Cinta dan Persahabatan

photo_1464207687429_7505649dae38

oleh Alice von Hildebrand

Ada jenis cinta yang mungkin terjadi hanya di antara seorang pria dan wanita dan biasanya mengarah kepada pernikahan – yaitu hubungan yang ditandai oleh fakta bahwa unionis intentio (keinginan untuk bersatu) maupun benevolentiae intentio (keinginan akan kebaikan bagi yang dikasihinya) sepenuhnya terwujudkan. “Engkau adalah milikku; Aku adalah milikmu.” Terdapat klimaks yang serupa dalam persatuan pria dan wanita dalam persahabatan suci yang tidak mengarah kepada pernikahan, ketika kedua pasangan terikat oleh sumpah keperawanan dan selibat. Maka, seseorang kemudian dapat berbicara tentang “pernikahan jiwa.” Tetapi tema saya kali ini adalah menerangkan jenis persatuan indah yang disebut dengan “persahabatan”. Hal ini jelas sekali berbeda dari yang disebutkan di atas karena dapat diwujudkan antara dua orang pria, antara dua orang wanita, antara pria dan wanita, dan antara orang tua dan orang muda. Hubungan yang merupakan hadiah berharga tersebut, ditandai oleh penekanan pada intentio benevolentiae. Selain itu, sebaliknya dalam hubungan antara pria dan wanita yang mengarah kepada pernikahan, cinta ini sepenuhnya berpusat kepada satu orang ini sendiri dan mengecualikan semua orang, “che sola a me par donna” (bahwa kesendirian seakan adalah seorang wanita bagiku) – mengutip kata-kata indah Petrarca. Fakta bahwa seseorang dapat memiliki beragam jenis teman, ketika seseorang mengalami kehadiran masing-masing dari mereka sebagai hadiah, tidak mengecualikan adanya tingkatan hirarkis di antara mereka. Keragaman relasi yang positif dan indah ini layak kita perhatikan secara khusus. Hal ini akan menjadi tema esai singkat ini.

Persahabatan yang paling luhur kita jumpai dalam terang kehidupan banyak orang kudus. Saya akan membatasinya pada dua orang: St. Agustinus, yang mengacu pada kedalaman kasih sayangnya bagi Nebridius (“Dulcis amicus meus” – “Sahabatku yang manis” buku IX, bab 3 dari “Pengakuan-Pengakuan”), mengajak kita untuk membandingkan ikatan luhur ini dengan satu hal bahwa Agustinus mengalaminya pada masa remajanya bersama dengan teman mudanya di kota asalnya, dan persahabatan itu secara brutal dihancurkan oleh kematian yang terjadi kemudian.

Hal tersebut membuat hati Agustinus “muram oleh kesedihan” (“Pengakuan-Pengakuan” Buku IV, bab 4). Kesedihannya begitu mendalam hingga tiada kata yang cukup untuk dapat mengungkapkan keputusasaannya: Ia merindukan satu orang dan dunianya berada dalam kegelapan total. Pengalaman ini tidak pernah dilupakan Agustinus dan membantunya merasakan kegilaan dari makhluk yang tengah mencintai, yang membuat mereka lupa bahwa mereka hanyalah makhluk ciptaan. “O dementiam nescientem diligere homines humaniter.” – “Ya kegilaan, yang tidak mengenal bagaimana rasanya mencintai seorang manusia seperti layaknya manusia.” (Buku IV, bab 7) Rasa keterikatan yang tidak tepat ini, seperti yang biasa terjadi dalam jati diri seorang Agustinus, akan menghasilkan buah dan memperkaya pemahamannya akan hakikat persahabatan sejati. Hal ini merupakan ciri khas orang-orang kudus: bahwa apapun yang mereka alami, baik atau buruk, hal-hal tersebut membaptis dan memperkaya kehidupan mereka. Sungguh tragis bahwa banyak dari kita ingin menjauhkan diri dari pengalaman yang paling indah karena kita menolak untuk belajar mencintai. Namun kegilaan yang Agustinus alami berpotensi mengancam kita semua. Cara penyembuhan pagan yang ditawarkan oleh Buddha, menurut saya, merupakan hal yang menyedihkan: jangan pernah memberikan hati seseorang kepada siapapun. “Ia yang memiliki seratus cinta, memiliki seratus kesedihan; ia yang memiliki lima puluh cinta, memiliki lima puluh kesedihan; ia yang memiliki satu cinta, memiliki satu kesedihan. Ia yang mencintai tidak terbebas dari kesedihan.” Hal tersebut sangat menyedihkan, sebuah solusi yang benar-benar tragis: dengan tidak mencintai siapapun atau apapun – merupakan cara untuk melenyapkan hati dan benar-benar melakukan depersonalisasi pribadi manusia.

Seperti biasa, pengalaman saya di kelas telah mengajarkan banyak hal bahwa saya tidak dapat menolong siswa saya, tetapi hanya dapat berharap bahwa pengajaran saya memperkaya mereka, sebagaimana kesalahan-kesalahan mereka di kelas telah memperkaya pemikiran saya. Saya teringat akan satu mahasiswi, yang ketika mengambil kuliah saya tentang etika, ia dengan bangga menyatakan dirinya adalah seorang ateis dan relativis, dan ia melontarkan keberatan dengan lantang terhadap apapun yang saya katakan. Jelas sekali ia alergi terhadap gagasan hati nurani, suara misterius yang menegur kita ketika kita melakukan kesalahan. Ia adalah salah satu jenis pelajar yang memasuki kelas dengan maksud mengajar pelajarannya sendiri dan yang kehadirannya membuat gurunya mencicipi sengsara api penyucian, dan mungkin mengajari gurunya cara bersabar. Suatu hari setelah kelas, dia bergegas menuju kantor saya, dan mulai menangis. Ketika dia telah sedikit tentang, dia berkata kepada saya bahwa dia berjuang melawan keputusasaan: anjing kecilnya telah meninggal. Betapa tragis: ia yang secara sistematis menentang keberadaan sesuatu yang secara intrinsik baik dan benar harus diam-diam mengakui bahwa ada hal-hal yang layak dicintai, melalui cintanya kepada binatang. Saya lupa apa yang saya katakan padanya, tetapi jelas saya memanfaatkan kesempatan ini untuk mengundangnya memeriksa ulang filsafatnya. Saya pernah mendengar seorang wanita tua yang menyatakan bahwa dia tidak pernah mencintai siapa pun dalam hidupnya kecuali anjingnya; “Satu-satunya yang telah begitu setia padaku!”

Sayangnya, segala yang seekor anjing dapat tawarkan, dan yang memang ia tawarkan adalah “cinta seekor anjing.” Betapa tragis kondisi manusia tersebut; seringkali menolak untuk mencari atau menerima akan adanya Tuhan dan susunan yang kaya akan nilai-nilai objektif, dan kemudian merasa kelaparan, berpaling kepada apapun yang menjamin suatu kepuasan instan.

Dalam “Puri Batin”, St. Teresa dari Avila menjelaskan kendati dia tidak memilih persahabatan antar pribadi dalam Karmel, dengan indah dia menerangkan hakikat persahabatan sejati: mengambil bagian dalam kasih Kristus sebagai sahabat—cinta yang mengalami perubahan rupa, suatu pendahuluan dari apa yang akan kita alami di surga.

Haruslah menjadi jelas bahwa jenis persahabatan tersebut adalah yang paling sempurna, tetapi di bumi ini, persahabatan tersebut seharusnya tidak mengecualikan berbagai ikatan antar makhluk yang memperkaya keragaman cinta: cinta yang umum akan kebenaran, cinta yang umum akan keindahan, akan karya seni, kekaguman yang umum untuk kepribadian yang mulia. Tetapi pada semua kasus, ikatan persahabatan ini harus didasarkan dan dipelihara oleh beberapa nilai. Saya pribadi akan menolak memberikan nama “persahabatan” kepada orang-orang yang berbagi minat yang sama akan kartu bridge, akan permainan yang menyenangkan, akan musik rock and roll, akan apa pun yang tidak memberi kita “sayap”, akan apapun yang “merayap” dan, kendati memberi hiburan, namun tidak mengangkat dan memperkaya pada apa yang disebut “pertemanan”. Alangkah indahnya ketika dua orang teman setelah melakukan pembicaraan yang nyata, membuat satu sama lain menjadi orang yang lebih baik.

Mereka yang hidupnya telah diberkati dengan banyak persahabatan menyadari bahwa kendati semua orang tersebut adalah hadiah, namun terdapat hirarki yang besar di antara mereka; semua orang harus disambut dengan penuh rasa syukur, tetapi seseorang pasti akan melihat bahwa kendati semua bunga dicintai oleh seorang tukang kebun, terdapat perbedaan besar antara bunga bakung dan bunga aster; hal ini bukanlah alasan untuk menyangkal bahwa setiap orang, bahkan yang terkecil, tidak boleh disambut dengan penuh syukur, tetapi gagasan tentang hirarki ini—begitu mudah atau bahkan sengaja diabaikan hari ini atas nama “demokrasi” —hal tersebut tidak akan pernah terlupakan dalam eksistensi manusia. St. Teresa dari Avila dalam karya agungnya “Puri Batin”, memberitahu kita bahwa di surga tidak ada dua orang yang akan memiliki derajat kemuliaan yang sama.

Ketika saya merenungkan kehidupan saya, saya melihat bahwa saya diberkati oleh susunan yang kaya dari semua jenis bunga, dari semua warna, yang masing-masing memiliki aroma tersendiri, dan tentu saja memiliki banyak perbedaan. Pemikiran ini juga dapat dinyatakan secara berbeda. Perumpamaan tentang talenta dalam Injil menjelaskan lebih lanjut tentang pertanyaan ini. Kita dapat berkata bahwa setiap persahabatan melambangkan sejumlah talenta: mulai dari satu sampai sepuluh. Sangat penting agar hal ini dirasakan dalam hubungan kita dengan orang lain, karena terdapat kecenderungan dalam sebagian besar dari kita untuk menuntut lebih dari yang telah diterima teman kita, dan menuntut lebih dari yang dapat ia berikan. Hal tersebut menjadi jelas dalam Injil ketika Sang Guru datang kembali dan Ia menuntut perhitungan dari para hamba-Nya, ia tidak akan meminta orang yang telah menerima hanya satu talenta untuk mengembalikan dua talenta. Tetapi Ia berhak untuk merasa sangat tidak senang jika orang yang telah menerima sepuluh hanya mengembalikan sembilan. Barangkali beberapa persahabatan putus karena salah satu teman gagal untuk memahami berapa banyak bakat yang dimiliki temannya, ia menuntut lebih dari apa yang bisa temannya berikan. Sungguh tidak adil mengharapkan aroma bunga bakung dari bunga aster: namun, bunga aster harus dihargai dan dipandang sebagai karunia Allah. Mungkin pemikiran yang sama juga dapat dinyatakan dengan berkata bahwa beberapa persahabatan merupakan hal yang “statis.” Kita bertemu dengan seseorang yang berbagi seluruh nilai-nilai kunci: baik pertanyaan-pertanyaan tentang agama, filsafat atau politik, tetapi hal tersebut ada sejauh persahabatan itu dapat berlangsung. Hal tersebut akan berlangsung selama bertahun-tahun, tetapi pada akhir kehidupan seseorang, tidak akan ada perbedaan yang mencolok antara hari pertama berkenalan dan hari terakhir perpisahan.

Kita dapat mendeteksi dari awal bahwa persahabatan akan menjadi “statis”, tidak memberikan potensi pertumbuhan, selalu ramah tetapi perkembangan selanjutnya tidak ada (“nemo dat quod non habet”—“Seseorang tidak dapat memberikan apa yang ia tidak miliki”) sebagai lawan dari persahabatan lainnya, yang kaya akan janji dan bercirikan fakta bahwa bagi sukacita kita, persahabatan-persahabatan tersebut terus tumbuh dalam perkembangan yang baru.

Sekali lagi, kehidupan adalah guru yang kaya. Saya mengenal dua saudara yang keduanya mencintai ibu mereka. Ketika ibu mereka menderita stroke dan lumpuh secara mental, sang kakak mengunjunginya setiap hari bahkan walau hanya sebentar. Ia berharap bahwa, bahkan untuk sedetikpun, sang ibu akan menyadari bahwa anaknya berada di sana. Ia dengan penuh cinta memegang tangan sang ibu, berterima kasih pada sang ibu dan berharap bahwa meski dengan samar-samar, sang ibu akan merasakannya. Sedangkan adiknya— adalah seorang yang sepertinya sangat sibuk—mengunjungi ibunya sekali, dan meyakini bahwa terlalu sering mengunjungi sang ibu hanya membuang-buang waktu karena kemungkinan besar ibunya tidak akan menyadari kehadirannya. Tidak dapat diragukan lagi bahwa kakak yang tertua adalah pecinta yang lebih besar karena ia mengerti bahwa kehadirannya merupakan karunia—terlepas apakah hal itu dirasakan sang ibu atau tidak. “Aku berada di sisimu, meskipun engkau tidak mampu, karena itu adalah caraku membuktikan bahwa aku mencintaimu dalam keadaanmu yang lumpuh ini.” Apakah adik tersebut adalah anak yang buruk? Tidak, tetapi cintanya tidak sedalam saudaranya. Para perempuan kudus tinggal di makam, dan Maria Magdalena datang pagi-pagi, dengan asumsi bahwa Kristus masih ada di dalamnya dan sepenuhnya menyadari bahwa sebuah mayat dalam keadaannya sebagai mayat tidak dapat merasakan kehadirannya yang penuh kasih. Maka kasihnya lebih besar.

Salah satu karakteristik penting dari persahabatan adalah keinginan untuk berbagi: apapun yang menjadi milikku adalah milikmu; hal ini dapat didefinisikan sebagai “pertukaran hadiah tanpa perhitungan.” Bagaimana kita mengukur bahwa pertukaran religius atau spiritual yang memperkaya kita, yang berasal dari satu orang, dapat lebih atau kurang nilainya daripada sebuah bantuan yang paling murah hati dan baik yang diberikan kepada seorang wanita tua? Sikap penuh perhitungan tidak hanya berlawanan dengan kejeniusan persahabatan, tetapi terlebih lagi kejatuhan kodrat kita selalu menggoda kita untuk salah membaca situasi yang menguntungkan kita. “Akulah pemberi yang lebih besar.” Sikap ini saja menunjukkan bahwa persahabatan adalah sesuatu yang cacat. Ketika dalam opera besar Beethoven, “Fidelio”, ketika kita sampai pada adegan yang menyentuh tentang pembebasan Florestan dari penjara berkat cinta istrinya, ketika Florestan berterima kasih pada istrinya, tanggapan istrinya adalah klasik: sang istri meremehkan kepahlawanannya sendiri, dan memandangnya sebagai sesuatu yang sangat sedikit bila diukur terhadap apa yang dia ingin lakukan bagi suaminya tercinta. Seseorang yang memuji kemurahan hatinya sendiri tidak murah hati.

Keinginan untuk berbagi ini menemukan klimaksnya dalam cinta suami-istri ketika seseorang menjadikan dirinya sebagai hadiah dan memberikan segalanya, termasuk masing-masing nama dari mereka. Tetapi kedalaman persahabatan dapat diukur dengan tingkat berbagi ini. Sekali lagi, seseorang harus mengingat bahwa jumlah talenta yang dapat diberikan persahabatan ini; apa yang dianggap kemurahan hati dalam persahabatan satu talenta adalah ketidakpuasan bagi persahabatan satu, atau lima, atau sepuluh talenta. Tidak mengherankan kalau beberapa persahabatan berakhir dengan menyedihkan karena salah seorang teman menemukan bahwa teman yang lain adalah “teman bisnis”; persahabatan yang lainnya berakhir karena salah seorang teman merasa berhak, atas nama persahabatan, untuk membuat tuntutan secara konstan dan tidak sah pada teman yang lain, yang melampaui kemampuan persahabatan tersebut. Sekali lagi, jangan berharap dari bunga aster apa yang anda dapat harapkan dari bunga bakung. Beberapa orang mendukung gagasan bahwa kepada seorang teman,  kita dapat berkata: “Apapun yang menjadi milikmu adalah milikku. Tetapi jangan melanggar batas kepemilikanku!” Hal semacam ini tidak layak menyandang nama persahabatan yang mulia.

Pengalaman menarik lainnya yang diajarkan kehidupan pada saya adalah bahwa orang-orang yang posisinya dalam masyarakat (baik secara sosial atau keuangan atau apa pun) membuat dirinya menjadi seorang penderma yang murah hati, yang tidak pernah kehilangan kesempatan untuk menguntungkan orang lain. Hal ini juga memiliki kekurangan: pertama-tama, orang-orang tertentu yang memiliki “teman yang sangat banyak” adalah yang paling mungkin merasa ragu apakah mereka dicintai karena diri mereka sendiri atau karena uang mereka. Hal tersebut membuat banyak dari mereka tidak percaya bahwa persahabatan sungguh sesuatu yang otentik. “Ia peduli padaku karena hadiah yang aku berikan.” Selain itu, orang tersebut dapat merasa sangat sulit untuk meminta bantuan sekecil mungkin: Mereka tidak pernah mencoba berkata “terima kasih” karena hal tersebut tidaklah mudah bagi beberapa dari mereka. Menjadi seorang pemberi merupakan perasaan yang menyenangkan; memintanya adalah tindakan yang rendah hati.

Ciri penting lainnya dari persahabatan adalah kepercayaan yang seseorang miliki bagi temannya: untuk tetap “percaya” bahkan ketika seseorang tidak mampu untuk melihat, atau ketika keadaan, sindiran oleh orang lain, atau rasa ketidakpercayaan bawaan meragukan cinta atau kesetiaan pihak lain. Shakespeare mendasarkan beberapa tragedinya pada kesadaran akan bahaya ketidakpercayaan yang tertanam secara mendalam pada kodrat kita yang jatuh. Setelah dosa asal, kita semua menjadi makhluk yang berpotensi untuk cemburu. Contoh yang paling menonjol adalah Othello: kecemburuan jahatnya terlepas keluar karena kata-kata beracun Iago – salah seorang karakter yang paling menjijikkan dalam jajaran khazanah karakter bajingan. Kita mengetahui akhir tragis drama ini. Tetapi bukan hanya ini saja, kita menemukan variasinya dalam drama lainnya. Misalnya cerita Cymbeline. Imogen, putri cantik dari raja Cymbeline dengan bijak menolak untuk menikah dengan putra dari ibu tirinya yang keji, Cloten dan menikahi Posthumus – karena ia mencintainya. Posthumus kemudian dipisahkan dari istri tercintanya oleh karena keadaan, yang membuatnya tidak bijaksana dan dalam pikiran gila saya bertaruh bahwa tidak ada seorang pun, ya benar-benar tidak ada seorangpun yang mungkin dapat merampas Posthumus dari cintanya dengan ketidaksetiaan. Seorang karakter yang sangat busuk mengambil tantangan tersebut, dan setelah dipermalukan oleh kekalahan radikalnya atas semua usahanya, ia membuat rencana jahat; ia bersembunyi di kamar tidur Imogen dan setelah Imogen tertidur muncul kesempatan untuk melihat payudaranya yang memiliki tanda lahir. Dia membawa “kartu truf” ini kepada sang suami, yakni Posthumus yang berada dalam rasa tidak percaya, namun lebih percaya pada karakter jahat ini. Untungnya drama ini tidak berakhir tragis. Imogen menang.

Ide untuk “mempercayai orang yang dicintai” secara kuat dikembangkan dalam buku suami saya, “The Nature of Love.” (Kodrat dari Cinta). Tak perlu dikatakan bahwa kepercayaan ini juga penting dalam kehidupan religius, dalam momen kegelapan, ketika merasa ditinggalkan Allah, godaan tersebut harus dilawan dengan kata-kata: “aku tidak melihat, ya Tuhan, tetapi aku percaya akan cinta-Mu; kegelapan pekat ini membawa pesan kasih; Ajarilah aku untuk membacanya.” Ada hal seperti “malam gelap jiwa” yang begitu keras, dan hal tersebut tidak bisa dihindari dalam kehidupan spiritual, dan ia bertujuan memurnikan cinta kita: “Aku tidak melihat, tetapi itu karena aku buta. Aku tidak mendengar karena ketulianku. Aku tidak merasakan apa-apa tetapi penyebabnya ada dalam ketidaksempurnaanku sendiri.” Sungguh mencintai berarti memberikan diri tanpa syarat, tetapi bukan karena manfaat yang dapat diperoleh dari pemberian diriku. Manusia itu, ciptaan yang rapuh saat ini, tidak dapat melakukannya sendiri dan haruslah menjadi jelas: bahwa doa kita terus-menerus haruslah demikian: “Bersegeralah menolong aku; tanpa-Mu, aku hilang.” Tetapi doa ini bukanlah buah “depresi” —yang merupakan suatu kebencian tertentu ketika seseorang begitu tak berdaya dan lemah. Melainkan, doa tersebut haruslah menjadi pengakuan, dengan sukacita mengakui kekosongan diri kita sendiri sembari melemparkan kita ke dalam pelukan Allah yang Mahakuasa dan Mahapengasih: dan berseru dengan St. Paulus, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam DIA yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13).

Persahabatan adalah salah satu dari lampu-lampu dalam keberadaan duniawi kita dan ia memberi kita rasa yang samar akan Kerajaan Surga ketika cinta akan memerintah sebagai yang tertinggi.

Artikel berikut diterjemahkan oleh teman kami, Gregorius Aditya, dari artikel asli berjudul Love and Friendship, dan diedit kembali oleh Cornelius.

Iklan

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: