Gereja yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik: Pentakosta dan Kehidupan Gereja Perdana

6558204727_743c8b3d98_b

3. Pentakosta dan Kehidupan Gereja Perdana

Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya… Mereka [umat Kristen] bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. (Kis 2:42)

Kitab Kisah Para Rasul mengajarkan kita banyak hal tentang empat tanda Gereja.

Gereja yang Satu: Ruang atas merupakan tempat berkumpulnya para rasul, Maria Ibu Yesus, dan juga beberapa orang lainnya (Kis 1:13-14). Mereka berkumpul dan “bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama”, hal ini menunjukkan kesatuan Gereja yang harus terlihat dalam kesatuan doa. Kesatuan ini juga tampak ketika jemaat Kristen perdana “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan, dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa”. “Kesatuan memiliki sebuah konten yang diungkapkan dalam doktrin. Ajaran para rasul adalah cara konkret yang mana mereka tetap hadir di dalam Gereja. Berdasarkan ajaran ini, bahkan generasi masa depan, setelah kematian para rasul, akan tinggal dalam kesatuan dengan mereka dan karenanya membentuk Gereja yang sama, Gereja yang satu dan apostolik” (Ratzinger, Behold The Pierced One, hal. 74).

Sudah sejak zaman para rasul kita dapat melihat kesatuan umat beriman dengan para rasul, terutama di saat-saat yang sulit. Dalam Kis 12:1-17, ketika Petrus ditahan di dalam penjara, “jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah” (ay. 5). St. Yohanes Krisostomus memberikan penjelasan yang indah terhadap perikop tersebut:

“Doa tersebut merupakan doa yang berlandaskan kasih seorang anak. Semuanya berdoa bagi bapa mereka, bagi bapa yang mereka kasihi… Pelajarilah seperti apa perasaan umat beriman terhadap para pemimpin mereka. Mereka tidak memberontak atau mengamuk, melainkan mereka berdoa, karena doa merupakan pertolongan yang tak terkalahkan. Mereka tidak berkata: Kita bukan siapa-siapa, bagaimana mungkin kita dapat berdoa untuk dia? Sebaliknya mereka berdoa karena cinta kasih, tanpa memikirkan hal lain!” (Homili 26 tentang Kisah Para Rasul)

Dalam Misa Inaugurasi untuk paus yang baru, ketika Paus melakukan prosesi dari dalam Basilika menuju St. Peter’s square, dinyanyikanlah Laudes Regiae[1], sebuah himne yang sekaligus pula merupakan doa untuk paus yang baru. Doa yang dilambungkan di hadapan Allah ini sekaligus juga merupakan seruan untuk memohon pertolongan para kudus: dengan berseru tu illum adiuva, yang berarti tolonglah/topanglah penerus St. Petrus yang baru, terlihat pula kesatuan antara Gereja yang jaya dan Gereja militan. Gereja yang satu, dengan kata lain, merupakan Gereja yang bersatu dalam doa, dalam persekutuan dengan Tuhan, secara khusus dalam liturgi.

Gereja yang Kudus: Kisah Pentakosta mengingatkan kita akan adanya relasi antara Roh Kudus dan Gereja: Roh Kudus merupakan jiwa Gereja, sebagaimana dalam teks St. Paulus, Gereja merupakan Tubuh Kristus dan Yesus adalah kepalanya, maka yang namanya tubuh pun mesti memiliki jiwa. “Gereja itu kudus bukan karena jasa-jasanya, tetapi karena, dengan dihidupi oleh Roh Kudus, Gereja tetap memandang Kristus guna menyelaraskan diri kepada-Nya dan kasih-Nya” (Paus Benediktus XVI).

Kelahiran Gereja berhubungan erat dengan kedatangan Roh Kudus: ini berarti Gereja lahir berkat kuasa Allah dan kehendak-Nya, dan bukan karena keputusan atau kehendak manusia. Jadi, asal-usul Gereja bersifat ilahi dan manusia tidak akan pernah bisa menciptakan gereja.

Setelah mendengar khotbah perdana Petrus, banyak orang bertanya: apa yang harus kami lakukan? Jawabannya jelas: mereka harus bertobat, dibaptis, dan menerima Roh Kudus (Kis 2:38). Melalui baptisan, semua dosa dihapus dan mereka menerima rahmat pengudusan, dan karenanya baptisan menandai awal perjalanan menuju kekudusan di dalam Gereja. Terdapat hubungan antara pewartaan dan pertobatan, yang mengarah pada baptisan dan masuknya seseorang menjadi anggota Gereja. Sekali lagi aspek Gereja yang kudus terlihat jelas: para rasul berperan dalam mewartakan dan memberikan sakramen untuk menguduskan manusia. Ajaran para rasul dapat disebut sebagai ajaran yang suci, karena ia membantu kita untuk menghindari dosa dan memperjuangkan kekudusan.

Gereja yang Katolik: Sebelum Pentakosta, Yesus sudah berkata bahwa turunnya Roh Kudus akan membuat para rasul menjadi saksi-Nya hingga ke ujung bumi. Dengan turunnya Roh Kudus dalam diri para rasul, mereka menjadi mampu untuk berbicara dalam bahasa yang berbeda-beda. Paus Benediktus menegaskan bahwa sejak hari lahirnya Gereja sudah memiliki ciri universal dan misioner, karena adanya kuasa Roh Kudus yang memampukan para rasul untuk berbicara dalam banyak bahasa. Dengan demikian, karya misi Gereja, pertama dan terutama merupakan karya Roh Kudus, yang pada saat bersamaan juga membutuhkan kerja sama manusia. Peristiwa ini sangat bertolakbelakang dengan peristiwa pembangunan menara Babel, “ketika orang-orang ingin membangun sebuah jalan ke surga dengan tangan mereka dan berakhir dengan menghancurkan kapasitas untuk saling memahami, dalam Pentakosta, Roh bersama dengan karunia lidah, menggambarkan bahwa kehadirannya menyatukan dan mengubah kekacauan (confusion) menjadi persekutuan (communion).” (Pope Benedict XVI, Homili Hari Raya Pentakosta, 4 Juni 2006 )

Aspek universalitas dan katolisitas Gereja juga terlihat dalam dua peristiwa: (1) pembaptisan perwira Romawi, yakni Cornelius dan keluarganya oleh St. Petrus (Kis 10:1-48), (2) adanya catatan perjalanan Paulus menuju Roma, yang mana Kisah Para Rasul ditutup dengan pewartaan Paulus di Roma (Kis 28:11-30). Kardinal Ratzinger membantu kita memahami pentingnya makna Roma di kitab tersebut:

Inilah tema dari setiap bab dalam Kisah Para Rasul, yang menggambarkan transisi Injil dari bangsa Yahudi ke bangsa bukan Yahudi, dari Yerusalem menuju Roma. Dalam struktur Kisah Para Rasul, Roma, yang muncul di penutup kitab tersebut, mewakili dunia bangsa bukan Yahudi sebagai sebuah keseluruhan, dunia bangsa-bangsa, yang selau dilihat sebagai lawan dari Umat Allah masa lampau. Kisah Para Rasul berakhir dengan kedatangan Injil di Roma—bukan seakan-akan akibat dari tindakan pengadilan terhadap Paulus tidak lagi menjadi perhatian, tetapi semata karena kitab ini bukanlah novel ataupun biografi, kedatangan Paulus di Roma menandai tujuan dari jalan yang dimulai di Yerusalem; Gereja universal—katolik—telah diwujudkan, dalam kesinambungan dengan Bangsa Terpilih masa lampau dan sejarahnya serta [Gereja] mengambil alih misinya. Dengan demikian Roma, sebagai simbol bagi dunia bangsa-bangsa, memiliki status teologis dalam Kisah Para Rasul; ia tidak bisa dipisahkan dari gagasan Katolisitas penginjil Lukas. (Behold The Pierced One, hal. 72)

Gereja yang Apostolik: Yesus Kristus membangun Gereja-Nya di atas fondasi para rasul, dengan Petrus sebagai pemimpinnya. Agar misi yang dipercayakan Tuhan kepada mereka dapat tetap bertahan hingga akhir zaman, maka mereka pun perlu memilih para penerus mereka yang bertanggungjawab untuk mewartakan apa yang sudah diterima. Kita melihat hal ini dalam kisah pemilihan Matias, ketika Petrus berkata “biarlah jabatannya diberikan kepada orang lain” (Kis 1:21). Dengan kata lain, suksesi apostolik membantu kita untuk menelusuri asal-usul Gereja, dan karenanya membantu kita tiba pada kesimpulan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan Yesus di atas para rasul. Tertullian menggambarkan peran penerus para rasul dalam kehidupan Gereja:

Mereka [Para Rasul] mendirikan gereja-gereja di setiap kota. Gereja-gereja lain menerima dari mereka pencangkukkan iman yang hidup dan benih ajaran, dan melalui proses transplantasi sehari-hari ini mereka menjadi gereja-gereja. Oleh karena itu, mereka memenuhi syarat sebagai gereja apostolik dengan menjadi keturunan gereja-gereja yang apostolik. Setiap keluarga harus ditelusuri kembali ke asal-usulnya. Itulah sebabnya kita dapat berkata bahwa semua gereja besar ini merupakan satu Gereja asal dari para rasul, karena dari merekalah ia semua berasal. Mereka semua [gereja] primitif, gereja apostolik, karena mereka semua satu. Mereka memberi saksi atas kesatuan ini melalui damai yang mereka semua hidupi, persaudaraan yang adalah nama mereka, persekutuan, yang mereka ikrarkan. Prinsip yang mendasari asosiasi-asosiasi ini adalah tradisi bersama yang olehnya mereka berbagi ikatan sakramental yang sama. (Tertullian, Prescription)

Catatan Kaki

[1] Teks lengkap Laudes Regiae terdapat dalam teks Misa Inaugurasi Paus Benediktus XVI (dan juga Paus Fransiskus), yang dapat diakses oneline di sini: http://www.vatican.va/news_services/liturgy/2005/documents/ns_lit_doc_20050424_messa-inizio-pontif_it.html

Next: Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik: Rangkuman & Penutup

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: