Pengaruh Pornografi terhadap Otak

the-fountain-of-love-1748

oleh Luke Gilkerson

“Tak pelak lagi,” kata Damon Brown, seorang penulis tetap majalah Playboy. “Kalau kami menemukan sebuah perangkat, hal pertama yang akan kami lakukan-setelah memperoleh keuntungan- adalah menggunakannya untuk menonton film porno.” Dalam 150 tahun terakhir, pornografi  telah menunggangi penemuan teknologi baru, dari fotografi hingga proyektor, dari VHS ke DVDs dari internet ke Smartphone. “Sebut saja perangkat apapun yang Anda ketahui,” kata Brown, “pornografi lebih dulu menancapkan benderanya di situ atau paling kurang tidak lama setelahnya.”[1]

Kita sering percaya bahwa orang beragama kebal dari paparan pornografi, namun Paul Fishbein, pendiri Adult Video News, dengan tepat mengatakan, “Porno tidak mengenal demografis—ia melampaui semua batas demografis.”[2]

Kita baru mulai menyaksikan efek dari film porno yang beredar luas di budaya kita. Generasi internet – yakni mereka yang tumbuh besar dengan media online di rumah – saat ini telah memasuki usia remaja. Survey terhadap para remaja menegaskan hal ini: kebanyakan dari mereka melihat pornografi untuk pertama kalinya ketika mereka masih sangat muda dan sekarang mengkonsumsi pornografi dari internet merupakan kegiatan yang dilakukan seminggu bahkan sehari sekali untuk laki-laki dan perempuan usia kuliahan.[3]

Apakah hal ini sungguh penting? Mungkin ada yang mengatakan bahwa tidak ada penelitian yang terdokumentasi dengan baik yang dapat menunjukkan efek merusak dari pornografi. Ada yang percaya bahwa pornografi tidak membahayakan.

Tentu saja mereka salah.

Pada awal tahun 1980an, Dr. Dolf Zillmann dari Indiana University dan Dr. Jennings Bryant dari The University of Alabama mencari tahu apakah terpapar pornografi secara terus-menerus memiliki pengaruh terhadap pandangan seksual dan sikap mereka kepada wanita. Untuk penelitian ini mereka membagi masing-masing 80 peserta pria dan wanita usia kuliah ke dalam 3 subgrup dan kepada tiap grup diperlihatkan film selama 4 jam dan 48 menit.

Grup pertama, “Grup Terpapar Berat” diberikan tontonan sebanyak 36 film porno tanpa kekerasan selama 6 minggu.

Grup kedua, “Grup Terpapar Sedang” diberikan tontonan sebanyak 18 film porno dan 18 film biasa selama 6 minggu.

Grup ketiga (grup pengontrol) “Grup Tak Terpapar,” diberikan tontonan sebanyak 36 film tanpa unsur pornografi selama 6 minggu.

Beberapa minggu kemudian, tiga kelompok ini diberikan beberapa pertanyaan seputar pendapat pribadi mereka terhadap beberapa masalah sosial.[4]

 

Kesimpulan #1: Menonton Film Porno Menurunkan Kepuasan Seksual Kita

Dalam eksperimen tersebut, Zillmann dan Bryant menemukan hubungan langsung antara jumlah pornografi yang ditonton seseorang dengan kepuasan seksualnya dalam hubungan yang sebenarnya. Para peserta dari Grup Terpapar Berat melaporkan kurangnya kepuasan dengan pasangan mereka; mereka menjadi kurang tertarik dengan penampilan fisik, perasaan dan kemampuan seksual pasangan mereka. Zillmann dan Bryant menyimpulkan bahwa orang yang suka menonton film porno selalu membandingkan pasangan mereka dengan gambaran pemain film porno.

Studi lainnya yang diterbitkan dalam Journal of Sex and Marital Therapy tahun 2002 menemukan hasil yang sama. Ketika pria dan wanita melihat gambar-gambar model wanita dalam halaman majalah seperti Playboy dan Penthouse, mereka akan secara pasti merendahkan penilaian-penilaian mereka terhadap daya tarik orang “biasa”[5] Ketika orang menjadi semakin terperangkap dalam pornografi, hal ini hanya akan membuat mereka terpengaruh dan mengurangi libido. Dr. Mary Anne Layden menyimpulkan, “menghabiskan waktu yang sangat banyak dalam pengalaman seks yang tidak alami dengan kertas, seluloid dan dunia maya, mereka akhirnya akan merasa susah untuk berhubungan seks dengan sesama manusia.” Pornografi, katanya, “adalah racun yang salah dalam mengajarkan tentang sex dan menjalin hubungan,” melatih pria dan wanita untuk mengharapkan “pembentuk sex” online di dunia nyata.[6]

Perbandingan ini tidak hanya untuk bentuk tubuh atau kemampuan seksual saja. Orang yang terus-menerus terpapar pornografi dapat berakhir dengan membandingkan seluruh pengalaman fantasi mereka dengan kehidupan sex mereka. Alih-alih tertarik kepada satu pria atau satu wanita, mereka malahan akan terangsang dengan variasi dan kesenangan-kesenangan baru yang ditawarkan oleh pornografi.

Neurobiologis Peter Milner menjelaskan bahwa otak kita merupakan semacam kawat yang tertarik kepada segala yang tidak biasa dan baru. Komponen di bagian dalam ini membantu kita untuk mempelajari hal-hal baru dan belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan kita. Namun, dia menjelaskan sangatlah mungkin “untuk kecanduan dengan kebaruan dan ketidakpastian.”[7]

Dari waktu ke waktu, otak yang diberi makanan berupa media erotis dilatih untuk menyamakan tingkat kepuasan seksual dengan kebaruan (novelty) dan variasi dari pornografi. Secepatnya, muka yang sama, tubuh dan kemampuan seksual dari satu pasangan tidak lagi menarik seperti biasanya.

Yang paling utama, pornografi  melatih pria dan wanita untuk menjadi penikmat, bukan pecinta; mempergunakan sex sebagai komoditi; berpikir tentang sex sebagai sesuatu yang cepat saji dan mudah dipesan. Seperti yang disimpulkan dengan tepat oleh Dr. Judith Reisman pornografi “mengebiri” pria secara visual, melatih mereka untuk menceburkan diri ke dalam dunia fantasi jika mereka ingin terangsang.[8]

Kesimpulan #2: Menonton Film Porno Memutuskan Kita Dari Hubungan Yang Sebenarnya

“Sex kilat” bukanlah sesuatu yang baru bagi generasi kita. Jenis hubungan seperti ini sudah ada sejak zaman dahulu. Bahkan beberapa sumber sejarah dan kitab suci mencatatya. Sekarang melihat tayangan berbau pornografi merupakan salah satu bentuk seks kilat, kesempatan untuk memperoleh kesenangan seksual tanpa perlu susah-susah mengurus masalah pernikahan. Kita menyaksikan hal ini khususnya di kalangan kaum muda zaman ini melalui apa yang mereka sebut “sexting,” mengirimkan foto atau video dirinya dalam kondisi setengah cabul ke orang lain-dengan tujuan agar menjadi konsumsi pornografi orang lain. Seorang anak usia 17 tahun mengatakan, “ada sisi positif dalam tindakan “sexting” ini. Anda tidak akan hamil karenanya dan tidak akan tertular penyakit kelamin. Semacam seks yang aman.”[9]

Pornografi bukan hanya merupakan ekspresi dari seks kilat tapi juga memuaskan keinginan seks itu sendiri. Setelah eksperimen tersebut, Zillmann dan Bryant menyimpulkan, semakin banyak film porno yang ditonton seseorang, semakin mereka menginginkan untuk berhubungan seks tanpa keterlibatan emosional. Setelah menonton kurang dari 5 jam tayangan pornografi selama rentang waktu 6 minggu, kelompok terpapar berat (MEG) cenderung untuk meremehkan nilai-nilai pernikahan seperti keinginan untuk membesarkan anak-anak dan pentingnya bersikap setia dalam menjalin hubungan. Mereka juga menunjukkan kecenderungan besar untuk mendukung seks pranikah. Dr. Gary Brooks, pengarang buku The Centerfold Syndrome, menjelaskan bagaimana pornografi menggantikan cara orang berpikir mengenai hubungan romantis. Halaman-halaman yang mengkilap di majalah atau gambar-gambar di layar tidak memiliki pandangan atau hubungan apapun terhadap seks dari diri mereka sendiri. Hal ini intinya  melatih manusia untuk lebih menginginkan fantasi atau sensasi murahan dibanding menjalin hubungan. Pornografi melatih orang untuk menjadi voyeur (pengintip) digital, yang memilih untuk melihat wanita daripada mencari kedekatan yang asli.[10]

Dapat dikatakan bahwa masalah utama pornografi bukanlah pada terlalu banyak seks, tapi bahwa yang ditampilkan, yang kita lihat itu tidak cukup– tidak mungkin pornografi dapat memberikan kepada kita pengalaman akan kedekatan (intimasi) yang sejati. Film porno memperlakukan seks secara searah, membungkusnya dalam gambar-gambar terang dan merenggutnya dari konteks relasionalnya. Film porno hanya merangsang kita dengan gambaran seks tapi tidak dapat menawarkan pengalaman kedekatan dengan orang lain.

Kesimpulan #3: Melihat Tayangan Film Porno Merendahkan Pandangan Terhadap Wanita

Sepanjang sejarah, kegagalan terhadap penghargaan kepada wanita telah menuntun kepada berbagai jenis pelecehan terhadap wanita. Dan lagi, dalam budaya yang semakin terseksualisasi, wanitalah yang sering dilanggar hak-haknya saat mereka terus-menerus diukur hanya dari ukuran, bentuk dan kesesuaian bagian-bagian tubuh mereka. Bahkan pornografi dan media mainstream, menggambarkan wanita sebagai orang yang senang untuk digunakan dan dijadikan objek. Tidaklah mengherankan jika kita melihat bahwa sekarang ini, di budaya yang terpornofikasi  ini, wanita sudah sangat menurun nilainya. Dalam percobaan Zillman-Bryant  kelompok Terpapar Berat merupakan kelompok yang paling mudah untuk percaya bahwa wanita di dunia nyata sungguh cocok dengan label dan gambaran yang mereka lihat di dalam film pornografi. Mereka sangat mudah percaya bahwa semua wanita itu sama dan sangat suka sekali untuk menanggapi segala jenis rangsangan baik seksual atau pseudoseksual dan sangat mudah untuk mengiyakan semua dan setiap jenis permintaan hubungan seksual seperti para gadis pemain film porno.

Para peserta dalam eksperimen ini ditanyakan tingkat dukungan mereka secara keseluruhan terhadap hak-hak wanita. Pria dalam grup Terpapar Berat menunjukkan penurunan sebesar 46% dibandingkan kelompok Tidak Terpapar. Dan di antara para peserta wanita, penurunannya sungguh memprihatinkan yakni sebesar 30%. “Film porno gratis (free porn)” merupakan istilah yang tidak cocok. Pornografi selalu punya harga bagi yang menikmatinya. Dan para gadis dan wanita dalam budaya kitalah, yang dikelilingi oleh pria dan lelaki dengan bayangan-bayangan porno di kepala mereka, yang sering harus membayar harga yang paling mahal.

Naomi Wolf, penulis untuk New York Magazine, menerangkannya dengan sangat baik: “sekarang ini wanita yang telanjang saja merupakan film porno yang buruk.” Kegemaran terhadap film porno tidak mengajarkan pria untuk menghargai wanita sebagai ciptaan Allah, tapi sebaliknya mengajarkan orang untuk melihat dalam kerangkan yang semakin kecil dan kecil akan wanita sebagai objek film porno.[11]

Kesimpulan #4: Menonton Film Porno Mengurangi Sensitifitas Terhadap Kekerasan

Banyak kisah yang menggambarkan tragedi yang disebabkan oleh hawa nafsu. Cinta sejati menuntun kita untuk saling melayani satu sama lain sebagai sesama ciptaan Allah. Hawa nafsu justru mengarahkan kita untuk menggunakan orang lain, untuk melihat orang lain sebagai barang. Pikiran yang dipenuhi hawa nafsu cabul, melihat wanita hanya sebagai objek pelampiasan seksual dan tidak jarang menjadikannya mati rasa sehingga mudah bertindak kasar terhadap wanita. Dalam penelitian Zillmann dan Bryant, ketika ditanyakan mengenai seberapa biasanyakah dalam lingkungan sosial, aktivitas seksual tertentu-seperti anal seks, seks dalam kelompok, sadomasokisme dan bestialitas- berlangsung, kelompok Terpapar Berat memberikan tanggapan 2/3 kali lebih banyak dari kelompok Tidak Terpapar. Pornografi membuat mereka yakin bahwa aktivitas-aktivitas seksual di atas merupakan hal yang sangat biasa.

Menonton pornografi juga mengkondisikan para peserta untuk menyepelekan pemerkosaan. Para peserta kemudian diminta untuk membaca berita pemerkosaan di mana seorang pria memperkosa seorang pendaki gunung wanita dan memberikan tanggapan mengenai waktu hukuman di penjara yang harus dijalani oleh pemerkosa tersebut. Para lelaki dalam kelompok Tidak Terpapar mengatakan 94 bulan; kelompok Terpapar Berat hanya setengahnya, 50 bulan. Pornografi terutama menghilangkan rasa sensitif kita terhadap kekerasan dan kekejaman, bahkan ketika pornografi itu sendiri diberi cap “non-violent”. Sayangnya, tindakan agresif dalam pornografi sekarang merupakan hal yang biasa. Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2000 menemukan bahwa sifat agresif dalam pornografi online ialah sebesar 42%.15 Sekarang ini, bukanlah hal yang aneh bahkan bagi pengguna internet yang paling muda sekalipun untuk melihat material yang kasar. Sebagai contoh, menginjak usia 18 tahun 39% anak laki-laki dan 23% anak perempuan telah melihat tindakan seks yang mengandung gambaran perbudakan secara online.[12]

Pada tahun 2007, dalam sebuah presentasi, Robert Wosnitzer, Ana Bridges dan Michelle Chang menerbitkan hasil penelitian mereka mengenai 50 DVD film dewasa yang paling laris. Setelah melakukan analisis 304 adegan berbeda dalam film-film tersebut, mereka menemukan 3376 tindakan yang dapat digolongkan sebagai kekerasan verbal atau fisik- jika dirata-ratakan sama dengan satu tindakan kasar tiap satu setengah menit. Kira-kira 90% adegan-adegan tersebut mengandung paling kurang 1 tindakan agresif. Kekerasan verbal, seperti pemanggilan nama, muncul di sekitar setengah dari adegan dewasa tersebut. Dalam 73% contohnya, prialah yang melakukan kekerasan dan ketika wanita yang melakukannya, kebanyakan mereka melakukannya terhadap wanita lain. Dalam 95% adegan tersebut, orang yang menerima tindakan kasar tersebut bersikap netral atau menerimanya secara positif. Tindakan seksual yang sehat atau positif hanya ditemukan sebanyak 10% dari adegan-adegan tersebut.[13]

Angka-angka tersebut memperlihatkan kepada kita mengenai seberapa banyak pendidikan yang diterima oleh para penikmat film porno. Biasanya tayangan-tayangan dalam pornografi melukiskan kekerasan, kekejaman dan perendahan martabat serta mengajarkan pada penontonnya bahwa wanita meyukai tindakan-tindakan seperti ini.

Kesimpulan #5: Menonton Film Porno Membuat Kita Ingin Menonton Lebih Banyak Lagi

Dua minggu setelah eksperimen yang dilakukan oleh Zillmann-Bryant, semua peserta diberikan tontonan campuran berupa film pornografi dan tidak pornografi untuk ditonton secara pribadi. Mereka yang lebih sering menonton film porno lebih memilih tontonan yang mengandung porno.

Menonton film porno secara terus-menerus telah menunjukkan suatu efek yang semakin meningkat. 15 tahun setelah percobaan ini, Dr. Zillmann melanjutkan untuk melakukan penelitian di daerah ini dan menemukan bahwa kebiasaan untuk menonton film porno menuntun orang pada suatu sikap untuk toleran terhadap tontonan yang mengandung seks sepanjang waktu, yang pada gilirannya mengarahkan penontonnya untuk membaca novel atau bahan-bahan yang tabu untuk mencapai tingkat rangsangan atau ketertarikan yang sama.[14]

Masalah utama sekarang ini ialah pada pertanyaan “kecanduan film porno”- dapatkah seseorang sungguh-sungguh  kecanduan terhadap pornografi? Pada sebuah survei yang dilakukan tahun 2008, lebih dari 90% terapis percaya bahwa seseorang dapat mengalami kecanduan terhadap sex di dunia maya.[15] Beberapa terapis bahkan menganjurkan suatu istilah baru yakni “kelainan hiperseksual” dan studi terbaru di bidang neurokimia menguatkan penemuan ini.

Dalam bukunya Wired for Intimacy, Dr. William Struthers memaparkan panjang lebar mengenai hormon-hormon dan neurotransmiter yang dipicu saat melihat tayangan pornografi. Dia menulis: ketika orang mulai jatuh ke dalam kebiasaan mental untuk memandangi gambar-gambar tersebut, kebiasaan ini membentuk saluran syaraf. Seperti suatu jalur yang terbentuk di hutan akibat sering dilalui oleh para pejalan kaki, begitu juga jalur syaraf ini menyiapkan suatu jalan untuk gambar erotik yang dilihat berikutnya. Seiring waktu, jalur syaraf ini semakin melebar seiring dengan semakin seringnya orang melaluinya dengan tingkat paparan terhadap pornografi. Mereka menjadi suatu jalur otomatis yang melaluinya interaksi terhadap wanita dibangun. Lingkaran syaraf ini menambatkan proses tersebut dengan sangat kuar di otak.

Dengan tiap gambaran yang hidup, pornografi memperdalam ngarai-ngarai yang mirip Grand Canyon di otak ini yang mana melaluinya gambaran tentang wanita harusnya diproduksi. Proses ini mencakup juga untuk wanita yang tidak pernah mereka lihat dalam keadaan telanjang atau melakukan hubungan seksual dengan mereka sebelumnya. Semua wanita berpotensi untuk menjadi bintang film porno dalam pikiran para lelaki tersebut.[16]

Akhirnya, label “kecanduan” bisa atau tidak bisa membantu. Tidak ada garis yang jelas secara medis untuk mendiagnosa seseorang menjadi kecanduan atau tidak kecanduan-ini adalah tindakan yang meningkat. Pengarang Michael Leahy, seorang yang mengklaim dirinya telah sembuh dari kecanduan sex, telah melawat ke lebih dari 200 kampus dengan presentasi Porn Nation:The Naked Truth-nya dan dia mengatakan bahwa pertanyaan nomor 1 yang dia dengar dari mahasiswa ialah “dapatkah saya menontonnya untuk senang-senang dan tidak kecanduan dan apakah ada yang salah dengan ini?” Bahkan dalam ingatan tentang masa lalunya, Leahy memilih untuk tidak berfokus pada sifat adiktif pornografi tapi lebih memilih untuk fokus pada pesan vulgar seksual yang terkandung di dalamnya. “Jadi,” Leahy menjawab, “apa kamu pikir tidak apa-apa jika saya memukuli istri saya sebulan sekali? Saya kan tidak kecanduan memukul istri saya.”21 Biasanya dengan membingkai ulang pertanyaan dengan cara ini diharapkan para pria dan wanita muda itu dapat melihat masalah pornografi secara berbeda.

Terlepas dari label apa yang kita gunakan, sifat beracun dari pornografi tidak dapat disangkal lagi. Semakin banyak kita melihat tayangan pornografi, semakin banyak pula kita ingin melihatnya lagi: ia seperti racun yang masuk ke dalam darah kita. Kita dapat menjadi tawanan dari impuls-impuls otak dan tubuh kita ketika mereka terlatih oleh tindakan-tindakan yang salah (dosa).

[1]Damon Brown, “PCs in Ecstasy: The Evolution of Sex in PC Games (Computer Games Magazine)” DamonBrown.net, May 1, 2006. http://www.damonbrown.net/2006/05/01/pcs-in-ecstasy-theevolution-of-sex-in-pc-games-computer-gamesmagazine

(accessed November 18, 2011).

[2] Rich Frank. “Naked Capitalists: There’s no Business like Porn Business.” New York Times, May 20, 2001. http://www.nytimes.com/2001/05/20/magazine/20PORN.html (accessed November 18, 2011).

[3] Michael Leahy, Porn University: What College Students Are Really Saying About Sex on Campus (Chicago: Northfield Publishing, 2009), 155.

[4] Dolf Zillmann and Jennings Bryant, “Effects of massive exposure to pornography,” in Neil Malamuth and Edward Donnerstein Eds., Pornography and Sexual Aggression (New York: Academic Press, 1984); Dolf Zillmann and Jennings Bryant, “Shifting preferences in pornography consumption,” Communication Research vol.13, no.4, 1986; Dolf Zillmann and Jennings Bryant, “Pornography’s impact on sexual satisfaction,” Journal of Applied Social Psychology vol.18, issue 5, 1988; Dolf Zillmann and Jennings Bryant, “Effects of Prolonged Consumption of Pornography on Family Values,” Journal of Family Issues vol.9, no.4, 1988.

[5] Raymond M. Bergner and Ana J. Bridges, “The significance of heavy pornography involvement for romantic partners: research and clinical implications,” Journal of sex marital therapy vol.28, issue 3, 2002.

[6] Dr. Mary Anne Layden, “The Science Behind Pornography Addiction,” U.S. Senate Committee on Commerce, Science, & Transportation, November 18, 2004. http://www.ccv.org/wp-content/uploads/2010/04/ Judith_Reisman_Senate_Testimony-2004.11.18.pdf (accessed November 18, 2011).

[7] Judith Reisman, “The impotence pandemic” WorldNetDaily. September 27, 2007. http://www.drjudithreisman.com/archives/2007/10/the_impotence_p_2.html (accessed November 18, 2011).

[8] Covenant Eyes official website, “Sexual Sabotage: Pornography, Impotence, and the Mad Scientist Who Started It All,” Interview with Dr. Judith Reisman on Covenant Eyes Radio, Episode 99. http://www.covenanteyes.com/2011/04/09/sexual-sabotagepornography-impotence-and-the-mad-scientist-whostarted-it-all (accessed November 18, 2011).

[9] “What They’re Saying About Sexting” New York Times, March 26, 2011. http://www.nytimes.com/2011/03/27/us/27sextingqanda.html (accessed November 18, 2011).

[10] Gary R. Brooks, PhD. The Centerfold Syndrome:How Men Can Overcome Objectification and Achieve Intimacy with Women. (Jossey-Bass: San Francisco, 1995).

[11] Naomi Wolf, “The Porn Myth” New York Magazine, http://nymag.com/nymetro/news/trends/n_9437

(accessed November 18, 2011).

[12] Chiara Sabina, Janis Wolak, and David Finkelhor, “The Nature and Dynamics of Internet Pornography

Exposure for Youth” CyberPsychology & Behavior vol.11, no.6, 2008.

[13] “Mapping the Pornographic Text: Content Analysis Research of Popular Pornography,” Presentation by

Robert Wosnitzer, Ana Bridges, and Michelle Chang at the National Feminist Antipornography Conference,

Wheelock College, Boston, March 24, 2007.

[14] Dolf Zillmann, “Influence of unrestrained access to erotic on adolescents’ and young adults’ disposition

toward sexuality,” Journal of Adolescent Health vol.27, issue 2, Supplement 1, 2000.

[15] Peter D. Goldberg, Brennan D. Peterson, Karen H. Rosen, and Mary Linda Sara, “Cybersex: The Impact of

a Contemporary Problem on the Practices of Marriage and Family Therapists,” Journal of Marital and Family

Therapy vol.34, issue 4, 2008.

[16] William M. Struthers, Wired for Intimacy: How Pornography Hijacks the Male Brain (Downers Grove:

InterVarsity Press, 2009), 85.

Artikel berikut merupakan terjemahan dari artikel asli berjudul Your Brain on Porn, yang dikerjakan kontributor kami, Dominikus.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: