Kami Datang untuk Menyembah Dia

A Sacrament Procession depicted in a French manuscript breviary of 1481, now in the Bibliothèque Municipale of Besançon. From the Web Gallery of Art.

Pada artikel pertama, kita telah membahas asal usul Hari Raya Tubuh dan Darah Tuhan, sedangkan artikel kedua membahas tentang krisis iman akan Ekaristi serta berbagai faktor yang berkontribusi terhadap krisis tersebut. Pada artikel ini, mari kita merenung sejenak, sehingga kita dapat sungguh memutuskan untuk semakin mengasihi dan menghormati Allah yang hadir dalam Ekaristi.

Sekuensia Lauda Sion Salvatorem yang disusun St. Thomas Aquinas memberikan kita gambaran yang lengkap tentang Ekaristi. Himne ini biasanya dinyanyikan pada Hari Raya Corpus Christi, sekalipun mungkin tidak dinyanyikan di banyak paroki. Mari kita berusaha sedikit mengenal dan mendalami makna teologisnya.

***

Dogma datur Christiánis, Quod in carnem transit panis, Et vinum in sánguinem.

“Inilah dogma yang diberikan kepada orang Kristen, yaitu bahwa roti diubah menjadi daging, anggur diubah menjadi darah. Apa yang tidak kamu mengerti, apa yang tidak kamu lihat, iman yang hidup meneguhkannya dengan cara yang adikodrati.”

Kehadiran nyata Yesus dalam Ekaristi adalah dogma Gereja. Dogma ini berasal dari perkataan Yesus sendiri yang menegaskan bahwa diri-Nya adalah roti hidup yang turun dari surga. Lebih lanjut Yesus sendiri berkata bahwa mereka yang makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya akan memperoleh kehidupan kekal. Ajaran ini merupakan misteri iman dan akal budi kita tidak mampu memahaminya secara penuh, maka tidaklah mengherankan kalau Injil Yohanes memberitahu kita bahwa banyak orang meninggalkan Yesus karena ajaran tersebut: “Ajaran ini keras. Siapakah yang dapat menerimanya?”

Setelah kerumunan banyak orang meninggalkan Yesus,Yesus bertanya kepada para rasul: “Apakah kamu akan pergi juga?”; Apa jawaban kita? Akankah kita juga meninggalkan Yesus, karena ajarannya sulit kita pahami, karena ajarannya terlalu menuntut perubahan dalam hidup kita, ataupun terlalu sulit untuk dijalani? Ataukah kita akan menjawab seperti Petrus yang berseru “Tuhan, kepada siapa kami akan pergi? Engkau mempunya Sabda hidup yang kekal. Sekarang kami percaya dan tahu bahwa Engkaulah yang Kudus dari Allah.”

 

Caro cibus, sanguis potus: Manet tamen Christus totus, Sub utráque spécie.

Tubuh-Nya adalah makanan kita, darah-Nya adalah minuman kita. Namun Kristus tetap ada seutuhnya dalam tiap spesies.

Kuasa yang diberikan Yesus kepada para imam memampukan mereka mengubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Tuhan. Perubahan substansi roti dan anggur menjadi tubuh dan darah dinamakan transubstansiasi. Dalam roti dan anggur masing-masing terkandung seluruh pribadi Kristus, tubuh dan darah, jiwa dan keilahian-Nya.

Kita tidak hanya memiliki kehidupan jasmani tetapi juga kehidupan rohani. Kehidupan rohani ini perlu diberi makanan yang sejati, yang menyegarkan jiwa, dan tak ada makanan yang paling baik, paling berguna bagi jiwa kita, selain Ekaristi, Tubuh dan Darah Tuhan. Ekaristi adalah karunia Allah yang paling agung, bukti cinta-Nya pada kita, cinta yang ingin mendatangi kita dan mendekatkan kita dengan diri-Nya.

 

Fracto demum Sacraménto, Ne vacílles, sed memento,
Tantum esse sub fragménto, Quantum toto tégitur.

Bila Sakramen Ekaristi dipecah, janganlah ragu, karena dalam fragmen yang kecil juga terkandung seluruh pribadi Kristus, sama seperti yang terkandung dalam Hosti yang tak dipecah.

Allah yang maha besar dan agung, sungguh mengasihi manusia sehingga Ia mau menjadi kecil, mau hadir dalam rupa roti dan anggur. Dalam partikel Hosti sekecil apapun, juga terdapat Kristus. Ia sungguh hadir di sana, Ia yang sungguh mengasihi dan ingin menopang serta menguatkan kita dalam perjalanan hidup kita. Namun, sayangnya, Tubuh Tuhan yang mahakudus ini terkadang diperlakukan dengan tidak layak. Ada berapa banyak dari kita, yang menerima Komuni di tangan, namun setelah memakan Hosti tidak memeriksa telapak tangan kita, untuk memastikan apakah partikel terkecil Hosti masih ada atau tidak? Apakah kita termasuk orang yang sungguh menghormati Kristus dalam Ekaristi, khususnya dalam partikel Hosti yang terkecil sekalipun? Partikel sekecil apapun tetaplah jauh lebih berharga dari semua hal yang ada di dunia ini, karena ia dapat menguduskan kita, dan kita berdosa bila kita tidak memperlakukan Ekaristi dengan penuh hormat!

 

Ecce panis Angelórum, Factus cibus viatórum: Vere panis filiórum, Non mitténdus cánibus

Roti para malaikat menjadi makanan para peziarah, roti sejati untuk anak-anak, dan janganlah diberikan kepada anjing.

Kita adalah gereja yang berziarah menuju Yerusalem Surgawi, sekaligus juga gereja yang berjuang melawan setiap hal yang berusaha menjauhkan kita dari tujuan akhir kita, yakni kehidupan dan kebahagiaan abadi bersama Allah. Ekaristi, roti para malaikat, adalah makanan bagi para peziarah; namun tidak semua orang dapat menerima manfaat rohani darinya. Bila kita adalah anak-anak Allah yang mencari pertobatan, yang mau menyesali dosa dalam Sakramen Tobat, maka Ekaristi sungguh dapat menyembuhkan kita dari kecenderungan jahat kita, maka Ekaristi sungguh dapat memberikan pengampunan dan keselamatan, memurnikan hati, serta menanamkan kerendahan hati.

Ekaristi adalah makanan bagi anak-anak Allah, dan bukan makanan anjing. St. Agustinus menjelaskan bahwa anjing berarti mereka yang menyerang kebenaran, berusaha untuk menghancurkan kebenaran. Dengan demikian, anjing berarti mereka yang hidup dalam dosa dan tidak mau bertobat, mereka yang mungkin telah lama meninggalkan iman dan Gereja, namun sesekali hadir dalam Misa—terutama saat Natal dan Paskah—dan mereka menerima Komuni tanpa menyesali dosa-dosa mereka dalam Sakramen Tobat. Menerima Komuni dalam keadaan dosa berat berarti melakukan dosa yang lebih berat yaitu dosa sakrilegi. Gaya hidup yang demikian adalah bentuk pemberontakan terhadap Allah; St. Paulus dan St. Thomas Aquinas memberitahu kita bahwa Ekaristi yang disambut secara tidak layak (dalam keadaan berdosa berat), dapat membawa hukuman dan kematian bagi mereka!

Marilah kita membiasakan diri untuk mengaku dosa secara teratur, menjadikan diri kita layak di hadapan-Nya sebelum menerima Tubuh dan Darah Tuhan. Kondisi berahmat, hidup yang selalu dimurnikan dari dosa, merupakan cara kita menyembah dan memuliakan Tuhan dalam hidup kita.

***

Institution-of-the-Eucharist

Sudah cukup lama sejak saya menulis artikel Mengapa Saya Menerima Komuni di Lidah Sambil Berlutut. Sekarang saya ingin membarui undangan ini kepada para pembaca sekalian, agar devosi kita kepada Ekaristi dapat semakin mendalam dan berbuah.

Dalam himne Pange Lingua Gloriosi, dan setiap kali kita mengikuti adorasi Ekaristi, tentu kita sudah familiar dengan nyanyian berikut: Tantum Ergo Sacramentum, Venerémur cérnui: Sakramen yang sungguh agung, mari kita muliakan.

Mari kita sembah Tuhan, kita nyatakan cinta kita dengan sikap hati dan tubuh yang pantas. Gereja memiliki tradisi yang indah, yang sungguh mengungkapkan cara menyembah dan menghormati Kristus, yakni dengan menerima Komuni di lidah sambil berlutut. Benar bahwa umat Kristen pada jaman dahulu menerima Komuni di tangan (namun mereka mengambil Hosti dengan mulut mereka, tidak mengambil dengan jari), namun tradisi ini berakhir sekitar abad keenam. Sesudah itu sejarah gereja membuktikan bahwa kebenaran iman akan Ekaristi mengalami pendalaman, hingga berkembanglah cara menerima Komuni di lidah sambil berlutut. Dapat dikatakan bahwa perkembangan ini merupakan perkembangan organik yang terjadi karena semakin mendalamnya rasa cinta dan hormat terhadap Ekaristi, dan Gereja sampai saat ini tetap mendukung praktik untuk menerima Komuni di lidah sambil berlutut, karena inilah norma tradisional Gereja.

Mungkin ada yang bertanya: mengapa kita harus berlutut? Berlutut menandakan sikap hormat dan sembah kepada Tuhan Yesus. Sudah selayaknya kita berlutut, menghormat dan menyembah Yesus yang akan kita sambut. Dengan berlutut, kita belajar untuk rendah hati, menunjukkan kekecilan kita di hadapan Ia yang mahabesar.

Dengan berlutut, kita menunjukkan sesuatu yang agung dan spesial sedang terjadi! Kita hendak menerima Tubuh Tuhan yang hadir secara nyata dalam Ekaristi, bukan sekedar roti biasa! Kita hendak mengalami persatuan dengan Tuhan itu sendiri!

Berlutut memiliki makna yang penting dan indah. Dalam Injil Mark 1: 40, yang menceritakan bahwa seorang penderita kusta memohon kepada Yesus sambil berlutut untuk mentahirkan Ia, dan Ia pun tahir, setelah menunjukkan kepercayaannya kepada Yesus. Mat 14:22-33 bercerita tentang Yesus yang berjalan diatas air, yang mana Petrus yang hendak mencoba hal ini kemudian hampir tenggelam. Lalu ketika Yesus masuk ke dalam perahu, semua orang bersujud dan berkata “Sungguh Engkaulah Putra Allah” Dalam Yoh 9: 35-38 yang bercerita tentang Yesus menyembuhkan orang buta, yang pada akhirnya terjadi dialog antara orang buta dan Yesus:

Yesus: “Percayakah Engkau akan Putra Manusia?”

Orang buta: Siapakah Dia, supaya aku dapat percaya kepada-Nya?”

Yesus: “Engkau telah melihat Dia”

Orang buta: “Tuhan, aku percaya” (lalu ia bersujud)

Kutipan dialog di atas kembali menunjukkan keselarasan antara disposisi batin dan sikap lahiriah. Kita yang mengakui Yesus sebagai Allah kita, perlulah menunjukkan sikap hormat dengan berlutut ketika hendak menerima Komuni. Berlutut membantu kita membuat sebuah pengakuan iman: bahwa Yesus Kristus sungguh hadir secara nyata dalam Ekaristi.

Selain itu, kita melihat bahwa orang-orang yang disembuhkan Yesus, mengalami mukjizat, menerima mukjizat. Bukankah Ekaristi sendiri adalah mukjizat terbesar bagi kita? Jadi, bukankah memang layak dan sepantasnya lah kita berlutut, seperti orang-orang yang mengalami mukjizat penyembuhan yang dilakukan Yesus?

Dalam himne Adore te Devote, kita bernyanyi: Plagas, sicut Thomas, non intueor: Deum tamen meum te confiteor: aku tidak melihat luka Tuhan seperti Thomas, namun sama seperti Thomas, aku mengakui bahwa Engkaulah Allahku. Bukankah dalam setiap Misa, kita pun juga ikut berseru: Ya Tuhanku dan Allahku? Seruan ini tentu akan semakin sempurna, bila kita menerima Komuni di lidah sambil berlutut, karena dengan demikian, kita turut mencegah kemungkinan partikel Hosti yang terjatuh ataupun menempel di telapak tangan tanpa kita sadari. Dengan menerima di lidah sambil berlutut, kita memperlakukan Tubuh Tuhan dengan cara yang paling baik, paling indah, dan paling layak.

Dalam menyambut Hari Raya Tubuh dan Darah Tuhan, marilah kita membarui sikap kita ketika hendak menyambut Komuni. Marilah kita rutin menerima Sakramen Tobat sebelum Misa. Saya tidak memaksa anda untuk menerima Komuni di lidah sambil berlutut, bila anda ingin menerima di tangan atau di lidah sambil berdiri, lakukanlah dengan penuh hormat: tundukkanlah kepala anda ketika hendak menerima Komuni. Bila anda merasa tergerak untuk mengubah cara menerima Komuni anda, maka bawalah ini dalam doa dan putuskanlah dengan kehendak yang teguh. Penghormatan yang kita tunjukkan kepada Ekaristi adalah upaya kita untuk membarui perkataan orang Majus dari Timur: Kami datang untuk menyembah Dia. Marilah kita sungguh melaksanakan apa yang kita nyanyikan: Adore te Devote, latens Deitas: Aku sembah sujud di hadapan-Mu, Allah yang tersamar yang hadir di sini. Maka kita pun tidak sekedar menyanyi, melainkan sungguh menghidupi bait himne berikut: Lauda Sion Salvatorem, Lauda ducem et pastoremm in hymnis et cantitis: Sion, angkatlah suaramu dan bernyayilah, pujilah Penyelamatmu, Rajamu dan Gembalamu Sejati!

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: