Kebenaran tentang Menerima Komuni di Tangan

Meme Catholic Communion on TongueSetiap kali saya misa di kampus, saya selalu menerima Komuni di lidah sambil berlutut. Suatu ketika selesai bertugas sebagai Putra Altar, terjadilah dialog antara saya dengan seorang imam tua tentang cara saya menerima komuni. Intinya, imam itu mengatakan bahwa dia tidak melarang saya, namun juga tidak menganjurkan cara menerima Komuni seperti itu. “Untuk apa kembali ke masa lalu?”, katanya.

Nah, sekarang saya akan menelaah perkataan imam tersebut. Tentu, masa lalu yang ia maksudkan adalah masa sebelum Konsili Vatikan II. Bahkan bisa jadi ada yang menganggap kalau cara menerima Komuni di lidah sambil berlutut adalah cara “abad pertengahan” (dan entah kenapa konotasinya selalu negatif). Seolah-olah, cara tersebut adalah cara yang kuno, jelek dan ketinggalan zaman.

Jadi, katakanlah, Gereja dapat dibagi menjadi dua: Gereja Pra Konsili Vatikan II, dan Gereja Pasca KV II. Dan berdasarkan pengalaman saya berdiskusi dengan kaum awam, frater ataupun imam, Gereja Pra Konsili memiliki berbagai cap negatif seperti arogan, kaku, keras dsb. Sangat bertentangan dengan gambaran Gereja Post KV II yang terbuka, menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman, dst.

Tulisan ini tidak bermaksud membahas hal tersebut, namun saya ingin menekankan bahwa tidak sepantasnya hal yang dianggap suci dan baik, kemudian kita anggap negatif atau kita tinggalkan begitu saja.

Begitu juga dengan cara menerima Komuni di lidah sambil berlutut, yang sempat ditinggalkan dan digantikan dengan cara menerima Komuni di tangan. Sebenarnya, bagaimana asal usul praktek Komuni di tangan itu sendiri?

Perlu saya tekankan bahwa Sacrosanctum Concillium (Konstitusi tentang Liturgi Suci) sama sekali tidak pernah memandatkan adanya perubahan dalam tata cara menerima Komuni. Tentu ada beberapa perubahan dalam Liturgi, namun cara menerima Komuni tidak termasuk di dalamnya. Praktek komuni di tangan bukan produk dari Konsili Vatikan II, melainkan berasal dari sebuah ketidaktaatan para uskup, seperti yang akan saya jelaskan di bawah ini.

Benar bahwa sejak masa Bapa Gereja umat beriman menerima Komuni di tangan. Namun cara mereka menerima cukup berbeda dengan cara yang kita lakukan sekarang. Hosti diletakkan di telapak tangan kanan, bukan kiri, karena secara tradisional kanan melambangkan kekuatan, rasa hormat, kemuliaan, sedangkan kiri berarti kelemahan, dosa. Selain itu, umat tidak mengambil Hosti sendiri, melainkan ia langung memakan Hosti dari telapak tangannya. Pada umumnya, wanita menempatkan kain putih di telapak tangannya.

Namun Bapa Gereja, dalam berbagai tulisannya, kerap memperingati umat tentang pentingnya menjaga fragmen atau partikel kecil dari Hosti, mengingat satu partikel kecil itu sendiri adalah Yesus Kristus, dan karenanya harus diperlakukan dengan devosi mendalam serta rasa hormat yang besar. St. Cyrtil of Jerusalem, melalui teksnya Mystagogic Catecheses,  memberitahu kita supaya berhati-hati karena fragmen Hosti bisa saja masih ada di telapak tangan kita, dan bila fragmen tersebut ada di telapak tangan, kita harus mengambilnya dengan sikap devosi dan penuh perhatian. Terlihat juga bahwa Bapa Gereja kurang merasa puas dengan cara menerima Hosti di tangan. Maka, selanjutnya terjadi perkembangan secara organik: mulai muncullah cara menerima Komuni di lidah.

Jadi, cara menerima Komuni di lidah bukanlah “produk” abad pertengahan, melainkan praktik tersebut sudah diperkenalkan sejak masa Patristik (Bapa Gereja). Pernah ada sinode lokal di abad ke-9 yang bahkan mengekskomunikasi mereka yang ingin menerima Komuni di tangan, dan memberikan hukuman suspensi bagi imam yang memberikannya!

Selanjutnya kita bertanya: mengapa dan kapan menerima Komuni di tangan diperkenalkan kembali ke dalam Gereja Katolik? Singkat cerita, dua tokoh utama yang berperan dalam hal ini adalah John Calvin dan Zwingli, karena mereka tidak meyakini kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi. Jadi, berdasarkan sejarah Gereja, praktik menerima Komuni di tangan terkait erat dengan kurangnya iman akan kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi. Maka, kita dapat mengerti mengapa Gereja mengharuskan umat untuk menerima di lidah, dan melakukannya sambil berlutut: kedua hal ini menekankan iman akan kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi, dan sikap demikian dapat membantu menumbuhkan devosi Ekaristi dalam diri umat beriman.

Nah, mari kita masuk ke zaman modern. Praktek menerima Komuni di tangan pada awalnya tersebar luas di Belanda tahun 1960an**, dan perlu diketahui bahwa cara menerima Komuni yang lazim saat itu, dan juga sekarang, adalah dengan menerima di lidah sambil berlutut. Jadi, praktik menerima Komuni di tangan yang dilakukan sebenarnya merupakan sebuah abuse atau pelanggaran serius. Namun, mereka yang melakukannya beralasan bahwa praktik ini dilakukan pada masa lampau, dan dengan demikian terlihatlah kesesatan berpikir yang disebut arkeologisme, yakni semakin lampau sesuatu hal, maka hal itu semakin baik. Cukup banyak “pakar” liturgi yang menganut arkeologisme, padahal kita tidak bisa mengabaikan yang namanya sebuah perkembangan liturgi secara organik. Bahkan Paus Pius XII dalam ensikliknya tentang liturgi yang berjudul Mediator Dei, mengecam kecenderungan arkeologisme:

59. The Church is without question a living organism, and as an organism, in respect of the sacred liturgy also, she grows, matures, develops, adapts and accommodates herself to temporal needs and circumstances, provided only that the integrity of her doctrine be safeguarded. This notwithstanding, the temerity and daring of those who introduce novel liturgical practices, or call for the revival of obsolete rites out of harmony with prevailing laws and rubrics, deserve severe reproof. It has pained Us grievously to note, Venerable Brethren, that such innovations are actually being introduced, not merely in minor details but in matters of major importance as well…

61. The same reasoning holds in the case of some persons who are bent on the restoration of all the ancient rites and ceremonies indiscriminately. The liturgy of the early ages is most certainly worthy of all veneration. But ancient usage must not be esteemed more suitable and proper, either in its own right or in its significance for later times and new situations, on the simple ground that it carries the savor and aroma of antiquity. The more recent liturgical rites likewise deserve reverence and respect. They, too, owe their inspiration to the Holy Spirit, who assists the Church in every age even to the consummation of the world.[52] They are equally the resources used by the majestic Spouse of Jesus Christ to promote and procure the sanctity of man.

Namun setelah Konsili Vatikan II, terjadi banyak pelanggaran liturgis di negara seperti Belanda, Jerman, Prancis, dan Belgia. Akhirnya Paus Paulus VI mengadakan survey kepada para uskup di seluruh dunia berkenaan dengan perubahan tata cara menerima Komuni. Hasil survey tersebut dapat dilihat dalam dokumen berjudul Memoriale Domini (silakan klik).

Mayoritas para uskup menyatakan bahwa mereka menolak cara baru dalam menerima Komuni. Berikut ini kutipan dari Memorale Domini:

Jawaban-jawaban yang diberikan menunjukkan bahwa jauh lebih banyak uskup yang berpendapat bahwa tata tertib yang berlaku sekarang ini sebaiknya tidak diubah sama sekali. Dan seandainya diubah, akan merupakan suatu yang melukai perasaan dan pandangan rohani uskup-uskup ini dan banyak umat beriman.

Sebab itu, dengan mempertimbangkan pendapat dan nasehat dari mereka “yang telah dipilih oleh Roh Kudus untuk memimpin Gereja” [11], dengan menimbang seriusnya masalah dan kuatnya argumentasi yang diajukan, Bapa Suci memutuskan untuk tidak mengubah cara pelayanan komuni kudus kepada umat beriman seperti yang berlaku sekarang ini.

Sebab itu, Tahta Suci dengan sungguh-sungguh mendorong para uskup, para imam dan umat beriman untuk secara cermat mentaati peraturan yang berlaku, yang sekarang dipertegas kembali, dengan mempertimbangkan penilaian yang diberikan oleh sebagian besar uskup Katolik, mengenai ritus yang sekarang dipergunakan dalam liturgi, dan demi kebaikan Gereja pada umumnya.

Meskipun Vatikan tetap mendorong mereka untuk taat pada cara menerima Komuni yang lazim (di lidah sambil berlutut), namun Paus Paulus VI memilih untuk berkompromi dengan para uskup yang tidak taat terhadapnya, yang memperkenalkan cara menerima Komuni di tangan. Kita dapat melihat bahwa Roma memutuskan untuk menyerahkan persoalan Komuni di tangan kepada konferensi waligereja setempat:

Di mana praktek yang sebaliknya, yakni komuni di tangan, telah diberlakukan, Tahta Suci – demi membantu konferensi waligereja untuk memenuhi tanggung jawab pastoral yang seringkali bertambah sulit karena masalah-masalah dewasa ini – mempercayakan kepada konferensi waligereja tugas dan kewajiban untuk mempertimbangkan dengan seksama situasi-situasi khusus yang mungkin ada di sana. Tetapi, dengan ketentuan bahwa mereka menghindarkan bahaya kemungkinan kurangnya rasa hormat atau gagasan yang keliru sehubungan dengan Ekaristi di kalangan umat beriman dan bahwa mereka dengan cermat meniadakan segala ketidakpantasan.

Dalam perkara ini, konferensi waligereja setelah terlebih dahulu mempelajari masalah dengan seksama, mengambil keputusan dengan pemilihan suara rahasia. Agar dapat dilaksanakan, keputusan harus mendapatkan dua-pertiga suara mayoritas. Kemudian konferensi waligereja menyampaikan keputusan mereka kepada Tahta Suci untuk persetujuan yang diperlukan [12] dan juga dengan melampirkan suatu laporan akurat mengenai alasan-alasan yang menghantar pada keputusan tersebut. Dengan mempertimbangkan ikatan yang ada antara berbagai gereja lokal dan antara satu sama lain dan Gereja semesta, Tahta Suci akan dengan berhati-hati menimbang setiap kasus demi kepentingan kebaikan umum dan kemajuan semua, dan demi meningkatnya iman dan kesalehan yang berasal dari teladan baik itu.

Kutipan di atas memang membuka pintu bagi adanya kemungkinan untuk menerima Komuni di tangan. Dari kutipan inilah, maka sesuatu yang normatif (menerima Komuni di lidah sambil berlutut) menjadi pengecualian, dan yang pengecualian (menerima Komuni di tangan) menjadi hal yang normatif dan lazim. Padahal, kalau kita perhatikan lebih cermat, Roma berkata bahwa ia akan “menimbang setiap kasus demi kepentingan kebaikan umum”.

Nah, pintu yang dibuka ini, pada kenyataannya membuat hampir semua konferensi waligereja meminta pengecualian dan bertanya kepada Takhta Suci. Padahal, yang berhak meminta dan bertanya adalah konferensi waligereja di tempat ketika abuse menerima Komuni di tangan telah diberlakukan. Jadi, kalau di daerah lain tidak ada abuse demikian, tidak perlulah bertanya dan meminta izin kepada Vatikan.

Sayangnya, Roma (dalam hal ini, maksudnya Bugnini) kemudian memberikan indult (indult merupakan suatu pengecualian atau dispensasi terhadap hukum yang berlaku) untuk memperbolehkan tata cara menerima Komuni di tangan, tanpa memeriksa setiap kasus terlebih dahulu! Maka hasilnya adalah kekacauan yang kita lihat sekarang: praktik tradisional menerima Komuni di lidah sambil berlutut hampir menghilang–bahkan ada imam yang menolak untuk memberikan Hosti–dan yang berlaku secara umum adalah menerima Komuni di tangan. Nah, referensi yang saya katakan ini berasal dari sebuah buku yang ditulis oleh Father Mauro Gagliardi, yang tidak diterbitkan, berjudul Introduction to Christian Worship. Beliau merupakan salah seorang penasihat Congregation for Divine Worship and the Discipline of the Sacraments.

Sebenarnya Vatikan menuliskan tujuh peraturan yang perlu ditaati. Dan menurut saya, aturan pertama inilah yang paling “dilupakan”:

1. Cara baru membagikan komuni wajib tidak dilakukan dengan suatu cara yang akan meniadakan praktek tradisional. Merupakan suatu hal yang secara istimewa serius bahwa di tempat-tempat di mana praktek yang baru secara sah diijinkan, setiap umat beriman memiliki pilihan untuk menerima Komuni di lidah dan bahkan meski orang-orang lain menerima komuni di tangan. Kedua cara menyambut Komuni ini, dengan tanpa disangkal, dapat berlaku dalam suatu ibadat liturgis yang sama. Ada dua tujuan ganda di sini: bahwa tiada seorang pun yang akan mendapati dalam cara baru ini sesuatu yang mengganggu devosi pribadi terhadap Ekaristi; dan bahwa sakramen ini, yang pada hakekatnya adalah sumber dan dasar kesatuan, tidak akan menjadi suatu pemicu konflik di antara warga umat beriman.

Mengapa saya berani berkata bahwa aturan ini “dilupakan”? Pertama, saya sendiri rasanya tidak pernah diajari untuk menerima Komuni di lidah sambil berlutut. Saya memutuskan sendiri untuk menerima di lidah sambil berlutut setelah membaca banyak tulisan Paus Benediktus XVI dan mengikuti teladannya. Bahkan, pada hari raya Corpus Christi, tahun 2008, Paus Benediktus mewajibkan mereka yang menerima Komuni langsung darinya, untuk menerima di lidah sambil berlutut. Dengan demikian, Paus Benediktus menegaskan kembali norma tradisional yang berlaku, dan ingin menekankan pentingnya dogma kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi.

Kedua, saya juga tidak ingat apakah saya pernah diajari untuk dengan sungguh menghormati Kristus yang hadir dalam Ekaristi dalam cara saya menerima Dia. Penghormatan dan devosi kepada Ekaristi bertumbuh karena saya belajar sendiri, bukan karena diajari imam atau guru agama. Mungkin dulu diajarkan waktu Komuni pertama, namun sayangnya imam hampir tidak mengingatkan umatnya di luar itu.

Ketiga, sekarang di paroki saya di Palembang, tidak lagi ada umat yang menerima Komuni di lidah sambil berlutut (kecuali saya). Saya kira hal yang sama juga terjadi di paroki lainnya. Meskipun demikian, selama beberapa waktu belakangan ini, semakin banyak umat yang mulai menerima Komuni di lidah sambil berlutut.

Keempat, saya sendiri ketika menerima Komuni sambil berlutut pernah tidak diberikan Komuni oleh prodiakon, melainkan hanya diberi berkat. Teman saya juga pernah mengalami hal yang sama, bahkan ketika diberikan, hal tersebut dilakukan dengan ekspresi wajah yang aneh seperti terlihat jijik untuk meletakkan komuni di lidah. Selain itu, bahkan teman saya ini pernah ditanya oleh prodiakon dan seorang suster: Sudah dibaptis belum? Hal ini menunjukkan bahwa bagi suster dan prodiakon tersebut, cara menerima sambil berlutut adalah cara yang asing. Terlihat bahwa prodiakon tersebut juga kurang diberikan katekese, atau mungkin dulu memang diajarkannya bahwa hanya menerima di tangan cara yang lazim dan berlaku? Entahlah, saya tidak tahu.

Selain itu, dengan praktek Komuni di tangan, saya melihat berkurangnya rasa hormat terhadap Ekaristi. Pertama, banyak umat yang tidak memberi hormat terlebih dahulu sebelum memakan Hosti. Kedua, imam dan prodiakon yang cenderung membagikan Hosti secara cepat dan otomatis (layaknya robot) seperti membagi roti biasa dan bukannya Tubuh Kristus. Pernah ketika saya hendak menerima Komuni, prodiakon membagikannya terburu-buru dengan posisi jari yang kurang tepat sehingga Hosti malah terjatuh dan ia harus segera memungutnya. Ketiga, beredarnya abuse dan profanasi seperti ditemukannya Hosti di bangku umat, di toilet, di parkiran, dst. Bahkan, salah satu alasan mengapa Vatikan mengharuskan menerima Komuni di lidah adalah untuk mencegah turis membawa pulang Hosti sebagai souvenir. Lebih parahnya, banyak kaum Satanist yang mencuri Hosti untuk dinodai dalam ritual mereka! Keempat, ada imam yang menolak untuk memberi Komuni kepada mereka yang menerima di lidah, padahal Gereja memberikan kebebasan bagi umat untuk memilih cara menerima Komuni: berdiri di tangan, berdiri di lidah, berlutut di lidah. Kelima, praktek komuni di tangan, secara tidak langsung membuka kemungkinan bagi praktek intinction, yaitu umat mengambil Hosti sendiri dan mencelupkan ke cawan berisi Darah Kristus. Dulu ini diperbolehkan, namun hal ini dilarang dalam dokumen Redemptionis Sacramentum, dan bila dilakukan merupakan sebuah pelanggaran liturgis. Oleh karena itu, umat beriman seharusnya memang tidak maju dan menerima Komuni bila imam melakukan praktek tersebut. Berikut ini kutipan dokumennya:

[104.] The communicant must not be permitted to intinct the host himself in the chalice, nor to receive the intincted host in the hand. As for the host to be used for the intinction, it should be made of valid matter, also consecrated; it is altogether forbidden to use non-consecrated bread or other matter.

Saya memang tidak memberikan link mengenai abuse yang ada. Namun hal tersebut bisa dicari sendiri di google dengan mudah.

Nah, saya juga tidak bisa mengharuskan anda untuk menerima Komuni di lidah sambil berlutut, mengingat Indonesia sendiri telah mendapatkan indult dari Vatikan. Tentunya saya mendorong upaya katekese tentang Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi, agar umat yang menerima Komuni di tangan dapat menerima Dia dengan rasa hormat yang mendalam. Namun sebelum mengakhiri artikel ini, ijinkan saya menawarkan permenungan berikut:

Pope-Benedict-XVI-displays-the-Blessed-SacramentSetiap kali saya mengikuti adorasi Ekaristi setelah Misa Jumat pertama, saya melihat semua umat berlutut setiap kali imam mengangkat monstran dan memberikan berkat. Kalau saat imam mengangkat monstran saja, banyak umat (mungkin termasuk anda juga) yang berlutut, mengapa kita tidak berlutut dan menerima di lidah saat Imam hendak membagikan Komuni? Mengapa kita tidak berlutut ketika kita mampu melakukannya? Mengapa kita memutuskan untuk berlutut saat adorasi, dan tidak berlutut saat menerima Komuni? Padahal kita akan menerima Tubuh, Darah, Jiwa dan Keilahian Tuhan sendiri dalam diri kita?

PS

**Mengenai sejarah Komuni di tangan sambil berdiri, penulis mengambil penjelasan dari artikel The Truth about Communion in Hand While Standing

12 komentar

  1. Frederick · · Balas

    Halo Cornelius ! Kebetulan saya asal Palembang, dan paroki saya Santo Yoseph. Sekarang, saya domisili di Amerika dan sejak disini saya sering mengikuti misa Tridentina, dan di misa Tridentina umat harus menerima komuni di lidah dan sambil berlutut. Saya pun mulai membawa kebiasaan komuni di lidah berlutut ke misa-misa OF (Ordinary Form)/misa umumnya (non-Tridentina) disini, kebetulan di 2 paroki disini juga ada beberapa umat yang menerima komuni sambil berlutut.
    Tahun lalu saya balik ke Palembang selama beberapa minggu, dan saya menerima komuni di lidah tetapi sambil berdiri. Tetapi, pada misa natal tahun lalu, saya ditolak komuni lidah oleh suster, dan ia meminta saya untuk membuka tangan saya.
    Nanti Agustus saya akan kembali ke Palembang lagi, dan saya ingin sekali komuni di lidah dan berlutut seperti yang saya lakukan disini, tetapi saya sangat takut ditolak komuni seperti tahun lalu. Kalau boleh tahu, Cornelius paroki dimana ? Apakah Cornelius tahu di Santo Yoseph ada romo yang tidak setuju dengan komuni berlutut ?
    Terima kasih.

    1. Halo Frederick! Saya sendiri parokinya di Sanfrades (Santo Fransiskus de Sales), sejauh pengalaman saya, sebaiknya menerima Komuni langsung dari imam, karena kalau dari suster atau prodiakon mereka cenderung menolak. Saya tidak tahu kalau di St. Yoseph, tapi kalau di Hati Kudus dan paroki saya, imamnya tetap memberi Komuni. Usahakan terima Komuni dari imam ya.

    2. Trik ini cuma bisa di praktekin di paroki Hati Kudus Palembang. Pilih tempat duduk bagian depan sebelah kanan patung hati kudus Yesus, pilih posisi bangku agak tengah dikit biar bisa komuni lidah dg imam, krn setelah imam bagi komuni ke petugas koor maka imamny akan pindah maju di bagian depan sebelah kanan umat.

      silahkan dicoba, aku jamin sang imam gak bakal nolak, saya saja pernah terima komuni di lidah berlutut langsung dari Bapa Uskup saja di kasih kok.

      Mungkin suster atau prodiakon belum tahu hal spt ini. Turut prihatin kalo ada suster yang menolak memberikan. Harusnya hal spt ini tidak terjadi.

      Salam,
      Andreas

    3. Frederick · · Balas

      Terima kasih atas jawaban-jawabannya ! Nanti bila saya di Palembang akan saya coba tips-tips nya :). Laudetur Jesus Christus !

  2. Mayo · · Balas

    Komentar dan penjelasan yang lebih menyentuh dan tajam ada dalam buku “Bebaskan Kami Dari Sini!” Terbitan Marian Centre Indonesia. Smoga membantu dan terima kasih atas artikelnya!!

  3. Cherry · · Balas

    Di paroki saya selama 16 tahun menjadi Katolik, saya belum pernah melihat seorang pun menerima komuni di lidah sambil berlutut. Namun akhir2 ini hati saya tergerak untuk melakukannya. Apa yang harus dilakukan jika setelah berlutut, sang prodiakon/imam tidak berkenan memberikan komuni?

    1. Pertama, pada umumnya terimalah Komuni dari seorang imam, karena kemungkinannya lebih kecil untuk ditolak daripada dengan prodiakon. Seandainya imam menolak, anda bisa memutuskan untuk berdiskusi dengan beliau dan memberikan dasar dokumen gereja mengapa tidak dibenarkan untuk menolak memberikan Komuni di lidah sambil berlutut. Ada baiknya anda mencoba terlebih dahulu, siapa tahu ketakutan tersebut tidak terbukti.

      1. Kedua, seandainya imam anda tetap menolak, maka mau tidak mau terimalah di tangan, namun lakukanlah dengan cara yang benar dan penuh hormat.

      2. Cherry · ·

        Halo Lux Veritatis 7! Puji Tuhan saya sudah (akhirnya berani) melakukan komuni di lidah dengan berlutut pada misa Jumat Pertama dan misa Sabtu Pertama. Semua berjalan dengan amat baik. Ternyata imam dan prodiakon berkenan memberikan dengan ramah. Terima kasih saudara Cornelius dan Lux Veritatis 7 atas saran dan penguatannya. Tulisan2 LV7 banyak mempertobatkan diri saya dengan cara yang tak terkatakan. Kiranya Tuhan memberkati selalu karya-karya Anda. Karena… siapa yang tahu berapa banyak lagi jiwa2 yang dapat dimenangkan bagi Allah melalui LV7? God bless!

      3. Puji Tuhan! Saya turut senang mendengarnya.

  4. Petrus · · Balas

    sungguh menyedihkan memang melihat banyak orang tidak lagi memandang dan memperlakukan Tubuh Tuhan dengan hormat. Saya sendiri sering menerima komuni dengan tangan tetapi belakangan setelah menyadari arti sesungguhnya dari Ekaristi, berusaha menerima di lidah. Tapi saya melakukannya tidak sambil berlutut melainkan membungkuk dulu baru kemudian membuka mulut. Saya berpikir jika saya berlutut maka terkesan terlalu berlebihan dan bisa membuat waktu antrian menjadi lebih panjang dsb. Apakah ini keliru?

    1. Menerima di lidah bisa sambil berdiri dan berlutut. Menurut pengalaman saya, berlutut tidaklah berlebihan, karena toh ketika anda berlutut dan berdiri lagi setelah menerima Komuni, hal ini tidak sampai 1 menit, bahkan mgkn hanya 30 detik. Jadi tidak perlu khawatir. Hanya saja ketika berlutut kita harus menjaga jarak dengan yang di depan dan di belakang. Dan perlu diingat juga kalau yang kita utamakan adalah mengasihi dan menghormati Tuhan, sekalipun orang-orang mungkin akan melihat cara tersebut sebagai sebuah keanehan.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: