Perasaan akan Pelbagai Hal, Kontemplasi akan Keindahan

“Jesus Christ Crowned with Thorns”, Martin Van Heemskerck, 1550

***

Oleh Kardinal Joseph Ratzinger (sekarang Paus Emeritus Benediktus XVI)

Pesan kepada Pertemuan Gerakan Gerejawi “Communion and Liberation” di Rimini, Italia pada Agustus 2002

Setiap tahun dalam Ibadat Harian masa Prapaskah, lagi-lagi saya selalu dikejutkan oleh paradoks yang ada dalam Vesper (Ibadat Sore) hari Senin Pekan kedua Prapaskah pada bagian Kidung Mazmur. Di sini terdapat dua antifon yang berdampingan, yang mana antifon yang satu untuk masa Prapaskah, sementara yang lainnya untuk Pekan Suci. Keduanya menyertakan Mazmur 44 (45), namun memberikan penafsiran yang kentara pertentangannya. Mazmur tersebut menggambarkan pernikahan Raja, keindahannya, kebajikan-kebajikannya, misinya, dan kemudian dilanjutkan dengan pengagungan istri sang raja. Dalam Masa Prapaskah, Mazmur 44 tersebut dibingkai dengan antifon yang sama yang digunakan untuk sisanya di tahun liturgi. Ayat ketiga dari Mazmur tersebut berbunyi: “Engkaulah yang terindah di antara anak-anak manusia, dan kemurahan tercurah pada bibirmu.”

Secara alami, Gereja membaca mazmur ini sebagai representasi nubuat-puitis hubungan suami-istri antara Kristus dengan Gereja-Nya. Ia mengakui Kristus sebagai yang terindah dan terelok dari semua manusia, serta rahmat yang tercurah pada bibir-Nya menunjukkan keindahan rohani dari perkataan-Nya, kemuliaan dari pernyataan-Nya. Jadi bukan hanya keindahan lahiriah dari penampilan sang Penebus yang dimuliakan: sebaliknya, Keindahan Kebenaran yang muncul dalam diri-Nya, keindahan Allah sendiri yang menarik kita kepada diri-Nya sendiri dan, pada saat yang sama menangkap kita dengan luka Cinta, gairah suci (“eros”), yang memungkinkan kita untuk maju terus bersama-sama, dengan dan di dalam Gereja yang adalah Mempelai-Nya, untuk bertemu dengan Sang Cinta yang memanggil kita.

Pada hari Senin di Pekan Suci, bagaimanapun, Gereja mengganti antifon dan mengajak kita untuk menafsirkan Mazmur dalam terang Yesaya 53:2: “Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.” Bagaimana kita bisa mendamaikan dua hal ini? Rupa tampilan-Nya yang “terindah dari anak-anak manusia” begitu buruk-rupa hingga tiada keinginan untuk memandang-Nya. Pilatus menyerahkannya kepada orang banyak sambil berkata “Lihatlah manusia itu!” untuk membangkitkan simpati kepada Sang Manusia yang hancur dan babak belur tersebut, yang padanya keelokan lahiriah sama sekali tiada tersisa.

Agustinus di masa mudanya menulis buku tentang Yang Indah dan Harmonis [“De pulchro et apto”] dan merupakan sosok yang menghargai keindahan dalam kata-kata, musik, dalam seni figuratif; ia memiliki apresiasi yang tajam terhadap paradoks ini dan menyadari bahwa dalam hal ini, filosofi Yunani yang agung tentang keindahan bukan hanya ditolak tetapi secara dramatis malahan dipertanyakan dan apakah keindahan tersebut, apakah kemungkinan arti dari keindahan, harus diperdebatkan dan menderita lagi. Dengan mengacu pada paradoks yang terkandung dalam teks-teks ini, Agustinus berbicara tentang ledakan kontras dari “dua terompet,” yang dibuat oleh napas yang sama, Roh yang sama. Dia mengetahui bahwa sebuah paradoks merupakan hal yang kontras dan tidak kontradiktif. Kedua kutipan tersebut berasal dari Roh yang sama yang mengilhami semua Kitab Suci, tetapi menyuarakan catatan yang berbeda di dalamnya. Dengan cara inilah Agustinus membuat kita berhadapan di muka totalitas Keindahan yang sejati, Kebenaran itu sendiri.

Pertama-tama, teks Yesaya tersebut menyediakan pertanyaan yang menarik bagi para Bapa Gereja: apakah Kristus itu elok atau tidak. Secara implisit di sini terdapat pertanyaan yang lebih radikal: apakah keindahan merupakan sesuatu yang benar atau apakah bukannya keburukan yang menuntun kita kepada kebenaran terdalam dari realitas. Setiap orang yang percaya pada Allah, kepada Allah yang mewujudkan diri-Nya sendiri, yang secara tepat ada di dalam penampilan yang berubah dalam Kristus yang tersalib sebagai kasih “sampai kesudahannya” (Yohanes 13:1), mengetahui bahwa keindahan merupakan kebenaran dan kebenaran merupakan keindahan; tetapi di dalam Kristus yang menderita ia juga belajar bahwa keindahan akan kebenaran juga mencakup pelanggaran, rasa sakit, dan bahkan misteri gelap maut, dan bahwa hal ini hanya dapat ditemukan dalam menerima penderitaan, bukan dengan mengabaikannya.

Tentu saja, kesadaran bahwa keindahan ada hubungannya dengan rasa sakit juga terdapat dalam khazanah pemikiran Yunani. Sebagai contoh, mari kita melihat “Phaedrus” karya Plato. Plato merenungkan perjumpaan dengan keindahan sebagai kejutan emosional yang berfaedah, yang membuat seseorang meninggalkan cangkangnya dan memancarkan “antusiasme”nya dengan menariknya kepada hal lain selain dirinya sendiri. Manusia, kata Plato, telah kehilangan kesempurnaan asali yang sebelumnya dikandung baginya. Sekarang ia terus menerus mencari bentuk primitif yang menyembuhkan. Nostalgia dan kerinduan mendorongnya untuk mengejar sebuah pencarian; Keindahan mencegahnya untuk semata berpuas dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini menyebabkan dia menderita.

Dalam pengartian Platonis, kita dapat berkata bahwa panah nostalgia menembus manusia, melukainya dan dengan cara ini memberinya sayap, mengangkatnya ke atas menuju yang transenden. Dalam ceramahnya di Simposium, Aristophanes mengatakan bahwa seorang kekasih tidak tahu apa yang mereka inginkan dari satu sama lain. Melalui pencarian terhadap hal yang lebih dari sekedar pemuasan kesenangan mereka, menjadi jelaslah bahwa jiwa keduanya haus akan sesuatu yang lain dari kenikmatan asmara. Tetapi hati tidak dapat mengutarakan “hal lain” ini, “hati hanya memiliki persepsi yang kabur atas sesuatu yang sungguh didambakannya dan bertanya-tanya akan hal itu laksana sebuah teka-teki.”

Pada abad ke-14, dalam buku “Hidup dalam Kristus” karangan teolog Byzantin, Nikolas Cabasilas, kita menemukan kembali pengalaman Plato yang mana objek utama nostalgia, yang diubah oleh pengalaman Kristiani yang baru, terus menjadi sesuatu yang tiada bernama. Cabasilas berkata: “Ketika manusia memiliki kerinduan yang demikian besar yang melampaui kodrat manusia dan berhasrat mendambakannya serta mampu merengkuh hal-hal di luar pikiran manusia, Sang Mempelai lah yang telah menghantam mereka dengan kerinduan ini. Dialah yang telah mengirimkan sinar keindahan-Nya ke dalam mata mereka. Keagungan luka telah menyibakkan anak panah yang telah mengenai rumahnya, kerinduan merujuk kepada Dia yang telah membersitkan luka “(lihat “Hidup dalam Kristus,” Buku Kedua, bag 15).

Yang indah itu melukai, tetapi persis beginilah cara luka-luka itu memanggil manusia bagi tujuan akhirnya. Apa yang Plato katakan dan – lebih dari 1.500 tahun kemudian – Cabasilas sampaikan, tidak ada hubungannya dengan estetika yang dangkal dan irasionalisme, atau dengan pelarian dari kejernihan dan pentingnya akal budi. Yang indah pastinya adalah pengetahuan, namun, dalam bentuk yang superior, karena membangkitkan manusia akan keagungan sejati akan kebenaran. Di sini, seorang Cabasilas tetaplah sepenuhnya seorang Yunani, karena ia menempatkan pengetahuan pertama-tama ketika ia berkata, “Bahkan pengetahuanlah yang menyebabkan cinta dan melahirkannya. … Karena pengetahuan ini terkadang sangatlah banyak dan lengkap dan di lain waktu tidaklah sempurna, hal tersebut berarti bahwa ramuan cinta memiliki efek yang sama.”(lih ibid.).

Cabasilas tidaklah puas dengan pernyataan umum ini. Dalam pemikiran khasnya yang kaku, Cabasilas membedakan dua jenis pengetahuan: pengetahuan melalui pengajaran, sehingga dapat dikatakan, “berasal dari pihak kedua” dan tidak menyiratkan sentuhan langsung dengan realitas itu sendiri. Tipe kedua dari pengetahuan, di sisi lain, adalah pengetahuan melalui pengalaman pribadi, melalui hubungan langsung dengan realitas. “Oleh karena itu kita tidak mencintai sejauh bahwa hal itu adalah objek yang layak dicintai, dan karena kita belum merasakan bentuknya itu sendiri, kita tidak mengalami efeknya yang tepat.”

Pengetahuan sejati adalah pengetahuan yang dihantam oleh panah Keindahan yang melukai manusia, digerakkan oleh kenyataan “bagaimana Kristus sendiri yang hadir dan dengan cara yang tak terlukiskan, yang membuang dan sekaligus membentuk jiwa-jiwa manusia” (lih ibid.).

Dihantam dan dikuasai oleh keindahan Kristus merupakan pengetahuan yang lebih mendalam serta lebih nyata daripada sekedar deduksi rasional. Tentu saja kita tidak harus meremehkan pentingnya refleksi teologis, pemikiran teologis yang pasti dan akurat; hal tersebut tetap sungguh diperlukan. Tetapi beranjak dari sini untuk merendahkan atau menolak dampak yang dihasilkan tanggapan hati dalam perjumpaan dengan keindahan sebagai bentuk sejati pengetahuan, akan memiskinkan kita dan mengeringkan iman serta teologi kita. Kita harus menemukan kembali bentuk pengetahuan ini; hal tersebut adalah kebutuhan mendesak di masa kita sekarang.

Berawal dari konsep inilah Hans Urs von Balthasar membangun “Opus magnum Teologi Estetis.” Banyak dari rinciannya telah masuk ke dalam karya teologis, sedangkan pendekatan mendasarnya, yang sejujurnya sebagai elemen penting dari keseluruhan karyanya, belum begitu mudah diterima. Tentu saja, ini bukan hanya, atau terutama, masalah teologis, namun masalah kehidupan pastoral yang perlu untuk mendorong pertemuan pribadi manusia dengan keindahan iman.

Kerap kali argumen-argumen masuk ke telinga orang tuli karena di dunia kita terlalu banyak argumen yang kontradiktif dan kemudian saling bersaing satu sama lain, begitu banyak jumlahnya sehingga kita spontan teringat deskripsi teolog abad pertengahan tentang akal budi, yaitu bahwa ia “memiliki hidung lilin”: Dengan kata lain, akal budi dapat diarahkan ke segala arah, jika seseorang cukup pintar. Semuanya masuk akal, begitu meyakinkan, lalu siapa yang harus kita percaya?

Perjumpaan dengan keindahan dapat menjadi luka dari panah yang menikam hati dan dengan cara ini ia membuka mata kita, sehingga nantinya, dari pengalaman ini, kita mengambil kriteria penilaian dan dapat menilai argumen-argumen dengan benar. Bagi saya pengalaman yang tak terlupakan adalah konser Bach yang dilakukan Leonard Bernstein di Munich setelah wafatnya Karl Richter secara mendadak. Saya duduk di samping Uskup Lutheran Hanselmann. Ketika nada terakhir dari salah satu Kantata besar Thomas-Kantor yang penuh kejayaan mulai memudar, kami saling memandang dengan spontan dan kemudian kami berkata: “Setiap orang yang telah mendengar ini, tahu bahwa iman itu benar.” Musik memiliki kekuatan luar biasa dari realitas yang kita sadari, bukan lagi dengan deduksi, tetapi melalui dampaknya pada hati kita, bahwa hal itu tidak mungkin berasal dari ketiadaan, tetapi hanya bisa lahir dari kekuatan Kebenaran yang menjadi nyata dalam inspirasi sang komposer. Bukankah hal yang sama terbukti ketika kita membiarkan diri kita digerakkan oleh ikon Tritunggal dari Rublev? Dalam seni ikon, seperti dalam lukisan-lukisan besar Barat dari periode Romawi dan periode Gothic, pengalaman yang dijelaskan oleh Cabasilas, dimulai dengan interioritas, yang secara tampak digambarkan dan dapat dibagi-bagikan.

Dengan cara yang kaya Pavel Evdokimov telah menyoroti jalan batin yang digariskan ikon. Ikon tidak hanya mereproduksi apa yang dapat dirasakan oleh indra, melainkan mengandaikan “puasa melihat” sebagaimana dikatakannya. Persepsi batin haruslah membebaskan dirinya sendiri dari kesan yang sifatnya indrawi belaka, dan dalam doa dan upaya asketis ia memperoleh kapasitas baru dan kian mendalam untuk dapat melihat, untuk menempuh perjalanan dari pelbagai hal lahiriah belaka menuju kedalaman realitas, sedemikian rupa sehingga seorang seniman dapat melihat apa yang tidak dapat dilihat sepenuhnya oleh indra, dari apa yang sungguh tampil kepada apa yang dapat dipahami: kemegahan dari kemuliaan Allah, “kemuliaan Allah bersinar pada wajah Kristus” (2 Korintus 4:6).

Mengagumi ikon dan karya agung seni Kekristenan pada umumnya, membawa kita pada sebuah perjalanan batin, sebuah cara untuk mengatasi diri kita sendiri; sehingga dalam pemurnian visi yang merupakan pemurnian hati ini, hal-hal tersebut dapat mengungkapkan keindahannya kepada kita, atau setidaknya menyinarinya. Dengan cara inilah kita dibawa ke dalam persentuhan dengan kekuatan kebenaran. Saya sering menegaskan keyakinan saya bahwa pembelaan iman Kristen sejati, pembuktian paling meyakinkan akan kebenaran terhadap setiap penolakan, adalah orang-orang kudus, dan keindahan yang dilahirkan iman. Hari ini, agar iman bertumbuh, kita harus membimbing diri sendiri dan orang-orang yang kita jumpai untuk bertemu dengan orang-orang kudus dan untuk masuk ke dalam persentuhan dengan Sang Keindahan.

Namun sekarang, kita masih harus menanggapi sebuah keberatan. Kita telah menolak asumsi yang mengklaim bahwa apa yang baru saja dikatakan di atas adalah pergerakan menuju irasionalitas, menjadi sekadar estetisme.

Sebaliknya, pernyataan itu adalah kebalikan dari apa yang benar: Ini adalah cara yang tepat ketika akal budi dibebaskan dari kebodohan dan disiapkan untuk bertindak.

Pada masa kini, keberatan lainnya memiliki kekuatan yang lebih besar: pesan akan keindahan diragukan oleh kekuatan kepalsuan, hasutan, kekerasan dan kejahatan. Dapatkah keindahan menjadi hal yang asli, atau, pada akhirnya, itu hanyalah ilusi? Dapatkah realitas mungkin pada dasarnya jahat? Ketakutan pada akhirnya bukan merupakan panah keindahan yang menuntun kita kepada kebenaran, tetapi kepada kepalsuan, semua yang buruk-rupa dan vulgar, yang mungkin menetapkan “realitas” sejati yang telah menyebabkan orang menderita setiap saat .

Kini telah dinyatakan bahwa setelah periode Kamp Konsentrasi Auschwitz tidaklah mungkin lagi untuk menulis puisi; setelah Auschwitz tidak mungkin lagi berbicara tentang Tuhan yang baik. Orang bertanya-tanya: Di mana Allah ketika kamar gas beroperasi? Keberatan ini, yang tampaknya cukup masuk akal di hadapan Auschwitz ketika seseorang menyadari segala kekejaman sejarah, menunjukkan bahwa dalam hal apapun konsep akan keindahan yang murni bersifat harmonis tidaklah memadai. Ia tak dapat berdiri berhadapan dengan seriusnya pertanyaan tentang Tuhan, kebenaran dan keindahan. Apollo, yang bagi Socrates Plato sebelumnya adalah “Allah” dan penjamin keindahan yang menenteramkan sebagai “yang sungguh ilahi” akhirnya sungguh tidak lagi memadai.

Dalam hal ini, kita kembali kepada “dua terompet” dari Alkitab yang kita mulai, pada paradoks yang dikatakan tentang Kristus: ” Engkaulah yang terindah di antara anak-anak manusia” dan: “Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.” Dalam semangat Kristus, estetika Yunani yang pantas menerima kehormatan, mengalami sentuhan dengan yang Ilahi yang tetap tak terkatakan baginya, dalam Kristus sengsara tidaklah dilenyapkan tetapi diatasi.

Pengalaman akan keindahan telah menerima kedalaman dan realisme baru. Dia yang adalah Sang Keindahan sendiri membiarkan wajahnya ditampar, diludahi, dimahkotai duri; Kain Kafan dari Turin dapat membantu kita membayangkan hal ini dengan cara yang realistis. Namun, dalam Wajah-Nya yang begitu rusak, dari sanalah muncul kesejatian, keindahan tertinggi: keindahan cinta yang berjalan “sampai pada kesudahannya”; untuk alasan inilah hal tersebut terungkapkan sebagai sesuatu yang lebih besar daripada kebohongan dan kekerasan. Siapapun yang telah merasakan keindahan ini mengetahui kebenaran itu, dan bukannya dusta, adalah seseorang yang akan menjadi aspirasi nyata dari dunia. Bukanlah kepalsuan yang “benar,” tetapi memang, Kebenaran.

Hal ini, seakan, merupakan trik baru dari apa yang palsu untuk menampilkan dirinya sebagai “kebenaran” dan mengatakan kepada kita: di luar dan di atasku pada dasarnya tidak ada, berhentilah mencari atau bahkan mencintai kebenaran; dalam melakukannya, anda berada di jalur yang salah. Ikon dari Kristus yang tersalib membebaskan kita dari penipuan ini yang begitu luas di zaman sekarang. Bagaimanapun, Ikon tersebut menanamkan sebuah kondisi: bahwa kita membiarkan diri kita terluka oleh-Nya, dan bahwa kita percaya pada Sang Cinta yang dapat mengambil resiko mengesampingkan keindahan lahiriahnya untuk mewartakan, dengan cara ini, kebenaran akan keindahan.

Namun kepalsuan memiliki tipu muslihat lain. Suatu keindahan yang menipu dan palsu, pesona keindahan yang tidak membawa manusia keluar dari diri mereka sendiri untuk membuka mereka kepada ekstasi yang mendaki menuju ketinggian, tetapi tentunya mengunci mereka sepenuhnya dalam diri mereka sendiri. Keindahan seperti itu tidak menerbitkan kembali kerinduan akan Dia yang tak terlukiskan, kesiapan untuk berkorban, penyangkalan diri, melainkan membangkitkan keinginan, kemauan akan kekuasaan, kepemilikan dan kesenangan semata. Ini adalah jenis pengalaman keindahan yang dibicarakan Kitab Kejadian mengenai Dosa Asal. Hawa melihat bahwa buah pohon itu “indah” untuk dimakan dan “menyenangkan mata.”

Keindahan yang dialami Hawa merangsang keinginan akan kepemilikan dalam dirinya, dan oleh karenanya, membuatnya berpaling pada dirinya sendiri. Siapa yang tidak menyadari, misalnya, di dalam iklan, dalam gambar yang dibuat dengan keterampilan tertinggi yang diciptakan untuk menggoda manusia, membuatnya ingin mengambil semuanya dan mencari kepuasan sesaat ketimbang terbuka pada orang lain.

Jadi begitulah bahkan dalam seni Kristen saat ini pun ia terjebak di antara dua bara api (sebagaimana yang mungkin selalu dialami): Seni tersebut harus menentang kultus keburukan rupa, yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang indah adalah tipu muslihat dan hanyalah representasi dari apa yang mentah, rendah dan vulgar lah yang adalah kebenaran, pencerahan yang benar akan pengetahuan. Atau ia harus melawan keindahan penuh tipu muslihat yang mengerdilkan manusia alih-alih mengagungkannya, dan untuk alasan ini keindahan penuh tipu daya tersebut adalah palsu.

Adakah orang yang tidak mengetahui kalimat Dostoyevsky yang sering dikutip: “Keindahan akan menyelamatkan kita”? Namun, orang biasanya lupa bahwa Dostoyevsky di sini mengacu pada Keindahan penebusan Kristus. Kita harus belajar untuk melihatnya. Jika kita mengenalnya, bukan hanya dalam kata-kata, tetapi jika kita terkena panah keindahan paradoksnya, maka kita akan benar-benar mengenalnya, dan mengetahuinya bukan hanya karena kita telah mendengar orang lain berbicara tentangnya. Kemudian kita akan menemukan keindahan Kebenaran, Kebenaran yang menebus. Tidak ada yang dapat membawa kita ke dalam sentuhan yang dekat dengan keindahan Kristus sendiri selain dunia keindahan yang diciptakan oleh iman dan cahaya yang bersinar dari wajah orang-orang kudus, yang melaluinya cahaya itu sendiri menjadi kasatmata.

Diterjemahkan oleh Gregorius Aditya dan diedit oleh Cornelius. Sumber terjemahan: The Feeling of Things, The Contemplation of Beauty.

3 komentar

  1. hai om, ijin posting diblog saya ya. sumber saya sertakan beserta livelink. kalo gak berkenan mohon hubungi ya biar saya remove post saya. :)

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: