10 Tahun Summorum Pontificum: Pidato Kardinal Sarah

FB_IMG_1484096774147

Berikut ini merupakan terjemahan tidak resmi dari pesan Kardinal Sarah, yang diberikan dalam Colloquium  berjudul “The Source of the Future” (“Quelle der Zukunft”). Teks berbahasa Inggris dapat diakses di sini.

+++

Colloquium “The Source of the Future” (“Quelle der Zukunft”)

Dalam peringatan 10 tahun penerbitan
Motu Proprio Summorum Pontificum oleh
Paus Benediktus XVI

 29 Maret – 1 April 2017

Herzogenrath, near Aachen (Germany)

Pesan Pembuka

Pertama, saya ingin mengucapkan terima kasih dari lubuk hati yang terdalam kepada para penyelenggara seminar berjudul “Sumber untuk Masa Depan” dalam rangka memperingati sepuluh tahun Motu Proprio Summorum Pontificum oleh Paus Benediktus XVI, yang mengizinkan saya untuk memberikan pengantar bagi permenungan Anda atas topik ini, yang begitu penting bagi kehidupan Gereja, dan secara khusus, bagi masa depan Liturgi; saya melakukannya dengan sukacita besar. Saya ingin menyapa semua partisipan dalam Seminar ini, secara khusus para anggota dari asosiasi berikut ini yang namanya disebutkan di undangan yang dikirimkan kepada saya, dan saya berharap tidak ada yang terlupakan: Una Voce Jerman, The Catholic Circle of the Priests and Laity of the Archdioceses of Hamburg and Cologne; The Cardinal Newman Association; the Network of the priests of Saint Gertrude Parish in Herzogenrath. Selagi saya menulis kepada Bapa yang terhomat Guido Rodheudt, pastor paroki St. Gertrude di Herzogenrath, saya sangat menyesal karena saya harus menunda partisipasi saya dalam seminar Anda karena adanya kewajiban-kewajiban dadakan dan yang ditambahkan kepada jadwal saya yang sudah demikian padat. Kendati demikian, percayalah bahwa saya akan berada di tengah Anda melalui doa: ia akan menemani Anda setiap hari, dan tentu Anda semua akan hadir pada persembahan Misa Kudus harian yang akan saya rayakan selama empat hari Seminar Anda, dari tanggal 29 Maret hingga 1 April. Oleh sebab itu, saya akan mengawali proceedings Anda sebaik mungkin dengan sebuah permenungan singkat tentang cara menerapkan Summorum Pontificum dalam kesatuan dan damai.

Sebagaimana Anda ketahui, apa yang disebut “gerakan liturgis” di awal abad keduapuluh merupakan intensi Paus Santo Pius X, yang diungkapkan dalam Motu Proprio lainnya berjudul Tra le sollicitudini (1903), untuk memulihkan liturgi guna membuat kekayaannya makin terjangkau, sehingga ia dapat kembali menjadi sumber kehidupan Kristen yang otentik. Oleh sebab itulah, definisi liturgi sebagai “puncak dan sumber kehidupan dan misi Gereja” ditemukan dalam Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium dari Konsili Vatikan II (no. 10). Dan Liturgi sebagai puncak dan sumber Gereja, memiliki fondasinya dalam Kristus sendiri. Sesungguhnya, Tuhan kita Yesus Kristus adalah satu-satunya Imam Agung yang tetap dari Perjanjian Baru dan Kekal, karena Ia mempersembahkan diri-Nya dalam kurban, dan “oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan” (Ibr 10:14). Jadi sebagaimana dinyatakan Katekismus Gereja Katolik, “Misteri Kristus inilah yang Gereja wartakan dan rayakan dalam liturginya sehingga umat beriman dapat hidup darinya dan memberi kesaksian tentangnya di dalam dunia” (no. 1068). “Gerakan liturgis” ini, satu dari buah-buah terbaiknya ialah Konstitusi Sacrosanctum Concilium, adalah konteks untuk merenungkan Motu Proprio Summorium Pontificum tertanggal 7 Juli 2007; kita berbahagia karena merayakan tahun ini dengan sukacita besar dan rasa syukur atas peringatan sepuluh tahun penerbitannya. Kita dapat berkata bahwa “gerakan liturgis” yang diawali Paus St. Pius X tak pernah terputus, dan ia masih berlanjut dalam kurun waktu kita dengan mengikuti dorongan baru yang diberikan kepadanya oleh Paus Benediktus XVI. Mengenai topik ini, kita perlu menyebutkan kepedulian khusus dan perhatian pribadi yang ia perlihatkan dalam merayakan Liturgi Suci sebagai Paus, dan selanjutnya Paus kerap kali, dalam pidato-pidatonya, merujuk kepada sentralitas Liturgi Suci dalam kehidupan Gereja, dan terakhir, dua dokumen Magisterialnya, yakni dokumen Sacramentum Caritatis dan Summorum Pontificum. Dengan kata lain, apa yang disebut aggiornamento[1] liturgi dalam cara tertentu dilengkapi oleh Motu Proprio Summorum Pontificum oleh Paus Benediktus XVI. Apa isi dokumen ini? Paus Emeritus membedakan antara dua bentuk dari Ritus Romawi yang sama: apa yang disebut bentuk “biasa” (ordinary form), mengacu kepada teks-teks liturgis dari Missale Romawi sebagaimana yang direvisi dengan mengikuti panduan Konsili Vatikan II, dan sebuah bentuk “luar biasa” (extraordinary form), yang berhubungan dengan liturgi yang digunakan sebelum aggiornamento liturgi. Jadi, kini dalam ritus Latin atau Romawi, berlakulah dua missal: missal Beato Paus Paulus VI, edisi ketiga tahun 2002, dan missal St. Pius V, edisi terakhirnya dipromulgasikan oleh St. Yohanes XXIII tahun 1962.

Dalam Surat kepada Para Uskup yang mendampingi Motu Proprio, dengan jelas Paus Benediktus XVI menjelaskan bahwa tujuan dari keputusannya untuk memiliki dua missal secara berdampingan bukan hanya untuk memuaskan keinginan beberapa kelompok tertentu dari umat beriman yang memiliki kelekatan terhadap bentuk liturgis sebelum Konsili Vatikan II, tetapi juga untuk mengizinkan mutual enrichment (upaya saling memperkaya) dua bentuk dari Ritus Romawi yang sama, dengan kata lain, bukan hanya ko-eksistensi yang harmonis tetapi juga kemungkinan untuk menyempurnakan mereka dengan menekankan ciri terbaik yang menjadi karakter mereka. Ia menulis secara khusus bahwa “dua bentuk dari penggunaan Ritus Romawi yang sama dapat saling memperkaya: orang-orang Kudus baru dan Prefasi baru dapat dan seharusnya ditambahkan ke dalam Missal yang lama… Perayaan Misa menurut Missal Paulus VI akan mampu memperlihatkan, dengan lebih kuat, kekudusan yang menarik banyak orang kepada penggunaan terdahulu.” Inilah syarat yang mana Paus Emeritus mengungkapkan keinginannya untuk meluncurkan kembali “gerakan liturgis”. Di paroki-paroki yang memungkinkan penerapan Motu Proprio, para pastor memberi kesaksian akan semangat yang lebih besar, baik di antara umat beriman dan imam, sebagaimana kesaksian yang diberikan Bapa Rodheudt sendiri. Mereka juga memperhatikan konsekuensi dari perkembangan rohani dengan cara mengalami liturgi Ekaristis menurut Bentuk Biasa, secara khusus menemukan kembali sikap tubuh yang mengungkapkan adorasi kepada Sakramen Mahakudus: berlutut, genufleksi, dst, dan juga rekoleksi yang kian besar yang ditandai oleh keheningan suci yang harus menandai momen-momen penting dari Kurban Kudus Misa, guna mengizinkan imam dan umat beriman membatinkan misteri iman yang sedang dirayakan. Benar pula bahwa formasi liturgis dan rohani harus didorong dan dipromosikan. Perlu juga untuk mendukung pedagogi yang telah direvisi dengan saksama guna melampui “rubrikisme” formal yang berlebihan dalam menjelaskan ritus-ritus Missal Tridentine kepada mereka yang belum merasa akrab dengannya, atau mereka yang baru mengenalnya secara sebagian… dan terkadang tidak dengan netral. Untuk melakukan itu, sangat perlu dan mendesak untuk menyelesaikan missal dalam dua bahasa: latin-vernakular guna memungkinkan partisipasi umat beriman yang penuh, sadar, intim dan kian berbuah dalam perayaan Ekaristi. Sangat penting juga untuk menekankan kesinambungan antara dua missal melalui katekese liturgis yang pantas… Banyak imam memberi kesaksian bahwa ini merupakan tugas yang menggairahkan, karena mereka dengan sadar bekerja demi pembaruan liturgis, mereka menyumbangkan usaha mereka bagi “gerakan liturgis” yang baru saja kita bicarakan, dengan kata lain, yang kenyataannya merupakan pembaruan mistik dan rohani yang memilki karakter misionaris, yang dimaksudkan oleh Konsili Vatikan II, yang mana Paus Fransiskus memanggil kita dengan penuh semangat. Liturgi, oleh sebab itu, harus selalu diperbarui guna makin setia kepada esensi mistiknya. Tetapi sering kali, “pembaruan” ini menggantikan “restorasi” asli yang dimaksudkan Konsili Vatikan II, dan dilakukan dengan semangat yang dangkal dan atas dasar satu kriteria belaka: untuk memberangus dengan segala upaya sebuah warisan yang harus dipahami sebagai hal yang negatif dan ketinggalan zaman guna menggali jurang antara kurun waktu sebelum dan sesudah Konsili. Kini cukuplah untuk membaca Konstitusi Suci tentang Liturgi Suci dengan jujur, tanpa mengkhianati maknanya, guna melihat bahwa tujuan sejati Konsili Vatikan II bukanlah memulai pembaruan yang dapat menjadi kesempatan untuk memisahkan diri dengan Tradisi, tetapi sebaliknya, untuk menemukan kembali dan meneguhkan Tradisi dalam makna terdalamnya. Sejatinya, apa yang disebut “membarui pembaruan liturgi” (reform of the reform) barangkali harus disebut dengan lebih akurat sebagai “usaha saling memperkaya ritus-ritus”, bila kita menggunakan ungkapan dari Magisterium Benediktus XVI, terutama ini merupakan keharusan rohani. Dan jelas sekali hal ini berhubungan dengan dua bentuk Ritus Romawi. Kepedulian khusus yang harus dibawa ke dalam liturgi, urgensi untuk menjunjung tinggi liturgi dan bekerja bagi keindahannya, karakter sakralnya dan usaha menjaga keseimbangan yang tepat antara kesetiaan kepada Tradisi dan perkembangan yang sah, dan karenanya menolak secara mutlak dan radikal setiap penafsiran yang terputus: unsur-unsur hakiki ini adalah inti dari semua liturgi Kristen yang otentik. Kardinal Joseph Ratzinger tanpa rasa lelah mengulangi bahwa krisis yang mengguncang Gereja selama lima puluh tahun terakhir, terutama setelah Konsili Vatikan II, terkait dengan krisis liturgi, dan karenanya terkait pula dengan kurangnya rasa hormat, desakralisasi, penyamarataan unsur-unsur hakiki dari ibadat ilahi. “Saya yakin”, tulisnya, “bahwa krisis di dalam Gereja yang kita alami kini, sebagian besarnya dikarenakan disintegrasi liturgi.”[2]

Tentu saja, Konsili Vatikan II ingin mendukung partisipasi aktif yang lebih besar dari umat Allah dan untuk membawa kemajuan hari demi hari dalam kehidupan Kristen umat beriman (lih. SC no. 1). Pastinya, beberapa inisiatif yang baik dilaksanakan seturut ketentuan ini. Namun kita tidak bisa menutup mata kita terhadap malapetaka, penghancuran dan skisma yang disebabkan penyelenggara liturgi modern yang hidup dengan merombak liturgi Gereja seturut gagasan mereka. Mereka lupa bahwa tindakan liturgis bukan sekedar DOA, tetapi juga dan terutama merupakan MISTERI yang mana sesuatu dicapai bagi kita, yang tidak bisa kita pahami sepenuhnya tetapi harus kita terima dalam iman, kasih, ketaatan dan keheningan yang menyembah. Dan inilah makna sejati dari partisipasi aktif umat beriman. Partisipasi aktif bukan tentang aktivitas lahiriah secara eksklusif, pembagian peran atau fungsi dalam liturgi, tetapi tentang reseptivitas aktif secara intens: penerimaan ini, dalam Kristus dan bersama Kristus, adalah persembahan diri yang rendah hati dalam doa hening dan sikap yang sungguh kontemplatif. Krisis iman yang serius, tidak hanya di tingkat umat beriman Kristen tetapi juga dan secara khusus di antara banyak imam dan uskup, telah membuat kita tidak mampu memahami liturgi Ekaristi sebagai kurban, sebagai hal yang identik dengan tindakan yang dilakukan sekali dan untuk selamanya oleh Yesus Kristus, yang menghadirkan Kurban Salib dalam cara yang tak-berdarah, di seluruh Gereja, melalui pelbagai zaman, tempat, umat dan bangsa yang berbeda. Seringkali terdapat kecenderungan sakrilegi untuk mereduksi Misa Kudus menjadi perjamuan ramah-tamah sederhana, perayaan pesta profan, perayaan diri komunitas, atau lebih parahnya, pengalihan mengerikan dari derita sebuah kehidupan yang tidak lagi memiliki maknanya atau dari rasa takut berjumpa dengan Allah dari muka ke muka, karena tatapan-Nya menyingkapkan dan mewajibkan kita untuk tetap memandang keburukan kehidupan batin kita. Tetapi Misa Kudus bukanlah pengalihan. Ia adalah kurban Kristus yang hidup yang wafat di salib untuk membebaskan kita dari dosa dan kematian, dengan maksud menyingkapkan kasih dan kemuliaan Allah Bapa. Banyak orang Katolik tidak tahu bahwa tujuan akhir setiap perayaan liturgi adalah kemuliaan dan penyembahan kepada Allah, keselamatan dan pengudusan manusia, karena dalam Liturgi “Allah dimuliakan dengan sempurna dan manusia dikuduskan” (SC no. 7). Sebagian besar umat beriman – termasuk imam dan uskup – tidak mengetahui ajaran Konsili ini. Sama seperti mereka tidak mengetahui bahwa penyembah sejati Allah bukanlah mereka yang membarui liturgi menurut gagasan dan kreativitas mereka, untuk menjadikannya sesuatu yang berkenan bagi dunia, melainkan mereka yang membarui dunia secara mendalam dengan Injil guna mengizinkannya untuk menjangkau sebuah liturgi yang merupakan cerminan liturgi yang dirayakan selamanya di Yerusalem surgawi. Sebagaimana sering kali ditekankan Benediktus XVI, adorasi, dan karenanya Allah, merupakan akar liturgi. Dengan demikian, perlu sekali untuk mengakui bahwa krisis yang serius dan mendalam yang telah mempengaruhi liturgi dan Gereja sejak Konsili, disebabkan oleh fakta bahwa Allah dan adorasi kepada-Nya tidak lagi menjadi PUSAT liturgi, melainkan manusia dan kemampuannya untuk “melakukan” sesuatu supaya mereka sibuk selama perayaan Ekaristi. Bahkan hari ini, sejumlah pemimpin penting Gereja meremehkan krisis serius yang dialami Gereja: relativisme dalam doktrin, moral dan disiplin, pelanggaran serius, desakralisasi dan pendangkalan Liturgi Suci, sebuah sudut pandang horizontal dan sosial akan misi Gereja. Banyak yang percaya dan berseru dengan lantang dan lama bahwa Konsili Vatikan II menghasilkan musim semi sejati di dalam Gereja. Meskipun demikian, sejumlah pemimpin Gereja yang jumlahnya bertambah memandang “musim semi” ini sebagai penolakan, pembuangan warisannya yang berusia ratusan tahun, atau bahkan sebagai upaya mempertanyakan masa lalu dan Tradisinya secara radikal. Eropa politis dicela karena meninggalkan atau menyangkal akar Kristennya. Tetapi yang pertama yang telah meninggalkan akar Kristen dan masa lalunya adalah Gereja Katolik paska-Konsili. Beberapa konferensi episkopal bahkan menolak menerjemahkan dengan setia teks latin orisinil Missale Romawi. Beberapa orang mengklaim bahwa tiap Gereja lokal dapat menerjemahkan Missale Romawi, bukan menurut warisan suci Gereja, yang mengikuti metode dan prinsip yang ditunjukkan oleh Liturgiam authenticam, tetapi menurut fantasi, ideologi, dan ungkapan kultural yang mana, kata mereka, dapat dipahami dan diterima oleh orang-orang. Tetapi orang-orang ingin diinisiasi ke dalam bahasa suci Allah. Injil dan wahyu sendiri “ditafsirkan ulang”, “dikontekstualkan”, dan diadaptasi menurut budaya barat yang dekaden. Pada 1986, Uskup Metz, di Prancis, menulis dalam harian keuskupannya, sebuah hal yang memalukan dan mengerikan yang tampak seperti keinginan dan ungkapan untuk memisahkan diri secara total dengan masa lalu Gereja. Menurut uskup itu, kini kita harus memikirkan ulang konsep keselamatan yang dibawa Yesus Kristus, karena Gereja apostolik dan komunitas Kristen di abad pertama Kekristenan tidak memahami apapun tentang Injil. Hanya di zaman kita rencana keselamatan yang dibawa Yesus Kristus dapat dipahami. Inilah pernyataan lancang dan mengejutkan dari Uskup Metz:

Transformasi dunia (perubahan peradaban) mengajarkan dan menuntut sebuah perubahan dalam konsep keselamatan yang dibawa Yesus Kristus; transformasi ini menyingkapkan pada kita bahwa pemikiran Gereja tentang rencana Allah dulunya, sebelum perubahan masa kini, tidak memadai secara evangelis… Tidak ada zaman manapun, kecuali zaman kita, yang mampu memahami gagasan evangelis tentang kehidupan persaudaraan.[3]

Dengan visi seperti itu, tidaklah mengejutkan bahwa penghancuran, perusakan dan perang terjadi dan bertahan hari ini di tingkat liturgis, doktrinal dan moral, karena mereka mengklaim bahwa tidak ada zaman yang mampu memahami “cita-cita evangelis” sebaik zaman kita. Banyak yang menolak untuk menghadapi karya penghancuran-diri Gereja melalui penghancuran yang disengaja terhadap fondasi doktrinal, liturgis, moral dan pastoralnya. Semakin bertambah suara prelat tingkat atas yang dengan keras kepala menegaskan kesalahan liturgis, doktrinal, dan moral yang telah dikutuk ratusan kali dan yang bekerja untuk melenyapkan iman kecil yang tersisa dalam diri umat Allah, tatkala bahtera Gereja melintasi lautan badai di dunia yang dekaden ini dan diterjang gelombang sehingga bahtera dipenuhi air, sejumlah pemimpin Gereja dan umat beriman berteriak: “Tout va très bien, Madame la Marquise!” [“Semua baik-baik saja, Nyonya”, refrain dari lagu jenaka populer dari tahun 1930an, yang mana pekerja dari seorang wanita bangsawan melaporkan padanya serangkaian malapetaka]. Tetapi realitanya agak berbeda: sesungguhnya, Kardinal Ratzinger berkata:

Apa yang diharapkan para Paus dan Bapa Konsili adalah kesatuan Katolik yang baru, namun sebaliknya yang dijumpai adalah perpecahan yang – menurut perkataan Paulus VI – tampaknya beralih dari kritik-diri menuju penghancuran-diri. Ada ekspektasi akan antusiasme baru, dan seringkali ini berakhir dalam kebosanan dan kekecewaan. Ada ekspektasi akan sebuah langkah maju, namun sebaliknya seseorang menemukan dirinya menghadapi proses kemerosotan yang kian berkembang yang sebagian besar telah tersingkap di balik tanda panggilan kepada “semangat Konsili” dan dengan melakukannya, sesungguhnya telah semakin mendiskreditnya.[4]

“Tak seorang pun dapat secara serius menyangkal perwujudan kritis” dan perang liturgi yang disebabkan Konsili Vatikan II. Kini mereka terus berlanjut dengan memecah dan menghancurkan Missale Romanum dengan menyerahkannya kepada eksperimen-eksperiman dalam keberagaman budaya dan penghimpun teks-teks liturgis. Di sini saya bahagia karena saya mengucapkan selamat atas karya yang sangat menakjubkan yang dicapai oleh Vox Clara, oleh Konferensi Episkopal berbahasa Inggris, oleh Konferensi Episkopal berbahasa Korea dan Spanyol, dst, yang telah menerjemahkan Missale Romanum dengan setia dalam keselarasan sempurna dengan pedoman dan prinsip Liturgiam authenticam, dan Kongregasi Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen telah memberikan recognitio atau persetujuan pada mereka.

Setelah penerbitan buku saya God or Nothing, orang-orang bertanya pada saya tentang “perang liturgi” yang selama beberapa dekade telah memecah-belah umat Katolik. Saya nyatakan bahwa itu adalah penyimpangan, karena liturgi merupakan ruang par excellence tempat umat Katolik harus mengalami kesatuan dalam kebenaran, dalam iman dan kasih, dan konsekuensinya, sulit dibayangkan untuk merayakan liturgi dengan hati yang menyimpan dendam lantaran perang saudara. Selain itu, bukankah Yesus mengucapkan kata yang sangat menuntut, yakni tentang pergi dan berdamai dengan saudara sebelum menghadirkan kurban di altar? (Lih. Mat 5:23-24).

Di lain pihak liturgi sendiri mendorong umat beriman, supaya sesudah dipuaskan “dengan Sakramen-sakramen Paska menjadi sehati-sejiwa dalam kasih”[6]Liturgi berdoa supaya “mereka mengamalkan dalam hidup sehari-hari apa yang mereka peroleh dalam iman”. Adapun pembaharuan perjanjian Tuhan dengan manusia dalam Ekaristi menarik dan mengobarkan Umat beriman dalam cinta kasih Kristus yang membara. Jadi dari liturgi, terutama dari Ekaristi, bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita, dan dengan hasil guna yang amat besar diperoleh pengudusan manusia dan permuliaan Allah dalam Kristus, tujuan semua karya Gereja lainnya.

(Sacrosanctum Concilium, no. 10)

Dalam “perjumpaan dari muka ke muka”, yang adalah liturgi, hati kita harus murni dari segala perseteruan, yang mengandaikan bahwa setiap orang harus dihormati dengan perasaannya. Ini secara konkret berarti bahwa, walau harus ditegaskan bahwa Konsili Vatikan II tidak pernah membuat masa lalu menjadi tabula rasa dan karenanya meninggalkan Missale St. Pius V, yang menghasilkan begitu banyak orang kudus, tidak lupa pula tiga imam yang mengagumkan seperti St. Yohanes Vianney, Pastor dari Ars, St. Pius dari Pietrelcina (Padre Pio), dan Santo Josemaría Escrivá de Balaguer, namun pada saat yang sama, merupakan hal yang hakiki untuk mendukung pembaruan liturgi yang dimaksudkan Konsili yang sama, dan dengan demikian buku-buku liturgi diperbarui setelah Konstitusi Sacrosanctum Concilium, secara khusus Missale Beato Paulus VI. Dan saya menambahkan bahwa terutama, entah seseorang merayakan dalam Bentuk Biasa atau Luar Biasa, yang penting ialah untuk membawa umat beriman kepada sesuatu yang menjadi hak mereka: keindahan liturgi, kesuciannya, keheningan, rekoleksi, dimensi mistik dan adorasi. Liturgi harus menempatkan kita berhadapan dengan Allah dari muka ke muka dalam relasi pribadi yang amat intim. Ia harus menceburkan kita ke dalam kehidupan batin Tritunggal Mahakudus. Dalam Surat yang mendampingi Summorum Pontificum, Paus Benediktus XVI berbicara tentang usus antiquor (bentuk Misa yang lama):

Segera setelah Konsili Vatikan II, diasumsikan bahwa permintaan untuk menggunakan Missale 1962 akan dibatasi pada generasi tua yang bertumbuh bersama dengannya, tetapi sementara itu, telah dengan jelas diperlihatkan bahwa orang muda pun telah menemukan bentuk liturgis ini, mereka merasakan daya tariknya dan di dalamnya menemukan sebuah bentuk perjumpaan dengan Misteri Ekaristi Mahasuci, yang secara khusus pas dengan mereka.

Ini adalah realita yang tak terhindarkan, sebuah tanda sejati di zaman kita. Ketika orang muda absen dari Liturgi Suci, kita harus bertanya pada diri kita: Mengapa? Kita harus memastikan bahwa perayaan menurut usus recentior (bentuk Misa yang lebih baru) memfasilitasi perjumpaan ini juga, sehingga mereka mengarahkan umat di jalan keindahan (via pulchritudinis) yang melalui ritus sucinya menuntun kepada Kristus yang hidup dan kepada karya di dalam Gereja-Nya hari ini. Sungguh, Ekaristi bukanlah semacam “makan malam di antara sahabat”, perjamuan ramah-tamah komunitas, melainkan ia merupakan Misteri Suci, Misteri iman agung kita, perayaan Penebusan yang dicapai Tuhan kita Yesus Kristus, peringatan akan kematian Yesus di salib untuk membebaskan kita dari dosa kita. Jadi, sungguh pantas merayakan Misa Suci dengan keindahan dan semangat suci Pastor dari Ars, Padre Pio, atau St. Josemaria, dan ini adalah sine qua non (kondisi yang hakiki) untuk tiba pada rekonsiliasi liturgis “melalui cara yang benar”, bila saya boleh mengatakan demikian[7]. Dengan lantang saya menolak menghabiskan waktu untuk mempertentangkan satu liturgi dengan yang lain, atau mempertentangkan Missale St. Pius V dengan Missale Beato Paulus VI. Melainkan, persoalannya ialah perihal masuk ke dalam keheningan agung liturgi, dengan membiarkan kita diperkaya oleh segala bentuk liturgis, entah itu Latin atau Timur. Sungguh, tanpa dimensi mistik dari keheningan dan tanpa semangat kontemplatif, liturgi akan tetap menjadi ajang perseteruan berlandaskan kebencian, konfrontasi ideologis dan penghinaan publik terhadap kaum lemah oleh mereka yang mengklaim memiliki otoritas, dan bukannya menjadi tempat bagi kesatuan kita dan persekutuan di dalam Tuhan. Jadi, alih-alih menjadi kesempatan untuk berseteru dan membenci satu sama lain, liturgi harus membawa kita semua bersama-sama mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus… tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala (bdk. Ef 4:13-15).[8]

Sebagaimana Anda ketahui, liturgist kesohor Jerman Msgr. Klaus Gember (1919-1989) menggunakan kata Heimat untuk menunjuk kepada rumah bersama ini atau “tanah air kecil” umat Katolik yang berkumpul di sekitar altar Kurban Suci. Kepekaan akan yang suci, yang mengilhami dan mengairi ritus-ritus Gereja, terkait erat dengan liturgi. Kini dalam beberapa dekade terakhir, banyak, banyak umat beriman dilukai atau merasa sangat terganggu dengan perayaan yang ditandai oleh kedangkalan, subjektivisme yang merusak, sampai pada titik ketika mereka tidak mengakui tanah air mereka, rumah milik mereka, sementara yang termuda di antara mereka tidak pernah mengenalnya! Betapa banyak yang beranjak pergi, khususnya yang paling kecil dan miskin di antara mereka! Mereka telah menjadi “tuna wisma liturgis”. “Gerakan liturgis”, yang mana dua bentuknya saling terkait, bertujuan untuk memulihkan rumah mereka kepadanya dan membawa mereka kembali ke rumah milik mereka, karena kita tahu dengan sangat baik bahwa, dalam karya-karyanya mengenai teologi sakramental, Joseph Cardinal Ratzinger, sebelum publikasi Summorum Pontificum, telah menunjukkan bahwa krisis di dalam Gereja dan karenanya krisis yang melemahkan iman sebagian besar berasal dari cara kita memperlakukan liturgi, yang menurut pepatah lama: lex orandi, lex credendi (hukum iman adalah hukum doa). Dalam pengantar yang ia tulis untuk edisi Perancis dari karya magisterial Mgr. Gamber, La réforme de la liturgie romaine [English edition: The Reform of the Roman Liturgy], bakal Paus Benediktus XVI mengatakan ini, dan saya mengutipnya:

Belakangan ini seorang imam muda berkata pada saya, “Apa yang kita perlukan hari ini adalah gerakan liturgi baru.” Ini adalah ungkapan kepedulian yang saat ini hanya dapat diabaikan dengan sengaja oleh mereka yang berpikiran dangkal. Yang penting bagi imam ini bukan memenangkan kebebasan yang baru dan berani: kebebasan apa yang belum diambil secara arogan? Ia berpikir bahwa kita memerlukan sebuah awal baru yang berasal dari dalam liturgi, sama seperti yang dimaksudkan gerakan liturgis ketika ia berada di puncak kodrat sejatinya, ketika ia bukan perkara menciptakan teks atau membuat aksi dan bentuk, tetapi soal menemukan kembali pusat yang hidup, perihal menembus ke dalam jaringan liturgi, sehingga perayaan dapat berasal dari hakikatnya. Pembaruan liturgi, dalam penerapan konkretnya, telah menyimpang jauh dari asal-usulnya. Akibatnya bukanlah kebangkitan, melainkan penghancuran. Di satu sisi, kita memiliki liturgi yang merosot menjadi pertunjukkan, yang mana seseorang berupaya membuat agama menjadi menarik dengan bantuan inovasi yang trendi dan kata-kata basi yang mudah diingat, dengan keberhasilan jangka-pendek di dalam asosiasi pakar liturgi, dan bahkan lebih jelas lagi ialah sikap menarik diri terhadap mereka yang tidak mencari “pembawa acara” rohani dalam liturgi, melainkan perjumpaan dengan Allah yang hidup yang di hadapan-Nya semua “yang dibuat” menjadi tak berarti, karena perjumpaan itu sendiri mampu memberikan kita akses kepada kekayaan makhluk yang sejati. Di sisi lain, terdapat konservasi bentuk ritual yang keagungannya selalu menyentuh kita, tetapi yang bila dibawa terlalu ekstrim, akan menampilkan isolasi yang keras kepala dan akhirnya hanya menyisakan kesedihan. Tentu saja, di antara dua kutub ini masih ada imam dan umat paroki yang merayakan liturgi baru dengan rasa hormat dan khidmat; tetapi mereka dipertanyakan oleh kontradiksi di antara dua ekstrim, dan kurangnya kesatuan internal dalam Gereja akhirnya menjadikan kesetiaan mereka tampil,  yang secara keliru dalam banyak kasus, menjadi merek neo-konservatisme pribadi. Karena seperti itulah situasinya, dorongan rohani baru diperlukan agar liturgi sekali lagi menjadi bagi kita sebuah aktivitas komunitarian Gereja dan agar ia dibebaskan dari kesewenang-wenangan. Seseorang tidak dapat “membuat” gerakan liturgis macam itu – sama seperti orang tidak dapat “membuat” makhluk hidup – tetapi seseorang dapat berkontribusi terhadap perkembangannya dengan berupaya mengasimilasi semangat liturgi secara baru, dan dengan membela secara publik apa yang telah diteirma seseorang dalam cara ini.

Saya pikir kutipan yang panjang ini, yang begitu jelas dan akurat, akan menarik perhatian Anda, di awal Seminar ini, dan juga seharusnya membantu Anda mengawali permenungan anda tentang “sumber untuk masa depan” dari Motu Proprio Summorum Pontificum. Sungguh, izinkan saya menyampaikan pada anda sebuah keyakinan yang saya anut sejak lama: liturgi Romawi, yang diperdamaikan dalam dua bentuknya, yang merupakan “buah sebuah perkembangan”, sebagaimana dikatakan liturgist Jerman Joseph Jungmann, dapat mengawali proses yang menentukan dari “gerakan liturgis” yang telah dinantikan sekian lama oleh banyak imam dan umat. Dari mana memulainya? Saya mengajukan pada anda tiga jalan, yang saya rangkum dalam tiga huruf berbahasa Inggris dan Perancis: SAF: silence – adoration – formation (keheningan, adorasi, formasi), dan dalam bahasa Jerman: SAA, Stille-Anbetung-Ausbildung. Pertama, keheningan suci, tanpanya kita tidak dapat berjumpa dengan Allah. Dalam buku saya The Power of Silence, saya menulis: “Dalam keheningan, manusia memperoleh kemuliaannya dan keagungannya hanya bila ia berlutut untuk mendengar dan menyembah Allah” (no. 66). Selanjutnya, adorasi, berkaitan dengan ini saya mengutip pengalaman rohani saya dalam buku yang sama, The Power of Silence:

Bagi saya, saya tahu bahwa semua momen besar di hari saya ditemukan dalam momen-momen tiada tiara yang saya habiskan dengan berlutut dalam kegelapan di hadapan Sakramen Mahakudus Tubuh dan Darah Tuhan kita Yesus Kristus. Boleh dikatakan, saya ditelan dalam Allah dan dikelilingi di segala sisi oleh kehadiran-Nya. Saya hendak menjadi milik Allah semata dan menceburkan diri ke dalam kemurnian kasih-Nya. Dan saya bisa berkata betapa miskinnya saya, betapa jauh saya dari mengasihi Tuhan sebagaimana Ia mengasihi saya hingga pada titik memberikan diri-Nya bagi saya. (no. 54).

Terakhir, formasi liturgis berdasarkan pewartaan iman atau katekese yang mengacu pada Katekismus Gereja Katolik, yang melindungi kita dari ocehan terpelajar beberapa teolog yang rindu akan “hal-hal baru”. Inilah yang saya katakan dalam pidato saya, yang secara umum disebut sambil bercanda dengan nama “Diskusus London” tanggal 5 Juli 2016, yang diberikan saat Konferensi Internasional Ketiga Sacra Liturgia:

Formasi liturgis, pertama dan secara hakiki ialah penceburan ke dalam liturgi, ke kedalaman misteri Allah Bapa kita yang penuh kasih. Ini merupakan ihwal menghidupi liturgi dengan segala kekayaannya, sehingga dengan meminum secara mendalam dari sumbernya, kita selalu memiliki rasa dahaga akan kenikmatannya, keteraturannya, dan keindahannya, keheningan dan kontemplasinya, kemampuannya untuk menghubungkan kita secara intim dengan Dia yang bekerja di dalam dan melalui ritus suci Gereja.[9]

Dalam konteks global ini, oleh karena itu, dan dalam semangat iman dan persekutuan mendalam dengan ketaatan Kristus di salib, dengan rendah hati saya memohon pada Anda untuk menerapkan Summorum Pontificum dengan sangat saksama; bukan sebagai tolok ukur yang negatif dan berjalan mundur yang memandang masa lalu, atau sebagai sesuatu yang membangun tembok dan menciptakan gua, tetapi sebagai kontribusi penting dan nyata bagi masa kini dan masa depan kehidupan liturgis Gereja, dan juga bagi gerakan liturgis di era kita, yang darinya semakin banyak orang, dan khususnya orang muda, yang menimba begitu banyak hal yang benar, baik dan indah.

Saya hendak menutup pengantar ini dengan perkataan Benediktus XVI yang menerangi kita, yang diucapkan di akhir homili yang diberikannya tahun 2008, pada Hari Raya St. Petrus dan Paulus: “Ketika dunia dalam segala bagiannya telah menjadi liturgi Allah, ketika, dalam realitanya, ia telah menjadi adorasi, maka ia telah mencapai tujuannya dan akan terbebas dari marabahaya.”

Saya berterima kasih atas perhatian Anda. Dan semoga Allah memberkati Anda dan memenuhi hidup Anda dengan kehadiran-Nya yang hening!

Robert Cardinal Sarah
Prefek Kongregasi Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen.

Catatan Kaki

  1. “Aggiornamento” merupakan istilah bahasa Italia yang berarti “membarui”. Kita merayakan lima puluh tahun Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium tahun 2013, karena ia dipromulgasikan tanggal 4 Desember 1963.
  2. Joseph Ratzinger, Milestones: Memoirs: 1927-1977, translated by Erasmo Leiva-Merikakis (San Francisco: Ignatius Press, 1998), 148.
  3. Cited by Jean Madiran, L’hérésie du XX siècle (Paris: Nouvelles Editions Latines [NEL], 1968), 166.
  4. Joseph Ratzinger and Vittorio Messori, The Ratzinger Report: An exclusive interview on the state of the Church, translated by Salvator Attanasio and Graham Harrison (San Francisco: Ignatius Press, 1985), 29-30.
  5. Joseph Ratzinger, Principles of Catholic Theology: Building Stones for a Fundamental Theology, translated by Sister Mary Frances McCarthy, S.N.D. (San Francisco: Ignatius Press, 1992), 370.
  6. Cf. Postcommunion for the Easter Vigil and Easter Sunday.
  7. Cf. Interview with the Catholic website Aleteia, March 4, 2015.
  8. Cf. Interview with La Nef, October 2016, question 9.
  9. Cardinal Robert Sarah: Third International Conference of the Sacra Liturgia Association, London. Speech given on July 5, 2016. See the Sacra Liturgia website: “Towards an Authentic Implementation of Sacrosanctum Concilium”, July 11, 2016.http://www.sacraliturgia.org/2016/07/robert-cardinal-sarah-towards-authentic.html
Iklan

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: