Instruksi Ad Resurgendum Cum Christo (Bangkit Bersama Kristus)

lamentation-christ

“Lamentation Over Christ”, Fra Angelico, 1440-1442

Catatan Lux Veritatis 7: Berikut ini merupakan terjemahan tidak resmi dari instruksi Kongregasi Ajaran Iman (dokumen resminya bisa diklik di sini, sedangkan wawancara dengan Cardinal Muller selaku Prefek CDF dapat diakses di sini), yang membahas tentang praktik pemakaman jenazah dan penyimpanan abu dalam kasus kremasi. Menurut pengamatan kami, dokumen tersebut sangat relevan untuk konteks Indonesia, karena masih banyak umat yang belum mengetahui apa yang harus dilakukan seandainya ada salah satu anggota keluarga mereka yang telah meninggal dan memilih kremasi (banyak yang kemudian melarungkan abu di laut atau sungai, padahal ini merupakan praktik yang keliru, sebagaimana dijelaskan dalam instruksi ini). Silakan dokumen ini disebarkan seluas-luasnya.

+++

KONGREGASI AJARAN IMAN

Instruksi Ad resurgendum cum Christo (Bangkit Bersama Kristus)

Mengenai pemakaman jenazah dan penyimpanan abu dalam hal kremasi

1.Untuk bangkit bersama Kristus, kita harus mati bersama Kristus: Kita harus “beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan” (2 Kor 5:8). Melalui instruksi Piam et Constantem tertanggal 5 Juli 1962, maka Holy Office menetapkan agar “semua langkah yang perlu harus dilakukan untuk memelihara praktik pengebumian jenazah umat beriman dengan penuh hormat”, sekalipun menambahkan bahwa kremasi “per se tidak berlawanan dengan agama Kristen” dan bahwa sakramen-sakramen dan ritus pemakaman (funeral rites) tidak lagi ditiadakan bagi mereka yang meminta untuk dikremasi, dengan syarat bahwa pilihan ini tidak dilakukan karena “penyangkalan dogma Kristen, kebencian terhadap masyarakat rahasia, atau kebencian terhadap agama Katolik dan Gereja” [1]. Selanjutnya perubahan dalam disiplin gerejawi ini dimasukkan ke dalam Kitab Hukum Kanonik (1983) dan dalam Code of Canons of Oriental Churches (1990).

Selama rentang waktu tersebut, praktik kremasi telah mengalami peningkatan di banyak negara, tetapi pada saat yang bersamaan, gagasan-gagasan baru yang bertentangan dengan iman Gereja juga telah tersebar luas. Setelah melakukan konsultasi dengan Kongregasi Ibadah Ilahi dan Disiplin Sakramen-Sakramen, the Pontifical Council for Legislative Texts, konferensi-konferensi para uskup dan Sinode Uskup Gereja-Gereja Oriental, maka Kongregasi Ajaran Iman merasa layak untuk menerbitkan instruksi baru, dengan maksud menggarisbawahi alasan-alasan doktrinal dan pastoral terhadap preferensi bagi penguburan jenazah umat beriman dan untuk menetapkan norma-norma yang berkenaan dengan penyimpanan abu mengenai perihal kremasi.

2.Kebangkitan Yesus merupakan puncak kebenaran iman Kristen, yang diwartakan sebagai bagian hakiki dari Misteri Paskah sejak permulaan Kekristenan: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya” (1 Kor 15:3-5).

Melalui wafat dan kebangkitan-Nya, Kristus membebaskan kita dari dosa dan membukakan pintu bagi kehidupan yang baru, “supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:4). Lebih lanjut, Kristus yang bangkit adalah prinsip dan sumber kebangkitan kita di masa depan: “Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal… Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1 Kor 15:20-22).

Benar bahwa Kristus akan membangkitkan kita pada akhir zaman; tetapi benar juga bahwa, dalam cara tertentu, kita telah bangkit bersama Kristus. Dalam baptisan, sesungguhnya, kita dibenamkan ke dalam wafat dan kebangkitan Kristus dan secara sakramental disatukan dengan-Nya: “karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati” (Kol 2:12). Disatukan dengan Kristus oleh baptisan, kita telah sungguh berpartisipasi dalam hidup Kristus yang bangkit (bdk. Ef 2:6).

Karena Kristus, kematian Kristiani memiliki makna positif. Visi kematian Kristiani menerima ungkapan istimewa dalam liturgi Gereja: “Sungguh, bagi umat berimanmu, Tuhan, hidup diubah, tidak diakhiri, dan, ketika kediaman duniawi ini berubah menjadi debu, kediaman abadi disiapkan bagi mereka di surga” [2]. Melalui kematian jiwa dipisahkan dari tubuh, tetapi dalam kebangkitan Allah akan memberikan kehidupan yang tak dapat rusak (incorruptible) kepada tubuh kita, yang diubah melalui persatuan kembali dengan jiwa kita. Di masa kini juga, Gereja dipanggil untuk mewartakan imannya dalam kebangkitan: “Keyakinan orang Kristen adalah kebangkitan orang mati; dengan mempercayai ini kita hidup”. [3]

3.Dengan mengikuti tradisi Kristen yang paling purba, Gereja bersikeras dalam menganjurkan bahwa jenazah umat beriman dikuburkan di pemakaman atau tempat-tempat suci lainnya. [4]

Dalam kenangan akan wafat, pemakaman dan kebangkitan Tuhan, misteri yang menerangi makna kematian Kristiani, pengebumian terutama merupakan cara yang paling pantas dalam mengungkapkan iman dan harapan akan kebangkitan badan.

Gereja, sebagai Ibu, telah menemani umat Kristen selama peziarahan duniawinya, mempersembahkan kepada Bapa, dalam Kristus, anak-anak rahmatnya, dan ia mempercayakan kepada bumi, dalam pengharapan, benih badan yang akan bangkit dalam kemuliaan. [7]

Dengan menguburkan jenazah umat beriman, Gereja menegaskan imannya akan kebangkitan badan [8], dan bermaksud menunjukkan martabat agung tubuh manusia sebagai bagian integral dari pribadi manusia, yang tubuhnya membentuk bagian identitas mereka.[9] Oleh sebab itu, ia tidak bisa membenarkan atau mengizinkan ritus-ritus yang melibatkan gagasan keliru mengenai kematian, seperti menganggap kematian sebagai pemusnahan pribadi secara definitif, atau momen peleburan dengan Ibu Pertiwi atau alam semesta, atau sebagai tahap dalam siklus regenerasi, atau sebagai pembebasan definitif dari “penjara” tubuh.

Lebih lanjut, penguburan di pemakaman atau tempat suci lainnya, secara memadai berhubungan dengan kesalehan dan penghormatan yang diberikan kepada jenazah umat beriman, yang melalui baptisannya telah menjadi bait Roh kudus dan  yang mana “sebagai instrumen dan cawan Roh yang telah melaksanakan begitu banyak perbuatan baik”. [10]

Tobias, orang benar, dipuji atas jasa yang ia peroleh di hadapan Allah karena menguburkan orang mati, [11] dan Gereja menganggap penguburan orang mati merupakan salah satu karya belas kasih jasmani. [12]

Terakhir, penguburan umat beriman yang telah meninggal di pemakaman atau tempat suci lainnya mendorong anggota keluarga dan seluruh komunitas Kristiani untuk berdoa dan mengenang mereka yang dipanggil Tuhan, sembari pada saat yang sama memelihara penghormata kepada para martir dan orang kudus.

Melalui praktik penguburan orang mati di pemakaman, di gereja-gereja atau daerah sekitar mereka, tradisi Gereja telah menjunjung tinggi relasi antara orang hidup dan orang meninggal dan telah melawan kecenderungan apapun untuk mengurangi, atau membuang ke area yang murni bersifat pribadi, peristiwa kematian dan makna yang dimilikinya bagi orang Kristen.

4.Dalam situasi-situasi ketika kremasi dipilih karena alasan kebersihan, ekonomi, atau karena pertimbangan sosial, pilihan ini tidak pernah boleh melanggar keinginan-eksplisit atau keinginan implisit umat beriman yang telah meninggal. Gereja tidak mengajukan keberatan doktrinal terhadap praktik ini, karena kremasi terhadap jenazah tidak mempengaruhi jiwanya, tidak juga mencegah Allah, dalam kemahakuasaan-Nya, untuk membangkitkan jenazah dalam kehidupan baru. Karena itu, kremasi, dalam dan dari dirinya sendiri, secara objektif tidak menyangkal ajaran Kristen mengenai keabadian jiwa ataupun kebangkitan badan. [13]

Dalam ketiadaan alasan yang bertentangan dengan ajaran Kristen, Gereja, setelah perayaan ritus pemakaman, mendampingi pilihan kremasi, memberikan arahan liturgis dan pastoral yang relevan, dan mengambil langkah khusus guna menghindari setiap bentuk skandal atau penampilan indiferentisme religius.

5.Ketika, karena alasan-alasan yang sah, kremasi jenazah telah dipilih, abu umat beriman harus diletakkan untuk beristirahat di tempat suci, yaitu di pemakaman, atau dalam kasus tertentu, di gereja atau di sebuah area yang dikhususkan untuk tujuan ini, dan didedikasikan oleh otoritas gerejawi yang kompeten.

Dari masa-masa yang paling awal, umat Kristen telah menghendaki agar umat beriman yang meninggal menjadi objek doa dan kenangan komunitas Kristiani. Makam mereka telah menjadi tempat doa, kenangan, dan permenungan. Umat beriman yang telah meninggal tetap merupakan bagian Gereja yang percaya “dalam persekutuan semua umat beriman Kristus, yang adalah peziarah di bumi, orang mati yang sedang dimurnikan, dan para kudus di surga, semua bersama-sama membentuk satu Gereja.” [15]

Penyimpanan abu mereka yang telah meninggal di tempat suci memastikan bahwa mereka tidak dikecualikan dari doa dan kenangan keluarga mereka atau komunitas Kristen. Hal ini dilakukan agar umat beriman yang telah meninggal tidak dilupakan, juga agar peninggalan mereka tetap dihormati, yang mungkin terjadi, sesegeranya setelah generasi selanjutnya juga telah meninggal. Hal ini juga mencegah terjadinya praktik-praktik tahayul atau yang tidak pantas.

6.Untuk alasan-alasan yang diberikan di atas, penyimpanan abu umat beriman di kediaman domestik tidak diizinkan. Hanya dalam kasus yang serius dan istimewa yang bergantung pada kondisi-kondisi budaya lokal, maka Ordinaris dapat, dalam persetujuan dengan Konferensi Waligereja atau Sinode Para Uskup Gereja Oriental, memberikan izin bagi penyimpanan abu umat beriman di kediaman domestik. Meskipun demikian, abu tersebut tidak boleh dibagi-bagikan di antara anggota keluarga dan rasa hormat harus dijaga mengenai situasi-situasi penyimpanan abu tersebut.

7.Untuk menghindari munculnya panteisme, naturalisme, atau nihilisme, tidaklah diizinkan menyebarkan abu umat beriman di udara, di darat, di laut atau dengan cara lainnya, tidak juga diizinkan abu tersebut disimpan sebagai tanda mata, keping-keping perhiasan atau objek lainnya. Tindakan-tindakan tersebut tidak dapat disahkan dengan alasan kesehatan, sosial atau ekonomi yang dapat terjadi karena memilih kremasi.

8.Ketika almarhum yang terkenal jahat telah meminta kremasi dan penyebaran abu dengan alasan-alasan yang bertentangan dengan iman Kristen, pemakaman Kristiani harus ditolak terhadap orang tersebut seturut norma-norma hukum. [16]

Paus Fransiskus, dalam Audiensi yang diberikan tertanggal 18 Maret 2016 kepada Kardinal Prefek yang menandatangani instruksi ini, menyetujui Instruksi yang diberikan, dalam Sesi Biasa Kongregasi ini tertanggal 2 Maret 2016 dan memerintahkan penerbitannya.

Roma, dari Kantor Kongregasi Ajaran Iman, 15 Agustus 2016, pada Hari Raya Pengangkatan Bunda Maria.  

Gerhard Card. Müller
Prefect

+ Luis F. Ladaria, S.I.
Titular Archbishop of Thibica
Secretary

[1] AAS 56 (1964), 822-823.

[2] Roman Missal, Preface I for the Dead.

[3] Tertullian, De Resurrectione carnis, 1,1: CCL 2, 921.

[4] Cf. CIC, can. 1176, § 3, can. 1205; CCEO, can. 876, § 3; can. 868.

[5] Cf. Catechism of the Catholic Church, 1681.

[6] Cf. Catechism of the Catholic Church, 2300.

[7] Cf. 1 Cor 15:42-44; Catechism of the Catholic Church, 1683.

[8] Cf. St. Augustine, De cura pro mortuis gerenda, 3, 5; CSEL 41, 628:

[9] Second Vatican Ecumenical Council, Pastoral Constitution Gaudium et Spes, 14.

[10] St. Augustine, De cura pro mortuis gerenda, 3, 5: CSEL 41, 627.

[11] Cf. Tb 2:9; 12:12.

[12] Cf. Catechism of the Catholic Church, 2300.

[13] Cf. Holy Office, Instruction Piam et costantem, 5 July 1963: AAS 56 (1964) 822.

[14] CIC, can. 1176 § 3; cf. CCEC, can. 876 § 3.

[15]Catechism of the Catholic Church, 962.

[16]CIC, can. 1184; CCEO, can.876, § 3.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: