingat rasa kagum dan penemuan yang pertama kita jumpai dalam Liturgi Suci dalam segenap keindahan dan kekayaannya. Dan saya sungguh berdoa untuk masing-masing dari kita, juga untuk Paus Emeritus Benediktus XVI, agar liturgi hingga hari ini tetap menjadi sesuatu yang selalu baru, sesuatu yang adalah sumber abadi yang menopang hidup imamat kita.

Karena bila Liturgi Suci tidak lagi menjadi sukacita bagi kita, sumber makanan rohani, dan bila ia sekedar menjadi satu dari sekian kewajiban yang harus kita lakukan, kita para imam Tuhan akan pantas mendapat celaan yang diucapkan nabi Yesaya: “bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan” (Yes 29:13). Kita harus berjaga-jaga terhadap godaan ini, saudara-saudaraku. Bila kita takluk padanya, kita harus mengusir kefasikan ini dan menangkap kembali semangat dan daya liturgi dalam hidup imamat kita dan pelayanan tanpa menunda, demi kebaikan jiwa kita dan demi kebaikan umat beriman Kristus yang kita layani.

Bagaimana kita melakukan pembaruan tersebut, pembaruan yang diperlukan kita semua? Merupakan hal yang luar biasa bagi para imam di keuskupan manapun untuk mengadakan retret tahunan yang mana para pengkhotbah akan menanggapi kebutuhan ini dan ketika perayaan liturgis Misa Kudus dan Ibadat Harian itu sendiri merupakan teladan yang menyegarkan bagi jiwa imamat. Ini adalah perkara yang harus dipertimbangkan oleh Bapa Anda, Uskup diosesan! Kendati demikian, walau Yang Utama merenungkan hal ini, kita masing-masing dapat mengawali secara individual, atau barangkali dengan dukungan sejumlah kecil saudara sesama imam.

Pertama, mari kita bertanya pada diri kita: bagaimana kita mendoakan Brevir? Apakah Brevir adalah sesuatu yang “harus dilakukan” sesegera mungkin setiap hari agar kita ‘bebas’ untuk mengerjakan tugas lain? Apakah terkadang saya lalai dalam mendoakannya? Tentu, kehidupan pastoral amat sibuk, tetapi bila saya tidak mendoakan Doa Gereja sebagaimana yang telah saya janjikan, atau bila saya tidak mendoakannya dengan semangat, dengan devosi dan secara liturgis, maka saya gagal merawat jiwa saya dan saya membahayakan panggilan saya.

Secara praktis saya hendak menyarankan hal ini: sesering dan sebisa mungkin doakanlah Brevir secara liturgis, bersama dengan yang lain, khususnya dengan umat Anda, karena Brevir bukanlah teks untuk dibaca melainkan ritus untuk dirayakan, dengan ritualnya, posturnya, lantunannya, dst. Dan bila situasi mengharuskan anda mendoakan Brevir sendirian, lakukanlah sebanyak mungkin untuk menjadikannya ritus liturgis – berdoalah di oratori (ruang doa) bila memungkinkan, sambil berdiri dan duduk dan seterusnya pada waktu yang pantas. Nyanyikanlah Brevir bila memungkinkan – Brevir bukan buku untuk dibaca di kursi, melainkan ia adalah lagu Gereja yang penuh kasih, lagu Sang mempelai, yang diarahkan kepada Dia yang telah menebus kita.

Kedua, saya ingin menyarankan praktik sederhana, yang saya percaya dapat membantu kita menangkap kembali semangat liturgi dan untuk memusatkan diri kita secara liturgis setiap kali kita merayakan Misa Kudus. Saya anjurkan agar kita mendoakan doa ketika kita mengenakan busana liturgis, yang diterbitkan kembali oleh Kongregasi Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen tahun 2009 dalam Compendium Eucharisticum (lih. Hal. 385). Kerap kali kita mengenakan busana dengan tergesa-gesa, dengan orang-orang yang berbicara berbagai hal. Tapi ini tidak benar! Kita harus berhenti dan memberikan jeda dan fokus akan apa yang hendak kita lakukan. Busana-busana adalah simbol lahiriah yang kaya, dan kita para imam janganlah pernah lupa akan maknanya. Dalam Misa Krisma pertamanya Bapa Suci Fransiskus mengajar tentang ini dalam cara yang paling indah, beliau berkata:

Jubah suci imam agung kaya dalam simbolisme. Salah satu simbolnya ialah nama anak-anak Israel terukir pada batu onyx yang dipasang pada potongan baju efod di bagian bahu, yang merupakan leluhur jubah imam masa kini: enam terukir di batu sisi kanan bahu jubah, dan enam lainnya di sisi kiri (bdk. Kel 28:6-14). Nama-nama duabelas suku Irsrael juga terukir di perisai dada (Es 28:21). Ini berarti bahwa imam merayakan dengan memikul di bahunya orang-orang yang dipercayakan pada perawatannya dan memikul nama mereka yang tertulis di hatinya. Ketika kita mengenakan jubah sederhana kita, ia dapat membuat kita merasa, bahwa di bahu dan di hati kita, ada beban dan wajah umat beriman kita, orang-orang kudus dan para martir jumlahnya banyak di kurun waktu ini (Homili, Misa Krisma, 28 Maret 2013).

Ketiga, pada tingkatan lebih luas saya anjurkan agar kita semua melakukan pemeriksaan batin liturgis. Untuk hal ini, saya rekomendasikan bagian II Anjuran Apostolik Sacramentum Caritatis Benediktus XVI (22 Februari 2007), “Ekaristi, Misteri untuk Dirayakan”. Di sini Paus Emeritus menulis tentang ars celebrandi, “buah dari ketaatan setia terhadap norma liturgis dalam segala kekayaannya” (no. 38) dan bersikukuh bahwa “segala sesuatu yang terkait dengan Ekaristi harus ditandai oleh keindahan” (no. 41). Kita harus membarui kesetiaan kita terhadap Liturgi Suci, saudara-saudaraku – dekade terakhir seringkali menyaksikan kerusakan yang terjadi lantaran ketidaksetiaan terhadap buku-buku liturgis – dan kita harus membarui pengejaran akan keindahan dalam setiap unsur perayaan liturgis, termasuk gestur kita sendiri, perkataan dan bahkan busana. Pertimbangan cermat akan bagian Sacramentum Caritatis ini akan berperan sebagai tuntunan yang sehat dan terpercaya.

Keempat, penting untuk menekankan kebutuhan ini juga dalam perayaan Sakramen-Sakramen kita, karena seringkali perayaan Misa Kudus dipersiapkan dengan baik, tetapi ketika kita merayakan baptisan, terkadang kita ‘mengenakan stola’ dengan sangat cepat dan ‘menunaikan tugas’. Tetapi sakramen-sakramen diberikan dalam ritus liturgis, yang memiliki keindahan dan kompleksitasnya tersendiri. Berapa banyak dari kita yang menggunakan prosesi berbeda dalam ritus baptisan (prosesi menuju altar, ambo, tempat pembaptisan)? Berapa banyak dari kita yang mengenakan busana secara liturgis untuk mendengarkan pengakuan dosa atau untuk mengurapi orang sakit? Saudara-saudara terkasih dalam imamat, mari kita memandang kembali ritus sakramen-sakramen dan mari kita meluangkan waktu untuk merayakannya dengan penuh, secara liturgis: minimalisme adalah musuh dari liturgi yang hidup dan dari usaha menimba secara penuh dari kekayaannya. Mari kita, dengan murah hati, yang mana Allah tidak akan gagal untuk mengganjar kita, memperhatikan seruan St. Thomas Aquinas: “Perbuatlah dan beranilah melakukan sebanyak yang kamu bisa, karena Ia melampaui segala pujian, pujian kita kepada-Nya tiada pernah cukup” (bdk. Sekuensia Misa Corpus Christi). Karena ketika kita merayakan liturgi dengan devosi dan kemurahan hati, dengan perhatian akan keindahan dan kepantasan, dengan iman dan kasih yang meresapi setiap unsur ritus suci, sesungguhnya kita mendoakan liturgi – tidak dalam kata, melainkan dalam perbuatan.

Terakhir, dalam Yubile Tahun Kerahiman, saya tak dapat lalai dalam mengingatkan panggilan kita sebagai bapa pengakuan, sebagai mereka yang keistimewaannya ialah merayakan Sakramen Tobat. Kita semua tahu bahwa bapa pengakuan yang baik adalah imam yang sering mengaku dosa dengan persiapan yang seharusnya. Sama halnya dengan seluruh pelayanan liturgis kita, saudara-saudara terkasih: bila kita sendiri sungguh menghidupi liturgi dengan hati, pikiran, jiwa dan tubuh kita, pelayanan liturgis kita sendiri akan menjadi perpanjangan kehidupan ini. Jadi, dalam Yubile Tahun Kerahiman, mari kita perbarui kembali partisipasi kita dalam sakramen agung ini sehingga umat kita akan menemukan kita para imam, yang pelayanannya ialah memberikan belas kasih Allah yang Mahakuasa dengan kebenaran dan belarasa, pria yang mengenal dan hidup dari belas kasih itu.

Ada banyak unsur kehidupan liturgis lainnya sebagai imam yang dapat kita bicarakan. Bulan lalu, di London, saya memberikan pidato “Menuju Penerapan Otentik Sacrosanctum Concilium” yang membahas unsur lainnya itu. Pidato ini menarik banyak perhatian – beberapa di antaranya tidak selalu akurat! Bagaimanapun, saya rekomendasikan agar anda membaca teks pidato ini (tersedia di internet). Barangkali kita dapat berbicara tentang beberapa pertanyaan berbeda nanti.

MEMBINA UMAT KITA DALAM SEMANGAT DAN DAYA LITURGI

Sebelum mengakhiri, saya ingin berkata sesuatu tentang kewajiban kita untuk membina umat kita dalam semangat dan daya liturgi, sebagaimana dituntut oleh Sacrosanctum Concilium no. 14. Pertama, saya harus berkata bahwa bila kita mendekati Liturgi Suci dengan rasa hormat dan kagum, maka umat kita akan melakukannya juga – mereka akan ‘menangkap’ semangat liturgis dari kita. Itulah sebabnya mengapa ibadat kecil, seperti bersikukuh akan keheningan dan rekoleksi di sakristi dan dengan saleh mendoakan doa saat mengenakan busa, dst, merupakan hal penting.

Tetapi kita harus mengajarkan umat kita apakah Liturgi Suci itu. Dalam dekade terakhir, di beberapa negara, Liturgi Suci telah menjadi terlalu antroposentirs, manusialah yang menjadi pusatnya dan bukan Allah yang Mahakuasa. Keuskupan Agung ini memiliki Uskup Agung yang sangat baik, dan saya pikir masalah ini tidak terlalu besar di sini. Namun kita harus berhati-hati dalam membina umat kita bahwa Allah, dan bukan diri kita, yang adalah pusat dari ibadah kita. Kita tidak datang ke Gereja untuk merayakan apa yang telah kita lakukan atau siapakah kita. Melainkan kita datang untuk merayakan dan bersyukur atas semua yang dilakukan Allah yang Mahakuasa, dan melanjutkan yang telah dilakukan bagi kita dalam kasih dan belas kasih-Nya. Apa yang Dia lakukan dalam liturgi itulah yang hakiki; apa yang kita lakukan ialah mempersembahkan “buah-buah pertama” – yang terbaik yang kita bisa – dalam ibadah dan adorasi. Ketika liturgi modern dirayakan dalam bahasa vernakular dengan imam “menghadap umat”, ada bahaya bahwa manusia, bahkan imam itu sendiri dan kepribadiannya, menjadi terlalu sentral. Dalam setiap liturgi katolik, Gereja, yang terdiri dari pelayan tertahbis dan umat beriman, memberikan perhatian utuhnya – tubuh, hati dan pikiran – kepada Allah yang adalah pusat hidup kita dan asal-usul setiap berkat dan rahmat. Dengan permenungan ini, saya sangat mendorong anda untuk meluangkan waktu dalam membaca dan merenungkan Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium, sembari mengingat intensi dan semangat para Bapa Konsili.

KESIMPULAN

Saudara-saudaraku terkasih, empat minggu yang lalu di Perancis, seorang imam tua, yang sudah melewati usia pensiun, merayakan Misa pagi sebagaimana yang banyak dilakukannya, bahkan ratusan kali sebelumnya. Ia tidak berharap atau mengetahui bahwa pagi itu darahnya sendiri akan ditumpahkan dan bercampur dengan darah Kristus dalam kurban, in odium fidei. Apa yang ia tahu ialah ia ditahbiskan untuk mempersembahkan kurban Misa Kudus setiap hari: bahwa, bahkan di hari tuanya, ia terus melakukannya demi kebaikan Gereja dan demi keselamatan dunia.

Kita terkejut lantaran pembunuhan Bapa Jacques Hamel yang berusia 85 tahun di altar Gereja St Etienne-du-Rouvray tanggal 26 Juli. Semoga Allah melindungi Gereja dari para musuhnya! Semoga rasa hormat kepada Allah, damai, sikap hormat dan toleransi berkuasa di atas bumi!

Dan tanpa menyingkirkan amarah adil yang kita rasakan, bukankan ada sesuatu yang amat indah di sini? Bukankah kesetiaan Bapa Hamel adalah pelajaran dan dorongan bagi kita para imam yang begitu sering merasa lelah di sepanjang perjalanan? Bukankah pengorbanannya, betapapun tak terbenarkan, adalah konsumasi yang pantas akan 58 tahun imamatnya? Saudara-saudaraku, hendaklah kesaksian Bapa Hamel menginspirasi kita. Hendaklah ia menolong kita merenungkan pengajaran Injil dengan lebih mendalam: “Ia yang bertahan sampai pada kesudahannya akan diselamatkan” (Mat 24:13).

Dengan rendah hati saya memohon doa anda sekalian bagi pelayanan khusus saya, dan saya memastikan anda, saudara-saudaraku, bahwa para imam Keuskupan Agung Colombo akan selalu ada dalam hati dan doa-doa saya. Terima kasih. Semoga Allah memberkati anda masing-masing dan semua umat yang anda layani.

© Robert Cardinal Sarah

Prefek Kongregasi Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen

Iklan

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: