5 Alasan Kenapa Kamu Masih Kecanduan Pornografi

the-progress-of-love.jpg!HalfHD

 

oleh Tommy Shultz

Dalam pelayanan saya, saya sering didekati oleh mereka yang ingin berhenti dari kecanduan akan pornografi.

Ada satu pertanyaan yang hampir selalu dilontarkan oleh mereka: “Cara apa yang paling mudah dan paling cepat untuk sembuh dari kecanduan ini?”

Kita semua menginginkan jalan keluar yang mudah, bukan? Enak sekali seandainya kita semua memiliki semacam tongkat ajaib dan dengan satu lambaian berhenti melihat pornografi selama-lamanya.

Namun demikian, kenyataannya, tidak ada jalan keluar yang gampang. Seseorang yang ingin berjuang melawan pornografi dalam hidupnya, mestilah berusaha.

Saya sungguh yakin, bagaimanapun juga, bahwa ada beberapa hambatan yang membuat orang tetap diperbudak oleh pornografi. Menyadari hambatan-hambatan tersebut dapat menjadi langkah awal dalam mengalahkan mereka. Berikut ini, tanpa bermaksud untuk membuat sebuah daftar yang eksklusif, adalah 5 hambatan yang paling sering dijumpai:

  1. Gnostisisme

Bidaah gnostisisme pada dasarnya berpandangan bahwa materi merupakan sesuatu yang buruk/jahat dan roh lah yang baik/bagus. Sebagai orang Katholik, kita tahu bahwa tubuh dan jiwa tidak dapat dipisahkan kecuali pada saat kematian – Anda tidak mempunyai (sebentuk) tubuh, tetapi Anda adalah (sebentuk) tubuh.

Gereja mengajarkan bahwa “kesatuan jiwa dan badan begitu mendalam, sehingga jiwa harus dipandang sebagai “bentuk” badan, artinya jiwa rohani menyebabkan, bahwa badan yang dibentuk dari materi menjadi badan manusiawi yang hidup. Dalam manusia, roh dan materi bukanlah dua kodrat yang bersatu, melainkan kesatuan mereka membentuk kodrat yang satu saja” (KGK 365).

Banyak orang Kristen yang bergumul dengan masalah pornografi cenderung terlalu men-spiritualisasikan masalah ini, sehingga hanya memusatkan pada dosanya saja. Mereka merasa bahwa mereka harus mengatasi masalah ini karena mereka tidak ingin menderita di neraka atau karena dosa tersebut menghina Allah.

Walaupun pandangan-pandangan seperti itu sah-sah saja, kita juga harus menyadari bahwa pornografi dapat sungguh mengakibatkan kecanduan, yang artinya bahwa hal ini juga harus dilihat dari segi psikologisnya. Ini bisa saja berarti pergi ke konseling, meminta bantuan teman, berpuasa untuk menguasai tubuh dan hasrat, dan sebagainya.

  1. Tidak Berterus Terang

Senjata yang ampuh dalam perjuangan kita melawan pornografi adalah berterus-terang. Hal ini bisa menjadi sesuatu yang berat.

Saya ingat satu pembicaraan saya dengan seorang pemuda yang bercerita kepada saya bahwa dia telah siap dan ingin untuk melakukan apapun yang diperlukan untuk mengatasi kecanduannya terhadap pornografi. “Baiklah” kata saya, “Anda harus mencari seseorang yang kepadanya Anda dapat berterus terang (mengenai kecanduan tersebut pent.)” Dia lalu memberitahu saya bahwa dia tidak dapat melakukan hal itu karena itu berarti mempermalukan dirinya sendiri.

Ternyata saat itu dia tidak siap dan tidak ingin untuk melakukan apa yang harus dilakukan.

Keterus-terangan adalah kuncinya, hal ini sungguh perlu; Saya selalu menekankan hal ini. Rekan yang dapat dipercaya yang Anda miliki tersebut bisa siapa saja: seorang teman, konselor, pastor. Intinya adalah bahwa Anda membutuhkan seseorang yang dapat Anda ajak bicara dan dapat menolong Anda mengatasi kecanduan ini.

Namun perlu diingat bahwa, rekan yang dapat Anda percayai tersebut bukanlah orang yang akan berjuang mengatasi kecanduan itu untuk Anda namun hanya orang yang akan berjalan menemani Anda.

  1. Mentalitas “Cincin Kemurnian”

Ini merupakan salah satu rintangan yang sering saya temui dalam diri orang-orang yang berjuang melawan kecanduan pornografi. Banyak orang, dengan semangat yang bernyala-nyala (biasanya setelah terjatuh dalam dosa seksual), menandai semacam kartu, mengenakan cincin, membuat janji atau hal-hal sejenis lainnya, yang kemudian membuat mereka memiliki harapan yang tidak realistis bahwa karena telah membuat komitmen semacam ini (dan dengan semangat pertobatan yang bernyala-nyala tersebut) mereka tidak akan pernah terjatuh lagi. Namun yang sering terjadi ialah kebalikannya; orang tersebut jatuh lagi, kehilangan harapan untuk bisa bebas dari pornografi.

Perhatikanlah bahwa, seperti yang dikatakan oleh Jason Evert, luka-luka yang Anda derita, tidak datang dalam sekejap mata. Juga tidak akan hilang dalam sekejap mata.

Daripada mengembangkan mentalitas yang menekan seperti ini, sebaiknya buatlah janji pada Allah dan diri Anda sendiri dan jika Anda terjatuh, yang memang harus terjadi karena kelemahan manusiawi kita, bangkitlah lagi dan berjalan terus. Ini membawa kita pada poin berikutnya.

  1. Anda Ingin Sembuh dalam Sekejap Mata

Poin ini mengarah kembali pada poin di awal tadi. Kita semua ingin penyelesaian yang cepat, bukan? Masalahnya ialah bahwa pornografi adalah sesuatu yang sungguh susah untuk dilepaskan. Mungkin akan lebih membantu jika dikatakan bahwa, “Saya tidak akan menonton film porno hari ini,” daripada mengatakan, “Saya tidak akan melihat film porno lagi selamanya.” Pernyataan pertama lebih konkrit dan realistis, sedangkan pernyataan terakhir tidaklah konkrit dan realistis.

Menetapkan tujuan-tujuan yang realistis bisa berbeda-beda bagi tiap orang. Anda mungkin bisa berniat, Saya tidak akan jatuh selama seminggu. Jika Anda berhasil melakukannya, rayakanlah keberhasilan itu dengan cara yang sehat (beli ice cream atau menonton film favorit Anda) dan tingkatkan terus target tersebut misalnya dengan mengatakan, “Oke, Saya ingin bebas dari nonton film porno dan masturbasi untuk seminggu lagi!” Jika Anda gagal, janganlah berputus asa, bangkit lagi (pergi mengaku dosa) dan maju terus pantang mundur!

Ingatlah selalu bahwa jika Anda telah maju hingga bebas selama sebulan, dan kemudian Anda jatuh lagi, hal itu tidaklah meniadakan semua kemajuan yang telah Anda capai. Kemajuannya masih tetap ada. Hitungannya ialah bahwa Anda masih tetap bebas selama satu bulan. Bangkit lagi, bersihkan lagi diri Anda dan maju terus.

  1. Anda Tidak Percaya Akan Kerahiman Allah

Ini adalah masalah besar. Ketika orang terjerat dalam kecanduan jenis ini, mereka cenderung menutup diri dari Allah karena malu; namun kenyataannya ialah bahwa Allah ingin membantu (Dia tidak menyuruh Zakheus pulang ke rumah dan menyuruhnya mengatur rumahnya dulu sebelum dia mampir. Tidak. Dia mengatakan, “Zakheus… Aku harus menginap di rumahmu hari ini.” (Luk. 19:5).

Simaklah, Dia tahu pergumulan yang sedang Anda alami. Dia ingin membantu Anda.

Dia ingin Anda menerima Cinta-Nya apa adanya, Dia “datang bukan untuk memanggil orang benar melainkan orang berdosa” (Mat. 9:13). Tepat sekali apa yang dikatakan Paus Fransiskus, “Tuhan tidak pernah lelah untuk mengampuni, kitalah yang lelah untuk memohon pengampunan-Nya.” Amin!

Jangan putus asa. Berputus asa berarti berputus Allah.

Saya ingin Anda membaca kutipan dari St. Claude de la Colombiere ini dan menantang Anda, untuk tidak hanya mencernanya saat ini saja, namun untuk duduk di suatu tempat yang hening dan memeditasikan kata-katanya sambil memohon pada Tuhan untuk menuntun Anda dalam meditasi tersebut:

“Aku memuliakan-Mu karena telah menunjukkan betapa besar kebaikan hati-Mu terhadap para pendosa, dan bahwa kerahiman-Mu mengatasi segala kejahatan, bahwa tidak ada yang mampu menghancurkannya, bahwa entah berapa kali atau betapa memalukannya kami terjatuh, atau betapa jahatnya, seorang pendosa tidak perlu berputus asa akan pengampunan-Mu…Sia-sialah musuh-Mu dan musuhku memasang jebakan baru untukku setiap hari. Dia akan mendapati bahwa aku telah menyerahkan segalanya pada harapan akan kerahiman-Mu.”

Artikel ini merupakan terjemahan yang dikerjakan kontributor kami, Dominikus, dari artikel asli berjudul 5 Reasons You’re Still Addicted to Porn

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: