Video Katekese “Ad Orientem” atau Menghadap Timur

Apa itu Ad Orientem? Istilah ini mengacu kepada orientasi imam dan umat yang sama-sama menghadap timur (secara geografis), atau menghadap Allah dalam Misa. Sering dikatakan bahwa Konsili Vatikan II mengharuskan imam menghadap umat dalam liturgi. Ini keliru. Hal ini tidak pernah menjadi mandat Konsili, dan tidak ada dalam Konstitusi Sacrosanctum Concilium. Hilangnya Ad Orientem merupakan contoh pembaruan liturgi yang kebablasan, dan oleh karena itulah, Kardinal Sarah sempat berseru kepada para imam untuk kembali mengupayakan Ad Orientem dalam Misa.

Berikut ini merupakan video katekese sederhana yang menjelaskan dengan indah mengenai orientasi imam dan umat yang sama-sama menghadap timur (juga disebut menghadap Tuhan). Transkrip videonya ada di bawah (kata dalam kurung siku […] adalah tambahan dari saya untuk memudahkan pemahaman), dan sudah dikerjakan sedemikian sehingga mudah dimengerti. Selamat menikmati.

Pertama kali saya merasakan Misa Ad Orientem di Basilika St. Petrus, saya baru menjadi imam selama satu setengah tahun, saya sedang berziarah dan tidak tahu harus melakukan apa. Dan saya berkata: “kapan saya harus berbalik” (imam tertawa) and I was totally lost. Saya belum pernah berlatih tentang ini. Seorang imam harus belajar sendiri karena hal ini tidak diajarkan di seminari. Saya tidak pernah diajari tentang ini. Misa selalu menghadap ke umat, dan anehnya, ini sungguh ironis, karena ada petunjuk dalam Missale Romanum yang berkata “imam berbalik menghadap umat dan berkata”. Mengapa dikatakan “berbalik menghadap umat” bila imam sudah menghadap umat?

Liturgi adalah puncak kehidupan Kristen dan ibadah, liturgi adalah puncak dari ungkapan apa artinya menyembah Allah. Bila liturgi adalah puncak kehidupan doa kita, puncak kehidupan semua pemikiran kita, puncak ibadah kita, bila benar demikian, maka liturgi adalah harta karun yang harus dijaga, dan apa yang telah kita warisi dari tradisi berusia dua ribu tahun di dalam Gereja harus dijaga, dihormati, diserap dan disatukan ke dalam kehidupan modern.

Ad Orientem berarti menghadap timur, dan mengapa menghadap timur? Ini berarti menghadap matahari terbit, Kristus berkata bahwa ia akan datang kembali dari timur, kita menantikan kedatangan-Nya yang kedua, selagi kita memandang salib, kita masuk dari barat, dari kegelapan, kita memandang matahari terbit, yakni Kristus. Dan kita keluar sebagai terang Kristus, terang dunia, untuk membuat perbedaan dengan kabar baik-Nya.

Jadi, sudah sejak permulaan, Gereja berupaya menata altar sedemikian rupa, sehingga imam menghadap timur, bila memungkinkan, terkadang hal ini tidak mungkin… timur adalah titiknya, selagi kamu mengarahkan perhatianmu bukan kepada orang-orang, pada titik tertentu dalam Misa, tetapi imam mengarahkan perhatianmu ke timur, ke dinding belakang (rear wall), ke salib, kepada Allah. Imam tidak seharusnya melihat ke umat. Jadi gagasan bahwa imam tidak seharusnya menghadap umat ketika berdoa kepada Allah adalah kunci ketika merayakan Misa Ad Orientem. Orang-orang yang menentang Ad Orientem, mereduksinya menjadi hal yang absurd dan berkata, bahwa gagasan berdiri sepanjang Misa membelakangi umat itu hal yang repugnant (canggung). Ya, benar demikian! Tak ada yang menyarankan hal ini. Ketika imam berbicara kepada umat, ia menghadap umat dan berkata kepada mereka, ketika ia berbicara kepada Allah, ia harus memandang salib atau rear wall.

Saya orang muda. Saya tidak merindukan Ad Orientem karena nostalgia, saya menginginkannya karena hal ini mempengaruhi jiwa saya, saya tahu Ad Orientem baik untuk saya dan juga keluarga saya, imam tidak memperlihatkan punggungnya kepada kita, sesungguhnya ia menghadap ke arah yang sama seperti kita, ia menuntun kita menghadap Tuhan, melalui bahasa tubuhnya imam berkata “ini bukan tentang saya, ini tentang Tuhan dan kita semua sedang melakukan perjalanan menuju Tuhan bersama-sama”. Distraksi karena adanya wajah insani sang imam yang melihat anda selama konsekrasi dihilangkan. Dengan Ad Orientem, semua wajah, semua mata tertuju ke arah yang sama, menuju Yesus yang sungguh hadir di dalam Ekaristi.

Ya, busana imam memang berbicara tentang imam: “lihatlah saya”, busana tersebut menarik perhatian kepada manusia, yang adalah imam, tetapi apa yang ia lakukan terhadap perhatian itu ialah ia mengarahkan mereka kepada Allah, ia tidak memandang mereka dan menghibur mereka, ia tetap tinggal sebagai pribadi yang anonim, dan imam merayakan dengan kurang pantas ketika seluruh perhatiannya terpusat pada jemaat. Ia lebih melakukan rekoleksi, lebih terlibat secara rohani dalam apa yang ia lakukan, ketika ia mengkonsekrasi Hosti Ad Orientem.

Dulu saya adalah seorang imam sekaligus aktor, dan saya tidak sadar betapa banyaknya hal itu [dalam diri saya], dan tentu ini menjadi tentang saya, tentang mereka yang berada di bangku umat, dan tentang saya yang memuaskan mereka seakan mereka adalah audiens. Mereka bukan audiens, kita beribadah bersama. Mereka mungkin terbiasa dengan imam yang melibatkan diri dengan mereka, bahkan ketika doa tidak diarahkan pada mereka melainkan kepada Allah, dan kenapa kita tidak mencoba Ad Orientem dan melihat apakah hal ini mengubah sikap kita, dan saya lihat ini terbukti mengubah sikap kita, saya lebih fokus sebagai imam dan distraksi-distraksi lenyap.

[Ad Orientem] itu baik untuk imam dan umat, dan sesungguhnya hal ini sejalan dalam kesinambungan dengan intensi Konsili Vatikan II. Secara pribadi, saya anggap sebagai skandal, keberadaan orang-orang di dalam gereja yang secara publik menentang postur ini. Saya menyadari tren yang menggelisahkan, ketika orang-orang yang berusaha setia kepada Bunda Gereja yang suci dalam sakramen-sakramen, malah diperlakukan layaknya beban, layaknya warga kelas dua. Ini sangat tidak pastoral!

Apa yang dapat dilakukan umat awam, pertama-tama, ialah berdoa, memohon kepada Allah untuk mengilhami uskup dan pastor mereka, kedua, mereka dapat berbicara kepada pastor mereka, memberitahu mereka bahwa mereka akan menyambut Ad Orientem. Bila sejumlah orang yang memadai di paroki memberitahu sang pastor bahwa mereka tidak takut dengan Ad Orientem, mereka akan menyambutnya, dan sang pastor akan memiliki keberanian yang cukup untuk melakukannya. Lakukan saja [Ad Orientem], dengan katekese yang memadai, supaya umat tidak terkejut. Inilah masalah pembaruan setelah Konsili Vatikan II: perubahan terjadi tanpa peringatan apapun, jadi kita tidak boleh melakukan hal seperti itu sekarang. Ketika berusaha memulihkan Misa Ad Orientem, kita harus melakukannya secara bertahap, dengan katekese yang memadai, dan ya lakukan saja, dan akhirnya mereka akan mengerti dan bertumbuh.

Saya pikir [ini hal yang baik] apabila orang-orang menyempatkan diri untuk melihat [Ad Orientem], tidak hanya sekali atau dua kali, tapi sungguh mencobanya: saya akan pergi ke beberapa Misa, sungguh berusaha mengapresiasi kenyataan bahwa gereja sungguh melakukan [Ad Orientem] selama ratusan dan ratusan tahun.

Prefek Kongregasi Ibadah Ilahi telah menjelaskan sejelas-jelasnya bahwa postur ini tidak hanya licit, tetapi juga layak digunakan dalam Ordinary Form (Misa Novus Ordo). Karena hal ini tampak baru bagi sebagian orang ketika mereka pertama kali mengalaminya, maka ini akan sedikit terasa berbeda, tetapi sekalinya mereka telah memasuki Misa, sekalinya mereka telah masuk ke dalam misteri, mereka akan merasa bahwa imam mempersembahkan kurban demi mereka, mereka bersama dengannya di sisi altar yang sama, menghadap salib, menghadap Yesus dalam Ekaristi, dan ketika imam mengangkat Ekaristi, dan ia memandang wajah yang tergantung di salib yang memandang ke bawah melihat anda, hal ini menyentuh hati secara mendalam [sehingga anda dapat berkata] ini adalah kurban, ini bukan sekedar perjamuan komunal, tidak ada sejumlah kebaruan yang ditambahkan ke dalam Misa, yang dapat mencapai apa yang dicapai oleh Ad Orientem.

Ibadah Ad Orientem mengambil semua kemuliaan dari imam dan mengarahkan semuanya kepada Allah yang ada di surga, Bapa, Putra dan Roh Kudus, semua yang adalah milik mereka. Iman kita, dalam cara yang paling sederhana yang saya bisa, apa yang terlibat di sini ialah upaya mengambil kembali satu unsur hakiki dari perayaan liturgi, yang sedari awal mula terbukti sebagai hal yang resmi, yakni ketika imam berbicara demi umat kepada Allah, ia menghadap Allah dan bukan menghadap umat.

Iklan

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: