Kembalinya Paus Emeritus Benediktus XVI: Penolakan Kesesatan Indiferentisme; Pengajaran tentang Belas Kasih dan Keadilan.

1688482_10203312991931867_2007306407_n

Catatan penerjemah: Paus Emeritus Benediktus XVI kembali memecah keheningan. Kali ini dalam sebuah wawancara yang diterbitkan di L’Osservatore Romano, beliau kembali menjalankan tugasnya sebagai profesor teologi dan menjelaskan persoalan tentang iman, pembenaran, belas kasih dan keadilan, yang layak untuk kita simak. Berikut ini terjemahan Lux Veritatis 7.

Servais: Yang Tersuci, pertanyaan yang diajukan sebagai bagian hari-hari studi yang didukung rektori Gesu (residen bagi seminaris Yesuit di Roma) ialah tentang pembenaran oleh iman. Volume terakhir dari kumpulan karya anda menekankan penegasan anda yang pasti: “Iman Kristen bukanlah gagasan, tetapi kehidupan.” Dengan mengomentari pernyataan Paulus dalam Roma 3:28, anda menyebutkan, dalam hal ini, sebuah transendensi ganda: “Iman adalah karunia yang diberikan kepada umat beriman, diteruskan melalui komunitas, yang atas bagiannya merupakan akibat dari karunia Allah”. Dapatkah anda menjelaskan apa maksud anda melalui pernyataan itu, sembari mempertimbangkan seluruh fakta bahwa tujuan hari-hari studi ini adalah untuk mengklarifikasi teologi pastoral dan menghidupkan kembali pengalaman rohani umat beriman?

Benediktus XVI: Pertanyaan itu berkenaan dengan apakah iman itu dan bagaimana seseorang percaya. Di satu sisi, iman secara mendalam merupakan kontak personal dengan Allah, yang menyentuh saya di keberadaannya yang terdalam, dan menempatkan saya di hadapan Allah yang hidup, dalam kesegeraan absolut yang sedemikian sehingga saya dapat berbicara dengan-Nya, mengasihi-Nya, dan masuk ke dalam persekutuan dengan-Nya. Tetapi pada saat yang sama, realita ini yang secara hakiki sungguh personal, juga secara tak terpisahkan berhubungan dengan komunitas. Ini merupakan bagian hakiki iman bahwa saya diperkenalkan ke dalam “kami” nya putra dan putri Allah, ke dalam komunitas peziarah saudara dan saudari. Perjumpaan dengan Allah juga berarti, pada saat yang sama, bahwa saya sendiri menjadi terbuka, kesendirian saya yang tertutup terkoyak, dan saya diterima ke dalam komunitas Gereja yang hidup. Komunitas yang hidup ini sekaligus juga menjadi perantara perjumpaan saya dengan Allah, walaupun perjumpaan ini menyentuh hati saya dalam cara yang seutuhnya personal. Iman timbul dari pendengaran (fides ex auditu), demikian diajarkan St. Paulus. Mendengarkan selalu mengimplikasikan seorang rekan.

Iman bukanlah hasil refleksi kita, bukan pula usaha untuk menembus kedalaman diri saya. Keduanya dapat saja hadir, tetapi mereka tidaklah memadai tanpa “mendengarkan” yang melaluinya, Allah, dari luar, dari kisah yang Ia sendiri ciptakan, menantang saya. Supaya saya percaya, saya membutuhkan saksi yang telah bertemu Allah dan membuat diri-Nya terjangkau bagi saya. Dalam artikel saya tentang baptisan, saya berbicara tentang transendensi ganda dari komunitas, dalam cara ini maka timbul kembali sebuah unsur penting: iman komunitas tidak menciptakan dirinya sendiri. Ini bukan perkumpulan manusia yang memiliki gagasan yang sama dan yang memutuskan untuk bekerja demi penyebaran gagasan tersebut. Maka semuanya akan didasarkan pada keputusannya sendiri, dan dalam analisis terakhir, ia akan didasarkan pada prinsip suara mayoritas, yang pada akhirnya dilandaskan pada opini manusia. Gereja yang dibangun dengan cara ini tidak bisa menjadi penjamin kehidupan kekal bagi saya, tidak juga mengharuskan keputusan saya yang membuat saya menderita dan bertentangan dengan keinginan saya. Tidak, Gereja bukan buatan-sendiri (self-made), ia diciptakan oleh Allah dan terus dibentuk oleh-Nya. Hal ini menemukan ungkapannya dalam sakramen-sakramen, terutama dalam sakramen baptis: saya masuk ke dalam Gereja bukan karena tindakan birokratis, tetapi melalui sakramen. Dan ini berarti saya disambut ke dalam komunitas yang tidak berasal dari dirinya sendiri dan diproyeksikan melampaui dirinya. Pelayanan yang bertujuan membentuk pengalaman rohani umat beriman harus berasal dari keterberian yang hakiki ini.

Perlu sekali kita tinggalkan gagasan tentang Gereja yang menciptakan dirinya sendiri, dan menjelaskan bahwa Gereja menjadi komunitas dalam persekutuan dengan Tubuh Kristus. Gereja harus memperkenalkan individu Kristen ke dalam perjumpaan dengan Yesus Kristus dan membawa orang Kristen kepada kehadiran-Nya dalam sakramen.

Servais: Ketika anda menjabat sebagai Prefek Kongregasi Ajaran Iman, anda mengomentari Pernyataan Gabungan Gereja Katolik dan Federasi Dunia Lutheran mengenai Doktrin Pembenaran, tertanggal 31 Oktober 1999. Anda menunjukkan perbedaan mentalitas yang berhubungan dengan Luther serta pertanyaan tentang keselamatan dan kebahagiaan yang ia ajukan. Pengalaman religius Luther didominasi oleh rasa takut di hadapan murka Allah, sebuah perasaan yang agak asing bagi manusia modern, yang malah merasakan ketiadaan Allah (lihat artikel anda dalam Communio, 2000, 430). Nah, permasalahannya bukan tentang bagaimana memperoleh kehidupan kekal, tetapi bagaimana memastikan, dalam kondisi dunia yang berbahaya, adanya suatu keseimbangan hidup manusia secara utuh. Dapatkah ajaran St. Paulus tentang pembenaran oleh iman, dalam konteks yang baru ini, menjangkau pengalaman “religius”, atau setidaknya pengalaman “mendasar” dari orang sezaman kita?

Benediktus XVI: Pertama, saya ingin menekankan sekali lagi apa yang saya tulis dalam Communio (2000) mengenai topik pembenaran. Bagi manusia masa kini, bila dibandingkan dengan mereka yang hidup di zaman Luther dan yang menganut sudut pandang iman Kristen klasik, pelbagai hal dalam arti tertentu menjadi terbalik, atau, pelbagai hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak lagi percaya bahwa ia memerlukan pembenaran di hadapan Allah, tetapi ia berpandangan bahwa Allah wajib membenarkan diri-Nya atas semua hal mengerikan di dunia dan atas kesengsaraan manusia, yang mana pada akhirnya semua bergantung pada-Nya. Dalam hal ini, saya rasa penting bahwa teolog Katolik dapat mengakui posisi yang terbalik ini bahkan dalam cara yang langsung dan formal: bahwa Kristus tidak menderita karena dosa manusia, tetapi, seakan-akan, Ia “membatalkan rasa bersalah Allah”. Bahkan bila sebagian besar orang Kristen tidak meyakini pemutarbalikkan iman kita secara drastis, kita dapat berkata bahwa semua pemutarbalikkan ini menyingkapkan tren masa kini. Ketika Johann Baptist Mezt berargumen bahwa teologi masa kini harus ‘peka terhadap teodisi’, hal ini menekankan persoalan yang sama dalam cara yang positif. Sekalipun pertentangan radikal tentang visi Gereja mengenai relasi antara Allah dan manusia dihapuskan, manusia modern memahami secara umum bahwa Allah tidak dapat membiarkan sebagian besar manusia dihukum. Dalam pengertian ini, kepedulian bagi keselamatan jiwa secara personal, yang menjadi ciri masa lalu, sebagian besar telah menghilang.

Namun, menurut saya, tetap ada, dalam cara lain, sebuah persepsi bahwa kita membutuhkan rahmat dan pengampunan. Bagi saya ini adalah “tanda-tanda zaman”, fakta bahwa gagasan belas kasih Allah kian menjadi sentral dan dominan—berawal dari Suster Faustina, yang visinya dalam berbagai cara memantulkan secara mendalam gambaran akan Allah yang dianut manusia masa kini serta keinginan mereka bagi kebaikan ilahi. Paus Yohanes Paulus II dipenuhi oleh dorongan ini secara mendalam, bahkan bila hal ini tidak selalu muncul secara eksplisit. Tentunya bukan kebetulan bahwa buku terakhirnya, yang diterbitkan sebelum wafatnya, berbicara tentang belas kasih Allah. Bermula dari pengalaman yang berasal dari periode awal kehidupannya, ia terpapar oleh semua kekejaman perbuatan manusia yang mungkin dan dapat dilakukan, dan ia menegaskan bahwa belas kasih adalah satu-satunya reaksi yang utama dan efektif terhadap kuasa kejahatan.

Hanya ketika ada belas kasih, maka kekejaman berakhir, hanya dengan belas kasih maka kejahatan dan kekerasan diakhiri. Paus Fransiskus sejalan dengan gagasan ini. Praktik pastoralnya diungkapkan melalui fakta bahwa ia terus berbicara kepada kita tentang belas kasih Allah. Belas kasih lah yang menggerakkan kita menuju Allah, sementara keadilan menakutkan kita di hadapan-Nya. Saya berpendapat, hal ini menjadi jelas bahwa, di balik lapisan keyakinan-diri dan pembenaran-diri, manusia masa kini menyembunyikan pengetahuan mendalam akan luka-lukanya dan ketidaklayakannya di hadapan Allah. Ia menantikan belas kasih.

Tentunya bukan kebetulan bahwa perumpamaan Orang Samaria yang baik, secara khusus menarik perhatian manusia kontemporer. Dan bukan hanya karena perumpamaan ini menekankan dimensi sosial eksistensi Kristen dengan kuat, bukan hanya karena di dalam diri orang Samaria, manusia itu tidaklah religius, bila dibandingkan dengan perwakilan agama-agama, yang tampaknya, orang Samaria sungguh bertindak selaras dengan Allah, sementara pewakilan resmi agama-agama tampak seolah-olah kebal terhadap Allah. Hal ini tentu menyenangkan orang modern. Namun tampak penting bagi saya, meskipun demikian, bahwa manusia dalam hati nuraninya yang intim berharap agar orang Samaria datang membantu mereka; bahwa ia akan membungkuk terhadap mereka, menuangkan minyak di atas luka mereka, peduli pada mereka dan membawa mereka ke tempat yang aman. Akhirnya, mereka mengetahui bahwa mereka membutuhkan belas kasih Allah dan kelembutan-Nya. Dalam kerasnya dunia teknologi yang mana perasaan tidak lagi menjadi penting, pengharapan akan kasih yang menyelamatkan, yang diberikan secara bebas, kian bertambah. Bagi saya, tampaknya dalam tema belas kasih ilahi ini terungkap apa arti pembenaran oleh iman dalam cara yang baru. Beranjak dari belas kasih Allah, yang dinantikan semua orang, tetaplah mungkin bahkan hari ini untuk menafsirkan secara baru inti hakiki dari doktrin pembenaran dan semua relevansinya muncul kembali.

Ketika Anselmus berkata bahwa Kristus harus mati di salib untuk memperbaiki dosa yang nilainya tak terhingga, yang telah dilakukan kepada Allah, dan dalam cara ini Ia memulihkan tatanan yang hancur, Anselmus menggunakan bahasa yang sulit diterima manusia modern (cfr. Gs 215.ss iv). Dengan mengungkapkan diri dalam cara ini, seseorang beresiko memproyeksikan kepada Allah sebuah gambaran Allah yang murka, yang tak berbelas kasih kepada dosa manusia, dengan perasaan kekerasan dan agresi yang dapat dibandingkan dengan apa yang kita alami sendiri. Bagaimana mungkin berbicara tentang keadilan Allah tanpa secara potensial merendahkan kepastian yang kokoh dalam umat beriman, bahwa Allah orang Kristen adalah Allah yang “kaya dalam belas kasih” (Ef. 2:4). Pemahaman St. Anselmus kini tidak dapat dipahami oleh kita. Merupakan tugas kita untuk mencoba kembali memahami kebenaran yang ada di balik cara pengungkapan yang demikian. Di sini saya memberikan tiga hal mengenai sudut pandang ini:

a) Kontras antara Bapa, yang bersikukuh mengenai keadilan dalam cara yang absolut, dan Putra yang menaati Bapa dan menerima kekejaman dari tuntutan keadilan dengan patuh, bukan hanya tak dapat dipahami di masa kini, tetapi hal ini salah dari sudut pandang Teologi Trinitarian. Bapa dan Putra adalah satu dan oleh karena itu kehendak mereka secara intrinsik satu. Ketika Putra berada di taman Getsemani dan bergulat dengan kehendak Bapa, ini bukan tentang menerima disposisi Allah yang kejam, melainkan tentang menarik manusia ke dalam kehendak Allah. Kita akan kembali membahas hal ini nanti, mengenai relasi dua kehendak Bapa dan Putra.

b) Jadi mengapa ada salib dan penebusan? Agaknya kini, dalam pemutarbalikan pemikiran modern yang kita sebutkan di atas, jawaban atas pertanyaan ini dapat dirumuskan dalam cara yang baru. Mari menempatkan diri kita di hadapan sejumlah kejahatan, kekerasan, kesesatan, kebencian, kekejaman, dan kesombongan yang luar biasa, yang menjangkiti dan menghancurkan seluruh dunia. Gumpalan kejahatan ini tidak bisa semata-mata dinyatakan tidak ada, bahkan oleh Allah. Ia harus dibersihkan, dikerjakan ulang, dan diatasi. Israel kuno yakin bahwa kurban sehari-hari bagi dosa dan terutama liturgi agung Hari Penebusan (Yom-Kippur) diperlukan sebagai pengimbang bagi gumpalan kejahatan di dunia dan hanya melalui upaya menyeimbangkan yang demikianlah, maka dunia, seakan-akan, dapat ditanggung. Sekalinya kurban di bait Allah menghilang, maka harus ditanyakan lagi apakah yang dapat melawan kuasa kejahatan yang lebih tinggi, bagaimana menemukan pengimbangnya. Umat Kristen tahu bahwa bait Allah yang dihancurkan, digantikan oleh Tubuh Tuhan tersalib yang bangkit dan dalam kasih-Nya yang radikal dan tiada tara, diciptakanlah pengimbang bagi kehadiran kejahatan yang tak terukur. Sungguh, mereka tahu bahwa persembahan yang dipersembahkan sampai saat itu hanya dapat dipahami sebagai gestur kerinduan bagi pengimbang yang asli. Mereka juga tahu bahwa di hadapan kuasa kejahatan yang berlebihan, hanya kasih tiada tara yang memadai, hanya dengan penebusan tiada tara. Mereka tahu bahwa Kristus yang tersalib dan bangkit adalah kuasa yang dapat melawan kuasa kejahatan dan menyelamatkan dunia. Dan atas dasar ini mereka bahkan dapat memahami makna penderitaan mereka, penderitaan yang dimasukkan ke dalam penderitaan kasih Kristus dan tercakup sebagai bagian kuasa kasih yang menebus. Di atas saya mengutip teolog yang menurutnya Allah harus menderita karena dosa-Nya berkenaan dengan dunia. Nah, melalui pemutarbalikkan perspektif ini, kebenaran berikut ini muncul: Allah tidak dapat membiarkan “sebagaimana adanya” gumpalan kejahatan yang berasal dari kebebasan yang Ia sendiri berikan. Hanya Dia, yang datang untuk berbagi penderitaan dunia, dapat menebus dunia.

c) Atas dasar ini, relasi Bapa dan Putra kian dipahami. Mengenai topik ini, saya akan hadirkan kembali sebuah kutipan dari buku Henri de Lubac mengenai Origen, yang menurut saya sangatlah jelas: “Sang Penebus datang ke dunia karena bela rasanya bagi manusia. Ia mengambil kesengsaraan kita ke atas diri-Nya bahkan sebelum disalibkan, bahkan sebelum turun menjadi manusia: bila Ia tidak mengalami hal ini sebelumnya, Ia tidak akan turun untuk ambil bagian dalam hidup manusia. Tapi apakah penderitaan ini, yang terlebih dahulu Ia tanggung bagi kita? Ini adalah penderitaan karena cinta. Tetapi Bapa sendiri, Allah alam semesta, Ia yang sabar, berbelas kasih dan berbela rasa, bukankah ia juga menderita dalam arti tertentu?” ‘Tuhan Allahmu, sesungguhnya, menggendongmu sepanjang jalan sama seperti seorang ayah menggendong putranya’ (Ul 1:31). Allah dengan demikian mengambil kebiasaan kita ke atas diri-Nya sebagaimana Putra Allah mengambil penderitaan kita ke atas diri-Nya. Bapa sendiri tidaklah tanpa penderitaan! Bila Ia dipanggil, maka Ia mengetahui belas kasih dan bela rasa. Ia memahami penderitaan karena kasih” (Homilies on Ezekiel 6:6).

Di beberapa tempat di Jerman, terdapat devosi yang menyentuh, yang mengkontemplasikan Not Gottes (“kemiskinan Allah”). Bagi saya, hal ini di mata saya memberikan gambaran yang berkesan yang mewakili Bapa yang menderita, yang sebagai Bapa, berbagi penderitaan Sang Putra secara batiniah. Dan gambaran “takhta rahmat’ juga menjadi bagian devosi ini: Bapa mendukung salib dan yang tersalib, merendah dengan penuh kasih terhadap Dia dan kedua-Nya, seakan-akan, bersama-sama di salib. Jadi dalam cara yang murni dan agung, seseorang memahami di sana apa arti belas kasih Allah, apa arti partisipasi Allah dalam penderitaan manusia. Ini bukan tentang keadilan yang kejam, bukan pula tentang fanatisisme Bapa, tetapi tentang kebenaran dan realita ciptaan: upaya mengatasi kejahatan yang sejati dan intim yang pada akhirnya dapat diwujudkan hanya dalam penderitaan berlandaskan kasih.

Servais: Dalam Latihan Rohani, Ignatius dari Loyola tidak menggunakan gambaran Perjanjian Lama tentang balas dendam, yang berlawanan dengan Paulus (bdk. 2Tes 1:5-9); sekalipun demikian ia mengundang kita untuk merenungkan bagaimana manusia, hingga Inkarnasi, “turun ke neraka” (Latihan Rohani no. 102, lih. ds iv, 376), dan merenungkan contoh “yang lain yang tak terhitung jumlahnya, yang berakhir di sana karena dosa yang lebih sedikit daripada yang telah saya perbuat” (Latihan Rohani no. 52). Dalam semangat inilah St. Fransiskus Xaverius menghidupi karya pastoralnya, yakin bahwa ia harus berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin “orang kafir” dari takdir hukuman kekal yang mengerikan. Ajaran ini, yang dirumuskan dalam Konsili Trente, dalam bagian yang berhubungan dengan penghakiman orang baik dan jahat, kemudian dijadikan radikal oleh kaum Jansenist, lalu diangkat kembali dalam cara yang lebih terbatas dalam Katekismus Gereja Katolik (cfr. § 5 633, 1037). Dapatkah dikatakan dalam hal ini, selama beberapa dekade terakhir, telah terdapat semacam “perkembangan dogma”, yang harus diingat Katekismus?

Benediktus XVI: Tak diragukan lagi dalam hal ini, kita dihadapkan dengan evolusi dogma yang mendalam. Kendati para bapa dan teolog Abad Pertengahan masih berpandangan bahwa, pada hakikatnya, seluruh umat manusia telah menjadi Katolik dan paganisme ada hanya di pinggiran, penemuan Dunia Baru pada permulaan era modern mengubah perspektif ini secara radikal. Dalam paruh kedua abad ini, telah ditegaskan secara penuh pemahaman bahwa Allah tidak dapat membiarkan semua orang yang belum dibaptis jatuh ke dalam hukuman kekal, dan bahkan kebahagiaan kodrati bagi mereka tidak mewakili jawaban nyata atas pertanyaan tentang keberadaan manusia. Bila benar bahwa misionaris besar abad 16 masih percaya bahwa mereka yang tidak dibaptis akan lenyap selamanya—dan ini menjelaskan komitmen misionaris mereka—dalam Gereja Katolik setelah Konsili Vatikan Ii, keyakinan ini pada akhirnya ditinggalkan.

Dari hal ini muncullah krisis ganda secara mendalam. Di satu sisi, hal ini tampaknya menghapuskan motivasi apapun bagi komitmen misioner masa depan. Mengapa seseorang harus meyakinkan banyak orang untuk menerima iman Kristen ketika mereka dapat diselamatkan bahkan tanpanya? Tetapi juga bagi orang Kristen, suatu persoalan muncul: hakikat iman yang bersifat wajib, dan cara hidupnya tampak menjadi tidak pasti dan problematis. Bila ada mereka yang bisa menyelamatkan diri dalam cara lain, maka tidaklah jelas, dalam analisis akhir, mengapa Orang Kristen harus terikat dengan persyaratan iman Kristen dan moral-moralnya. Bila iman dan keselamatan tidak lagi saling bergantung, iman sendiri menjadi kehilangan alasannya.

Belakangan ini beberapa upaya telah dirumuskan untuk mendamaikan perlunya iman Kristen secara universal dengan kesempatan untuk menyelamatkan diri tanpanya. Saya akan menyebutkan dua hal: pertama, tesis yang terkenal tentang Kristen anonim oleh Karl Rahner. Ia membenarkan hal mendasar, tindakan hakiki yang mendasari eksistensi Kristen, yang menentukan keselamatannya, dalam struktur transendental kesadaran kita, hal ini terdiri dari keterbukaan terhadap Yang Lain (Allah), menuju persatuan dengan Allah. Iman Kristen, berdasarkan sudut pandang ini, memunculkan kesadaran akan apa yang struktural dalam diri manusia. Jadi ketika manusia menerima dirinya dalam keberadaannya yang hakiki, ia memenuhi esensi untuk menjadi Kristen tanpa mengetahui apakah itu dalam cara yang konseptual. Orang Kristen, oleh karena itu, bertemu dengan yang manusiawi, dan dalam pengertian ini, setiap manusia yang menerima dirinya adalah seorang Kristen sekalipun ia tidak tahu tentang itu [Catatan: Artinya cukup dengan menerima dirinya, seseorang dapat menjadi Kristen sekalipun ia tidak tahu apakah Kristen itu]. Benar bahwa teori ini sangat menarik, tetapi ia mereduksi Kekristenan menjadi sebuah kesadaran murni yang merupakan arti manusia itu sendiri, dan karenanya mengabaikan drama perubahan dan pembaruan yang penting bagi Kekristenan [Catatan: maksud Ratzinger, teorinya Rahner mengabaikan perlunya pertobatan, padahal pertobatan sangatlah penting untuk menjadi Kristen. Jadi, “perubahan dan pembaruan” yang dibicarakan Ratzinger konteksnya adalah pertobatan (bdk. Principles of Catholic Theology, Joseph Ratzinger). Buku Ratzinger Principles of Catholic Theology memuat artikel yang menyanggah teori Kristen anonim]. Tak dapat kita terima pula solusi yang diajukan oleh teori agama-agama pluralistik, yang mana semua agama, masing-masing dengan caranya sendiri, menjadi jalan-jalan keselamatan dan dalam pengertian ini, konsekuensinya mereka dapat dianggap setara (Baca juga Pidato Paus Emeritus Benediktus XVI tentang Dialog, Misi dan Agama). Kritik agama macam ini, yang dilakukan di Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan dalam Gereja awal, pada hakikatnya lebih realistis, lebih konkret dan benar dalam pemeriksaannya terhadap berbagai agama. Penerimaan yang sederhana ini tidaklah proporsional dengan besarnya persoalan yang ada.

Marilah kita ingat, terakhir, terutama Henri de Lubac dan bersama dengannya beberapa teolog lain yang merenungkan konsep vicarious substitution (pengganti yang mewakili). Bagi mereka, “pro-eksistensi” (“ada untuk”) Kristus menjadi ungkapan sosok hidup Kristen dan Gereja yang hakiki. Benar bahwa permasalahan ini belum diselesaikan secara tuntas, tetapi bagi saya, tampaknya hal ini sejatinya merupakan pemahaman kunci yang mempengaruhi eksistensi individu Kristen. Kristus, sebagai satu-satunya yang unik, dahulu dan kini ada bagi semua dan bagi orang Kristen, yang dalam gambaran St. Paulus yang luar biasa, membentuk tubuh Kristus di dunia dan karenanya berpartisipasi dalam “ada untuk”. Orang Kristen, dengan demikian, ada tidak hanya bagi diri mereka, tetapi mereka ada bersama Kristus untuk orang lain. Ini tidak berarti bahwa seseorang memiliki tiket khusus untuk memasuki kebahagiaan kekal, melainkan hal ini adalah panggilan untuk membangun keseluruhan. Apa yang dibutuhkan pribadi manusia untuk diselamatkan ialah keterbukaan mendalam bagi Allah, pengharapan dan penerimaan yang mendalam akan Dia, dan hal ini berarti bahwa kita, bersama dengan Tuhan yang telah kita jumpai, kita pergi menuju orang lain dan berupaya memperlihatkan kedatangan Allah dalam Kristus bagi mereka.

Mungkin sekali menjelaskan “ada untuk” ini dalam cara yang agak abstrak. Penting bagi manusia bahwa terdapat kebenaran di dalamnya, dan ia dipercaya dan dilakukan. Bahwa seseorang menderita karenanya. Bahwa seseorang mengasihinya. Realita ini menembus ke dalam dunia dengan terangnya dan mendukungnya. Saya pikir, dalam situasi masa kini, hal ini menjadi kian jelas bagi kita apa yang Tuhan katakan kepada Abraham, yaitu, bahwa 10 orang benar cukup untuk menyelamatkan sebuah kota, tetapi kota itu menghancurkan dirinya sendiri bila jumlah yang kecil tersebut tidak dicapai. Jelas bahwa kita perlu merenung lebih lanjut tentang seluruh pertanyaan tersebut.

Servais: Di mata banyak kaum humanis sekuler, yang ditandai ateisme abad 19 dan 20, seperti yang telah anda sebutkan, adalah Allah—bila Ia ada—dan bukan manusia yang bertanggung jawab terhadap ketidakadilan, penderitaan orang tak bersalah, sinisme kekuasaan yang kita saksikan, ketidakberdayaan, di dunia dan dalam sejarah dunia (see. Spe Salvi, n. 42) … Dalam buku anda berjudul Yesus dari Nazareth, anda menggemakan apa yang menjadi skandal bagi mereka dan kita: “Realita ketidakadilan, kejahatan, tidak bisa semata-mata diabaikan, dikesampingkan. Secara mutlak ia harus diatasi dan ditaklukkan. Hanya dalam cara ini sungguh ada belas kasih” (Yesus dari Nazareth, ii 153, mengutip 2 Timotius 2:13). Apakah sakramen tobat merupakan salah satu tempat ketika kejahatan dapat “diperbaiki?” Jika ya, bagaimana caranya?

Benediktus XVI: Saya telah berusaha memaparkan seluruh pokok utama yang berkenaan dengan persoalan ini untuk menjawab pertanyaan ketiga anda. Pengimbang kuasa kejahatan, di tempat pertama, terdiri dari kasih ilahi-manusiawi Yesus Kristus yang selalu lebih besar dari kuasa kejahatan apapun. Tetapi perlu juga supaya kita menempatkan diri dalam jawaban ini, yang Allah berikan kepada kita melalui Yesus Kristus. Bahkan bila individu bertanggung jawab terhadap sekeping kejahatan, dan dengan demikian menjadi kaki tangan kuasa kejahatan, bersama dengan Kristus ia dapat “melengkapi apa yang kurang dalam penderitaan-Nya” (bdk. Kol. 1:24). Sakramen tobat tentu memiliki peran penting dalam bidang ini. Ini artinya kita selalu membiarkan diri kita dibentuk dan diubah oleh Kristus dan kita terus berpindah dari sisi manusia yang mengancurkan ke sisi Dia yang menyelamatkan.

Sumber terjemahan: Full text of Benedict XVI’s recent, rare, and lengthy interview.

One comment

  1. […] Mengapa bukan diluar Kristus tiada keselamatan? Banyak orang mengakui dan mencintai Yesus dengan “cara” sendiri yang sebenarnya bukanlah iman Kristiani sejati. Iman yang dibangun hanya atas dasar reflleksi pribadi bukanlah tujuan Kristus menghadirkan keselamatan bagi umat manusia. Oleh sebab itu, perlu Gereja yang dibangun oleh Allah dan terus dibentukNya dalam perjalanan sejarah di bumi ini. Dengan mengatakan diluar Gereja tiada keselamatan, berarti mengakui Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan yang terus diwartakan oleh Gereja dan melalui Gereja, umat manusia menemukan Kristus dan dibaptis. Seperti yang dikatakan oleh Paus emeritus Benediktus XVI: “Iman bukanlah hasil refleksi kita, bukan pula usaha untuk menembus kedalaman diri saya. Keduanya dapat saja hadir, tetapi mereka tidaklah memadai tanpa “mendengarkan” yang melaluinya, Allah, dari luar, dari kisah yang Ia sendiri ciptakan, menantang saya. . . Maka semuanya akan didasarkan pada keputusannya sendiri, dan dalam analisis terakhir, ia akan didasarkan pada prinsip suara mayoritas, yang pada akhirnya dilandaskan pada opini manusia. Gereja yang dibangun dengan cara ini tidak bisa menjadi penjamin kehidupan kekal bagi saya, tidak juga mengharuskan keputusan saya yang membuat saya menderita dan bertentangan dengan keinginan saya. Tidak, Gereja bukan buatan-sendiri (self-made), ia diciptakan oleh Allah dan terus dibentuk oleh-Nya.  . . .” Selengkapnya: KEMBALINYA PAUS EMERITUS BENEDIKTUS XVI: PENOLAKAN KESESATAN INDIFERENTISME; PENGAJARAN TENTANG BELA… […]

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: