Studi dalam Spiritualitas Dominikan

sacred-conversation-1443

Tulisan ini merupakan hasil studi, renungan, dan pengalaman saya berkenaan dengan studi dalam spiritualitas Dominikan. Tentunya sebagai seorang Dominikan Awam, saya tidak bisa berkata bahwa saya sudah berhasil menghidupi empat pilar spiritualitas Dominikan (doa, studi, pewartaan, dan hidup berkomunitas). Meskipun demikian, melalui tulisan ini, saya berusaha untuk menampilkan keunikan dan pentingnya studi bagi Ordo Dominikan. Perlu diingat bahwa tulisan ini bukanlah sebuah upaya yang komprehensif untuk menjelaskan studi secara lengkap, melainkan sebuah fragmen, sekeping pemahaman yang saya tawarkan, namun tetap terbuka untuk disempurnakan dan dilengkapi oleh yang lain.

Sekilas, mungkin ada yang bertanya: bukankah studi itu merupakan sesuatu yang kita lakukan setiap hari? Kita bersekolah; dari sekolah dasar hingga ke tingkat universitas. Ada banyak buku yang dapat digunakan sebagai referensi dalam studi. Kemudahan akses internet pun memberikan kekayaan informasi yang luas, yang bisa dicapai dengan cepat. Selain itu, bukankah dalam ordo atau tarekat religius lain, juga bagi mereka yang ingin menjadi imam atau menjalani hidup bakti, harus memperoleh formasi filsafat, teologis, dan spiritual? Bukankah itu berarti mereka juga harus melakukan studi? Lantas, mengapa Ordo Dominikan memberikan tempat khusus dalam studi?

Tulisan ini terbagi menjadi lima bagian. Bagian pertama memberikan penjelasan singkat tentang situasi historis berdirinya Ordo Dominikan. Bagian kedua menonjolkan beberapa peristiwa hidup St. Dominikus yang terkait dengan studi. Bagian ketiga merupakan eksplorasi atau pendalaman mengenai studi itu sendiri. Bagian keempat berbicara tentang pengalaman pribadi saya mengenai studi, sekaligus menjadi penutup tulisan ini. Bagian kelima merupakan apendiks, yakni terjemahan saya mengenai surat St. Thomas Aquinas kepada Saudara Yohanes mengenai studi.

I

Konteks Historis Awal Berdirinya Ordo Dominikan

Bagian ini tidak bermaksud memberikan konteks historis secara lengkap, melainkan hanya ingin menekankan beberapa pokok penting. Hendaknya kita tidak menganggap remeh peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu. Kenangan akan peristiwa masa lalu merupakan cara Gereja menghargai dan meneruskan warisan dari orang-orang kudusnya. Kenangan akan masa lalu merupakan petunjuk bagi kita untuk menghadapi “tanda-tanda zaman” yang khas di masa kita. Secara pribadi, saya meyakini bahwa Gereja memiliki peran sebagai penjaga ingatan historis.

Ordo Dominikan, yang didirikan oleh St. Dominikus, ada sebagai tanggapan terhadap kebutuhan atau permasalahan saat itu, yang dapat dirangkum dalam dua kata kunci: ignorance (ketidaktahuan) dan vice (kebiasaan buruk atau perbuatan yang tak bermoral).

Memang, pada abad pertengahan, terjadi semacam perkembangan dalam bidang intelektual. Munculnya pusat-pusat pembelajaran yang kemudian berkembang menjadi universitas di kota-kota seperti Paris, Bologna, dan Padua, mulai menggantikan peran sekolah katedral dan biara-biara. Dahulu, tidak semua orang bisa menikmati pendidikan dan akses terhadap pendidikan hanya diberikan melalui biara-biara monastik. Pada saat itu, studi ilmu pengetahuan sekuler dilarang, mereka yang belajar di sekolah biara monastik hanya mempelajari Kitab Suci dan tulisan Bapa Gereja. Sekalipun pada masa itu mulai muncul kontak antara budaya Arab dan pemikiran filsuf Yunani, namun hanya segelintir cendekiawan saja yang meneruskan hal ini kepada para muridnya.

Namun tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan dalam bidang intelektual ini terjadi cukup lambat, sedangkan pada masa itu, setidaknya sejak abad 10-11 sudah mulai terdapat krisis dalam hal iman dan moral. Uskup dan imam menyimpan harta duniawi dan menjalani gaya hidup yang tak bermoral, lalu adanya penyebaran ajaran sesat seperti Waldensianisme dan Albigensianisme, inilah yang menjadi tantangan dalam hidup menggereja pada masa itu.

Albigensianisme sebenarnya merupakan kesesatan Manikeanisme yang muncul kembali dalam bentuk yang baru. Setelah kesesatan ini dikalahkah oleh St. Agustinus di abad keempat, kesesatan ini hidup kembali di abad ketujuh dan mulai menyebar di seluruh kekaisaran Yunani di abad kesembilan, dan terus menyebar di Bulgaria, Konstantinopel, Italia Utara, Spanyol, Rhineland dan Prancis bagian selatan. Manikean baru ini menyebut diri mereka Cathari, artinya the pure (yang murni), namun karena kekuatan utama mereka terpusat di sekitar Albi di Toulouse, maka secara umum mereka disebut Albigensian. Mereka meyakini adanya dua allah, allah baik dan jahat, yang satu mengendalikan roh dan yang lain mengendalikan daging, dan keduanya saling bertarung satu sama lain. Bagi mereka Kristus hanyalah manusia dan tidak dapat menebus umat manusia. Mereka menyebut Gereja sebagai “sinagoga setan”; kerumunan banyak orang didorong untuk menghina para pelayan Gereja dan mendesekrasi biara. Inilah gambaran singkat (yang pastinya tidak menyeluruh) tentang Albigensianisme.

Saya rasa kita juga perlu sedikit mengenal tentang aliran sesat Waldensianisme. Pendiri aliran ini adalah Peter Waldes, seorang pedagang kaya dari Lyons yang memberikan semua kekayaannya kepada orang miskin dan membaktikan dirinya dalam studi Kitab Perjanjian Baru. Tahun 1176 ia mulai berkhotbah secara publik, dan ia memiliki niat untuk merestorasi kehidupan apostolik dalam kemiskinan dan kesederhanaannya, sambil mengecam gaya hidup para klerus yang ditandai kekayaan dan kemewahan. Tidaklah mengherankan bila banyak orang Kristen sederhana yang tertarik dan bergabung kepada mereka, karena mereka seakan memberikan kesan sebagai orang kudus (sekalipun, pada kenyataannya, kekudusan mereka bukanlah kekudusan yang sejati alias kekudusan palsu).

Selain itu, para pengikut mereka kerap berkhotbah dan menjelaskan isi Kitab Suci, namun Konsili Lateran Ketiga (1179) melarang mereka melakukan hal tersebut karena sebagian besar dari mereka orang-orang yang ignorant dan buta huruf (illiterate). Namun larangan tersebut tidak mereka taati. Ketika Paus Lusius III menyatakan ekskomunikasi kepada mereka di Konsili Verona (1184), sebagian besar dari mereka bertobat dan kembali ke Gereja, namun sebagian lainnya tetap keras kepala dan tidak mau bertobat. Mereka secara terang-terangan menyerang dogma-dogma Gereja seperti Kurban Misa, Api Penyucian, Indulgensi, imamat, dst., dan berupaya menyebarkan kesesatan mereka di setiap negara Eropa.

Harus diakui bahwa pada saat itu klerus tidak memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi, dan para rahib monastik tidak mampu mengangkat tingkat intelektual para klerus. Para uskup, yang merupakan guru resmi Gereja dalam hal iman dan yang berwenang untuk mengajar dan berkhotbah, juga kurang berpengetahuan dan tidak menampilkan teladan kekudusan. Kurangnya pengetahuan dan gaya hidup yang tidak mencerminkan kekudusan (terutama dalam aspek kemiskinan) merupakan alasan mengapa upaya untuk mewartakan Injil kepada kaum sesat menjadi tidak efektif.

St. Dominikus hidup di zaman ketika ketidaktahuan, kesesatan, dan kehidupan yang tak bermoral menyebar luas, dan karena itulah ia mendirikan Ordo Dominikan, yang bertujuan untuk mewartakan kebenaran iman dan mengupayakan keselamatan jiwa, yang mana di dalamnya tercakup usaha untuk melawan kesesatan. Dan salah satu sarana yang digunakan untuk mewujudkan tujuan ini ialah studi yang penuh semangat tentang kebenaran suci (assiduous study of sacred truth).

II

Studi dan Teladan St. Dominikus

Dalam konteks historis yang dijelaskan di atas, peran St. Dominikus menjadi penting. Saya tidak akan menceritakan riwayat St. Dominikus (anda bisa membacanya di sini), namun saya ingin menekankan beberapa hal yang dapat kita pelajari tentang pentingnya studi melalui kesaksian hidup St. Dominikus. Saya kutip perkataan Paus Benediktus XVI:

Dominikus lahir di Caleruega, Spanyol, pada tahun 1170. Ia berasal dari keluarga terhormat di Old Castille dan dididik di sebuah sekolah terkenal di Palencia, dengan bantuan pamannya yang seorang imam. Segera saja Dominikus tampak berbeda dari teman-temannya, oleh karena minatnya mempelajari Kitab Suci dan cintanya kepada kaum papa, sampai-sampai ia menjual buku-bukunya, yang pada waktu itu merupakan aset yang amat mahal, dan hasil penjualannya dibagi-bagikan kepada para korban yang kelaparan.

the-mocking-of-christ-1441Pertama, Dominikus merupakan orang yang sangat mencintai buku (nanti akan dibahas mengapa buku adalah sesuatu yang perlu kita cintai), dan karenanya ia mencintai ilmu pengetahuan, ia memiliki rasa haus akan kebenaran. Oleh karena itulah, ketika St. Dominikus menjual bukunya untuk menolong orang miskin selama wabah, dan tindakannya ini mendorong sesama teolog dan guru teologi untuk melakukan hal yang sama. Jangan bayangkan buku sebagai barang murah yang bisa diperoleh dengan mudah, justru sebaliknya, buku pada masa itu merupakan barang langka yang sangat mahal, namun berani ia korbankan, dan dengan demikian gestur St. Dominikus menjadi demikian penting. Peristiwa ini menunjukkan bahwa cinta akan pengetahuan selaras dengan dorongan untuk menolong mereka yang miskin dan menderita. Ya, Dominikus mencintai buku-bukunya, namun ia pun tahu bahwa ada saatnya untuk mengasihi sesama dengan mengorbankan harta benda yang berharga bagi kita.

Kedua, ada juga cerita tentang St. Dominikus yang berbicara semalaman penuh dengan seorang pemilik penginapan, yang sekaligus merupakan penganut aliran sesat Albigensianisme. Diskusi tersebut berakhir dengan bertobatnya sang pemilik penginapan.

Nah, mari kita kontraskan cerita tersebut dengan fenomena di zaman kita. Belakangan ini, terdapat kecenderungan di antara umat Katolik untuk mempertentangkan antara “karya nyata” dan “pewartaan kebenaran seturut ajaran Gereja”, seakan-akan mereka yang berusaha mengajarkan kebenaran hanyalah berbicara secara teori tanpa terlibat langsung dalam “melakukan perbuatan konkret” untuk menolong orang yang kesusahan. Ini sungguh tidak masuk akal. Instructing the ignorant (mengajar mereka yang tidak tahu), counseling the doubtful (menasihati mereka yang bimbang), admonishing sinners (mengoreksi atau menegur para pendosa), semuanya ini adalah karya belas kasih yang hanya bisa kita penuhi bila kita melakukan studi terhadap kebenaran-kebenaran suci. Mengajarkan kebenaran kepada mereka yang tidak tahu, maka menjadi sebuah bentuk ungkapan kasih kepada sesama. Setiap orang Kristen dipanggil untuk menjadi kudus, namun kekudusan ini harus dikerjakan dengan bantuan kebenaran iman Gereja. Terlebih, Kitab Suci menegaskan: “Tanpa pengetahuan, semangat (zeal) pun tidaklah baik” (Ams. 19:2). Sejarah Gereja juga membuktikan bahwa ketidaktahuan (ignorance) merupakan salah satu hambatan bagi pertumbuhan kekudusan dan dapat menjauhkan jiwa-jiwa dari tujuan akhir mereka, yakni kehidupan kekal bersama Allah, dan semakin mendekatkan diri ke ambang pintu neraka.

Berdasarkan kisah pertobatan pemilik penginapan tersebut, kita dapat melihat adanya keterkaitan antara studi, pertobatan, dan keselamatan jiwa. Buah dari studi akan kebenaran haruslah diwartakan bagi mereka yang memerlukan, agar dapat menjadi undangan bagi pertobatan yang otentik. Jadi, pertentangan antara “karya nyata” dan “pewartaan kebenaran” sesungguhnya adalah omong kosong, dan tentunya St. Dominikus tidak pernah mempertentangkan keduanya.

Ketiga, esensi kehidupan St. Dominikus dapat dirangkum dengan perkataan berikut: ia selalu berbicara dengan Allah dan berbicara tentang Allah. Perkataan ini menunjukkan keterkaitan mendalam antara doa (berbicara dengan Allah) dan pewartaan (berbicara tentang Allah). Jembatan antara keduanya adalah studi: studi memampukan kita untuk berbicara dengan Allah; kita menjadi tahu apa yang seharusnya kita minta, dan tahu bagaimana sikap kita yang sepantasnya ketika berbicara dengan Pencipta kita. Di sisi lain, studi yang ditopang oleh doa akan menjadi sebuah pewartaan mampu menyentuh dan menggerakkan para pendengarnya; studi yang ditopang oleh doa akan mencegah seseorang menjadi pewarta yang sombong, sebaliknya justru akan mengakarkan dirinya dalam persatuan dengan Allah, dan dengan demikian, ia mampu membawa wajah Allah kepada sesama, karena Allah telah terlebih dahulu berbicara kepadanya.

III

Eksplorasi Berbagai Aspek Studi

“Konstitusi Ordo Pewarta memberikan makna yang besar terhadap studi sebagai persiapan untuk kerasulan. Dominikus menginginkan para biarawannya untuk membaktikan diri tanpa ragu kepada studi, dengan rajin dan dengan saleh—studi yang bersumber dari jiwa segala pengetahuan teologis, yakni Kitab Suci, dan juga pertanyaan-pertanyaan yang berasal dari akal budi.”

Paus Benediktus XVI, Audiensi Umum tentang St. Dominikus

Ketika murid Yesus mengikuti-Nya dan bertanya di manakah Dia tinggal, Yesus menjawab: Marilah dan kamu akan melihat.

Marilah dan kamu akan melihat merupakan undangan yang ditawarkan Yesus kepada para murid, namun bukan sembarang murid, melainkan mereka yang dengan bebas memutuskan untuk mengikuti Dia. Undangan ini juga ditawarkan kepada kita, asalkan kita sungguh mau mengikuti jejak Kristus. Sesungguhnya, studi yang dilakukan oleh kita, Dominikan Awam, berasal dari keinginan kita untuk mengenal pribadi Yesus Kristus, dari kerinduan kita untuk mencari Allah, Sang Kebenaran.

Marilah dan kamu akan melihat. Dalam perkataan ini terkandung esensi dari studi: studi merupakan upaya manusia untuk menyerap dan memahami kebenaran. Kata studi berasal dari bahasa Latin, studere, yang berarti melangkah maju dengan sebuah upaya, berjuang dengan penuh semangat (zeal). Kata studium dalam bahasa Latin, tidak hanya berarti study dalam bahasa Inggris, melainkan memiliki makna asli yakni zeal. Dengan kata lain, dari definisi studi yang telah diberikan, di dalamnya tersingkap pula aspek ketekunan (perseverance) dan semangat (zeal), selain aspek doa (prayer) sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelumnya.

Studi dalam spiritualitas Dominikan merupakan sesuatu yang hakiki, dan bukan sekedar tambahan atau pelengkap yang dapat dikesampingkan begitu saja. Pentingnya studi bagi Dominikan sama saja dengan pentingnya pewartaan, hidup berkomunitas, dan hidup doa. Oleh sebab itu, studi yang kita lakukan, tidak boleh semata-mata menjadi suatu cara untuk berbuat, seakan-akan ia terpisah dari kehidupan kita, melainkan studi harus menjadi cara mengada (being). Keunikan studi dalam tradisi Dominikan ialah bahwa studi merupakan bagian dari spiritualitas, dan karenanya menjadi sarana bagi kekudusan kita, yakni instrumen untuk menguduskan dan menyelamatkan jiwa kita. Inilah alasan utama mengapa kita melakukan studi.

Studi yang dilakukan Dominikan Awam adalah studi teologi. Paus Benediktus XVI, menjelaskan pemahaman St. Thomas Aquinas mengenai teologi:

St. Thomas … berkata: teologi adalah refleksi tentang iman dan tujuan iman adalah manusia menjadi baik dan hidup seturut kehendak Allah. Oleh sebab itu, tujuan teologi ialah menjadi pemandu orang-orang di jalan yang baik dan benar; dan karenanya teologi secara mendasar adalah ilmu pengetahuan praktis.

Posisi lainnya berkata: teologi berusaha untuk mengenal Allah. Kita adalah karya Allah; Allah itu melampaui tindakan kita. Allah mengerjakan tindakan yang benar dalam diri kita; sehingga pada hakikatnya ia berhubungan bukan pada apa yang kita lakukan, tetapi pada pengenalan akan Allah, dan bukan perbuatan kita. Kesimpulan St. Thomas ialah: teologi mencakup dua aspek: teoretis, karena ia berusaha mengenal Allah dengan lebih baik, dan praktis, karena ia berusaha mengarahkan hidup kita kepada kebaikan. Tetapi ada primasi atau keutamaan pengetahuan: terutama kita harus mengenal Allah dan terus bertindak selaras dengan Allah (Summa Theologiae, Ia, q. 1, art. 4).

Definisi St. Thomas menunjukkan aspek ganda teologi: di satu sisi, teologi adalah refleksi tentang iman, sedangkan di sisi lain, teologi berarti usaha untuk mengenal Allah. Pengetahuan akan Allah merupakan hal utama dan harus menjadi pedoman kita dalam menjalani hidup.

Ketika menjelaskan tentang teologi, Paus Benediktus XVI, dengan mengutip St. Bonaventura (teolog Fransiskan sekaligus rekan sezaman St. Thomas Aquinas), menjelaskan bahwa apa yang kita ketahui tentang kebenaran iman tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan belaka, melainkan ia harus berubah menjadi afeksi, menjadi kasih. Kasih macam apakah yang dimaksud dan harus kita miliki? Saya yakin perkataan St. Agustinus menjawab pertanyaan tersebut: “Kasih akan pengetahuan dan kebenaran harus mengundang kita untuk terus belajar. Kasih kepada sesama harus mendorong kita untuk mengajar” (Answers to the Eight Questions of Dulcitius, 3). Kasih … mendorong kita untuk belajar, bukan hanya belajar secara teoretis, melainkan juga belajar untuk menghidupi kebenaran yang kita pelajari. Kesaksian hidup dan pengajaran kita menjadi tidak efektif, bila kita mengajar untuk menghormati Ekaristi, namun kita sendiri tidak memperlihatkannya dalam tindakan kita.

Penting sekali untuk kita ingat bahwa dalam konteks ini, kasih yang kita miliki mencakup dimensi intelektual. Kasih bercorak intelektual ini mengubah hidup kita, sehingga “bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristuslah yang hidup di dalam aku”, seperti yang dikatakan St. Paulus. Kasih bercorak intelektual ini jugalah yang akan menyembuhkan manusia dari ketidaktahuan (ignorance)—yang membuat ia berada dalam kegelapan—dan menuntunnya kepada terang, terang yang dapat mengarahkan hidup manusia untuk menjadi bahagia seturut kehendak Allah.

Jadi, jelas sekali bahwa studi dalam spiritualitas Dominikan harus selalu berkenaan dengan wahyu ilahi, yang adalah Allah sendiri. Studi teologi dalam spiritualitas Dominikan harus membawa kita kepada pengenalan akan Allah yang sejati. Paus Benediktus XVI memperlihatkan dengan indah konsekuensi dari perjumpaan pribadi dengan Kristus:

Siapapun yang telah menemukan kasih akan Allah di dalam Kristus, yang ditanamkan dalam hati kita oleh Roh Kudus, menjadi ingin mengetahui Dia yang mengasihi dirinya, dan Dia yang kita cintai, dengan lebih baik. Pengetahuan dan kasih saling menopang satu sama lain. Sebagaimana dikatakan Bapa Gereja, siapapun yang mengasihi Allah didorong untuk menjadi seorang teolog dalam arti tertentu, ia yang berbicara dengan Allah, yang memikirkan Allah dan mencari Dia untuk berpikir bersama Allah; sedangkan karya profesional seorang teolog, bagi beberapa orang, merupakan panggilan dengan tanggung jawab besar di hadapan Kristus, di hadapan Gereja. Mampu untuk mempelajari Allah sendiri secara profesional dan mampu untuk berbicara tentang Dia – contemplari et contemplata docere (St Thomas Aquinas, Super Sent., lib. 3 d. 35, q. 1, art. 3, qc. 1, arg. 3) – merupakan sebuah privilese agung.

Hal ini dapat dicapai bila studi ini kita laksanakan di bawah bimbingan Magisterium Gereja, sebagaimana ditegaskan Paus Benediktus XVI:

Teologi harus selalu dilaksanakan di dalam Gereja dan untuk Gereja, Tubuh Kristus, satu-satunya subjek bersama Kristus, dan karenanya dilaksanakan juga di dalam kesetiaan terhadap tradisi Apostolik. Karya seorang teolog, oleh sebab itu, harus terjadi dalam persekutuan dengan suara Gereja yang hidup, yakni bersama Magisterium Gereja yang hidup dan di bawah otoritasnya.

Sekalipun dua perkataan Paus Benediktus di atas ditujukan bagi para teolog, namun kebenaran dari perkataan itu juga berlaku bagi kita: studi teologi yang kita lakukan, pewartaan yang kita berikan—melalui perkataan atau kesaksian hidup—semuanya harus terjadi dalam persekutuan dengan Gereja. Hanya dengan hidup dalam persekutuan dengan Gereja, maka studi dan pewartaan kita sungguh dilaksanakan dalam kerendahan hati, karena kita bersandar dan bergantung pada Gereja, keluarga Allah, dan bukan pada pemahaman sendiri.

***

sacred-conversation-1443Kita mungkin bertanya: apakah ini berarti studi teologi harus selalu berciri akademis? Bukankah hal tersebut tampak sebagai beban yang berat, karena kita sebagai Dominikan Awam, memiliki latar belakang yang berbeda? Studi teologi tidak selalu harus bercorak akademis, dalam arti bahwa kita belajar di universitas atau mengikuti kursus teologi yang diselenggarakan institusi atau lembaga pendidikan tertentu. Tentunya bagus sekali bila kita bisa mengikutinya, namun terdapat cara yang lebih sederhana yang memampukan kita untuk menjadi seorang yang terpelajar secara teologis: yakni dengan memiliki dan membaca buku-buku teologi.

Sudah disebutkan bahwa St. Dominikus pun mencintai buku. Dikatakan bahwa ke manapun ia pergi, ia selalu membawa Injil Matius dan surat-surat St. Paulus. Konstitusi primitif Ordo Dominikan di masa kepemimpinan Beato Jordan dari Saxony menyatakan dengan tegas: “Para saudara harus begitu bertekad dalam studi sehingga di waktu siang atau malam, ketika berada di rumah atau di tengah perjalanan, mereka membaca atau menyimpannya dalam ingatannya apapun yang dapat mereka simpan.”

Terlihat jelas bahwa buku menjadi teman perjalanan bagi para saudara Dominikan. Siang atau malam, di rumah atau di tengah perjalanan, semua ini memperlihatkan betapa pentingnya untuk menyempatkan diri membaca buku, sehingga pikiran dan hati kita dapat tertata dengan baik dan benar.

Di masa kini, khususnya di Indonesia, kita dapat melihat kurangnya minat untuk membaca buku, apalagi buku-buku rohani atau yang mengandung bobot teologis. Buku-buku tersebut cenderung dinilai sebagai buku yang “berat”, susah dimengerti. Terkadang, kurangnya waktu atau kesibukan aktivitas seseorang pun dijadikan alasan untuk tidak membaca buku. Padahal, buku yang bagus menyimpan sebuah kekuatan yang mampu mengubah hidup seseorang.

St. Josemaria Escriva berkata bahwa kebiasaan membaca buku rohani telah membuat banyak orang menjadi kudus. Kita dapat membuktikan perkataan ini dengan melihat riwayat hidup santo/a: St. Agustinus dari Hippo, St. Teresa Benedikta, St. Ignatius dari Loyola, ketiga orang kudus ini pun mengalami transformasi diri secara radikal karena membaca buku.

Mungkin ada yang bertanya begini: “Saya ingin seperti santo/a yang mengalami perubahan hidup karena membaca buku, namun saya kesulitan setiap kali hendak membaca. Apa yang bisa saya lakukan?”

Bila saya melihat perpustakaan pribadi saya, dalam buku-buku yang tersusun rapi, saya dapat melihat sebuah perjalanan pribadi saya. Beberapa buku tertentu dibeli bukan karena banyak orang berkata buku itu bagus, melainkan karena dalam buku tersebut, saya berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pribadi saya. Aktivitas membaca buku menjadi menyenangkan bila kita memiliki banyak pertanyaan, dan merasa tergerak untuk mencari tahu jawabannya. Kesulitan dalam membaca buku saya kira dapat diatasi bila kita melakukannya karena didorong untuk mencari jawaban atas suatu persoalan atau pertanyaan yang kita bawa dalam doa. Terkadang, ketika membaca buku pun kita dapat merasa bahwa Tuhan sungguh berbicara kepada saya, bahwa Tuhan sungguh menjawab pertanyaan saya, karena pertanyaan tersebut ditanyakan ketika saya sedang berdoa. Pengalaman pribadi saya membuktikan hal ini dan saya yakin hal tersebut juga dapat terjadi kepada kita semua.

Jadi, buku merupakan sarana yang hakiki bagi studi teologi kita, oleh karena itu, kita pun harus dengan cermat memilah buku, karena ada juga buku yang meracuni pikiran dan tidak memberikan manfaat apapun. Alangkah baiknya bila kita membaca buku yang ditulis oleh para pemikir besar Gereja, terutama mereka yang diberi gelar Pujangga atau Doktor Gereja. Karya mereka tidak lekang oleh waktu, dan akan tetap selalu relevan di setiap zaman serta bermanfaat bagi pendewasaan pribadi kita secara personal, psikis maupun rohani.

Di dalam buku, kefanaan dan keabadian terjalin erat menjadi satu: kefanaan, karena buku fisik merupakan ciptaan manusia yang dapat rusak, ia tidak akan bertahan selamanya. Keabadian, karena di dalam buku terdapat kata-kata, dan sebuah buku yang memiliki nilai yang kekal akan memiliki kata-kata yang, jika tertanam dalam hati manusia, akan selalu mampu mengubah hidup seseorang di sepanjang zaman.

***

Studi dan pewartaan sama-sama membutuhkan doa, malah dapat dikatakan bahwa doa merupakan fondasi hakiki bagi efektivitas keduanya. Berkenaan dengan ini, saya ingin mengingatkan kita bahwa St. Thomas Aquinas memberikan kita kesaksian yang indah akan pentingnya doa, yang sayangnya kisah berikut ini tidak pernah kita jumpai dalam tulisan biografis yang terdapat di Indonesia.

Aquinas sangat menyadari betapa besar tanggung jawab yang diemban oleh seseorang yang menerima gelar Doktor, yang menjadikannya seorang Master di bidang teologi. Seorang master merupakan seorang yang bertugas dalam menyampaikan kebenaran dan memiliki kuasa terhadap jiwa-jiwa. Pada hari sebelum penerimaan gelarnya, Aquinas memohon kepada Allah sambil bercucuran air mata, agar Tuhan memberikan ia karunia yang diperlukan untuk mengemban gelar Master. “Tuhan, selamatkanlah aku, karena kebenaran menghilang di antara anak manusia.” Lama sekali ia berdoa dan menangis, hingga akhirnya ia tertidur. Sekali lagi ia menerima kunjungan malaikat yang bertanya: Saudara Thomas, mengapa engkau berdoa dan menangis? – Karena aku akan mengemban tugas seorang Master, namun aku kurang memiliki pengetahuan yang diperlukan. Aku bahkan tidak tahu tema apa yang perlu aku kembangkan untuk penerimaan gelar tersebut. – Malaikat tersebut menjawab: Terimalah dalam damai tanggung jawab seorang master, karena Allah besertamu. Dan untuk khotbah perdanamu, kembangkanlah hanya perkataan ini: “Engkau yang memberi minum gunung-gunung dari kamar-kamar loteng-Mu, bumi kenyang dari buah pekerjaan-Mu” (Mzm 104:13). Kita pun memiliki teks khotbah perdana Aquinas ini, yang di dalamnya ia menggambarkan kebesaran jabatan pengajaran, dan ekonomi kebijaksanaan. “Allah berkomunikasi dengan kuasa-Nya; dengan hikmat-Nya Ia memberi minum gunung-gunung. Doktor, sebaliknya, hanya berkomunikasi melalui kuasa sebuah sarana, sehingga buah dari gunung-gunung tersebut tidak diatributkan kepada gunung tersebut melainkan kepada karya Allah.”

Peristiwa ini memampukan kita melihat ke dalam doa pribadi Sang Doktor Malaikat tersebut: melalui doa pribadinya, tersingkaplah kerendahan hati Thomas Aquinas, pertama ketika ia mengakui bahwa ia kurang memiliki pengetahuan yang diperlukan, kedua pengakuan ini terjadi di hadapan Allah, dan karenanya mengajarkan kita untuk selalu mengakui kelemahan dan keterbatasan kita di hadapan Sang Pencipta. Setiap kali Aquinas mengalami kesulitan untuk menulis, ia selalu berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus, dan Tuhan selalu membantu Dia untuk menulis sesuatu yang berkenan bagi-Nya. Teladan Aquinas inilah yang hendaknya kita tanamkan dalam kehidupan kita, terutama sekali ketika kita hendak melakukan studi. Sungguh, mereka yang setia berdoa dalam studi, akan semakin bertumbuh dalam hikmat dan kekudusan.

IV

Penutup

Saya hendak menutup tulisan ini dengan menjawab sebuah pertanyaan, yang pada umumnya diajukan manusia modern: apa untungnya studi bagi saya? Secara spesifik, apa yang dapat diberikan studi teologi bagi hidup saya?

Jawaban saya terkait erat dengan pengalaman saya menjalani studi: sejak usia yang sangat muda, saya sudah mendalami iman Katolik saya (melalui apologetika, yakni pembelaan iman Katolik). Lalu, saya juga memiliki latar belakang pendidikan di bidang psikologi. Berdasarkan pengalaman saya, studi yang saya lakukan—salah satunya dilakukan dengan membaca—terkait erat dengan pertanyaan-pertanyaan pribadi yang saya ajukan kepada Tuhan dalam doa. Dan jawaban doa tersebut selalu saya temukan dalam studi, melalui bacaan-bacaan yang bermutu, melalui artikel Katolik, dst.

Saya berkeyakinan bahwa studi teologi dapat membantu saya mengasihi Allah dengan lebih baik, dan studi psikologi membantu saya mengasihi sesama dengan lebih baik. Dengan kata lain, studi teologi dan psikologi membantu saya untuk melaksanakan hukum kasih, sekalipun sampai saat ini saya masih melaksanakannya secara tidak sempurna.

Studi teologi dan psikologi sungguh memperkaya hidup saya: pengalaman saya selama mengarungi dua bidang ilmu ini sungguh menjadi pengalaman yang mencerahkan sekaligus membebaskan. Semakin saya mempelajari keduanya, semakin saya menyadari bahwa Allah sungguh mengasihi saya, bahwa saya lahir di dunia bukan karena sebuah kebetulan, melainkan saya ada dalam rencana Tuhan, ada tugas yang secara khusus Ia persiapkan bagi saya. Studi mencerahkan hati dan akal budi saya, karena saya semakin mengetahui kebenaran tentang diri saya—kekuatan dan keterbatasan saya—tentang Allah dan manusia, dan karenanya saya semakin mampu untuk bersyukur dan menghargai apa yang Allah berikan dalam hidup saya.

Studi teologi dan psikologi mendewasakan saya, tidak hanya secara psikis, tetapi juga secara rohani. Dan hal penting lainnya ialah bahwa studi menjadi jalan penyembuhan: studi menyingkapkan kepada saya cara untuk memulihkan relasi saya dengan Allah dan sesama. Studi juga membantu saya untuk menyadari adanya “penyakit” atau kelemahan dalam diri saya—secara psikis dan rohani—yang tidak saya sadari sebelumnya, dan yang menjadi penghambat bagi saya untuk bertumbuh dan berkembang menjadi manusia yang dikehendaki Allah. Dengan kata lain, studi sungguh membantu saya untuk bertumbuh di jalan kekudusan, dan dengan studi, kita dimampukan untuk memenuhi panggilan kita menuju kekudusan, sesuai amanat Konsili Vatikan II.

V

APENDIKS
Surat St. Thomas Aquinas kepada Saudara Yohanes Mengenai Studi

***

Karena engkau bertanya kepadaku, saudara Yohanes yang terkasih dalam Kristus, tentang bagaiamana cara belajar untuk memperoleh harta karun pengetahuan, aku berikan kepadamu nasihat ini. Janganlah ingin untuk segera melompat dari aliran sungai ke laut, karena seseorang harus melalui perkara yang lebih mudah, baru menuju perkara sulit. Oleh karena itu, pokok berikut ini adalah peringatanku dan instruksi bagimu:

  1. Saya memerintahkan kamu untuk lambat dalam berbicara, dan juga lambat dalam pergi ke ruang percakapan
  2. Milikilah kemurnian hati nurani
  3. Jangan menyerah dalam meluangkan waktu untuk berdoa
  4. Cintailah waktu yang kamu habiskan di sel atau kamarmu, bila kamu ingin dituntun menuju gudang anggur
  5. Bersikaplah ramah terhadap semua orang
  6. Jangan bertanya tentang apa yang orang lain lakukan
  7. Jangan terlalu akrab dengan siapapun, karena keakraban melahirkan kehinaan (familiarity breeds contempt), dan menjadi perkara yang mengalihkan kamu dari studi
  8. Jangan terlibat sama sekali dalam diskusi dan persoalan orang awam
  9. Hindari percakapan apapun tentang semua dan setiap persoalan
  10. Janganlah gagal dalam meneladani teladan orang kudus dan baik
  11. Jangan berpikir tentang siapa yang kamu dengarkan, tetapi apapun yang baik yang ia katakan, simpanlah dalam ingatanmu
  12. Apapun yang kamu lakukan atau dengarkan, cobalah untuk memahami. Pecahkanlah keraguan, dan simpan apapun yang dapat kamu simpan dalam ruang ingatanmu, seperti seseorang yang hendak memenuhi sebuah wadah.
  13. Jangan habiskan waktu terhadap hal yang melampaui pemahamanmu

Dengan mengikuti jalan tersebut, kamu akan melahirkan bunda dan menghasilkan buah yang berguna di kebun anggur Tuhan yang Mahakuasa, selama kamu hidup. Bila kamu mengikuti hal ini, kamu dapat mencapai apa yang kamu inginkan.

Daftar Pustaka

Benedict XVI. Transforming Power of the Faith. San Fransisco: Ignatius Press, 2013.

___________. “General Audience of Pope Benedict XVI on St. Bonaventure.” Vatican Website. (17 Maret 2010). Dapat diakses di http://w2.vatican.va/content/benedict-xvi/en/audiences/2010/documents/hf_ben-xvi_aud_20100317.html

___________. “Address to the Members of International Theological Commision”. Vatican Website. (1 Desember 2005). Dapat diakses di https://w2.vatican.va/content/benedict-xvi/en/speeches/2005/december/documents/hf_ben_xvi_spe_20051201_commissione-teologica.html

___________. “Address to the Members of International Theological Commision”. Vatican Website. (3 Desember 2010). Dapat diakses di http://w2.vatican.va/content/benedict-xvi/en/speeches/2010/december/documents/hf_ben-xvi_spe_20101203_cti.html

Dominican Sisters International. Building Bridges: Dominicans Doing Theology Togethers. Jakarta: St. Dominic Publishing, 2015.

Kennedy, D. J. “Thomas Aquinas”. Jacques Maritain Center. Dapat diakses di http://www3.nd.edu/Departments/Maritain/etext/stthomas.htm

Laux, John. Church History: A History of the Catholic Church to1940 for Upper High School & College Courses and Adult Reading. North Carolina: Tan Books, 2012.

Pulung, Cornelius. “Buku dalam Perspektif Katolik: Sisi Terang Bacaan Rohani (Part II).” Lux Veritatis 7. (4 Mei 2015). Dapat diakses di https://luxveritatis7.wordpress.com/2015/05/04/buku-dalam-perspektif-katolik-sisi-terang-bacaan-rohani-part-2/

Weisheipl, James. A. “The Place of Study in the Ideal of St. Dominic.” Dominican Central Province. Dapat diakses di http://opcentral.org/resources/2012/08/23/the-place-of-study-in-the-ideal-of-st-dominic/

6 komentar

  1. gan, minta emailnya dong. ada perlu dikit. kalau bisa lsg balas ke email saya aja,hehe

    1. Ada keperluan apa ya? Apa tidak bisa dibahas disini?

      1. boleh saya share artikel2nya gak ? ehm, sbnrnya bkn share sih ya tp copy gt soalnya saya posting diblog saya heheee..

      2. Boleh saja asalkan menyebutkan sumber artikel aslinya

      3. siap, tp kl gak livelink boleh ?

      4. Tidak boleh. Anda harus mencantumkan link dan sumbernya.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: