Di Puncak Pencobaan

Catatan Lux Veritatis 7: Artikel berikut merupakan tulisan Dominikus (bukan nama sebenarnya), salah seorang pembaca LV7. Kami berterima kasih atas sumbangan artikelnya. Semoga artikel ini bermanfaat bagi para pembaca. 

***

Di Puncak Pencobaan
Apa yang dapat dilakukan di tengah godaan pornografi?

the-lovers-at-a-crossroads-return-from-work-1861.jpg!Large

The Lovers at a Crossroad, Ferdinand Georg Waldmuller, 1861.

Bagi mereka yang, dituntun oleh rahmat Tuhan, mulai berusaha untuk bertekun dan membangun kehidupan rohani mereka secara serius, ketaatan pada aturan Gereja dan keterpusatan pada Tuhan merupakan sesuatu yang mutlak. Berbagai cara dan jalan yang berbeda ditempuh untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Ada yang mulai membaca Kitab Suci dengan tekun, ada yang merasa terpanggil untuk mempelajari sejarah Gereja, ada yang mulai menerjunkan diri pada masalah-masalah sosial Gereja, ada yang mengambil langkah mundur untuk memahami iman Katholik mereka dan ada yang menemukannya dalam menyangkal diri mati-matian. Dan semuanya menghasilkan buah-buah yang indah. Dapat dikatakan bahwa semua ini berawal, berproses dan dengan penuh harapan tertuju pada keinginan akhir yakni kebahagiaan yang kekal bersama Tuhan. Mereka pun mulai menjadi semakin peka pada noda-noda di dalam diri mereka, sekecil apapun itu.

Bagi banyak orang di antara kita dalam budaya sekarang, kadang-kadang noda yang mereka lihat itu ialah noda dosa ketidakmurnian yang mengurung mereka dalam wujud kecanduan pada pornografi dan dosa ketidakmurnian lainnya. Dosa ini begitu menggoda dan matang hingga di zaman kita ini, dapat dipetik kapanpun dan dimanapun. Kemudahan dan kejahatan di dalamnya begitu tersembunyi hingga kita bahkan tidak perlu berbincang-bincang dengan si penggoda sebelum memetiknya. Tanpa sadar, kita telah memetik dan memakan buah yang sangat lezat bagi kedagingan ini.

Ajaran suci Gereja telah memberikan senjata sekaligus obat untuk mengalahkan dosa ini berupa doa, matiraga, membaca Kitab Suci, sering menerima sakramen pengakuan dan Ekaristi, devosi kepada santo/santa dan masih banyak tindakan saleh lainnya. Praktik-praktik tersebut sungguh tidak tergantikan dan memiliki dampak dan manfaat yang besar. Namun,berdasarkan pengalaman, ketika berada dalam godaan-godaan yang berat sekali, walaupun berdoa maupun menerima sakramen pun jarang membantu: bukan karena tidak berdayaguna atau kurangnya iman kita namun masalahnya ialah pada pikiran dan hati yang tidak terarah pada Tuhan yang memberi kita kekuatan. Nah, seperti yang dikatakan di dalam katekismus bahwa pada saat berdoa atau berdoa yang baik ialah berdoa dengan pikiran dan kehendak yang tertuju pada Tuhan, maka bagaimana mungkin kita dapat berdoa dengan baik jika pikiran dan kehendak kita sudah kacau karena tidak lagi terarah pada Tuhan tetapi pada kecanduan kita akan pornografi? Seperti anjing yang belum terlatih yang ada di depan makanan, bagaimana dia dapat menghiraukan panggilan tuannya jika pikirannya sudah tertuju pada makanan?

Maka bagaimanakah caranya mengatasi godaan akan pornografi yang sering kali tak tertahankan ini? Bagaimana memenangi tiap peperangan tersebut? Bagaimana kita bertahan setiap kita berada di puncak godaan agar tidak terjatuh lagi ke dalam dosa yang memalukan ini?

Dalam bukunya Treating Pornography Addiction, Dr. Kevin B. Skinner menjelaskan bahwa ketika orang terjerat atau jatuh ke dalam pornografi, secara umum ada dua rangkaian kejadian yang saling susul-menyusul. Pertama adalah adanya niat atau dorongan dari dalam diri sendiri untuk melihat pornografi dan yang kedua adalah tindakan menikmati pornografi itu sendiri. Namun, di antara kedua tahap tersebut, setidaknya ada 7 tahap sebelum orang memutuskan untuk menikmati pornografi atau menentangnya. Dr. Skinner mengandaikan tahap-tahap tersebut seperti orang yang sedang berkendara di jalan tol. Orang yang masuk ke dalam tahapan-tahapan ini, dan ingin bebas darinya, harus seperti menemukan cara untuk berputar balik di jalan tol tersebut. Tahap-tahapnya meliputi:

  1. Pemicu / Perangsang

Pemicu merupakan suatu benda, situasi, hal atau tindakan yang mengarahkan kita kepada pikiran untuk menikmati pornografi. Pemicu bisa berbeda untuk tiap orang. Ada yang terpicu karena melihat wanita cantik, melihat pria atau wanita berpakaian seksi, melihat gambar yang porno, menonton video yang mengandung adegan seksual, membaca novel atau cerita seks, sendirian di rumah atau kos, merasa putus asa atau tidak berguna, marah, kecewa karena merasa tertekan, lelah, stres atau depresi, bahkan ada yang terpicu karena melihat mayat dan sebagainya. Jika kita ingin untuk berjuang agar tidak terjatuh ke dalam pornografi maka kita harus menyadari pemicu kita sendiri.

 Berdasarkan pengalaman, pada tahapan ini, godaan tersebut paling mudah dikalahkan. Agar dapat menentukan dengan tepat pemicu kita, maka kita perlu melakukan konseling dengan psikolog atau pakar di bidang ini yang dibantu dengan doa, puasa dan refleksi yang tekun dan jujur. Jika tidak menemukan konseling, maka berdasarkan pengalaman pribadi, dengan bantuan doa dan puasa serta refleksi yang terus-menerus terhadap diri kita terutama dengan meneliti kembali apa yang kita rasakan atau alami sebelum kita terjatuh, dapat sangat membantu. Yang diperlukan di sini ialah ketekunan dan kesabaran dalam menanti petunjuk dari Tuhan.

  1. Emosi / Perasaan

Setelah pemicu, urutan selanjutnya pada saat kita berada dalam godaan ialah emosi atau perasaan kita. Kita mesti bertanya bagaimanakah perasaan kita saat pemicu tersebut mencuat ke permukaan? Ketika kita menimbang-nimbang pemicu kita? Apakah saat itu kita bergairah atau takut atau memiliki rasa ingin tahu yang besar atau sedang marah? Emosi yang menguasai kita pada saat itu berbeda-beda pada tiap orang dan akan menuntun langsung kepada pikiran-pikiran awal yang akan mulai susah dihilangkan.

  1. Pikiran Awal

Pikiran awal ini seperti tindakan mengunyah-ngunyah keinginan yang timbul dari dua rangkaian sebelumnya tadi. Kita mulai menimbang-nimbang secara sadar maupun tidak sadar di dalam pikiran kita. Pikiran apa yang muncul di dalam diri kita pada titik ini biasanya berupa pikiran yang membenarkan dan menggoda kita untuk menikmati pornografi lagi. Jenis pikiran ini sangat beragam dan berbeda untuk setiap orang. Contohnya bisa seperti: “sekarang saya sedang sendirian, jika saya jatuh, saya bisa pergi ke pengakuan lagi” atau “saya hanya meliihat sepintas saja, tidak apa-apa” atau “cewek di jalan tadi seksi sekali dan dia tersenyum pada saya” dan berbagai pikiran lainnya yang membuat kita bergairah dan merasa masih “aman” pada saat memikirkannya.  Dan kita kemudian mulai memikirkannya berulang-ulang.

  1. Respon Kimiawi dalam Tubuh

Tubuh mulai dibanjiri dengan zat-zat kimiawi yang menyiapkan kita untuk apa yang secara terbiasa diinginkan oleh tubuh kita yakni kepuasan seksual dan klimaks. Otak kita memproduksi zat-zat neurotransmiter, yang dapat mengakibatkan kecanduan. Di titik ini, menurut Dr. Skinner, sangatlah susah bahkan tidak mungkin untuk berbalik dan mengatakan tidak pada pornografi dan kita pasti jatuh. Jika dianalogikan dengan jalan tol, maka di titik ini kita seperti telah menekan pedal gas dan mulai melaju kencang di jalan tol tersebut. Hal ini akan terjadi terutama apabila kita pernah atau sudah kecanduan melihat pornografi dan masturbasi. Tubuh kita sedang bersiap-siap untuk mencapai klimaks.

Hal ini sebenarnya adalah tindakan atau mekanisme untuk melarikan diri dari perasaan atau emosi yang tidak kita sukai. Perasaan seperti bosan, takut, bingung, frustrasi, kecewa, marah, lelah, kacau, merupakan perasaan yang tidak kita sukai dan kita berpaling pada beberapa hal yang menyenangkan untuk menetralkan masalah-masalah tersebut. Beberapa orang melarikan diri pada makanan atau menonton film secara berlebihan dan beberapa lagi pada pornografi. Bukan karena pada hakekatnya pornografi itu buruk, namun lebih karena kita belum sembuh atau tidak pernah bertumbuh dalam menghadapi masalah-masalah tersebut. Masih ada bagian dari diri kita yang tidak pernah belajar untuk dengan tepat menangani kesulitan-kesulitan seperti rasa sakit atau kekecewaan dan sebagainya. Sejak kecil dengan tanpa sadar kita sudah jatuh ke dalam pola-pola melarikan diri ini sehingga membuat sebagian besar dari kita yang memiliki masalah kecanduan pornografi saat ini tidak mengembangkan bagian kepribadian yang dapat mengatasi situasi-situasi tersebut.

  1. Bahasa Tubuh

Tahapan selanjutnya ialah setelah secara kimiawi otak kita mulai dialiri dengan zat-zat kimiawi tersebut, kita pun secara fisik mulai bereaksi dengan cara-cara tertentu. Reaksi tubuh kita berbeda-beda untuk tiap orang, ada yang mengalami ereksi, ada yang berkeringat, ada yang gemetaran, ada yang mulai menyentuh bagian-bagian tubuh tertentu dan sebagainya. Pada titik ini hampir tidak mungkin lagi menahan godaan tersebut.

  1. Pikiran Kedua

Dr. Skinner menyebut tahapan ini sebagai tahap peperangan. Pada titik ini kita punya dua pemikiran yang menolak atau menyetujui godaan tersebut. Ini berhubungan dengan tindakan kita selanjutnya, yang mana pikiran apapun yang menang akan mengarahkan kita pada tindakan kita selanjutnya. Dapat dikatakan bahwa ini adalah semacam pikiran cadangan di dalam kesadaran kita yang berfungsi menganalisis tindakan kita selanjutnya. Jenis pikiran pada tahap ini dapat dicontohkan seperti pikiran akan rasa malu kepada Tuhan dan diri sendiri, rasa malu karena harus mengakui dosa ini lagi di pengakuan, pikiran tentang akan jadi orang tua yang buruk jika melakukannya dan sebagainya. Pikiran yang menyetujui dan biasanya lebih kuat pada tahap ini ialah pikiran yang memberikan alasan yang membenarkan tindakan tersebut seperti kelelahan, ini sesuatu yang sehat dan tidak berbahaya, tidak perlu menyusahkan istri karena harus meminta berhubungan seks dan sebagainya. Pikiran apapun yang muncul dan menang, akan mengarahkan kita pada tindakan kita selanjutnya.

  1. Pengambilan Sikap

Tahap ini merupakan tahap ketika pikiran-pikiran kita mewujud menjadi tindakan yang kita ambil. Mereka yang berjuang dengan baik akan menang sedangkan mereka yang lemah akan jatuh lagi.

Bagaimana cara menonaktifkan dan memutus rangkaian ini? Bagaimana untuk dapat segera berbalik? Jika diperhatikan, maka hal itu harus dilakukan sebelum tahap keempat, sebelum zat-zat kimia tersebut dialirkan dalam tubuh kita. Karena begitu zat-zat itu telah dilepaskan di dalam tubuh kita, maka sangat susah untuk  melawannya. Solusinya ialah, pada saat kita sedang berada dalam kondisi yang kuat, maksudnya pada saat sedang mampu dengan mudah mengalahkan godaan-godaan tersebut, rencanakanlah apa yang akan kita lakukan pada saat kita sedang lemah-lemahnya melawan godaan tersebut. Pikirkan dan camkan baik-baik pemicu kita. Di masa depan, ketika kita menghadapi godaan dan pemicu tersebut muncul kembali, ucapkan dengan keras kepada diri sendiri, “Ini adalah Pemicu.” Dari sisi neurologi, hal ini dapat membantu, karena secara sederhana kita dapat mengatakan bahwa otak kita terdiri atas dua bagian, yakni otak yang perasa dan otak yang pemikir. Otak yang perasa berfungsi untuk membuat kita merasa lapar, panas, berkeringat, terangsang dan sebagainya; hal-hal yang tidak kita pikirkan karena muncul dengan sendirinya. Dengan mengucapkan, “Ini adalah pemicu,” maka kita mengaktifkan bagian otak yang pemikir yang kemudian dapat membuat kita menyadari pemicu tersebut. Dengan menyadari kehadiran pemicu tersebut, maka kita dapat segera menentangnya sebelum berkembang.

Begitu emosi dan pikiran yang menjadi pemicu ini kita sadari, maka kesadaran ini akan sangat membantu kita agar dapat berhati-hati dan lebih lagi untuk segera menemukan kita sedang berada di tahap apa. Begitu sadar akan pemicu ini maka kita tahu bahwa kita sedang memasuki tahapan untuk mengaktifkan kembali kecenderungan untuk jatuh ke dalam pornografi. Dengan demikian kita dapat segera mengalihkan pikiran dengan melakukan hal-hal lain yang lebih produktif atau membantu seperti bermain musik, berolahraga atau menelepon teman dan sebagainya. Hal-hal tersebut dapat menolong untuk mencegah reaksi-reaksi kimia seperti yang dijelaskan di atas.

Sebagai penutup, sebaiknya kita perlu ingat bahwa semuanya berawal dari pikiran kita. Oleh karena itu, apa yang kita putuskan untuk kita tangkap dengan panca indera kita dan kita simpan di dalam ingatan dan hati kita, haruslah kita pilah baik-baik. Dalam hal ini kita mungkin bisa mencontoh tindakan yang dilakukan para atlet untuk menjaga kebugaran tubuh mereka yaitu dengan memakan makanan yang sehat dan tidak mengkonsumsi makanan yang tidak sehat – walaupun enak – karena dapat mempengaruhi kebugaran dan bentuk tubuh mereka. Kitapun harus memilih-milih dan memasukkan pikiran yang baik dan sehat ke dalam otak kita. Contoh konkrit dari pikiran buruk yang kita masukkan dan mempengaruhi pikiran kita ini dapat saya ambil dari pengalaman saya sendiri:

Saya menonton sebuah reality show tentang laki-laki yang kedapatan berselingkuh dari pacarnya, di mana pacarnya ingin menguji kesetiaan si laki-laki dengan meminta perempuan lain untuk menyatakan rasa suka pada laki-laki tersebut. Video tersebut berdurasi sekitar 10 – 20 menit, berlokasi di salah satu restoran yang di beberapa titik telah dipasangi kamera tersembunyi. Si laki-laki dirayu oleh orang suruhan pacarnya dan kemudian berlanjut hingga ke bagian di mana si laki-laki akhirnya menyangkal hubungannya dengan pacarnya dan menerima rasa suka perempuan yang menjadi umpan tersebut. Situasi kemudian menjadi kacau; kadang ada perkelahian, tangisan dan kekacauan.

Apa yang terjadi sesudah menonton video tersebut sungguh mengejutkan dan memalukan jika bisa dibilang begitu. Setelah itu, saya mandi dan kemudian mengkhayalkan bagaimana kalau saya berada dalam situasi tersebut? Saya membayangkan saya berada di sebuah restoran, tidak sadar ada kamera di mana-mana, tidak sadar sedang dijebak, untuk bertemu dengan seorang perempuan cantik. Di suatu tempat di belakang restoran tersebut ada pacar saya menunggu dengan gelisah dan amarah yang tertahan dan ingin tahu reaksi saya selanjutnya. Kemudian saya membayangkan bagaimana dengan penuh kebanggaan dan kesopanan yang hanya ada dalam pikiran saya, saya menolak dan menyatakan dengan kata-kata yang bijaksana, mengenai komitmen saya untuk setia pada pacar saya. Dan di balik restoran sana, pacar saya dan mungkin ribuan pemirsa yang menonton betapa setianya saya akan memuja saya dan simpatik pada saya dan seterusnya. Menyedihkan bukan? Pikiran-pikiran yang sia-sia akibat tontonan yang sia-sia, karena saya bahkan tidak punya pacar! Contoh lain lagi, saya pernah bercerita dengan teman semasa kuliah yang melakukan praktik untuk memperbesar bagian tubuh tertentu karena dia berpikir bahwa itulah yang terpenting dalam hubungannya yang akan membuat pacarnya senang, suka, setia dan terutama cinta padanya. Dari mana lagi pikiran sesat ini muncul kalau bukan dari pornografi? Jika pikiran sudah kita isi dengan sampah, maka tindakan kita pun akan dibentuk sesuai sampah itu.

Maka dalam terang injil, marilah kita mengingat apa yang ditulis oleh St. Paulus dalam suratnya kepada umat di Filipi, “Akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang indah, semua yang terpuji, semua yang sempurna, semua yang patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Flp. 4:8).

Sumber tulisan ini berasal dari podcast berjudul what to do in the heat of temptation, khususnya pada bagian tujuh tahap seseorang jatuh ke dalam pornografi. Selain tujuh tahap tersebut, semuanya adalah tulisan kontributor Dominikus.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: