7 Pengusung Jenazah Jiwa

the-seven-deadly-sins-and-the-four-last-things-1485

The Seven Deadly Sins And The Four Last Things, Hieronymus Bosch, 1485.

Oleh: P. Thomas Kocik

Kecacatan yang mencemari kodrat manusiawi kita akibat kejatuhan Adam dari kondisi berahmat nampak jelas secara khusus dalam 7 keburukan yang paling dominan, yang dalam tradisi Katolik dikenal sebagai dosa-dosa pokok. Dosa-dosa tersebut ialah: kesombongan, keserakahan, ketidakmurnian, kemarahan, kerakusan, iri hati dan kemalasan/kejemuan. Kita menyebut dosa-dosa ini sebagai dosa “pokok/kapital” (dalam bahasa Latin, caput berarti “kepala”) karena mereka merupakan sumber atau mata air dari semua dosa lain yang dilakukan oleh manusia, entah dosa-dosa yang dilakukan maupun dosa-dosa akibat kelalaian. Kita menyebut mereka “mematikan” karena dosa-dosa tersebut mengakibatkan kematian spiritual; Uskup Agung Fulton J. Sheen sering menyebut dosa-dosa ini sebagai “7 Pengusung Jenazah (bagi) Jiwa.”

Pertumbuhan spiritual tidak bisa terjadi jika kita tidak mencoba untuk menggali akar-akar dosa kita dengan bantuan rahmat Allah yang senantiasa menerangi dan menguduskan kita.

Kesombongan

Kesombongan adalah dosa pertama dalam daftar 7 dosa pokok. Kesombongan dapat didefinisikan sebagai penghargaan atau pementingan diri sendiri yang sangat berlebihan. Kesombongan merupakan sumber utama bagi begitu banyak dosa lainnya, seperti prasangka buruk, kemunafikan, ketidaktaatan akan pimpinan yang sah, kekejaman kepada bawahan, keras kepala dan keangkuhan. Beberapa manifestasi dari dosa ini antara lain: membesar-besarkan kemampuan diri sendiri, memasang pada diri sendiri kualitas-kualitas yang kurang/tidak dimiliki, membesar-besarkan kesalahan atau kelemahan orang lain, merendahkan atau meremehkan orang lain dan tidak mempersembahkan karunia dan talenta yang dimiliki pada Tuhan.

Kita tahu dari Kitab Suci bahwa kesombongan adalah penghalang bagi rahmat (Yak. 4:6); aib bagi diri sendiri (Luk. 14:11); dibenci Allah (Ams. 8:13) dan akan dihukum-Nya (Ams. 16:5); dan mengurangi nilai kebaikan yang diperbuat seseorang karena membuat orang melakukan kebaikan dengan niat yang salah (bdk. Mat. 6:1-2).

Kerendahan hati, atau kemiskinan dalam roh, merupakan lawan bagi kesombongan. Jika kesombongan merupakan dasar bagi dosa, maka kerendahan hati merupakan dasar bagi kebajikan dan karena menempati tempat pertama dari segala Kebahagiaan (Mat. 5:3). Keutamaan kerendahan hati membuat kita tidak peduli terhadap kekuasaan, kehormatan dan kekayaan duniawi, sehingga kita dapat memusatkan diri hanya pada Allah saja yang adalah sumber sukacita tertinggi kita.

“Belajarlah pada-Ku” kata Yesus, “karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat. 11:29). Bayangkanlah Sang Penyelamat Ilahi kita, yang meskipun disiksa secara kejam namun tidak mengeluh dan tidak membenci sedikitpun (bdk. 1 Ptr. 2:23). Kemudian berdoalah: Dari dosa kesombongan bebaskanlah aku ya Tuhan.

Keserakahan

Keserakahan, yang juga dikenal sebagai ketamakan atau kerakusan, dapat didefinisikan sebagai hasrat yang tidak wajar akan barang-barang duniawi, khususnya yang menjadi milik orang lain. Dalam 10 Perintah Allah, terdapat dua perintah yang mengatur tidak hanya tindakan lahiriah kita saja namun juga hasrat batin kita, yakni perintah ke-9 dan ke-10. Kedua aturan tersebut melarang keserakahan (jangan ingin akan milik sesamamu…”).

Santo Paulus menyebut keserakahan (cinta uang) sebagai “akar dari segala kejahatan” (1 Tim. 6:10). Perampokan, pencurian, pemalsuan, kekikiran dan ketidak pekaan terhadap orang miskin, berakar dari dosa keserakahan ini. Namun ada pula bentuk yang lebih halus dari keserakahan yang mungkin membutakan kita sehingga tidak menyadari dosa ini dalam tindakan-tindakan kita. Beberapa orang berpikir bahwa karena mereka telah menemukan sejumlah uang atau barang-barang pribadi, maka barang-barang tersebut dengan sendirinya menjadi milik mereka (“tukang temu-simpan barang”). Kontraktor yang buruk, yang mengulur-ulur waktu dalam menyelesaikan pekerjaannya atau menggunakan material-material bermutu rendah namun memasang harga yang tinggi. Berjudi, bermain saham dan membeli barang-barang dengan kredit, dari dirinya sendiri bukanlah dosa, namun menjadi dosa jika seseorang melakukannya dengan risiko kerugian yang begitu besar hingga tidak mampu membayar utang-utangnya dan menopang hidup orang-orang yang bergantung padanya (keluarga dsb.). Pengiklan meyakinkan kita bahwa kita mesti mengikuti gaya atau model terkini, padahal kita masih bisa menggunakan alat-alat rumah tangga, pakaian, kendaraan bermotor, smartphone dan barang-barang lain kita yang lama.

St. Fransiskus dari Sales mengatakan bahwa setiap orang menyatakan bahwa mereka membenci keserakahan. Kita menjadi semakin fasih saja dalam menjelaskan bagaimana kita mesti memiliki barang-barang tertentu agar dapat menyesuaikan diri dengan keadaan dunia. Namun kita tidak pernah merasa cukup memiliki sesuatu, sehingga kita mendapati diri kita selalu menginginkan lagi dan lagi. Seberapa seringkah kita menyadari keserakahan kita pada saat pemeriksaan batin atau mengakuinya dalam sakramen pengakuan dosa?

Kita dapat menikmati barang-barang apa saja di dunia ini, namun kita mesti berhati-hati agar tidak terlalu lengket akan barang-barang tersebut dan akhirnya terjatuh dalam penyembahan berhala (bdk. Ef. 5:5). Allah sendiri merupakan kebahagiaan tertinggi kita. Dibandingkan semua orang, orang Kristen haruslah tidak boleh lebih memedulikan barang-barang duniawi, karena Bapa surgawi kita telah memelihara kita (bdk. Mat. 6: 31-32). Apakah ini berarti bahwa kita harus mengabaikan kewajiban dan pekerjaan kita? Tentu saja tidak. Ini berarti bahwa, sambil mengerjakan yang menjadi tanggung jawab kita, kita juga tidak boleh mengabaikan tanggung jawab terhadap jiwa kita. “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya” demikian Tuhan berjanji, “maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33).

Belaskasihan merupakan lawan dari keserakahan. Peter Kreeft menulis dalam Back to Virtue bahwa keserakahan adalah “jangkauan sentrifugal untuk mengambil dan menyimpan barang-barang duniawi bagi diri sendiri,” sedangkan belaskasih merupakan “jangkauan sentripetal untuk memberikan, untuk membagi-bagikan barang duniawi kepada sesama.” Belaskasih merupakan obat penawar bagi ketamakan yang meracuni jiwa.

“Belajarlah pada-Ku,” kata Yesus, “karena aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat. 11:29). Bayangkanlah Sang Juruselamat kita, yang sengsara-Nya telah menggambarkan pemiskinan yang semakin meningkat. Dia ditinggalkan oleh hampir semua murid-Nya, kemudian semua kehormatan dan akhirnya hidup-Nya sendiri direbut dan dilepaskan dari-Nya. Lalu berdoalah: Dari dosa keserakahan bebaskanlah aku, ya Tuhan.

Iri Hati/Dengki

Dari ke-7 dosa pokok, hanya iri hatilah yang tidak memberikan kesenangan pada kita, kepuasan fana pun tidak. Iri hati didefinisikan sebagai kesedihan karena kebahagiaan, rahmat atau prestasi orang lain, sedemikian rupa sehingga kita ingin melihat orang lain kehilangan hal-hal tersebut dan kita menjadi senang ketika mereka pada akhirnya kehilangan itu semua. Sama seperti dosa-dosa lainnya, iri hati berakar pada dosa kesombongan, yang tidak mampu menerima jika ada yang lebih baik atau jika ada saingan. Iri hati terwujud dalam berbagai bentuk, termasuk rasa terganggu jika mendengar orang lain dipuji, menjatuhkan reputasi orang lain dengan menjelek-jelekkan mereka dan ingin menyingkirkan orang lain meskipun dengan cara-cara yang diragukan kebenarannya.

Iri hati meracuni seluruh pribadi kita. Karena Kain iri hati terhadap saudaranya Habel, dia menjadi “sangat marah dan mukanya muram” (Kej. 4:5). Karena anak-anak Yakub iri hati terhadap saudara mereka Yusuf, “mereka membencinya dan tidak mau menyapanya dengan ramah” (Kej. 37:4). Karena Saul iri hati terhadap Daud, dia “mendengki kepada Daud sejak hari itu” (1 Sam. 18:9). “Iri hati dan sakit hati memperpendek hidup, dan kecemasan membuat orang menjadi tua sebelum waktunya” (Sir. 30:24).

St. Paulus menempatkan iri hati di antara perbuatan-perbuatan daging dan menyatakan bahwa “mereka yang melakukan hal-hal itu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Gal. 5: 19-21). Dia menasihati kita agar “hidup dengan sopan seperti pada siang hari… jangan dalam perselisihan dan iri hati” (Rm. 13:13). Dalam hal-hal pribadi, iri hati menghasilkan perselisihan (1 Kor. 1:11) dan perbuatan-perbuatan jahat (Yak. 3:16). Dalam hal-hal umum, iri hati melahirkan perang, yang disimbolkan dalam kitab Wahyu dengan penunggang kuda merah padam yang diberikan kuasa “untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi, sehingga mereka saling membunuh, dan kepadanya dikaruniakan sebilah pedang yang besar” (Why. 6:4, pedang menyimbolkan perang). Di antara orang-orang Kristen, perselisihan yang timbul karena iri hati dapat menuntun pada skisma atau perpisahan dari Gereja universal – sesuatu yang dikhawatirkan oleh Rasul ini akan terjadi pada komunitas Kristen di Korintus (1 Kor. 11: 18-19). Dan iri hati dapat membuat para imam dan kaum religius berkaul untuk membenci janji selibat mereka ketika mereka melihat pasangan menikah yang bahagia.

Kemurahan hati merupakan lawan bagi iri hati. Jika iri hati hanya mengakibatkan kesedihan dan penderitaan, maka kemurahan hati merupakan tempat persemaian dari sukacita. Hal ini tidaklah mengejutkan, karena kita diciptakan sesuai dengan gambaran Ilahi. Kita sungguh bahagia sejauh kita menyesuaikan diri dengan Tuhan, Allah Tritunggal Kudus, yang esensinya adalah cinta dalam pemberian diri dan penerimaan. St. Anselmus dari Canterbury mengajarkan kita bahwa kebahagiaan tertinggi bagi kita di surga akan semakin besar dengan hilangnya rasa iri hati: “jika siapapun yang kau cintai seperti dirimu sendiri memiliki keterberkatan yang sama, sukacitamu akan digandakan karena kau akan bergembira untuk dirinya sama seperti untuk dirimu sendiri.”

“Belajarlah dari pada-Ku,” kata Yesus, “karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat. 11:29). Bayangkanlah Sang Juruselamat ilahi kita yang dibawa ke hadapan Pontius Pilatus, akibat iri hati dan dengki imam-imam kepala (Mrk.15:9-10). Lalu berdoalah: Dari dosa iri hati bebaskanlah aku, O Tuhan.

Kemarahan

Urutan keempat dari 7 dosa pokok adalah kemarahan, atau “kemurkaan” (wrath) dalam Bahasa Inggris kuno. Banyak orang mengartikan “marah” bukanlah dosa, melainkan hanyalah ungkapan emosi terhadap ketidakadilan, kesalahan atau kelalaian yang dirasakan. Contohnya ialah kemarahan Tuhan terhadap para penukar uang di Bait Allah (Mrk. 11:15-19).

Marah tanpa alasan adalah salah, demikian juga adalah salah jika tidak marah ketika ada alasan untuk marah. Peter Kreeft menggambarkan hal ini dalam Back to Virtue sebagai berikut: “Marah pada pengacara yang berhasil membebaskan pengedar obat bius, karena alasan-alasan teknis, bukanlah dosa, khususnya ketika anak Anda sedang terbaring di peti mati akibat overdosis obat yang diedarkan pengedar tersebut.” Satu contoh yang lebih umum dari kemarahan yang bukan dosa tapi merupakan tindakan yang tepat ialah kemarahan orang tua terhadap tindakan buruk anaknya, yang menunjukkan bahwa tanggapan orang tua tersebut bukanlah sesuatu yang berlebihan. Orang tua tersebut masih tetap mengasihi anaknya namun kemarahan mereka ditujukan pada tindakannya yang buruk.

Duh, Dosa Asal telah merasuki tiap sudut jiwa kita. Konsekuensinya, kemarahan sering merupakan keinginan yang kasar, tidak terkendali dan seringkali bercampur dengan kebencian atau pembalasan dendam. Jika kemarahan tersebut tidak beralasan dan karenanya terlalu kuat untuk saat atau orang yang menjadi objek kemarahan kita, maka kemarahan tersebut dapat menjadi dosa berat. Jika kemarahan yang tepat menginginkan sesuatu yang baik (keadilan dan perbaikan), maka sebaliknya kemarahan yang merupakan dosa menginginkan hal yang jahat (“Terkutuklah kau!”). Sebagai dosa pokok, kemarahan dengan mudahnya membangkitkan dosa-dosa berat lainnya, termasuk pembunuhan: sebab kalau susu ditekan, mentega dihasilkan, dan kalau hidung ditekan, darah keluar, dan kalau kemarahan ditekan, pertengkaran timbul (Ams. 30:33). “Api menyala sesuai dengan bahan bakarnya dan pertikaian yang tergopoh-gopoh menumpahkan darah” (Sir. 28:11). Allah memperingatkan Kain ketika Kain menjadi marah karena Allah lebih mengindahkan Habel daripada dirinya; namun alih-alih meminta nasihat Allah, Kain menyimpan kebenciannya dan akhirnya membunuh Habel (Kej. 4:6-8).

Surat rasul Yakobus memperingatkan: “Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” (Yak. 1:19). Dan St. Paulus mendesakkan: “Apabila kamu marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu,dan janganlah memberi kesempatan kepada iblis” (Ef. 4:26).

Kelemahlembutan adalah kebajikan yang dapat membantu kita mengontrol kemarahan. “Berbahagialah mereka yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi” (Mat. 5:5). Inti dari kelemahlembutan bukanlah kelemahan, namun merupakan kombinasi antara kekuatan dan kelembutan, kemampuan untuk menggunakan kekuatan ketika dibutuhkan dan dengan kelembutan yang mendahuluinya.

“Belajarlah pada-Ku,” kata Yesus “karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat. 11:29). Bayangkanlah Sang Juruselamat Ilahi kita, sang Hamba yang menderita, yang belas kasih-Nya dinubuatkan oleh nabi Yesaya: “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya” (Yes. 42:3). Semata-mata karena cinta-Nya pada kita, cinta Kristus pada para pendosa, Dia membiarkan diri-Nya dimarahi (tidak jarang juga disakiti!), namun senantiasa memilih untuk membahayakan diri-Nya sendiri daripada membahayakan orang lain. Lalu berdoalah: Dari dosa kemarahan bebaskanlah aku, O Tuhan..

Percabulan/Ketidakmurnian

Sejak terjadinya revolusi seksual pada tahun 1960an, budaya Barat telah mengamini pandangan bahwa seks tidak memiliki hubungan yang mendasar dengan prokreasi, atau bahkan dengan cinta dan keintiman. Tidaklah mengherankan, sejak saat itu, tahun-tahun tersebut menghasilkan legalisasi aborsi, perceraian, legalisasi prostitusi, pornografi dan pemaknaan ulang arti pernikahan untuk menyetujui pernikahan sesama jenis. Di balik penurunan terhadap martabat seks ini, dapat kita lihat adanya dosa percabulan, yang dalam Katekismus Gereja Katolik didefinisikan sebagai “suatu kenikmatan yang tidak teratur dari keinginan seksual atau satu kerinduan yang tidak teratur kepadanya (KGK 2351).

Gereja Katolik selalu mengajarkan bahwa kesenangan seksual itu secara moral dapat diterima hanya bagi pasangan yang telah menikah dan hanya jika digunakan dengan cara yang dikehendaki oleh Sang Pencipta sendiri. Sungguh disayangkan, moralitas Kristen secara umum dan moralitas seksual Katolik secara khusus, seringkali dipandang sebagai aturan yang seenaknya dipaksakan oleh Gereja untuk membuat orang tidak dapat menikmati kenikmatan-kenikmatan hidup. Paus St. Yohanes Paulus II dalam Teologi Tubuhnya yang sebagian besar berdasar pada Kitab Kejadian, membalut moralitas seksual tradisional dalam terang yang baru. George Weigel memberikan pandangan yang bagus mengenai pendekatan bapa paus ini dalam bukunya The Truth of Catholicism. Singkatnya, seks yang pantas bagi laki-laki dan perempuan yang dijadikan seturut gambar dan rupa Allah yang mampu mengekspresikan pemberian diri yang utuh dan tidak dapat dibatalkan, bukanlah sebuah pemakaian (atau pelecehan) satu sama lain semata-mata demi kepuasan yang singkat. Pemberian diri yang membingkai cinta sejati menekankan perlunya keterbukaan terhadap karunia kehidupan manusia, sama seperti cinta Allah yang “membakar batas-batas kodrat Allah dan tertuang dalam ciptaan-Nya.” Sungguh tidak bermoral jika kita memisahkan seks dari komitmen (seperti yang terjadi dalam percabulan dan perzinahan) atau dari prokreasi (seperti dalam penggunaan kontrasepsi dan hubungan homoseksual).

Penghancuran atas Sodom merupakan hukuman atas kejahatan seksual (Kej. 19:24-25). Tubuh kita merupakan bait suci Allah yang hidup (2Kor. 6:16), dan kita harus menguasainya “dalam kesucian dan kehormatan, bukan dalam hawa nafsu percabulan seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah” (1 Tes. 4:3-5). Ketidakmurnian, disebut pun jangan di antara orang-orang Kristen, demikian juga perkataan yang kotor, kosong atau sembrono, karena hal-hal ini tidak pantas (Ef. 5:3-4). Percabulan memperbudak keinginan, menghancurkan cinta yang hadir dalam doa, memperlemah iman, mengeraskan hati dan mengisi kesadaran dengan ketidakpuasan.

Lawan dari percabulan ialah kemurnian, salah satu bentuk dari kebahagiaan “kesucian hati” (Mat. 5:8) dan salah satu buah dari Roh Kudus (Gal. 5:22-23). Hasrat seksual, fantasi dan hawa nafsu akan datang dan pergi secara alami sama seperti rasa lapar dan haus; hal-hal ini sungguh manusiawi. Orang yang murni akan mempersembahkan hal-hal itu pada kehendak Allah. Kemurnian merupakan tugas kehidupan yang membutuhkan ketergantungan pada doa dan, bagi umat Kristen, rahmat sakramen-sakramen. Kemurnian membutuhkan akal sehat juga. Ketika Yesus mengatakan bahwa keinginan untuk berbuat zinah sudah merupakan zinah itu sendiri (Mat. 5:28), Dia tengah menegaskan tradisi Yahudi untuk “membangun tembok di sekeliling Taurat (Hukum),” yakni, melarang pelanggaran yang kurang serius agar tidak terjadi pelanggaran yang lebih serius lagi.

“Belajarlah pada-Ku,” kata Yesus, “karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat. 11:29). Bayangkanlah Sang Juruselamat kita, yang mengasihi tanpa syarat hingga ke titik di mana Dia rela menyerahkan hidup-Nya bagi para pendosa (bdk. Flp. 2:8). Kemudian berdoalah: Dari dosa percabulan dan ketidakmurnian, bebaskanlah aku, O Tuhan.

Kerakusan

Makan dan minum sungguh diperlukan bagi kelangsungan hidup kita. Demi memudahkan dua fungsi tersebut bagi kita, Allah telah menambahkan juga kenikmatan ke dalamnya. Pencarian kenikmatan jenis ini demi kenikmatan itu sendiri, bagaimanapun juga, merupakan dosa kerakusan yang mematikan: banyak orang mengartikan kerakusan dengan makan dan minum secara berlebihan. Itu benar, namun kerakusan memiliki bentuk lain juga: terlalu memusingkan cara penyajian atau kualitas makanan seseorang; makan dengan tergesa-gesa, terlalu lahap (seperti binatang), terlalu mewah atau terlalu sering. P. Benedict Ashley, O.P., dalam bukunya Living the Truth in Love, menjelaskan bahwa “tindakan-tindakan individual yang mencerminkan kerakusan yang biasa, tidaklah membahayakan secara serius dan karenanya hanya merupakan dosa ringan, namun kebiasaan yang secara serius dapat merusak kesehatan (sekurang-kurangnya dalam jangka pendek), jika tidak diperbaiki, merupakan dosa berat. “Tentu saja, dalam menaksir berat-ringannya tindakan seseorang, kita juga harus ingat bahwa faktor-faktor subjektif seperti kecanduan kimiawi atau dorongan neurotik dapat mengurangi kadar atau tingkat kesalahannya.

Sebagai salah satu dari 7 dosa pokok, kerakusan menempa jalan bagi pelanggaran-pelanggaran yang lebih serius lagi. Kemabukan menimbulkan aib bagi Nuh (Kej. 9:20-27), hubungan ayah-anak yang terjadi pada Lot (Kej. 19: 30-38) dan kemunduran dari orang-orang kafir Persia (Est. 1:6-10) dan imam-imam Yahudi serta para nabi (Yes. 28:7-8). Esau menjual hak kesulungannya demi semangkuk sup, sejenis masakan kacang merah (Kej. 25: 29-34). Kerakusanlah yang menjadi penyebab pelanggaran-pelanggaran liturgi di antara komunitas Kristen di Korintus (1 Kor. 11:21). St. Paulus menyebut orang-orang yang rakus sebagai “mereka yang tuhannya adalah perut mereka.” (Flp. 3:19).

Karena manusia merupakan satu kesatuan antara jiwa dan badan, maka Gereja telah senantiasa menekankan bahwa tubuh harus dikuasai sebagaimana jiwa. “Penyembuhan yang ditawarkan oleh Kitab Suci terhadap kerakusan bukanlah dengan ber-diet namun dengan berpuasa,” demikian tulis Peter Kreeft dalam Back to Virtue. “Berpuasa, selain dapat menurunkan berat badan, dapat mengurangi kerakusan dan yang terutama merupakan salah satu bentuk doa. Berpuasa sangat dianjurkan bagi kita oleh otoritas mahatinggi yakni oleh Tuhan sendiri. “Para kudus seperti St. Agustinus, Hironimus dan Yohanes Kassianus merupakan sedikit dari sekian banyak Bapa-bapa Gereja dan penulis spiritual yang memuji praktik berpuasa secara teratur. Gereja Katolik ritus Latin mewajibkan untuk berpuasa pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung, dan khususnya satu jam sebelum menyambut Komuni Kudus. Namun demikian, ketika tidak berpuasa, kita mesti mengingat nasihat dari St. Josemaria Escriva dalam bukunya The Way, yakni: “Tubuh janganlah selalu dituruti keinginannya; jika tidak ia akan menjadi pengkhianat.” Betapa banyaknya kemajuan yang kita capai jika kita menyatukan doa-doa kita dengan kurban! “Pada saat ketika kau meninggalkan meja makan tanpa membuat semacam matiraga kecil,” demikian St. Josemaria memperingatkan kita, “kau sebenarnya telah makan seperti penyembah berhala.” (renungan mengenai makanan).

“Belajarlah pada-Ku,” kata Yesus, “karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat. 11:29). Bayangkanlah sang Juruselamat Ilahi kita yang 40 hari 40 malam berada di padang gurun, pusing karena berpuasa. Ketika dicobai oleh setan untuk mengubah batu menjadi roti, Dia menjawab, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat. 4:3-4). Kemudian berdoalah: dari dosa kerakusan, bebaskanlah aku, O Tuhan.

Kemalasan/Kejemuan

Dosa terakhir dari 7 dosa pokok adalah kemalasan, yang oleh St. Thomas Aquinas, didefinisikan sebagai rasa jijik terhadap kebajikan, kelesuan jiwa yang menghilangkan kemampuan jiwa untuk melakukan kebaikan. “Kesombongan boleh saja menjadi akar segala kejahatan,” ulas R.R. Reno, “namun pada zaman kita ini, batang, cabang dan daun dari kejahatan dicirikan oleh keyakinan bahwa tanggung jawab moral, usaha spiritual dan disiplin religius hanyalah beban kosong, tuntutan yang tidak efektif dan kuno yang tidak mampu memimpin kita untuk maju, ideal yang tidak terjangkau, bahkan meskipun kita mempercayai mereka, semua itu sungguh di luar kemampuan kita,” Inilah yang disebut kemalasan.

Penulis-penulis abad pertengahan sering menyinggung kemalasan sebagai mundur atau menyusutnya kepercayaan akan pentingnya dan berkuasanya doa. St. Bernard dari Clairvaux berbicara mengenai sterilitas dan kekeringan jiwanya yang membuat manisnya madu dari pendarasan mazmur menjadi tawar. Dante, pada tingkat ke-4 dari api penyucian, menggambarkan hukuman atas kemalasan dengan penderitaan dari “kekosongan yang lamban” yang tidak dapat disingkirkan dan membuat jiwa tertahan di bawah beban berat dosa. Para rahib penulis zaman dulu, sambil mengingat Mzm. 91:6, memberi julukan bagi kemalasan sebagai “setan waktu siang” yang mencobai mereka dengan kesedihan dan putus asa. Di siang bolong, ketika para rahib merasa letih dan mulai bertanya-tanya apakah komitmennya untuk hidup dalam doa dan keheningan merupakan kekeliruan, si iblis mulai berbisik, “Apakah Allah sungguh-sungguh ingin agar umat manusia dapat sampai ke surga? Apakah Allah sungguh-sungguh peduli entah kau berdoa atau tidak?”

Bagi kita orang-orang modern, bisikan tersebut dapat berupa kata-kata seperti, “Allah ada di mana-mana. Bukankah kau dapat memuji-Nya baik di tempat golf maupun di gereja?” Atau, “Allah menerimamu apa adanya. Untuk apa berubah?” Dalam kemalasan kita, kita menghindari disiplin spiritual apapun, baik Kristen maupun bukan. Absen ke gereja pada hari Minggu dan hari raya yang diwajibkan, kelalaian dalam berdoa, acuh tak acuh pada perintah Gereja untuk berpuasa dan berpantang, kecenderungan untuk menuruti sederetan penentangan kecil – semua ini merupakan perwujudan dari kemalasan.

Jiwa yang malas itu gersang akan perbuatan-perbuatan baik (Ams. 24:30-34) dan dengan mudah menjadi korban buruan iblis, “karena pengangguran mengajarkan banyak kejahatan” (Sir. 33:28). Seperti air yang tidak bergerak menjadi terkumpul di tempat, demikian pula dengan orang Kristen yang bermalas-malasan hidupnya akan segera menjadi jahat. Ingatlah peringatan penuh empati dari Tuhan kita mengenai hamba yang jahat dan gadis-gadis yang bodoh (Mat. 25: 1-30) dan janji-Nya untuk memuntahkan mereka yang suam-suam kuku dari mulut-Nya (Why. 3:16).

Rasa lapar akan kebenaran atau keserupaan dengan Allah, merupakan kebajikan yang menyembuhkan kemalasan (Mat. 5:6). Allah sendiri saja cukup untuk memuaskan hasrat terdalam hati manusia. Sensualitas, teknologi, uang dan kekuasaan merupakan sedikit contoh dari allah-allah palsu yang membuat kita sungguh-sungguh hampa. Carilah dahulu kebenaran Allah dan kau akan menemukan-Nya (Mat. 7:7-8) dan dalam usaha menemukan-Nya itu kau akan menemukan sukacita yang mengatasi kemalasan.

“Belajarlah pada-Ku,” kata Yesus, “karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat. 11:29). Bayangkanlah Sang Juru Selamat Ilahi kita dalam perjalanan-Nya memanggul salib ke gunung Kalvari. Tiga kali Dia terjatuh di bawah beban berat salib; namun alih-alih menyerah, Dia bangkit lagi, memperbaharui semangatnya untuk menyelesaikan misi-Nya. Kemudian berdoalah, dari dosa kemalasan, bebaskanlah aku, O Tuhan.

Artikel ini diterjemahkan oleh kontributor kami, Dominikus, dari artikel asli berjudul The Seven Deadly Sins and Their Remedies yang diterbitkan di OnePeterFive.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: