Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik: St. Petrus

6558204727_743c8b3d98_b

1. Petrus dan Keduabelas Rasul

1.1. Panggilan Awal Petrus

Kisah panggilan awal Petrus sebagai murid Tuhan terdapat dalam Injil Lukas 5:1-11. Perikop ini bagaikan jendela yang memampukan kita memandang masa depan Gereja dengan keempat tandanya yang kelihatan, sekalipun secara samar-samar.

Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon… Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.

Perahu atau kapal merupakan salah satu gambaran tentang Gereja. Meskipun terdapat dua perahu, namun perahu Simon lah yang dipilih Yesus. Kita tidak tahu secara detil mengapa Yesus memilih perahu Simon, namun bila kita membaca Injil secara lengkap, kita melihat bahwa Simon Petrus memiliki tempat khusus dalam hati Yesus dan sejarah Gereja: Di atas Petruslah Yesus akan mendirikan Gereja-Nya, hanya kepada Petrus kunci-kunci Kerajaan Surga diberikan Yesus; juga hanya Petrus yang menerima misi untuk menguatkan iman saudara-saudaranya dan menggembalakan domba. Ayat ini merupakan pertanda awal dari kepemimpinan tertinggi Petrus di dalam Gereja dan ciri apostolik Gereja.

Di dalam perahu Simon, Yesus duduk dan mengajar: duduk merupakan gestur yang melambangkan otoritas seseorang yang mengajar. Dengan kata lain, hanya dalam perahu St. Petrus lah kita menemukan Yesus yang terus berbicara melalui penerus para rasul. Otoritas yang dimiliki para rasul dan penerusnya tidak berasal dari diri mereka sendiri, melainkan berasal dari Allah. Hanya di dalam bahtera Petrus, kita akan menemukan pengajaran Yesus yang sejati. Hanya di dalam bahtera Petrus, yang tidak lain adalah Gereja Katolik, kita dapat dibawa kepada perjumpaan dengan Yesus yang sejati.

Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” … “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.”

Perkataan Yesus kepada Simon ini juga merupakan pertanda akan sifat Gereja yang katolik atau universal. St. Agustinus menafsirkan bahwa “tempat yang dalam” berarti Injil harus diwartakan ke bangsa-bangsa yang jauh. Hal ini juga berhubungan dengan perkataan Yesus tentang penjala manusia: bahwa semua manusia harus bersatu ke dalam keluarga Allah, ke dalam Gereja Katolik.

Sekalipun demikian, harus diingat bahwa kata Katolik, yang berarti keseluruhan, atau kepenuhan, juga memiliki arti kepenuhan kebenaran dan rahmat yang menyelamatkan:

Gereja disebut Katolik atau universal karena ia telah tersebar di seluruh dunia, dari satu ujung dunia ke ujung lainnya. Ia disebut Katolik karena ia mengajarkan secara penuh dan tanpa gagal semua ajaran yang harus dibawa kepada pengetahuan manusia, entah itu berhubungan dengan perkara yang kelihatan dan tidak kelihatan, dengan realitas-realitas surgawi dan duniawi. Alasan lain untuk nama Katolik ialah karena ia membawa semua kelompok manusia dalam ketaatan religius, penguasa dan warga negara, orang terpelajar dan tuna aksara (St. Sirilus dari Yerusalem, Catechetical 18)

“Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

Seseorang yang mengandalkan kekuatan sendiri, tidak akan berhasil berbuat apa-apa. Kita tahu bahwa melalui ketaatan Petrus terhadap perkataan Tuhan, ia berhasil mendapat banyak ikan. Keberhasilan Petrus tidak dapat kita pisahkan dari kesediaan untuk membiarkan dirinya dibimbing oleh Allah: dengan kata lain, segala usaha yang dilakukan manusia untuk membangun Gereja, pertama dan terutama merupakan karya Allah. Hal yang sama dapat kita lihat dalam peristiwa Pentakosta: sebelum menerima Roh Kudus, para rasul bukanlah orang yang berani mewartakan Injil, namun ketika Roh Kudus turun atas mereka, mereka mengalami perubahan dan menjadi berani mewartakan Injil.

Pemazmur mengingatkan kita: jika bukan Tuhan yang membangun, maka sia-sialah usaha orang yang membangunnya (Mzm 127:1). St. Agustinus berkata bahwa memang banyak orang yang berusaha membangun rumah Tuhan, namun bila Tuhan tidak berperan serta di dalamnya, maka sia-sialah mereka yang membangunnya. Namun siapakah orang-orang yang membangun ini? St. Agustinus menjawab: Mereka yang mewartakan Sabda Allah di dalam Gereja, dan para pelayan sakramen-sakramen Allah. Pewarta Sabda Allah dan pelayan sakramen: keduanya merupakan tugas mereka yang menerima tahbisan suci. Kedua hal ini mengarahkan kita kembali kepada peristiwa Yesus yang memilih keduabelas rasul. Ketika dikatakan Yesus “menetapkan” keduabelas rasul, kata “menetapkan” merupakan terminologi Perjanjian Lama yang mengacu kepada penetapan seseorang untuk mengemban fungsi imamat. Dengan kata lain, jabatan para rasul berarti pula jabatan imamat (bdk. Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth, Vol I, hal. 171).

… mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak… lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.

St. Ambrosius mengaitkan peristiwa panggilan Petrus dengan kejadian lain di Injil Matius, yang sama-sama bebicara tentang perahu. Dalam Injil Lukas, banyaknya tangkapan ikan hampir membuat jala koyak dan perahu tersebut tenggelam, sedangkan dalam Injil Matius 8:23-27, “angin ribut yang hebat dan gelombang-gelombang besar” lah yang melanda perahu tersebut dan membuat para murid merasa bahwa mereka akan binasa.

Ayat tersebut menjadi pertanda akan kekudusan dan kesatuan Gereja. St. Agustinus menafsirkan bahwa banyaknya ikan yang hampir menenggelamkan perahu dan mengoyak jala ini merupakan tanda bahwa akan adanya perpecahan: kesesatan dan skisma akan menjadi bagian dari sejarah Gereja. Ini artinya sebagai penjala manusia, akan ada orang-orang yang sekalipun telah berada di dalam Gereja, namun mereka tidak hidup seturut ajaran dan hukum Allah. Dalam Gereja yang kudus ternyata ada para pendosa. Dalam Gereja yang satu, ternyata perpecahan dapat terjadi di antara para anggotanya, dan karenanya kesatuan tetap menjadi tugas kita bersama.

Yesus sudah mengetahui akan hal ini, oleh karena itulah Dia berdoa bagi kesatuan para muridnya: “… supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17:21)

Peristiwa ini secara implisit menggambarkan masa depan Gereja: bahtera yang dikemudikan St. Petrus dan penerusnya, yang mengarungi lautan waktu, tidak akan terlepas dari berbagai macam cobaan dan penganiayaan, yang berasal dari luar dan dalam. Akan ada situasi ketika kita merasa bahwa Tuhan tampak tertidur dan perahu hampir tenggelam; akan ada situasi yang mungkin membuat kita ingin berseru seperti para murid: Tuhan tolong, kita binasa! Namun Tuhan sudah berjanji kepada Petrus bahwa alam maut tidak akan menguasai Gereja-Nya (Mat 16:18-20), ini berarti bahwa sekalipun ada banyak dosa yang dilakukan putra-putri Gereja, yang menodai wajah Gereja, sekalipun terdapat perpecahan di antara umat beriman, namun Gereja Kristus tetaplah satu dan berdiri kokoh. Gereja Kristus tetaplah suci karena kekudusan Gereja tidak bergantung kepada kekudusan para anggotanya, melainkan bergantung kekudusan Allah.

Mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya.

Ternyata, dalam mengarungi lautan sejarah, Petrus dan penerusnya tidaklah sendirian. Ia memiliki teman-teman yang “datang membantunya”. Bila kita mempelajari sejarah Gereja, kita melihat bahwa dalam periode tertentu ketika Gereja menemui berbagai kesulitan, selalu ada orang-orang kudus yang tampil ke atas panggung sejarah untuk membangun Gereja, membaruinya, dan melindunginya dari perpecahan: mulai dari St. Petrus dan Paulus, St. Ambrosius dan Agustinus, St. Dominikus dan Fransiskus, St. Ignatius dari Loyola dan Yohanes dari Avila, St. Carolus Boromeus dan Filipus Neri, hingga St. Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI.

1.2. Yesus Memanggil Keduabelas Rasul

Kisah tentang pemanggilan Kedubelas Rasul dapat ditemukan dalam Injil Markus: “Kemudian Yesus mendaki pegunungan dan memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan keduabelas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil” (Mrk 3:13).

Ketika Yesus menetapkan keduabelas rasul[1], Ia bermaksud mendirikan sebuah keluarga Allah yang baru. Bila kita membaca Perjanjian Lama dalam perspektif perjanjian antara Allah dan manusia[2], maka kita dapat memahami betapa Allah melaksanakan rencana-Nya secara bertahap. Namun sayangnya saya tidak dapat membahas secara detail mengenai hal ini, namun poinnya jelas: penetapan Keduabelas rasul memiliki kesinambungan dengan rencana Allah dalam Perjanjian Lama.

Para rasul ditetapkan untuk menyertai Yesus dan mewartakan Injil: berada bersama Yesus merupakan hal yang hakiki, karena melalui para rasullah kita dapat mengenal Yesus Kristus yang sejati. Jadi, dapat dikatakan bahwa para rasul adalah pakar atau ahli tentang Yesus Kristus dikarenakan kedekatan mereka yang intim dengan Yesus, yang tidak dapat dimiliki oleh pendiri Protestanisme dan pendiri denominasi lainnya. Semua pemahaman kita mengenai Yesus haruslah bersumber dari kesaksian para rasul. Iman kita akan Yesus Kristus pun haruslah bersumber dari mereka, sebagaimana ditekankan Irenaeus:

Gereja, yang telah tersebar dimana-mana, bahkan hingga ke ujung bumi, menerima iman dari para rasul dan murid-murid mereka… Gereja, yang tersebar di seluruh dunia, menerima pewartaan ini dan iman ini, dan kini menjaganya dengan seksama, berdiam seakan-akan berada di dalam satu rumah. Sehati dan sejiwa, Gereja berpegang pada iman ini, mewartakan dan mengajarkannya secara konsisten seakan-akan melalui satu suara. Karena sekalipun terdapat bahasa yang berbeda-beda, hanya ada satu tradisi. (Irenaeus, Heresies)

Kristus telah berjanji untuk menyertai para murid-Nya hingga akhir zaman, dan ia pun memberikan tiga tugas kepada mereka: tugas untuk mengajar, menguduskan dan memerintah (bdk Mat 28:20). Ketiga tugas ini akan terlihat dalam Kisah Para Rasul. Paus Benediktus XVI menegaskan ikatan antara Yesus dan para rasul:

Oleh karena itu, Keduabelas Rasul adalah tanda yang paling jelas akan eksistensi dan misi Gereja-Nya, jaminan bahwa di antara Kristus dan Gereja tidak ada oposisi: sekalipun terdapat dosa-dosa dari mereka yang membentuk Gereja, [Kristus dan Gereja] tidaklah terpisahkan. Dengan demikian, slogan yang populer beberapa tahun belakangan “Yesus Ya, Gereja Tidak” merupakan hal yang berlawanan dengan maksud Yesus. (Benedict XVI, The Apostles, hal. 12)

1.3. Pengakuan Petrus

Peristiwa penting yang menunjukkan bahwa Yesuslah yang mendirikan Gereja terdapat dalam kisah pengakuan Petrus (Mat 16:13-20). Ketika Yesus bertanya kepada para rasul “menurut kamu, siapakah aku ini?”, maka hanya Petruslah yang memberikan jawaban. Petrus tampil sebagai juru bicara rasul lainnya, menyatakan pengakuan imannya yang tidak berasal dari daging dan darah, melainkan dari Bapa: “Engkaulah Mesias, Putra Allah yang hidup”. Lalu Yesus pun menjawab:

“Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini, Aku akan mendirikan jemaat-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

Kata “jemaat-ku”, dalam Kitab Suci berbahasa Inggris ditulis sebagai “my Church”, atau dalam bahasa latin ecclesiam meam, dan dalam bahasa Yunani ekklesia. Kristus tidak mendirikan gereja-gereja, melainkan hanya mendirikan satu Gereja. Dan sudah sejak di abad kedua, kita mengetahui bahwa Gereja Kristus adalah Gereja Katolik[3]. Tulisan St. Ignatius Antiokia (35-108 AD) menegaskan hal tersebut: “Di mana pun Yesus Kristus berada, di sana ada Gereja Katolik.” (Letter to the Smyrnaeans, Ch. 8)

Gereja selalu menafsirkan batu karang[4] yang dimaksud sebagai pribadi Petrus dan juga pengakuan imannya[5], sebagaimana terlihat dalam Doa Pembuka Misa Tridentine untuk Hari Raya St. Petrus dan Paulus:

Grant, we beseech thee, O almighty God, that we, whom thou hast founded on the rock of the Apostolic Faith, may be never shaken by any troubles.

Dan jelas sekali ada kaitan yang erat antara Gereja dan Petrus, sebagaimana diungkapkan dalam bahasa latin: ubi Petrus, ibi ecclesia: di mana ada Petrus, di sana ada Gereja. Ada ikatan yang tidak terpisahkan antara Kristus dan para rasul, antara Yesus dan Gereja. Kita tidak bisa mengaku sebagai pengikut Kristus kalau kita menolak Gereja-Nya; kita bukanlah pengikut Kristus kalau kita menolak untuk berada dalam persekutuan dengan Penerus Petrus dan para rasul. Sebagaimana diperingatkan St. Siprian: “Tak seorangpun dapat memiliki Allah sebagai Bapa, yang tidak memiliki Gereja sebagai Ibu.”

Keberadaan Gereja, pertama dan terutama, merupakan karunia atau pemberian Allah. Manusia tidak dapat mendirikan gereja dengan usahanya sendiri, kita hanya dapat menerima Gereja dari Kristus, seperti ditegaskan Kardinal Ratzinger:

Pada tempat pertama, tak seorangpun dapat membuat Gereja oleh dirinya. Sebuah kelompok tidak bisa semata berkumpul bersama, membaca Perjanjian baru dan menyatakan: “Sekarang kita adalah Gereja karena Tuhan hadir ketika dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya.” Unsur “menerima” secara hakiki merupakan milik Gereja, sama seperti iman yang berasal dari “pendengaran” dan bukan akibat keputusan atau permenungan… Seseorang tidak dapat membuat Gereja tetapi hanya bisa menerimanya… (Joseph Ratzinger, The Ecclesiology of Vatican II)

1.4. Kejatuhan St. Petrus

Kita semua tahu bahwa Petrus adalah sosok yang lemah dan rapuh: ketika berjalan di atas air, ia mulai merasa takut dan hampir tenggelam sebelum Yesus menolongnya; ia pernah ditegur Yesus karena “memikirkan apa yang dipikirkan manusia”; namun tentunya yang pasti kita ingat adalah ini: Ia menyangkal Tuhan Yesus sebanyak tiga kali. Cerita lainnya: ketika kaisar Nero menganiaya kota Roma, Petrus hendak melarikan diri[6].

Namun kejatuhan Petrus ini diikuti oleh kebangkitannya: Injil Lukas memberitahu kita bahwa setelah Petrus menyangkal Yesus, Tuhan “memandang Petrus” (Luk 22:61), lalu Petrus pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya (ay. 62). Ketika Petrus hendak meninggalkan Roma, sekali lagi Yesus menampakkan diri, dan ketika Petrus bertanya quo vadis, Domine? Tuhan menjawab: Aku hendak pergi ke Roma untuk disalibkan kedua kalinya. Kisah ini pun berakhir dengan penyaliban Petrus secara terbalik, karena ketidaklayakannya untuk menerima penyaliban yang sama seperti Tuhan. Karena itu tergenapilah perkataan Tuhan: “Jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” (Yoh 21:18)

Kedua peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah bekerja melalui manusia yang lemah: kekudusan yang Allah berikan kepada Gereja tidaklah tergantung pada kesempurnaan manusia. Sekalipun anggota Gereja secara individual dapat berdosa, namun hal ini tidak menjadi halangan bagi Allah untuk menguduskan manusia. St. Petrus memberikan teladan untuk menjadi kudus: yakni kita harus berjumpa dengan Tuhan, secara khusus melalui doa dan sakramen-sakramen (terutama sakramen tobat dan Ekaristi), kita pun harus menangisi dosa kita dan melakukan kewajiban kita sebagai orang Katolik.

1.5. Sketsa Singkat tentang Primat Petrus

Aspek kesatuan Gereja juga berhubungan dengan kesatuan dalam kepemimpinan Petrus dan penerusnya, dan oleh karena itu kita perlu menyinggung sedikit mengenai primat Petrus. Saya tidak akan menjelaskan secara lengkap mengenai primat Petrus, melainkan hendak menunjukkan melalui Kitab Suci dan Bapa Gereja (hanya ditampilkan satu contoh) betapa Petrus memiliki posisi utama sebagai pemimpin di antara para rasul, serta salah satu peran yang dijalankannya (kuasa untuk mengajar).

  1. Nama Petrus muncul 114 kali di keempat Injil dan 57 kali di Kisah Para Rasul, sementara nama rasul yang paling dikasihi Yesus, Yohanes, hanya muncul 38 kali di Injl dan 8 kali di Kisah Para Rasul.
  2. Petrus bersama dengan Yohanes dan Yakobus merupakan kelompok istimewa yang diundang Kristus untuk menyaksikan beberapa kejadian penting, seperti transfigurasi di Gunung Tabor (Mrk 9:2), kesengsaraan Yesus di Getsemani (Mrk 14:33). Di antara ketiganya, nama Petrus selalu disebut pertama, yang terjadi juga ketika Injil mencatat seluruh daftar keduabelas rasul (sedangkan nama Yudas Iskariot disebut paling akhir).
  3. Primat Petrus juga terlihat jelas dalam Kisah Para Rasul: Petruslah yang mengarahkan pemilihan Matias sebagai anggota keduabelas rasul (Kis 1:15-26); Petrus juga orang pertama yang berkhotbah kepada banyak orang setelah Pentakosta (Kis 2:14-41); Ia juga yang melakukan mukjizat pertama (Kis 3:6-7); Dia juga yang memimpin Konsili di Yerusalem (Kis 15:7-11).
  4. Yesus melakukan tiga hal hanya kepada Petrus: (1) Ia memberikan kunci[7] Kerajaan Surga (Mat 16:19) (2) Yesus berdoa bagi Petrus dan memerintahkannya untuk menguatkan iman saudara-saudarinya (Luk 22:32) (3) Secara khusus Yesus meminta Petrus untuk menggembalakan domba-dombanya sebanyak 3 kali, dan syarat untuk menggembalakan domba Kristus adalah cinta Petrus kepada-Nya (Yoh 21:15-17). Pada poin (3) inilah Yesus memberikan otoritas tertinggi kepada Petrus.
  5. Ada banyak bukti tulisan Bapa Gereja yang mendukung primat Petrus, salah satunya:

Tuhan berkata kepada Petrus: ‘Aku berkata kepadamu’, kata-Nya, ‘bahwa engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku’ … Di atasnya [Petrus] Ia membangun Gereja, dan kepadanya Ia memberikan perintah untuk menggembalakan domba (Yoh 21:17), dan sekalipun ia memberikan kuasa yang serupa kepada para rasul, namun ia hanya mendirikan satu takhta [cathedra], dan ia menetapkan oleh otoritasnya sendiri, sebuah sumber dan alasan intrinsik untuk kesatuan itu. Sungguh, yang lain juga sama seperti Petrus, tetapi primat diberikan kepada Petrus, yang mana menjadi jelas bahwa hanya ada satu Gereja dan satu takhta. Demikian pula, semua rasul adalah gembala, dan kawanan domba diperlihatkan hanya ada satu, digembalakan oleh semua rasul dalam keselarasan pikiran. Bila seseorang tidak berpegang teguh pada kesatuan Petrus ini, dapatkah ia membayangkan bahwa ia masih memiliki iman? Bila ia harus membelot dari takhta Petrus yang di atasnya Gereja dibangun, dapatkah ia masih merasa yakin bahwa ia berada di dalam Gereja? (St. Siprian dari Kartage, The Unity of the Catholic Church 4; 1st edition [A.D. 251]).

Primat Petrus memiliki hubungan erat dengan salah satu hari raya liturgi: Hari Raya Takhta St. Petrus. Apa arti dari Primat Petrus, dan bagaimana Penerus Petrus harus menjalankan fungsinya sebagai seseorang yang duduk di takhta? Paus Benediktus XVI menerangi pemahaman kita akan hal ini:

Inilah tugas semua Penerus St. Petrus: menjadi pembimbing dalam pengakuan iman dalam Kristus, Putra Allah yang hidup. Takhta Roma terutama adalah Takhta akan keyakinan ini. Dari tempat yang tinggi di Takhta ini, Uskup Roma terus menerus terikat untuk mengulangi perkataan: Dominus Iesus – “Yesus adalah Tuhan’, sebagaimana ditulis St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma (10:9), dan kepada jemaat di Korintus (1 Kor 12:3). Kepada jemaat Korintus ia menegaskan: “Sebab sungguhpun ada apa yang disebut “allah”, baik di sorga, maupun di bumi–dan memang benar ada banyak “allah” dan banyak “tuhan” yang demikian– namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, …  dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup. ” (1 Kor 8:5-6)

Takhta Petrus mewajibkan semua yang menempatinya berkata, seperti perkataan Petrus di waktu krisis di antara para murid ketika banyak orang mau meninggalkan dia: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.”

Ia yang duduk di Takhta Petrus harus mengingat perkataan Tuhan kepada Simon Petrus saat Perjamuan Terakhir: “… Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Ia yang mengemban jabatan pelayanan Petrus haruslah menyadari bahwa ia adalah manusia yang lemah dan rapuh—sama seperti kuasanya yang lemah dan rapuh—dan terus-menerus membutuhkan pemurnian dan pertobatan.

Uskup Roma duduk di atas takhta untuk menjadi saksi Kristus. Karena itu, takhta adalah simbol potestas docendi, kuasa untuk mengajar yang merupakan bagian hakiki dari mandat untuk mengikat dan melepas yang Tuhan berikan kepada Petrus, dan setelahnya, kepada Keduabelas Rasul. Di dalam Gereja, Kitab Suci, pemahaman tentangnya bertambah di bawah inspirasi Roh Kudus, dan pelayanan untuk menafsirkan secara otentik yang diberikan kepada Para Rasul, terikat secara tak terpisahkan. Kapan pun Kitab Suci dipisahkan dari suara Gereja yang hidup, ia menjadi mangsa perdebatan di antara para ahli.

Namun ilmu pengetahuan belaka tidak bisa memberikan kita interpretasi yang definitif dan mengikat, ia tidak mampu memberikan kita, dalam penafsirannya, sebuah kepastian yang mana kita dapat hidup dan yang untuknya kita bahkan dapat mati. Mandat yang lebih besar diperlukan untuk hal ini, yang tidak berasal dari kemampuan manusiawi belaka. Suara Gereja yang hidup merupakan hal yang hakiki untuk hal ini, yakni Gereja yang dipercayakan hingga akhir zaman kepada Petrus dan Kolega Para Rasul.

Kuasa mengajar ini menakutkan banyak orang di dalam dan luar Gereja. Mereka bertanya-tanya apakah kebebasan hati nurani diancam atau apakah kuasa mengajar merupakan sebuah praduga yang berlawanan dengan kebebasan berpikir. Hal tersebut tidaklah demikian. Kuasa yang diberikan Kristus kepada Petrus dan penerusnya, dalam artian absolut, merupakan mandat untuk melayani. Kuasa mengajar di dalam Gereja melibatkan komitmen untuk melayani dalam ketaatan terhadap iman. Paus bukanlah monarki absolut, yang pemikiran dan keinginannya adalah hukum. Sebaliknya, pelayanan Paus adalah jaminan akan ketaatan terhadap Kristus dan Sabda-Nya. Ia seharusnya tidak mewartakan gagasannya, melainkan terus menerus mengikatkan dirinya dan Gereja kepada ketaatan terhadap Sabda Allah, ketika menghadapi setiap upaya untuk mengubahnya atau melemahkannya, dan dalam setiap bentuk oportunisme.

Paus mengetahui bahwa dalam keputusan-keputusannya yang penting, ia terikat dengan komunitas iman yang besar di sepanjang zaman, ia terikat dengan interpretasi yang mengikat yang telah berkembang di sepanjang peziarahan Gereja. Jadi, kuasanya tidak berada di atas, melainkan ada untuk melayani Sabda Allah. Ia berkewajiban untuk memastikan bahwa Sabda ini terus hadir dalam keagungannya dan bergema dalam kemurniannya, sehingga ia tidak dikoyakkan berkeping-keping oleh perubahan yang berkelanjutan dalam penggunaannya.

Takhta merupakan—mari kita katakan sekali lagi—simbol kuasa mengajar, yang merupakan kuasa ketaatan dan pelayanan, sehingga Sabda Allah—kebenaran!—dapat bersinar di antara kita dan menunjukan kita jalan kehidupan (Pope Benedict XVI, Homili 7 Mei 2005)[8].

Catatan Kaki

[1] Paus Benediktus XVI berkata bahwa kata “menetapkan” merupakan terminologi Perjanjian Lama yang mengacu kepada penunjukkan seseorang untuk mengemban fungsi imamat (lih. Yesus dari Nazareth, Vol I, hal. 171). “Kedubelas” juga merupakan simbol dari 12 suku Israel, dan karenanya Gereja Katolik merupakan Israel yang baru.

[2] Scott Hahn dalam bukunya berjudul A Father Who Keeps His Promise membantu kita memberikan gambaran besar dalam memahami Kitab Suci: Ia menunjukkan bahwa sejak awal Allah tidak pernah meninggalkan manusia setelah kejatuhannya, melainkan Ia terus mengejarnya dan mengadakan perjanjian dengan manusia secara bertahap melalui Adam, Nuh, Abharam, Musa, Daud yang kemudian tergenapi dalam pribadi Yesus Kristus. Melalui perjanjian keluarga secara bertahap ini, Allah memperluas bentuk perjanjian-Nya yang berawal dari perkawinan, rumah tangga, suku, bangsa, kerajaan nasional hingga Gereja Katolik. Oleh karena itulah, Katekismus Gereja Katolik mengatakan bahwa Gereja itu merupakan rencana Allah Tritunggal yang diwujudkan secara bertahap melalui sejarah manusia (lih. KGK 758-762).

[3] Mungkin ada yang bertanya mengenai istilah Katolik Roma yang sering kita dengar. Sejujurnya, secara historis istilah Katolik Roma merupakan “ejekan” bagi umat Katolik (yang adalah pengikut Paus) yang diciptakan oleh kaum Anglikan di abad 16, dengan maksud untuk mengakui diri mereka sebagai Katolik. Istilah Katolik Roma sendiri juga tidak pernah terdapat dalam dokumen-dokumen resmi Gereja, misalnya dalam dokumen Konsili Vatikan II.

[4] Argumen yang sering digunakan oleh Protestan ialah adanya perbedaan kata antara petros dan petra, yang mana petros berarti batu kecil, sedangkan petra berarti batu yang besar dan kuat, yang menandakan bahwa keduanya mengacu pada hal yang berbeda. Namun hal ini dapat dengan mudah dibantah: saat itu Yesus berbicara menggunakan bahasa Aram, dan hanya ada satu kata untuk kata batu karang yakni Kefas, dan dengan demikian mengacu kepada pribadi Petrus. Jadi ayat tersebut berbunyi demikian: Engkau adalah Kefas dan di atas Kefas ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku. Mengenai distingsi petros dan petra, sebenarnya kata Yunani yang digunakan untuk batu kecil adalah lithos, bukan petros. Dalam tata bahasa Yunani, kata memiliki gender entah itu maskulin atau feminin. Petra merupakan bentuk feminin (yang menggambarkan batu karang), sedangkan petros adalah bentuk maskulin (karena mengacu ke nama Petrus yang adalah laki-laki), namun keduanya mengacu kepada Petrus.

[5] Beberapa Protestan dan juga Orthodox sering menggunakan argumen batu karang=pengakuan iman Petrus sebagai alasan untuk menolak primat Petrus, dengan menggunakan teks dari Bapa Gereja. Memang beberapa Bapa Gereja mengartikan batu karang sebagai pribadi Petrus dan pengakuan imannya, namun bila tulisan Bapa Gereja diteliti lebih lanjut, tidak ada Bapa Gereja yang membatasi arti batu karang hanya sebatas pada pengakuan iman Petrus, sebaliknya justru kedua arti ini dipertahankan dan mereka juga mendukung primat Petrus. Gereja Katolik selalu mengkaitkan pengakuan iman Petrus dengan pribadinya, tanpa adanya pribadi Petrus maka pengakuan imannya tidak mungkin terjadi. Dengan demikian, makna batu karang sebagai pribadi Petrus menempati tempat utama dalam menafsirkan Mat 16:18.

[6] Kisah ini tidak terdapat dalam Injil atau kitab lainnya, namun terdapat dalam apokripa Acts of Peter no. XXXV.

[7] Teolog abad pertengahan Francisco Suarez menafsirkan kunci Kerjaan Surga sebagai kuasa untuk mendefinisikan ajaran iman dan moral, kuasa yang berhubungan dengan kurban dan sakramen-sakramen, dan kuasa yurisdiksi (untuk memimpin dan mengatur).

[8] Kardinal Ratzinger sebagai Prefek Kongregasi Ajaran Iman, pernah menuliskan renungan mengenai Primat St. Petrus yang berjudul The Primacy of the Successor of Peter in the Mystery of the Church, yang di dalamnya ia juga menjelaskan pelaksanaan primat Petrus dan berbagai bentuknya (lihat no 7-15). Secara singkat, dapat dikatakan bahwa tujuan Primat Petrus ialah untuk menjaga kesatuan iman dan persekutuan di antara para uskup dan umat beriman. Tulisan Kardinal Ratzinger dapat diakses online di sini: https://www.ewtn.com/library/CURIA/CDFPRIMA.HTM

Next: Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik: St. Paulus

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: