Kenangan Benediktus XVI tentang Konsili Vatikan II

06 Jan 2012, Vatican City --- Pope Benedict XVI waves as he arrives to lead a mass on the Feast of the Epiphany in St. Peter's Basilica at Vatican -- Pope Benedict XVI welcomes new elected bishops during a mass of the Epiphany. The new bishops elected is US bishop Charles John Brown, and newly elected bishop Marek Solczynski from Poland. Vatican City, Vatican. 6th January 2011 --- Image by © Alessandro Serranò / Demotix/Demotix/Demotix/Corbis

Image by © Alessandro Serranò / Corbis

Hari itu merupakan hari yang bersemarak, 11 Oktober 1962, ketika Konsili Vatikan II dibuka dengan prosesi agung ke dalam Basilika St. Petrus di Roma, yang terdiri dari lebih dari dua ribu Bapa Konsili. Tahun 1931 Pius XI telah membaktikan hari ini kepada pesta Keibuan Ilahi Maria, dengan mengenang bahwa 1500 tahun lebih awal, pada tahun 431, Konsili Efesus telah dengan agung mengakui gelar ini bagi Maria untuk mengungkapkan persatuan yang tak terceraian antara Allah dengan manusia dalam Kristus. Paus Yohanes XXIII telah memilih hari ini untuk memulai Konsili, untuk mempercayakan perkumpulan gerejawi besar ini, yang ia panggil, kepada kebaikan keibuan Maria dan untuk menjangkarkan karya Konsili secara kokoh dalam misteri Yesus Kristus. Sangat mengesankan melihat para uskup dari seluruh dunia, dari semua bangsa dan ras dalam prosesi masuk: sebuah gambaran akan Gereja Yesus Kristus yang mencakup seluruh dunia, yang mana orang-orang di bumi tahu bahwa mereka disatukan dalam damai-Nya.

Ini merupakan momen pengharapan yang luar biasa. Hal-hal besar akan terjadi. Konsili-konsili sebelumnya hampir selalu diadakan untuk menjawab pertanyaan spesifik. Kali ini tidak ada pertanyaan spesifik yang harus dipecahkan. Tetapi persisnya karena hal ini, rasa pengharapan secara umum melayang-layang di udara: Kekristenan, yang telah membangun dan membentuk dunia Barat, tampak semakin kehilangan kekuatannya untuk membentuk masyarakat. Ia tampak lelah, dan kelihatannya seakan masa depan akan dibentuk oleh kekuatan rohani lainnya. Kesadaran akan hilangnya masa kini di sisi Kekristenan, dan mengenai tugas yang mengikutinya setelah itu, dirangkum dengan baik dalam kata “aggiornamento” (membarui). Kekristenan harus ada di masa kini bila ia mau membentuk masa depan. Guna sekali lagi menjadi kekuatan untuk membentuk masa depan, Yohanes XXIII telah mengadakan Konsili tanpa menunjukkan masalah atau program spesifik. Inilah kebesaran sekaligus pula kesulitan dari tugas yang ditempatkan di hadapan perkumpulan gerejawi.

Berbagai episkopat, tanpa ragu, mendekati peristiwa besar ini dengan gagasan yang berbeda. Beberapa dari mereka tiba dengan sikap pengharapan mengenai program yang hendak dikembangkan. Episkopat-episkopat Eropa Tengah—Belgia, Prancis, dan Jerman—datang dengan gagasan paling jelas. Dalam perkara detil, mereka menekankan aspek-aspek yang berbeda, namun mereka memiliki prioritas yang sama. Tema hakikinya adalah ekklesiologi, yang perlu dipelajari secara mendalam dari sudut pandang Trinitas dan sakramental dan dalam hubungannya dengan sejarah keselamatan; lalu ada pula kebutuhan untuk memperjelas doktrin primasi dari Konsili Vatikan I dengan memberikan bobot lebih kepada pelayanan episkopal. Tema penting bagi episkopat-episkopat Eropa Tengah adalah pembaruan liturgi, yang mulai diterapkan Pius XII. Aspek sentral lainnya, secara khusus bagi episkopat Jerman, adalah ekumenisme: pengalaman penganiayaan Nazi telah membawa Kristen Katolik dan Protestan kian dekat; kini hal ini harus terjadi di tingkat seluruh Gereja, dan dikembangkan lebih lanjut. Lalu ada juga sekelompok tema: Wahyu – Kitab Suci – Tradisi – Magisterium. Bagi Prancis, pokok relasi antara Gereja dan dunia modern semakin muncul ke depan—dengan kata lain, karya dari “Skema XIII”, yang darinya muncullah Konstitusi Pastoral mengenai Gereja di dunia modern. Hal ini menyentuh ekspektasi nyata Konsili. Gereja, selama era Baroque, masih, dalam arti luas, membentuk dunia, Gereja sejak abad 19 dan sesudahnya masuk ke dalam relasi negatif yang kasatmata  terhadap era modern, yang baru saja dimulai secara pantas. Perlukah hal ini tetap begini? Dapatkah Gereja tidak mengambil langkah positif ke dalam era baru? Di balik ungkapan ambigu “dunia masa kini” terletak persoalan tentang relasi dengan era modern. Untuk mengklarifikasi hal ini, perlulah mendefinisikan lebih jelas unsur-unsur hakiki yang membentuk era modern. “Skema XIII” tidak berhasil melakukan ini. Sekalipun Konstitusi Pastoral mengungkapkan banyak unsur penting untuk memahami “dunia” dan membuat kontribusi-kontribusi penting terhadap pertanyaan tentang etika Kristen, ia gagal memberikan klarifikasi substansial mengenai hal ini.

Secara tak terduga, perjumpaan dengan tema-tema besar masa modern tidak terjadi dalam Konstitusi Pastoral yang agung, melainkan terjadi dalam dua dokumen minor, yang tingkat kepentingannya secara bertahap mulai kelihatan dalam konteks penerimaan Konsili. Pertama, Deklarasi tentang Kebebasan Bergama, yang diminta secara mendesak, dan juga disusun oleh Uskup-uskup Amerika secara khusus. Bersamaan dengan perkembangan dalam pemikiran filosofis dan dalam cara-cara memahami Negara modern, ajaran tentang toleransi, yang dikerjakan secara detil oleh Pius XII, tampak tak lagi memadai. Yang dipertaruhkan adalah kebebasan memilih dan melakukan agama dan kebebasan mengubahnya, sebagai hak asasi manusia dan kebebasannya.  Mengingat landasan batiniahnya, konsep demikian tidak bisa menjadi asing bagi iman Kristen, yang menjadi ada dan mengklaim bahwa Negara tidak dapat memutuskan tentang kebenaran atau tidak dapat mengharuskan menganut ibadat apapun. Iman Kristen menuntut kebebasan keyakinan religius dan kebebasan melakukan praktik keagamaan dalam ibadat, tanpa melanggar hukum Negara dalam tatanan internalnya; umat Kristen berdoa untuk kaisar tetapi tidak menyembahnya. Sejauh ini, dapat dikatakan bahwa Kekristenan, di momen kelahirannya, membawa prinsip kebebasan beragama ke dalam dunia. Namun penafsiran hak untuk kebebasan dalam konteks pemikiran modern tidaklah mudah, karena tampaknya seakan-akan visi modern akan kebebasan beragama mengandaikan tak-terjangkaunya kebenaran bagi manusia dan mau tak mau, memindahkan agama ke ruang subjektif. Tentu selaras dengan penyelenggaraan ilahi bahwa tiga belas tahun setelah penutupan Konsili, Paus Yohanes Paulus II berasal dari negara yang mana kebebasan beragama ditolak oleh Marxisme, dengan kata lain, oleh bentuk khusus filosofi modern tentang negara. Paus berasal, seakan-akan, dari situasi yang menyerupai Gereja perdana, sehingga orientasi batin iman menuju tema kebebasan, khususnya kebebasan beragama dan beribadat, menjadi kian terlihat.

Dokumen kedua yang terbukti penting bagi perjumpaan Gereja dengan masa modern muncul hampir secara kebetulan dan berkembang dalam berbagai fase. Saya mengacu kepada Deklarasi “Nostra Aetate” mengenai Relasi Gereja dengan agama non-Kristen. Sejak awal niatnya ialah menulis draft tentang deklarasi mengenai relasi Gereja dan Yudaisme, sebuah teks yang secara intrinsik diperlukan setelah kengerian Shoah. Bapa-bapa Konsili dari negara Arab tidak menentang teks tersebut, tetapi mereka menjelaskan bahwa bila terdapat maksud untuk berbicara tentang Yudaisme, maka perlu juga beberapa patah kata tentang Islam. Betapa benarnya mereka, kita di Barat baru memahaminya secara bertahap. Terakhir, munculnya kesadaran bahwa benar pula untuk berbicara tentang dua agama besar lainnya—Hinduisme dan Buddhisme—juga tema agama secara umum. Selanjutnya, secara alami, muncul indikasi singkat mengenai dialog dan kolaborasi dengan agama-agama, yang nilai-nilai rohani, moral, dan sosial-budayanya harus dihormati, dilindungi, dan didukung (ibid., 2). Dengan demikian, dalam dokumen yang padat dan seksama secara luar biasa, sebuah tema dibuka yang tingkat kepentingaannya tak bisa diramalkan waktu itu. Tugas dan upaya yang masih diperlukan untuk membedakan, mengklarifikasi dan memahami, sedang tampil dengan lebih jelas. Dalam proses penerimaan aktif dokumen tersebut, sebuah kelemahan dari teks yang luar biasa ini mulai muncul secara bertahap: ia berbicara tentang agama semata dalam cara positif dan tidak menghiraukan bentuk-bentuk agama yang sakit dan terdistorsi, yang mana, dari sudut pandang historis dan teologis, maknanya mempengaruhi banyak orang; untuk alasan ini iman Kristen, sejak permulaan, mengambil pendirian kritis terhadap agama, secara internal dan eksternal.

Bila sejak permulaan Konsili kelompok yang dominan adalah Episkopat Eropa Tengah dengan teolog-teolog mereka, selama sesi Konsili jangkauan upaya bersama dan tanggung jawab diperluas secara terus menerus. Para uskup menganggap diri sebagai murid dalam sekolah Roh Kudus dan dalam sekolah kolaborasi timbal balik, tetapi pada saat bersamaan merupakan hamba Sabda Allah yang hidup dan bekerja dalam iman. Bapa-bapa Konsili tidak bermaksud menciptakan Gereja yang baru atau berebda. Mereka tidak memiliki otoritas atau mandat untuk melakukannya. Hanya dalam kapasitas mereka sebagai uskup lah mereka merupakan Bapa Konsili dengan hak suara dan kuasa untuk mengambil keputusan, yaitu, berlandaskan Sakramen dan dalam Gereja Sakramen. Atas alasan ini mereka tidak bisa, juga tidak bermaksud menciptakan iman yang berbeda atau Gereja baru, melainkan memahami lebih mendalam dan karenanya sungguh “membaruinya”. Inilah sebabnya penafsiran yang terputus itu absurd dan bertentangan dengan semangat dan kehendak Bapa Konsili.

Dalam diri Kardinal Frings saya memiliki seorang “ayah” yang menghidupi semangat Konsili ini dalam teladannya. Ia adalah seseorang dengan keterbukaan besar dan berpikiran luas, tetapi ia juga tahu bahwa hanya iman yang menuntun kita keluar ke tempat terbuka, ke dalam ruang yang tetap terlindungi dari semangat positivis. Inilah iman yang ingin dilayaninya dengan otoritas yang ia terima melalui sakramen Tahbisan Episkopal. Saya hanya bisa bersyukur kepadanya karena telah membawa saya—profesor termuda dari fakultas teologi Katolik di Universitas Bonn—sebagai penasihatnya ke dalam pertemuan gerejawi yang besar, untuk menghadiri sekolah tersebut dan menapaki jalan Konsili dari dalam. Buku ini memuat kumpulan berbagai tulisan yang saya berikan di sekolah itu. Semuanya adalah persembahan yang bersifat fragmen, yang juga menyatakan proses belajar bahwa Konsili dan penerimaanya tetap berarti dan masih berarti bagi saya. Saya berharap bahwa dengan semua keterbatasannya, berbagai persembahan yang dipadukan ini dakan membantu Konsili untuk semakin dipahami dengan lebih baik dan diterapkan dalam kehidupan gerejawi yang sehat. Saya berterima kasih kepada Uskup Agung Gerhard Ludwig Müller dan rekan kerjanya di Institut Paus Benediktus XVI atas komitmen luar biasa yang mereka emban untuk menghasilkan buku ini.

Castel Gandolfo, on the Feast of Saint Eusebius, Bishop of Vercelli
2 Agustus 2012

Benedictus PP. XVI

Sumber: Pope pens rare article on his inside view of Vatican II.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: