Catatan Reflektif: Lux Veritatis 7 dan Pembaruan Liturgi

20130111SMessa_612_zps8cdd511e

Pidato yang diberikan Kardinal Sarah membuat saya tergerak untuk menulis artikel ini, sambil mengajukan pertanyaan: selama lima tahun berdirinya blog ini, apa saja yang sudah untuk mendukung penghayatan liturgi yang benar?

Karena blog ini berfokus pada katekese dan pewartaan, maka tentunya yang kami lakukan berhubungan dengan pembinaan manusia baik itu secara intelektual dan spiritual.

Pertama, kami sudah berusaha memberikan beberapa informasi, sekalipun itu berupa fragmen-fragmen. Pertama, kami menyinggung tokoh utama pembaruan liturgi pasca Konsili Vatikan II, Rm. Annibale Bugnini, yang bertanggung jawab terhadap krisis liturgi yang dialami Gereja. Di artikel yang sama pun, kami menjadi pihak pertama yang menyinggung sekilas tentang “reform of the reform” (membarui pembaruan liturgi), yang mana beberapa imam merasa hal tersebut adalah proyek sia-sia. Lalu kami juga pernah menyebutkan beberapa pekerjaan rumah yang belum selesai, yang berhubungan dengan terjemahan teks liturgis yang lebih setia, penggunaan bahasa latin, perlunya Misa Tridentine atau Extraordinary Form bagi kehidupan Gereja (kami bahkan sudah menyiapkan katekese sederhana sebagai pengantar dan menerjemahkan artikel berkenaan spiritualitas Misa Tridentine). Selain itu, kami pun mencoba menunjukkan adanya krisis iman akan Ekaristi dan mengindikasikan mengapa hal tersebut dapat terjadi.

Mengenai kriteria pembaruan liturgi yang sejati, sehingga kita dapat membedakannya dari pembaruan palsu, kami menerbitkan homili yang diberikan Duta Besar Takhta Suci untuk Indonesia, Yang Mulia Antonio Guido Filipazzi, yang menyinggung hal tersebut. Kami pun menekankan perlunya ketaatan terhadap aturan-aturan liturgis.

Kedua, berkenaan dengan aspek-aspek khusus pembaruan liturgi. Kami pernah menerbitkan artikel berjudul Penghayatan dan Makna Tata Gerak Liturgi: Sebuah Pengantar. Selain itu, kami juga pernah menerbitkan artikel tentang komuni di tangan, yang menjabarkan alasan kemunculannya dan betapa praktik tersebut harus ditinggalkan, serta pentingnya menerima komuni di lidah sambil berlutut. Berbagai keberatan yang diajukan umat beriman tentang penerimaan Komuni di lidah sambil berlutut juga pernah kami tanggapi dalam satu artikel khusus. Lebih lanjut, salah satu kontributor kami, Anne, juga turut berperan serta dalam mendukung praktik mengenakan kerudung Misa (mantilla) saat hendak menghadiri Misa, dengan menuliskan kesaksiannya yang mendorong para wanita melakukan hal serupa. Bukunya yang berjudul “Mantilla: Kerudung Mempelai Kristus” dapat menjadi sarana katekese yang berguna bagi praktik mengenakan mantilla.

Salah satu hal kecil dan sedernahana, namun mungkin kurang mendapat perhatian ialah berkenaan dengan warna busana liturgis. Kami pernah menjelaskan tentang makna penggunaan warna rose (merah muda) dan warna hitam dalam liturgi, terutama dalam Misa arwah. Lalu mengenai salam damai, sering terjadi bahwa hal ini dilakukan secara sembarangan dan tanpa memperhatikan keheningan dan keagungan suasana liturgi, maka kami pun pernah menerjemahkan artikel berita yang menekankan perlunya salam damai yang lebih tenang dan teratur.

Mengenai partisipasi aktif, sering ditekanakn tentang perlunya umat “melakukan sesuatu” atau memahami liturgi, padahal syarat untuk berpartisipasi aktif sehingga kita dapat memperoleh buahnya, yakni kondisi berahmat, jarang sekali ditekankan. Menyadari pentingnya hal tersebut, maka kami pun mendorong perlunya pengakuan dosa secara rutin, dan menjelaskan buah rohaninya dalam artikel Memulihkan Makna Dosa dan Sakramen Tobat. Selain itu, kami juga sudah menekankan perlunya keselarasan antara aspek batiniah dan lahiriah, antara hati dan perbuatan, terutama dalam artikel tentang komuni lidah sambil berlutut.

Tentang perlunya keheningan dalam liturgi sebagai bagian dari partisipasi aktif, kami pun sudah menerjemahkan artikel Kardinal Sarah yang berjudul Makna Keheningan dalam Liturgi.

Belum ada artikel khusus yang membahas secara mendalam tentang orientasi imam dan umat menghadap Tuhan atau ke timur (yang disebut dengan ad orientem), namun kami mendukung dilakukannya “Benedictine Arrangement”, sebagaimana diajukan Kardinal Ratzinger, yakni menempatkan salib di tengah altar sehingga Kristus tetap menjadi pusat liturgi. Semoga di masa mendatang akan ada artikel yang mengulas tentang aspek ad orientem.

Sebagai penutup artikel ini, saya berikan daftar artikel yang kami terjemahkan, yaitu tulisan yang ditulis oleh tokoh yang tidak perlu diragukan kredibilitasnya:

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: