Bisakah Wanita Bernyanyi dengan Suara Bass?

Catatan Lux Veritatis 7: Artikel berikut merupakan terjemahan dari saudara Dominikus (bukan nama sebenarnya), salah seorang pembaca LV7. Kami berterima kasih atas usahanya dalam menerjemahkan artikel yang ditulis oleh seorang filsuf wanita Katolik yang taat dan tradisional, yakni Alice von Hildebrand (artikel aslinya berjudul Can Women Sing with a Bass Voice?). Semoga artikel ini bermanfaat bagi para pembaca.

***

Woman_by_Ian_Schneider

Bapa Suci telah membentuk komisi yang bertugas untuk memeriksa bisa tidaknya wanita ditahbiskan sebagai diakon. Pertanyaan yang saya angkat adalah: Apakah hal ini diperlukan? Tidak perlukah kita dituntun oleh Kitab Kejadian dan tradisi Gereja?

Kitab pertama dalam Kitab Suci itu telah memberikan kepada kita semua informasi yang kita perlukan: pertama-tama Allah menciptakan Adam, yang tubuhnya dibentuk dari debu tanah; namun laki-laki yang menjadi pribadi itu dibuat untuk persatuan dan tidak satupun hewan ciptaan yang mampu memenuhi tujuan ini. Oleh karena itu Allah memutuskan untuk menciptakan satu pribadi lagi yang semartabat dan sepadan dengan Adam, yang dibuat menurut gambar dan rupa Allah. Meski demikian, tubuh perempuan, dibentuk dari tubuh seorang manusia, sehingga tubuh itu memiliki martabat yang unik. Ketika Adam terbangun dari tidur yang dibuat Allah kepadanya dan memandang Hawa untuk pertama kalinya, tanggapannya sungguh mempesona: serta merta dia melihat bahwa Hawa memiliki keutuhan martabat seperti yang dia miliki dan bahwa Hawa diciptakan untuk melengkapi dan karena itu, memperkaya dirinya: “Laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka.”

Mari kita renungkan sejenak mengenai kata: melengkapi (complement). Kata ini secara jelas mengindikasikan bahwa ada sesuatu yang hilang dari orang yang dilengkapi. Maskulinitas dengan segala kebajikan dan keindahannya, selalu membutuhkan makhluk lainnya, memiliki martabat metafisikal yang sama antara menjadi pribadi-pribadi-dan seseorang tidak dapat menjadi pribadi yang lebih atau kurang-namun memiliki kesempurnaan-kesempurnaan tertentu berarti membawa kepada kepenuhan, kualitas-kualitas luhur yang dikandung dalam kemaskulinitasannya itu. Kodrat manusia bukanlah Adam tanpa Hawa, dan bukan Hawa tanpa Adam; kedua-duanya penting karena mereka pada dasarnya saling memiliki satu sama lain. Inilah yang secara langsung ditangkap oleh Adam (saat melihat Hawa). Namun demikian, kesamaan metafisis bukan berarti kesamaan identitas—kebingungan yang mudah sekali terjadi di zaman yang membingungkan ini. Laki-laki tidak diciptakan untuk menjadi perempuan; perempuan tidak diciptakan untuk menjadi laki-laki. Namun, keduanya melantunkan nyanyian agung bersama-sama yang merayakan keagungan Sang Pencipta mereka. Hal ini jelas dan secara metafisis sungguh meyakinkan. Pesan Ilahi sudah jelas: karena berbeda, maka mereka pun memiliki peran yang berbeda dan di baliknya tersirat peringatan bahwa mengubah peran-peran itu akan membawa konsekuensi yang sangat mengerikan. Laki-laki secara jelas diciptakan dengan peran sebagai pelindung dan dipanggil untuk beraksi/aktif; perempuan itu lebih misterius, lebih rahasia dan karena alasan inilah dipanggil untuk menyelubungi dirinya. Dari dulu laki-laki ditentukan untuk menyanyikan nada bass; Perempuan, sopran: perubahan yang seenaknya dari nada-nada itu pastinya akan menghasilkan bunyi yang kacau balau. Peran Adam adalah untuk menjadi jantan; sedangkan Hawa untuk menghidupi misi yang indah yang disebut femininitas.

Kemudian terjadilah tragedi dosa asal: kehancuran yang sedemikian parah hingga memutuskan tidak hanya hubungan yang harmonis yang telah terjalin antara Allah dan ciptaan-Nya, tapi juga keharmonisan musik yang dilantunkan oleh orangtua pertama kita sebelum kejatuhan itu.  Peran yang indah dari Hawa di atas sekarang – berkat daya tarik diabolik- berubah menjadi pribadi penggoda. Dari sisi laki-laki, keterpesonaan yang penuh hormat lalu merosot menjadi ketertarikan yang “tak tertahankan” untuk kenikmatan tertinggi. Nafsu birahi (Lust), yang sampai saat itu tidak dikenal oleh Adam, sejak saat tragis ini, diubah menjadi perangkap mematikan yang mana sebagian besar kaum Adam, sayang sekali, dengan hanya sedikit pengecualian, akan terjatuh ke dalamnya. Tolstoy, yang sering menjadi korban dari godaan ini, menuduh gadis yang dilecehkannyalah yang lebih dulu menggodanya. Tentu saja, Tolstoy menyatakan bahwa dialah yang menjadi korban si gadis. Mengikuti jejak Adam yang membuat Hawa bertanggung jawab atas kejatuhannya, penulis terkenal ini meniru alasan pendahulunya. Hawa dibuat bertanggung jawab atas dosa Adam, dan sejak saat itulah disahkan bahwa seterusnya dia akan diremehkan dan dipandang rendah sebagai sebuah ancaman, bahaya dan karenanya sebagai “inferior”. Keyakinan ini merupakan alasan psikologis yang digunakan oleh banyak laki-laki untuk membenarkan “superioritas” yang bagi mereka sudah begitu jelasnya hingga tak perlu dibuktikan lagi. Cinta telah diubah menjadi nafsu birahi. “Inferioritas” moral atas kaum Hawa ini tak terhindarkan lagi mengarah kepada inferioritas metafisis – yang dikupas oleh Simone de Beauvoir di bukunya yang amat jahat, “The Second Sex.” Mereka yang jatuh ke dalam perangkap buku ini akan menarik kesimpulan bahwa agar perempuan menjadi setara dengan laki-laki, yang berarti dengan kaum yang kuat dan “lebih produktif”, mereka harus mengobarkan perang terhadap penyebab kejatuhan ini yakni: maternitas (keibuan). Sudah saatnya kaum perempuan membebaskan diri mereka dari beban tak tertanggungkan yang diletakkan pada tubuh kaum Hawa dengan periode menstruasi, ancaman kehamilan, rasa sakit saat melahirkan dan tindakan yang membuang-buang waktu seperti memberi ASI. Mereka harus diberikan kendali penuh atas atas tubuh mereka dan memiliki hak suci untuk memutuskan mau memilih hamil atau tidak: cara-cara apapun yang memampukan mereka untuk mendukung keputusan bebas ini, harus disambut, termasuk aborsi. Melahirkan, yang mana sejak awal mula, disadari sebagai sebuah berkat, menurut teman dekat Jean Paul Sartre ini, merupakan sesuatu yang dilakukan dengan lebih baik dan lebih efisien oleh kelinci dan ayam.

Hanya mereka yang sengaja buta sajalah yang gagal melihat bahwa jika Si Ular berhasil menang atas Hawa- yang telah dipilihnya sebagai target, karena menyadari pengaruh Hawa yang kuat atas yang sering disebut sebagai kaum yang lebih kuat-sekarang dia mengulangi taktik yang sama: dia membidikkan panahnya kepada Hawa karena ada perang antara dirinya dan si perempuan: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya (Kej. 3:15). Karena pernah menang satu kali, si ular berharap dapat mengalahkan perempuan sekali lagi dengan serangannya atas hidup dan keibuan. Dia adalah pembunuh sejak awal mula dan membenci kehidupan, kebenciannya secara pasti terarah langsung kepada “ibu dari segala yang hidup” seperti panggilan Adam kepada Hawa ketika memandang Hawa. Namun Allah, yang tidak pernah meninggalkan makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang penuh dosa, telah menganugerahi dunia seorang Perempuan, tota pulchra (sungguh cantik) – yang dengan rendah hati menerima martabat yang luar biasa yang ditawarkan padanya: menjadi Bunda Penyelamat, dan karena fiat (ketaatan)nya terjaminlah kemenangan perempuan atas si jahat. Sungguh benarlah yang dikatakan oleh St. Bernardus kepada kita betapa si ular tua memusatkan kebenciannya pada Maria dan dalam cara yang misterius takut kepadanya melebihi rasa takutnya kepada Tuhan sendiri (see Gueranger (osb) – liturgical year, time after Pentecost, Book V p. 205). Betapa memalukanlah bagi dia dikalahkan oleh “the second sex.”

Sekarang kita berada di posisi metafisis yang tepat untuk menghadapi jawaban yang diangkat di awal essai ini: haruskah perempuan ditahbiskan menjadi diakon? Hanya dengan mengkontemplasikan Marialah maka kita dapat menemukan jawaban yang “Katholik”. Apakah pesan Maria? Kerendahan hatinya terwujud ketika dia diberi salam penuh rahmat, takjub dan tergetar dengan penuh hormat: ekspresi yang mulia dari salah satu kunci kesempurnaan femininitas: penerimaan atas pesan Malaikat Gabriel yang membuatnya takjub. Dia akan mengandung seorang anak laki-laki…Dia terkejut: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami.” Namun kemudian si pembawa pesan Allah menenangkannya dengan jawaban bahwa dia akan dinaungi oleh Roh Kudus. Jawaban singkat Maria akan memberikan kita kunci untuk memahami misi perempuan di dalam Gereja, sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Yang berbahagia, dengan penuh sukacita mengakui bahwa melayani berarti memerintah; kata-kata emas ini kemudian langsung diikuti oleh kata-kata yang kita semua mesti katakan setiap hari: terjadilah padaku menurut perkataanmu itu. Bukan melakukanlah yang harus diprioritaskan: kepasrahan yang penuh rasa syukurlah yang harus ditumbuhkan.

Meski sungguh cemerlang, Aristoteles diam-diam membuat kekeliruan yang mengerikan dengan menyatakan bahwa kaum Adam itu lebih superior dari kaum Hawa karena mereka lebih aktif sedangkan kaum Hawa hanya pasif. Dengan memberi tingkatan bahwa ke-aktif-an itu lebih “superior” dibanding ke-pasif-an, yang dia lewatkan ialah bahwa ada perbedaan besar antara pasivitas dan reseptivitas: keterbukaan terhadap kesuburan (produktivitas). Inilah letak kemuliaan perempuan: daya menerima (reseptivitas) yang suci. Dalam terang iman, jelas kalau hal ini (reseptivitas) lebih “superior” dibanding ke-aktif-an karena dengan menyadari bahwa kita, makhluk-makhluk yang malang, yang sungguh bergantung sepenuhnya pada Sang Pencipta, terpanggil untuk dengan sukacita menerima reseptivitas ini yang mana adalah kunci menuju kekudusan. Mengapa wanita disebut “jenis kelamin yang saleh” (“pious sex”) jika bukan karena mereka lebih mudah meminta bantuan dan rela menerimanya dengan senang hati? Mengapa para perawat mengatakan bahwa pasien perempuan lebih gampang diatur daripada pasien laki-laki yang sering kali marah-marah karena kehilangan kebebasan mereka untuk sementara? “Aku bisa melakukannya sendiri; Aku tidak butuh bantuan.”

Saat kita telah melihat dengan terang kebenaran (dan untuk alasan ini, membutakan) kita menemukan jawaban untuk pertanyaan awal kita: haruskah perempuan ambil bagian dalam tahbisan diakon yang diperuntukkan bagi laki-laki? Tanggapan positifnya adalah, saya yakin, berdasarkan alasan yang salah bahwa “melakukan”; “bertindak”; “menciptakan”; “menjadi pusat perhatian”; adalah lebih penting dari sekedar hening dan kontemplasi. Malahan saat ini hasrat untuk itu memiliki daya tarik yang lebih besar lagi karena televisi: berada di layar kaca merupakan, bagi sebagian orang, impian terbesar mereka. Seorang sinis jenaka Prancis saat ini mungkin saja tergoda untuk menuliskan “Descartes menulis: Aku berpikir maka aku ada.’ Saat ini dengan bijaksana dia (Descartes) akan mengganti kata-kata terkenal tersebut begini: ‘Aku ada di televisi: maka aku ada.’” Sebagian orang mungkin tergoda untuk menjual diri mereka agar dapat disaksikan oleh jutaan orang. Secara pribadi saya sukar memahami hasrat yang ada dalam diri setiap perempuan untuk tampil menjadi lektor atau putra altar. Orang pergi ke Gereja untuk memuji dan menjadi terbuka terhadap karunia yang tak terbayangkan dari Kurban Kudus Ekaristi. Mengapa “bertindak”lah yang dapat mendekatkan kita kepada Allah daripada pujian yang hening? Akankah seorang St. Theresia dari Lisieux menyesali fakta bahwa hidupnya di sebuah biara tak terkenal di desa kecil Prancis yang terpencil, telah mencegahnya untuk menjadi “dikenal di seluruh dunia?” Sekarang malah dia terkenal, tapi tentu saja dia tidak pernah ingin untuk menjadi terkenal. Paus-paus yang paling buruk—dan beberapa di antaranya terus terang saja tidak layak—merupakan mereka yang menggunakan permainan politis untuk dapat mengenakan Tiara di kepala mereka. Sedangkan yang paling agung—mari kita ingat Paus Pius X—- adalah mereka yang menanggung beban berat di bawah salib Kepausan.

Salah satu masalah serius yang mempengaruhi masyarakat kita sekarang ialah bahwa kita telah kehilangan pemaknaan akan tingkatan nilai-nilai: kita menempatkan aksi di atas kontemplasi, kita menempatkan otoritas di atas ketaatan, kita menempatkan prestasi di atas penyerahan diri yang penuh cinta. Kita harus melakukan yang sebaliknya: menempatkan ketaatan di atas perintah; kontemplasi di atas aksi; ketidakterkenalan di atas ketenaran. Betapa indahnya aturan suci St. Benediktus yang senantiasa diingatkannya kepada Kepala Biara bahwa satu hari nanti ketika dia menghadap takhta Allah, dia akan ditanyakan apakah dia telah sungguh-sungguh menggunakan otoritasnya untuk melayani jiwa-jiwa anak spiritualnya. Apakah dia lebih tertarik untuk mencintai atau memerintah? Apakah dia telah memandang posisi Kepala Biara sebagai sebuah beban yang sedemikian beratnya hingga dia membutuhkan bantuan Allah untuk memikulnya? Membaca kata-kata ini, bagaimana mungkin seorang rahib yang layak, berharap untuk dipilih menjadi kepala biara?

Inilah waktu yang tepat bagi perempuan untuk terjaga dari bahaya keterbuaian spiritual yang men-sekuler-kan ide-ide, seperti obat-obatan yang berbahaya, membuat mereka kehilangan pandangan atas keindahan dan keagungan misi mereka yang sangat penting bagi Gereja. Mari kita ingat kata-kata Kristus kepada Martha: “Kau menyusahkan diri dengan banyak hal. Padahal hanya satu saja yang perlu, dan Maria telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil daripadanya.”

Allah telah dengan jelas menetapkan dari semula bahwa peran yang Dia tentukan bagi laki-laki dan perempuan adalah berbeda dan untuk alasan inilah maka keduanya saling melengkapi. Salah satu tipu muslihat yang dirancang si jahat saat ini ialah meyakinkan beberapa perempuan bahwa mereka diremehkan karena mereka hanya mengerjakan kewajiban-kewajiban kaum Hawa tingkat rendah. “Hal-hal besar” telah dicapai oleh kaum Adam; sejak semula, mereka telah menjadi pemimpin, pencipta, pemikir besar, ilmuwan besar, arsitek besar, pemimpin militer besar. Mereka telah memberi sumbangan kepada apa yang dikatakan oleh Simone de Beauvoir sebagai “roda kemajuan”. Namun de Beauvoir menolak menyebutkan “alasan”nya yang setelah meninggalkan Gereja di usia remaja, dia memilih menutup mata dan pastinya tidak hanya menolak ajaran suci Allah tapi juga menentangnya. Dia memilih untuk melupakan bahwa satu saat nanti seluruh dunia akan hancur: semua prestasi kaum Adam, yang sungguh mengagumkan, akan hancur menjadi debu dan abu…tapi tiap anak yang dilahirkan oleh perempuan, yang telah diberikan jiwa yang abadi, akan tetap hidup selamanya.

Patut juga dikomentari bahwa beberapa pemikir “besar” yang pemikirannya telah membawa bahaya yang tak terbilang banyaknya, mampu – ketika sedang tidak sadar – membuat poin-pemikiran yang menarik. Nietzche misalnya – bukan teman saya – yang menulis bahwa sebelum revolusi Perancis perempuan memiliki kekuasaan yang jauh lebih sedikit, namun memiliki pengaruh yang sangat besar. Sangatlah mendalam jika disadari bahwa kekuasaan dapat memerintahkan aksi; namun pengaruhlah yang dapat mengubah orang-orang. Inilah superioritas yang sesungguhnya.

Lagi dan lagi, kita harus bermeditasi atas fakta bahwa Maria  – ciptaan yang paling sempurna termasuk atas malaikat-malaikat, yang memilikinya sebagai ratu mereka – melahirkan Sang Penyelamat. Ini adalah kehormatan terbesar dan tak terbantahkan lagi yang pernah diberikan kepada manusia; dan Sang Juru Selamat adalah satu-satunya Imam. Karena itu setiap imam hendaknya pada saat memasuki sakristi, harus ingat dengan hati yang bergetar bahwa mereka bertindak sebagai Persona Christi. Inilah sebabnya ketika mereka mengatakan kata-kata konsekrasi, “tangan mereka harus gemetaran.” Maria – seorang perempuan – memiliki gelar yang mulia sebagai ibu dari Imam satu-satunya. Martabat terbesar perempuan bukanlah menjadi diakon, tetapi menjadi ibu dari seorang imam. Dalam terang pemikiran ini, mengapa perempuan harus berjuang untuk menjadi diakon?

Kita harus berhati-hati terhadap keputusan apapun yang bertujuan mengaburkan garis pemisah antara maskulinitas dan femininitas. Keberatan ini haruslah ditulis dengan tinta emas. Biar saya ulangi lagi, dengan penuh empati; perang yang sedang berkecamuk saat ini adalah perang yang jahat melawan keibuan (motherhood): bukti yang paling baik dari ini ialah bahwa perempuan sedang ditantang untuk menjadi lebih seperti laki-laki. Laki-laki tidak bertumbuh sambil mengharapkan untuk menjadi lebih seperti perempuan: melahirkan tidaklah menarik bagi mereka. Maria, dengan menyetujui untuk dinaungi oleh Roh Kudus dan mengandung Sang Juru Selamat, sejak saat itu, mengambil bagian secara penuh dalam sengsara-Nya. Tidak ada satu makhluk pun yang berbagi pahitnya salib Puteranya sebanyak Maria. Dia menggandakan di dalam hatinya penderitaan yang menyakitkan dari Putera tercintanya; dia sungguh menyanggupi untuk membayar kehormatan menjadi bunda satu-satunya imam: Kristus. Menyanggupi menjadi ibu seorang imam berarti menyingkirkan kemungkinan untuk menjadi imam itu sendiri. Inilah sebabnya mengapa Gereja tidak memperbolehkan perempuan menerima sakramen yang mengagumkan ini.

Satu hal yang tidak dapat dipungkiri; penerimaan yang utuh dan penuh sukacita atas jenis kelamin yang telah dipilihkan Allah untuk kita, membawa serta hadiah yang luar biasa; hal ini memberikan kita kunci kepada misteri dari jenis kelamin yang lain. Inilah sebabnya mengapa Maria adalah yang diberkati yang paling memahami St. Yoseph, dan sebaliknya. Ini menjelaskan persahabatan yang agung yang terjalin selama berabad-abad antara para orang kudus besar. Saya telah membahas dengan rendah hati beberapa pemikiran ini di buku saya: “Man & Woman: A Divine Invention.” Semoga beberapa kata singkat ini dapat disambut sebagai panggilan bangun yang suci, dan membuat kaum Hawa menyadari: “Sungguh sebuah kehormatan menjadi perempuan.”

Alice von Hildebrand adalah seorang dosen dan penulis buku, yang karya-karyanya meliputi: The Privilege of Being a Woman (2002) and The Soul of a Lion: The Life of Dietrich von Hildebrand (2000), sebuah biografi tentang almarhum suaminya. Dia diberi gelar Dame Grand Cross of the Equestrian Order of St. Gregory oleh Paus Fransiskus pada tahun 2013.

Image credit: Woman by Ian Schneider via Unsplash.com.

 

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: