Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik: Pengantar

Catatan Cornelius: Tulisan berikut ini merupakan makalah yang dipersiapkan untuk seminar di Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda, Buah Batu, Bandung, tanggal 23 Oktober 2016. Presentasi yang saya lakukan saat seminar tidak menjelaskan secara rinci semua yang tertulis (saya hanya menjelaskan selama sekitar 20 menit), mengingat mayoritas peserta terdiri dari usia remaja dan dewasa awal. Oleh karena itu, sebagai pelengkap dari presentasi waktu seminar, saya terbitkan secara lengkap makalah tersebut. Makalah ini diterbitkan di website ke dalam lima bagian.

+++

GEREJA YANG SATU, KUDUS, KATOLIK DAN APOSTOLIK

MEMAHAMI EMPAT TANDA GEREJA MELALUI ST. PETRUS, PAULUS, PENTAKOSTA DAN KEHIDUPAN UMAT KRISTEN PERDANA

oleh Cornelius Pulung

6558204727_743c8b3d98_b

Pengantar

Ketika saya diminta untuk membawakan materi tentang keempat sifat Gereja, saya teringat tentang kalimat syahadat yang selalu kita daraskan setiap Minggu: Aku percaya akan Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik. Kalau teks syahadat yang digunakan dalam Misa Minggu adalah versi singkat, maka kita hanya akan berkata: Aku percaya akan Gereja Katolik yang Kudus… Setiap kali mengucapkan syahadat, sejujurnya saya selalu merasa bahwa cara kita mendaraskannya terlalu mekanis, seperti robot… mungkin jarang sekali kredo ini kita nyanyikan sebagai bentuk penghormatan kita pada kebenarannya, padahal para martir kita menumpahkan darahnya untuk membela isi kredo tersebut. Saya jadi mengenang St. Peter dari Verona, sebelum ia tewas terbunuh, ia menulis di tanah dengan darahnya kalimat berikut: Credo in unum deum… Aku percaya akan satu Allah… Mereka mengorbankan nyawanya demi iman mereka, sedangkan setiap Minggu barangkali kita mengucapkannya seakan-akan ini hanyalah rutinitas yang tak berarti..

Ada satu hal lagi yang saya temukan, selagi saya mempersiapkan tulisan ini: ketika saya sedang mencari inspirasi, saya berpikir: kira-kira, apa yang Paus Benediktus katakan mengenai Gereja? Penelusuran saya—yang berawal dari liturgi—membuat saya menemukan dua homili beliau yang menjelaskan tentang sifat Gereja: yakni homili pada Hari Raya St. Petrus dan Paulus, serta pada Hari Pentakosta, yang merupakan hari kelahiran Gereja.

Bila kita mencoba merenungkan dua hari raya liturgis ini, seharusnya kita menyadari, bukan tanpa alasan kita merayakan hari raya tersebut… kita merayakannya, kita menghadiri liturginya, dan Gereja menetapkan hal tersebut sebagai hari raya persis karena Gereja ingin meneruskan kenangan (atau ingatan) para rasul, mereka yang merupakan fondasi Gereja. Perayaan ini ada justru ingin membantu kita untuk tiba pada kesadaran bahwa Gereja yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik adalah satu-satunya Gereja yang didirikan Yesus sendiri, ketika Ia berkata kepada Petrus: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini, Aku akan mendirikan jemaat-Ku (Gereja-Ku) dan alam maut tidak akan menguasainya…

Ketika saya berkilas balik ke masa ketika saya pertama kali masuk ke dalam dunia apologetik sepuluh tahun yang lalu, perkataan Yesus kepada Petrus itulah yang menjadi ayat pertama yang saya ingat, yang selalu saya percaya hingga hari ini: bahwa Yesus hanya mendirikan satu Gereja, dan Gereja itu adalah Gereja Katolik, yang didirikan di atas Petrus dan para rasul, untuk mewartakan kepenuhan kebenaran dan rahmat yang menyelamatkan kepada seluruh umat manusia, di segala tempat, di sepanjang zaman… tapi mengapa kebenaran ini justru saya temukan, bukan di dalam liturgi, tetapi dalam sebuah forum diskusi Katolik di internet? Mengapa masih ada yang berkata bahwa saya mengikuti Yesus, namun tidak mau mengikuti Gereja-Nya? Mengapa masih dijumpai orang-orang meninggalkan Gereja dan mencari gereja lain?

Saya yakin bahwa saya tidak sendirian dalam hal ini, dan pengalaman saya ini merupakan undangan untuk merenung: apakah liturgi sungguh menjadi tempat bagi kita untuk mendengarkan Sabda Allah? Sudahkah makna Kitab Suci dijelaskan dalam kaitannya dengan pengakuan iman kita? Apakah liturgi sungguh menjadi kesempatan bagi kita untuk mendengarkan Allah yang berbicara melalui Gereja?

Paus Benediktus pernah berkata bahwa kredo merupakan salah satu kriteria kita dalam menafsirkan Kitab Suci (bdk. Jesus of Nazareth, Vol II, hal. 99): ini artinya tidak ada kontradiksi antara pengakuan iman dan Kitab Suci, malahan justru isi pengakuan iman kita memiliki dasar biblisnya (dan ingat, Kitab Suci bukan satu-satunya sumber iman kita). Dengan kata lain, keempat sifat Gereja itu dapat kita temukan dalam teks Kitab Suci. Oleh karena itu, saya akan menjelaskan keempat sifat Gereja melalui kisah St. Petrus, Paulus, dan peristiwa Pentakosta serta jemaat Kristen perdana, sebagaimana yang ditemukan dalam Kisah Para Rasul.

Pendekatan ini mungkin agak berbeda, karena biasanya di artikel yang saya baca, para penulis Katolik akan langsung mulai dengan penjelasan tentang keempat sifat Gereja, yang kemudian menggunakan Kitab Suci sebagai bukti akan hal tersebut. Namun dalam tulisan ini, saya mengajak pembaca untuk menyelami teks Kitab Suci, untuk menjadi akrab dengannya, dan melalui pendalaman beberapa perikop yang relevan, kita dapat menarik kesimpulan mengenai empat sifat Gereja.

Keempat tanda tersebut merupakan sesuatu yang kasatmata, dapat dilihat, yang membedakan Gereja Kristus yang sejati dari gereja-gereja (atau komunitas gerejawi, bdk. Dominus Iesus) atau denominasi Protestan lainnya. Sebenarnya ada banyak hal yang bisa dibahas tentang Gereja, namun tulisan ini tidak akan membahas semuanya Jadi jelas sekali tulisan ini tidak komprehensif membahas seluk-beluk pemahaman Katolik tentang Gereja. Informasi lebih lanjut dapat dilihat dalam Katekismus Gereja Katolik no. 748-870, ensiklik Satis Cognitum dan Mystici Corporis Christi, dan dokumen Konsili Vatikan II Lumen Gentium.

Next: Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik: St. Petrus

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: