Pembelaan atas Perasaan

Oleh Alice von Hildebrand

Siapapun yang akrab dengan sejarah filsafat tahu bahwa banyak dari para pemikir besar telah memandang rendah perasaan. Perasaan-perasaan dipandang sebagai sesuatu yang sekilas, tidak dapat diandalkan, menyesatkan, penuh dengan bahaya dan musti dijaga dengan hati-hati dalam kendali.

Selain itu, perasaan dimiliki bersama-sama dengan hewan. Apa yang mencirikan manusia sebagai seorang manusia adalah akal budi dan kehendak-Nya. Pada zaman sekarang, lebih dari seorang pemikir terhormat melancarkan perang terhadap emosi, menganggapnya sebagai musuh yang harus diperangi untuk membebaskan diri dari tiraninya.

Saya menantang pandangan ini. Karena memang posisi tersebut tidak sesuai dengan etos Katolik sebagaimana dicontohkan dalam liturgi, kehidupan orang-orang kudus, dan kesusastraan besar Katolik.

Salah satu sumber utama kesalahan dalam filsafat — dan pada banyak hal lainnya — adalah ekuivokasi (kesalahan berargumen dengan secara sengaja menggunakan satu kata yang sebenarnya memiliki dua atau lebih arti). Kata “perasaan” adalah salah satu korban utama dari jerat intelektual ini. Ketika Aristoteles menulis bahwa manusia berbagi perasaan dengan binatang, dia jelas mengacu kepada perasaan pada tubuh— kesenangan fisik, sakit, lapar, haus, kelelahan, dll.

Makna ini hanyalah salah satu dari makna yang valid dari kata “perasaan,” yang dicirikan oleh fakta bahwa ia memiliki lokasi pada tubuh (saya merasa sakit di perut saya) dan bahwa saya tidak perlu tahu penyebabnya untuk mengalami hal itu. Tetapi lebih daripada itu, mengetahui penyebabnya (saya sakit kepala karena saya memiliki flu) tidak mengubah kodrat dari perasaan itu. Jika hal ini dimasukkan ke dalam istilah filsafat, pengalaman ini adalah pengalaman “tanpa disengaja.”

Tentu saja ada pula perasaan psikis, seperti pengalaman orang yang merasa gembira ketika mereka minum terlalu banyak. Kita semua tahu bahwa pesta biasanya mulai menjadi biasa, dan hanya menjadi hidup sekali ketika minum-minuman secara umum dibagi-bagikan. Pengalaman ini tidak memiliki lokasi fisik namun psikis. Tetapi, seperti hanya perasaan pada tubuh, perasaan psikis juga tanpa disengaja. Kita tidak perlu tahu penyebabnya dalam rangka untuk mengalami hal tersebut, dan juga pengetahuan akan penyebabnya tidaklah mengubah kodrat dari pengalaman tersebut.

Arti ketiga dari “perasaan” — dan yang kita paling perhatikan— secara radikal berbeda dari dua makna sebelumnya. Di sini, kita tengah berbicara tentang perasaan spiritual— tanggapan afektif yang orang-orang dengan sendirinya dapat ia berikan kepada ragam obyek. Sukacita merupakan respon terhadap sesuatu yang menyenangkan; kesedihan untuk sesuatu yang menyedihkan; rasa syukur merespon kebaikan seorang pemberi, dll. Perasaan-perasaan ini bukan hanya dialami oleh makhluk pribadi, tetapi perasaan-perasaan tersebut tidaklah mungkin timbul dalam jiwa kita kecuali kita sadar akan fakta bahwa respon kita dimotivasi oleh suatu objek yang tengah kita respon. Oleh karenanya, perasaan-perasaan tersebut sama spiritualnya dengan tindakan pengetahuan atau tindakan kehendak. Mereka pada dasarnya disengaja (tidaklah masuk akal oleh karenanya untuk mengatakan “Saya merasa penuh kasih, tetapi saya tidak tahu kepada siapa”) (Dietrich von Hildebrand,).

Dalam hal ini terdapat lebih banyak pembedaan yang dapat disebutkan: Beberapa tanggapan kita yang telah kita singgung amatlah tepat, bahwa hal tersebut selaras dengan obyek yang memotivasinya. Namun sayang, sama seperti seseorang yang dapat menyalahgunakan akal budi dan menolak untuk diyakinkan oleh argumen yang meyakinkan, respon afektif nya bisa keluar dari keselarasan dengan obyek yang memotivasinya. Untuk contoh lebih konkrit, dapat terjadi bahwa peristiwa gembira, seperti fakta bahwa seorang teman atau kenalan yang bahagia menikah, memicu kecemburuan dalam jiwa seseorang. (“Kenapa dia harus senang, sementara saya kesepian dan sengsara?”) Dapatlah terjadi dimana kita memberikan respon marah sementara kita dalam posisi menjadi penerima kritik yang secara sempurna sebenarnya dapat dibenarkan. Beberapa orang mudah naik pitam pada kesalahan yang paling kecil; beberapa orang lainnya merasa pahit saat orang lain menerima pujian yang— dalam pikiran mereka— seharusnya diterima mereka. Bahwa banyak perasaan yang tidak dapat diganggu gugat dapat merayap ke dalam jiwa manusia yang terluka oleh dosa asal. Nampaknya fakta ini membenarkan dugaan bahwa keadaan ini bertahta di atas seluruh lingkaran afektif.

Perasaan juga menampakkan bahaya lainnya. Salah satunya adalah sentimentalitas, suatu kenikmatan tidak sehat akan perasaan-perasaan diri sendiri yang menggunakan objek memotivasi mereka sebagai alat untuk memicu emosi ini. Hal ini menjelaskan mengapa orang-orang sentimental yang berusaha menyamankan perasaan mereka dapat menjadi begitu keras hati dan egois. Pengarang drama dari Austria, Nestroy menggambarkan hal ini di salah satu komedinya. Seorang pria kaya melihat pengemis yang sengsara di tangga istananya (dengan demikian keadaan ini memaksa sang pria kaya untuk dipengaruhi oleh penderitaan si pengemis) mengatakan pada hambanya: “Lemparkan pengemis ini menuruni tangga; penderitaannya menghancurkan hati saya.”

Siapapun yang membaca apa yang disebut Pengakuan-Pengakuan dari Jean Jacques Rousseau— seorang juara sentimentalitas yang memaksa selirnya untuk membawa kepada sebuah panti asuhan lima anak yang ia hasilkan— dan membenarkan tindakannya dengan menyatakan bahwa hal tersebut akan menghancurkan hatinya untuk harus membesarkan mereka dalam kemiskinan. Pada masa itu, amatlah umum mayoritas anak yang diberikan kepada lembaga-lembaga negara secara mengenaskan diabaikan dan kebanyakan dari mereka meninggal segera sesudahnya. Rousseau berkubang dalam perasaannya sendiri dan memilih untuk menanamkan pada pembaca peringatan akan ketidakpercayaan total pada subjektivisme cengeng dan pementingan diri sendiri yang memuakkan ini. Dia membuat dirinya dan emosinya pusat alam semesta dan ukuran apa yang patut dipuji ataupun yang tercela. Tak perlu dikatakan, dia terus meratapi kenyataan bagaimana ia diperlakukan secara tidak adil dan bagaimana dunia ini tidak adil terhadapnya. Dia jatuh dalam kesenangan mengasihani diri sendiri.

Jika jenis emotivitas seperti ini adalah yang para kritikus perasaan pikirkan, keberatan mereka dapatlah dibenarkan. Reservasi yang beberapa orang miliki terhadap gerakan karismatik dapat dijelaskan oleh fakta bahwa beberapa anggota mereka terlalu banyak bersenang-senang dalam perasaan-perasaan dan “inspirasi” mereka. Masyarakat kita diganggu oleh subyektivisme, tetapi penyakit ini tidaklah terbatas pada lingkup afektif.

Dalam salah satu bab dari buku “Transformasi dalam Kristus” yang berjudul “Ketenangan Kudus,” Dietrich von Hildebrand menorehkan beberapa bahaya utama yang emotivitas tampakkan. Dia memperingatkan kita untuk berhati-hati akan “pencerahan” yang belum disetujui oleh seorang pembimbing rohani. Betapa mudahnya kita cenderung percaya bahwa antusiasme murni akan kebajikan menjamin kepemilikan kebajikan itu. Beberapa orang dapat berbicara dengan semangat tentang keindahan dari ketaatan— mulai dariA,B,C yang bahkan mereka sendiri sesungguhnya tidak mengenalnya.

Namun von Hildebrand juga adalah rasul besar dari afektifitas sejati, jenis afektifitas yang kita temukan di dalam diri Sang Allah-manusia, dalam Perawan Suci, dan orang-orang kudus dan para mistik. Dalam Jurnal nya, Paus Yohanes XXIII menulis bahwa “hati yang miskin [itu] diperkosa dan digerakkan oleh kemegahan ini,” dan ia sendiri pastinya masih memijakkan kakinya di tanah.

Bagaimanapun, dosa asal tidak hanya mempengaruhi perasaan manusia. Baik akal budi (kecerdasan) dan kehendak bebas manusia juga menjadi korban pemberontakan manusia terhadap Allah. Kesengsaraan yang menimpa umat manusia bukan hanya karena emotivitas yang tidak legitim. Mereka seringkali dapat ditelusuri kepada penyalahgunaan akal budi. Sejarah filsafat sejajar dengan sejarah dunia: Yang kedua adalah kuburan ketidakadilan dan kebrutalan; sementara yang pertama bertaburan dengan kesalahan-kesalahan. Materialisme, skeptisisme, subjektivisme, utilitarianisme, empirisme, idealisme, Marxisme, dan lebih banyak -isme selalu mengancam akan meracuni pikiran manusia dan mendistorsi pandangan manusia tentang makna kehidupan dan tujuan hidupnya.

Pikiran yang sombong pastilah tirani, dan salah satu hal yang paling berbahaya. Kesalahan-kesalahan ini telah mempengaruhi bukan hanya orang-orang yang (kalau mengutip Plato dalam Hukum nya) “lebih menyukai dirinya sendiri kepada kebenaran,” tetapi juga mereka yang sungguh-sungguh percaya bahwa mereka menanti kebenaran. Mari kita mengingat Santo Agustinus yang berusia 19 tahun, setelah membaca karya Hortensius dari Cicero, berseru: “Kebenaran, kebenaran, betapa sumsum tulangku menanti akan engkau” (Pengakuan-Pengakuan Agustinus, III, 4). Namun, adalah Agustinus yang sama itu pula yang segera sesudahnya, jatuh ke dalam perangkap dari Manikheisme, dan seperti yang dia sendiri akui dengan rendah hati, ia telah menelan omong kosong bandelnya. Mari saya kutip Pengakuan-Pengakuan: “Sedikit demi sedikit, aku dituntun pada kebodohan untuk percaya bahwa pohon ara menangis ketika dipetik …. Jika beberapa ‘orang suci’ makan buah ara ini maka secara mengejutkan bagi mereka terbukti, bahwa buah itu dipetik bukan olehnya, tetapi lewat orang lain yang adalah tangan berdosa, maka ia akan mencernanya di dalam perutnya, dan darinya ia akan bernapas mengeluarkan malaikat! “(III, 10) Jika Agustinus saja dapat jatuh ke dalam perangkap tersebut, kita harus mengingat bahwa kita bukanlah seorang Agustinus dan paling mungkin dapat melakukan yang lebih buruk.

Haruskah fakta bahwa pikiran manusia dapat begitu parah melakukan kesalahan membuat kita membenci akal budi? Tentu saja tidak. Hal tersebut hanyalah panggilan nyaring untuk menempatkan bakat kita secara rendah hati dalam pelayanan akan kebenaran. Kesadaran kita akan kebesaran pikiran manusia harus berjalan seiring dengan kesadaran yang tajam akan batas-batasnya dan kelemahan-kelemahannya. Kebanyakan kesalahan tidaklah harus ditelusuri kembali karena kebodohannya tetapi kesombongannya. Dalam Roma 1:18, Paulus menjelaskan bahwa kesombongan manusia alergi terhadap kebenaran. Hukumannya adalah bahwa orang-orang yang berada dalam genggaman dosa kardinal ini jatuh “ke dalam hawa nafsu memalukan.” Penyakit ini dimulai dari pikiran mereka dan menuntun pada perbuatan hina. Kebutaan adalah hukuman atas dosa.

Adalah St. Agustinus yang sekali lagi yang memperingatkan kita dalam bukunya Kehendak Bebas bagaimana dengan mudahnya akal budi manusia, diracuni oleh kesombongan, dapat kehilangan pijakan dan menderita rasa pening intelektual yang mencegahnya untuk membedakan kebenaran dari kesalahan. Dia menulis, “Sekarang menyetujui dan bahkan mempertahankan apa yang palsu seolah-olah itu benar, sekarang tidak menyetujui apa yang sebelumnya dipertahankan, dan bergegas menuju kepada kepalsuan-kepalsuan lainnya; sekarang menolak persetujuan dan takut akan pemikiran yang jelas; sekarang putus asa sepenuhnya menemukan kebenaran dan berpegangan pada ketidakjelasan dalam kebodohan; sekarang berjuang dalam terang pemahaman dan jatuh kembali lagi dari keletihan “(I, 10). Agustinus tahu akan godaan intelektual ini dan memperingatkan kita bahwa, pada akhirnya adalah kesombongan yang bertanggung jawab atas tergelincirnya kemampuan intelektual manusia.

Kerendahan hati adalah vaksin ilahi terhadap penyimpangan intelektual. Tetapi St. Agustinus juga menyadari peran kehendak bebas kita, yang secara tragis mampu menolak kebenaran—yaitu menolak untuk diyakinkan oleh argumen yang meyakinkan, karena kesimpulan yang ditawarkan tidak cocok bagi kita. Terang dapat ditawarkan kepada kita, namun kita lebih menyukai kegelapan.

Buku VIII dari Pengakuan-Pengakuan Santo Agustinus adalah dokumen paling penting yang kita miliki tentang hal ini selain dari Alkitab. Pikiran Agustinus diyakinkan akan kebenaran Katolik; namun kehendaknya masih menolak sampai akhirnya ia dengan gembira dikalahkan oleh rahmat. Inilah kebebasan sejati: kehendak bebas kita ditaklukkan oleh rahmat.

Dalam Peraturan Kudus, St. Benediktus memerintahkan para biarawan untuk membenci kehendak mereka sendiri: “volutatem propriam odire.” Setiap formasi religius yang otentik melancarkan perang tanpa henti melawan kehendak seseorang: Apakah terlalu pesimistis untuk mengklaim bahwa sebagian besar dari kita adalah budak dari kehendak diri sendiri? Seseorang membutuhkan banyak kasih karunia untuk berdoa dengan jujur, “Bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mu jadilah.” Dan juga, siapa yang dapat menyangkal bahwa kehendak bebas adalah hadiah yang mengagumkan yang Allah telah berikan pada kita, yang berisiko memungkinkan makhluk-Nya untuk memberontak melawan Dia? Kehendak diri sendiri adalah tirani kejam yang menghancurkan segala sesuatu yang terletak di jalur keputusannya sendiri.

Apakah kita kemudian membenci akal manusia karena dapat jatuh ke dalam perangkap rasionalisme? Apakah kita mengutuk kehendak yang secara intrinsik jahat karena dapat dengan darah dingin memilih yang jahat, seperti yang St. Agustinus telah tunjukkan di dalam Pengakuan-Pengakuannya? Jelas tidak. Dan juga sebaliknya, perasaan layak menerima kehormatan yang sama yang kita semua anugerahkan pada pikiran dan kehendak kita. Memang bahwa mereka membawa manusia pada penyimpangan, namun hal ini tentu tidak berlaku untuk perasaan yang timbul dalam diri kita sebagai respon yang valid atas kebenaran, keindahan, kebaikan, dan yang terpenting, atas kemuliaan Allah.

Hanya karena kita tidak memiliki kontrol yang sama atas emosi kita yang kita miliki melebihi dari kehendak kita, karena aku menghendaki apa yang aku kehendaki, namun ini bukanlah alasan untuk memindahkan perasaan ke dalam domain dari irasionalitas. Fakta bahwa perasaan-perasaan yang kita periksa adalah sesuatu yang disengaja membuktikan spiritualitas mereka. Pascal menulis kata-kata yang terkenal: “Hati memiliki akal budinya sendiri yang mana pikiran tidak tahu apa-apa,” jelas mengacu pada fakta bahwa pusat dari afektifitas ini menyimpan harta yang ditawarkan pada akal budi kita yang terbatas—yang terus-menerus terancam oleh rasionalisme—tidak dapat mempersepsikannya. Sentimentalisme adalah sesuatu hina; begitu pula rasionalisme. Fakta bahwa kita mengutuk Rousseau tidak sepenuhnya akan mendukung rasionalisme kita dari Spinoza yang menyatakan bahwa “ia memiliki ide akan Allah sejernih karena memiliki ide tentang segitiga” (Copleston, Sejarah Filsafat).

Beberapa hal yang begitu agung (syukurlah) tidak di bawah kendali kita. Jumlah rahmat yang kita terima bukanlah sesuatu yang tunduk kepada kehendak kita. Dengan demikian, Allah mengingatkan kita bahwa kita adalah makhluk ciptaan, dan bahwa merupakan suatu kehormatan untuk bekerja sama dengan-Nya dan mencapai apa yang kita tidak pernah dapat kita lakukan pada kita sendiri. Manusia perlu terus meneruskan diingatkan bahwa “tanpa Aku, engkau tidak dapat berbuat apa-apa.” Kekudusan adalah kolaborasi sempurna dengan Allah. Kehidupan orang-orang kudus menunjukkan secara mengesankan bahwa mereka harus terus memohon untuk rahmat tertentu, yang mana Allah dalam kebijaksanaan yang tak terbatas dan kasih-Nya menolak untuk memberikan pada mereka untuk mengajari mereka kerendahan hati dan kesabaran. Santa Theresia dari Lisieux menceritakan bahwa pada usia empat tahun sampai beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke-13 tahun, dia adalah seorang yang cengeng, dan menyebut dirinya seorang yang “tak dapat bertahan.” Setiap komentar — meskipun tidak membahayakan — yang ditujukan kepadanya dapat memicu cucuran air mata yang tidak sepantasnya keluar. Saat ia mencoba dengan keras, keinginannya tidak mampu mengendalikan rasa tersinggung nya. Selama sembilan tahun ia memohon Tuhan untuk membebaskan dia dari kelemahan ini. Ketika anugerah itu diberikan kepadanya, ia mengetahui bahwa hal itu adalah rahmat; dia tidak bisa mengatur-atur hal itu, tetapi ia bisa dengan kehendaknya meminta hal itu. Semua yang adalah permintaannya pada Allah merupakan kehendak baiknya untuk dapat disembuhkan.

Apakah perasaan sebaiknya direndahkan karena mereka tidak dapat dikehendaki? Para guru spiritual mengajarkan kita bahwa adalah benar bahwa kita tidak dapat menghendaki atau tidak menghendaki perasaan kita (kita semua mengalami perasaan iri, cemburu, marah—perasaan-perasaan yang kita condong memilih untuk tidak kita alami), namun ada banyak yang bisa kita lakukan dan bahwa kebanyakan dari kita tidak melakukannya. Pertama-tama, kehendak kita dapat dan harus menguduskan perasaan sejati dari diri kita, perasaan belas kasih, rasa haru, rasa syukur, kelembutan, penyesalan, dan cinta (Dietrich von Hildebrand, Etika). Dengan menguduskan mereka dengan kehendak bebas kita, kita memberikan perasaan-perasaan ini validitas penuh mereka: Mereka memuji Allah yang tidak memandang hina “hati yang menyesal dan tunduk” (Miserere). Penyesalan pastilah suatu perasaan dan sesuatu yang harus kita doakan setiap hari.

Kita dapat dan juga harus menolak perasaan kita yang jahat (saya merasa cemburu, tetapi saya harus mengakui bahwa hal ini adalah tidak sah dan menolak untuk mendukung sebagai posisi valid saya terhadap orang lain). Ada juga banyak hal yang bisa kita lakukan secara tidak langsung. Film-film yang kita tonton, buku-buku yang kita baca, orang-orang yang kita lihat—semua pengalaman ini akan mempengaruhi kehidupan emosional kita. Seseorang yang rawan akan godaan kedagingan yang berlangganan Playboy dan menonton film porno seharusnya tidak terkejut bahwa perasaan penuh nafsu akan mengganggunya terus-menerus. Ahli gizi modern memberitahu bahwa “Anda adalah apa yang Anda makan”. Hal ini juga benar dalam mengatakan bahwa apa yang kita baca, apa yang kita lihat, dan apa yang kita dengar akan mempengaruhi perkembangan spiritual, intelektual, dan emosional. Banyak anak modern adalah korban dari pertunjukkan brutal, kasar, dan jorok yang ia lihat di televisi.

Terhadap latar belakang ini, kita sekarang dapat beralih kepada keindahan dan pentingnya perasaan mulia dalam jiwa manusia—perasaan-perasaan yang bukan hanya benar-benar melampaui alam binatang tetapi adalah bunga-bunga terbaik dari kehidupan spiritual. Ini akan menjadi bercahaya jika kita beralih kepada para penulis spiritual dan kehidupan orang-orang kudus.

Memang bahwa akal budi kita adalah dasar dari kehidupan spiritual dan intelektual kita dan mengisyaratkan akan fungsi spiritual lainnya (nihil volitum, nisi cogitatum—tidaklah mungkin untuk menghendaki kecuali kita tahu apa yang dihendaki), dan adalah juga benar bahwa perasaan-perasaan spiritual (entah legitim atau tidak) tidak dapat muncul di dalam kita kecuali kita tahu apa yang memotivasi mereka; mereka mengisyaratkan intelegensi kita. Tetapi selain itu, kecuali bahwa kehendak kita menguduskan perasaan kita yang legitim, dan mengingkari yang tidak legitim, mereka akan baik menguap (jika mereka mulia dan baik) atau sebaliknya meracuni kita jika mereka jahat. Di sisi lain, jika mereka sepenuhnya dikuduskan oleh kehendak, mereka akan menghiasi jiwa dengan bunga-bunga spiritual. Harus ada pernikahan antara perasaan-perasaan spiritual yang tepat dan kehendak kita. Mereka benar-benar menjadi milik kita. Dengan kata lain, perasaan spiritual mengisyaratkan baik akal budi dan kehendak kita; mereka sama spiritualnya seperti akal budi dan kehendak kita. Kasih Allah mengisyaratkan suatu pengetahuan tentang Sang Pencipta, satu kehendak untuk melayani dan menaati-Nya; keindahan-Nya “melukai” hati kita, dan membuat kita bersama St. Thomas Aquinas mengatakan “Quia te contemplans totum deficit”. Kontemplasi adalah sesuatu yang intelektual dan deficit adalah afektif.

Bagi mereka yang akrab dengan literatur Kristen yang besar, sulit untuk memahami bahwa banyak pemikir dapat baik mengurangi hati (Tabernakel dari perasaan spiritual) maupun kehendak, atau merendahkan baik hati dan perasaan sebagai “musuh” yang mana kita harus kobarkan perang tanpa henti.

Bagaimana seseorang dapat membaca Kidung Agung tanpa tersentuh oleh afektivitas yang mendalam, kegirangan bahwa Mempelai Pria memberikan kepada Pasangannya, sukacitanya dalam kontemplasi akan keindahan-Nya? Ini bukan sentimentalitas tetapi ekspresi kepedulian terdalam dari hati yang terluka karena cinta. Seseorang hanya perlu memeriksa konkordansi untuk melihat seberapa sering kata “hati” yang digunakan, kata “cinta,” kata “sukacita” —dan selalu dalam arti positif. Kita harus memohon Allah untuk mengubah hati kita dari hati batu ke hati daging. Ketika seseorang mencintai, seseorang memberikan hatinya pada orang yang dicintainya.

Kitab-Kitab Injil sering mengacu pada afektifitas ilahi dari Sang Allah-Manusia: “Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata:” Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu telah Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil … “(Lukas 10:21). Mari kita ingat pula kesedihan-Nya (dan kesedihan pastilah merupakan perasaan) di kubur Lazarus (Yoh 11:35), meskipun Dia tahu Dia akan membangkitkan Lazarus dari antara orang mati, atau air mata suci-Nya yang ia cucurkan bagi Yerusalem (Mat 23:37). Ini bukan tindakan kehendak ilahi-Nya, tetapi ekspresi afektifitas-Nya yang kudus yang didukung oleh kehendak-Nya. Memang sekali lagi bahwa kita tidak dapat mengendalikan perasaan ini, namun apakah hal tersebut adalah alasan untuk merendahkan mereka?

Allah tidak mengijinkan bahwa ekstasi cinta yang Dia kadang-kadang berikan kepada murid-murid-Nya yang paling setia dapat memberikan jalan bagi perasaan-perasaan ditinggalkan dan kesedihan—perasaan-perasaan yang dialami oleh orang-orang akan melalui malam gelap jiwa. Malam gelap dirasakan sebagai percobaan parah. Fakta bahwa sukacita cinta tidak lagi dialami tidak membawa kita untuk menarik kesimpulan bahwa jiwa tidak lagi mencintai. Pengalaman cinta ini tidaklah lagi dirasakan; perasaan itu tertidur di dalam jiwa kita dan akan bangun kembali dalam waktu yang baik milik Allah sendiri. Cinta ini akan terus memanifestasikan dirinya dalam kesetiaan seseorang pada kehidupan beragamanya—dalam kegelapan dan kesedihan atau di dalam cahaya. Santa Theresia dari Lisieux, ketika merasa “ditinggalkan,” menggunakan perbandingan yang mencerahkan: ia adalah “bola”-Nya dan kemudian Dia tertidur dan mengabaikan untuk bermain dengannya, tetapi jiwa yang penuh kasih tidak akan membangunkan-Nya. Untuk menghilangkan perasaan-perasaan spiritual dari kehidupan rohani kita akan berarti merendahkan manusia dalam arti yang tragis. Sang Allah-Manusia—yang identik dengan kita kecuali dalam hal dosa—mengalami, kegembiraan, sukacita, kesedihan, ketakutan, duka cita. Siapa yang berani mengatakan bahwa perasaan-perasaan—yang dialami oleh Ia yang satu-satunya Kudus lebih inferior dibandingkan akal ilahi dan kehendak ilahi ketika mereka mengisyaratkan keduanya? Ini adalah alasan mengapa kita memiliki Litani Hati Kudus, “Fornax ardens Caritatis.” (Perapian Cinta Kasih yang bernyala-nyala)

Terdapat pembimbing spiritual (dan beberapa pria) yang—pada prinsipnya—tidak mempercayai respon wanita akan sensitivitas. Ketika Maria Magdalena berkata kepada Para Rasul bahwa Kristus tidak lagi di dalam kubur, yang secara jelas mengisyaratkan fakta bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati, mereka menolak untuk percaya dan menolak pesannya sebagai “omongan wanita.”; mereka dengan salah menafsirkan sukacitanya sebagai sesuatu yang tidak berdasar. Aku akan menyarankan agar para musuh afektifitas membaca kehidupan orang-orang kudus yang agung dan para mistikus besar dan memperhatikan seberapa seringnya St. Teresa dari Yesus menggunakan kata “Perasaan” Ketika ditanyakan oleh pembimbing spiritualnya, yang dengan hati-hati meragukan validitas penampakannya, bagaimana dia bisa yakin bahwa Kristus berbicara kepadanya, dia menjawab: “Lo sentia” (Vida, Bab 27) (saya minta maaf). Beberapa kali dalam otobiografinya dia menyebutkan fakta bahwa kesaksiannya dipertanyakan atau ditolak sebagai mimpi atau ilusi. Dia harus melalui banyak cobaan sebelum pengalaman-pengalaman mistiknya akhirnya diakui sebagai hal yang otentik.

Santa Margaretha Marie Alacoque tidaklah jauh lebih baik. Para biarawati tentu melihatnya sebagai seorang yang aneh dan tidak mempercayai dirinya. Dia memiliki rasa penyaliban sampai dia bertemu dengan Romo Père Claude de la Colombiere yang memahami bahwa Allah telah benar-benar memberinya misi menyebarkan devosi kepada Hati Kudus Kristus. Apa yang ia alami benar-benar datang dari atas.

Perlu dicatat bahwa—sebagaimana diceritakan oleh St. Teresa dari Kanak-Kanak Yesus—lebih banyak perempuan daripada laki-laki yang menerima rahmat mistik. Seperti halnya mungkin benarlah bahwa lebih banyak perempuan daripada laki-laki yang cenderung ilusi, para pembimbing spiritual lebih mungkin untuk menerima dengan sikap hati-hati klaim seorang wanita bahwa dia telah disukakan dengan pengalaman mistik yang sebagian besar afektif di alam. Dia cenderung tidak akan percaya bahwa seorang pria yang membuat klaim serupa. Seorang imam membutuhkan kasih karunia disebut “kemampuan pembedaan roh” dan kehidupan spiritual yang mendalam agar mampu membimbing jiwa-jiwa istimewa. Iblis dapat dan mampu menyamar sebagai malaikat terang, dan tidak diragukan lagi ada lebih banyak lagi mistikus dan visioner “palsu” yang tidak otentik ketimbang yang otentik. Sebelum mengakui satu penampakan sebagai otentik, Gereja, dalam kebijaksanaannya, membutuhkan waktunya. Sebelum memberikan penilaian akhir, ia menggunakan “kunci-kunci pengujian” seperti kerendahan hati sang visioner, kesetiaannya pada ajaran Gereja, ketaatan jiwanya, ketidakpercayaannya akan dirinya sendiri—yang adalah kerendahan hatinya.

Dengan membaca ulang kehidupan Sang Bunga Kecil, aku membuat titik yang mendasari kalimat “je sens” (aku merasakan) setiap kali dia menggunakannya. Pada satu halaman, nampak enam kali: “Saya merasa bahwa saya memiliki banyak panggilan lain; Saya merasakan panggilan seorang ksatria, seorang imam, seorang rasul, seorang dokter, atau martir; Saya merasa perlu, keinginan untuk mencapai bagi-Mu, ya Yesus, perbuatan yang paling heroik …. Saya merasa dalam jiwa keberanian dari seorang tentara salib, dari Zouave (Tentara Khusus yang berasal dari Perancis) Kepausan …. Saya merasa dalam diri panggilan imamat …. “ini jelas bukan tindakan kehendak; kalau tidak, semua dari kita bisa menirunya. Yang terutama, pentinglah adanya kenyataan bahwa ketika Sang Perawan Suci menyembuhkannya dari penyakit yang mengerikan dengan menampakkan diri padanya dan tersenyum padanya, kemudian, ketika berbicara dengan para Karmelit tentang hal itu, dia disiksa oleh pemikiran bahwa ia mungkin berbohong. Diganggu oleh rasa skrupel (takut akan berbuat dosa), dia menderita siksaan sampai, sementara di Paris dalam perjalanannya ke Roma, ia mengunjungi Rue du Bac. Di sana, dia diberi anugerah “perasaan” dengan keyakinan mutlak bahwa itu adalah benar-benar Sang Perawan Suci yang telah menyembuhkannya. Sejak saat itu, ia pun damai. Ketika ia menemukan bahwa panggilannya adalah “mencintai,” dia mengatakan bahwa dia akan menderita melalui cinta dan bahkan bersukacita melalui cinta. Ini adalah beberapa contoh yang mengajarkan setiap pembaca yang berhati-hati terhadap “Sejarah Jiwa” bahwa terdapat perasaan yang suci. Apakah kita membuang emotivitas ini sebagai ekspresi kelemahan perempuan, bukan melihatnya sebagai mengalirnya hati yang diubah oleh cinta? Sekali lagi, adalah Sang Bunga Kecil yang menyesalkan fakta bahwa para perempuan dipandang rendah. Namun, dia mengatakan, lebih banyak perempuan daripada laki-laki mengasihi Kristus. Mereka mendampingi-Nya ke Kalvari. Dengan memberikan mereka posisi yang memalukan ini, Ia memberkati mereka, karena Ia juga adalah seorang pria atas kesedihan.

Sebuah pernyataan singkat di akhir akan disebutkan untuk peran dari afektifitas dalam apresiasi seni. Mengapa musik, puisi, dan seni visual menggerakkan orang begitu dalam? Mari kita ingat apresiasi yang mendalam Kardinal Newman pada musik, emosi yang mendalam yang kita alami ketika merenungkan keluhuran matahari terbenam, air mata yang menetes ke wajah kita setelah mendengar karya Bach “Kisah Sengsara menurut Santo Matius”. Tanggapan-tanggapan akan keindahan — “gelora mendalam dari hati” (Cardinal Newman) —Secara defintif adalah afektif dalam kodrat, dan oleh karenanya ia menulis, hal-hal tersebut adalah pesan-pesan yang datang dari atas yang menarik kita lebih dekat kepada-Nya yang adalah Sang Keindahan itu sendiri.

Dalam bukunya “Sebuah Perubahan Amerika” yang baru diterbitkan, Deal Hudson menceritakan bahwa ketika ia sedang mengajar kelas apresiasi musik di dalam sebuah penjara di Selatan, “Beberapa dari mereka [para tahanan] begitu diluluhkan bahwa mereka menempatkan kepala mereka di atas meja dan menangis. “Untuk membuat penjahat yang keras hati dapat menangis dicapai bukan dengan argument-argumen tetapi dengan” perasaan” keindahan.

Tentulah amat menyedihkan ketika para pemikir dibutakan terhadap peran dan misi afektifitas dalam kehidupan spiritual. Gagasan bahwa “perasaan adalah sesuatu yang acuh tak acuh terhadap kekudusan” mendustakan doa liturgi yang sebagian besar umat Katolik saat ini mungkin tidak kenal, tetapi merumuskan apa yang saya telah coba untuk ungkapkan:

Allah yang Maha Kuasa dan yang paling lemah lembut, yang membuat sumber air yang hidup menyembur dari batu untuk memuaskan dahaga umat-Mu; yang menarik dari hati kami yang keras air mata rasa penyesalan, agar kami boleh meratapi dosa-dosa kita, dan pantas menerima pengampunan mereka berkat rahmat-Mu. Melalui Kristus, Tuhan kita. [Tridentine Missal, penekanan oleh saya]

Semoga Allah memberikan kita rahmat agar kita sambil merasakan ketajaman mahkota duri, kita menanggapi dengan berkata “Jadilah kehendak-Mu.”

Artikel berikut diterjemahkan oleh teman kami, Gregorius Aditya, dari artikel asli berjudul In Defense of Feelings oleh Alice von Hildebrand. 

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: