St. Yoseph: Taat dan Mengabdi dalam Sunyi

22909774254_9ab161b824_kHari ini Gereja merayakan Hari Raya St. Yoseph, pelindung Gereja (namun karena masa Prapaskah, kita merayakannya besok tanggal 20 Maret), sekaligus juga pelindung para ayah dalam keluarga. Momen ini adalah momen yang penting bagi kita untuk merenungkan peran ayah dalam keluarga, khususnya dalam terang panggilan dan misi St. Yoseph.

Bila ada orang suci yang paling “sunyi” alias yang paling tidak kita ketahui perkataannya, maka St. Yoseph lah orangnya. Kitab Suci tidak memberikan kita petunjuk apapun mengenai perkataannya. Aspek “keheningan” atau “kesunyian” inilah yang menarik untuk direnungkan.

Berdasarkan kisah santo/a yang pernah saya baca – dan mungkin saya tidak membaca terlalu banyak – sedikit sekali sosok orang kudus – selain St. Yoseph – yang dapat menjadi teladan bagi para ayah. Malah dapat dikatakan bahwa sosok ayah justru malah memberikan teladan yang negatif. Misal: kita tahu bahwa ayah St. Agustinus dari Hippo adalah seorang pagan, sebelum kemudian ia dibaptis menjadi Katolik berkat pengaruh St. Monika. St. Agustinus selalu disandingkan dengan St. Monika, bukan dengan ayahnya. Pengaruh St. Monika terhadap St. Agustinus jelas lebih kuat dan dominan.  Ayah St. Aloysius Gonzaga termasuk orang yang cukup gigih dalam menentang panggilan anaknya untuk menjadi imam (ini sesuatu yang masih kita jumpai saat ini), sebelum akhirnya merelakan anaknya menjadi imam Yesuit. St. Fransiskus Asisi pun juga harus terlibat konflik dengan ayahnya terkait dengan pilihannya untuk hidup miskin. Barangkali sosok ayah yang dapat dijadikan teladan adalah ayah St. Theresia dari Lisieux, St. Louis, yang bersama istrinya, belum lama ini dikanonisasi Paus. Namun ini pun kita harus menunggu hingga tahun 2015 untuk mendapatkan sosok teladan yang baru.

Sekarang mari kita melihat ke situasi zaman kita. Di dunia barat, sosok ayah sedang mengalami krisis. Ada banyak anak-anak yang kehilangan sosok ayah, padahal sosok ayah memiliki peran penting dan positif dalam perkembangan anak (sayangnya, untuk saat ini, saya tidak bisa dan tidak sempat melampirkan bukti penelitian psikologi yang ada). Namun di budaya lain, sisi kebapakan seorang ayah bisa jadi lebih menonjolkan sisi otoriter: ayah adalah sosok yang pemikiran dan keinginannya harus dipenuhi, dengan mengabaikan dan mengorbankan pemikiran dan kebebasan seorang anak. Selain itu, tanggung jawab seorang ayah sebagai pencari nafkah juga sangat berpotensi menciptakan kekosongan dalam hati anak-anak. Seorang ayah yang sibuk bisa saja hadir secara fisik di rumah namun tidak eksis secara emosional bagi anak-anaknya. Penjelasan saya ini mungkin tidak bisa dipukul rata begitu saja, namun setidaknya inilah kepingan realita yang saya jumpai. Oleh sebab itu, kalau dalam Kitab Suci kita menemukan perumpamaan anak yang hilang, maka rasanya pas sekali kalau di zaman kita ini muncul “perumpamaan” yang baru: yakni perumpamaan ayah yang hilang. Hilangnya sosok sang ayah ini tentu menimbulkan “kesunyian” yang berbeda dari kesunyian yang diperlihatkan St. Yoseph.

Saya rasa kesunyian St. Yoseph ini lah yang perlu diteladani para ayah dan calon ayah. Kesunyian St. Yoseph bukanlah ketiadaan diri – entah itu secara fisik atau emosional – melainkan kesunyian itu timbul dari relasinya yang mendalam dengan Allah, dan ini justru terungkap dalam kehadirannya, dalam bentuk pengabdiannya terhadap keluarga kudus Nazareth. Paus Benediktus XVI berkata:

Keheningan St. Yoseph adalah keheningan yang diresapi oleh misteri Allah, dalam sikap menyediakan diri secara total bagi keinginan ilahi. Dengan kata lain, keheningan St. Yoseph bukanlah kekosongan batin, sebaliknya, kehenigannya merupakan tanda kepenuhan iman yang ia bawa di dalam hatinya, dan yang menuntun tiap-tiap dan seluruh pikiran dan perbuatannya.

Injil menggambarkan sosok St. Yoseph sebagai seseorang yang menjalani ketaatan dalam kesunyian. Tentu kita masih ingat perkataan Malaikat kepada Yoseph: jangan takut untuk menjadikan Maria istrimu. Lalu Yoseph pun segera menaatinya. Ketaatan tidak membutuhkan banyak kata, melainkan memerlukan kesigapan yang menjelma dalam aksi. Bentuk pengabdian berlandaskan iman, secara konkret diwujudkan dalam pemenuhan tanggung jawab sehari-hari, adalah bentuk komunikasi yang mampu menyentuh hati manusia. Sekali lagi, Paus Benediktus XVI mengungkapkan demikian:

“Dalam diri Yoseph, iman tidak terpisah dari tindakan. Imannya memiliki dampak yang menentukan atas tindakannya. Secara paradoks, dengan bertindak, dengan melaksanakan tanggung jawabnya lah ia menyingkir dan membiarkan Allah bebas untuk bertindak, tidak menempatkan hambatan di jalan-Nya. Yoseph adalah ‘orang benar’ karena keberadaannya diselaraskan dengan Sabda Allah (Joseph is a ‘just man because his existence is ‘ad-justed’ to the word of God.)”

“Selama sebagian besar kehidupan-Nya Yesus mengambil bagian dalam nasib kebanyakan manusia: kehidupan biasa tanpa kebesaran lahiriah, kehidupan seorang pengrajin, kehidupan religius Yahudi yang takluk kepada hukum Allah Bdk. Gal 4:4., kehidupan dalam persekutuan desa. Dari seluruh periode ini, hanya inilah yang diwahyukan kepada kita bahwa Yesus “taat” kepada orang-tua-Nya dan bertambah “hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia”. (Luk 2:51-52)” (KGK 531). St. Yoseph sudah tidak ada ketika Yesus menjalani misinya secara publik, namun dengan pasti kita dapat berkata bahwa St. Yoseph hadir dalam misteri kehidupan Yesus yang tersembunyi. Sebagaimana dikatakan dengan indah dalam Katekismus Gereja Katolik:

Kehidupan yang tersembunyi di Nasaret memungkinkan setiap orang, supaya berada bersama Yesus dalam kegiatan sehari-hari:

“Rumah di Nasaret adalah sebuah sekolah, di mana orang mulai mengerti kehidupan Kristus. Itulah sekolah Injil… Pertama-tama ia mengajarkan keheningan. Semoga hiduplah di dalam kita penghargaan yang besar terhadap keheningan… sikap roh yang mengagumkan dan yang perlu ini… Di sini kita belajar, betapa pentingnya kehidupan di rumah. Nasaret memperingatkan kita akan apa sebenarnya keluarga, akan kebersamaannya dalam cinta, akan martabatnya, akan keindahannya yang gemilang, akan kekudusannya, dan haknya yang tidak dapat diganggu gugat… Akhirnya kita belajar di sini aturan bekerja dengan penuh ketertiban. O mimbar Nasaret, rumah putera pengrajin. Di sini ingin saya kenal dan rayakan hukum pekerjaan manusiawi yang keras, tetapi membebaskan… Akhirnya saya ingin menyampaikan berkat kepada para pekerja di seluruh dunia dan menunjukkan kepada mereka contoh luhur saudara ilahinya” (Paulus VI, pidato 5 Januari 1964 di Nasaret).

Saya yakin St. Yoseph turut berperan dalam menciptakan suasana rumah sebagaimana yang saya tebalkan di atas. Di Hari Raya St. Yoseph ini, ada baiknya, terutama bagi para ayah, untuk kembali menemukan makna keluarga dan mewujudkan “kebersamaan dalam cinta”. Dan agar teladan St. Yoseph dapat kian dihayati, ada baiknya pula bila Anjuran Apostolik Redemptoris Custos dari St. Yohanes Paulus II mengenai St. Yoseph, dibaca dan direnungkan dalam doa. St. Yoseph, doakanlah kami!

Iklan

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: