Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik: St. Paulus

6558204727_743c8b3d98_b

2. Rasul Paulus

Saya tidak akan memberikan ulasan biografis St. Paulus secara lengkap, melainkan hanya ingin menekankan beberapa detil penting dalam kehidupannya yang relevan dengan empat tanda Gereja. Tulisan di bagian ini didasarkan pada Audiensi Umum Paus Benediktus XVI tentang St. Paulus, yang diberikan ketika Gereja merayakan Tahun Paulus.

2.1. Profil Singkat St. Paulus

St. Paulus merupakan seorang Yahudi diaspora, sebelum berganti nama menjadi Paulus, namanya adalah Saulus. Ia juga seorang warga Romawi dan mampu berbicara bahasa Yunani. Dengan kata lain, terdapat pertemuan tiga budaya dalam diri Paulus: Yahudi, Romawi dan Yunani, dan karenanya ketiganya ini dapat diartikan sebagai pertanda akan misinya dan juga misi Gereja: untuk membawa Injil kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, dan karenanya aspek katolisitas Gereja terlihat jelas. Hal tersebut diperkuat juga melalui teks Doa Pembuka Misa Tridentine pada pesta Pertobatan St. Paulus:

O God, who hast taught the whole world by the preaching of blessed Paul the Apostle: grant, we beseech thee, that we who today celebrate his conversion may through his example draw nearer to thee. Through our Lord.

Dan juga dalam Tract[1] pada misa yang sama, Rasul Paulus disebut sebagai “pewarta kebenaran dan doktor bagi bangsa-bangsa non Yahudi, yang melaluinya semua bangsa bukan Yahudi telah mengenal rahmat Allah”. Misi St. Paulus merupakan misi yang berasal dari Kristus sendiri, dalam Kitab Suci dikatakan bahwa:

Tetapi firman Tuhan kepadanya: “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” (Kis 9:15-16)

Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik. (Gal 1:15-17).

Lebih lanjut Paus Benediktus XVI menegaskan: “sama halnya menjadi seorang Rasul diawali dengan dipanggil dan diutus oleh Dia yang bangkit, demikian pula panggilan selanjutnya dan pengutusan orang lain harus terlaksana, melalui kuasa Roh, oleh mereka yang telah ditahbiskan ke dalam pelayanan apostolik… (Benedict XVI, The Apostles, hal. 38) Oleh karena itu, melalui pelayanan Apostolik Kristus sendirilah yang menjangkau mereka yang dipanggil kepada iman” (ibid, hal. 35).

2.2. Relasi antara Petrus dan Paulus

Kita harus memuliakan dan meninggikan terlebih dalam keunggulan dua leluhur [yakni Petrus dan Paulus], yang oleh karena rahmat Allah mereka diangkat ke puncak yang demikian tinggi dari antara semua anggota Gereja, dan ditetapkan laksana dua mata yang membawa terang bagi tubuh yang kepalanya adalah Kristus. Berkenaan dengan jasa-jasa dan keutamaan mereka, yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata, kita seharusnya tidak memikirkan perbedaan atau distingsi apapun di antara mereka; panggilan mereka sama, karya mereka serupa, kematian bersama adalah milik mereka. Pengalaman kita telah menunjukkan … kita akan selalu dibantu oleh doa-doa pelindung khusus kita. (St. Leo Agung)

Bila kita membandingkan sosok St. Petrus dan Paulus, maka kita akan menemukan beberapa persamaan: (1) keduanya sama-sama mengalami pertobatan[2], mengalami perjumpaan dengan Kristus, yakni perjumpaan yang mengubah diri mereka (2) keduanya disebut sebagai rasul, sekalipun rasul Paulus tidak termasuk ke dalam kelompok keduabelas, namun asal-usul panggilan sebagai rasul berasal dari Yesus (lih. Gal 1:1-18), sekalipun posisi keduanya berbeda (Petrus tetaplah pemimpin tertinggi Gereja) (3) keduanya melakukan perjalanan ke Roma dan membangun gereja di Roma[3], dan juga mengalami kemartiran di kota yang sama (lih. Kis 28:11-30) (4) keduanya mewartakan kebenaran iman yang sama, dst.

Mengenai poin (3) dapat dikatakan demikian: Pelayanan Petrus sebagai pemimpin tertinggi Gereja terkait erat dengan tempat kemartirannya: Roma. Kitab Suci tidak memberitahu kita secara eksplisit mengapa Petrus pergi ke Roma, dan kita pun tahu bahwa misi Petrus ditujukan kepada umat Israel, sedangkan Paulus kepada bangsa bukan Yahudi, namun bukan berarti Petrus tidak boleh atau tidak bisa membaptis bangsa bukan Yahudi. Pembaptisan Cornelius oleh Petrus dan keberangkatan Petrus ke Roma tidaklah bertentangan dengan misi awal Petrus ataupun bermaksud menyaingi Paulus, melainkan merupakan konsekuensi dari perkembangan misi Gereja seperti yang dikehendaki Allah. Paus Benediktus XVI membantu kita memperjelas relasi Petrus dan Paulus: kalau perjalanan St. Paulus ke Roma menekankan aspek katolisitas Gereja, maka perjalanan St. Petrus menekankan aspek kesatuan Gereja: tugas St. Petrus adalah menciptakan kesatuan dari catholica, yakni kesatuan Gereja yang terdiri dari bangsa Yahudi dan bukan Yahudi. Dan inilah misi Petrus secara berkelanjutan: untuk memastikan bahwa Gereja tidak teridentifikasi oleh satu bangsa tertentu, melainkan Gereja tetap menjadi Gereja bagi segala bangsa (Pope Benedict XVI, Homili Hari Raya St. Petrus dan Paulus, 29 Juni 2008).

Poin (4) patut mendapat perhatian khusus. Setelah pembaptisannya, Paulus mewartakan Yesus sebagai Putra Allah dan membuktikan bahwa Ia lah Kristus (Kis 9:20, 22). Kita dapat melihat kesamaan pengakuan iman ini dengan pengakuan iman Petrus: Engkaulah Mesias, Putra Allah yang hidup. Jadi Paulus tidak mewartakan sesuatu yang bertentangan dari Petrus, dan hal ini mencerminkan salah satu tanda Gereja: Gereja yang satu berarti bahwa hanya ada satu iman. Hal ini semakin jelas apabila kita membaca Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia, yang memberitahu kita bahwa Paulus mengunjungi Petrus (juga Yakobus dan Yohanes) di Yerusalem, membentangkan Injil yang ia wartakan di hadapannya, dan pada akhirnya mereka “tidak memaksakan sesuatu yang lain kepadaku” (ay. 6).

Romo Cornelius A’ Lapide mengomentari ayat tersebut demikian: Paulus membentangkan Injil yang diwartakannya, bukan karena ia merasa ragu atau merasa ada yang kurang dalam Injilnya, ataupun merasa bahwa dirinya masih belum menerima pengajaran yang lengkap, karena melalui wahyu Allah ia tahu bahwa ia telah menerima Injil yang sama dan sempurna. Melainkan perbuatannya ini dilakukan demi umat beriman, untuk memperlihatkan bahwa apa yang ia wartakan sama dengan apa yang diwartakan oleh Petrus dengan para rasul. Dengan kata lain, gestur yang dilakukan Paulus ini hendak menegaskan bahwa Paulus berada dalam persekutuan dengan Petrus dan para rasul, terutama dalam hal ajaran.

2.2. Ajaran Paulus tentang Gereja

St. Paulus menggambarkan Gereja dengan beberapa istilah yang membantu kita memahami kesatuan antara Kristus dan Gereja: baginya Gereja adalah tubuh Kristus, dan Kristus adalah kepalanya (Ef 5:23); Gereja juga disebutnya sebagai mempelai Kristus (Ef 5:23-32). Kepala dan tubuh tidak dapat dipisahkan: pisahkan kepalanya maka tubuh akan mati; dalam perkawinan suci pun hanya ada satu mempelai dan bukan banyak mempelai, kita melihat bahwa dalam Perjanjian Lama pun relasi Allah dan bangsa Israel digambarkan demikian. Sekalipun bangsa Israel kerap meninggalkan Allah, namun Allah tetap setia padanya.

Gereja juga digambarkan sebagai Gereja Allah, keluarga Allah (Ef 2:19) dan Bait Allah yang hidup (1 Kor 3:16; 2 Kor 6:16), dan bila digabungkan dengan gambaran Gereja sebagai tubuh Kristus dan mempelai Kristus, maka hal ini menunjukkan asal-usul Gereja yang berasal dari Allah. Gereja tidak lahir dari keputusan dan kehendak manusia, melainkan ia berasal dari inisiatif Allah yang hendak menyelamatkan manusia.

St. Paulus pun juga menegaskan bahwa hanya ada “satu Tuhan, satu iman, satu baptisan” (Ef 4:5-6), dan karenanya hanya ada satu Gereja Kristus. Kesatuan Gereja juga harus berdasarkan kesatuan dalam hal ajaran, sakramen, dan kepemimpinan Paus bersama para uskup. Paulus menyadari bahwa kesatuan Gereja haruslah mengacu juga kepada para rasul, karena Gereja dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru (Ef 2:20).

Persekutuan dengan para rasul juga terlihat jelas dalam hidup St. Paulus: ketika jemaat di Galatia menolak otoritas Paulus dan mempertentangkan dengan otoritas Petrus dan para rasul, ia pergi menemui Petrus dan memastikan bahwa Injilnya yang diwartakannya sama dengan Petrus (Gal 1, 2:1-10).

Kekudusan Gereja terlihat ketika Paulus berkata bahwa anggota Gereja merupakan orang-orang kudus (1 Kor 6:1) dan ia memberikan nasihat supaya “jemaat kudus dan tidak bercela” (Ef 5:27). Gereja itu kudus karena Kristus, Yang Kudus dari Allah, telah menyerahkan diri bagi Gereja-Nya untuk menguduskannya (Ef 5:25-26) dan memberikannya karunia Roh Kudus. Jadi, kekudusan Gereja berasal dari Allah, namun pada saat yang sama, kita sebagai anggota Gereja harus berusaha untuk bertumbuh dalam kekudusan dengan pertolongan sakramen-sakramen.

Universalitas dan katolisitas Gereja terlihat ketika Paulus berkata demikian: Demikianlah kamu [orang bukan Yahudi] bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah (Ef 2:19). Misi Gereja mencakup semua orang, tidak dibatasi oleh kelompok atau golongan tertentu, karena Allah menghendaki agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1 Tim 2:4).

Paulus menasihati Timotius untuk memelihara apa yang telah dipercayakan kepadanya, dan menghindari omongan yang kosong dan tidak suci (1 Tim 6:20). Gereja Katolik menafsirkan ayat tersebut demikian: wahyu publik sudah dinyatakan dalam pribadi Yesus Kristus, dan karenanya tidak akan ada wahyu publik yang baru setelah kematian rasul terakhir (bdk. KGK 65-66). Apa yang dipercayakan kepada Timotius merupakan deposit iman yang berharga dan harus dijaga (ajaran iman dapat berkembang, perkembangan tersebut dijaga dan dituntun oleh Magisterium. Perkembangan ajaran tidak dapat bertentangan dengan ajaran sebelumnya, melainkan dimaksud untuk memperjelasnya). Di sini aspek katolisitas yang berhubungan dengan kepenuhan ajaran terlihat jelas.

Catatan Kaki

[1] Berasal dari kata Tractim, yang berarti sesuatu yang dinyanyikan. Biasanya terdiri dari ayat Mazmur yang memiliki nuansa perkabungan. Tract digunakan untuk menggantikan Alleluia selama masa pertobatan.

[2] Baik Petrus dan Paulus sebenarnya bukanlah orang-orang yang jauh dari Allah, sehingga pertobatan mereka lebih menandakan perubahan diri dari dalam, yakni menjadi pribadi yang makin sehati dan sejiwa dengan Kristus.

[3] Satu-satunya ayat KS yang memberikan petunjuk bahwa Petrus berada di Roma ialah 1 Pet 5:13: “Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon, dan juga dari Markus, anakku.” Di sini kata “Babilon” merupakan kata sandi yang mengacu pada kota Roma. Kehadiran Markus bersama Petrus merupakan indikasi yang konsisten dengan tafsiran ini, karena Paulus pun memberikan petunjuk bahwa Markus berada di Roma ketika ia dipenjara pertama kali di awal tahun 60an (Kol 1:40) (lih. Ignatius Catholic Study Bible: New Testament, hal. 448 mengenai asal-usul surat pertama Rasul Petrus). Namun ada banyak tulisan Bapa Gereja yang memberikan kesasian secara konsisten bahwa Petrus sungguh berada di Roma dan wafat di sana.

Next: Gereja yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik: Pentakosta dan Kehidupan Gereja Perdana

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: