Doa untuk Penerus Petrus Merupakan Ungkapan Kasih Umat Beriman

Bartolomé Esteban Murillo, Liberation of St. Peter

Homili Yang Mulia Antonio Guido Filipazzi
Duta Besar Takhta Suci untuk Indonesia
pada Hari Raya St. Petrus dan Paulus, 26 Juni 2016

Jika sungguh benar bahwa setiap kali misa dipersembahkan, kita melaksanakannya dalam “kesatuan dengan Bapa Suci Fransikus”, maka dalam perayaan hari ini persekutuan dengan Bapa Suci mesti kita rasakan lagi secara lebih mendalam.

Sambil mempersembahkan semua pemberian yang kita peroleh melalui ciptaan dan karya keselamatan dalam Kurban Suci ini, hari ini kita juga menghaturkan rasa syukur kepada Tuhan atas tiga tahun masa kepausan Paus Fransiskus yang sedemikian intens, yang menjadi kesempatan bagi seluruh Gereja, seluruh umat manusia dan setiap jiwa untuk menerima ajaran dan teladan yang sedemikian banyak dari Penerus Petrus. Mari kita mengingat, khususnya pada awal masa pelayanannya bagi Gereja universal, dan secara khusus selama Yubileum tahun ini, betapa tekun beliau mewartakan keagungan, kekuatan dan eloknya kerahiman Allah kepada setiap orang, yakni kerahiman yang sangat dibutuhkan seluruh dunia dan setiap orang.

Dalam Misa Kudus ini kita juga ingin berdoa bagi Bapa Paus dan semua ujud doanya. Saya ingin mengundang kalian semua untuk merenung tentang doa untuk Kepala Gereja kita yang kasatmata.

Sejak awal mula, Gereja selalu berdoa untuk Petrus, terutama pada saat yang paling sukar dan penuh kesusahan. Dalam Kitab Para Rasul kita membaca: “Kira-kira pada waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang. Ketika ia melihat, bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia melanjutkan perbuatannya itu dan menyuruh menahan Petrus….  Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah” (Kis 12:1-5).

Menanggapi kutipan tersebut, Paus Fransiskus berkata: “Komunitas perdana merupakan Gereja yang berdoa… yakni sebuah Gereja yang “bangkit berdiri”, yang kuat, Gereja yang berjalan! Sesungguhnya, seorang Kristiani yang berdoa adalah seorang Kristiani yang dilindungi, dijaga dan ditopang, namun terutama sekali dia tidak pernah merasa sendirian… Tidak ada komunitas Kristiani yang bisa melangkah maju tanpa dukungan doa yang tekun! Doa merupakan perjumpaan dengan Allah yang tidak pernah mengecewakan kita; Allah yang setia pada Sabda-Nya; Allah yang tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. (Homili, 29 Juni 2015). Kekuatan yang mendukung Sri Paus dalam karyanya yang begitu sulit bersumber pada doa yang “tanpa henti dipanjatkan kepada Allah… untuk dia” oleh komunitas orang beriman.

Hal ini berlaku bagi Sri Paus, bagi kita semua, dan tiap orang. Sesungguhnya, “peristiwa pembebasan Petrus yang dilaporkan Lukas memberitahu kita bahwa Gereja, yakni kita semua, akan mengalami malam gelap pencobaan. Tetapi sikap berjaga-jaga dalam doa lah yang menopang kita. Melalui doa yang tekun dan penuh kesetiaan, Tuhan membebaskan kita dari belenggu, Ia membimbing kita untuk melewati setiap malam gelap yang memenjarakan kita dan dapat menggerogoti hati kita. Ia memberikan ketentraman hati untuk menghadapi kesulitan-kesulitan hidup, termasuk penolakan, perlawanan dan bahkan penganiayaan. Pengalaman Petrus ini menunjukkan kekuatan doa… Doa yang tekun dan sehati merupakan sarana yang unggul untuk mengatasi pencobaan-pencobaan yang muncul dalam perjalanan hidup kita, karena hanya kesatuan mendalam dengan Allah yang memampukan kita untuk bersatu dengan sesama” (Benediktus XVI, Audiensi Umum, 9 Mei 2012).

Dalam doa untuk Petrus ini terungkaplah cinta kasih yang konkret dan sejati dari komunitas Kristiani perdana terhadap pembimbing dan gembalanya. Oleh karena itu, cara utama agar kita dapat mengungkapkan kesatuan, dukungan dan kedekatan kita kepada Sri Paus adalah dengan mengingat dia terus-menerus dalam doa kita, baik secara pribadi maupun komunal. Santo Yohanes Krisostomus menggambarkan doa untuk Petrus dengan perkataan berikut: “Doa tersebut merupakan doa yang berlandaskan kasih seorang anak. Semuanya berdoa bagi bapa mereka, bagi bapa yang mereka kasihi… Pelajarilah seperti apa perasaan umat beriman terhadap para pemimpin mereka. Mereka tidak memberontak atau mengamuk, melainkan mereka berdoa, karena doa merupakan pertolongan yang tak terkalahkan. Mereka tidak berkata: Kita bukan siapa-siapa, bagaimana mungkin kita dapat berdoa untuk dia? Sebaliknya mereka berdoa karena cinta kasih, tanpa memikirkan hal lain!” (Homili 26 tentang Kisah Para Rasul). Oleh karena itu, janganlah meremehkan pertolongan yang bisa kita berikan kepada Bapa Paus melalui doa kita! Paus Fransiskus meyakini hal ini, sehingga beliau terus memohon kepada kita untuk mendoakannya.

Ternyata, bukan hanya kitalah yang berdoa bagi Bapa Paus. Injil mengatakan bahwa Yesus telah mendoakan Petrus lebih dahulu. Penginjil Lukas melaporkan perkataan ini yang disampaikan oleh Yesus kepada Petrus pada Perjamuan Terakhir: “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu” (Luk 22:31-32). Injil mengatakan bahwa beberapa waktu kemudian, selama tiga kali, Rasul Petrus akan menyangkal Gurunya. Ketika merenungkan hal ini, Paus Fransiskus berkata demikian: “Saya bisa membayangkan apa yang dirasakan Petrus setelah menyangkal Dia, yakni ketika Yesus memandang dia dan Petrus menangis. Tentu Petrus mengetahui bahwa apa yang telah dikatakan Yesus sungguh benar. Yesus telah berdoa untuk Petrus, sehingga Petrus diberi kesempatan untuk menangis, untuk bertobat” (Fransiskus, Homili, 28 Oktober 2013).

Doa Tuhan untuk Petrus menunjukkan bahwa “dia yang mengemban pelayanan Petrus mesti menyadari bahwa dia tetaplah seorang yang rapuh dan lemah – demikian pula betapa rapuh dan lemah kekuatan yang dia miliki – dan dia terus menerus membutuhkan pemurnian dan pertobatan” (Benediktus XVI, Homili, 7 Mei 2005). “Melalui kejatuhan ini Petrus – dan bersama semua penerusnya di sepanjang zaman – mesti belajar bahwa kekuatannya sebagai manusia tidaklah memadai untuk membangun dan membimbing Gereja Tuhan. Tidak ada yang berhasil melaksanakannya hanya dengan mengandalkan kekuatan sendiri” (Benediktus XVI, Homili, 29 Juni 2006).

Namun “justru dalam kelemahan kodrati Petrus terungkaplah sepenuhnya bagaimana Sri Paus bergantung secara total kepada rahmat dan doa Tuhan untuk mengemban pelayanannya yang khusus di dalam Gereja” (S. Yohanes Paulus II, Ensiklik Ut Unum Sint, 4). “Doa Yesus merupakan bendungan yang menahan kuasa si jahat. Doa Yesus merupakan perlindungan bagi Gereja… Tugas Petrus ditopang oleh doa Yesus. Inilah jaminan yang memberi kepastian bahwa Petrus akan bertekun dalam melintasi semua kesengsaraan dunia” (Benediktus XVI, Homili, 29 Juni 2006).

Secara khusus, “doa Yesus menjaga iman Petrus; yakni iman yang diungkapkan Petrus di Kaesarea Filippi: “Engkaulah Kristus, Putra Allah yang hidup”. Maka yang penting adalah ini: jangan biarkan iman ini menjadi bisu; iman ini mesti terus menerus dihidupkan, kapan saja, termasuk di hadapan salib dan semua kontradiksi dunia ini: inilah tugas Petrus. Dengan demikian, Tuhan tidak hanya berdoa untuk iman pribadi Perus, tapi juga bagi imannya sebagai pelayanan bagi orang lain. Inilah maksud dari perkataan Tuhan: “Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu” (ibid.).

Oleh karena itu, doa Yesus tidak hanya menyadarkan Petrus akan kerapuhannya, namun juga menyakinkan dia bahwa “pada Tuhanlah ada sumber kekuatan untuk menguatkan saudara-saudarinya dalam iman dan mempersatukan mereka dalam pengakuan yang sama akan Kristus yang tersalib dan bangkit” (Benediktus XVI, 7 Mei 2005). Dan doa kita untuk Bapa Paus mesti menyatu dengan doa Yesus bagi Petrus dan para penerusnya ini, dan sekaligus pula doa ini harus menjadi permohonan kepada Tuhan “bagi semua orang yang mengemban tanggung jawab di dalam Gereja; bagi mereka yang sedang menderita di tengah kekacauan masa kini; bagi orang dewasa maupun anak-anak: Tuhan, pandanglah kami sekali lagi secara baru dan bangkitkanlah kami setiap kali kami jatuh, dan tuntunlah kami dalam tangan-Mu yang baik” (Benediktus XVI, Homili, 29 Juni 2006).

Mari kita terus menerus memohon agar Bapa Paus, yang dianugerahkan Allah kepada kita, dapat selalu menguatkan saudara-saudarinya dalam iman, terutama dalam masa kini yang tampaknya tidak mampu mendengar dan menerima iman serta semua tuntutannya. Sayangnya, baik di luar maupun di dalam Gereja, masih ada mereka yang memang menjunjung tinggi Bapa Paus, namun bukan dalam fungsinya untuk menguatkan iman umat. Sebaliknya mereka ingin agar Bapa Paus mengurangi tuntutan kebenaran dan hukum Allah. Namun justru kita ingin mengikuti dan bersatu dengan Bapa Paus, karena Tuhan telah berdoa untuk dia dan memampukannya untuk menguatkan kita dalam iman.

Doa untuk Bapa Paus mencakup pula semua intensinya. Ia adalah bapa bagi kita semua, dan terutama, ia adalah rujukan bagi begitu banyak pria dan wanita yang bukan anggota Gereja Katolik. Dan dalam doanya kepada Allah, Bapa Paus tentu saja membawa semua intensi, baik kecil maupun besar dari seluruh Gereja dan seluruh umat manusia.

Dalam tradisi Katolik, kita sering diundang untuk berdoa bagi intensi Bapa Paus. Doa tersebut merupakan satu dari syarat-syarat yang dibutuhkan untuk memperoleh indulgensi, seperti dalam Yubileum Kerahiman ini. Dengan demikian, Gereja mendesak kita untuk menyelaraskan diri kita dengan hati Sang Gembala Gereja Universal, serta membuat doanya kepada Allah untuk Gereja dan dunia menjadi permohonan kita sendiri.

Kita bisa membayangkan betapa banyaknya masalah, situasi dan orang yang didoakan Bapa Paus. Saya ingin mengajak saudara-saudari untuk memperhatikan salah satu intensi Paus, yang saya rasakan waktu saya bertemu langsung dengan Paus Fransiskus sebulan lalu. Dia bertanya mengenai situasi panggilan imam dan hidup bakti di Indonesia, maka saya berpikir tidak ada salahnya jika salah satu intensi Paus untuk didoakan adalah justru intensi untuk panggilan.

Bacaan-bacaan yang baru kita dengar menceritakan tentang panggilan ilahi beberapa orang dan tuntutan-tuntutan yang berkaitan dengan panggilan tersebut. Kepada mereka yang dipanggil Tuhan untuk menjadi hamba-Nya, dituntut kesediaan dan sikap murah hati, selaras dengan contoh dan petunjuk yang digambarkan oleh Yesus sendiri: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat tuntuk meletakkan kepala-Nya… Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana… Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk 9:58-62).

Yesus memohon kepada kita untuk “meminta kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu”. Tidak perlu banyak kata untuk membuktikan bahwa pada hari ini, perkataan tersebut terbukti benar. Yesus sendiri berkata bahwa tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit (Luk 10:2). Kurangnya pekerja di ladang Tuhan ini terjadi bukan hanya karena jumlah mereka tidak memadai, tetapi juga karena, sebagaimana dikatakan Santo Gregorius Agung, mereka yang telah menerima tugas imamat dan telah mengkonsekrasikan diri kepada Tuhan ternyata tidak setia kepada kewajiban yang terkait dengan panggilan mereka: “Dunia ini penuh dengan imam, namun jarang sekali ditemukan orang yang bekerja di ladang Tuhan. Kita menerima tugas imamat, namun kita tidak memenuhi kewajiban tersebut.”

Mari kita lebih tekun lagi untuk berdoa demi intensi Bapa Paus Fransiskus ini, yakni sebuah keprihatinan yang tidak hanya berhubungan dengan Indonesia, namun juga Gereja di seluruh dunia. Bersama dengan Bapa Paus, mari kita memohon kepada Tuan yang empunya tuaian agar semakin banyak panggilan imamat, hidup bakti dan misioner, dan juga supaya semua orang yang terpanggil untuk melayani Allah dan sesama, dapat memenuhi kewajibannya dengan lebih setia.

Saudara-saudari yang terkasih, yang berkumpul di sini untuk berdoa demi Bapa Suci Franciskus, mari menyatukan doa kita dengan doa Yesus untuk Petrus saat dia diberi tugas untuk menguatkan saudara-saudaranya dalam iman. “Tuhan telah mempercayakan tugas ini dalam konteks Perjamuan Terakhir, dalam kaitannya dengan anugerah Ekaristi Kudus. Gereja, yang didirikan saat penetapan Ekaristi ini, pada hakikatnya merupakan komunitas Ekaristi dan persekutuan dalam Tubuh Tuhan. Tugas Petrus ialah memimpin persekutuan universal ini; menjaga kehadirannya di dunia, yang juga sebagai kesatuan yang kelihatan dan mewujud nyata” (Benediktus XVI, Homili, 29 Juni 2006). Semoga doa kita untuk Bapa Paus dan intensinya, menjadi ungkapan cinta dan kesatuan kita dengannya!

Sumber Gambar: Wikipedia, Bartolomé Esteban Murillo, Liberation of St. Peter.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: