Pornografi dan Acedia (Kejemuan Rohani)

Sebuah Telaah Spiritual dan Pemulihan bagi Keinginan Mata (Lust of The Eyes)

Oleh : Reinhard Hütter

Catatan Lux Veritatis 7: Artikel berikut merupakan terjemahan dari saudara Dominikus (bukan nama sebenarnya), salah seorang pembaca LV7. Kami berterima kasih atas usahanya dalam menerjemahkan artikel yang bermutu. Semoga artikel ini bermanfaat bagi para pembaca. Penekanan cetak tebal berasal dari penerjemah.

***

631px-Abraham_Bloemaert_-_Parable_of_the_Wheat_and_the_Tares_-_Walters_372505

Kombinasi beracun yang sungguh unik dari keinginan mata dan keinginan daging telah menjadi bagian yang hampir normal dari kehidupan sehari-hari: konsumsi pornografi yang menggelisahkan dan semakin meluas secara umum dan khususnya pornografi di internet, dengan sifatnya yang adiktif dan akibatnya yang mematikan bagi kehidupan spiritual Kristen. Agar dapat memahami akar permasalahan ini, kita harus membangkitkan kembali kenangan atas dosa/kejahatan (vice) yang sudah terlalu lama dilupakan, yakni acedia, yang biasanya disebut “kemalasan/kejemuan” namun lebih tepat diterjemahkan sebagai “kejemuan rohani”. Acedia adalah pemutusan persahabatan dengan Allah – yang merupakan pemenuhan martabat ilahi dan panggilan atas pribadi manusia – dan penerimaan atas tipu daya yang bersifat cinta diri bahwa tidak pernah dan tidak akan pernah ada yang namanya persahabatan dengan Allah, bahwa tidak pernah dan tidak akan pernah ada panggilan ilahi dan martabat pribadi manusia. Tidak ada yang sungguh berarti, karena satu-satunya yang berarti, persahabatan dan cinta Allah, tidak ada dan karenanya tidak dapat dicapai.

Acedia membentuk sebuah kekosongan yang berusaha kita isi dengan kesenangan yang singkat – terutama kesenangan seksual – untuk mengusir kebosanan yang membebani hidup ini tepat pada pusatnya. Namun gambaran yang menjanjikan kesenangan sesaat, yang kita cari ini, kemudian mengkhianati kita. Kesenangan-kesenangan itu tidak mampu mengisi kekosongan yang timbul karena kehilangan panggilan ilahi kita akan cinta dan persahabatan dengan Allah. Malahan, mereka hanya semakin meningkatkan hasrat untuk mengisi kekosongan yang tidak mampu kita penuhi tersebut, melahirkan tekanan dan menambah kemalasan spiritual, dan juga mendorong timbulnya bahaya paling besar dari kemalasan: Keputusasaan.

Kebijaksanaan rohani Kristen selalu menganggap acedia sebagai dosa yang, bila tidak diperiksa, pada akhirnya akan terbukti sungguh mematikan bagi kehidupan spiritual Kristen. Karena kemalasan rohani pertama-tama mengarahkan kita pada rasa putus asa terhadap cinta dan belas kasih Allah dan akhirnya terpuruk dalam sejenis kesedihan yang selalu membawa macam-macam masalah. Karena, seperti yang dikatakan oleh St. Thomas Aquinas dalam On Evil, “Tidak ada manusia yang bisa bertahan selamanya tanpa hiburan dan dalam kesedihan.” Orang terlarut dalam kesedihan yang mana kejemuan rohani yang mereka rasakan membuat mereka cenderung menghindari kesedihan itu dengan pertama-tama menjadi lalai dan kemudian dengan membenci lalu mencemoohkan cinta dan belas kasih Allah.

Bentuk sekuler pasca Kristen dari dosa ini, semacam rasa putus asa yang tidak jelas yang disebut kebosanan (boredom), mencakup– seperti jamur – kehidupan spiritual, intelektual dan emosional banyak orang, jika tidak semua orang, yang hidup makmur di dunia sekuler Barat. Dosa kuno acedia, berupa kemalasan spiritual, adalah akar yang mengakibatkan perasaan bosan khas kaum borjuis, kebosanan.

Pada akhirnya, keengganan kolektif ideologis, kultural, sosial dan politis akan kebaikan ilahi yang sebelumnya diterima dan dianut akan menghasilkan semacam kondisi kebosanan spiritual kolektif dari acedia, yang kemudian bertentangan dengan sisa-sisa atau kesaksian apapun akan martabat ilahi pribadi manusia dan panggilan mereka kepada persahabatan dengan Allah. Inilah kisah sebenarnya dari sekularisme modern. Pelarian dari kesedihan yang diawali dengan menghindari dan menolak hal-hal rohani dan berakhir dengan menyerang hal-hal berbau rohani itu, telah dengan sangat tepat menggambarkan ressentiment (sentimen) tertentu dan kekasaran khas zaman sekuler.

Dalam sebuah studi awal fenomenologis, yang diterbitkan dua tahun sebelum meletusnya Perang Dunia I, filsuf Jerman Max Scheler memberikan analisis yang tajam mengenai sikap spiritual negatif modern ini. Ressentiment, katanya, timbul dari lemahnya kehendak dan rasa jijik terhadap nilai-nilai moral yang dengan putus asa berusaha dicapai oleh seseorang. Ressentiment ini tidak hanya mencirikan individu sekuler modern saja tapi juga setiap teori moral sekuler modern yang paling berpengaruh.

Scheler berargumen bahwa ressentiment telah menggerakkan seluruh teori subjektif modern tentang nilai-nilai moral kepada sebuah pendekatan atas etika, yang sekarang ini dikenal sebagai emotivisme. Jika nilai-nilai moral tidak memiliki arti lain selain fenomena subjektif dari pikiran manusia tanpa arti dan eksistensi tersendiri – posisi yang dianut oleh sejumlah filsuf naturalis, positivis dan pragmatis – maka seseorang tidak bisa dikatakan kurang (lemah) dari sudut pandang tolok ukur atau standar nilai-nilai moral objektif.  Sebagai bentuk yang lebih halus dari ressentiment, teori kaum emotivis atas nilai-nilai moral tidak dapat memahami hakikat pornografi yang sangat problematik. Ketidakmampuan emotivisme dalam menentukan sebuah standar objektif dari nilai-nilai moral, pada akhirnya akan menuntunnya untuk membebaskan produksi dan konsumsi pornografi.

Scheler membantu kita untuk memahami ressentiment sebagai praktik yang sungguh modern dari dosa acedia. Gaya hidup dunia sekuler modern membawa inti logika kemalasan rohani lebih jauh, menuju kepuasan yang murahan, bahkan di balik selubung teori moral, atas apa yang disebut kebaikan yang sungguh benar dan objektif. Budaya kita, tak terbantahkan lagi, bukanlah budaya yang toleran tetapi sebuah budaya ressentiment yang mengakar kuat, yang memungkinkan terjadinya penerimaan atas pornografi secara sosial dan politik yang tak kentara namun meluas. Semakin banyak jumlah orang yang, tanpa mereka sendiri sadari, terjerumus dalam acedia, menjadi putus asa dan pada akhirnya membenci inti martabat pribadi manusia yang dihinakan dalam pronografi.

Kemalasan rohani melahirkan dosa-dosa lainnya. Dalam karyanya yang paling sering dikutip tanpa mencantumkan namanya, Moralia in Job, Gregorius Agung dengan tepat menetapkan enam puteri, anak dosa acedia yakni: kedengkian (malice), dendam (spite), kepengecutan (faintheartedness), keputusasaan (despair), ketidaktaatan pada perintah-perintah dan – yang paling penting untuk topik kita – “roh yang berkeliaran dengan tidak tenang,” seperti yang dengan tepat digambarkan oleh filsuf Thomisme Josef Pieper dalam bukunya The Four Cardinal Virtues. Roh yang berkeliaran dengan tidak tenang ini mengambil bentuk dalam kejahatan lainnya, yang susah dikenali lagi bentuk awalnya, karena modernitas sudah terlalu bingung membedakannya dengan keingintahuan intelektual: rasa ingin tahu yang sia-sia (vain curiosity) atau keinginan mata. Dipicu oleh rasa bosan dan ressentiment dan timbul dari roh yang berkeliaran dengan tidak tenang, rasa ingin tahu yang sia-sia mengambil langkah yang awalnya kelihatan tidak berdosa namun mendadak mengarah kepada praktik voyeurisme pornografi yang tetap, kemudian terbiasa dan pada akhirnya kompulsif. Ketika merenungkan dosa akibat rasa ingin tahu yang sia-sia (vain curiosity), Thomas Aquinas dalam Summa Theologiae nya menawarkan sebuah teguran singkat namun sangat mengena: “Melihat-lihat (Sight-seeing/inspectio spectatculorum) berubah menjadi dosa ketika tindakan ini membuat (seseorang) condong kepada dosa percabulan dan kekerasan karena hal-hal yang dilihat(nya) itu.”

Sejak dahulu, kekayaan spritual Kristen mengajarkan bahwa keinginan mata dan keinginan daging saling melengkapi. Kecenderungan untuk berbuat dosa melalui pandangan mata, menyulut kecenderungan dosa daging dan sebaliknya. St. Agustinus dalam bukunya Confessions, menawarkan langkah awal untuk memahami mengapa konsumsi pornografi online dapat dengan mudah menuntun kepada kehancuran nilai moral pengendalian diri secara perlahan. “Sesungguhnya benar,” tulisnya, “bahwa nafsu birahi yang tidak teratur timbul dari kehendak yang menyimpang; ketika hawa nafsu dituruti, terbentuklah sebuah kebiasaan; ketika kebiasaan ini tidak diatur, ia menguat menjadi dorongan yang kuat. Semua ini tampak seperti cincin-cincin yang saling berkaitan dan membentuk apa yang aku gambarkan sebagai sebuah untaian rantai, dan dalam perhambaanku yang mengerikan, rantai ini telah membelenggu aku.” Kecenderungan berdosa yang dituruti dan dijadikan kebiasaan mengumpulkan semacam kekuatan yang menghadirkan sejenis sifat keharusan, yang memaksakan kehendak sedemikian rupa hingga sifat “bebas” menjadi semakin pudar.

Kekhasan yang tampak dari konsumsi pornografi yang kompulsif adalah bahwa penikmatnya tidak lagi menemukan kepuasan dengan menonton sumber rangsangan itu. Yang tersisa dari dirinya, ketika telah selesai melakukannya, ialah dorongan untuk merangsang sebuah hasrat yang tidak akan pernah terpuaskan. Yang dapat dipelajari dari kesaksian para penikmat pornografi adalah fakta penting bahwa, bertentangan dengan pandangan budaya yang berlaku, keinginan mata bukanlah sesuatu yang “hot” tetapi agaknya sebuah dosa yang “dingin”. Dosa ini timbul dari roh yang berkeliaran dengan tidak tenang, yang berakar pada kemalasan spiritual yang lagi-lagi, merasa putus asa dan akhirnya membenci nilai paling luhur yang mana martabat pribadi manusia terletak. Keinginan mata yang dipuaskan melalui pornografi online tidak membakar, tetapi membekukan jiwa dan hati seseorang, dan menjadi ketidakacuhan yang dingin atas martabat orang lain dan dirinya sendiri.

Penggunaan pornografi di internet membahayakan orang yang menikmatinya; mereka yang martabatnya, kesehatannya dan bahkan hidupnya dihancurkan melalui produksi pornografi tersebut; dan mereka yang terluka akibatnya terputusnya ikatan suami-isteri dan keluarga dalam bentuk kesetiaan, keintiman dan kepercayaan. Terhadap malam gelap kebobrokan moral tersebut, Katekismus Gereja Katolik telah memberikan penjelasan dengan mengingatkan semua orang akan kebenaran yang, demi alasan yang tepat, dengan sendirinya benar, bahwa pornografi menodai kemurnian:

Pornografi mengambil persetubuhan yang sebenarnya atau yang dibuat-buat dengan sengaja dan keintiman para pelaku dan menunjukkannya kepada pihak ketiga. Ia menodai kemurnian, karena ia merusak hubungan suami isteri, penyerahan diri yang intim antara suami dan isteri. Ia sangat merusak martabat semua mereka yang berperan (para aktor, pedagang dan penonton), karena mereka ini menjadi objek kenikmatan primitif dan sumber keuntungan yang tidak diperbolehkan. Pornografi menempatkan semua yang berperan dalam suatu dunia semu. Ia adalah satu pelanggaran berat. Pemerintah berkewajiban menghalang-halangi pengadaan dan penyebarluasan bahan-bahan pornografi.

Ajaran Gereja Katolik mengenai sisi buruk pornografi didasarkan secara normatif pada martabat pribadi manusia dan kebajikan kemurnian yang secara intim tergabung di dalamnya. Kemurnian bukanlah (seperti yang sering dikira belakangan ini) kesopanan / kesantunan yang berlebihan (prudishness), ketakutan yang salah mengenai seksualitas sebagai sesuatu yang “sungguh jahat,” sesuatu yang tidak terhindarkan namun sungguh tidak manusiawi. Kemurnian adalah kebajikan yang mengungkapkan sekaligus menjaga martabat akan kebaikan sejati dan lebih tinggi: yakni martabat pribadi manusia dalam hal-hal seksual.

Agar dapat memahami kemurnian dengan tepat, dan secara khusus pentingnya kemurnian bagi perkembangan yang pantas dari manusia dan sukacita akan kebebasan sejati dalam segala jenis hubungan, maka sangat penting untuk melihat bagaimana kebajikan yang sering ditertawakan dan disalahpahami ini secara erat terkait dengan kebajikan lainnya yang juga perlu dipulihkan: pengendalian diri (temperance). Pengendalian diri adalah salah satu dari kebajikan yang sering disebut kebajikan pokok, yang dapat diartikan sebagai 4 keutamaan yang memampukan umat manusia untuk menyadari kebaikan manusiawi. Yang pertama dari kebijakan pokok tersebut ialah Kebijaksanaan (Prudence), yang menentukan dan menuntun tindakan yang tepat; yang kedua, Keadilan (Justice), mengharapkan kebaikan orang lain dan karenanya memberikan hak mereka; yang ketiga, Keberanian (Courage), mengatasi ketakutan yang mengancam integritas dan eksistensi jasmaniah kita; yang keempat, Pengendalian Diri (Temperance), melindungi tatanan batin kita dari kekuasaan nafsu-nafsu yang senantiasa timbul dalam indra internal kita.

Pengendalian diri – atau yang sebaiknya disebut, “pembentengan diri mati-matian” (selfless self-preservation) seperti yang dengan sangat tepat disimpulkan oleh Josef Pieper tentang kebajikan ini – tidak ada hubungan apapun dengan sikap membatasi diri yang setengah-setengah ala borjuis dalam hal makanan dan minuman. Lebih dari itu, temperantia adalah kebajikan yang melindungi tatanan batin pribadi manusia, mengarahkan energi paling mendasar dari kelangsungan hidup manusia, ketegasan diri dan pemenuhan diri: seperti yang ditulis Pieper,  “disiplin pengendalian diri membentengi (manusia) terhadap segala jenis ketidakwajaran yang egois dari tatanan batin, yang mana hanya dengan itu saja manusia bermoral ada dan hidup dengan efektif.” Kemurnian tidak lain merupakan perwujudan pembentengan diri mati-matian terhadap seksualitas manusia.

Izinkan saya memberikan sebuah gambaran. Kebijaksanaan adalah jurumudi yang mengarahkan kapal perusahaan moral kita melalui perairan kebingungan moral dan godaan spiritual yang berbahaya. Jurumudi kita bisa bekerja dengan baik hanya jika kita telah dibina dalam keadilan, keberanian dan pengendalian diri. Kesenangan yang tidak teratur akan kenikmatan seksual, yang terbawa masuk karena ketiadaan atau gagalnya pengendalian diri, melemahkan dan merintangi kemampuan jurumudi kita dalam mengemudikan kapal. Pembentengan diri yang sempurna dari kebajikan pengendalian diri, mampu melindungi tatanan batin manusia terhadap gangguan hasrat sensual yang kuat dan karenanya memampukan jurumudi kita untuk melakukan tugasnya. Tanpa pembentengan diri mati-matian maka sungguh tidak akan ada kebijaksanaan yang sejati dan sempurna.

Dan hasilnya, tanpa kemurnian, hasil pengendalian diri dalam hal-hal seksual, tidak ada juga kebijaksanaan dalam kehidupan seksual yang sejati dan sempurna. Tanpa kemurnian, jurumudi tidak dapat mengemudikan kapal dengan aman dan meyakinkan melalui perairan kehidupan seksual yang berbahaya menuju tujuannya yang semestinya. Hasilnya adalah kehidupan moral yang sangat terhambat dan akhirnya kemunduran yang besar dalam perkembangan manusia.

Maka kemurnian adalah kebajikan yang bukan hanya sangat diperlukan demi perwujudan kebajikan kebijaksanaan dalam hal-hal seksual, tapi juga demi lancarnya pelaksanaan kebajikan kebijaksanaan secara umum. Dengan kata lain, ketika kebajikan kemurnian itu lemah dan rapuh, kebajikan kebijaksanaan akan terbebani dan bisa jadi terkikis. Mereka yang tidak murni tidak akan sungguh-sungguh dan benar-benar bijaksana.

Hal ini memiliki makna hakiki bagi lestarinya martabat manusia. Jika kita ingin melindungi martabat manusia dalam bidang seksual dan juga semua hal lainnya yang berkaitan dengan manusia, kita harus melatih kebijaksanaan yang sejati dan sempurna. Jika kita ingin melatih kebijaksanaan yang sejati dan sempurna, kita harus menggapai kemurnian. Namun sebelum kita dapat melatih kemurnian sebagaimana mestinya, kita harus melatih kebajikan yang lebih umum dari kemurnian, yaitu kemurnian spiritual. Karena kemurnian inilah yang menunjuk pada akar spiritual masalah sebenarnya: acedia. Apa itu kemurnian spiritual?

“Jika pikiran manusia,” demikian tulis St. Thomas dalam Summa, “menyenangi persatuan spiritual dengan hal yang kepadanya dirinya dipaksa untuk bersatu, yang disebut Tuhan, dan menarik diri dari persatuan dengan hal-hal lainnya yang bertentangan dengan aturan yang ditetapkan Tuhan, inilah yang dapat disebut sebuah kemurnian spiritual… Dalam pengertian ini pula, kemurnian merupakan kebajikan umum, karena setiap kebajikan menjauhkan pikiran manusia akan persatuan dengan kesenangan terhadap hal-hal yang tidak baik.” Kemurnian spiritual ini tumbuh secara langsung dari iman, harapan dan kasih, yang menyatukan pikiran manusia kepada Allah. Kemurnian spiritual melanggengkan persatuan dengan Allah dan dengan demikian menawarkan perlindungan yang paling mencolok terhadap acedia.

Salah satu latihan terpenting yang dapat memperkuat kemurnian spiritual dan secara terus-menerus melindungi kita dari acedia adalah disiplin doa yang aktif dan gigih. Namun karena serangan dunia modern yang unik dan nyata terhadap integritas moral manusia, melalui godaan-godaan yang halus dan terjadi di segala bidang agar manusia jatuh ke dalam keinginan mata, proses pemulihan dan perlindungan kemurnian membutuhkan latihan-latihan yang lebih terarah dan radikal daripada sekedar praktik doa individual saja. Rasa puas diri yang keliru paling baik jika ditanggulangi secara bersama-sama.

Patutlah dicatat baik-baik, bahwa praktik doa merupakan disiplin rohani yang dikategorikan secara berbeda dari dan bukan sebuah pengganti bagi konseling atau terapi, yang disarankan bagi mereka yang menderita tindakan kompulsif atau kecanduan yang berat, sebagaimana yang didiagnosis oleh para ahli klinis. Karena akar permasalahannya bersifat rohani, maka penyembuhan dari tindakan adiktif hanya akan bisa diatasi ketika akar negatif yang bersifat rohani, yakni acedia, dicabut. Acedia inilah yang perlu dihilangkan dengan praktik doa.

Oleh karena itu, sebagai kesimpulan, Saya mengajukan sebuah praktik dan disiplin komunal tertentu. Sebuah inisiatif rohani yang sangat berkaitan dan yang paling langsung menyikapi tekanan masalah pornografi internet saat ini – bukan pada ranah tampilan elektroniknya namun pada akar rohaninya yang tersembunyi – Persaudaraan Petempuran Malaikat (Angelic Warfare Confraternity) yang diprakarsai oleh Ordo Dominikan.

Seorang teolog Dominikan, Brian T. Mullady menjelaskan bahwa persaudaraan ini “berusaha mengembangkan hubungan antara kemurnian dan kebijakan lainnya yang diraih dan yang ditanamkan, khususnya Kasih; yang memungkinkan seseorang mengasihi dan menghormati tubuh (orang itu) sendiri dan juga tubuh orang lain.” Para anggota persaudaraan ini menenggelamkan diri ke dalam sebuah praktik doa harian yang teratur dan saling mendukung dalam doa sambil mengharapkan campur tangan sang Takhta Kebijaksanaan, Bunda Allah dan St. Thomas Aquinas, pelindung persaudaraan ini.

Jauh dari kesan untuk tampil alim dan sopan, praktik doa dari kelompok persaudaraan ini mencerminkan kebenaran teologis yang relevan tentang kemanjuran doa. Seperti yang dicatat oleh St. Thomas: “Karena doa yang dipanjatkan untuk orang lain berasal dari kasih…semakin besar kasih para kudus di surga, semakin sering mereka berdoa bagi para peziarah, karena para peziarah itu dapat ditolong oleh doa-doa: dan semakin mereka dipersatukan dengan Allah, maka semakin manjurlah doa mereka.” Doa-doa yang dipanjatkan setiap hari  oleh kelompok persaudaraan tersebut ditujukan kepada Dia yang memiliki kekuatan untuk melindungi dan membebaskan manusia dari sikap apati rohani, kebosanan, sentimen dan keinginan mata:

Tuhan Yesus yang terkasih, Aku menyadari bahwa setiap karunia yang sempurna, dan di atas semua itu, karunia kemurnian, tergantung dari kuasa Penyelenggaraan-Mu. Tanpa diri-Mu tiada satu makhluk pun yang dapat berbuat apapun. Oleh karena itu, Aku memohon pada-Mu agar dapat mempertahankan, dengan rahmat-Mu, karunia kemurnian dan kesucian jiwa dan juga tubuhku. Dan jika aku pernah membayangkan atau merasakan apapun yang dapat menodai kemurnian dan kesucianku, bersihkanlah, ya Tuhan yang mengatasi semua kekuatanku, sehingga aku dapat bergegas maju dengan hati yang murni untuk mencintai dan melayani-Mu, mempersembahkan diriku ke atas altar keilahian-Mu yang termurni, setiap hari sepanjang hidupku.

Disiplin doa dapat mempertahankan persatuan rohani pikiran dan hati kita dengan Allah dan dengan semua yang selaras dengan kehendak-Nya. Dengan melatih kemurnian rohani dan karenanya mempertahankan persatuan rohani dengan Allah, disiplin doa melindungi kita dengan sangat baik terutama dari kejatuhan ke dalam sikap apati rohani dan buah-buah duniawinya, kebosanan dan ressentiment. Karena orang yang berdoa – sungguh-sungguh berdoa – itu tidak akan pernah bosan atau membenci. Praktik doa dapat juga berkembang menjadi persiapan yang pantas dan diprakarsai oleh rahmat, untuk menyambut kebajikan kemurnian ke dalam pikiran dan kehendak manusia.

Penyambutan yang seperti itu sangatlah penting. Karena kebajikan kemurnian merupakan pelindung utama martabat manusia. Dalam tindakan, kemurnian suami-isteri berarti orang menyadari martabat kemanusiaannya dan mengakui martabat pasangannya. Lebih luas lagi, hanya orang yang murni sajalah yang secara sejati dalam pandangannya, dapat melihat dan menegaskan martabat orang lain. Hanya orang yang murni sajalah yang bebas dari daya tarik akan bujukan, rangsangan, perendahan, keburukan dan yang akhirnya dapat menerapkan kebijaksanaan yang sejati dan sempurna.

Reinhard Hütter adalah profesor teologi Kristen di Duke Divinity School.

Diterjemahkan dari artikel berjudul Pornography and Acedia yang diterbitkan di First Things.

One comment

  1. Yokayoks · · Balas

    Terimakasih, tulisan yg sangat bermanfaat, mendasar, ini mengingatkan saya akan dosa yg telah terselubung dgn rapi dan diterima oleh umum sebagai sesuatu yg lumrah didalam dunia modern acedia. Semoga Tuhan mengampuniku.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: